Episode 5 - Beginilah Latihan


“Kamu mau gak ikut ke acara ulang tahun ayahku?”

Hmm, pergi ke acara ulang tahun, ya? Aku tidak pernah pergi ke acara ulang tahun sebelumnya, kecuali ulang tahun Rito, itupun yang datang hanya aku, dengan kata lain hanya kita berdua dan acaranya hanya Rito mentraktirku seporsi makanan disalah satu tempat makan kemudian dia menyalakan sebuah lilin ke kue kecil yang dia beli sebelumnya kemudian meniupnya, hanya itu.

Aku sedikit penasaran, kira-kira apa yang dilakukan saat ulang tahun orang lain, apakah sama? 

Sepertinya tidak.

Apalagi orang tersebut adalah maniak militer sepertiku, tapi entahlah benar atau tidak, tapi itulah yang Alice katakan padaku, aku pikir kemungkinan kecil dia akan berbohong. Dia adalah dewi sekolah, jadi itu tidak mungkin, kurasa.

“Apa gak masalah?”

“Tentu saja,” balas Alice riang.

“Baiklah, kurasa aku akan datang.”

Aku cukup penasaran dengan perayaan ulang tahun orang lain, tapi ada yang lebih membuat aku penasaran. Yaitu, bagaimana rupa orang tua dari si dewi sekolah ini. Aku yakin ibunya pasti sangat cantik juga, atau mungkin ayahnya?

“Benarkah?”

“Ya.”

“Baguslah kalau begitu, acaranya malam minggu nanti, kamu bisa, kan?”

“Ya.”

Setelah mendapat alamat Alice, aku menyarankan untuk segera pulang karena hari sudah mulai gelap, dengan sedikit enggan Alice mengiyakan saranku. Yah, aku juga perlu membeli sesuatu untuk hadiah ulang tahun ayahnya.

Setelah mengucapkan selamat tinggal, aku berjalan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk hadiah ulang tahun. Aku rasa yang sederhana akan lebih baik, terlebih lagi keuanganku juga lagi kritis.

Setelah membeli dan membungkusnya, aku segera pulang ke rumah.

Esoknya semua kembali seperti yang biasanya, Alice kembali bergaul dengan kelompoknya tapi sesekali menyapaku dan entah kenapa aku merasa dia sesekali melirikku, yah itu pasti hanya perasaanku saja. Aku tidak boleh ke’geer’an, lagipula dia itu si dewi sekolah, mana mungkin dia memperhatikan aku, kan?

Dan aku juga seperti biasa, membaca majalah militer dan kadang-kadang Rito datang ke kelasku dan aku bersama dia berdebat tentang militer.

Semuanya berjalan seperti yang seharusnya.

Inilah keseharianku, si anak biasa yang tergila-gila dengan militer dan sering berbicara sendiri-tidak, mengobrol dengan Dan di kala senggang. Dia selalu berbicara tentang fetish anehnya, ini membuat aku sedikit stres. 

Hari ini adalah hari jum’at, setelah sepulang sekolah, aku segera berganti pakaian dan makan secukupnya kemudian pergi untuk latihan. Benar, ini adalah hari latihan.

Sudah rutin untuk aku dan Rito berlatih pada hari selasa dan jum’at.

Tidak seperti dulu, disaat kami hanya asal berlatih sesuai mood kami. Saat ini kami sudah mengatur jadwal rutin agar tidak berpengaruh pada keseharian kami.

Aku berdiri di depan rumah menggunakan pakaian olahraga berwarna hitam sedangkan Rito menggunakan pakaian olahraga berwarna merah. Kupikir dia terlalu mencolok.

Saat ini adalah pukul 1 siang, matahari menyengat menusuk kulit kepala dan butir-butir keringat sudah mulai keluar dari dahi hanya dengan berdiri di luar ruangan. Negara ini sangat panas.

“Kita mulai?”

“Ya!” Aku menjawab dengan penuh semangat.

Kemudian dengan serempak kami mulai pemanasan. 

Ya, pemanasan itu penting.

Dimulai dengan berjalan kaki sebentar. ini penting untuk membantu dalam proses persiapan tubuh untuk melakukan gerakan fisik secara intens. Dilanjutkan dengan peregangan setiap anggota tubuh dengan perlahan, squats tanpa beban untuk menghangatkan kaki dan membuatnya siap untuk latihan dan diakhiri dengan jumping jack, Kita berdua melompat tinggi-tinggi dan penuh semangat untuk meningkatkan antusiasme.

Selesai pemanasan kami mulai berlari mengikuti rute yang telah kita tetapkan sebelumnya, tempat tujuan pertama adalah sebuah pertigaan sejauh 5km dari rumah kami, di sana terdapat banyak penjual kaki lima, mulai dari penjual gorengan, cendol, es kela-tidak penting, intinya, disanalah tujuan awalnya.

Dalam berlari juga ada teknik yang harus dilakukan untuk menghasilkan kecepatan yang lebih dengan efisiensi tenaga yang tinggi, juga untuk pencegahan cidera.

Dimulai dari teknik pernapasan. Dalam bernapas yang paling baik adalah bernapas dalam-dalam walaupun sedikit lebih lama. Ini bertujuan untuk memperbanyak persentasi volume udara yang masuk sampai paru-paru dalam satu hembusan. Dibandingkan bernapas dengan dangkal yang lebih singkat, cara ini lebih baik. Ritme nafas juga mengikuti langkah kaki, sehingga gerakan seluruh tubuh serasa harmonis.

Kemudian adalah postur tubuh, karena postur tubuh saat berlari akan sangat menentukan performa yang dapat dihasilkan. Postur tubuh yang baik akan menghemat tenaga tubuh sehingga dapat berlari cepat tanpa kelelahan dengan cepat. Dimulai dari badan yang dimiringkan ke depan, dengan memanfaatkan gravitasi sebagai dorongan berlari sehingga kaki tidak banyak mengeluarkan suara.

Sebenarnya masih banyak lagi, seperti badan lurus tanpa ditekuk, kepala tegak dan lain-lain.

Tapi cari tahu saja sendiri.

Sekitar setengah jam berlalu dan kami akhirnya sampai di lokasi pemberhentian pertama, ini cukup melelahkan walaupun kami sudah biasa melakukannya. Kita beristirahat sekitar lima menit kemudian lanjut berlari lagi. Ini bukanlah tujuan utama kami.

Keringat sudah membasahi seragam olahraga yang kami kenakan, suara engahan sudah mulai terdengar, tapi kami terus berlari.

Sekitar setengah jam akhirnya kami sampai ke tempat tujuan kami, ini adalah sebuah jalan raya yang sepi, di samping jalan raya ini terdapat sebuah sungai selebar 20m. Inilah latihan selanjutnya.

Sebelum itu, kami mulai mengistirahatkan dan membuat rileks seluruh otot ditubuh. Tidak lucu kalau nanti kram saat di dalam air.

“Hari ini masih bersemangat seperti biasanya, ya.”

Itu adalah suara seorang kakek yang sering lewat jalan ini, dia bersama anjingnya selalu pergi jalan-jalan saat sore hari.

“Ya, ini masih belum seberapa.” Jawab Rito dengan semangat.

“Iya, ngomong-ngomong hari ini jalan-jalannya awal banget?”

Ini kalau tidak salah masih sekitar jam tiga, jadi itu masih sedikit lebih awal, biasanya mereka jalan-jalan sekitar jam empat.

“Iya, si Jonson minta jalan-jalan terus.”

“Guk guk,” seru anjing tersebut.

“Haha, kalau gitu hati-hati ya kek.”

“Iya, kalian juga hati-hati, kakek jalan-jalan lagi.”

““Sampai jumpa lagi kek.””

Setelah melambaikan tangan, kakek itu kembali berjalan bersama anjingnya.

Kita mensudahi istirahat dan mulai melepas baju dan hanya menyisakan celana olahraga, ini sedikit memalukan, tapi untungnya di sekitar sini sangat jarang orang yang lewat, apalagi bentuk badanku tidak sekeren milik Rito. Apa-apaan itu dengan kotak-kotak ditubuhmu, menyebalkan.

“Oke, hari ini kita seperti biasa.”

“Ya, yang kalah harus mentraktir yang menang.” Jawabku dengan tersenyum lebar.

Kita berdua berada di depan sungai sedang melakukan posisi bersiap-siap. Dengan hitungan mundur kami mulai berenang menyusuri sungai. Balapannya adalah untuk berenang bolak-balik sungai ini. Sungai ini cukup lebar dan arusnya sangat kuat, tapi itulah bagian serunya.

Dengan motivasi agar tidak mentraktir Rito, aku berhasil untuk menang pada pertandingan hari ini, aku tidak mau membuat dompetku menjerit lebih keras lagi.

“Hah ... hah ... hah....”

Dengan tubuh yang basah oleh air, kami berdua berbaring menghadap langit. Latihan hari ini selesai, latihan ini kami lakukan untuk memperbaiki stamina dan daya tahan tubuh, tapi berlebihan juga tidak baik bagi tubuh. Jadi inilah akhir dari latihan kami.

Seperti biasa, sambil menatap langit sore yang mulai mengoranye, kami berbincang-bincang.

Kami sekolah di sekolah yang sama, tapi kita beda kelas, jadi tidak sesering dulu lagi kita berdua bisa berbicara.

Aku berada di kelas 11A sementara Rito berada di kelas 11B.

“Jadi, gimana kencannya? Lancar?”

“Itu bukan kencan, itu Cuma nemenin beli hadiah.”

“Iya, iya. Jadi, gimana?”

“Lancar.”

Aku menceritakan semua yang terjadi, dan juga ajakannya untuk menghadiri pesta ulang taun ayahnya.

 “Terus gimana?”

“Apanya?”

“Ya, hubungan kalian.”

“Ya, kayak biasanya.”

“Yakin?”

“Hmm...”

“Menurut aku dia suka sama kamu.”

Hah? Mana mungkin. Aku terdiam sebentar dan mengingat kembali tingkah laku Alice saat aku menemani dia mencari hadiah. Apa itu perilaku seorang gadis yang sedang jatuh cinta?

“Dari mana kamu tahu?”

“Dia gak mungkin ngajak cowok yang tidak spesial ke acara ulang tahun ayahnya.”

“Itu ‘kan cuma buat ucapan terima kasih.”

“Coba hilangkan sikap pesimismu tentang perempuan itu, itulah yang membuat kau jadi jomblo sampai saat ini.”

Sial.

Meskipun kita berdua sama-sama maniak militer, tapi dia punya pergaulan yang lebih luas dan juga dia punya seorang pacar. Apalagi pacarnya itu sangat cantik. Yah, tapi masih jauh di bawah Alice.

Ini semua karena aku sering berbicara dengan Dan. Aku jadi dikira aneh oleh orang-orang.

“Jadi, sekarang masalahnya gimana perasaanmu tentang dia?” tanya Rito.

Perasaanku? Yah, itu....

“COPET! TOLONG... ITU COPET!”

Suara teriakan terdengar dari jalan, sebuah suara perempuan yang menjerit. Aku dan Rito refleks berbalik dan melihat.

Sebuah sepeda motor dengan dua orang pemuda berhelm hitam melaju dengan cepat sambil membawa sebuah tas berwarna merah muda.

“Lari!” bentak Rito.

Aku tanpa bertanya mulai berlari mengejar sepeda motor itu, beberapa saat kemudian sebuah batu terbang lurus melewati aku menuju pengendara motor itu.

Sebuah batu berukuran sekepal tangan menghantam helm dari pengemudi motor tersebut dan membuatnya jatuh terjerembab ke semak-semak.

Aku yang sedari tadi masih berlari akhirnya bisa menyusul mereka.

Aku cepat mengunci gerakan salah satu dari keduanya untuk menangkapnya, tapi sayangnya salah satunya dengan cepat berlari meninggalkan temannya. Aku hanya bisa melihatnya lari menjauh.

Dia sejenak melirik ke arahku dan kemudian kembali berlari menjauh

Rito datang menyusul ke tempatku meringkus pencopet ini membawa tanaman merambat. Dia mengikat tangan dan kakinya erat agar pencopet itu tidak dapat kabur.

Beberapa menit kemudian polisi datang setelah di telpon olah wanita itu.

Dia mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan tasnya. Kemudian, kami disuruh ikut ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Ini menyebalkan, kami sudah lelah. Biarkan kami istirahat.

Setelah memberikan kesaksian, kami diantar langsung menuju rumah oleh salah seorang petugas polisi.

Sesampainya di rumah, aku segera mandi dan segera makan. Aku menuju ke kamar dan melihat ponselku. Ada sebuah pesan dari Alice.

[Tadi aku melihatnya, itu keren sekali ^_^]