Episode 152 - Tempuling Malam




“Wush!” 

Kelima remaja dari Perguruan Gunung Agung terlontar jauh keluar dari dalam gerbang dimensi. 

Angin menderu sangat kencang! Di bawah, terbentang sebuah pulau. Di sisi utara dan selatan pulau, sepasang benteng kecil berhadap-hadapan. Sebenarnya tak layak disebut sebagai benteng, karena hanyalah bangunan berbentuk persegi dengan tiang bendera. Selembar bendera berwarna biru berkibar di benteng selatan, dan bendera berwarna merah di atas benteng utara. Sebuah bukit rimbun terletak di tengah, yang memisahkan kedua benteng. 

“Kita bisa mati bila terjatuh dari ketinggian ini!” teriak Bintang Tenggara. 

Kelima remaja dapat mengamati keadaan pada permukaan pulau karena memang mereka sedang terjatuh dari ketinggian. Tinggi sekali! Setinggi awan yang biasanya di pandang indah dari permukaan bumi. Akan tetapi, awan tiada terlihat indah bilamana berada di dekatnya dan dalam keadaan terjatuh! 

Teriakan Bintang Tenggara bahwa mereka akan mati bukan bercanda adanya. Sebagai ahli Kasta Perunggu, tak satu pun dari mereka bisa terbang di udara. Ini adalah ancaman serius. Bintang Tenggara pun tak memiliki cara untuk menyelamatkan diri. Dari ketinggian seperti ini, Segel Penempatan tiada akan berguna. Tidak juga dengan jurus Delapan Penjuru Mata Angin, Silek Linsang Halimun, Asana Vajra, bahkan Pencak Laksamana Laut sekalipun. Tinju Super Sakti adalah jurus menyerang, juga tiada akan berguna! 

“Jikalau sekedar untuk menyelamatkan jiwa, masih ada cari itu...,” gumam Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara mengamati teman satu regu yang masih tenang-tenang saja meski semakin lama mereka semakin cepat terjatuh. Ia mengalihkan pandangan, di kejauhan, anggota regu dari Perguruan Anantawikramottungadewa pun berada dalam kondisi yang serupa. Meski, tak satu pun dari mereka terlihat panik. 

“Wahai Mambang Segala Mambang…,”Bintang Tenggara sayup-sayup mendengar suara. “Kumohon inayat akan kekuasaan… Rotan Bunian: Kepak!”

Terlihat rotan-rotan besar dan kecil merambat cepat membungkus pundak dan dada Kuau Kakimerah. Bermuara di punggung, rotan-rotan tersebut merangkai dan menjalin cepat dan erat, seolah hendak membungkus tubuh. 

“Flap!” 

Tetiba jalinan rotan terkembang demikian megah dan perkasa! Kuau Kakimerah rampung merapal jurus kesaktian unsur kayu. Panjang bentangan jalinan rotan di satu sisi saja mencapai lebih dari tiga meter. Tak perlu dicermati dengan seksama untuk mengetahui bahwa jalinan rotan tersebut berwujud… kepak sayap raksasa burung rajawali! 

Kuau Kakimerah lalu melontar empat jalinan rotan tunggal. Dua di sisi kiri disambut oleh Panglima Segantang dan Canting Emas, dua lagi di sini kanan diperuntukkan bagi Aji Pamungkas dan Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara menghela napas lega. Karena sudah lama tak menghabiskan waktu bersama teman-temannya sendiri, ia sempat lupa akan jurus kesaktian yang berwujud kepak sayap rajawali raksasa. Mereka pun melayang turun bersama aliran angin. 

Jauh di seberang sana, para Putra dan Putri Perguruan Anantawikramottungadewa mengembangkan kain nan lebar. Setiap anggotanya lalu meraih setiap sudut kain. Mereka terlihat seperti bergelayutan pada sebuah balon dan turun perlahan mengikuti hembusan angin.   

“Ini adalah kesempatan untuk menyerang terlebih dahulu!” 

Usai berseru, Aji Pamungkas mengeluarkan Busur Mahligai Rama-Shinta. Tiga buah anak panah lalu melesat deras ke arah lawan. Akan tetapi, anak-anak panah tersebut terpental sebelum menyentuh satu pun lawan, seolah membentur tembok keras. 

“Formasi Segel Pertahanan!” seru Bintang Tenggara. Di saat yang sama, kedua matanya kembali bertemu dengan sepasang mata coklat milik Putri Perguruan Anantawikramottungadewa. 

Regu dari Perguruan Gunung Agung mendarat di dekat Benteng Selatan yang membentangkan bendera berwarna biru. Segera mereka melesat masuk ke dalam. Hanya ada satu ruangan di dalam benteng. Ukuran keseluruhan di dalam benteng pun tak terlalu luas, hanyalah sekitar lima meter persegi. 

“Kemungkinan besar terdapat ahli perapal segel di antara lawan,” ujar Canting Emas. “Nantinya, bukan tak mungkin bagi mereka memasang Segel Pertahanan di Benteng Utara!”

Canting Emas lalu menoleh ke arah Bintang Tenggara... “Bagaimana dengan kemampuanmu dalam merapal formasi segel…?” Gadis itu hendak memastikan. 

“Belum paham…,” jawab Bintang Tenggara cepat. 

“Hah!? Jadi apa saja yang kau lakukan selama meninggalkan Perguruan Gunung Agung!?” hardik Canting Emas. 

Bintang Tenggara terhenyak. Petualangannya selama ini memang mengasah kemampuan menggunakan jurus dan membuahkan pengalaman baru, namun baru kali ini ia sadar… Dalam hal bertarung, ia memiliki sejumlah jurus-jurus menyerang yang digdaya. Akan tetapi, dalam hal pertahanan, sangatlah lemah. Melarikan diri adalah pertahanan terbaiknya selama ini. 

“Tempo hari aku mendapati kau berada di Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel… apa yang kau lakukan di sana!? Memotong rumput!? Membersihkan selokan!? Memberi makan ayam!?” 

Bintang Tenggara tak sanggup menjawab. Baru saja hendak mempelajari keterampilan khusus sebagai perapal segel, ia sudah harus menyertai regu ini dalam menerima hadiah, yang ujung-ujungnya merupakan pertarungan lagi. 

“Aku akan membangun tembok tanah,” sela Panglima Segantang. Mungkin tak sampai hati melihat sahabatnya tak berdaya. 

“Aku akan memasang jalinan rotan…,” gumam Kuau Kakimerah. Ia menyusul Panglima Segantang keluar. 

“Aku akan naik ke atas dan memantau pergerakan lawan,” Aji Pamungkas pun beranjak pergi. 

Bintang Tenggara pun ikut melangkah keluar dari Benteng Selatan. 

“Kau mau kemana?” sergah Canting Emas. 

“Aku hendak memantau benteng lawan.” Padahal, sebenarnya Bintang Tenggara hendak memastikan perihal jati diri Putri Perguruan Anantawikramottungadewa. 

“Untuk apa!? Lebih baik kau temani Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah. Lindungi mereka bilamana lawan tetiba menyerang!” 

...


Tembok tanah telah terbangun mengelilingi Benteng Selatan. Di sisi dalam dan sisi luar tembok tersebut, jalinan rotan berduri terlihat tajam memperkuat pertahanan. Bilamana lawan menyerang dari udara, jalinan rotan tersebut juga dapat melesat tinggi ke atas. 

“Aku telah selesai membuat Ranjau Ledak,” Canting Emas menunjuk ke arah bola-bola berwarnya kuning kusam yang berukuran sekepalan tangan anak-anak. “Aku juga sudah menggambar peta keseluruhan pulau...”

Cekatan sekali Canting Emas. Dalam keadaan terdesak saat terjatuh dari ketinggian, ia masih menyempatkan diri menghapal wilayah pulau. Bintang Tenggara memeriksa peta tersebut, hampir seratus persen mewakili gambaran pulau yang ia lihat dari udara.  

“Aji Pamungkas, pasang ranjau-ranjau itu dalam radius duapuluh meter dari benteng ini.” 

Canting Emas menunjuk ke atas peta. Ia menggerakkan jemari melingkari wilayah benteng. Terlebih, sepertinya ia lebih percaya kepada Aji Pamungkas dibandingkan Bintang Tenggara. 

“Lalu, apakah kita hanya akan menunggu...?” Bintang Tenggara mulai tak sabar. 

“Benar!” Canting Emas tak hendak digugat. 

Mereka kembali berembug. Pada akhirnya, sesuai kehendak Canting Emas, regu ini akan menekankan pada kemampuan bertahan saja. Berbagai macam skenario pertahanan dan serangan balik, dikaji setiap kemungkinannya. Dari sebagian besar skenario tersebut peran Bintang Tenggara sangatlah minim. 

Aji Pamungkas telah kembali. Kotor sekali sekujur tubuhnya.

“Bau apa ini...?” sergah Canting Emas. 

“Aku menemukan banyak kotoran sapi...,” jawab Aji Pamungkas bangga. 

“Lalu...?”

“Lalu aku menyamarkan Ranjau Ledak ke dalam kotoran sapi dan memasang di setiap jalur yang kemungkinan besar dilalui lawan.” Aji Pamungkas terlihat puas. “Tak akan ada yang mencurigai posisi Ranjau Ledak!” 

Semua wajah di dalam Benteng Selatan, selain Aji Pamungkas, terlihat kecut. 

“Aji Pamungkas...,” Canting Emas menggeretakkan gigi. “Siapa yang waras.... yang akan menginjak tahi sapi!?” 

“Eh...?” Aji Pamungkas sepertinya baru tersadar. 

Logika sederhana... bilamana melihat kotoran sapi, siapa pun pastilah akan menghindar. Tak mungkin lawan akan menginjak kotoran sapi, kecuali bila benar-benar sial. Ranjau Ledak di balik kotoran sapi... menjadi tiada berguna! 

“Bintang Tenggara! Segera benahi posisi dan lokasi Ranjau Ledak!” 

...


Nasib malang. Inilah yang disebut dengan nasib malang. 

Pertama, Bintang Tenggara harus berhati-hati mengeluarkan Ranjau Ledak dari dalam kotoran sapi. Tekanan pada kekuatan tertentu akan memicu Ranjau Ledak. Salah sedikit saja, maka dirinya yang akan menjadi korban ledakan, sekaligus percikan tahi sapi. Segera ia ketahui, bahwa Aji Pamungkas cukup telaten dalam membungkus ranjau-ranjau menggunakan kotoran sapi. 

Hari menjelang petang. 

Setelah mengeluarkan ranjau dari dalam kotoran sapi, Bintang Tenggara membuat lubang dangkal di permukaan tanah. Langkah ini cukup sederhana. Menggunakan Tempuling Raja Naga, maka ukuran lubang pas adanya. Barulah setelah itu, ia akan menutupi lubang dengan tanah, lalu menimbun dengan dedaunan sedemikian rupa. 

“Srek!” 

Tetiba sesosok bayangan melesat cepat. Bintang Tenggara segera mengetahui bahwa sosok tersebut adalah seorang ahli. Mungkinkah lawan...? Tanpa pikir panjang, ia pun memacu langkah mengejar. Apa guna segala daya upaya mengacak-acak tahi lalu memindahkan ranjau, bila lawan mengetahui akan posisi ranjau-ranjau tersebut. 

Bintang Tenggara memang memiliki kemampuan berlari di atas rata-rata ahli seusia. Sudah cukup sering ia dikejar-kejar musuh, baik itu ahli pada tingkatan kasta yang sama atau lebih tinggi, bahkan dikejar-kejar binatang siluman. Oleh karena itu, dalam hal mengejar pun, ia cukup berpengalaman. 

Sosok lawan semakin dekat dan jelas terlihat. Bintang Tenggara lalu menambah kecepatan dengan bantuan jurus kesaktian unsur petir. Tak lama, mereka memasuki wilayah kaki bukit yang memisahkan kedua benteng. Jarak dirinya dengan lawan kini hanya terpaut kurang dari sepuluh langkah. Menggeretakkan gigi, Bintang Tenggara lalu berteriak kencang...

“LAMALERA! Tunggu!” 

Gadis berambut ikal dan panjang itu berhenti di tempat. Siluet mentari petang mempertegas lekuk tubuh seorang gadis yang sedang beranjak remaja. Proporsional sekali. Ia memutar tubuh. Senyum tipis menghias sudut bibirnya.

“Lamalera... bagaimana engkau bisa berada di Kota Baya-Sura...?” 

Bintang Tenggara demikian penasaran mendapati Lamalera sebagai Murid Utama di sebuah perguruan ternama. Bagaimana ceriteranya gadis tersebut dapat menjabat sebagai Putri Perguruan? Siapa yang akan menduga bahwa dirinya dan Lamalera sama-sama berada pada Kasta Perunggu tingkat 8? Tunggu, siapa yang membawa Lamalera ke Perguruan Anantawikramottungadewa!?

Lamalera melangkah maju, santai, mendatangi Bintang Tenggara... 

“Hya!” gadis itu melompat deras. Lutut kanannya mengudara dan mengincar kepala Bintang Tenggara! 

Sigap, Bintang Tenggara mengerahkan kembangan untuk menghindar ke samping. Kemudian, ia bergerak setengah melingkar ke belakang tubuh lawan. 

Lamalera mendarat ringan di depan. Ibarat memiliki pegas di kedua kaki, gadis itu lalu melenting tinggi ke belakang tanpa terlebih dahulu menoleh. Di udara, posisi tubuhnya terbalik, kaki di atas dan kepala di bawah, sebelum kaki kanannya kembali mengayun dan mengincar cepat kepala Bintang Tenggara. 

Gerakan Lamalera demikian cepat dan ringkas. Akan tetapi, bukan Bintang Tenggara bila kalah cepat. Ia segera merangsek mundur ke belakang. Rasanya sudah demikian panjang waktu berlalu sejak dirinya dan Lamalera bermain-main di pesisir pantai. Rasanya sudah lama sekali dirinya meninggalkan Dusun Peledang Paus di Pulau Paus. 

Jika tiada bersua Lamalera, maka dirinya mungkin sudah terlupa akan sahabat masa kecilnya itu...

“Jadi, Bintang Tenggara, Putra Perguruan Gunung Agung.... Ahli termuda yang berhasil membawa perguruannya menduduki peringkat kedua dalam Kejuaraan Antar Perguruan, masih mengingat akan diriku...?” 

Ya. Gadis tersebut sudah dapat dipastikan sebagai Lamalera. Gaya bicaranya tiada berubah! Selain itu, sudah tak diragukan lagi bahwa Lamalera telah menjadi seorang ahli. Kemungkinan besar ada ahli dari Perguruan Anantawikramottungadewa yang berkunjung ke Dusun Peledang Paus dan membawa gadis tersebut. Atau, ada seorang ahli yang sudah lama berdiam di wilayah tenggara yang mengantarkan ke Kota Baya-Sura...

Terlepas dari dugaan ini dan itu, Bintang Tenggara menangkap ada yang aneh dari penampilan Lamalera. Keanehan ini baru kentara begitu berdekatan dan diperhatikan dengan seksama... Bahwa, Lamalera terlihat mengenakan demikian banyak perhiasan. Di setiap caping telinga, setidaknya ia mengenakan lima susun giwang. Di leher menggantung kalung besar. Gelang dan kelat tersemat di kedua lengan dan pergelangan tangan. Kemudian, gadis itu juga mengenakan gelang kaki nan sangat lebar. 

“Jadi, hari ini kau hendak bermain-main?” sahut Bintang Tenggara. 

Untuk sementara waktu, Bintang Tenggara mengabaikan pilihan gaya Lamalera yang sungguh berlebihan dalam mengenakan perhiasan. Dari sekian banyak gadis yang dirinya temui, baru Lamalera seorang yang menyalahgunakan demikian banyak perhiasan. 

“Kau jual, aku beli,” jawab Lamalera cepat. 

“Tempuling Raja Naga!” 

Percuma mempertanyakan mengapa dan bagaimana Lamalera bisa terdampar di Perguruan Anantawikramottungadewa. Yang jelas, mereka berdua sama-sama berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8. Mereka berdua adalah ahli dari dua kubu berbeda, yang harus memenangkan Pertarungan Benteng. Walau kedua perguruan bersahabat adanya, pertarungan adalah pertarungan. Menang dan kalah adalah mutlak. 

“Hehe... Berapa kali pun dilihat... sungguh tempuling dari tulang ekor salah satu Jenderal Bhayangkara dan siluman sempurna yang sani, teramat sangat digdaya...” 

“Eh...?” Bagaimana pula Lamalera mengetahui asal-usul Tempuling Raja Naga!? batin Bintang Tenggara. Ia tak pernah mengingat memberitahu sesiapa akan hal ini.

“Hya!” Lamalera kembali merangsek menyerang. Ia melompat lincah ke samping, sebelum menyarangkan tendangan, lagi-lagi, ke arah kepala Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara mengayunkan Tempuling Raja Naga dengan mudahnya. Sebagaimana diketahui, bobot tempuling tersebut dapat ditambah dan dikurangi sesuka hati. 

Lamalera seolah menendang tempuling yang mengincar dirinya, walau pada kenyataannya, ia menjadikan tempuling tersebut sebagai pijakan untuk mengubah pola serangan. Dari tendangan menyilang kaki kiri, Lamalera memutar tubuh di udara dan menghunuskan tendangan menohok menggunakan kaki kanan! 

Bintang Tenggara menghindar ke samping. Lalu, berbekal Segel Penempatan yang telah ditebar sebelumnya, ia terlihat melompat-lompat di udara. Ketika memperoleh momentum yang tepat, anak remaja tersebut lalu melenting deras sambil menikamkan Tempuling Raja Naga ke arah Lamalera. 

“Trak!” 

Tempuling Raja Naga hampir terlepas dari genggaman tangan Bintang Tenggara. Anak remaja itu mengingat perasaan di saat menikamkan tempuling pada Kepik Cegah Tahan milik Kum Kecho. Kedua lengan, walau sudah dibalut Sisik Raja Naga, tetap merasakan getaran yang demikian keras! 

Di hadapan, Lamaleran sudah menghunus sebuah tempuling berwarna hitam mengkilap. Ukuran tempuling itu hampir sama panjangnya dengan Tempuling Raja Naga dan aura yang mencuat pun berada pada Kasta Perak!

Bintang Tenggara mendarat di kejauhan. Dari manakah datangnya tempuling itu!? batinnya penasaran. Dirinya tiada melihat Lamalera merogoh dan mengeluarkan tempuling dari cincin Batu Biduri Dimensi. Tempuling seperti apakah gerangan itu?

“Ini adalah Tempuling Malam...” Lamalera menjawab, seolah dapat membaca jalan pikiran Bintang Tenggara. Ia lalu menghunus tempuling tajam ke depan. 

“Hya!

Bintang Tenggara berupaya mengira-ngira perihal nama Tempuling Malam... Sungguh aneh namanya. Walau, ia menyadari bahwa bila bertarung di malam hari, pastilah sulit mendeteksi keberadaan tempuling berwarna hitam tersebut. Siapakah kiranya yang senang bertarung di malam hari? 

Belum sempat putra bungsu Mayang Tenggara itu mencerna lebih lanjut, Lamalera telah melenting tinggi di udara. Memegang tempuling sejajar telinga, gadis itu menikam deras. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting!

Tikaman Tempuling Malam hanya menerpa bayangan tubuh Bintang Tenggara. Anak remaja itu telah bergerak ke samping. Posisi tubuhnya kini sangat ideal untuk melancarkan serangan balik…

“Srak!” 

Bintang Tenggara terhuyung tak begitu jauh dari tempat dimana ia tadinya mengelak guna melancarkan serangan balik. Hal ini terjadi karena Tempuling Malam yang berhasil dihindari, tetiba mengeluarkan sebilah jeruji panjang dan tajam dari permukaan bilahnya. Jeruji tersebut deras mengincar tubuh. Pada detik-detik akhir, reflek Bintang Tenggara mengerahkan teleportasi jarak dekat dari Bentuk Ketiga jurus Silek Linsang Halimun. 

Darah mengalir dari bahu Bintang Tenggara. Rupanya, tak sepenuhnya jeruji tajam dan panjang yang mencuat dapat dihindari. Meski goresan tak dalam, tapi terasa cukup perih. Ia menatap tajam ke arah Lamalera. 

“Hm? Nalurimu cukup baik...,” ujar Lamalera santai. 

Di saat mendapat kesempatan mengamati Lamalera, Bintang Tenggara baru menyadari bahwa berbagai jenis giwang, gelang, kelat, kalung... berbagai jenis perhiasan yang awalnya Lamalera kenakan membabi-buta di sekujur tubuh... tiada lagi terlihat. 

“Unsur kesaktian... logam?” gumam Bintang Tenggara. 



Cuap-cuap:

Luar biasa kreatif sekali jawaban para ahli dalam kuis berhadiah terakhir. Sungguh. Singkat kata, sebagai pemenangnya, sponsor memilih: 

1. Shuka Wijaya: Unsur kesaktian ‘air’, dengan jurus Jeruji Samudera

2. Alexander Giovani: Unsur kesaktian ‘badai’, dengan jurus Raung Membahana, Naga Menghentak

3. We: Unsur kesaktian ‘pasir’, dengan jurus kesaktian Weijarang, Awelolong dan Seguni. 


Bagi para pemenang, mohon kirim pesan berisi: alamat tempat tinggal, no hp dan ukuran kaos yang dikehendaki ke Facebook Ceritera: https://www.facebook.com/ceriteradotnet/

Bagi yang belum menang, jangan khawatir, karena akan ada kuis-kuis berhadiah kaos dengan tokoh-tokoh lain. Asyik! (Catatan: hadiah kaos nantinya mengecualikan Embun Kahyangan, karena distro sponsor hanya akan menjual kaos tokoh kesayangan yang satu ini. Haha...)

Bagi semua yang sudah ikut serta, terima kasih! Bukan tak mungkin unsur dan jurus-jurus yang telah diikutsertakan akan muncul di dalam episode-episode ke depan. Tunggu tanggal mainnya.

Salam seru!