Episode 12 - Hari Ulang Tahun Annelis

Siang ini, aku menyibukkan diri membantu Laksmi dan Bu Sri mengupas bawang merah di dapur umum. Meski sejujurnya, aku jauh lebih sibuk menyeka air mataku sendiri. Entah mengapa, air di mangkuk yang berkhasiat untuk Laksmi dan Bu Sri, tak menujukkan hal serupa padaku. Sambil mengupas bawang merah, Bu Sri bercerita soal Ambar dan Zulaeka.

Zulaeka—yang tengah hami enam bulan—merupakan salah satu warga Dusun Kedaton Kidul yang kehilangan suaminya akibat gempa, seperti juga Bu Sri. Tapi, kata Bu Sri, Zulaeka perempuan yang sabar. Dia jarang menangis dan lebih sering berdoa. Sebab menurutnya, bagi orang yang kita cintai, sebaris doa jauh lebih berarti daripada segerimis tangis. Melihat ketabahannya, warga dusun sering kali terserang haru.

Berseberangan dengan Zulaeka, Ambar—yang biasa dipanggil warga dengan Bu Bidan—mengalami gejala depresi sepeninggal suaminya akibat gempa. Dia lebih sering terlihat murung, hampa, dan menarik diri dari lingkungan. Bahkan, dia juga mudah marah apabila diajak berinteraksi. Tapi, Bu Bidan sudah ditempatkan di tenda khusus oleh Mas Sukri untuk ditangani oleh tim ACT. Kasihan, Bu Bidan, padahal dia sangat dihormati di dusun ini, lanjutnya.

Selesai membantu di dapur umum, aku menemui Mas Sukri, menyampaikan rencana dan kebutuhan kegiatan kami. Ia menyetujuinya, dan mengatakan akan berkoordinasi dengan tim ACT yang lain. Lalu, seperti Bu Sri, ia juga bercerita tentang Zulaeka dan Ambar.

Zulaeka, yang mendiang suaminya pengusaha batu bata, kondisinya tidak begitu mengkhawatirkan. Bahkan, dia sangat peduli pada kesehatan janinnya dengan aktif mengikuti saran yang diberikan dokter relawan: teratur berolahraga ringan, mengatur asupan gizi, dan menghindari stres. Rencananya, dia ingin melahirkan secara normal. Entah apa alasannya, Mas Sukri sendiri tak tahu secara jelas.

Sedangkan bagi Ambar, kehilangan suaminya seperti kehilangan sahabat terbaik dalam hidupnya. Dia dan suaminya, sudah saling mengenal sejak kecil. Hubungan mereka dimulai dari sekadar tetangga, teman sekolah, sahabat, hingga akhirnya menjadi teman hidup. Cinta mereka didasari rasa persahabatan yang tulus dan kuat. Maka dari itu, dia yang belum memiliki anak dari pernikahannya itu, mengalami guncangan yang lebih hebat daripada gempa yang terjadi beberapa waktu silam.

Dia mulai menarik diri dari lingkungan, murung, cepat marah, serta produktivitasnya menurun. Selain itu, dia sering kali sibuk mengancam Tuhan. Katanya, jika Tuhan tidak mengembalikan suaminya ke dunia, maka dia akan menyusul suaminya dengan cara-caranya sendiri. Sekarang, dia telah ditempatkan di tenda khusus untuk selalu didampingi.

Mas Sukri juga menceritakan soal Baskara. Setelah beberapa hari ini selalu menaruh curiga di dalam kepalanya, dia ditempatkan di ruang kantor ACT untuk mengurusi tetek bengek keluar masuknya bantuan.

Heran aku sama Bas, Gam. Kalau orang mumet ngelihat angka, eh dia malah mesem-mesem, gurau Mas Sukri, mengakhiri percakapan kami.

**

Seperti yang bisa kuduga sejak awal. Sekali lagi, Bung Atma menyiksaku lewat dongeng yang dibacakannya. Mulanya, aku melakukan hal yang mudah: memainkan harmonika dengan sembarang, asal bunyi tanpa perlu merdu. Hanya sebagai pelengkap dan memeriahkan suasana. Tapi, itu cuma kemenangan sebentar. Menjelang akhir dongeng, ia mengalihkan fokus pada pemain harmonika. Tiba-tiba, seperti tokoh kejutan, pemain harmonika diajaknya masuk ke dalam cerita.

Bagai sutradara yang kejam, ia mengatakan bahwa si Pemain Harmonika yang rakus, ingin memakan harmonikanya sendiri. Jantungku berdegup rapat, keringat terjun santai dari wajahku. Namun untungnya, Banu mengajukan protes atas logika yang diyakininya: harmonika tidak bisa dimakan!

Dan, saat Bung Atma—si-Parlente-Gemuk-Licik—itu mengeluarkan jurus andalannya soal kebebasan berimajinasi, Banu dengan tangkas menangkisnya. Fiuh! Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya memakan harmonika.

Kemudian, di akhir sesi dongeng, setelah anak-anak berhamburan ke pelukan orangtuanya masing-masing, kami merencanakan pertemuan di tempat biasa pada malam hari.

**

Matahari terbenam di perut kegelapan. Di dekat tenda pengungsi perempuan, sambil menikmati kopi hitam di gelas plastik, aku menanti kedatangan Laksmi. Berselang beberapa sesepan kopi, ia muncul mengenakan hoodie warna biru langit pagi yang terlihat pas mengurung tubuh rampingnya.

Kami berjalan beriringan. Di kejauhan, di dapur umum, sekumpulan mahasiswa yang melihat Laksmi, saling menyikut dan berbisik-bisik. Ya, Laksmi memang cantik. Dan, yang pasti, setelah memastikan jarak kami cukup jauh, sekumpulan mahasiswa itu akan dengan cerobohnya menganggapku sebagai kekasih Laksmi.

Melewati musala, kami seperti menyusuri suara azan Isya. Beberapa pengungsi yang melangkah terburu-buru, menyempatkan diri melempar senyum dan sapaan hangat. Membuat malam kian tenteram, dan angin terasa mesra.

“Gam, agak mengherankan ya, melihat sebagian besar warga Dusun Kedaton Kidul bisa begitu saja menerima takdir yang ndak bisa ditolak. Seolah bagi mereka, apa yang menimpa mereka itu atas dasar alasan Tuhan yang cukup,” kata Laksmi, sambil berjalan perlahan di sampingku.

“Seperti kata Leibniz maksudmu?”

“Eh, kamu tahu juga?” Laksmi menyembunyikan tangannya di kantung hoodie, “iya, betul, Gam, maksudku, aku sering kali heran. Mengapa dengan segala yang terjadi pada mereka, mereka masih merasa bahwa Tuhan Mahabijak, Tuhan selalu adi—”

“Ya, diakui atau nggak, optimisme kadang terasa menenteramkan, Mi,” kataku, yang tanpa sengaja memotong perkataan Laksmi.

“Tapi, Gam ...,” lanjutnya, “terkadang optimisme dibelok-artikan oleh sebagian orang. Di Kaliurang, misalnya, seorang lelaki mengatakan kalau bencana terjadi karena dosa kita. Dan aku ndak ngerti, siapa saja bagian dari ‘kita’? Seolah segala yang buruk dan menimpa kita, berasal dari kita sendiri, meski terjadi di luar kemampuan kita. Dan, kita juga ndak bisa memungkiri, di tengah semangat optimisme, harus tetap ada sebagian orang yang terus menggugat soal keadilanNya.”

“Ya,” kataku, “tapi, Mi, memang akan sulit bagi yang terbatas untuk memahami yang tak terbatas.”

“Hmmm ...”

“Eh, Mi. Kata Mas Sukri, kamu penulis, ya?” kataku, mencoba mengalihkan suasana.

“Ummm ... ya, Gam, aku nulis novel. Kamu sendiri,” ia mencoba menyeimbangkan langkah, “pekerjaanmu?”

“Aku usaha kedai kopi bareng beberapa teman di Jakarta. Namanya Kedai Kopi Aceh. Kapan-kapan, kalau kamu ke Jakarta, wajib mampir ke kedai kopiku, ya. Sekalian bawakan aku novelmu.”

“Oke, Gam! Pokoknya kita harus mabuk gayo!”

Kami sampai di tempat biasa. Bung Atma belum terlihat, sehingga kami memilih duduk berdampingan di atas batu cantik. Menikmati malam sejuk, serta langit dengan sedikit bintang yang tersangut di pucuk pohon-pohon, bagai ikan penelan cahaya yang tengah menghirup udara di tepi mata danau.

“Gam, kamu lucu deh, punya harmonika tapi ndak bisa mainnya.”

“Ya, itu harmonika pemberian dari Keumala, Mi.”

“Keumala ... istri?”

“Bukan, Keumala kekasihku,” aku menyalakan sebatang rokok, “dia juga salah satu korban hilang saat tsunami Aceh, Mi.”

“Eh, maaf, maaf, Gam,” Laksmi merayapkan telapak tangannya di punggungku. Hangat, seperti cahaya pagi.

“Nggak apa, Mi. Santai saja,” jawabku. Lalu, kupandangi wajahnya yang digurat rasa bersalah. Kulemparkan senyumku, agar ia teryakini bahwa aku baik-baik saja. Ia balik tersenyum.

“Oh, iya. Ngomong-ngomong, kamu kelihatannya punya bakat lho, Gam.”

“Main harmonika?”

“Bukan. Jadi batu, maksudku.”

Kami tertawa panjang. Namun setelah itu, kami seolah dijeda hening yang luas dan lapang. Tak lama, Bung Atma terlihat dengan kedua tangannya yang kesulitan membawa tikar, termos, dan beberapa barang yang entah.

“Sembelekete, bantuin aku dong,” kata Bung Atma.

Aku segera membantunya meletakkan dan menyusun barang bawannya: tikar, termos, kopi instan, gelas plastik, dan kotak bekal. Setelah segala benda tersusun sempurna, Laksmi langsung berinisiatif menyeduh kopi untuk kami nikmati.

“Maaf telat, ya. Hari ini ulang tahun istriku, jadi aku ke dapur umum dulu, buatkan pizza untuk kalian.”

Mendengar kata pizza, aku segera merampas kotak bekal—yang kuyakini sebagai tempat persembunyian pizza—dari tangan Bung Atma. Ketika kotak bekal terbuka, aku yang terlanjur antusias, merasa kecewa. Ternyata, pizza yang dimaksud Bung Atma adalah mi rebus yang digoreng bersama adukan telur.

“Pizza ala relawan, Gam!” celetuk Bung Atma, melihat sorot mataku yang berusaha menunjukkan kekecewaan padanya.

“Oh ...”

“Ah, oh, ah, oh! Nggak ada bersyukurnya, nih, si Sembelekete.”

Karena terlanjur bernafsu, aku segera memasukkan ‘pizza’ ke dalam mulutku.

“Gimana, Gam?” tanya Bung Atma. Dari raut wajahnya, aku tahu ia berharap mendapatkan pujian.

Dengan susah payah, aku mencoba mengunyah dan menelan ‘pizza’. “Bahaya, Bung!”

“Eh, bahaya kenapa, Gam?” tanya Laksmi, heran.

“Asin!” jawabku.

“Memang kalau asin bisa bikin kamu mati, Sembelekete!”

“Ya, nggak, sih,” aku menelan ‘pizza’, “tapi ini kan hari ulang tahun istrimu, Bung. Katanya, kalau masakan asin, tandanya yang masak ingin menikah. Ya, sama saja menyampaikan kabar buruk di hari bahagia istrimu, dong!”

“Lho, santai saja. Kan istriku nggak nyoba ini, Gam,” jawab Bung Atma, enteng.

“Istri ditinggal di rumah ndak protes, Bung?” tanya Laksmi yang tidak tahu cerita tentang istri Bung Atma.

“Terbalik, Mi. Justru aku yang ditinggal istriku di rumah,” jawab Bung Atma, enteng.

“Memang istri ke mana?”

“Tuh, ke sana—Bung Atma menunjuk langit—bareng Keumala. Eh, si Sembelekete sudah cerita soal Keumala?”

“Sudah, Bung,” jawab Laksmi, lirih, merasa bersalah.

“Mi, kamu lihat bintang yang di sana. Yang di sebelah kanan dan memisahkan diri dari kumpulan yang lain, itu istriku, Annelies. Lihat, Mi. Bahkan, di sana, dia sudah menyiapkan tempat untukku. Sekarang, apa yang lebih indah daripada menunggu kematian sambil mengerjakan hal-hal baik?”

Selanjutnya, Bung Atma melanjutkan malam kami dengan leluconnya soal Marilyn Monroe, John Lennon, Osama bin Laden, bahkan ditambah beberapa nama yang terdengar asing; nama teman-teman sekolahnya.