Episode 12 - Bagian Kedua (3)

Cuplis Monyong belum menutup warnet meskipun tak ada lagi satu pun pengunjung. Ganesha, pengujung terakhir, sudah pulang dua jam lalu, sekitar pukul delapan malam. Cuplis Monyong masih cemas menanti kehadiran Juminten. Tanpa perempuan itu, harinya terasa kurang lengkap.

Di tempat lain, di dekat tanggul kali, sekelompok pemuda merasa kehilangan teman mereka, Cuplis Monyong. Bukan apa-apa, absennya lelaki monyong itu artinya tak ada Inti Sari buat mabuk. Hampir setiap momen mabuk memang selalu disponsori Cuplis Monyong. Untuk urusan mabuk, ia paling royal. Toh, ia tak tahu gajinya di warnet bakal dihabiskan untuk apa. Mengirim ke orangtua? Ia tak tahu mereka di mana. Pacaran? Tikus betina pun tak tega melirik wajahnya. Alhasil, menjadi sponsor utama mabuk-mabukan adalah pilihan tepat, sebagai bagian dari personal social responsibility-nya.

Di lain sisi, teman-teman Cuplis Monyong menghabiskan uang mereka untuk pacaran. Setiap mabuk, mereka tak mau sepeser pun bantingan uang, seperti yang juga terjadi hari ini. Sebenarnya, Cuplis Monyong tahu soal itu, tetapi ia tak ambil peduli. Toh, kata cinta cuma ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia tetapi kata asing di kamus hidupnya. Namun, hidup memang rupanya penuh kejutan.

Cuplis Monyong hendak mengunci pintu warnet, ketika kaca pintu memantulkan bayangan Juminten di kejauhan. Terserang panik, ia membuka kausnya dan menggunakannya untuk mengelap pintu.

“Sudah tutup, ya, Bang?” Raut wajah Juminten kecewa.

“Be-be-belum kok, Mbak.”

“Oh, kirain,” jawab Juminten, “nggak sayang, tuh, bajunya dipakai jadi lap?”

Cuplis Monyong hanya menggeleng macam kesurupan.

Juminten masuk, duduk di kursi komputer nomor delapan yang berada di pojok kiri belakang. Tetapi, komputer tak bisa dinyalakan.

“Baaaaaaang, kok, matiiii?”

Lupa kalau seluruh komputer sudah dimatikan, Cuplis Monyong dengan cekatan ke dalam dan menyalakan seluruh komputernya. Lincahnya minta ampun. Dua kali lipat daripada ketika disuruh bosnya. “Ma-ma-maaf, Mbak. Tadi lagi dimatiin bentar biar adem,” kata Cuplis Monyong, yang berdiri tegang di hadapan Juminten

“Bang, di atas jam sepuluh bener gratis selama sebulan, kan?”

“Be-be-bener, kok.”

“Asyiiik. Saya datang tiap hari, deh, kalau gitu.”

Seluruh kembang di Jakarta Utara serasa mekar di dada Cuplis Monyong. Ia membayangkan akan berduaan dengan Juminten sebulan penuh. Baru beberapa menit bahagia, Cuplis Monyong tersadar soal biaya warnet yang mesti ia bayar. Lalu, kepalanya mulai mengkalkulasi ongkos cintanya. Mahal, tetapi layak.

**

Matahari belum sempurna muncul, tetapi pintu rumah Rozak dan Ganesha sudah mendapatkan gedoran keras. Terbangun, keduanya keluar dan berpas-pasan di depan pintu. Ketika pintu dibuka Ganesha, mereka mendapati Cuplis Monyong.

“Bang, ajarin gua puisi ...”

Brak! Hampir saja pintu yang dibanting Ganesha hampir menghantam wajah Cuplis Monyong.

 Ganesha mengatakan kepada Rozak bahwa sebaiknya mereka kembali melanjutkan tidur. Tetapi, gedoran di pintunya semakin menjadi-jadi. Akhirnya, terpaksa Ganesha dan Rozak mempersilakan tamu pagi butanya masuk.

Cuplis Monyong menceritakan detail alasannya belajar puisi. Sesekali, matanya menerawang. Mendengar itu, Rozak yang tak sabaran menyela curhatan Cuplis Monyong. “Jadi lu belajar puisi cuma buat dapat cewek, Plis?!” bentak Rozak.

“Lah, memang buat apa lagi, Bang?” tanya Cuplis, polos, “kalau buat cari duit kayak abang berdua, ummm, maap-maap, nih. Gua orangnya dari kecil kagak tahan laper, Bang.”

“Setan lu, Plis!” bentak Rozak.

Berbeda dari Rozak, Ganesha tampak sedikit lebih tenang. Paling tidak, pikirnya, keinginan Cuplis Monyong belajar puisi adalah hal positif, kabar baik bagi dunia perpuisian Indonesia, meskipun motivasi mesti dibenahi.

“Oke, Plis,” kata Ganesha, “gua mau ajarin lu. Tapi ada syaratnya ...”

“Apa, Bang?”

Rozak membakar rokoknya, santai. Belum sempat Ganesha melanjutkan ucapannya, Rozak menyela. “Syaratnya, lu mesti rajin lari pagi dulu.”

“Apa nyambungnya, Bang?!”

“Ya nyambung, lah. Lu nggak tahu apa-apa soal puisi! Kalau mau nulis puisi, badan lu mesti sehat. Karena kalau lu sakit dan mati, lu nggak bakal bisa nulis puisi! Ngerti, lu?”

“Abang kagak berhenti ngerokok?”

“Setan lu, Plis!”

Ganesha yang mulai simpati pada Cuplis Monyong buka suara, “Plis, sebelumnya gua kasih tahu ke lu, ya. Puisi itu bukan untuk bikin luluh perempuan. Kalau cuma kalimat-kalimat puitis atau romantis, semua orang juga bisa.” Ganesha mencoba bijak.

“Nenek gua yang nggak bisa baca tulis juga bisa, Bang?”

“Setan lu, Plis!” Emosi Ganesha berubah seketika.

**

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Cuplis Monyong jadi bagian dari keseharian dua penyair. Semangatnya patut diacungi jempol. Setiap hari, tangannya tak lepas dari buku-buku puisi yang dipinjami Ganesha. Melihat kegigihan Cuplis Monyong, Ganesha pun terpecut untuk terus merangkai paragraf demi paragraf novelnya. Sementara Rozak, rutinitas paginya dihabiskan dengan satu target: mengalahkan kecepatan berlari Cuplis Monyong. Berkat itu, berat badannya turun cukup banyak. Sedangkan apes bagi Cuplis Monyong, tubuhnya jadi tinggal tulang-belulang.

Beberapa kali Cuplis Monyong juga mengambil cuti dan ikut membaca puisi bersama kedua gurunya. Meskipun puisinya belum layak dikatakan bagus, namun setiap ia membaca puisi, orang-orang tak segan memberikan uang. Alasannya? Jelas bukan puisi, melainkan karena wajah dan tubuhnya yang bikin iba.

Perkembangan pendekatan Cuplis Monyong dan Juminten pun cukup menggembirakan. Tak ada lagi rasa gugup dan gagap. Cuplis Monyong semakin percaya diri, dan hampir setiap Juminten datang, ia selalu memutar video WS Rendra membaca puisi di Youtube. Kadang, ia juga ikut membacakannya cukup keras, belagak jadi ‘Burung Merak’ dari Jalan Haji Rohmat.

Suatu malam, Cuplis Monyong memberanikan diri mengajak kencan Juminten. Dengan percaya diri, ia berdiri di hadapan Juminten. Penampilannya dimiripkan Chairil Anwar dalam fotonya yang banyak dijadikan poster dan kaus di emperan Blok M. Rambutnya disisir belah pinggir ke atas. Memakai kemeja putih, dengan jari telunjuk dan tengah mengapit rokok—ia tak membakar rokoknya sebab di dalam warnet Sukamsikin ada larangan merokok. Rokok itu cuma bekal gayanya belaka.

“Juminten,” Cuplis Monyong menarik napas, mencoba mendalami penghayatannya, “laron pada mati. Terbakar di sumbu lampu. Aku juga menemu, ajal di cerlang matamu.”

Muka Juminten merah mendengar potongan puisi Chairil Anwar tersebut.

“Duhai Puan Bermata Cerlang, sudikah kau berbagi waktu untuk menyantap hidangan ketoprak bersamaku?”

Juminten mengangguk.

Di tempat ketoprak, Cuplis Monyong menembak Juminten dengan kalimat puitis, dan dijawab ‘iya’ oleh pujaan hatinya. Tukang ketoprak mual.

Semakin mendalami puisi, Cuplis Monyong semakin punya kesadaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Pernah suatu kali, saat datang ke tongkrongan mabuknya, ia berbicara dengan formal dan sesuai EYD. Namun, ia malah dicemooh oleh teman-temannya. Dengan sabar ia mengatakan bahwa ia tengah memperbaiki bahasa Indonesianya. Tetapi, respon temannya lain.

“Plis, lu orang Indonesia, ngapain belajar bahasa Indonesia? Lu udah sinting, ya?!”

Cuplis menjawab tenang. Ia menjelaskan bahwa bahasa Indonesia tak semudah yang orang pikirkan. Bahasa Indonesia punya kosa kata kaya, dan masih terlalu banyak orang Indonesia yang salah kaprah soal imbuhan atau kata yang sesuai EYD. Namun, penjelasan Cuplis Monyong yang dianggap bertele-tele dan menggurui malah membuat teman-temannya jengkel.

“Otak lu yang sinting merubah lu jadi ngeselin, Plis!”

“Mengubah, sahabatku, bukan merubah. Dari kata dasar ubah, bukan rubah. Kalau rubah itu hewan, sahabatku.”

“Nenek lu hewan!”

Cuplis Monyong kena bogem temannya.

Lain waktu, peristiwa apes akibat tingkahnya itu juga dialami Cuplis Monyong. Pagi itu, ia dan Rozak tengah menikmati teh manis hangat di warung Mak Jamilah usai lari pagi.

“Gimana, Anak Setan, progres pendekatan lu sama Juminten?”

Cuplis Monyong hanya membeku. Belum sempat Rozak bertanya ‘kenapa’, Cuplis Monyong berkata, “Abang selalu bicara dengan bahasa yang Indonesia yang baik dan benar saat bicara kepada Bang Ganesha. Lalu, kenapa dengan Adik Cuplis Abang melakukan hal sebaliknya? Ingin rasanya Adik Cuplis bicara aku-kamu dengan Bang Ro__”

Teh manis Rozak muncrat ke mukanya.

**

Selalu ada malam yang tiba-tiba ganjil, seperti malam ini. Ganesha mengalami kebuntuan berjam-jam di warnet, Cuplis kena gampar karena ketahuan tengah mabuk oleh Juminten, lima penyanyi orkes milik Ratu Badak tiba-tiba demam panggung, dan seorang penjudi dapat hidayah. Di sebuah rumah, seekor kucing bersedih sebab menyadari dirinya telah jatuh cinta kepada seekor tikus yang baru saja ditelannya. Di rumah yang lain, Rozak Triyansah tak sengaja membaca surat Raslene.

Ganseha pulang ke rumah dengan perasaan jengkel, ketika didapatinya wajah dingin Rozak di teras.

“Kenapa kamu bohongin aku, Nesh?” pertanyaan Rozak menuding ke wajah Ganesha. Tak paham, Ganesha menjawab, “Maksudnya?”

“Nih!” Rozak melempar surat dari Raslene, Ganesha memungutnya.

“Nesh! Tahu kamu apa yang bikin aku bahagia setengah mati waktu kamu bilang mau menulis novel?!”

Ganesha bergeming.

“Karena aku merasa kamu punya bakat. Dan dengan fokus menulis, kamu nggak membuang waktu dan melakukan hal nggak berguna untuk mencari Raslene.” Rozak menarik napas. “Tapi kenyataannya apa, hah?! Lagi-lagi kamu membuang waktu dan melakukan hal nggak berguna!”

Tersulut oleh ucapan Rozak, Ganesha membalas, “Jadi, maksudmu ... apa yang kamu bilang sebagai bakat itu hanya membuang waktu dan hal nggak berguna?”

“Bung,” suara Rozak menurun, “jangan putar balikkan omonganku.”

“Zak, kamu nggak punya hak untuk melarangku mencari Raslene! Dan perkara alasan menulis novel itu adalah Raslene, kamu juga nggak punya hak untuk ikut campur!”

“Nesh! Berulang kali aku bilang, kamu harus bisa bedakan orang yang hilang dan minggat. Jangan jadi dungu karena cinta!”

“Kamu menganggap begitu karena menyamakan Raslene dengan Miranti, kan?!” suara Ganesha meninggi, “kuberitahu, Zak. Raslene berbeda dengan Miranti. Dan satu lagi, nggak mungkin kamu bisa membuat Miranti betah berkomitmen. Nggak ada cinta dalam kamus seorang pelac__!”

Tinju Rozak yang mendarat di wajah Ganesha membuat lelaki itu tersungkur. Rozak jongkok dan mendekatkan bibirnya ke telinga Ganesha. “Anjing,” bisik Rozak, “aku harap pukulan itu bisa mengembalikan ingatanmu yang hilang.”

Rozak masuk kamar. Ia mengemasi beberapa pakaiannya. Kemudian, ia pergi membanting pintu rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Ganesha yang terduduk beku di teras.