Episode 6 - Angin Monsun Barat


Sepekan berlalu sejak perbincangan dengan Bunda Mayang pada malam itu. Hari-hari Bintang berlalu seperti biasa, dengan rutinitas yang biasa pula. Namun, kini ia lebih rajin menemani kakek Kepala Dusun menatap laut. Kebiasaan kakek Kepala Dusun menjadi kesempatan Bintang menggali berbagai hal terkait kesaktian serta tentang manusia dan siluman. Kakek Kepala Dusun tidak keberatan menjawab, ia malah senang dapat memuaskan dahaga akan pengetahuan anak laki-laki yang ikut berdiri di sampingnya. Tidak semua pertanyaannya dapat dijawab, namun Bintang cukup puas dengan berbagai informasi baru dari Lembata Keraf.  

Terkait ibunya, meski tak memperkarakan melalui pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut, benaknya terus berputar-putar terkait tiga hal penting.

Pertama adalah ayah. Wajah ayah hanya samar-samar berbekas dalam ingatan. Mungkin nanti dengan berselangnya waktu, dan bila tak kunjung pulang, aku akan lupa wajah ayah, pikirnya.

Namun yang lebih penting lagi, siapa jati diri sesungguhnya ayah? Dari mana asalnya? Selama ini ia sengaja tak mengungkit perihal ayah karena khawatir Bunda akan bersedih. Tapi bunda yakin betul ayah masih hidup. Bangaimana pula ayah bisa lenyap di tengah lautan?

Kedua, perihal kesaktian. Alasan ibu tidak membekali pengetahuan tentang kesaktian kemungkinan karena tidak menginginkan anaknya menghadapi mara bahaya. Tapi, bukankah lebih berbahaya lagi bila suatu hari nanti berhadapan dengan seorang ahli, tanpa menyadari orang tersebut adalah seorang ahli?

Ketiga, bunda dengan jelas mengatakan bahwa tempuling di belakang rumah adalah miliknya. Ada lima bilah tempuling. Dan semuanya menunjukkan tanda-tanda dulu rutin digunakan.

Menurut pemuda ahli dari Perguruan Gunung Agung, lamafa terakhir yang ia ketahui mengunjungi Pulau Dewa adalah 300 tahun lalu. Apakah pemilik asli tempuling tersebut adalah kakek? Ayahnya kakek? Kakeknya kakek? Bukan tak mungkin tempuling-tempuling tersebut diwariskan kepada ibu.

Nah yang paling pelik lagi, ketiga hal tersebut sambung-menyambung. Kesimpulan yang ia rumuskan tak berani ia utarakan, bahkan sebisa mungkin jangan dipikirkan lebih lanjut.

"Hei! Apa yang kau lamunkan?!" teriak Lamalera sambil menyipratkan air laut ke wajah Bintang, menariknya kembali dari dunia khayal.

"Kau melamun di tengah bahaya. Kau tahu bahayanya apa?! Aku melepas sauh peledang ayahku ini dan membawa kita ke tengah lautan agar kita bisa menikam ikan. Kalau sampai ketahuan ayahku, bisa-bisa aku diikat di pohon kayu putih semalaman."

Bintang tersontak sadar sambil menatap wajah bundar Lamalera. Mata Lamalera besar dan jernih, diikuti oleh hidung dan bibir yang serasi. Anak perempuan galak ini, suatu hari nanti pasti menjadi gadis yang cantik pikirnya.

"Hei! Apa yang kau lihat!? Kau dengar tidak kata-kataku!? Kau mau aku mati?! Ha?!"

Kalau saja anak perempuan ini tidak seberingas anjing gila, pasti mudah baginya nanti mendapatkan suami.

"Sudahlah, ayo kita bergantian. Biar aku saja yang menikam. Kau tak berguna! Kau pegang dayungnya!" teriak Lamalera sambil berdiri, yang menyebabkan peledang sedikit terombang.

Saat Lamalera berdiri di haluan peledang, angin lembab tiba-tiba bertiup dari barat. Naluri Bintang tergelitik. Gerakan dan kelembapan angin ini lebih berbahaya dibandingkan bila Lamalera diikat semalaman di pohon kayu putih. Bahkan, lebih berbahaya lagi dibandingkan bila Lamalera diikat semalaman di pohon kayu putih, kemudian paginya mengejar Bintang keliling pulau menghunuskan tempuling untuk ditikamkan...

“Ayo kita bergegas pulang,” seru Bintang sambil mendayung peledang. Lamalera tidak berkomentar, lalu sigap turut mendayung.

Bagi yang menetap di wilayah tenggara, atau wilayah pesisir lain di Negeri Dua Samudera, fenomena alam seperti ini menjadi petanda. Saat ini, saat jelang akhir tahun, posisi matahari tidak persis berada di atas kepala, tapi sedikit menyerong. Jadi, bila kita perhatikan posisi Negeri Dua Samudera yang berada di garis Khatulistiwa, maka posisi tegak matahari berada di wilayah selatan. Menurut cerita leluhur, posisi matahari kini berada di atas Benua Bawah, sebuah benua misterius yang jauh terletak di selatan Pulau Mutiara Timur.

Demikian, suhu sisi selatan Khatulistiwa cenderung memanas karena Benua Bawah yang memperoleh sinar matahari berlebih sedang mengalami musim panas. Sebaliknya, iklim di sisi utara jauh Negeri Dua Samudera, atau di Benua Atas, sedang mengalami musim dingin. Dengan kondisi ini, tekanan udara di selatan lebih rendah, sedangkan tekanan udara di daerah utara Negeri Dua Samudera lebih tinggi karena iklim di sana yang sedang dingin.

Menurut pemahaman yang ada, angin akan bertiup dari daerah bertekanan udara tinggi ke daerah bertekanan udara rendah. Walhasil, angin akan bertiup dari Benua Atas di utara menuju Benua Bawah di selatan, melewati Negeri Dua Samudera. Namun, arah bertiupnya angin tidaklah menempuh jalur lurus. Ia menyapu dari sisi barat daya menuju tenggara Negeri Dua Samudera. Fenomena alam inilah yang dikenal dengan Angin Monsun Barat.

Ada banyak manfaat yang diberikan oleh Angin Monsun Barat. Kelembapan yang dibawa dari utara mendatangkan musim penghujan. Saat itu terjadi, maka tanaman akan memperoleh curah air yang lebih tinggi, sehingga akan tumbuh lebih subur dan juga lebih hijau. Udara pun menjadi lebih bersih karena debu dan asap yang beterbangan ikut larut dan hanyut dibawa air hujan.

Namun demikian, Angin Monsun Barat juga memiliki kekurangan. Di wilayah-wilayah tertentu, akibat pergeseran dengan berbeagai pulau besar dan kecil di Negeri Dua Samudera, angin akan membentuk pusaran. Wilayah tenggara merupakan salah satu titik tempat pusaran tersebut sering bermunculan.


***


Petang itu juga Dusun Peledang Paus dilanda puting beliung. Laut bergejolak dan ombak menampar batu karang di pesisir pantai. Sebagian besar peledang sebelumnya sudah dipindahkan ke daratan pesisir pantai. Beberapa Peledang yang masih ditambat di sisi pantai beradu satu sama lain, saling menghantam dan menimbulkan suara gaduh.

Di daratan, pohon ketapang yang terkenal rimbun dengan dedahan ramping menyebar dan dihiasi dedaunan kecil, ditiup angin sampai terlihat mirip pohon cemara. Pohon asam dan pohon kosambi yang rimbun dan biasa menjadi tempat anak-anak bermain dan orang dewasa berteduh, menari-nari terkadang seperti ingin melompat dari tanah, untuk melanjutkan tarian menuju langit.

Meski demikian, dilihat dari kekuatan tiupan angin, puting beliung kali ini sesungguhnya tidaklah bisa dibilang besar, dan tidak pula disertai hujan deras. Angin Monsun Barat seolah baru menyapa pulau-pulau, mengatakan bahwa ia akan datang. Belum sepenuhnya bertandang.

Di tengah puting beliung, sang Kepala Dusun, dengan kesaktian seadanya, merelakan diri mengemban tugas ronda demi memastikan seluruh penduduk dusun dan gubuk mereka dalam keadaan aman. Ia mengunjungi gubuk satu per satu secara berkala, lalu bersiaga di gubuknya sendiri, yang kebetulan terletak paling dekat dengan pesisir pantai.

Dalam perjalanan kembali ke gubuk, sayup-sayup Kepala Dusun mendengar teriakan, “Baleo, baleo...” Secara naluriah ia langsung menengadah ke arah pantai, lalu ke laut. Baleo merupakan panggilan kepada penduduk setempat bahwa kini saatnya berburu paus. Terakhir ia mendengar teriakan baleo adalah 10 tahun lalu, walau rasanya sudah berabad-abad lalu.

Tubuhnya bergemetar. Matanya terbelalak. Rahangnya terbata-bata. “Ba... baleo...” Lalu, dengan segala daya upaya ia mengumpulkan tenaga di dadanya untuk ikut berteriak.

“BALEO! BALEO! BALEO!”

Seketika itu juga dusun yang tadinya hanya ditemani suara angin dan gubuk renta, menjadi terdengar ramai. Hampir dari setiap gubuk keluar lelaki dewasa, diikuti anggota keluarga mereka. Angin masih berhembus cukup kencang, tapi tidak terlalu kencang untuk menghalangi langkah mereka menuju pesisir pantai.

Teriakan baleo yang awalnya berasal dari dusun tetangga, kini berkumandang di empat dusun terdekat. Dahulu, di masa lamafa masih berjaya, seorang saja cukup untuk menaklukkan paus. Namun kini, para lamafa dari empat dusun harus berbondong-bondong mengeroyok seekor paus. Jumlah mereka bisa mencapai 30 orang.

Teriakan baleo terus berkumandang. Bintang juga mendengar teriakan dari balik gubuknya. “Bunda, sepertinya ada paus. Aku hendak ke pantai dan memastikan.”

“Pergilah,” jawab Bunda Mayang tenang. “Meski angin tak terlalu deras, tetaplah berhati-hati. Bunda akan menyusul.”

Bintang melangkahkan kakinya dengan cepat, lalu berlari menuju pesisir pantai. Dalam hati ia berbisik, mungkinkah Angin Monsun Barat kali ini membawa berkah?