Episode 31 - Pertarungan Antar Ketua



Medan perang ada di depan sana, dan entah mengapa kaki-kaki Ruhai agak gemetar. Garis pertahanan asrama siang punya Vida yang tak terkalahkan, juga lucid dreamer-lucid dreamer hebat yang harusnya sanggup melindungi menara. Namun, mengapa di saat-saat segenting ini mereka justru dipukul mundur?

“Tidak! Seharusnya ini tidak terjadi,” gerundelnya. “Pasti ada alasan lain.”

Waktu kian menipis, sementara Arya masih berkutat dengan pedang dan kisah membosankan. Garuda tumbang oleh cairan hitam memuakkan, sehingga pertandingan kali ini tidak lebih dari pertaruhan antara tim penyerang dengan tim bertahan.

Seandainya Ruhai berhasil menyelematkan markas dari serbuan musuh, maka keadaan akan berbalik aman. Pun demikian, jika Arya sukses melawan Si orang misterius dan meruntuhkan pilarnya, maka asrama siang dipastikan menang. Akan tetapi, apabila yang terjadi justru sebaliknya, barangkali takkan ada apa pun untuk dirayakan.

“Kami akan menang!” Ruhai memacu langkah, secepat kilat menerobos pohon-pohon rendah hingga akhirnya sampai di markas. “APA?!” Dia termangu.

Tepat di depan sana—di sekeliling pilar putih asrama siang—Vida, Taki, De Santos, dan yang lain terkapar lemas. Mereka tak berdaya, jatuh di bawah agresi pihak musuh. 

Dalam belenggu syok, Ruhai melihat ke sana-kemari, coba menemukan Sang pelaku. Sayangnya, yang ia temukan hanyalah seorang pemuda berparas dingin tengah duduk santai di sisi pilar.

“Di mana komplotanmu?” Ruhai mencalang.

“Kau pikir aku melakukannya bersama-sama?” Pemuda itu menengadah, lengkap dengan seringai bengis. “Kalau begitu, kau pasti salah.”

“Jangan bohong! Tiada satu pun lucid dreamer yang sanggup melakukan ini seorang diri,” tandas Ruhai.

“Ada.” Ia akhirnya berdiri seraya menghadap Ruhai. “Akulah orangnya.”

“KEPARAT!” Berniat melempar Bahutai, nyatanya Ruhai malah tersungkur. Mandaunya jatuh bergedebuk, serta-merta membawa kekecewaan.

“Tahan dulu, Rambut putih. Aku tahu kau salah satu anak didik duta Pandora. Yang kedelapan, bukan? Kudengar jabatannya tidak legal. Oh, sebelumnya izinkan aku memperkenalkan diri.” Si pemuda bertutur angkuh, sesekali mengusap rambut hitam selehernya. “Namaku Samael, ketua asrama sore. Selain itu, aku adalah anak didik duta Pandora kelima, Crow.”

Terlalu buruk untuk dibayangkan, kondisi yang terjadi membuat Ruhai tak habis pikir menyangkut solusinya. Samael adalah murid Crow si topeng gagak sekaligus ketua asrama sore. Tidak salah lagi, dia orang yang tangguh. Kendati demikian, reputasi Ruhai sebagai ketua asrama siang takkan direlakannya lesap begitu saja.

“Kekuatan macam apa yang kau miliki, Samael?” Terkapar, ia coba menjalin perbincangan lebih jauh.

“Kekuatan biasa saja. Jujur, aku bahkan belum mengerahkan yang terbaik.” Pemuda berkantung mata itu terkekeh. “Lalu, kekuatan macam apa yang ada di pedangmu ini?” Dia memungut Bahutai.

“Tidak ada yang spesial. Itu pedang biasa.”

“Benarkah? Kalau begitu, kau pasti lucid dreamer lemah.”

“Membantai teman-temanku sedemikian mudahnya, harus kuakui kau berbakat.”

“Aku tidak butuh bakat untuk melakukannya. Ini terlalu mudah.”

“Kau cukup sombong untuk ukuran bocah lugu, Samael.” Ruhai tersenyum geli.

“Teruslah bicara, Orang lemah! Aku ini tak terkalahkan.”

“Kau salah. BAHUTAI, BANTU AKU!”

Kesalahan besar terjadi manakala Samael tertarik memikul Bahutai. Dia sama sekali tidak tahu kalau yang coba dicurinya adalah mandau paling berbahaya seantero Pandora. Alhasil, benda itu menjelma menjadi serigala putih, lalu secepat kilat menindih Samael dengan keempat kakinya.

Ruhai buru-buru bangkit. Di luar dugaan, rupanya bertekuk lutut tadi hanyalah akting. Lucidity Ruhai kelewat besar untuk dilumpuhkan oleh serangan sereceh milik Samael. Nyatanya, walau sempat adu argumen, ia akhirnya tetap mendominasi.

Bahutai meraung-raung seiring kedatangan tuannya. Sementara, Samael tampak pasrah digencet oleh makhluk berliur lengket itu. Dia cuma menatap lekat-lekat Sang monster, seolah bisa meledakkannya dalam sekejap.

“Awalnya aku sempat khawatir akan kemampuanmu. Baru kali ini ada yang sanggup melumpuhkanku secepat itu.”

“Ternyata kau memang berbeda. Selama ini, aku diberitahu kalau kekuatan duta Pandora diukur berdasarkan rangking. Namun, agaknya itu kesalahan besar.”

“Seharusnya kau tahu. Kita bukan duta Pandora, dan duta Pandora bukanlah kita. Jelas sekali ada isyarat perbedaan di sana. Misalnya, Crow yang menduduki peringkat lima, tentu tidak memengaruhimu untuk berada di peringkat yang sama dengannya. Dengan kata lain, kekuatan seseorang diukur berdasarkan sikap ambisius.”

Terlalu asyik berceramah, Ruhai baru sadar guardiannya terkulai lemas di tanah, bertepatan dengan rintih malang. Sebaliknya, Samael berhasil beranjak dari posisi dan menatap Sang lawan penuh keberanian.

“Akan kuhancurkan kau.”

“Majulah!”

Pertarungan dimulai. Beradu dengan tangan kosong, keduanya sama-sama mengerahkan kemampuan terbaik. Ruhai coba menoyor Samael, nyaris kena, tetapi lawannya segera menunduk, serta-merta menyepak kaki lelaki berbadan atletis itu.

“Takkan kubiarkan!”

Ruhai sukses melompat, sejurus meluncurnya tinjuan Samael. Kejadiannya begitu cepat, tetapi tinju itu terbukti gagal mengenai lawan. Memanfaatkan momentum, Ruhai segera melibas musuhnya hingga terhuyung. Belum cukup, ia maju, melayangkan sejumlah tendangan kencang yang masih berusaha ditepis Samael satu per satu.

BUGH!

Perut Samael menjadi target empuk. Bahkan, pemuda pongah itu mulai kehilangan keseimbangan. Satu-dua kali terjangan Ruhai membuatnya terseret, dan semakin buruk manakala satu tinju keras menjotos rahangnya kuat-kuat. Samael tersungkur, terengah-engah, sudah jelas tak mampu balas melawan. Maka dari itu, Ruhai memutuskan rehat sejenak.

“Ada apa? Kau sudah menyerah?”

“Kemampuan bertarung jarak dekatmu sangat bagus. Tapi, ada satu hal yang tidak bisa kau banggakan, Orang lemah.” Kepala Samael tetap menunduk, barangkali tengah menghimpun tenaga untuk ronde kedua. 

“Orang le—“

“KENA KAU!” Samael tiba-tiba mendelik. Matanya dilumat gelap, meninggalkan titik kecil bercorak merah sebagai lensa. Sejurus hal tersebut, seluruh sendi-sendi Ruhai tak kuasa bergerak. Dalam sekejap, ia tumbang di hadapan Sang lawan.

“Ja-jadi, selama ini kau punya skill semacam itu.” Ruhai bersikeras bangkit, tetapi akhirnya rubuh juga. 

“Bersujudlah di hadapanku! Berani-beraninya kau menantang pemilik Gloom Eyes. Tapi, kini tidak ada celah lagi untuk berkelit.”

“K-kau yakin?” Bukan hanya melunglai, tetapi Ruhai pun musti menahan nyeri yang menjalari pergelangan kakinya. “Ja-jangan remehkan aku!”

“Cukup basa-basinya. Akan kuhancurkan pilar ini secepat mungkin.” Samael berbalik, siap meremukkan pilar putih setinggi dua puluh meter. “Raven’s Feather!” Ia berseru, bersambut jatuhnya sehelai bulu gagak, melayang-layang dan mendarat tepat di telapak tangan.

“Tu-tunggu dulu!” pekik Ruhai. “Aku yakin matamu punya kelemahan. Kau tidak bisa membuatku begini selamanya.”

“Aku pun tidak berniat demikian. Mataku memang tidak sempurna, tetapi cukup kuat untuk menahanmu sampai pilar konyol ini ambruk.” Samael melempar bulu gagak ke atas seraya menyiapkan ancang-ancang. “Transform!”  

Ruhai jelas tahu di mana letak kedahsyatannya, kendatipun itu cuma kipas. Ya, ia lihat bulu gagak itu berubah menjadi kipas tangan kecil. Sangat cocok di genggaman pemuda bangsai itu. 

Samael menyiapkan ancang-ancang, dan secara kebetulan bulu itu menjadi kipas. Jadi, tentulah akan ada angin yang luar biasa kencangnya pada pertandingan kali ini.

“Atributmu yang lain tidak terlalu spesial, menurutku.”

“Aku memang merancangnya begitu.” Ancang-ancang Samael sempat terhenti. “Untuk mengelabuhi orang dungu sepertimu. ENYAHLAH!” Satu ayunan bertenaga, maka merebaklah angin hitam pekat. Berputar hebat—menjelma bagai tornado mematikan—beringsut menerpa kokohnya pilar putih. Tidak sampai dua detik, modal kemenangan asrama siang sudah berderak.

Badan Ruhai gemetar. Ia cemas tidak bisa mewujudkan impian teman-temannya. Ia takut tak kuasa membawa asrama siang ke puncak kemenangan. Ia terlalu gentar hanya untuk menyaksikan detik-detik kekalahan dirinya.

Pilar putih berguncang-guncang, semisal pohon yang dicabut paksa dari tanah. Bedanya, yang berusaha mencabut adalah angin hitam Mahadahsyat. 

Gloom Eyes terbukti ampuh membekuk pergerakan lawan. Meski punya lucidity besar, Ruhai tampak kewalahan mengimbangi rasa sakit yang menimpa fisiknya. Apakah ini saatnya menyerah? Haruskah semangat para penghuni asrama siang pupus?

“TIDAK!” Ruhai berteriak sekuat tenaga. “Majulah, Gergasi Petir!”

Kilat kuning menyeruak dari tubuh Ruhai—menyambar-nyambar—secara perlahan mengawang ke atas. Samael yang terganggu akan kemilaunya, sontak memerhatikan. 

Kala itu, ia tidak terlalu khawatir. Sebab, kemenangan sudah di depan mata. Akan tetapi, tidak genap satu menit, kilat-kilat tersebut menyatu dan menciptakan sesosok makhluk raksasa. Bahkan, saat ia mendarat, tanah sampai bergejolak.

Tingginya lima meter, dilingkupi energi petir ganas. Berbadan bungkuk bukanlah kendala, sebab mata kuning bulatnya sanggup menembakkan laser guntur. Lagi, bilamana mulut bergeriginya terbuka, maka melatislah seberkas sinar biru yang mampu meledak.

“Apa-apaan itu?” geram Samael. “Jangan halangi aku!” Ia mengayunkan kipasnya sekali lagi, serta-merta menimbulkan tornado dahsyat yang mengelilingi Gergasi Petir.

Selama sepersekian detik, Raksasa itu dibuat heran oleh angin yang coba menerbangkan tubuhnya. Namun, tak butuh waktu lama bagi kelima jemari panjang itu untuk menyedot Sang tornado tanpa bekas.

“Kurang ajar! RASAKAN INI!” Samael mengayunkan kipasnya untuk kali ketiga. Lebih kencang, sehingga ada dua tonado yang menghadang Gergasi Petir.

“GROOAAHH!” Sang raksasa meraung. Kesepuluh jarinya menjangkau tornado Samael, kemudian menyerapnya dalam sekejap.

“Ba-bagaimana bisa?” Gigi Samael bergemertak saking jengkelnya. 

Tatkala ia coba melumpuhkan Gergasi Petir dengan Gloom Eyes, muncul fakta bahwa sejatinya makhluk tersebut buta. Sepasang mata bulat hanyalah hiasan guna menipu musuh seperti dirinya.

Terdapat masalah yang lebih krusial saat Samael berpikir bahwa Bahutai adalah guardian palsu. Maksudnya, mana mungkin ada lucid dreamer yang sunggup menciptakan dua tipe guardian, dan mengeluarkan keduanya sekaligus. Atau, jika benar begitu, maka lucidity Ruhai adalah yang terbesar di antara luckd dreamer Pandora.

Gedebuk nyaring mengiringi langkah Gergasi Petir menuju pilar putih. Tentu—sesuai amanah Ruhai—ia berniat menyerap tornado yang ada di sana. Belum menyerah, Samael bersikukuh mengayunkan kipasnya demi menyergap langkah-langkah Gergasi Petir.

Satu, dua, sampai lima tornado sekaligus sukses dikerahkannya. Namun, tetap saja hasilnya nihil. Musuh kali ini seakan kebal terhadap angin mana pun. Hingga, kelima jemari Gergasi Petir melebar. Perlahan-lahan, ia menyerap angin yang coba meruntuhkan pilar putih. 

SWUSH!

Anginnya lenyap, menyisakan setonggak pilar rapuh yang nyaris ambruk. Samael terperangah, diam mematung, tiada sanggup berkata apa pun lagi. Padahal, kemenangan sudah begitu dekat, pikirnya. Lidah Samael sudah bisa merasakan manisnya kemenangan, beserta sanjungan rekan seasramanya. Nahas, kini yang tersisa hanyalah impian kosong.

"SIALAN!"

Pemuda berkulit putih mentereng itu kehabisan akal. Ia dengan gegabah maju menyerang Gergasi Petir. Bukan cuma soal perbedaan ukuran, tapi juga soal tingkat kekuatan mereka yang beda jauh. Gloom Eyes saja sampai tidak berguna dibuatnya.

"MATILAH!" Kepalan tangan Samael berayun.

BRUK!

Baru menyentuh permukaan kulit Gergasi Besi, orang itu sudah terpental jauh. Energi yang kuatnya luar biasa memecut tubuh Samael hingga kehabisan tenaga untuk bangun. Skak mat!

"Menara asrama sore berhasil dirubuhkan!"