Episode 151 - Putra dan Putri Perguruan



Sebuah gerbang dimensi di atas Prasasti Darah berpendar dan membuka perlahan. Kum Kecho yang telah melompat turun dari atas batu, membatin sambil memantau. Tak lama, ia pun bersiap melompat masuk ke dalam! 

Akan tetapi, sebelum Kum Kecho benar-benar melompat, sesosok bayangan tubuh lebih dahulu melompat keluar. Adalah seorang lelaki tua dan renta, berambut serba putih dan bertubuh bungkuk, yang mengemuka. Peringkat keahliannya, tak dapat dicerna... 

“Sembah sujud kepada Yang Mulia Putra Mahkota Elang Wuruk! Sembah hamba mohon diampun....”

“Kakek Arya Wiraraja...” 

Kum Kecho sangat mengenal lelaki tua renta ini. Ia adalah pengikut setia kakek buyut Batara Wijaya. Bahkan, ia turut berperan dalam pembentukan Negeri Dua Samudera di masa lalu. Saat Sang Maha Patih berkuasa saja, ia sudah teramat tua. Meski demikian, berkat kesetiaan dan pengabdian, serta wawasan dan pengalaman, ia tetap diangkat sebagai Jenderal Kesembilan dari Pasukan Bhayangkara. Peran penting yang ia emban adalah sebagai ahli strategi.

Kum Kecho sesungguhnya sudah mendapat petunjuk tentang siapa kemungkinan pendiri Persaudaraan Batara Wijaya. Tak banyak ahli yang dapat menguasai kesaktian unsur waktu, sebagaimana yang dihadirkan oleh segel yang sedang melingkupi seantero wilayah perguruan ini. Dahulu kala, Arya Wiraraja diketahui sebagai ahli yang memiliki pemahaman yang cukup baik terkait aliran waktu. Meski, Kum Kecho memutuskan untuk menunggu daripada menduga-duga.  

“Yang Mulia Putra Mahkota Elang Wuruk, selamat datang....” Lelaki tua renta bernama Arya Wiraraja bangkit dari posisi bersujud. 

Raut wajah Kum Kecho terlihat sedikit pilu. “Kakek Arya Wiraraja, panggil aku dengan sebutan Kum Kecho.... Elang Wuruk telah mati sesaat sebelum tersegel dalam Kepompong Sutra Lestari.”

“Kum Kecho...?”

“Bagaimana Kakek dapat mengenali aku...?” Kum Kecho tentunya masih mengenakan Jubah Hitam Kelam yang berfungsi menyamarkan aura dan penampilan. “Mungkinkah Prasasti Darah ini sesungguhnya bukanlah sebuah sarana untuk menentukan hubungan kekeluargaan dengan Gadjah Mada...?”

Arya Wiraraja hanya mengangguk. Mungkin, ia masih berupaya mencerna perihal nama Kum Kecho. Sangat asing baginya memanggil junjungan yang sedang berdiri di hadapan dengan nama tersebut. 

“Terkubur di bawah Prasasti Darah ini, adalah sisa-sisa kursi singasana Negeri Dua Samudera. Dengan sedikit penyesuaian, prasasti ini berfungsi untuk mengukur tingkat keabsahan darah seseorang atas tahta Negeri Dua Samudera.”

Sesuai perkiraan, batin Kum Kecho. 99% adalah angka yang ia peroleh. 

“Meski, dengan berselangnya waktu, pemahaman terbatas ahli-ahli di dalam perguruan ini ikut bergeser,” tambah Arya Wiraraja. 

“Atas alasan apa Kakek Arya Wiraraja membangun Persaudaraan Batara Wijaya?” Kum Kecho tak hendak berlama-lama dalam berbasa-basi. Ia telah menantikan jawaban atas pertanyaan ini sejak mendengar nama perguruan tersebut di Kota Ahli. 

“Demi menyambut kepulangan Yang Mulia Putera Mahkota... serta mengambil kembali tampuk kekuasaan Negeri Dua Samudera!” Jawaban Arya Wiraraja terdengar sangat mantap. Kedua matanya tajam menatap!

Kum Kecho, sebaliknya, terdiam. Selama menghabiskan waktu di dalam wilayah Partai Iblis, tentu ia telah menyelidiki peta kekuasaan Negeri Dua Samudera saat ini. Kekuasaan tak lagi dipimpin oleh seorang penguasa mutlak. Sebagai jalan tengah, berbagai kerajaan merdeka, suku besar, kota mandiri, dan perguruan tersohor mengirimkan perwakilan yang duduk di ibukota baru. Bersama-sama, mereka membentuk sebuah Dewan Negeri. 

Sebagai lembaga tertinggi, Dewan Negeri menyusun dan merumuskan undang-undang dan peraturan. Mereka juga menetapkan lembaga Abdi Negeri sebagai pelaksana yang menjalankan kebijakan pemerintahan. Lalu, Dewan Negeri juga membentuk Mahkamah Negeri, yang bertugas memastikan agar segala sesuatu berjalan sesuai aturan undang-undang. *

“Kurun waktu penguasa tunggal telah lama lewat,” sahut Kum Kecho. 

“Tidak!” bibir Arya Wiraraja bergetar. Kerut wajahnya berang. “Maafkan kelancangan hamba, wahai Yang Mulia Putra Mahkota....” 

Kum Kecho membatin. 

“Negeri Dua Samudera membutuhkan penguasa tunggal dan mutlak!” 

Kum Kecho tak hendak berdebat dengan orang tua renta nan kolot itu. Terlebih lagi, ia melihat sebuah peluang untuk memperoleh dukungan dalam mencapai tujuan. Harus diakui, bahwa kepiawaian Arya Wirarja sebagai seorang ahli strategi ‘tiga negeri’ sudah terkenal ke seantero Negeri Dua Samudera. Bahkan, jasa Arya Wiraraja pernah dimanfaatkan oleh Sang Maha Patih.

“Anggaplah perguruan ini sebagai kerajaan kecil bagi Yang Mulia Putra Mahkota,” ujar Arya Wiraraja. “Usia hamba tak panjang lagi... Dengan waktu yang ada, kita perlu sesegera mungkin menumbuhkan keahlian Yang Mulia Putra Mahkota.” 

Kum Kecho mengangguk. “Bagaimana dengan para Jenderal Bhayangkara yang lain, dan... Raja Angkara?”

“Hamba tiada mengetahui... Ada kemungkinan mereka tersebar menanti dan mengamati, atau memang telah lama mati,” sahut kakek tua renta itu. 

“Hamba sendiri tak bisa meninggalkan wilayah Persaudaraan Batara Wijaya. Demi memperpanjang nyawa, hamba membuat dimensi ruang dan waktu di balik gerbang dimensi itu.”

Demikian, orang tua itu melambaikan tangan. Segel Waktu yang membungkus Persaudaraan Batara Wijaya memudar perlahan. Waktu kemudian bergerak mundur. Maha Guru Mahesa Jayanegara terlihat kembali melayang tinggi jauh di udara. Kum Kecho mendapati dirinya sedang berhadap-hadapan dengan Karunasankara Jayanagara, tepat sebelum peristiwa penamparan. 

Arya Wiraraja melambai sekali lagi. Takaran di balik Prasasti Darah turun ke ambang 24%, sebelum kembali ke titik nol. 

“Yang Mulia Putra Mahkota... Sementara waktu, rahasiakan jati diri dan tinggallah di perguruan ini untuk memupuk keahlian. Hamba akan melakukan persiapan di dalam dimensi ruang dan waktu. Bilamana waktunya tiba, bersama dengan kebangkitan ‘Sembilan Arya Singa’, kita akan mengambil alih kekuasaan Negeri Dua Samudera!” 

Kum Kecho mengerutkan dahi. Sembilan Arya Singa adalah para pahlawan di masa lampau. Mereka adalah para pengikut setia yang berjuang bersama Batara Wijaya saat mendirikan Negeri Dua Samudera. Sebagai ahli strategi, Arya Wiraraja ini adalah yang membentuk mereka. Bagaimana cara membangkitkan mereka? 

Arya Wiraraja membungkukkan tubuh, lalu kembali melesat masuk ke dalam gerbang dimensi ruang dan waktu. 

Meski sang kakek tua renta berupaya tampil sewajar mungkin, Kum Kecho mencurigai bahwa ia tak sepenuhnya jujur. Apa pun itu, Arya Wiraraja tak dapat menyembunyikan kenyataan bahwa bila berada di luar dimensi ruang dan waktu, berarti sisa usianya semakin cepat berkurang.


“Sepertinya kau tak memberikan banyak pilihan bagiku. Baiklah... lebih mudah bagiku merampas gadis itu daripada menukar gundik dan menerima pengikut tak becus. Dasar bocah tak tahu diuntung!” hardik Karunasankara Jayanagara

Kum Kecho hanya menatap. Waktu benar-benar bergerak mundur. Ini adalah saat dimana ia seharusnya menampar remaja di hadapan. Namun, kini benaknya berkutat seputar Arya Wiraraja. Fanatisme orang tua renta itu tak kunjung sembuh, batin Kum Kecho. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa dengan dukungan seorang ahli sekelas Jenderal Bhayangkara, maka banyak hal yang dapat diwujudkan. 

“Mari kita bahas hal ini setelah diterima masuk ke dalam perguruan...” Kum Kecho berujar ringan. 

“Hm...? Bagus... bagus...,” timpal Karunasankara Jayanagara sambil memutar tubuh. 

Maha Guru Mahesa Jayanagara yang terbang tinggi di udara hanya melirik ringan. Karunasankara Jayanagara mendekati dan meneteskan darah di atas prasasti batu. Para panitia penerimaan murid baru memantau hasil yang akan ditampilkan. Calon murid-murid lain menanti dengan sabar sekaligus penasaran. Tak seorang pun di dalam Persaudaraan Batara Wijaya menyadari kejadian yang sempat berlangsung, dimana waktu dipermainkan dengan mudahnya. 

“Kasta Perunggu Tingkat 5! 20%! Murid Utama!” 

Dari gerombolannya, hanya Karunasankara Jayanagara yang berhasil menembus sebagai Murid Utama. Congkak sekali wajahnya. 

Kum Kecho melangkah maju, mendekati Prasasti Darah. Tentu kita sudah mengetahui hasil seperti apa yang akan ditampilkan oleh takaran. Meski demikian, ia tetap harus menjalani ujian ini bila hendak diterima secara resmi ke dalam Persaudaraan Batara Wijaya. 

“Tes...” Setitik darah medarat di permukaan Prasasti Darah. 

5%... 10%... 20%... 

Sejumlah panitia penerimaan mulai memandangi Kum Kecho dengan tatapan serius. Biasanya, mereka yang memperoleh 20% taraf ‘hubungan daraf’ adalah ahli-ahli yang berasal dari keluarga bangsawan. Seorang remaja tanpa latar belakang jelas, tidaklah mungkin dapat menjadi Murid Utama. Menjadi Murid Madya saja sudah beruntung... Akan tetapi, jarum takaran masih belum hendak berhenti.  

22%! 

Maha Guru Mahesa Jayanagara memelototkan mata. Padahal, tinggi di udara, ia mengamati menggunakan jalinan mata hati. 23% adalah taraf tertinggi yang pernah ia ketahui. 

23%! 

Seluruh perhatian terpusat pada Prasasti Darah! 

“24%!” seru seorang Guru Muda yang bertugas sebagai panitia penerimaan murid baru. Ia kemudian jatuh terhuyung ke belakang. 

Maha Guru Mahesa Jayanagara melesat turun. 24% merupakan taraf hubungan darah yang sangat tinggi. Malahan, sepanjang sejarah Persaudaraan Batara Wijaya, tak seorang pun pernah mencapai angka yang sedemikian tinggi. Demikian, sang Maha Guru hendak memastikan dengan mata kepalanya sendiri!

Sesampainya di bawah, ia segera meraih sebuah lencana dan menebar mata hati. Tak kurang dari duapuluh Maha Guru dan Sesepuh perguruan mengudara dan melesat dari berbagai penjuru arah menuju Prasasti Darah! 

Kum Kecho terlihat tenang. Bilamana kakek tua renta Arya Wiraraja tak memanipulasi Prasasti Darah di saat Segel Waktu sedang aktif, maka keributan mungkin akan meledak seketika ini juga. 

Bahkan Pimpinan Perguruan, seorang lelaki tua berambut putih, datang langsung hendak memastikan hasil yang ditunjukkan Prasasti Darah. Diketahui, bahwa selama ini lelaki tua itu merupakan salah satu ahli langka yang memperoleh takaran setinggi 23%. 

Usai memastikan bahwa tak ada kekeliruan, tanpa pikir panjang ia langsung menyambut dengan merentangkan kedua tangan dan suara membahana... “Selamat datang wahai Murid Utama, Putra Persaudaraan Batara Wijaya!”

Maha Guru Mahesa Jayanagara tak menyangka bahwa Pimpinan Perguruan akan turun tangan. Karunasankara Jayanagara mendecakkan lidah. Keduanya lalu saling pandang. Terbersit raut wajah kurang puas, meski harus menelan mentah-mentah kenyataan ini. 

“Penegak Perguruan sedang mengasingkan diri dalam tapa panjang. Pastinya, beliau akan sangat senang menyaksikan kehadiran seorang Putra Perguruan,” tambah Pimpinan Perguruan. 

Padahal, Penegak Perguruan yang dimaksud, sudah terlebih dahulu bersujud memberikan sambutan. 

“Siapakah gerangan nama dikau, wahai anak muda?”

“Kum Kecho!”

 

===


Putra dan Putri Perguruan Gunung Agung, lima remaja tangguh, dua perempuan dan tiga lelaki, yang berjasa dalam Kejuaraan Antar Perguruan, berdiri di depan gerbang dimensi di Monumen Genta. 

“Jangan mempermalukan Perguruan Gunung Agung!” sergah Maha Guru Kesatu, Cawan Arang, seorang perempuan dewasa yang diketahui sebagai ibunda Canting Emas. 

“Tunjukkan ketangguhan Perguruan Gunung Agung!” Sesepuh Kelima meletakkan tangan kanan di pundak Panglima Segantang dan tangan kiri di pundak Aji Pamungkas. 

“Raih sebanyak mungkin ilmu baru....” Sesepuh Ketujuh tersenyum ramah kepada Kuau Kakimerah. 

“Sampaikan salamku kepada para Tetua di Perguruan Anantawikramottunggadewa.” Maha Guru Keempat melafalkan dengan baik nama perguruan yang Bintang Tenggara masih terbata-bata dalam mengulang. 

Rupanya, tak seorang pun para Tetua Perguruan Gunung Agung yang mendampingi dalam studi banding. Perguruan Anantawikramottunggadewa adalah perguruan sahabat, sehingga murid-murid tersebut akan diterima dengan sangat baik di sana. 

Gerbang dimensi berpendar di pagi yang cerah. Kelima remaja segera melompat masuk. Bintang Tenggara paling belakang, karena sebenarnya ia lebih ingin kembali ke Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel. Selain mempelajari tentang keterampilan khusus segel secara baik dan benar, ia masih penasaran dengan sesuatu yang sempat terdengar di telinga. 

Akan tetapi, tak mungkin bagi Bintang Tenggara menolak suguhan seorang Sesepuh. Lagipula, karena hanya mengunjungi perguruan sahabat, tentu tak akan terlalu merepotkan. Bahkan, mungkin kunjungan ini akan berlangsung singkat. Demikian, Bintang Tenggara melompat ke dalam gerbang dimensi. 

Lima remaja tiba di sebuah halaman luas. Di hadapan mereka, telah menanti seorang lelaki bertubuh besar. Garang perawakannya. 

“Selamat datang Putra dan Putri Perguruan Gunung Agung!” 

Lelaki itu memutar tubuh, lalu membuka jalan. Ia bahkan tak memperkenalkan nama. Sepertinya, tata krama bukanlah sesuatu yang utama di perguruan ini. 

Tak lama, mereka tiba di sebuah penginapan yang megah. Tanpa basa-basi, lelaki besar garang menggerakkan tangan sebagai petanda bahwa bagunan ini merupakan penginapan kalian, beristirahat sejenak, nanti akan ada yang memberikan panduan. Kemudian, ia pergi begitu saja. 

Hari jelang siang. Bintang Tenggara bertanya-tanya dalam hati. Berbeda sekali dengan bayangan dalam benaknya. Ia berharap akan ada sambutan semarak, dimana mereka akan di arak menemui Pimpinan Perguruan, atau setidaknya para Tetua. Bahkan Canting Emas, yang sok tahu segala, terlihat sedikit bimbang. 

Aji Pamungkas memeriksa satu persatu ruang di dalam penginapan. Ia berupaya mencari kamar terbaik bilamana memiliki kesempatan beraksi, alias mengintip. Panglima Segantang terlihat khusyuk membaca kalimat-kalimat pada selembar kertas. Kuau Kakimerah tak terlalu peduli akan apa pun itu. Ia hanya duduk tenang menanti. 

Seorang gadis dewasa muda melangkah masuk. Ia lalu berdiri di ruang tengah penginapan. Setelah memastikan bahwa para tetamu lengkap adanya, ia lalu mulai menjabarkan.

“Putra dan Putri Perguruan Gunung Agung, esok pagi kalian akan berhadapan dengan Putra dan Putri Perguruan Anantawikramottunggadewa.”

“Eh...?” Bintang Tenggara merasa tak nyaman. Bertarung lagi!?

“Pertarungan dilangsungkan antar dua regu, yang masing-masing terdiri dari lima ahli. Tata cara yang digunakan adalah ‘Pertarungan Benteng’.”

Perempuan yang tak berbasa-basi itu lalu melanjutkan dengan penjelasan tata cara rinci dalam Pertarungan Benteng. Tujuan utama pertarungan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih 'benteng' lawan. Benteng lawan dapat dijatuhkan bilamana berhasil merampas bendera yang menandai benteng mereka, lalu membawa bendera tersebut kembali ke benteng sendiri. Meskipun demikian, jangan sampai lengah dengan membiarkan benteng sendiri tanpa penjagaan, karena lawan juga memiliki tujuan mengambil bendera. Siapa cepat dia dapat. 

Selain itu, kemenangan juga bisa diraih dengan mengalahkan dan menawan anggota regu lawan. Dengan kata lain, pertarungan antar ahli dapat berlangsung hampir tanpa aturan. Dalam hal ini, kedua regu diperbolehkan menyergap, menjebak, memerangkap, memancing, membokong, mengeroyok, bahkan mengibuli lawan. Bila seluruh anggota regu lawan berhasil dikalahkan dan ditawan di dalam benteng, maka kemenangan serta merta diraih. 

“Satu-satunya aturan dalam Pertarungan Benteng adalah dilarang membunuh lawan. Sejumlah juri akan selalu mengawasi setiap peserta,” tutup perempuan yang tak diketahui jati dirinya itu. 

“Apakah ada pertanyaan?” Perempuan itu memutar tubuh dan melangkah pergi begitu saja. Padahal, Canting Emas sepertinya penasaran akan beberapa hal. 


“Pertarungan Benteng!” 

Suara membahana terdengar di saat lima remaja perwakilan Perguruan Gunung Agung tiba di sebuah halaman luas. Kendatipun demikian, tak ada sambutan tepuk tangan riuh rendah. Tak ada pula komentar-komentar dari penonton, karena memang tak terlihat seorang pun yang menyaksikan. 

Sungguh, murid-murid Perguruan Anantawikramottunggadewa sepenuhnya mencurahkan jiwa dan raga di jalan persilatan dan kesaktian. Oleh karena itu, kegiatan yang tak terkait langsung dengan diri mereka, menjadi kurang menarik.  

“Putra dan Putri Perguruan Gunung Agung siap sedia!” 

Kembali suara pengumuman membahana. Kelima perwakilan Perguruan Gunung Agung, sesuai isi pengumuman, bersiap sedia. 

Di kejauhan, terlihat murid-murid Perguruan Anantawikramottunggadewa memasuki halaman. Empat remaja lelaki melangkah teratur. Aneh, mengapa hanya empat ahli, dan lelaki pula kesemuanya? Walaupun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa kesemuanya menyibak aura yang demikian perkasa. Setiap satu dari mereka berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9!

“Putra Perguruan Anantawikramottunggadewa siap sedia!”

Sebuah gerbang dimensi berpendar pelan di belakang keempat bakal calon lawan yang berbaris rapi. Sebuah gerbang dimensi juga membuka di balik para perwakilan Perguruan Gunung Agung. Sepertinya, pertarungan benteng tidak akan berlangsung di halaman ini. 

Tetiba, terlihat seorang gadis melangkah ringan ke arah keempat Putra Perguruan Anantawikramottunggadewa. Rambutnya ikal dan hitam tergerai panjang, kulitnya tubuhnya bernuansa kecoklatan. Raut wajahnya demikian tenang. Akan tetapi, tersibak aura yang lebih kental lagi. Ia jelas berada pada kasta Perunggu Tingkat 8, namun terkesan lebih perkasa dibandingkan keempat remaja lelaki sebelumnya….

“Putri Perguruan Anantawikramottunggadewa siap sedia!”

Salah seorang anak remaja di kubu Perguruan Gunung Agung membelalakkan mata! Mulutnya ikut menganga! Ia mengenal betul wajah dan pembawaan gadis yang menyandang predikat sebagai Putri Perguruan Anantawikramottunggadewa itu. Di saat yang sama, gadis itu acuh tak acuh membalas tatapan mata Bintang Tenggara… 

“Pertarungan Benteng… resmi dimulai!” 

Tidak mungkin! pikir Bintang Tenggara. Matanya masih tak lepas menatap si gadis. Ia baru saja hendak melangkah maju dan memastikan dari dekat, ketika kekuatan gerbang dimensi di belakang menarik kelima murid Perguruan Gunung Agung ke dalam! 




Catatan:

*) Rupanya, Negeri Dua Samudera menerapkan trias politica layaknya sebuah negara demokrasi... 

Legislatif: Dewan Negeri

Eksekutif: Abdi Negeri 

Yudikatif: Mahkamah Negeri