Episode 10 - Janjian Bertemu Kembali



“Hidupku tak kan lama lagi?” 

Kinasih mengganggukkan kepalanya, seakan ingin memastikan kalau aku paham maksudnya, dia memulai penjelasannya.

“Tubuh manusia memiliki keterbatasan dalam menampung kuantitas dan kualitas tenaga dalam. Seperti balon yang diisi udara terlalu banyak, tubuhmu terlalu lemah untuk menampung tenaga sebesar itu. Cepat atau lambat, tubuhmu tidak akan sanggup lagi bertahan.”

Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, aku ingin percaya apapun yang dia katakan, apapun yang dia jelaskan, apapun yang keluar dari bibir tipis merona miliknya itu, tapi kenapa dia justru berkata sesuatu yang sangat-sangat sulit ku percayai? Kenapa penjelasan pertama yang muncul darinya justru adalah vonis kematianku? 

Entah kenapa, kakiku kembali terasa lemas. Aku tidak tahu mesti bicara apa lagi, jika apa yang dikatakan oleh Kinasih benar adanya, maka aku benar-benar tidak beruntung. Kenapa malaikat kematian seakan menari-nari disekelilingku, mungkin saat ini dia sedang tertawa geli melihat diriku. Ah, mahkluk Tuhan yang satu itu, sepertinya benar-benar tidak rela melepas kepergianku. Apakah saat nyawaku benar-benar melayang nanti, dia akan memeluk mesra diriku sambil mengucap, “Aku merindukanmu, sayang…”

“Tapi rasanya aneh, bagaimana mungkin bisa ada tenaga sebegitu besar dalam dirimu?”

“Aku… juga tidak tahu.”

“Kau juga tidak tahu?”

“Tapi… apa aku benar-benar mati karena tenaga di dalam tubuhku?”

“Ya,” jawabnya singkat, padat, dan jelas.

Jawaban yang dia berikan begitu lugas, tidak menyisakan raung sedikitpun untuk perdebatan. Seakan dia sudah mengintip sendiri namaku di buku kematian milik malaikat maut. 

Glek!

“A… Apakah aku masih bisa diselamatkan?”

Kinasih kembali diam, seperti sebelumnya, dia tidak langsung menjawab pertanyaanku. Namun ada sinar aneh pada sorot matanya, dan dia memandangi setiap inchi tubuhku. 

“Mungkin bisa, tapi aku juga tidak tahu pasti.”

“Tolong aku, maksudku, maukah kau menolongku? Kumohon,” 

Aku sadar bahaya yang mengintai tubuhku ini bukan suatu penyakit, dan tak bisa disembuhkan oleh dokter. Buktinya, saat aku dirawat di rumah sakit, dokter sama sekali tidak mendeteksi keanehan pada tubuhku. Sedangkan Kinasih, meskipun aku masih belum mengenalnya sama sekali, namun bisa mendeteksi masalah dalam tubuhku. Dan jika aku bisa diselamatkan, maka yang bisa menyelamatkanku pasti dia. Atau setidaknya, orang-orang seperti Kinasih. Orang-orang dunia persilatan.

“Besok jam 08.30 pagi, datanglah ke apartemen Grand Royal di Jakarta Barat, Tower C Unit K/2089.” Setengah berbisik, Kinasih memberikan pesan terakhirnya sebelum berkelebat menghilang dari pandanganku. Luar biasa, tanpa membuat catatan apapun, otakku bekerja cepat dan mengingat setiap detil alamat yang barusan dia berikan. 

Gadis yang aneh, datang secara tiba-tiba dan pergi terburu-buru, mirip dengan istilah jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar. Dia bahkan tidak menjelaskan alasan kenapa menolong diriku. Tapi setidaknya, dia memberikan sebuah alamat sebelum pergi meninggalkanku. Entah apakah itu alamat dirinya atau alamat orang lain, tapi aku yakin sekali pada alamat itu terdapat sebuah kunci. Kunci berbagai misteri tentang Sekte Pulau Arwah, Dunia Persilatan, dan orang-orang yang telah memburuku. Juga kunci tentang keselamatanku.

Setelah ditinggal sendirian, aku baru menyadari anehnya situasi di sekelilingku saat ini. Aku memandangi mayat Sarwo dan pria gempal bernama Udin, lalu pada hamparan es yang menutupi jalan, rumah, dan pepohonan di sekelilingku. Sungguh aneh, kenapa sejak tadi aku tidak menemui orang lain sama sekali. Jalan yang kulewati ini bukanlah jalan sepi yang terletak di tempat terpencil, hampir setiap menit jalan ini akan dilewati beberapa orang. Aku baru ingat tadi, beberapa saat sebelum komplotan Sarwo menghadangku, ada sempat berpapasan dengan dua orang, namun mereka menghilang begitu saja begitu komplotan Sarwo menghadangku. 

Selain itu, sungguh aneh jika setelah berbagai teriakan dan suara dentuman dari pertarungan antara Sarwo dan Kinasih. Tidak ada satupun orang yang terusik dengan kebisingan yang mereka hasilkan dan datang memeriksa kemari. Sunyi, bahkan terlalu sunyi, hanya kesunyian yang tersisa disini, bahkan kuburan angker sekalipun tidak akan sesunyi ini menurutku. 

Perlahan, aku mulai berjalan menyusuri jalanan ini. Tak memperdulikan lagi mayat Sarwo dan Udin, pikiranku sudah tersita sepenuhnya oleh kesunyian yang tak wajar ini. Baru berjalan beberapa langkah, aku kembali teringat pada dunia yang begitu redup tak wajar. Seingatku tadi langit tidak mendung sama sekali saat aku mulai berjalan menyusuri jalan hendak pulang ke rumah. Lagipula, redup ini kurasa bukan karena langit mendung. Karena aku bisa mencium bau udara mendung, dan disini aku sama sekali tidak menciumnya. Redup ini bukan karena mendung, namun seperti memang dunia ini sendiri yang sudah kekurangan cahaya sejak awal. 

Dan bersamaan dengan redupnya dunia inilah orang-orang yang tadi berpapasan denganku menghilang tiba-tiba, disusul dengan kemunculan komplotan Sarwo yang menyergapku. Apa mungkin semua keanehan dunia redup ini ada hubungannya dengan Sarwo? Dan jika benar dunia redup ini ada hubungannya Sarwo, lalu bagaimana caranya aku keluar dari dunia ini? Ah, seharusnya tadi aku menanyakan juga pada Kinasih. 

Ketika aku masih dilanda kebingungan, tiba-tiba saja nuansa temaram di sekelilingku seakan luntur. Awalnya dari langit, awan-awan gelap yang menutupi langit perlahan tapi pasti mulai menghilang disertai menyeruaknya cahaya matahari. Kemudian menjalar turun hingga ke bumi, hamparan es akibat kesaktian Kinasih ikut menghilang dan kutemukan jalanan ini tampak biasa saja seakan tidak pernah terjadi apa-apa disini. Bahkan mayat Sarwo dan Udin ikut menghilang, begitu juga lubang-lubang menganga di tanah dan bangunan sekitar akibat berbagai serangan yang gagal menemui sasaran. Semuanya menghilang tanpa bekas! Kecuali diriku sendiri dan pakaianku yang penuh noda darah dan tanah. 

Orang-orang yang lewat jalan ini memandangi dengan heran, mungkin mereka kaget karena tiba-tiba saja ada seorang anak sekolahan dengan pakaian kotor oleh darah dan tanah berdiri mematung di tengah jalan. Tapi aku tidak punya waktu untuk memperdulikan tatapan aneh mereka, dengan langkah cepat aku segera berjalan menuju rumah. 

Sesampainya di depan pintu rumah, aku merasa sedikit gamang. Bagaimana caranya menjelaskan kotornya pakaianku pada orang tuaku? Cerita apa lagi yang harus kukarang? Ataukah aku harus mengatakan yang sebenarnya pada orang tuaku?

‘Bun, tadi ada sekelompok orang yang menghadang Riki dan berniat membunuh Riki. Untungnya ada seorang gadis cantik berkulit pucat yang datang menolong Riki dan menghabisi orang-orang itu. Totalnya ada lima orang yang dia habisi, tiga di antaranya bahkan tak meninggalkan mayat. Mereka bertarung dengan menggunakan jurus-jurus mematikan dan pukulan-pukulan sakti seperti di film-film.’ 

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah orang tuaku ketika mendengar penjelasan semacam itu. Sambil tersenyum tipis, aku segera masuk rumah. Beruntung, aku tidak berpapasan dengan siapapun di pintu depan. Aku segera mengucap salam dan berkelebat secepat mungkin menuju kamarku. 

“Wa’alaikum salam.” Suara bunda terdengar dari bagian belakang rumah, namun setelah itu tidak ada apa-apa lagi. Mungkin bunda sedang sibuk mencuci atau memasak. 

Di dalam kamar, aku segera membuka baju dan memeriksa tubuhku di kaca. Di bagian punggungku, tepat dimana tadi Sarwo menghantamku dan tempat dimana Kinasih menekan jari-jemarinya, tampak berwarna kebiru-biruan berbentuk telapak tangan. Luka lebam seperti ini mungkin baru akan hilang sekitar satu minggu kemudian. Untungnya lokasi lebamnya dapat disembunyikan di balik pakaian. Sedangkan mengenai pakaianku yang penuh noda tanah dan darah serta luka di pipiku tidak bisa ditutupi, mungkin aku memang harus mengarang cerita… lagi.

Benar saja, sore harinya saat bunda memeriksa pakaian kotor dan menemukan baju sekolahku dalam kondisi sedemikian mengerikan, dia langsung memerintahkanku memberikan penjelasan. Untungnya aku sudah siap dengan penjelasan singkat, tadi aku mengalami kecelakaan saat naik motor bersama teman sekolah. Akibatnya, bunda segera mengajakku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diriku. Tentu saja aku menolaknya, jika dokter memeriksa seluruh tubuhku dan menemukan luka lebam di bagian punggungku yang berbentuk telapak tangan, entah bagaimana aku harus menjelaskannya. 

Aku menjelaskan panjang lebar pada bunda kalau kondisi tubuhku baik-baik saja, hanya luka kecil lebam dipipi saja dan tidak ada luka lainnya. Sedangkan noda darah di pakaianku untungnya tidak banyak, hanya berupa bercakan saja, sehingga aku masih bisa berkelit dengan mengatakan itu darah temanku yang luka di bagian tangan. Akhirnya, bunda menyerah dan tidak jadi membawaku ke rumah sakit, namun tak lupa dia mulai membacakan pidatonya.

“Rik, baru kemarin kamu hilang tanpa kabar sama sekali sampai sebulan penuh. Sekarang kecelakaan, untung kamu masih selamat. Kamu sudah besar sekarang, harusnya kamu sudah bisa menjaga diri. Kalau kamu kenapa-kenapa, ayah bunda juga yang repot.”

Aku hanya bisa mengangguk-ngangguk, mengiyakan semua perkataan bunda.

“Terus bagaimana teman kamu? Lukanya nggak parah kan?”  

“Luka sedikit doang bun, tapi di obatin dikit juga sembuh kok. Jatuhnya di tanah lumpur, makanya pakaiannya jadi kotor.” Aku berdusta dengan begitu lancar dihadapan bunda.

Namun jauh dilubuk hatiku, aku juga memendam kekhawatiran, jika masalah Sekte Pulau Arwah terus memanjang, apakah aku akan terus berbohong seperti ini pada orang tuaku, dan mungkin orang-orang terdekatku yang lain? Semoga saja tidak. 

Aku sudah membulatkan niat, aku harus datang ke apartemen Grand Royal tower C unit K/2089 untuk menemui Kinasih serta mencari jawaban atas misteri terkait Sekte Pulau Arwah, orang-orang yang memburuku, dan tenaga misterius yang ada didalam diriku. Meskipun itu artinya aku harus bolos sekolah besok. 

Lagipula menurut Adam, kakakku yang pertama, tidak perlu terlalu serius sekolah. Bolos sekali dua kali sama sekali tidak masalah, asalkan nanti saat ujian nasional bisa lulus. Yang paling penting adalah saat ujian masuk universitas, toh di dunia kerja nanti yang akan dipakai hanya ijazah dan transkrip nilai kuliah saja. Kali ini, aku setuju dengan perkataannya.