Episode 9 - Kau Akan Kembali ke Tempat Asalmu



 Rabu pagi sekitar jam sepuluh, Okta sedang asyik-asyiknya duduk sambil menonton drama Korea di layar kaca. Air matanya sampai mengisi penuh satu ember, dia terharu melihat isi cerita dalam serial drama Korea yang ditontonnya. Kisahnya sungguh menyayat-nyayat hati.

 “Uh … uh … uh … sedih banget sih ceritanya. Sabar ya Oppa Siwon, kamu pasti akan mendapatkan kekasih yang lebih baik dari dia. Contohnya aku.”

 Okta terus memeras kain yang sudah lepek sama air mata. Tiba-tiba dari belakang mereka, muncul dua sosok makhluk menyebalkan, Coklat dan Ival. Mereka berdua segera menghampiri Kak Okta yang masih terpaku menonton drama Korea.

 “Pagi, Kak,” sapa mereka berdua.

 “Pagi juga, eh kalian sudah bangun toh.”

 “Iya, kenapa? Kakak kangen ya tanyain kita berdua,” ujar Coklat.

 “Hah, terserah kalian aja lah.”

 “Kakak lagi ngapain? Lagi ngepel ya, tuh ada ember sama lapnya?”

 “Ihhh, kakak itu enggak pantas kalau jadi tukang pel, tahu!”

 “Iya tahu, terus kakak itu pantasnya jadi apa dong?”

 “Kakak itu pantasnya jadi pacarnya Oppa Siwon, oh Siwon I love you.”

 “Love you too, Kak,” ujar Coklat.

 Plak! Tuing tuing tuing … wuuush! 

 Itu suara kemarahan Okta yang kembali menendang Coklat, hingga Coklat terbang jauh keluar dari jendela rumah ini dan hilang entah kemana

 Cliiing

 Ival yang melihat kejadian itu hanya tertunduk seperti orang yang menyesal. Ternyata Kak Okta itu lebih menyeramkan dari para setan yang mereka temui semalam.

 “Hey, sekarang tinggal giliran kamu, kamu mau apa?” tanya Kak Okta dengan wajah sangarnya.

 “Ampun, Kak. Kakak enggak kuliah?” tanya Ival sambil menunduk.

 “Enggak, kakak hari ini libur!”

 “Tapi kan ini bukan tanggal merah, Kak.”

 “Kakak tahu, memang hari ini bukan tanggal merah.”

 “Makanya Kakak kuliah dong! Enggak apa-apa ini bukan tanggal merah, kan kasihan, Kak, kuliah itu bayar lho! Kakak ini gimana sih!” ngotot Ival.

 “Kakak yang kuliah kenapa kamu yang repot? Terserah Kakak dong!”

 “Saya ini perhatian sama Kakak! Makanya Kakak harus berterimakasih kepada saya dong!”

 “Ihhhh, Arrrgghhtt!”

 Plak! Tuiiiiing! 

 Okta sudah tak bisa menahan kesabarannya sekali lagi. Ival pun bernasib sama seperti Coklat, dia terbang melayang keluar jendela kamar ini.

 “Aarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrgggghhhtt!” teriak Ival.

 “Pagi-pagi, sudah ketemu sama orang rese. Gimana caranya mereka supaya enggak bertahan di rumah ini ya? Pokoknya gue enggak mau kalau mereka terus nginap di sini, bisa-bisa jadi gila gue. Tidaaak!”

 Tiga puluh menit kemudian, Okta masih betah duduk di atas sofa sambil menonton drama Korea. Sekarang air matanya sudah penuh dua ember, dia juga masih memeras kain yang sudah lepek sama air matanya. Disaat bersamaan, dua orang menyebalkan kembali masuk ke rumah ini dengan wajah yang ceria meski tadi sempat melayang entah kemana. Mereka berjalan dari arah pintu depan rumah ini lalu masuk dan menemui Okta yang masih menonton drama Korea.

 “Hy, Kak Okta, kita kembali lagi,” sapa Coklat.

 “Aduuh,” ujar Okta sambil menepok jidadnya sendiri.

 Tak berapa lama setelah mereka kembali menemui Kak Okta di ruangan ini, tiba-tiba listrik di rumah ini padam. Layar kaca yang menjadi tempat Okta menonton serial drama Korea pun langsung mati hanya menyisakan layar hitam dan gelap.

 “Yaaah, mati lampu padahal enggak ada angin enggak ada hujan,” keluh Okta.

 “Kenapa, Kak?” tanya Ival.

 “Ini mati lampu, rese banget kan lagi seru-serunya nonton si Siwon eh mati lampu.”

 “Sabar, Kak, ya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan saat mati lampu kayak gini,” ujar Coklat.

 “Hmmm kamu bisa kembali nyalain lagi lampunya?”

 “Kakak lihat aja, pasti kakak terkagum-kagum dengan apa yang akan aku lakukan, Kak.” Senyum Coklat sambil menepuk dadanya sendiri.

 “Terima kasih ya sebelumnya.” Senyum Kak Okta.

 Tumben si Coklat sekarang sudah berubah, dia mau bantu Okta yang lagi kesusahan seperti ini. Coklat langsung saja bergegas keluar dari ruangan ini, meninggalkan Ival dan Okta berdua.

 “Tuh contoh teman kamu, dia tahu apa yang harus dilakukan saat seperti ini. Enggak kayak kamu.”

 “Kakak belum tahu saya sih, Kak. Nanti habis giliran Coklat, saya yang akan beraksi, tenang aja.”

 Coklat kembali ke ruangan ini dengan membawa sebuah tangga. Entah dari mana dia mendapatkan tangga itu, yang jelas senyum sumringah tampak ada pada wajah Okta. Dia tak habis pikir ternyata anak ini lumayan pintar dan berinisatif juga. Tapi enggak ada salahnya kan kalau kita tahu tangga yang didapatkan Coklat darimana, begini ceritanya. 

 Pada saat yang bersamaan, ada tetangga Okta yang bernama Udin sedang membetulkan genteng rumahnya. Rumahnya itu berwarna biru muda tepat sekitar sepuluh meter dari rumah Okta yang sepi. Coklat yang sedang mencari-cari tangga tak sengaja melihat ada tangga menganggur di rumah yang berwarna biru itu. Tangga menganggur? Memang selama ini tangga itu bisa kerja ya? Ah sudahlah lupakan saja. Saat melihat tangga itu, Coklat langsung mengambilnya begitu saja sambil berteriak kepada pemilik rumah.

 “Pak Om Tante Ibu Mas, saya pinjam tangganya dulu ya sebentar.”

 “Jangaaan!” teriak Udin entah dari mana.

 Coklat menoleh kanan kiri, ternyata tidak ada orang. Tanpa pikir panjang lagi Coklat langsung mengambil tangga itu, sementara Udin yang ada di atas genteng rumahnya hanya bisa kesal melihat seorang anak mengambil tangga miliknya itu.

 “Sialan tuh bocah! Kalau gini gimana gue turunnya, aarrgghh!”

 Singkat cerita seperti itu. 

 Sekarang ini Coklat sedang berdiri di atas tangga sambil mengambil bohlam lampu milik Okta. Okta bingung, tak mengerti apa yang dilakukan Coklat, dia hanya bisa garuk-garukin kepalanya.

 “Eh, kok bohlamnya diambil sih?”

 “Tenang aja, pokoknya semuanya beres, Kak.”

 Coklat pun kembali turun dari tangga dengan sebuah bohlam di tangan kanannya. Ketika sampai di atas lantai, wajah Coklat langsung bersedih, dia tidak bisa menutupi kesedihannya itu.

 “Kenapa kamu nangis?” tanya Okta.

 Coklat tak langsung menjawab pertanyaan dari Okta. Kemudian dia meletakkan bohlam itu di atas meja sambil mengajak Ival berlutut menghadap lampu bohlam itu. Suasana menjadi aneh, Okta hanya bisa kembali menggaruk-garukkan kepalanya.

 “Eh kalian berdua mau ngapain?”

 “Uh … uh … uh … sabar ya, Kak, mungkin sekarang si lampu udah hidup tenang di alam sana.” Isak tangis Coklat.

 “Uh … uh ... uh … iya, Kak, sabar. Aku yakin kakak akan dapat penggantinya yang lebih baik dari ini,” ujar Ival.

 “Maafin kita, Kak, kita terlambat menyelamatkan si lampu hingga akhirnya dia tewas seperti ini,” lanjut Coklat.

 “Iya, Kak, tadinya aku mau telepon ambulan tapi aku enggak tahu nomornya dan sebaiknya sekarang kita harus menguburnya sebelum terlambat,” lanjut Ival.

 “Dasar bocah streees! Maksud gue tuh listriknya yang padam bukan lampunya yang mati kayak giniii!”

 “Oh, bilang dong,” serentak mereka berdua.

 Plak! Plak! Plak! 

 Itu pasti suara kekesalan Kak Okta dengan apa yang barusan terjadi hingga mereka berdua manyun sambil menghadap ke tembok.

 Karena masih padam listrik, Okta yang berniat untuk mandi terpaksa mengurungkan niatnya itu. Iih jorok cakep-cakep kok belum mandi. Tapi enggak apa-apa sih, mandi enggak mandi, Okta tetap cantik kok.

 “Haduh, aku mau mandi terus listriknya padam kayak gini, pasti enggak ada air nih.”

 “Ngapain mandi, Kak? Boros-borosin air aja. Lihat aku ini belum mandi tapi aku masih tetap ganteng kok,” ucap Coklat.

 “Hah, ganteng?”

 “Iya, kakaknya aja yang belum sadar. Tahu enggak, Kak? Kalau cewek-cewek di sekolahku itu semua pada tergila-gila sama aku loh.”

 “Tergila-gila apa jadi gila benaran gara-gara tingkah kalian berdua?”

 “Itu juga termasuk loh, Kak.”

 “Udahlah, mendingan kalian berdua nyumbang air aja buat kakak mandi gimana?”

 “Tapi bayar ya, Kak?” tanya Ival.

 “Dasar mata duitan kamu!”

 Ival yang disangka mata duitan oleh Okta kemudian mengajak Coklat mundur sejenak untuk berunding sebentar, kayaknya ada bisnis nih di antara mereka berdua. Suara mereka saling berbisik-bisik.

 “Coklat, emang gue mata duitan?”

 “Wah gue enggak tahu, mending lo kedip-kedipin mata lo aja.”

 “Nanti keluar duit ya?”

 “Ya enggak lah, ya enggak mungkin keluar duit, gimana sih lo?”

 “Huhft.”

 Setelah membahas hal yang enggak penting kayak gitu, mereka berdua kembali menemui Kak Okta. Sekarang bahasan apa lagi nih yang enggak penting dari mereka berdua.

 “Kalian mau ikut kakak enggak?”

 “Kemana, Kak?” tanya Coklat.

 “Kita ke kampus.”

 “Ngapain?”

 “Kita cari ayam kampus di sana, mau kan kalian? Boleh dibawa pulang kok ayam kampusnya.”

 Coklat dan Ival yang mendengar kalau ayam kampus boleh dibawa pulang kegirangan bukan main. Mereka berdua lompat-lompatan di hadapan Kak Okta sambil berteriak cihuuy. Namun sebelum mereka ke kampus, mereka terlebih dahulu untuk sarapan pagi, tepatnya bukan pagi sih, ini di antara pagi dan siang jadinya p’yang.

 Di ruang sarapan ini, di meja sarapan ini. Mereka bertiga bersiap untuk sarapan, hah sarapan? Sudah jam berapa ini? Tapi terserah mereka lah, mau sarapan jam delapan malam juga enggak apa-apa. Mereka duduk di atas bangku masing-masing, di atas meja sudah tersedia sepotong roti tawar yang dilengkapi oleh masinis, eh mesis maksudnya.

 “Kak, kami boleh makan ini?” tanya Coklat.

 “Boleh.”

 “Makasih ya, Kak,” serentak Coklat dan Ival.

 Ketika sepotong roti tawar hendak masuk ke mulut Okta, tiba-tiba Coklat melarang Kak Okta untuk memakan roti itu.

 “Tunggu, Kak!”

 “Apa sih?”

 “Kita kan udah dikasih sarapan gratis nih, kayaknya kita enggak naruh rasa hormat sebelum Kakak memberi sambutan sebentar aja, ya pliiis.”

 “Iya, Kak, kayak acara yang penting-penting gitu ada sambutannya.”

 “Ya udah, Kakak kasih sambutan sekarang.”

 Kak Okta pun berdiri di hadapan mereka memberi sambutan hangat. Ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa tak lupa disematkan oleh Okta, begitu pula dengan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua Kak Okta, tak lupa juga ucapan terima kasih kepada saudara dan teman-teman yang telah mendukung Kak Okta, entah mendukung apa.

 “… saya ucapkan terima kasih, sekian.”

 Kak Okta kembali duduk di bangkunya dan bersiap melahap sepotong roti yang sudah ada di tangannya, namun lagi-lagi Coklat menahannya kembali.

 “Tunggu, aku sama Ival belum kasih sambutan.”

 “Huhtf, ya udah cepat sana!”

 Coklat kemudian berdiri di hadapan mereka berdua. Dia memberi sambutan kepada dua orang yang ada di ruang sarapan ini. Ini aneh-aneh aja, mau sarapan pakai acara sambutan segala. 

 “Hadirin dan hadirat yang saya hormati, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

 “Waalaikumsalam.”

 “Sebelumnya marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas nikmat dan rahmat yang telah dianugerahkan kepada kita semua, sehingga khususnya pada pagi hari ini kita semua diberi kenikmatan berupa kesehatan jasmani dan rohani, Amien. Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih atas dukungan juga kepercayaan Kak Okta dan juga Ival yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengemban tugas yang mungkin tidaklah ringan. Namun dengan dorongan dan motivasi yang rekan-rekan berikan kepada saya, InsyaAllah saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Kak Okta berikan kepada saya ini. Selanjutnya saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap hadirin yang dengan tulus ikhlas tanpa paksaan maupun tekanan dari pihak manapun yang telah dengan tulus telah memilih saya untuk mengemban amanat ini ya walau saya tahu perut para hadirin ini sudah pada keroncongan kan? Saya tidak akan lama memberi kata sambutan ini. Hadirin yang saya hormati, tanpa kepercayaan Kak Okta juga saudara-saudara sekalian, tidaklah mungkin saya bisa berdiri dihadapan Kak Okta juga Ival, jadi tak salah kalau saya ucapkan terima kasih atas semua kepercayaan dan dukungan ini. Atas nama mereka berdua dan atas nama pribadi, saya memohon juga kepada rekan sekalian untuk bersama-sama menjalankan amanat ini, karena tanpa dukungan dari semua pihak, tidaklah mungkin saya akan bisa menjalankan amanat ini dengan benar yang sesuai dengan aturan-aturan yang telah ada. Sekali lagi, saya sangat mengharapkan sekali dukungan-dukungan dari saudara-saudara sekalian. Marilah kita saling koreksi bila di antara kita terjadi kesalahpahaman atau berbeda pendapat, karena dengan saling koreksi, InsyAllah segala sesuatunya akan bisa kita selesaikan secara demokrasi sesuai dengan landasan hukum yang kita anut di negara tercinta ini. Sekali lagi, terima kasih atas semua kepercayaan ini. Tak banyak yang dapat saya sampaikan dikesempatan ini. Saya hanya berharap dengan kepemimpinan saya di atas meja sarapan ini bisa memberikan dampak positif yang membuat kita lebih maju lagi kedepannya. Amin. Akhir kata dari saya, Wabillahitaufiq Walhidayah, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” 

 “Waalaikumsalam …,” serentak Kak Okta dan Ival.

 “Udah sambutannya?”

 “Udah, Kak,” jawab Coklat.

 “Oh baguslah kalau gitu kakak langsung makan ya,” ucap Kak Okta bersiap makan roti.

 “Tunggu, Kak!”

 “Apalagi sih?”

 “Kita belum berdoa loh.”

 “Ya udah berdoa aja dalam hati masing-masing, ngertikan?”

 “Enggak bisa, saya panggilin ustadz ya?”

 “Jangan! Kakak udah enggak tahan nih, lapar banget!”

 Akhirnya Kak Okta langsung melahap sepotong roti.

 ***

 Sore hari, mereka bertiga sudah sampai kampus. Ya saat sampai kampus, Kak Okta langsung mengajak mereka berdua ke sebuah kandang ayam yang ada di belakang lab biologi kampus ini. Mereka bertiga berdiri sambil menghadap ke kandang ayam itu. Senyum ceria tersematkan di wajah Okta.

 “Nah ini ayam kampus, gimana cantik kan?”

 “Hmmm, kok aneh ya?” tanya Ival cengo.

 “Kenapa aneh?”

 “Ayam kampus itu bukannya dari jenis manusia ya?” tanya Ival.

 “Kamu salah, ayam kampus memang seperti itu sejak dulu. Kalian lihat itu hewan apa?”

 “Ayaaam,” serentak Coklat dan Ival.

 “Betul, terus ayamnya ada di lingkungan apa?”

 “Kampuuus.”

 “Good, kalau digabungin jadinya apa?”

 “Ayam kampuuus,” serentak Coklat dan Ival cengo.

 Ini entah siapa yang enggak mengerti hanya Okta yang tahu. Ketika mereka masih melihat cantiknya ayam kampus terdengar ada suara yang memanggil mereka berdua dari belakang.

 “Coklaat! Ivaaal!”

 Saat mereka berdua menoleh, ternyata Bu Riny dan Pak Kepala Sekolah datang menjemput mereka. Suasana pun menjadi haru, ketika Bu Riny dan Pak Kepala Sekolah yang ada di depan Bu Riny beserta Coklat dan Ival berlari seraya memeluk bersama melepas kerinduan yang ada.

 “Ibuuu! Bapaaak!” seru Ival dan Coklat.

 Ival dan Coklat masih berlari seraya ingin memeluk Pak Kepala Sekolah. Saat mereka di hadapan Pak Kepala Sekolah, mereka terus berlari. Mereka pilih-pilih orang untuk dipeluk, ternyata mereka lebih memilih untuk memeluk Bu Riny ketimbang Pak Kepala Sekolah.

 “Dasar! Mereka berdua enggak boleh lihat guru cakep, masa saya ditinggal gitu aja.”

 Suasana bahagia tampak terlihat di antara mereka berlima. Sementara hari sudah mau menjelang malam, di lain tempat si Udin yang masih di atas genteng cuma bisa bengong berharap tangganya dikembalikan.

 “Busyet dah, jam segini tangga gue belum dibalikin. Aduh, gimana nih turunnya?”