Episode 12 - A New Student


Di kelas, saat pelajaran baru dimulai.

"Semuanya! Hari ini kita kedatangan murid baru,” kata Lasius di belakang meja guru.

Balas sorak-sorai komentar anak Ignis.

"Murid baru? Siapa?"

"Cewek atau cowok? Kalau cowok gak doyan."

"Kalian lihat saja sendiri.” jawab Lasius. “Masuklah nak!" Panggil Lasius dengan ayunan tangannya.

"Ha... Halo" Lambai seorang wanita berambut merah panjang itu sambil berjalan dengan malu-malu ke tengah kelas, disamping Lasius.

"Sayang sekali nak kenapa kamu terlambat sekali masuk kelas?" Lasius mengusap-usap rambutnya.

"Ma-maaf pak,” Kata wanita itu. “Aku datang dari tempat yang jauh sekali dari sini. Jadinya aku terlambat. Maaf, sekali lagi Maaf."

“Telat kok sampai hampir sebulan,” komentar salah satu anak Ignis.

“Sejauh apa sih? Aku juga dari jauh kok,” komentar Lio dengan tatapan lemas sambil kepalanya bersandar di tumpuan tangannya.

"Jauh sekali? Hoo sejauh apa?" sindir Lasius. "Baiklah! Sekolah juga baru dimulai selama 2 minggu, Masih bisa aku toleransi. Nah... Sekarang perkenalkan dirimu dulu."

"Ugh... Anu... A... Apa-apa saja ya-yang harus kupernalkan?" Balasnya canggung.

"Namamu, umurmu, tempat asalmu... Aku sih ada data dirimu disini apa mau aku saja yang sebutkan?"

"Aaa!? Jangan, jangan! Biar aku saja..." Wanita itu menarik nafas. "Uhm... Sa-salam kenal, Aku Ranni Siledus Swordia..."

"Swordia!?" Lasius terkejut. "Rambut merah, mata merah... Elemen Api, pas semuanya."

Sambungnya. "Aaa... Anu selanjutnya?” tatap Ranni ke Lasius dengan ragu-ragu.

“Umurmu,” jawab Lasius.

“U-umur ya? Aku... 19 tahun, aku berasal dari benua Elleon,”

“Elleon? Tempat apa itu guru?” sahut salah seorang anak Ignis.

“Wah benar-benar jauh sekali ya...” komentar Chandra.

“Sssttt! Diam dulu...” kata Lasius. “Biarkan Ranni memperkenalkan dirinya.”

“Aku baru sampai disini kemarin... Jadinya…,” ucap Ranni dengan sangat gugup. “Ahh... Apa itu sudah cukup?"

"Ya! Cukup, kalau ada yang ingin kenal Ranni lebih jauh, Bertemanlah dengannya ya!"

jawab para pelajar serentak. "Baik pak!"

"Nah Ranni, Kau boleh duduk disana." Tunjuk Lasius pada kursi kosong di dekat Alzen dan Chandra.

"Ah... Baik pak.” Ranni mengangguk dengan gugup, lalu berjalan dengan kaki merinding meski ia mencoba menahan rasa gugupnya. Selama berjalan ia terus melihat ke bawah dan menyapa siapapun yang melihatnya. “Permisi, permisi, permisi."

Namun sayangnya, seisi kelas melihat ke arahnya.

***

Beberapa saat setelah Ranni duduk kemudian,

"Oke!” Sahut Lasius. “Sekarang kita keluar!"

Sekali lagi jawab sekelas secara serentak. "Baik pak!"

"Ehh!? Baru saja aku duduk!?" Ranni terheran-heran.

“Mulailah biasakan dirimu, aku bukan tipikal guru yang sering kamu temui,” ucap Lasius dengan percaya diri. “Ayo keluar!”

"Sudah ikuti saja," Chandra menepuk Ranni yang duduk di depannya. "Guru kita ini agak sableng orangnya. Jadi terima sajalah."

"Haa!? Sableng?" Ranni berdiri dan mengikuti semuanya pergi keluar.

***

Sesampainya di lapangan, luar kelas...

"Aku tak mau buang-buang waktu murid yang lain, hanya untuk menjelaskan ke satu murid saja. Ranni intinya kita akan melakukan turnamen 2 bulan lagi. Pelajaran yang kamu lewatkan selama hampir 3 minggu ini aku bisa jelaskan nanti sepulang sekolah ya!" ucap Lasius

"Ba... Baik pak!"

"Sekarang," Lasius memberikan pelajaran. "Kalian akan belajar sesuatu yang keren hari ini. Karena Turnamen ini dipersiapkan untuk kalian bisa bertarung dalam pertempuran sesungguhnya, maka dari itu stamina harus sudah bukan jadi masalah kalian lagi. Apa kalian siap?!”

“YA!” jawab mereka serentak.

“Peraturan mengharuskan hanya ada 4 orang yang boleh ikut dari masing-masing elemen. Jujur saja aku ingin kalian semua bisa ikut dan merasakan kompetisi. Tapi itu sudah aturan dari pak Vlau. Aku tak bisa campur tangan banyak soal itu. Maka dari itu berlatihlah sungguh-sungguh!"

“BAIK GURU !!” Jawab mereka serentak.

Chandra mengangkat tangan. "Tanya pak!"

"Ya? Ada apa Chandra?"

"Ada hadiahnya gak pak?"

"Hahaha... Pertanyaan konyol, tentu saja ada! Hadiah untuk juara pertama adalah 100.000 Rez."

Langsung semuanya tergiur memikirkan apa yang bisa dibeli dengan uang sebanyak itu.

"Tapi kesampingkan soal itu dulu.” Tegas Lasius. “Jangan jadikan uang motivasi utama kalian, karena kalian akan cepat patah hati jika yang kalian inginkan hanya uang, uang dan uang. Fokuslah pada pertumbuhan kalian selama latihan ini. Itu lebih bermanfaat untuk jangka panjang ketimbang hadiah apapun.”

“BAIK GURU!” jawab mereka serentak.

“Oke! Pelajaran-nya kita mulai sekarang! Kalian perhatikan baik-baik. "

Lasius menyelimuti kedua tangannya dengan api. Lalu kedua tangannya di hempaskan lebar-lebar ke kiri dan ke kanan. Setelah itu sebuah dinding api terbentuk di depan Lasius.

"Ini yang akan kita pelajari hari ini. Setiap elemen punya cara berlindungnya masing-masing. Dan teknik ini disebut Barrier.”

“Huuuu...” Anak-anak Ignis terlihat tertarik dan memperhatikan. 

“Teknik ini ada di buku.” Kata Alzen. “Pertahanan dasar bagi penyihir.”

“Ini sih basic.” Lio menggampangkan dan bersandar pada telapak tangannya.

Sedang Ranni menyaksikannya dengan serius sekali, seolah tak mau penjelasan Lasius luput satupun darinya.

“Perlu diperhatikan! Untuk mempertahankan Barrier tetap melindungi kita, penggunanya. Barrier ini akan terus menguras Aura kita terus menerus, bagi yang tak terbiasa, atau tidak memiliki Aura yang besar, Maka penggunanya akan cepat kelelahan dan kehabisan Aura."

"Kalau begitu percuma dong pak?" Komentar Chandra yang sambil terus memperhatikan.

"Ini mirip jurus yang dilakukan Edrick, seminggu lalu.” Komentar Alzen. “Hanya saja dia bisa meng-castnya tanpa gerakan, seolah otomatis begitu saja."

“Gampang...Gampang...” Lio mengentengkan.

"Untuk kalian yang belum punya jumlah Aura dan stamina yang memadai untuk mempertahankan Barrier ini dalam waktu lama. Kalian harus mengaktifkan secara on/off."

"On/Off? Kayak lampu saja." Chandra geli.

"Yap... Memang seperti lampu. Jadi coba kamu Lio, bantu aku mendemonstrasikan."

“Hee? Aku?” Lio maju dan berhadapan dengan Lasius. “Oke!"

"Sekarang coba serang aku!"

"Dari kemarin minta diserang mulu ya guru." Kata Lio sambil berancang-ancang untuk menyerang.

“Flame Side Kick!”

Lio menendang dan menembakan semburan api dari gerakan kakinya, sebagai serangan jarak jauh.

Lasius menangkisnya dengan Barrier. Lalu menghilangkan Barriernya segera.

"Seperti itu. Kalian mengerti? Aktifkan saat serangan datang. Hilangkan segera setelah serangan usai. Nah coba Lio lakukan secara cepat dan serang aku berkali-kali."

"Dengan senang hati guru!" Lio melompat dan menendang lalu dari tendangannya muncul seperti sebuah cambuk api yang menyerang Lasius.

"Perhatikan ini! Barrier Aktif!" Lasius menahan serangan dengan dinding api yang mengubah haluan serangan musuh. "Sesaat serangan selesai! Barrier Hilang!"

Seperti itu terus diulang berkali-kali dengan timing yang baik.

"Cukup Lio! Nah kira-kira seperti itu, kalian paham?"

“Paham !!” Jawab mereka bersamaan, meskipun sebagain besar masih mencoba meningat-ingat dan berusaha memahami.

"Guru! Guru!” Angkat tangan Lio sambil dilambaikan. “Coba sekarang aku yang menangkis!" Lio terlihat bersemangat dan langsung memasang kuda-kuda. “Ayo sekarang, serang aku.”

“Antusiasme yang baik Lio!” Lasius langsung meninju keras-keras dan menembakan api yang besar. 

“Hah!? HWWAAAA !!”

Sampai-sampai Lio terlempar. Meski sesaat sempat mengurangi daya sernangnya dengan mengubah arah serangan.

"Aduhh! Kegedean kalau begitu!" Sahut Lio jengkel.

“Poin yang perlu diingat,” Kata Lasius. “Lalau serangan musuh terlalu kuat hingga tidak mungkin di tahan, segera menghindar ke kanan atau ke kiri. Jangan coba-coba diadu.”

***

Setelah demonstrasi selesai, seluruh anak Ignis, satu persatu mencobanya. Dengan 1 orang sebagai penyerang dan 1 orang lagi bertahan. Setelah itu posisi dibalik secara berkala.

"Guru! Aku penasaran. Kalau yang menyerang elemen air misalnya... Apa Barriernya masih berfungsi?" Tanya Alzen selagi mencobanya dengan Chandra.

"Kalian berdua bisa Elemen air kan? Kalian coba sendiri dan lihat hasilnya."

"Ahh iya juga... Chandra coba serang aku dengan elemen air." Pinta Alzen.

"Oke!" Chandra mengangguk. "Jujur saja aku juga penasaran sih. Alzen siap ya!"

Chandra mengumpulkan air dan menembakannya. Kemudian Alzen dengan cepat menangkisnya dengan Fire Barrier, Tapi...

Woooshhh!!

Alzen terpental oleh semburan air Chandra.

"Maaf Alzen!" Sahut Chandra yang tidak bermaksud melukai Alzen. “Hahaha! Jadi begitu hasilnya.”

"Hahaha... " Alzen tertawa puas dengan tubuh basah. "Jadi begitu! Ternyata tidak bisa ya... Hahaha!" Alzen ikut tertawa.

"Sekarang kau paham kan? Nanti kalau di turnamen bertemu lawan dari Liquidum. Anggap saja kau sedang sial, Hahaha!" Lasius mentertawainya.

"Hihi... Mudah saja guru! Aku masih punya ini." Alzen mengeluarkan listrik di tangan kanannya.

"Ohh... Enak ya! Punya banyak elemen seperti kamu.” Kata Lasius. “Tapi, Turnamen melarang penggunaan elemen di luar kelas yang diwakilinya. Kalau kamu Ignis, kamu cuma boleh pakai elemen api saja."

"Haaa!? Ada aturan seperti itu!?" Alzen tak habis pikir. “Aku kira...”

"Kalau enggak begitu, gak seimbang dong jadinya. Jadi coba pikirkan baik-baik. Cara melawan anak Liquidum mulai dari sekarang, kalau-kalau kamu sial nanti."

Alzen terdiam sebentar lalu mengangguk, “Aku mengerti,”

***

Sore hari, Ketika latihan hari ini usai, sepanjang hari mengulang-ulang praktek menghindar, menangkis dan menyerang secara terus-menerus.

"Ranni! Setelah ini! Kamu ikut aku ke ruang guru ya. Aku akan berikan pelajaran yang kamu lewatkan. Tenang, teorinya gak banyak kok." Ucap Lasius.

"O...Oke pak!"

"Apes banget tuh murid baru, Udah latihan capek begini masih disuruh belajar lagi." Komentar Chandra dari jauh. "Alzen pulang dari sini kita beli makanan yang enak lah."

"Boleeeh..." Balasnya.

"Woo!" Chandra melompat kegirangan. "Ayo dah! Kita mandi dulu baru ke sana."

***

Di area dorm di sore hari, Lio seperti biasanya... Berjalan pulang sendiri setelah kelas usai, tapi kali ini…

"Liii...o!" Sapa Fia.

"Loh?” Lio langsung menoleh. “Ohh, kamu rupanya. Kamu baru pulang juga?"

"Iya! Habisnya ada turnamen nanti." Balas Fia. "Ohh Iya! Ngomong-ngomong turnamen yang kamu tanyakan waktu itu. Ternyata baru diumumkan di kelasku hari ini.”

“Begitukah?”

“Ahh curang, berarti kelasmu curi start ya..."

"Aku gak tahu." Balas Lio. "Hari ini juga kita baru belajar teknikalnya. Kemarin-kemarin cuma disuruh lari-lari doang."

"Ahahaha... Aku lihat kamu dari kelas." Fia mentertawainya. "Kayaknya kelasmu belajar diluar mulu ya? Hampir setiap hari lihat anak Ignis diluar terus. Sampai jadi bahan bercandaan di kelasku."

"Ya... Begitulah." Lio mengangkat bahu. "Gurunya agak semaunya sendiri, tapi bagusnya kita banyak praktek sihirnya langsung sih. Sudah berapa kali aku diminta menyerangnya. Haha... Tapi dia kuat sih. Jadi aku lumayan menghormatinya. Sekalipun... Kau tahu sendiri."

"Masih mending, guruku bicaranya pelan banget, dia cantik dan sabar. Tapi kalau sudah terpaksa harus digalakin, rambut birunya jadi seolah berubah merah dan giginya taring-taring dengan tanduk merah seperti setan. Hahaha..."

"Woo! Apa benar begitu!? Serem amat!" 

"Enggak sih, itu bercandaan di kelas saja." Fia tertawa masih tertawa dari hanya membayangkannya saja. "Tapi secara keseluruhan guru di kelasku enak ngajarnya. Kalau bekerja di luar sekolah, dia biasanya bergabung ke grup sebagai Healer. Aku juga mau jadi seperti itu nantinya!"

"Haha! Setelah lulus dari sini, kita nanti se-party ya! Aku yang bertarung, kamu yang akan jadi Healer-ku."

"Dari awal juga begitu kan! Hihi!" Senyum Fia.

***

"Buset! Alzen! Steak disini enak bener! Ahmm... Nyam... Nyam... Enak!"

"Iya! Enak banget! GRAUGH!"

Mereka berdua sedang makan di sebuah Restoran yang berada di Twillight District, Salah satu distrik di Area 3 kota ini. Restorannya meski di dalam ruangan, tapi pintu selalu terbuka dan terhubung dengan jalan luar. Dan karena harga yang terjangkau, Restoran ini jadi tempat favorit anak-anak muda yang sedang bersekolah di Vheins.

"Capek-ku langsung hilang kalau makanannya seenak ini deh." Chandra memakan-nya dengan lahap. “Puah kenyang.”

"Ehh!?" Selagi makan, Alzen melihat seseorang yang ia kenal. "Lio! Sini lah!"

"Ohh!? Ada Alzen juga." Lalu sahutnya ke Alzen. "Alzen! Tunggu disana ya... Aku pesan dulu."

"Ehh ada Lio!? Dia datang sa- Ohog! Ohog! Ohog!"

"Telan dulu makanmu tuh!" Ucap Alzen ke Chandra.

"Habis... Enak banget sih..."


Kemudian Lio datang menghampiri meja Alzen dan Chandra.

"Kalian sering mampir kesini juga?" Tanya Lio membawa nasi dan sapi lada hitam di nampannya.

"Enggak juga sih, ini juga baru pertama kali kita kesini." Balas Alzen.

"Lumayanlah! Biar gak stress punya guru kayak Lasius!"

"Hahaha... Bener banget!" Lio menyetujuinya dan melahap suapan pertamanya.

Di meja makan 4 orang, Alzen berhadapan dengan Chandra di sisi kiri dan di sisi sebelahnya Fia berhadapan dengan Lio. Jadi Alzen sebangku di samping Fia.

“Ha-halo...”Sapa Fia sebelum duduk.

"Lio? Cewek ini siapa?" Chandra menunjuk yang ada Fia di depannya sambil terus makan.

"Kenalin, Ini temanku dari kampung halamaan yang sama. Fia namanya."

Fia mengangguk-angguk dan memperkenalkan diri. "Aku dari kelas Liquidum. Aku sudah dengar banyak tentang kalian dari Lio."

Waiter datang membawa makanan yang di pesan Lio. "Setumpuk french fries."

"Woo French Fries! Lio aku bagi ya!" Pinta Chandra dengan celamitan.

"Ambil-ambil. Kalau kurang nanti aku pesan lagi."

"Di Liquidum bagaimana belajarnya?" Tanya Alzen ke Fia. Ia tidak ikut-ikutan untuk mencomot French Fries di depannya.

Belum dijawab, Fia sudah kaget duluan. "Ohh... Aku tahu kamu!"

"Ehh apa?"

"Kamu yang dapat beasiswa itu kan?"

"I... Iya!" Balas Alzen canggung.

"Woo! Alzen ngetop!" Ledek Chandra sambil menepuknya.

"Waduh... Maaf-maaf aku terlihat berlebihan." Muka Fia memerah.

"Fia... Alzen ini bisa 3 elemen loh." Ucap Lio sambil makan. "Elemen apa saja sih Alzen? Kasih tahu dong!"

"Api, Air dan Petir. Nanti kalau sudah 3 bulan belajar, aku ingin mengerti lebih dalam Elemen Air di kelas Liquidum."

"Waah! Enak ya! Jangan dong! Kita sampai lulus di kelas yang sama saja, Haha!" Balas Lio.

"Aku juga bisa elemen air. Aku ingin belajar sihir penyembuhan nantinya." Sambung Chandra.

"Aku juga setelah lulus dari sini mau jadi Healer!" Balas Fia dengan semangat. “Dan se-party dengan Lio nantinya.”

“Ba-baru rencananya kok.” Sambung Lio sambil makan.

“Semua punya tujuan masing-masing ya.” Fia tersenyum. “Kalau kamu Alzen?”

“Ahh? Aku... Aku belum tahu.” 

Setelah makan, minum dan berbincang-bincang usai di meja makan. Mereka kembali dan mengakhiri hari ini dengan senyum ketika pulang bersama-sama ke dorm mereka.

***

Di ruang guru yang berada di bangunan yang sama dimana Student Hall berada. Ranni sampai jam 10 malam, baru saja selesai belajar pelajaran susulan yang diberikan Lasius atas ketertinggalanya.

"Oke! Kau sudah mengerti kan soal Aura, Party dan Role-Role ini?"

Ranni mengangguk-angguk dengan wajah lelah.

"Ahh... Aku tahu kamu sudah capek. Lagipula ini sudah selesai kok. Ini kunci dorm milikmu. Bangunan dormnya ada disana. Kelihatan kok dari sini. Sudah ya... Selamat beristirihat."

“Te... Terima kasih pak... Hoammm...”

***

Ranni kembali dengan membawa tas dan tongkat kayu di tangan kanannya. Tongkat itu berwarna merah dan dilapisi besi keemasan di bagian ujung dan tengah tongkat. Ranni berjalan turun dengan tubuh lelah, ia perlahan-lahan berjalan melewati lapangan luas untuk tiba di dorm yang ada di ujung sebelahnya.

"Malam ini, bulan terasa indah ya!" Ranni memandang bulan di tengah langit malam yang penuh bintang. "Hari pertama memang yang paling berat, tapi aku harus kuat! Demi mereka."

Setibanya di depan pintu kamar asramanya.

Ckleeek !!

"Puahh! Benar-benar hari yang melelahkan!" Ranni langsung berbaring lemas. Menaruh tasnya secara sembarang dan langsung tertidur pulas.

***

"Pagi Anak-anak!" sahut Lasius.

"Pagi!"

"Karena kalian cepat belajarnya, Hari ini aku akan mengajarkan kalian teknik yang lainnya lagi... Ehh? Ranni mana ya?"

Sahut salah seorang pelajar Ignis.

"Belum datang kali pak..."

***

Sementara itu... Di dorm Ranni.

"Wahhh! Sudah jam 8!" Ranni panik. "Harus cepat-cepat nih! Mandi! Ganti Baju! Berangkat!"

Ranni berlari sekuat tenaga menuju kelas.

***

"Nah itu dia orangnya pak! Baru datang sekarang!"

"Baru belajar, sudah telat saja." Komentar sinis salah seorang pelajar.

"Ma... Maaf pak! Saya terlambat!"

"Lohh? Seragammu mana? Almamatermu tidak kamu pakai?" Tanya Lasius.

"Haa? Almamater?” Ranni ling-lung. “Almamater apa?" 

Sambung pelajar-pelajar lainnya. "Itu jubah biru yang ada di lemari kamu loh.”

“Padahal sudah disiapkan disitu, masa gak liat sih... Bodoh banget!"

"Hee? Aku gak tahu!" Ranni lemas rasanya mengdengar nada bicara mereka.

Lasius menjitak orang yang meledek Ranni barusan. "Muridku tak serta-merta jadi bodoh hanya karena kesalahan sepele ini."

"Ma... Maaf pak, Aku akan kembali dan kuambil Almamaternya di dorm ya."

"Sudah... Sudah, Tak perlu! Belajar cuma butuh kesediaan mendengar dan menerima ilmu baru. Bukan soal pakaian atau seragam. Kau belajar seperti itu saja. Tak masalah." Ucapnya tanpa sedikitpun merasa kesal dengan Ranni.

"Ba... Baik Pak..." Ranni tak menduganya. Ia menunduk karena merasa bersalah. “Terima kasih banyak.”

Dan Ranni menjadi satu-satunya pelajar disana yang tidak mengenakan jubah pelajar Vheins. Melainkan hanya mengenakan kaus merah muda kasual seorang diri. 

“Kamu pakai punyaku saja.”

“Huh!?” Ranni langsung menoleh dan mendapati Alzen mengenakan jubahnya ke Ranni.

Alzen tersenyum padanya. “Jangan minder dan dengarkan pak Lasius bicara.”

“Ta-tapi...” Kata Ranni sambil menahan air mata. “Kamu...”

“Tidak apa...”


"Oke! Kalau kemarin kalian belajar bertahan... Hari ini kalian akan belajar menyerang. Tentu dengan Role dan Gaya bertarung kalian yang berbeda-beda. Cara menyerangnya juga berbeda. Nah... Kita akan belajar tentang itu sekarang! Jadi..."

Setiap hari adalah ilmu baru... Itulah yang ingin ditanamkan Lasius ke murid-muridnya. Waktu berlalu dengan rutinitas latihan yang berat dan keras namun menghasilkan dan dijalani dengan hati yang senang tanpa terlalu banyak mengeluh. Seminggu berlalu, dua minggu berlalu, sebulan berlalu, dua bulan berlalu dan hari saat turnamen dimulai sudah dekat.

H-4 dimulainya turnamen. Lasius menunjuk 16 orang yang dinilainya berkembang dan bersungguh-sungguh dalam latihan selama hampir 3 bulan terakhir ini..

Namun dari 16 orang itu, hanya akan dipilih 4 yang terbaik lagi untuk benar-benar ikut dalam turnamen. Sisa 4 hari terakhir adalah waktu untuk menyeleksi yang terbaik dari yang terbaik di kelas yang Lasius pimpin. Dari 16 orang itu terpilihlah 4 orang terbaik diantara mereka yang akan ikut bertanding di turnamen nanti.

Dan 4 orang yang terpilih adalah...

***



Catatan:

Babak ‘Magic University’ selesai. Nantikan babak selanjutnya.