Episode 11 - That Night on the Seas of Destiny


Di luar kelas Ignis.

“Besok malam, datang ke rumahku ya. Aku ingin membicarakan sesuatu." Kata Leena dengan raut wajah yang sedih. "Ini tentang Ayahmu.” Leena mendekat dan membisiki Alzen. “Kildamash Franquille."

“…!!?” Alzen terkejut. “Ba-baik, baik. Rumahmu di mana?”

“Crystal District di Area 3, lihat saja peta dan cari nama Leanford disana. Oke?”

“I… Iya, baik!” balas Alzen.

“Hoo… Belum, belum sudah dekat dengan Leena.” Senggol Lio, menggoda Alzen. 

“Ahh… Apaan sih.” Alzen garuk-garuk kepala.

***

Esoknya, hari ketiga tugas mengerjakan Quest di luar Vheins. Pelajaran dikelas dimulai seperti biasa.

Lasius berbicara dari belakang mejanya. "Ckckck.. Tak kusangka, murid-muridku bisa selesaikan tugas ini dalam 1- 3 hari saja. Padahal kuberi 7 hari untuk itu. Kalian benar-benar membanggakan!”

Seisi kelas tersenyum senang dan merasa bangga dipuji seperti itu.

“Jadi… Kita akan rayakan kerja keras dan hasil yang memuaskan dari kalian semua. Satu persatu dari kalian akan aku traktir nanti malam ... Bagaimana?!"

Sekelas bising sekali untuk menjawab tawaran Lasius.

"SETUJU !!!"

"Haa? Pesta? Se-Setuju...?!"

"Padahalkan tugasnya mudah haha..." komentar Lio.

"Kita akan berpesta nanti malam dan pelajaran berikutnya adalah persiapan kita melakukan tournament yang akan diadakan 2 bulan lagi. Karena kalian bekerja dengan baik. Kita punya tambahan 4 hari untuk berlatih."

“Baik guru!”

"Ingat! Meski turnamen masih lama, Tapi biar kuperingatkan dari sekarang! Turnamen nanti, hanya boleh mengikutsertakan 4 orang terbaik dari masing-masing kelas.” Kata Lasius menegaskan. “Dan hal itu dinilai oleh guru dari masing-masing instruktur di tiap elemen. Aku menilai kalian bukan berdasarkan kemampuan sihir saja. Tapi antusiasme kalian,seberapa ingin kalian bertanding dan seberapa mau kalian habis-habisan belajar untuk ini.”

Sambung Lasius. “Meski kalian tak terpilihpun. Kalian sudah berkembang jauh dari hari ini. Jika kalian sungguh-sungguh mau belajar. Tak ada kerugian sama sekali sekalipun kalian tidak dipilih nanti. Lebih detail, akan kujelaskan lain waktu saja... Karena malam nanti adalah waktunya bersenang-senang! Hahaha!"

“Malam ini ya?” Pikir Alzen sambil bersandar di tumpuan telapak tangannya. “Padahal…”

***

Malam harinya, Seluruh kelas Ignis diundang untuk melakukan pesta. Karena ini bukan perayaan formal. Lokasinya berlangsung di lapangan kelas yang selalu Lasius gunakan untuk mengajarkan praktek. 

Seluruh pelajar Ignis datang dengan pakaian kasual dan disana terdapat makanan prasmanan untuk ratusan orang yang dijejeri di pinggir lapangan, siapapun bebas mengambilnya, karena porsi yang ditawarkan sangat banyak. Mereka makan dan minum, berkumpul satu sama lain di depan Api unggun besar yang berada di tengah lapangan.

"Oke! Disinilah kita akan bersenang-senang!” Lasius memberi sambutan. “Sudah ada makanan dan minuman di sebelah sana. Ambil sepuas kalian! Aku habiskan banyak uang untuk ini jadi... Bersenang-senanglah! Work Hard Play Hard !!"

"Jadi disini tempatnya?" Chandra terheran-heran. "Lapangan ini? Yah... Kupikir dimana..."

"Guru sudah mengeluarkan banyak uang untuk ini. Disini juga tidak masalah, yang penting kita merayakan dan kumpul bersama-sama kan?" balas Alzen.

Chandra meledeknya sambil merangkul Alzen dan tertawa bersama-sama. "Ahh... Kau pengertian sekali sih, Alzen... Alzen." Katanya sambil sedikit mencekiknya dan memutar-mutar kepalan tangan di kepala Alzen.

"Ehh... Sudah-sudah, sakit-sakit... Dududuh."

"Ahh segitu aja sakit. Nih biar kutambahin."

"Adaaaooww!'

***

Mereka berdua dan anak Ignis yang lain duduk di depan api unggun bersama-sama, dan malam itu ramai sekali.

Di meja makan prasmanan. Salah satu anak Ignis nyeletuk bertanya. “Guru makanan sebanyak dan seenak ini guru beli pakai duit sendiri?”

“Hmm… Nyamm… Nyamm… Huh? Iya… Makan sajalah sepuasnya,” balas Lasius sambil mengunyah makanan. “Gaji instruktur Vheins besar kok. Tak usah dipusingkan. Nyamm… Nyamm…”

***

"Sayang sekali. Pesta semegah ini cuma dinikmati kelas Ignis saja..." Kata Alzen sambil melihat kearah bintang di langit malam.

"Kan ini untuk merayakan kelas kita... Ehh!?" balas Chandra. "Jangan-jangan..."

"Apa? Kenapa menatapku begitu?" Alzen sedikit menjauh.

"Kau mau mengajak siapa memangnya?" tanya Chandra. "Ohh...ohh ... Leena ya...?"

"Tidak-tidak." Seketika Alzen salting dan mukanya memerah. "Maksudku kan lebih baik dinimakti..."

"Leena kan? Wahaha..." Chandra terus memojokan Alzen.

"Enggak!"

***

"Wah! Enak ya! Di rayain begini," kata sesosok perempuan imut berambut biru muda panjang yang menyapa Lio.

"Fia!?” Lio yang sedang bersandar di pojokan sambil meneguk minuman dibuat tersendak karenanya. “Puffft… Kok dateng kesini? Ini buat kelas Ignis doang loh."

"Iya tahu kok... Lagian cuma di pojokan aja gapapa kan?" balasnya. "Seperti biasa deh... Kalau tempatnya terlalu ramai kamu malah nyender di sudut-sudut."

"Yee... Itu sih kamu," balas Lio tak terima. "Kalau mau ditengah, Ayo sini!" Lio menarik tangan Fia,

"Ehh!? Tunggu-tunggu!!?” Fia canggung. “Tadi kamu bilang ini khusus anak kelasmu saja, Aku kan bukan anak kelas Ignis."

"Sudah gapapa. Ramai ini, pada pakai baju bebas juga. Tak akan ketahuan." Lio terus menarik tangan Fia untuk berkumpul bersama.

"Ehh!? Tapi..."

***

Setelah ke tengah-tengah api unggun, Lio dan Fia membawa beberapa botol jus dan duduk di depan memandang api unggun.

"Tuh... Gak ketahuan kan?" Lio meneguk sebotol jus jeruk. "Puaahh... Enak!" Sambung Lio setelah minum jus itu. "Ehh, Fia... Cerita dong kamu di kelas elemen airmu gimana? Apa sih nama kelas kamu?"

"Liquidum, kenapa memangnya?" balasnya.

"Enggak. Aku penasaran aja, soalnya dari awal hari pertama kelasku ini, Sekalipun gak ada buka buku, belajar diluar kelas mulu! Gurunya edan!" Lio meminum jusnya kembali. “Sambil ngintip di kelas lain, ternyata cuma kelas kami yang belajar di luar.”

"Hmm? Di kelasku masih baru belajar mengendalikan air sih... Karena ternyata gak semudah itu. Lalu kelemahan fatal yang sangat memerlukan lingkungan yang memiliki air untuk bisa digunakan. Seperti itu bu Andien mengajar.”

“Andien?” tanya Lio. “Instruktur kamu?”

“Iya, terus dia juga membahas soal tipe-tipe Aura. Sebenernya sederhana, hanya aku lupa. Terus soal pembagian peran dalam party dan katanya elemen air adalah salah satu yang terbaik untuk Healing Magic (sihir penyembuhan). Ya... Seperti itu aja sih, tapi gak sampai keluar kelas kayak kelas kamu."

"Ohh… Ternyata masih mirip-mirip ya... Terutama di bagian teorinya," komentar Lio. "Terus kalau soal turnamen sudah dikasih tahu?"

"Turnamen? Memangnya ada Turnamen?" Balas Fia.

"Lohh... Gak dikasih tahu?"

Fia membalas dengan menggelengkan kepala, "Enggak."

“Wah… Guru Edan itu mencuri start ya!?” pikir Lio. 

***

Malam itu dari jam 10 malam, Kelas Ignis berkumpul bersama-sama dengan sukacita. Mereka ngobrol, nongkrong, duduk-duduk di depan api unggun, bermain tebak-tebakan, tembak-tembakan bola api, membuat letupan kembang api yang besar dari sihir dan juga Lasius yang menggunakan sihir apinya untuk membuat naga-naga api yang mengitari mereka dengan indahnya. 

Menerangi tempat itu dari gelap gulita malam dengan cahaya oranye api dari naga itu. Sesaat segala beban apapun hilang dengan tawa kebersamaan mereka semua. Dan bisa saja, menjadi salah satu kenangan manis mereka selama bersekolah disini.

Tapi tugas yang lebih besar dan lebih berat menunggu mereka di keesokkan harinya.

***

Jam 10 lewat, seusai pesta.

“Hosh! Hosh! Hosh!” Alzen berlari menuju Area 5 yang sebenarnya cukup jauh ditempuh, semata demi bertemu Leena, meski terasa agak terlalu terlambat.

"Leena! Leena! Ahh... Kau di sini rupanya... Hosh, Hosh." Alzen kelelahan berlari. "Aduh... Capek banget. Malah habis makan banyak juga nih."

Leena yang sedang duduk di kursi panjang dari batang besi di ujung pulau menoleh ke belakang. "Alzen!? Kenapa baru datang sekarang?" Ia berdiri dan menghampiri Alzen. “Aku pikir kamu tidak datang tadi.”

“Maaf-maaf, aku sedikit… Ahh tidak-tidak sangat terlambat karena mendadak kelasku mengadakan pesta. Hosh… Hosh…” Kata Alzen dengan nafas tersengal-sengal sambil memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak berlari. “Bo-boleh aku duduk?” 

"Iya-Iya... Duduklah."

Alzen duduk dan bersandar lemas. "Haduh... Sepertinya lari sejauh ini adalah ide buruk."

Leena kembali duduk di samping kanan Alzen. Dengan hamparan laut lepas di malam hari.

“Tadi kau bilang, kelasmu mengadakan pesta?” tanya Leena.

“Iya, tidak enak juga kalau aku tidak datang. Hosh… Hosh…,” balas Alzen. “Pak Lasius sudah berbaik hati merayakan buat kami sekelas karena sudah mengerjakan tugas lebih cepat dari targetnya.”

"Hmm…Begitu ya.” balas Leena. “Tapi kamu tetap bela-belain datang kemari.”

"Karena soal yang itu loh, tentang ayahku,” kata Alzen. “Kildamash Franquille."

“Padahal ayahmu sendiri, tapi kenapa kamu ingin sekali tahu dariku? Tentang masa lalu ayahmu sendiri?"

"So-soalnya… Dia sendiri tak pernah mau cerita. Meski sudah kupancing berkali-kali.”

"Ahh... Aneh banget ya, Hahaha," balas Leena tertawa. 

“Jadi…?” 

“Tidak mau ahh…” Kata Leena sambil beranjak naik.

“Hee!? Kok begitu!?”

"Ngomong-ngomong kau tahu tempat ini Alzen?" tanya Leena sambil menatap bulan.

"Tempat ini? Area 5 kan?" jawab Alzen.

"Bukan kodenya, aduh!"

"Ahh? Lalu?"

"Maksudku nama tempat ini, kau tahu?"

Alzen menggelengkan kepala.

"Tempat ini agak klise sih namanya... Area 5, Seas of Destiny."

"Seas of Destiny?” Alzen berpikir sejenak. “Memang terdengar agak klise, sih."

"Tempat ini seperti taman di siang hari, tapi romantis di malam hari." Raut wajah Leena terlihat gembira sekali. "Lihat, karena pohon-pohon disini adalah pohon yang sama seperti di Magical Forest waktu itu. Jadi cahayanya dari bola-bola kuning itu.” Tunjuk Leena.

Alzen langsung menoleh. “Iya juga… Indah sekali. Semakin gelap semakin terang sinarnya.”

“Terlebih lagi lihat lautnya…”

SYUSSSHHH…

Rambut Leena diterpa angin laut malam.

Leena menarik nafas. “Membentang luas di depan kita. Dan lagi saat malam udaranya sangat sejuk."

"Ya… Nyaman sekali berada disini." Balas Alzen sambil rambutnya ikut di terpa angin malam.

"Iya kan?! Makanya setidaknya seminggu sekali aku sering duduk-duduk disini menghabiskan malam. Tapi karena untuk kesini harus melewati Area Universitas dulu. Jadi hanya diperbolehkan untuk para penyihir saja. Sayang ya... Tempat sebagus ini."

Alzen celingak-celinguk melihat sekitar. "Ohh... Iya juga, yang ada disini wajah-wajah yang tak asing buatku. Mereka semua penyihir."

"Alzen, mumpung kau sudah berlari kesini jauh-jauh. Bagaimana kalau kita habiskan waktu disini berdua?"

"Ahh... Uhmm... Ehh? Berdua?!” Alzen canggung. “Sa-sampai kapan? Ga, Ga, Gapapa nih?"

Leena mengangguk dan tersenyum, lalu duduk kembali. “Entahlah...”

***

Di Dorm kamar 207, Jam 12 malam

"Aduh... Jam segini malah kebangun lagi.” Kata Chandra. “Malah perut sakit lagi, salah makan apa tadi? Tapi badan sudah malas gerak. Alzen... Alzen… Ambilin aku minum dong. Aku malas banget naik nih."

Beberapa saat kemudian tak ada jawaban.

"Alzen...? Alzen? Alzen!" Chandra membuka selimut di ranjang Alzen. "Oi... Alzen, tolongin lah..." 

"Loh? Alzen gak ada?"

***

Pagi harinya, kelas dimulai kembali,

"Oke!" Ucap Lasius saat memasuki kelas seperti biasanya. "Kalian sudah bersenang-senang kemarin kan?"

Lalu masing-masing murid menjawab berbeda-beda,

"Guru! Acara kemarin keren!"

"Kurang lama nih! Tapi kemarin sayangnya sudah terlalu malam."

"Waktu yang menyenangkan selalu terasa lebih cepat berlalu. Itu saja."

“Pak guru Lasius The Best lah!”

"Kapan ada begitu lagi guru?"

"Aduh, Kemarin aku sakit perut lagi. Semalem-maleman di WC."

"Kau salah makan apa?"

“Tenyata bukan aku saja, aduhh…” kata Chandra sambil terus memegangi perutnya.

"Sepertinya ada makanan basi, deh. Atau..."

"Pokoknya menyenangkanlah guru!"

Karena terlalu banyak yang memberi tanggapan, Lasius menghentikan mereka. "Sudah-sudah, mendengar kalian senang semuanya saja sudah membuatku ikut senang. Kalau kalian melakukan hal hebat lagi. Aku rela menghabiskan uang lebih banyak lagi untuk pesta berikutnya.

“Heee!!? Betulan!?” Jawab sekelas bersamaan.

“Iya… Beneran. Tenang saja... Gaji guru-guru di Vheins gede kok."

“Asyikk!!” Antusiasme kelas yang besar membuat kelas jadi berisik.

"Wahahaha... Kalian bebas membuat kebisingan disini. Tapi tetap dengarkan aku!" Kata Lasius yang membuat semuanya seketika diam. "Sekarang aku akan menjelaskan aturan turnamennya."

"Turnamen ini diadakan khusus untuk pelajar Tingkat 1 saja, yang adalah kalian-kalian ini. Pertarungannya bersifat 1 Vs 1. Dari ke-enam kelas masing-masing hanya boleh mengirim 4 peserta saja seperti yang kubilang kemarin. Ditambah 2 kelas tambahan dari Stellar untuk elemen cahaya dan kegelapan yang akan diberi nama khusus nantinya. Mereka jadi boleh mengirim 12 peserta."

"Lohh, Kenapa mereka boleh mengirim sebanyak itu?" tanya salah seorang murid.

"Makanya... dengarkan dulu sampai selesai. Kelas Stellar seperti yang kalian ketahui adalah kelas yang berisi penyihir dengan kemampuan elemen diluar kelima elemen mainstream. Jadi mereka mengirim 4 orang pemilik elemen cahaya, 4 orang pemilik elemen kegelapan dan 4 lagi yang diluar semua elemen yang ada atau yang kita sebut elemen unik. Jadi total ada 32 peserta yang ditandingkan di turnamen ini."

“Haa!? 32 orang saja?” reaksi murid-murid.

“Setahuku angkatan kita ada seribu delapan ratusan lebih deh.”

“Ya mana mungkin semuanya ikut,” jawab Lasius yang omongannya di potong terus. “Kita mau turnamen atau mau anarkis.”

"Nah... Kelas Ignis boleh mengirim 4 dari kalian semua dengan seleksi yang akan kubuat sendiri. Masing-masing guru boleh memutuskan tipe seleksinya seperti apa. Untuk kelas ini akan diseleksi dengan penilaianku dalam 2 minggu kalian latihan, terhitung dari hari ini. Ditambah 4 hari tambahan karena kalian bekerja dengan sangat baik.”

Sambung Lasius. “Bagi yang merasa dirinya lemah dan bodoh sekalipun akan tetap kuperhitungkan juga kalau kalian mau sungguh-sungguh berlatih! Dan yang merasa dirinya sudah cerdas... Jangan pikir kalian otomatis terpilih. Karena kalau kalian merasa diri kalian cerdas dan karenanya tak mau berusaha di latihan ini. Sebenarnya orang-orang seperti itulah yang sebenarnya bodoh."

Bagi orang-orang yang merasa cerdas padahal tidak secerdas itu. Langsung tersinggung dengan kata-kata Lasius.

"Manfaatkan latihan ini untuk kesempatan kalian bertumbuh. Jadi, jika tidak terpilihpun... Kalian tetap dapat sesuatu. Kalau begitu, Latihan... Dimulai!"

***

Hari demi hari latihan berlangsung, Mereka tak lagi berlatih stamina saja kali ini, tetapi segala aspek untuk bertarung 1 on 1 dilatih sedemikian rupa.

"Ingat! Stamina memang penting, tapi bukan satu-satunya yang harus diperhatikan." Lasius memberikan pengarahan. "Kalian harus terbiasa menggunakan sihir yang kalian kuasai dan gunakan terus menerus untuk meningkatkan jumlah Aura yang kalian miliki. Dan melatih muscle memory kalian, supaya kalian jadi lebih kuat! Dan menggunakan sihir yang kalian bisa, semudah kalian bernafas. Mengerti!"

"YA!" Balas murid-murid kelas ignis serentak. Yang saat ini, di luar kelas... Semuanya terus menerus menggunakan sihir yang sama sampai mereka tak sanggup lagi dan istirahat sebentar setelahnya. Hal itu diulangi sampai hari sudah sore.

Lasius memberikan arahan langsung pada setiap murid, "Ya bagus! Terus lakukan dan tahan rasa sakit di tubuh kalian. Ketika kalian sudah merasa sakit-lah, baru kalian menjadi semakin kuat."

"Lio! Bukan begitu! Kalau kau bertarung dengan gaya Battlemage kan? Tinjulah sekeras ini! Baru tingkat kerusakannya tinggi. Oke?!"

"Baik guru!"

"Chandra! Kau memilih gaya bertarung seperti apa?"

"Aku, Battlemage untuk sihir api, Support untuk sihir air," balas Chandra.

"Hmm begitu, kalau begitu... Belajarlah bersama Lio."

"Kenapa guru? Lio juga Battlemage?"

"Ya... Dia kuat di beladirinya tapi lemah di jumlah aura, kamu sebaliknya. Beladirinya sedikit tapi jumlah auranya lumayan besar. Kamu bisa saja jadi Hybrid."

"Hybrid? Hybrid itu apa, Guru?"

"Gabungan dari dua gaya bertarung yang berbeda, kamu cukup cocok untuk bisa jadi Battlemage sekaligus gaya bertarung Spell Caster."

"Baik guru! Akan aku pertimbangkan!" balas Chandra.

"Bagus! Sana kau berlatih bersama Lio!"

Kini Lasius menghampiri Alzen.

"Alzen! Kau memilih gaya bertarung seperti apa?" tanya Lasius

"Aku? Aku sepertinya tak punya pilihan lain selain Spell Caster."

"Ahh... Sudah kuduga. Tapi sebagai Spell Caster kau harus bisa mengatur Cast Time dan sihir yang kau gunakanan. Karena ini 1 lawan 1."

"Baik, Aku mengerti..."

***

Sepuluh hari kemudian, 

Di kelas, saat pelajaran baru dimulai.

"Semuanya! Hari ini kita kedatangan murid baru."

Lalu masuklah seorang wanita berambut panjang berwarna merah ke dalam kelas.