Episode 10 - Too Late to Realize


"Dasar tanaman gila! Tubuhku jadi berlendir gini. Yuck!” Pria itu mengayunkan kapaknya ke tanaman yang sudah hancur-hancur begitu. “Rasakan nih! Ini! Ini! Ini!" 

"Hee? Kenapa ada orang muncul dari situ!?" Alzen heran. "Masih hidup lagi." Alzen segera menghampirinya.

"Dia ditelan monster itu!?" Wajah Leena memucat.

"Phew... Untungnya serangan kalian yang kelewatan itu. tak mengenai pria ini sewaktu di dalam tubuh tanaman itu," ujar Edrick.

Selagi berbaring lelah Chandra meneriaki Edrick. “Hah! Kamu juga dihantam dengan batu sampai begitu! untung yang di dalam tetap selamat!”

“Ahh benar juga.”

Sambil berjalan, Alzen mengingat-ingat apa yang ia perbuat. "Untung saja Fire Pierce-ku tadi agak sedikit meleset dan tak pas mengarah ke tengah-tengah perutnya."

"A... Ayah!" Kata Rosita yang berlari menghampiri ayahnya. Ia langsung berlari hingga langkahnya yang tergesa-gesa hampir membuatnya tersandung. Ia langsung melewati semuanya hingga lebih dulu dari Alzen. 

"Rosita!? Ohh anakku! Maaf buat kamu khawatir karena tidak pulang-pulang." Kata ayahnya yang dilumuri lender hijau itu. "Ugh... Sebaiknya kau tak dekat-dekat denganku. Aku berlendir seperti ini loh. Jorok sekali!" Katanya sambil terus mengusap-usap badannya untuk membersihkan diri.

"Aku tak peduli.” Rosita langsung bergerak maju dan memeluknya. “Aku sangat senang ayah masih hidup!” Rosita makin erat memeluk ayahnya “Dasar!" Pukulnya dengan kesal sambil terus menangis. “Hwaaa! Tolong jangan buat aku khawatir seperti ini lagi!”

“Sudah… Sudah… Jangan menangis terus.” Ayahnya tersenyum dengan kepala menunduk menatap putrinya. “Iya, ayah akan cari pekerjaan lain yang lebih aman nanti.”

Alzen ikut tersenyum melihatnya. “Hmm… Syukurlah.”

“Aku jadi ikut senang.” Chandra yang terbaring di tanah ikut tersenyum.

“Tapi ini aneh…,” pikir Leena.   

"HUWAAAAA !!" Ayah Rosita terjatuh karena kaget melihat Edgar. "Be-beruang itu kenapa bisa ada disini !?"

"Maksudmu dia?" Alzen menunjuk Edgar. "Dia ini, peliharaan-nya dia...," tunjuk Alzen ke Edrick.

"Bukan peliharaan, hoy!" Bentak Edrick tak terima. "Edgar ini Partnerku... Partner! Partner hoy!"

"Haurr... Haurr," balas Edgar.

"Hee? Yang bener? Aku nyasar ke sini gara-gara si Beruang kuning ini loh." Ayah Rosita tak menyangka binatang besar dan buas seperti Edgar bisa dielus-elus seperti kucing. "Dia beneran jinak?"

"Wohoo! Quest selesai!" Alzen berteriak dan melompat-lompat gembira.

"Hahaha... Yeah! Selesai!" Chandra hanya tertawa dengan posisi tengkurap.

“Tunggu dulu!” Leena memotong dan tatapannya serius. “Kau terjebak di tubuh tanaman ini sudah berapa hari? Dan bagaimana kamu bisa tetap hidup di dalam situ?”

“Aku terjebak semalam, saat aku tersesat karena melarikan diri dari beruang kuning ini!”

“Haurrr…” Telinga Edgar turun.

“Bukan salahmu Ed,” elus Edrick. “Dianya saja yang langsung kabur!”

“Lalu? Kau terjebak disini?” tanya Leena.

“Ya, semalam, saat aku lari dengan panik dan terjerumus dalam mulut tanaman besar ini. Yang bersembunyi di dalam tanah, karena gelap dan sedang terburu-buru aku jadi tidak memperhatikannya. Dan berakhirlah aku disini.”

“Kamu belum dicerna di dalam tubuhnya?”

“Hampir! Tapi aku terus melawan! Di dalam tubuh tanaman ini kosong, bersamaan dengan-“

"Oke," Potong Leena. "Alzen, Questnya sudah selesai kan? Boleh kulihat sebentar Quest Sheetnya?"

"Tentu saja,” Alzen merogoh sakutnya. “Uhmm... ini."

Leena mengambil lembaran tersebut lalu membacanya. Leena melihat Quest Sheet Alzen dan heran akan sesuatu. Ia berulang kali memastikan, bahwa Quest yang dikerjakannya...

“Hahaha.. Ayo kita pulang, badanku sudah tidak nyaman begini!” kata Ayah Rosita.

“Iya ayah! Nanti aku buatkan makanan enak! Dan janji padaku jangan-”

“Sudah selesai ya?” tanya Edrick. “Edgar! Ayo kita pergi… Kita tidak ada urusan lagi.” 

“Hmm? Leena?” Alzen mendapati Leena terlihat gelisah.

"Rank B ... !?" Raut wajah Leena jadi ketakutan. "Alzen? Sini sebentar."

"Ada apa?" Alzen menghampiri.

"Hahaha..." Ayah Rosita terlihat sangat bersuka cita. "Ohh iya... Aku ingin mengucapkan terima kasih ke kalian semua. Aku ingin cerita panjang lebar ke kalian. Namun sebelum itu... perkenalkan, Namaku..."

“Alzen! Ini-“

"UAGHH !!"

"... !?" 

Seketika semuanya terdiam menyaksikan Ayah Rosita tertusuk dari belakang di bagian dada oleh tikaman tajam akar tanaman itu.

"Ba... Bagaimana mungkin!?" Alzen terkejut.

“…!!?” Chandra hanya diam memucat dengan mata terbelalak.

Edrick kembali melihat ke belakang. "Tanaman itu!? Masih-"

"A... Ayah? Ayah!? AYAHH! BANGUN AYAHH! AYAH!"  

Leena terlihat murung dan menyesal berkata-kata. "Jika saja aku lebih cepat menyadarinya... Quest ini... Rank... B"

"Ayah!" Rosita bercucuran air mata, Ayahnya terbunuh di depan matanya. "Ayah!!"

Murkalah Alzen, wajahnya memerah dan urat kepalnya keluar. "KURANG HAJAR!! Aku akan membakarnya sampai jadi abu..."

"INCINERATE!" 

Alzen menyemburkan api ke tanaman itu, terus menerus seperti membakar sampah dan tak berhenti sampai terbakar sepenuhnya dan menjadi abu.

"..." Leena hanya berdiam mememdam kesalahannya sambil memegang erat Quest Sheet Rank B. “Tidak mungkin monster Rank B akan dengan mudah dikalahkan, aku betul-betul terlambat menyadarinya.”

"Sial! Aku akan melakukan hal yang sama jika aku masih ada sedikit tenaga !!" Chandra marah.

Edrick menunjuk Edgar. "Partner, cabik-cabik monster itu sampai tak tersisa."

"GRUOAAAAA!" Edgar berteriak dan melakukan permintaan Edrick.

“Hentikan!” Sahut Leena. “Tanaman itu sudah benar-benar mati sekarang. Mau kalian serang sebagaimanapun, yang terjadi tetaplah sudah terjadi!”

Leena menghampiri Rosita yang masih terus berduka. "Rosita, Aku minta maaf. Semua ini karena aku lalai menyadari tingkat kesulitannya dari awal."

“GRRGHH !! Hah… Hah…" Alzen masih murka di atas abu tanaman itu.

"Kalau tahu begini... Harusnya..." Chandra memukul-mukul tanah dengan tangan kiri dan tangan yang satunya menutupi meatanya, dengan kertak gigi ia kesal dan marah, namun sudah terlambat.

"Ayahh !!" Rosita tak henti-hentinya menangis. “Baru saja kita…”

“Maafkan kami Ros-”

"Ini bukan salah kalian! Barusan, kalian sudah bertarung dengan sangat baik. Hanya saja permintaanku yang terakhir. Bantu aku membawa ayahku. Aku ingin menguburkannya disamping ibu..."

"Maaf atas semua tragedi ini. Tapi aku tak akan ikut lebih jauh." Edrick mengangkat kedua tangannya. "Aku anak hutan, Tak tertarik ke kota. Aku juga turut berduka cita namun, apapun alasannya aku tak akan kesana. Bye-bye... "

"Edgar... Ayo !!"

"Haurr... Haurr."

“Cih! Masih bicara begitu,” Kesal Chandra. “Padahal separuhnya juga karena beruangnya itu.”

***

Sesampainya di kota, Di area kuburan yang berada di ujung timur kota, Mereka menguburkan Ayah Rosita disamping kuburan ibunya. Mendoakannya dan mengiklaskannya.

***

Keesokan hari, di ruang kelas Ignis sehabis pelajaran kelas usai dan kelas sudah cukup kosong dan hanya diisi murid-murid yang masih nongkrong di kelas. Alzen dan Chandra menceritakan pengalaman kemarin pada Lasius di meja guru.

"Huahahaha !!" Lasius tertawa terbahak-bahak.

"Lohh? Guru tidak marah pada kami?" tanya Alzen.

"Wahahaha, Untuk apa marah? Kalau kalian sudah jelas-jelas berhasil dan kembali dengan tubuh utuh. Kalian sudah menunjukan diri kalian hebat," balas Lasius.

"Tapi... Kau tak khawatir kalau kami gagal," tanya Chandra.

“Dan kami juga sebenarnya gagal. Kami tak berhasil menyelesaikan Questnya.” Balas Alzen dengan kepala tertunduk.

"Yaa ... Kalau itu terjadi, Lain cerita. Aku sudah tak akan bisa dengar cerita ini langsung dari kalian. Karena kalian juga sudah dikubur. Hahaha!” Jawab Lasius dengan enteng. “Tapi lihat! Kalian menang! Kalian berhasil dan kalian kembali dengan selamat. Tapi jangan terlalu sering menantang keberuntungan seperti ini ya.”

“Ya, mungkin kami selamat, tapi… Ayah Rosita…” balas Alzen dengan murung.

“Dia…”

“Ini juga salah kalian karena lalai! Lagian kan, aku cuma minta mengerjakan yang Rank C saja. Kalian malah... Hahahaha !!"

"Kau tak bilang soal Rank-rank apapun itu kemarin." Alzen membantah.

"Iya... Iya. Tapi tak kusangka saja ada yang berani-beraninya kalian ambil Rank B. Huahahaha !!" balas Lasius. "Kalau Guru kalian bukan aku, pasti sudah dihukum. Tapi jangan salah paham... Akupun akan sedih sekali kalau muridku terbunuh dalam Quest. Bahkan yang terbodoh dan terbrengsek sekalipun tetap jadi sebuah duka bagi gurunya."

“Tapi masalahnya…,” balas Alzen.

“Iya-iya aku tahu. Aku bilang begini bukan untuk jadi orang tidak berperasaan, tapi kalian harus mulai terbiasa dengan ini.” Kata Lasius. “Semakin banyak Quest yang kalian lalui nanti, setelah lulus. Terbiasalah dengan kegagalan. Berduka boleh, karena target yang harus kita lindungi malah jadi korban. Tapi jangan terlalu merasa bersalah begitu.”   

"Baik guru, kau pengertian sekali,” komentar Alzen.

"Ya! Itulah aku!"

"Rank itu apa sih?" tanya Chandra. "Sepertinya cuma di Vheins yang ada begitu?"

"Nak... Kota ini adalah kota Inovasi, banyak alat-alat dan ide-ide hebat berawal dari kota Vheins. Kami memodifikasi sedikit sistem Quest yang Mainstream itu, menjadi terukur sejak awal. Salah satunya sistem Rank itu. Biasanya Rank di berikan Wanted List (Daftar buronan) kan? Tapi di Vheins berlaku juga untuk Quest. Dimulai dari Vheins kota-kota besar yang lainnya juga beberapa menerapkan sistem Rank ini. "

"Lalu apa artinya... Rank A-D itu?" tanya Alzen.

"Huahahaha... kalian belum tahu rupanya. Aku jelaskan dari yang termudah dulu ya... Rank D Fokus pada membantu keseharian penduduk Vheins, bahkan anak usia 12 tahun pun boleh sesekali mengambil Quest ini untuk uang tambahan. Karena Tugasnya mudah dan tak berisiko tinggi. Tapi aku hanya melebih-lebihkan sih, jarang anak-anak disini mau repot-repot cari uang.”

Sambung Lasius, ”Rank C adalah yang aku minta pada kalian... Bertarung di luar Vheins tapi hanya melawan sejumlah monster lemah, gathering ingredients (mengumpulkan bahan baku), atau mengantarkan surat maupun barang-barang. Mudah dan tak berbahaya kan?”

Mereka berdua mengangguk.

“Dan itu yang aku minta pada kalian!" sahut Lasius. “Supaya kalian tahu rasanya bertarung sungguhan di luar sana. Namun Rank B memang jauh lebih sulit dan berbahaya dibanding Rank C. Karena yang kau lawan adalah *Boss Monster. Meski hanya 1 monster tapi sangat kuat, Rank B memerlukan lebih dari satu orang. Tapi hadiahnya besar untuk dibagi-bagi. Cuma ya... Quest kalian gagal sih. Syukur-syukur klien kalian masih mau bayar separuhnya."

*Boss Monster adalah monster yang jauh lebih kuat dari monster lain di sekitarnya.

"Si Rosita masih mau bayar kita penuh,” kata Chandra. “Tapi..." 

"Kita menolaknya dan mengembalikan uangnya,” sambung Alzen. “Dia hidup sendiri sekarang. Tak tega rasanya. Dia lebih perlu uang itu daripada kita.”

“Karena tidak ada siapa-siapa lagi disini,” sambung Chandra. “Ditambah biaya hidup Vheins yang tinggi, dia memutuskan ke rumah bibinya. Aku harap dia baik-baik saja.” 

"Rank B saja sudah begitu buruk bukan? Dan Rank A yang jauh lebih sulit dari yang sebelum-sebelumnya. Lawan kalian mungkin tak selalu monster lagi nanti, tapi bisa manusia, atau yang terburuk... Organisasi kriminal!” kata Lasius. “Kalian siap menghadapi mereka nanti?”

“Gulp…” Chandra merinding sambil menelan ludah.

“O-organisasi kriminal?”

“Ya! Mereka tidak lagi individu, melainkan kelompok penjahat yang lebih bisa berpikir dibanding monster. Pesanku kalian jangan ambil yang ini dulu. Lagipula kalian harus di tingkat 2 dulu atau sudah bergabung dalam Guild untuk dapat izin mengambil Quest ini."

"Aku ingin mengambil Quest Rank A!" Alzen antusias.

Lasius memukulnya.

"Adududuh..." Alzen mengusap-usap kepalanya.

"Nyawamu lebih penting dari uang dan ketegangan semata. Kalian hanya beruntung saja bisa selamat atau mendapati Boss yang relatih bisa kalian imbangi. Atau punya kelemahan yang kalian bisa eksploitasi."

“Ditambah lagi, ada orang asing yang membantu kami,” kata Chandra.

"Tadi Guru bilang sudah bergabung dalam Guild? Apa maksudnya? Guild itu apa?" tanya Alzen dengan banyak ketidaktahuan.

"Soal itu, lain waktu saja aku jawab ya..."

***

Di luar kelas Ignis.

“Wahh… Kalian sudah selesaikan tugasnya ya?” tanya Lio sambil menyapanya.

Angguk Alzen dan Chandra.

“Kok kalian tidak kelihatan senang?” tanya Lio.

“Kami gagal...,” Balas Alzen.

“Ayah pemberi Quest kami yang harus kami selamatkan, malah terbunuh….”

“Haa? Terbunuh? Kok bisa?” tanya Lio lagi. “Questnya kan mudah, memangnya kalian melawan siapa?

“Alzen,” sapa Leena di luar kelas Ignis.

“I… Iya?” 

“Besok malam, datang ke rumahku ya. Aku ingin membicarakan sesuatu," kata Leena dengan raut wajah yang sedih. "Ini tentang Ayahmu.” Leena mendekat dan membisiki Alzen, “Kildamash Franquille."