Episode 9 - Beastmaster



Mereka keluar dari kota Vheins. Dari magic gate itu menteleportasi mereka bertiga melewati the Abyss dan ke gerbang di Area 1 Vheins.

HWAAAAA !! Syusshhh…

"Aku benci portal," keluh Alzen. "Pusing banget rasanya di dalam sana."

"Hahaha." Chandra mentertawainya. "Memang di dalam portal itu bikin pusing."

"Sekarang jam 12 siang." Rosita melihat jam tangannya. "Kalau bisa,kita cari ayahku secepat mungkin lalu kita segera pulang, sebelum matahari terbenam."

Mereka berempat tiba di Magical Forest. Tempatnya seperti hutan pada umumnya. Hanya saja, pohon-pohon disini banyak dikelilingi bola-bola cahaya seperti kunang-kunang yang bergerak lambat di sekitar pohon. Dan warna pohonnya condong berwarna hijau ke biruan atau cyan, dan batang pohonnya mengeluarkan sinar terang secara kelap-kelip. 

Disini juga banyak binatang dan monster-monster unik. Beberapa penyihir bisa menggunakan sihir dengan lebih baik disini. Karena mereka bisa menggunakan Aura yang berasal dari segala tumbuh-tumbuhan dalam hutan ini. Ya... Karena pohon disini memproduksi Aura mentah yang bisa digunakan para penyihir.

"Hei! Rosita," tanya Leena.

"Ya? Kenapa?" balas Rosita sambil terus berjalan.

"Kenapa kamu ikut dengan kita. Bukannya Klien tinggal duduk manis saja dan menunggu hasil," tanya Leena.

"Tak apa! Lagipula ini atas kehendak-ku sendiri. Karena, Quest ini menyangkut soal ayahku, Aku akan gelisah sepanjang waktu kalau cuma menunggu di rumah sendiri saja. Sekalian... Aku akan menunjukan jalan ke kalian."

"Ohh begitu... Jarang-jarang aku menemui Klien yang mau terlibat langsung." Kesan Leena yang berjalan tenang sambil tangan kanannya terus memegangi gagang pedang. "Lagipula, dia terlihat seperti tidak tidur berhari-hari, kantung matanya tak mungkin berbohong."

***

Selagi mereka terus berjalan, mereka menemui jalur bercabang.

"Ke kiri atau kanan nih?" tanya Chandra.

“Rosita?” tanya Alzen.

"Kiri… Ikuti aku saja... Hutan ini memang membingungkan seperti labirin. Tapi aku dan ayahku hafal jalan di hutan ini," balas Rosita.

Krssekkk! Krssekkk! 

Alzen mendengar suara dari semak-semak. "Hei kalian dengar sesuatu?"

Chandra dan Leena menganguk. "Ya aku dengar."

Lalu muncul segerombol monster kuning berbentuk bulat, agak sedikit lonjong. Memiliki gigi tengah seperti kelinci dan ekor bulat berbulu berwarna pink. Dengan dua buah telinga seperti kucing. Berjalan dengan melompat-lompat dengan tubuhnya yang bulat.

"Monster!" Chandra panik.

"Tenang saja. Mereka Chobi. Monster asli hutan ini,” Rosita menjelaskan. “Mereka tak berbahaya kok. Malah cukup berat buatku menyebutnya monster."

"Kenapa?" tanya Chandra.

"Karena mereka imut..." Rosita gemas dan menggendong salah satu Chobi di depannya.

"Mereka jinak?" Leena menggendongnya salah satu Chobi itu. "Lucunya... Tapi giginya terlihat kuat sekali."

"Ya. Untungnya mereka Herbivora. Hal terburuk yang mereka buat paling-paling menyerbu caravan yang membawa sayur-sayuran. Atau lumbung desa-desa kecil dekat sini. Tapi mereka tidak akan pernah masuk ke Vheins. Ya kalian paham lah... Kenapa?" balas Rosita.

"Karena Magic Gate itu ya," jawab Alzen.

"Yap..." Balas Rosita. "Meski dalam jumlah besar, mereka termasuk hama. Hehe… Tapi aku senang kalian cukup nyambung denganku. Padahal kita baru kenal."

Mereka tak membalas dengan kata-kata, tapi hanya dengan senyum mereka sudah cukup menjelaskan semuanya.

"Oke Alzen, Chandra dan Leena sedikit lagi kita sampai."

"Oke!" balas mereka bertiga dengan menangkat tangan kanannya ke atas.

***

Beberapa menit kemudian. Mereka terus berjalan dan sampai pada tempat yang Rosita tunjukan.

"Ayah... Selalu Gathering (Mengumpulkan) beberapa bahan baku seperti Iron Wood disini," kata Rosita.

"Kalau begitu, kemungkinan besar ayahmu ada di dekat sini," kata Alzen.

"Tunggu dulu. Ayahmu sudah menghilang 3 hari lalu kan? Mungkin sudah tak disini lagi," komentar Chandra.

"Hei!" Rosita seketika marah padanya. "Jangan ngomong yang bukan-bukan dong!"

"Cuma asumsi kok,” Balas Chandra. “Belum tentu terjadi juga kan?"

"Kalian berdua, tenang dulu... " Alzen melerai mereka.

"Psst..." Leena menyuruh mereka diam. "Sesuatu mendekat."

Mereka belum sempat bersembunyi. Seekor Monster buas muncul menghampiri mereka. Seekor beruang dengan bulu-bulu kuning dan corak-corak garis seperti harimau.

"Celaka!" Rosita ketakutan. "Tiger... Bear!."

"Waa! Bos monster kecil yang tadi muncul!" Chandra gemetar.

"Aku jadi ingat Monster yang di Magic Show waktu itu." Komentar Alzen tenang.

Tanpa basa-basi Leena mengeluarkan pedangnya dan menebas Beruang itu dengan kecepatan tinggi seperti yang ia lakukan sebelumnya pada monster gas hitam itu.

“Hah!?” Leena terkejut. "Tak berpengaruh!?"

"Beruang itu Immune Elemen Cahaya," sahut Rosita.

"Masih ada kita!" Alzen dan Chandra serentak menembakan semburan api ke beruang itu bersamaan "Fire Blast !!"

Beruang itu menggeliat kesakitan, bergulang-guling di tanah untuk memadamkan api di tubuhnya. Namun tak berapa lama, beruang itu bangkit lagi dan membalas serangan mereka.

"Dia belum mati!" Rosita panik. "Kita harus kabur!"

"Kabur? Ya tidaklah!” Kata Alzen dengan percaya diri. “Chandra! Gunakan Elemen Airmu. Aku akan melakukan Combo seperti waktu lawan pak Lasius Kemarin."

"Aku mengerti!" Chandra melihat sekeliling untuk mencari sumber air yang bisa digunakan. “Ahh itu dia!”

"Waterball !!" 

Chandra mengumpulkan air di tangannya. Yang perlahan-perlahan semakin besar

Sedang Alzen mengumpulkan petir sebanyak mungkin. “Leena! Tolong beri kami waktu. Jaga beruang untuk supaya tidak menyerang kami.”

Tentu saja, Si Tiger-Bear itu tak membiarkan mereka melakukan sihir, Beruang berbulu kuning itu maju dan menyerang mereka.

"Aku akan menahannya, sampai kalian siap!" Leena inisiatif melawan Beruang itu untuk memberikan waktu ekstra pada mereka berdua melakukan Cast.

"Oke, kau siap Alzen?"

"Kau serang duluan. Ini belum cukup!" Alzen masih mengumpulkan petir.

"Waterball…" 

Chandra mengecilkan ukuran bola air itu, kemudian menembakannya dengan cepat. "Leena... Minggir!"

"Baik!" Leena segera melompat mundur dan menjauh dari sana. 

Sesaat setelah Leena menyingkir. Bola air seukuran bola bekel itu mengenai Beruang itu.

"Hei! Kalau sekecil itu apa pengaruhnya!" Bentak Leena.

"Lihat saja sendiri!" Chandra melompat dan mengangkat tangan kanannya keatas.

"TORRENT!" 

Bola air itu meledak membuat hembusan besar sebuah pusaran air yang besar dan membuat beruang itu terpental ke atas. Tak selesai sampai di situ. Beruang itu sekarang jatuh kembali dan terseret arus spiral yang membuatnya berputar-putar di dalam pilar air tersebut. Sampai ia terjatuh dan basah kuyup.

Sahut Chandra. "Alzen Sekarang !!" 

“Thunder Shock!”

Alzen menembakkan sejumlah besar petir lurus menyambar ke depan, untuk menyengat Tiger Bear yang berputar-putar di atas ombak air yang membentuk seperti angin tornado.

"Earth Wall!"

PZZZZSSSSTTTT!

"Petirnya berbelok... Kenapa?" Leena heran.

Tapi Alzen terus menembakan arus listrik itu sampai ia lelah sekali.

"Tembok tanah? Sejak kapan ada disana?" Chandra heran.

Lalu tembok itu perlahan-perlahan retak oleh karena serangan Alzen dan hancur berkeping-keping setelahnya, Lalu terlihat sosok siluet seseorang di dalam debu bekas tembok tanah itu. Berdiri di depan Tiger-Bear itu seolah melindunginya.

"Siapa kamu?!" Rosita langsung bersikap defensif dan mengeluarkan pisau yang disarungkan di ikat pinggangnya.

Muncul sosok seorang pria dewasa. Ia tinggi, berjaket hitam dari kulit dengan hoodie tanpa lengan hingga terlihat bisepnya yang kekar dan juga jaketnya tidak di tutup hingga terlihat juga perutnya yang sixpack, mengenakan celana panjang hitam yang sobek-sobek, dengan rambut panjang sepundak dan melewati leher, yang keluar dari hoodienya. Ia membawa tongkat besi biasa, di tangan kanannya yang terdapat karat dan darah di ujungnya. Dari tampangnya, kira-kira ia berusia 35 tahunan.

"Wah, wah, wah... Kalian anak-anak yang kejam ya... Membunuh kawanku Edgar sampai segitunya," kata orang itu. “Kalau mau berantem... Maju sini!"

"Kenapa kamu melindunginya!" bentak Rosita. "Tiger-Bear itu berbahaya tahu!"

"Jangan asal ngomong... Edgar ini Teman, Kawan, Partnerku. Sesuatu yang berharga buatku." Balas orang itu sambil mengelus-elus Tiger Bear yang besar itu seperti peliharaan. “Lihat apa yang kalian lakukan, bulu-bulunya jadi basah begini. ” 

"Dijadikan Partner!? Memangnya bisa?" Alzen bingung. "Membuat monster buas itu jinak?"

“Buruan minggir darisana, atau enggak di cakar kamu!” Chandra memperingatkan.

“Apa dia yang membuat dinding tanah barusan?” tatap Leena dengan penuh curiga.

Lalu ia memperkenalkan diri. "Aku Edrick, seorang Beastmaster. Orang-orang sering memanggilku begitu. Aku sebenarnya penyihir juga. Tapi aku ini tak lebih dari bocah hutan. Lahir di hutan... Tinggal di hutan, hidup di hutan. Mungkin aku juga akan mati di hutan."

"Kalau kamu bukan orang jahat. Apa kamu melihat pria paruh baya yang sedang berjalan-jalan mengumpulkan sesuatu di sekitar sini?" tanya Alzen.

"Tunggu!" Leena menghunus pedangnya di depan Edrick.

"Woo, Woo, Woo!" Edrick mengangkat kedua tangannya.

"Kau orang asing disini, Kami belum bisa mentah-mentah percaya padamu semudah itu."

"Halah... Memangnya tampangku ini, tampang orang jahat? Aku tak sedikitpun punya rencana buruk pada kalian. Malah kalian yang hampir membunuh temanku ini. Harusnya aku yang marah pada kalian!"

"Hrr... Hrr..." sambung Edgar si Tiger Bear yang masih terbaring dengan basah kuyup.

"Baiklah..." Leena menyarungkan pedangnya kembali. "Tapi sedikit saja kau mencoba sesuatu yang sebaiknya tak kau lakukan, Aku tak segan-segan membuat pedang bersihku dinodai darahmu."

"Hoo… Aku takut… Aku diancam." balasnya santai dengan nada meledek. "Biar aku gak sekolah seperti kalian tapi aku ngerti yang baik dan yang buruk kok. Tadi kamu tanya apa? Pria paruh baya?"

"Begini, Kita kesini melakukan Quest untuk mencari ayah gadis ini," balas Alzen.

"Tidak... Aku tak bertemu dengan siapapun untuk waktu yang lama," jawabnya

"Ahh percuma ngomong sama dia deh..." Chandra menghela nafas. "Semuanya... Kita lanjut cari di tempat lain."

Lalu mereka bergegas pergi menuju ke arah yang ditunjukan Rosita. Namun beberapa saat.

"Hoi!, Tunggu aku... Boleh aku ikut?" pinta Edrick.

"Hrr... Hrr." Edgar bicara.

"Kenapa kau mau ikut? Kami tak membagi hasil denganmu," balas Leena.

"Tak apa, di alam bebas uang tidak ada nilainya. Aku hanya ingin mengisi waktu dengan orang lain saja. Boleh?"

"Tiii... dak...," balas Chandra dan Rosita bersamaan.

"Ayo! Bergabunglah...," ucap Alzen tersenyum.

“Alzen!” Bentak Chandra dan Rosita.

"Tuh... dia bilang boleh." Kata Edrick sambil terus berjalan bersama mereka. Dengan beruang kuning Edgar yang mengikutinya.

***

Mereka terus berjalan menyusuri hutan,

“Duhh… Apa gak ngeri nih?” tanya Chandra yang matanya selalu berjaga-jaga ke belakang. “Berjalan di tempat penuh kejutan ini, bersama dengan beruang besar ganas di belakang kita?”

“Tenang-tenang. Edgar tak akan melukai kalian. Justru kalian yang melukainya tadi.”

“Dia itu beruang! Beruang!” Chandra menegaskan. 

“Ya aku tahu,” jawab Edrick dengan santai.

“GRRR !!” Chandra kesal.

“Tenang saja Chandra bodoh!” Kata Leena yang berjalan di belakang beruang itu. “Kalau beruang ini berbuat macam-macam. Pedang ini selalu siap.”  

“Huu… Ngeri…” Ledek Edrick.

“Sssttt !! Disekitar sini,” Kata Rosita. “Ayahku menghilang di area ini.”

Dari balik pohon-pohon dan semak, mereka mengintip ke suatu lapangan besar. Mendapati seekor tanaman raksasa pemakan daging sedang menyerang membabi-buta pada apapun yang ada di sekitarnya

"Apaan itu!?" Chandra kaget. "Tanaman sebesar itu dan menyerang apapun yang ada di sekitarnya."

"Itu Man-Eater Plant. Dia makan manusia loh... Tapi jarang ada yang sebesar ini." Edrick memberi tahu.

Ukuran monster tanaman itu kira-kira sebesar lapangan futsal. Dengan bunga merah di tengahnya dan gigi taring di tengah-tengah bunga itu. Monster ini hidup dan punya pikiran, Meski hanya sebatas insting semata. 

Ia memiliki akar tebal seperti tentakel untuk menangkap dan mencabuk mangsa atau melindungi diri dari ancaman, meski sebenarnya tanaman ini yang lebih mengancam. Totalnya ada 8 tentakel.

Saat ini ia sedang membabi-buta dan akarnya digunakan seperti cambuk yang menyerang segala arah, Apabila mangsa sudah mendekati mulutnya, Siap-siap dicerna olehnya. Karena tanaman itu, pepohonan disekitarnya menjadi gundul akibat pada tumbang, yang hanya menyisakan tanah dan rerumputan kosong yang di kelilingi pohon.

"Karena monster itu tanaman. Satu keuntungan buat kita adalah ia Immobilize (Tak bisa bergerak atau berpindah tempat)." Rosita menerangkan.

"Kau tahu monster ini? Aku saja baru pertama lihat," kata Edrick.

"Terus kau tahu darimana? Katamu barusan soal jarang ada yang sebesar ini," tanya Chandra.

"Katanya kau anak hutan. Tapi tak pernah bertemu monster ini?" balas Rosita.

"Hahaha, serius amat pak... bu. Ya, aku tahu lah!" balas Edrick. ”Cuma bercanda.”

“Saat-saat begini, bukan saatnya bercanda,” kata Chandra yang ketakutan. “Taruhannya nyawa ini.”

"Rosita!" Alzen lalu brtanya, "Apa kelemahan monster ini?"

"Kau berencana melawannya?" tanya Rosita. "Ia tidak berbahaya selama kita di luar jarak serang akarnya. Jadi..."

"Jawab saja,” sambung Chandra. “Aku juga akan membantu."

"Api! Monster tanaman lemah dengan api." Jawab Rosita.

"Aku mengerti... Chandra, Leena dan Ed ... Ayo bertarung bersama." Alzen dan yang lainnya serentak maju untuk melawan monster besar itu.

"Man-Eater itu melihat kita!" Chandra panik. "Hee? Dia melihat dengan apa?"

"Chandra, Jika akarnya mendekat langsung bakar dengan api!" Alzen mengkomando.

"Aku bisa menebasnya dengan pedangku." Leena segera maju menyerang dan sibuk konsentrasi menebas satu persatu akar yang datang menyerang.

"Aku, biarkan aku meng-cast sihir apiku terlebih dahulu," kata Alzen. “Dan kau Edrick… Loh Edrick?”

Sementara Edrick sudah melangkah maju duluan...

"Aduuh... kalian bersusah payah sekali sih," jawab Edrick sambil berjalan santai, mengangkat bahu dan geleng-geleng kepala, mendekati pusat Man-Eater Plant itu seolah tak terjadi apa-apa.

Edrick seorang pengguna Earth Element yang mahir. Ia bisa mengerakkan tanah tanpa Cast dan seolah terlihat seperti otomatis saja. Setiap akar itu datang menyerangnya, tanah di sekitarnya akan naik membentuk tembok balok dan menahan serangan itu dari arah manapun. Dan setelah tembok itu melindungi dirinya temboknya langsung turun kembali ke tanah. Sungguh kemampuan yang menarik.

Mereka menerjang serangan cambuk dari akar-akar itu. Sementara Rosita hanya memandang mereka dari semak-semak dan dari balik pohon. Melihat betapa kuatnya masing-masing dari mereka bertindak disana.

"Jirr! Si Ed itu enak banget, tinggal maju aja," komentar Chandra sambil menahan membakar satu persatu akar. "Huaa! Nyaris!"

"Sial, Akarnya terbuat dari Iron Wood keras seperti besi. Tapi lentur seperti karet." Leena menjauh dan menghentikan serangan. "Kalau terus dilanjutkan pedangku bisa patah."

"Hoi! Cewek Pirang! Kau kebingungan ya?" Ledek Edrick. "Akar monster ini terbuat dari besi di dalamnya. Jadi jangan diserang pakai pedang!"

"Cih... Jadi benar." Leena kesal.

"Tinggal sedikit lagi!" Alzen berancang-ancang melakukan serangan sihir apinya. 

"Omega... Fire... PIERCE!"

Alzen membentuk tikaman tombak api yang bergerak secepat peluru dan dari menembus tubuh tanaman tersebut. Alzen fokus menyerang mulutnya.

Chandra menyelimuti kedua tangannya dengan api. Ia menempelkan tangannya ke tanah dan dari situ apinya menjulur ke bawah tanaman itu dan... 

"ERUPTION!" 

pusaran api menyembur dari bawah tanah.

"Chandra kau baik-baik saja?" Alzen melihat Chandra terkapar.

"Tak apa... Aku hanya kelelahan saja. Hosh...Hosh." Chandra bercucuran keringat. "Spell yang barusan sangat melelahkan."

Selanjutnya Leena dengan bantuan elemen cahaya membuat dirinya bergerak cepat.

"Dancing Blade Illumination !!" 

Leena menebas satu persatu ujung-ujung akar-akar tanaman itu yang sebelumnya tak bisa ditebas, sekarang terpotong-potong seperti irisan kacang panjang.

"Hehehe... Kalian memang maniak penyiksa monster ya...," komentar Edrick sebelum melontarkan serangannya juga. "Yah... Karena aku dapat sisa-sisanya doang."

Edrick jongkok, Kedua tangannya menyentuh tanah dan tubuhnya menunduk. Lalu dengan cepat, "BING..." Edrick berdiri dan bergerak seperti habis mencabut rumput dan berdiri setelahnya secara tiba-tiba, "GO !!" Tanah dari bawah muncul dalam bentuk tangan ... meninju tanaman itu dari bawah dan akarnya terlepas.

"Hebat! Kemampuan elemen tanahnya sudah sangat mahir." Alzen terpukau.

"Adududuh... Monster yang malang," kata Chandra yang terkapar di tanah.

Leena menyarungkan pedangnya. "Dia hangus terbakar. Dipotong-potong dengan pedang dan akarnya yang berada dalam tanah, lepas semua darinya. Jadi sekarang... Siapa sebenarnya yang monster sih?"

Sesaat setelah tubuh Man-Eater itu terjatuh dan menjadi tanaman yang benyek. Seseorang keluar dari dalam tubuh tanaman besar itu. Seorang pria paruh baya membawa kapak untuk menebang kayu di tangannya. Dengan tubuh berlendir akibat berada dalam tubuh tanaman itu.

“Haaa? I-itu kan!?” Alzen tak habis pikir.

Rosita yang melihat dari jauh, “A-Ayah!?” 

“Ahh… Akhirnya bisa keluar juga!”