Episode 8 - Rank B, Quest



?Setelah kelas usai. Alzen dan Chandra langsung menuju Area 3 untuk mengerjakan 1 Quest.

"Haduh ... Guru kita bertingkah lagi deh," kata Chandra sambil berjalan mengepal kedua tangannya di belakang kepala.

"Soal Tugas ini? Ngomong-ngomong... Quest itu apa sih? Dan darimana kita dapat Quest?" tanya Alzen yang tak mengerti.

"Loh? Kamu gak ngerti Quest?" Chandra heran. “Kau ini Kuper abis!”

"Iya-iya…," balas Alzen sambil terus berjalan di kota.

"Ahh… Bagaimana jelasinnya ya? Quest itu intinya adalah pekerjaan dari orang lain yang di pasang di tempat-tempat ramai untuk dikerjakan para penyihir seperti kita, gunanya untuk membantu orang itu dengan mengerjakan tugas yang tertera di dalamnya dan kita yang mengerjakannya akan dibayar setelah Quest selesai. Begitu!" Chandra menjelaskan.

"Ohh... Aku mengerti. Intinya tugas kan...," balas Alzen mengangguk.

“Kamu benar-benar mendengarkan gak sih?”

***

Beberapa menit mereka berdua berjalan-jalan di kota. Mereka tiba di sebuah tempat yang ramai di kerubungi penyihir-penyihir muda dari kelas Ignis. Di tempat itu tertera banner bertuliskan Quest Center.

"Quest Center!?" Chandra terlihat bingung. "Kok ada yang begitu?"

"Ada apa memangnya?" tanya Alzen.

"Setahuku Quest diambil di tempat ramai, di tempeli di papan. Dipajang di tengah keramaian. Seperti di jalanan dan di bar-bar. Tapi... disini kok? Quest Center?" Chandra heran.

"Coba kita lihat saja dulu deh... Lagian teman-teman Kelas Ignis juga banyak berkerumun disana."

Quest Center ini banyak tersebar di berbagai sudut kota Vheins terutama Area 3. Penyebarannya seperti Convenience Store yang berada di berbagai tempat setiap jarak tertentu. Hal ini memudahkan untuk penduduk mengirim Quest dan penyihir Vheins menerima Quest jadi lebih mudah.

Bangunannya seperti sebuah ruko kecil dan bertingkat, Pelayanannya seperti loket bank atau loket tiket dengan kaca yang dibolongi untuk menerima dan mengirim Quest. 

Ya ... Karena Quest Center ini berurusan dengan uang yang tak sedikit, Maka lantai 2 dijadikan gudang penyimpanan uang untuk jadi tempat menitipkan *Reward dari pembuat Quest yang setelahnya akan diberikan reward pada penyihir yang menyelesaikan Quest.

*Reward (Hadiah Uang dan bisa juga barang, setelah menyelesaikan Quest)

***

"Halo selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" sambut seorang petugas wanita dengan ramah. Ia berpakaian seperti karyawan bank.

"Ahh... Kami berdua ingin mengambil Quest," jawab Chandra dengan gugup.

"Quest dengan Rank apa?"

"Rank, apa maksudnya Rank?" tanya Chandra tak mengerti.

"Rank dibuat untuk mensortir tingkat kesulitan dan bahaya Quest yang diambil.” Katanya sambil mengacungkan telunjuk ke atas. “Vheins menyediakan sistem khusus ini. Tersedia Rank A – D. Tapi, untuk pelajar tingkat 1 seperti kalian. Dibatasi maksimal Rank B saja."

"Baiklah. Kita ambil yang Rank B," jawab Alzen Spontan.

***

Setelah mereka berdua pergi dari Quest Center itu,

"Nah... Apa yang tertera dalam lembaran Quest ini?" Alzen membaca detail Questnya.


---

Title - FINDING MY LOST FATHER (RANK B)

Location - Magical Forest

Description –

Ayahku menghilang sejak beberapa hari lalu, Ia bilang ia hanya pergi mencari Kayu Mistik sebentar saja lalu segera kembali. Tapi sampai sekarang ia belum juga kembali. Temui aku di District K No 10.

Party - >3 People

Reward - 25.000 Rez

Client - Rosita

---


"Wow! 25 ribu Rez? ... Cuma mencari ayahnya saja?" Chandra tergiur. "Kita beruntung Alzen!"

"Aku tak begitu paham. Tapi aku rasa tugasnya tak akan semudah itu," balas Alzen.

"Loh? Cuma ke hutan, jalan-jalan sebentar, ketemu bapak anak yang mengirim quest ini dan Poof! 25 ribu Rez ditangan." Balas Chandra dengan antusias.

"Tapi ini, tulisan disini.” Tunjuk Alzen pada simbol ini >3 yang tertera di kertas. “Artinya dianjurkan setidaknya 3 orang atau lebih untuk mengerjakan Quest ini kan?".

"Ohh iya... Aku baru lihat, Quest ini ada anjuran berapa orang yang ikut serta. Kurasa sistem Quest di Vheins agak sedikit dimodifikasi deh. Di kampungku gak ada yang sedetail ini, malah ada *Suggested Party seperti ini segala." Kata Chandra.

*Suggested Party (Anjuran jumlah orang yang ikut serta dalam satu Quest yang sama)

"Tapi kita cuma berdua. Satu orang lagi siapa?" tanya Alzen.

"Entahlah. Pikirkan hal itu selagi ke District K No 10 ini saja dulu," jawabnya.

"Dimana tempat itu?" Alzen tak tahu.

"Lihat Peta, dong..."

Mereka berdua mencari sebuah papan berisi peta kota Vheins, cukup sederhana dan memudahkan orang luar atau yang baru pertama datang lebih mengenal tempat ini.

"M nomor 5, L nomor 8, K nomor 10. Ketemu!" Alzen membaca peta dengan tangannya yang sambil meraba peta. "Ahh! di sebelah sana!" tunjuknya.

***

Sesampainya di rumah klien mereka, Mereka berdua mengetuk pintu dan seorang perempuan remaja keluar.

"Uhmm... Kami mencari Rosita. Apa Rosita ada?" ucap Chandra.

"Aku sendiri... Aku Rosita, Kenapa?" Balas seorang gadis remaja yang cantik, kurus, tapi rambutnya acak-acakan. Kantung matanya juga hitam seperti mata panda dan ia terlihat lesu sekali.

“Ada urusan apa?" tanyanya dengan tidak ramah.

"Kami yang akan mengerjakan Quest darimu. Di deskripsi disuruh pergi menemuimu langsung terlebih dahulu." Balas Alzen.

"Ohh begitu! Akhirnya! Ternyata lumayan cepat ya." Raut wajahnya menjadi lebih gembira dan melompat kegirangan. "Kalian silahkan masuk dulu, biar kujelaskan detailnya pada kalian di dalam."

Alzen berkata dalam hati. "Kupikir kliennya anak-anak yang disuruh ibunya mengirim Quest. Ternyata seumuran kita."

***

Lalu mereka masuk ke dalam rumahnya,

"Ahh silahkan duduk, Biar aku ambil minum dulu."

"Tak perlu repot-repot." Alzen canggung.

"Ahh... Kalau bisa teh ya..." Pinta Chandra dengan duduk yang agak kurang sopan.

"Hei... Ini dirumah orang, jangan duduk begitu."

"Ahh maaf... Maaf."

***

Sesudah mereka duduk dan bertamu, Rosita memaparkan masalahnya. "Begini, Sejak Ayahku menghilang 2 hari lalu, Sama hari ini jadi 3 hari. Aku jadi tinggal sendiri di rumah ini dan setiap malam aku meng-khawatirkan ayahku. Ia terakhir menuju bagian timur Magical Forest. Sejak saat itu aku tak melihatnya lagi dan sampai sekarang ia belum juga kembali."

"Baik !!" Alzen naik dari tempat duduk. "Kita akan segera kesana sekarang."

"Hei... Jangan buru-buru dulu. Magical Forest adalah tempat yang berbahaya. Di lembaran-nya kan jelas-jelas kutulis 3 orang kan?" Balas Rosita. “Kalian tidak baca apa?”

"Tenang saja... Kami berdua penyihir yang kuat kok," kata Chandra.

"Tidak! Kalian tetap harus pergi bertiga. Meski kalian memang kuatpun aku tak inginkan ada yang yang jadi korban disana atau terjadi sesuatu yang buruk."

"Ahh ... Tapi kami bisa..." Chandra membujuk.

"Sudah kubilang! Tempat itu berbahaya!" Bentaknya. "Tidak ada tapi-tapi... Kalian cari satu orang lagi. Atau Quest ini biar orang lain yang tangani."

"Ba-baiklah... Tu-tunggu kami berdua disini," kata Chandra.

"Kami akan mencari 1 orang lagi." Balas Alzen. "Kami secepatnya akan kembali."

***

Mereka berdua jalan-jalan di kota, mencari orang ketiga yang akan menjalankan Quest.

"Memangnya, kau tahu mau mengajak siapa Al?" tanya Chandra.

"Ti-Tidak tahu juga sih..." Alzen menggaruk-garuk kepala

"Terus kita disini buat apa?!"

"Mengulur waktu... Sambil memikirkan siapa yang mau kita ajak."

***

Lalu setelah sekian lama waktu berlalu, Alzen dan Chandra mendapati anggota party ketiganya untuk menjalankan Quest.

"Leena !?" Alzen terkejut.

"Haa!? Ada apa?" Leena bingung. "Kenapa kamu sekaget itu melihatku?"

"Ahh... Maafkan aku. Tapi aku penasaran kenapa minggu lalu kamu tiba-tiba marah dan mengusir kami berdua?" Alzen gelisah.

"Jadi kamu mau bahas soal itu lagi ya. Sudah ya... Aku pergi." Leena mengacuhkannya.

Chandra memukul kepala Alzen.

"Adududuh... Sakit!" Alzen mengusap-usap kepalanya.

"Bukan saatnya bahas itu sekarang!"

Chandra menarik tangan Leena. "Ehh tunggu-tunggu, Leena kumohon tunggu."

"Lepaskan! His... Lepaskan! Atau..." Leena mengacam dengan menghunuskan pedang tepat ke wajah Chandra.

"Hee!? Santai, santai, santai. Santai dulu…” Kata Chandra sambil mengangkat tangan. “To...Tolong tenang dan turunkan itu dulu. Kami ingin minta tolong." Pinta Chandra dengan penuh keringat dan gemetar. "Dengarkan dulu ya... Aduh... Seram ya…"

"Aku tidak peduli! Hufft...," balasnya sambil menyarungkan pedangnya kembali dan membalikan badan.

"Hei! Tunggu! Dengarkan kami dulu." Alzen menjelaskan. "Kami berdua sedang menjalankan Quest nih. Kita butuh 3 orang dan saat ini, kita cuma berdua. Aku, Chandra dan kita memerlukan satu orang lagi!"

"Jadi, kau mengajakku bergabung dalam Party?" tanya Leena.

Mereka berdua mengangguk.

"Tidak." Leena menolaknya mentah-mentah. "Cari yang lain saja."

"Leena ... Aku butuh kamu," ucap Alzen.

"..." Leena terdiam.

"Tolong bantu kami, setidaknya bantu kami kali ini saja." Sambung Alzen. "Kita sudah membuat klien kita, menunggu terlalu lama. Jadi, Plss..."

"Aduh... Kalian ini, Baiklah. Tapi kali ini saja ya!"

***

Di perjalanan kembali.

"Tunggu, tunggu, tunggu. Kita kan belum boleh ambil Quest? Kok kalian sudah mengerjakan Quest?" Tanya Leena.

"Kau tahu? Guru kami orang gila!" Keluh Chandra dengan semangat. "Si Lasius itu tiba-tiba memberi tugas untuk mengerjakan Quest tiba-tiba saja. Jadi tolonglah... Bantu kami."

"Uangnya separuhnya buat kamu deh. Hadiahnya besar kok, 25 ribu Rez." Alzen mencoba membujuk terus-menerus.

"Heii!" Chandra tak terima uangnya dibagi sebesar itu

"Hahaha!" Tiba-tiba Leena tertawa. "Chandra... Tenang saja... Aku kaya. Aku tak perlu uang itu. Tapi aku senang dengan kegigihan kalian. Makanya aku ikut."

"Benarkah!?" Chandra kaget. Sedang dalam hati. "Aduh... Syukur..."

"Terima kasih Leena!" Alzen lega. "Tapi tenang kok, Kami tetap akan bagi ke kamu."

"Terkutuk kau Alzen!" Chandra murka dalam hatinya.

***

"Tunggu sebentar, Kemana kalian akan melakukan Questnya?" tanya Leena.

"Uhmm, katanya tadi... Sebelah timur Magical Forest," jawab Alzen.

"Ohh diluar Vheins ya? Baiklah. Nanti aku tunggu di gerbang, Aku akan menyusul nanti."

"Ada apa? Kau tak langsung saja dengan kami?" Chandra heran.

"Ahh... Aku baru teringat, ada urusan sebentar,” kata Leena. “Kalian tunggu saja disana. Aku akan menyusul kalian nanti. Sudah ya! Aku pergi dulu! Bye-bye!" 

***

Di rumah Klien mereka,

Tuk! Tuk! Tuk

Rosita menghentak-hentakkan kaki ke lantai. "Duh…Kenapa lama sekali sih?"

"Maaf, maaf... Kami ada sedikit kendala tadi," jawab Alzen.

"Tapi, kalian sudah mendapatkan orang ketiganya belum?" tanya Rosita.

"Sudah... Tapi ia tak ikut kemari. Dia akan menyusul kita di gerbang nanti." Balas Alzen.

"Beneran nih?" Balas Rosita.

“I… Iya dong…” Kata Chandra dengan ragu. “Duh si Leena bakal dateng gak ya?”

 "Kalau begitu, sekarang kalian bersiap-siap, Bawa Potion secukupnya, makanan secukupnya dan juga perlengkapan lainnya. Secukupnya."

"Memangnya kita mau berkemah?" Chandra heran.

"Sedikit saja tak usah terlalu banyak. Untuk berjaga-jaga." kata Rosita sembari sibuk berkemas.

***

Di pintu gerbang Vheins, atau yang dikenal sebagai Vheins Magic Gate.

"Mana? Dia tidak datang-datang." Rosita bosan menunggu.

"Tunggu sebentar lagi saja," balas Alzen.

“Si Leena ini bakalan dateng gk sih?!” Chandra menghentak-hentakkan gelisah.

"Aku sudah menunggu kalian lama dari tadi," keluh Rosita. "Disini harus menunggu lagi?"

"Oyyyy !!" Suara wanita dari jauh.

"Nah! Itu dia orangnya." Alzen menunjuk.

"Hoo... Dia ternyata pulang ganti baju. Kita malah masih pakai jubah almamater Vheins ini," ujar Chandra.

"Maaf buat kalian menunggu. Ayo kita berangkat!" kata Leena yang saat ini memakai baju yang lebih kasual dengan dominan warna biru turquoise dan lebih ringan, yang memudahkannya bergerak. Meskipun pertahanan dari armornya perlu dipertanyakan.

"Ohh iya. Aku belum tahu nama kalian," tanya Rosita. "Boleh perkenalkan diri kalian dulu."

"Aku, Alzen Franquille."

"Chandra Wang"

"Leena Leanford. Dan kamu?"

"Rosita." Ia memperkenalkan diri pada Leena. “Baik, kita berangkat!”



Ilustrasi tokoh: Rosita