Episode 7 - Role of Magic



Alzen melangkah dengan langkah yang gemetar. Meski sesungguhnya ia ragu, tapi di saat yang sama ia juga merasa ini kesempatan yang jarang dan memberanikan diri untuk mencobanya.

"Waduh... Udah gila nih si Alzen," komentar Chandra sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

"Ta... Tapi pak!" Ucap Alzen canggung dan takut. "Karena kata bapak ini simulasi pertarungan sungguhan. Bolehkah aku pakai ketiga elemen yang aku bisa pak?"

"Hmm... Bagaimana ya? Baiklah, pertarungan sungguhan tidak ada larang-larangan elemen." Raut wajahnya berubah, Lasius terlihat senang sekali saat ini. "Nah... Mari kita mulai!"

"Fire Stance !!" Lasius menyelimuti kedua tangan-nya lagi dengan api. Ia bergerak cepat dan meninju perut Alzen tanpa ragu.

Belum apa-apa, Alzen terlempar dan memuntahkan dari perutnya. "UAGHHHH !!" Tubuhnya berkeringat akibat gugup dan panas api lawannya. 

"Tadi Lio, sekarang Alzen. Kau mau membunuh Alzen ya!" marah Chandra.

Sedang para teman sekelas yang lain menontonnya dengan penuh resah.

"Hei..." Senggol salah seorang pelajar yang menonton. "Kok kamu tegang banget. Khawatir sama si Alzen itu ya?"

"Bukan... Aku tegang karena kalau nanti aku ditunjuk. Bisa remuk nih tulang rusuk."

***

"Padahal aku sudah mengurangi banyak tenaga." Kata Lasius sambil menepuk-nepukan tangan meremehkan. “Gimana nih? Cuma segini saja?”

“HWAAA Panas! Panas! Panas!” Alzen menggunakan Elemen Air untuk memadamkan api sekaligus untuk mendinginkan perutnya dan sedikit menyembuhkan luka bakar di tubuhnya. Meski ia terus bertahan menahan sakit yang luar biasa ini. Sudah ditinju pria paruh baya, terbakar pula.

Lasius perlahan menghampiri Alzen. "Hah? Ohh iya... 3 Elemen ya. Tak apa! Seperti yang kubilang barusan. Karena ini simulasi pertarungan sungguhan jadi sah... sah sa-."

Alzen sembari menahan rasa sakit di perutnya dengan tangan kiri, di tangan yang satunya ia mengarahkan ke depan dan.. 

“Thunder Shock !!”

DRUARRRR !!

Membalas dengan serangan petirnya yang menyebar menyambar Lasius yang belum selesai bicara. Seluruh student lain yang menontonnya terbelalak kaget.

"UAGHH !!" Lasius tersetrum, Ia merintih kesakitan sambil terus berusaha melepaskan diri.

“Kena!” Kata Alzen. “Tapi seranganku tadi, tak akan mungkin menumbangkannya.” 

"HYAAAA !!” Lasius berhasil melepaskan diri, aliran listrik yang merambat di tubuhnya langsung terhempas keluar bersamaan dengan api dalam tubuhnya. " Hosh... Hosh... Boleh juga..."

“Kali ini!” Lasius sekarang melompat dan mengepal kedua tangannya dan membantingkan kepalan tangannya ke tanah lalu mengeluarkan hembusan api besar di depannya.

“Fire Burst Impact !!"

HWOSSSHHH !!

“…!!?” Hembusan api besar kini menjalar cepat ke Alzen.

“Si-sihir itu kan!?” Komentar Lio dengan wajah pucat. “Hmm…” Lio seketika tersenyum bercampur ragu. “Memang ada di level yang berbeda ya.”

"Hehe… Aku juga bisa jurus Lio yang tadi melukaiku.” 

Alzen terhembus api yang panas dan besar itu.

"Aku harap kau tak mati nak!" ucap Lasius yang terlihat senang sekali.

Blub! Blub! Blub!

“Aqua Protection !!”

Alzen dengan segera mengcast sihir menenggelamkan dirinya dalam kumpulan air yang tebal berbentuk bola air yang besarnya dapat membungkus dirinya secara utuh, "Huft... Kalau kena, aku sudah jadi Alzen panggang nih." Kata Alzen sambil menahan nafas.


“Air!? Darimana?” Lasius melirik ke sekitar mencari tahu darimana sumber air yang Alzen gunakan. “Hoo… Darisana. Dia pasti sudah mengamat-ngamati sekitarnya seminggu terakhir ini.”

Selanjutnya Alzen mengubah bola air berbentuk balok tersebut menjadi bola air yang berukuran sebesar tubuh orang dewasa, lalu menembakannya ke Lasius dengan cepat, sebagai serangan balik.

Lasius terkena air tersebut dan membuatnya seluruh tubuhnya basah. "Belum cukup nak!" Karena apinya padam, Lasius sekali lagi membungkus api di kedua tangan-nya.

“Fire Stance !!”

Tapi sebelum itu Alzen sudah berlari dengan cepat dan maju mendekat, melompat cukup tinggi dan…

“Thunder Shock!”

BZZZSSTT!

Alzen menyambarkan petir dari kedua tangannya selagi dirinya melompat di udara. Serangan itu kena telak ditambah kondisi tubuh Lasius yang basah membuat aliran listrik tersebut berefek lebih menyakitkan dari sebelumnya.

"UAAAAAAGHH!" Lasius kesetrum sekali lagi bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

BRUGGGH!

"Hosh…Hosh…" Alzen kelelahan dan terkapar di tanah tanpa bisa bergerak sesuai keinginannya. "Kupikir Stamina-ku bertumbuh pesat. Tapi terlalu banyak mengeluarkan sihir-sihir mematikan membuatku jadi begini lagi."

"Haaaaaa!! WAAA!!" Lasius berhasil melepas diri dari listrik itu sekali lagi dan melepaskannya ke segala arah.

Kini ia menghampiri Alzen dengan kepalan kedua tangannya yang diselimuti api yang baru diaktifkan kembali.

"Ahh sial! Andai saja tubuhku lebih kuat." Alzen masih tersungkur dan tak berdaya.

Lasius berdiri di depan Alzen dengan tubuh terbakar karena listrik itu, dan sedikit percikan- percikan listrik di tubuhnya masih memancar di sekitar tubuhnya. Selain itu kedua tangan Lasius masih di selimuti api. Meski cukup fatal, tapi serangan Alzen tak mampu menumbangkannya.

Prok! Prok! Prok! 

"Selamat nak!" Lasius memberikan tepuk tangan padanya dengan tangan terbakar.

"Ehh? Kau tak menyerangku?" Alzen heran. "Atau melakukan hal yang sama yang kau lakukan ke Lio."

Lasius terus tepuk tangan meski masih diselimuti api. "Hahahaha! Kau melakukannya dengan sangat baik Alzen... Sangat baik !!"

"Terima Ka..."

Lasius mengulurkan tangan. "Berdirilah !!"

"Hee!?" balas Alzen. "Tanganmu masih berapi."

"Ahh ya... Hahahahaha!" Lasius tertawa sambil menepuk-nepuk tangannya dan memadamkan Api.

Alzen meraih tangan Lasius dan bangkit

“Adududuh panas-panas!” kata Alzen sambil lompat-lompat dan menggerak-gerakkan tangannya secara reflek.

"Oke! Untuk semuanya! Kalian sudah lihat apa yang kalian dapat dari memiliki cukup stamina dan yang tidak? Silahkan nilai sendiri. Sekarang... Kalian pulang dan istirahatlah!"

"Waduh... Amin, sudah selesai. Aku tak ditunjuk." kata salah satu student dengan mengelus dada.

Sambung Lasius. "Besok kita akan belajar sesuatu yang baru, Lagi! Dan... Pelajaran hari ini selesai !!"

Sejak saat itu Alzen mulai jadi anak yang disorot dan terkenal di Ignis. Seluruh kelas melihat dirinya sebagai teman sekelas yang paling menonjol. Tentu Alzen tak bisa menyenangkan semua orang. Beberapa menyukainya, neberapa orang yang lain tidak... Dan keduanya memiliki alasan yang sama. Alasanya, karena dia hebat.

***

Di Dorm Alzen malam hari.

"Woo Mr.Populer, Aku rasa title itu akan melekat padamu sebentar lagi." Tanggapan Chandra terhadap hal yang baru terjadi tadi siang.

"Mr.Populer? Haha... Apa-apaan itu." Alzen tergelitik.

"Woa... Woa jangan tersinggung." Balas Chandra. "Itu julukan yang kudengar dari teman sekelas kita."

"Sudah ahh... Puahh... Aku capek banget hari ini." Ucap Alzen. "Tapi aku masih memikirkan Leena. Kenapa dia mengusir kita hanya karena mendengar nama ayahku ya."

"Ahh kau ini... Tak usah terlalu dipikirkan." Chandra tak mau membahasnya. "Wanita memang sulit dimengerti. Kan sudah kubi-."

“Zzz…" Alzen langsung tertidur pulas.

“Ahh… Kamu ini.”

***

Hari berikutnya,

"Hai !! Murid-muridku tercinta!" ucap Lasius sambil berjalan ke meja guru yang berada di depan bagian tengah kelas.

"Uekk..." Murid-murid jijik mendengarnya.

"Ehh? Ada yang salah kalau aku bilang begitu?" balas Lasius.

Lasius mengambil alat tulis.

"Oke!"

"Pelajaran hari ini akan menarik buat kalian. Yahh... Meskipun ini Teori lagi. Tapi ini akan menarik! Karena hari ini, aku akan menjelaskan tentang Role (Peran)." Sahut Lasius mengajar dengan nada tinggi. "Jika kalian tergabung dalam sebuah tim atau bisa juga disebut grup atau party. Pengetahuan dasar tentang Role ini penting untuk kalian pahami. Kemarin aku sudah jelaskan kalian tentang Aura kan? Yah karena kita semua yang ada disini adalah Penyihir, Seminimalnya Aura kita semua pastinya bertipe Magic."

Tanya salah seorang murid. "Memangnya kita perlu Tim?"

"Tentu saja perlu! Karena untuk melawan monster atau orang yang sangat kuat kalian perlu bekerja sama dalam sebuah tim. Role dalam tim sebenarnya ada banyak variasinya dan cukup rumit tergantung situasi dan kondisi. Tapi biar aku permudah untuk dimengerti para penyihir pemula seperti kalian."

"Aku sudah dari usia 5 tahun bisa sihir. Aku bukan pemula," sahut salah seorang murid.

"Hoo... begitukah?, Kalau begitu kau tahu tentang ini?" balas Lasius.

"Ti... Tidak sih."

"Bagus ... jadi kamu akan belajar sesuatu yang baru hari ini. Aku lebih suka kalian aktif bertanya, merespon dan memberi tanggapan walaupun harus memotong pelajaran. Tidak apa! Kesalahan bukan masalah dalam kelasku. Aku lebih senang kalian tertarik lebih dulu daripada hanya kucekoki pengalaman yang kutahu, mentah-mentah."

"Tuh apa benar kan, Chan?" Alzen menyenggol Chandra.

"Iya... Iya..." balasnya.

Lasius menjelaskan sambil menulis di papan. "Role untuk penyihir dibagi 3 secara garis besar.” Lasius menuliskan table di papan tulis. “Battlemage, Spell Caster, Support."

"Battlemage, contohnya adalah aku. Secara teoritis dinamai Melee Fighter, Role ini fokus pada penggunaan sihir dan kemampuan bela diri yang digabung jadi satu, menjadi gaya bertarung jarak dekat dengan tinju ataupun senjata. Jadi dalam Role ini perlu kemampuan bela diri dan fisik yang baik terutama Stamina. Elemen Api salah satu yang paling pas untuk Role ini. Kelebihan Role ini adalah fokus pada sihir yang tak perlu melakukan Casting yang lama. Atau bisa dibilang Instant Cast.”

"Spell Caster, Sebagian orang menamai ini sebagai Magic Fighter atau Range Magician. Tapi intinya sama saja. Spell Caster berperan dalam sihir jarak jauh seperti menembak bola api dari jauh. Hanya saja penyihir ini memerlukan *Casting Time yang tak sebentar untuk mengeluarkannya. Kelebihan Role ini adalah mampu mengeluarkan sihir kuat yang daya hancurnya bisa One-Hit Kill (Satu kali serang langsung kalah)."

*Casting Time (Waktu yang dibutuhkan untuk merapal mantra, meski kata-kata mantra sihir tak digunakan di sini, tapi lebih ke nama sihir yang dikeluarkan.)

"Support, seperti namanya... Ini adalah Role untuk mendukung anggota lain dalam tim agar bisa berfungsi dengan lebih baik. Support dibagi macam-macam jenis lagi. Healer adalah mereka yang punya sihir penyembuhan terutama di Elemen Air dan Angin. Buff adalah Mereka yang memperkuat kawannya dengan sihir. Elemen Api umumnya memiliki Buff meningkatkan serangan. Debuff, Sihir yang melemahkan musuh agar jadi lebih mudah dikalahkan, yang memiliki banyak sihir Debuff adalah pemilik Elemen Darkness."

"Nah... Aku harap teori yang sudah kusederhanakan ini bisa dimengerti dengan baik... Jadi silahkan kalian menentukan Role mana yang cocok untuk kalian..."

"Alzen menurutmu kau cocok dengan Role yang mana?" tanya Chandra.

"Aku..."

***

Setelah semuanya memutuskan, sambung Lasius memberikan pelajaran.

"Baiklah... Kalian sudah memutuskan Role mana yang akan kalian pakai. Tapi tenang saja. Role ini tak mutlak seterusnya harus itu-itu saja. Kalian sebaiknya Fleksibel ke berbagai role yang berbeda tapi tetap ada yang jadi fokus untuk salah satu Role yang kalian rasa cocok buat gaya bertarung kalian."

"Aku rasa... Aku cocok mengambil peran di bagian Spell Caster." Kata Alzen.

"Yahh... Kita beda dong. Karena kata guru somplak itu kita bisa berganti-ganti Role. Untuk Elemen Api aku tertarik ke Battlemage. Karena sifatnya yang tak memerlukan Cast. Kalau Elemen Air aku akan gunakan untuk berperan sebagai Support. Untuk menolong kampung halamanku suatu saat nanti," balas Chandra mengutarakan pendapatnya.

"Begitu ya...," balas Alzen. "Aku malah tak terpikir untuk berganti peran di tiap Elemen yang digunakan."

Seisi kelas kini jadi berisik karena saling bertanya satu sama lain dengan teman terdekatnya.

Lasius memberikan arahan. "Wah... Wah... Diskusi semakin ramai. Kalian bebas berpindah-pindah peran kapanpun. Tapi sebaiknya punya satu Role yang dijadikan fokus. Kalau dalam tugas Solo (satu orang), Aku berperan Battlemage. Tapi kalau dalam grup yang saling melibatkan kerjasama masing-masing anggota. Kadang aku berperan dalam Support. Ya memang api tak begitu bagus dalam Support karena tak bisa menyembuhkan tapi Buff dari elemen api juga sangat membantu untuk meningkatkan daya serang."

Setelah diskusi membuat kelas ramai. Masing-masing pelajar mempertimbangkan keputusannya dengan bertanya teman di sebelahnya, Kenalan dan meminta pendapat orang lain bahwa Role yang dipilihnya akan cocok atau tidak.

"Oke! Cukup! Kalau ada yang belum memutuskan sekarang tidak apa-apa. Aku tak akan menjelaskan penerapan ini dalam teori. Karena aku yakin kalian akan bosan, tak bersemangat atau mendengarkan tapi tak mengerti. Kalian akan kuberi tugas dengan batas waktu satu minggu ini saja. Karena seterusnya akan kita gunakan untuk latihan persiapan Turnamen di Battle Arena selama 2 bulan lebih. Mengerti !!"

Jawab satu kelas serentak. "Mengerti!"

Sambung Lasius. "Tugasnya mudah saja. Kalian pergi ke kota dan melakukan satu Quest yang melibatkan kalian untuk bertarung di luar kota Vheins."

"Tapi pak? Bukannya Quest hanya boleh diambil ketika sudah 3 bulan kita belajar?" Tanya salah seorang murid.

Sontak kelas menjadi ramai dengan suara-suara obrolan yang membahas soal ini.

"Silahkan kalian terus bicara tapi tetap dengarkan apa yang kukatakan ini. Memang yang dikatakan kamu benar. Tapi ini pengecualian saja. Dan kalian hanya perlu mengerjakan satu Quest saja. Tak boleh lebih dan tak boleh tak dikerjakan. Kalau kalian menemui Monster atau Penjahat yang kuat di luar sana. Kembalilah dan jelaskan masalahnya, Aku akan memberikan sedikit toleransi. Tapi kalau kalian menipuku. Kalian mengenal seperti apa gurumu kan? Hehehehe." Lasius meremas-remas kepalan tangannya.

“Ba-baik pak!” jawab seisi kelas dengan rasa terancam,

“Nah setelah jam pelajaran hari ini selesai…,” kata Lasius. “Silahkan keluar dan lakukan tugas kalian.”