Episode 5 - Bermain dalam Damai


Dua buah kelapa muda masing-bergelantungan di kedua tangan Bintang. Ia berjalan santai kembali ke gubuknya. Petang ini ada cemilan segar buatku dan ibu, pikirnya senang.

Hari ini bukan kali pertama Bintang menikamkan tempuling. Sejak umur 6 tahun, ia telah bermain-main dengan tempuling bersama Lera. Meski saat bermain bersama anak-anak lain ia kerap menjadi juru kemudi, kemampuan tikamannya justru tiada tara.

Bahkan kemampuan lompatannya juga sangat baik. Sedari dulu ia sudah suka melompat dari batu karang satu, ke batu karang lainnya.

Kemudian, setiap melihat peledang yang berlabuh, ia selalu berdiri di posisi haluan dan melompat ke peledang lain. Melompat dari peledang yang ditambat di pesisir pantai memerlukan keseimbangan yang baik.

Tidak sampai di situ. Seringkali juga ia dan Lera diam-diam melepas tambat peledang, lalu mengayuh ke arah laut untuk bermain melompat dari peledang yang bergoyang ringan untuk memantapkan keseimbangan. Pernah pula ia meminta Lera menggoyang-goyangkan peledang ke kanan dan ke kiri sambil ia berdiri di haluan. Sensasinya saat melompat lebih menantang lagi.

Jadi, dimulai dari melompat dari satu karang ke karang berikutnya di pesisir pantai, lalu melompat dari peledang yang ditambat, sampai melompat dari peledang yang bergoyang kencang sudah menjadi kebiasaan bermain. Secara naluriah, ia paham betul pentingnya memusatkan kekuatan di perut sebagai titik pusat menjaga keseimbangan.

Selain itu, Bintang dan Lera juga kerap menikam ikan di pesisir pantai. Meski tidak pernah mau mengakui akurasi tikaman Bintang, Lamalera tahu persis bahwa akurasi tikamannya kalah jauh jika memang hendak dibandingkan.

Sesampai di gubuk, ibu masih belum pulang. Bintang meletakkan dua buah kelapa muda di teras. Lalu mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Kemudian ia memutar ke belakang gubuk. Tidak lama, Bintang kembali sambil memegang dua buah batang bambu yang panjang masing-masingnya lebih kurang 50 cm. Persis sama panjangnya, bahkan setiap bilahnya sama panjang. Memang tampak layaknya batang bambu biasa, tapi sesungguhnya di dalam bilah-bilah bambu tersebut telah diisi dengan tanah liat. Cara mengisinya cukup mudah. Ia membuat lubang kecil di setiap ruas bambu, lalu mengisi dengan lumpur tanah liat dan setelah terisi dijemur beberapa hari. Oleh karena itu, berat masing-masingnya mencapai lebih kurang 2-3 kg. Bintang menggengam masing-masing bilah bambu di kedua tangannya.

Pulau Paus, layaknya pulau-pulau di tenggara Negeri Dua Samudera, terdiri dari pegunungan dan ngarai. Kering dan berbatu. Medan yang cukup menantang untuk didaki.

Bintang dengan ringan mulai berlari ke arah perbukitan. Mulutnya bergumam menghitung setiap langkah yang ia ambil. Gerakannya lincah, terkadang melompat ke kiri dan ke kanan mencari pijakan yang pas atau terkadang menunduk ke bawah atau menyerongkan tubuh tanpa mengurangi kecepatan lari. Maklum, bagian-bagian jalan setapak ke arah bukit ada yang curam dan licin, berbatu tajam, dan terkadang dihalangi dedahan dan reranting pohon yang melintang tanpa pola yang tetap.

Demikianlah rutinitas Bintang setiap dari dari pagi hingga petang. Dimulai dari bantu-bantu keperluan rumah, bantu-bantu di dusun, bermain, makan siang, bermain lagi yang terkadang membahayakan diri sendiri, lalu berlari sampai petang tiba. Malam hari nanti, seusai makan malam, ia akan berdiskusi sebentar dengan ibu, lalu menutup hari dengan membaca buku yang ada, sebelum beranjak tidur.

Sungguh mencerminkan masa kanak-kanak tanpa beban. Tak perlu khawatir dengan hiruk-pikuk dunia. Meski kehidupan dusun memprihatinkan, tinggal di dalam gubuk renta, makan seadanya dari alam, dan pakaian lusuh sekenanya, namun kedamaian lebih berharga dari kekayaan dunia di tengah perang.


***


Langit terlihat merah merekah. Matahari sebentar lagi kembali ke peraduan. Saat kembali ke gubuk, keringat mengucur di seluruh tubuh dan dadanya naik turun menghela dan menghembuskan napas dengan deras.

Ibu sudah menyiapkan makan malam. Setelah meletakkan kembali batang bambu, yang disusun rapi di belakang rumah, Bintang menyapa ibunya lalu mengupas kelapa. Berbekal parang kecil, buah kelapa rapi dipangkas bagian atas dan bawahnya. Pada bagian atas dibuat lubang kecil untuk mengeluarkan air kelapa. Bintang lalu mengangkat kelapa ke depan muka, air kelapa habis dituangkannya ke dalam mulut.

"Bersihkanlah tubuhmu terlebih dahulu sebelum kita menyantap makan malam," tegur ibunya. "Hari ini Bunda mendapatkan ikan segar dari ayah Lamalera. Sebentar lagi matang."

“Baik, Bunda,” jawabnya singkat sambil berjalan ke arah belakang gubuk untuk mandi dan meletakkan kembali sepasang bambunya. Kedua matanya melirik ke beberapa bilah tempuling. Ukuran masing-masingmya 4-5,6 m, jelas milik orang dewasa. Bekas-bekas penggunaan terlihat jelas dari setiap bilah tempuling.

“Bunda, apakah ayah seorang lamafa,” tanya Bintang seusai santap malam bersama ibunya. Ingatannya akan sosok ayah samar. Yang ia tahu, ayahnya suatu hari membawa peledang turun ke laut. Ia tidak membawa tempuling. Beberapa hari kemudian, peledang yang ia naiki hanyut di bawa arus kembali ke pesisir pantai, tanpa ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.

Kejadian tersebut lebih kurang lima tahun yang lalu. Saat itu Bintang berusia enam tahun. Sejak itu banyak yang mengatakan, lebih tepatnya mengira-ngira, bahwa ayahnya diserang binatang siluman di laut atau ditangkap kapal bajak laut yang lewat.

Nalar Bintang mengatakan bahwa kedua hal tersebut tidaklah mungkin terjadi. Bila diserang binatang siluman, tentunya akan ada tanda-tanda kerusakan pada peledang yang ditumpangi ayah. Lalu, bagaimana mungkin kapal bajak laut menculik satu orang tanpa meminta tebusan atau menyerang dusun. Masih ada beberapa asumsi lain dari penduduk tentang alasan hilangnya sang ayah, lebih aneh lagi sampai tidak perlu dipikirkan berlama-lama.

“Ayahmu bukanlah seorang lamafa,” jawab ibu pendek. Tatap matanya lembut, mengantisipasi kekecewaan anak semata wayangnya.

Tentu Bintang sudah menduga akan jawaban ini, meski tak pernah ia pertanyakan sebelumnya. Perawakan dan fisiknya tidak seperti anak-anak dusun lain. Meski berambut ikal, roman wajahnya berbeda dan kulit tubuhnya lebih terang dibandingkan penghuni dusun lain, bahkan dibandingkan ibunya sendiri. Hanya dengan sekilas pandang, siapa pun bisa menyimpulkan bahwa ayahnya bukan berasal dari wilayah tenggara. Jadi, bagaimana mungkin ayahnya adalah seorang lamafa, yang merupakan kecakapan yang diturunkan turun-temurun.

Bunda Mayang siap untuk memberikan penjelasan lebih lanjut, tapi mengurungkan niatnya karena Bintang tidak terlihat terkejut maupun kecewa. Ia sendiri selalu kagum atas kedewasaan anak berusia 12 tahun di depannya.

“Apakah mungkin ayah meninggal, ataukah ia kembali ke daerah asalnya?” tanya Bintang lagi dengan tenang. Raut wajahnya datar.

Mendengar pertanyaan ini, secara reflek jemari Bunda Mayang meyentuh salah satu dari empat liontin yang menempel di dadanya. Keempat liontin masih cemerlang berwarna biru. Bintang menangkap gerakan sedikit gugup ibunya, namun diam saja.

Bunda Mayang menarik napas dan dalam hitungan detik pembawaannya kembali tenang. “Ayahmu masih hidup, dan ia tidak kembali ke kampung halamannya. Saat ini Bunda belum bisa memberitahu dirimu kemana ayahmu pergi, atau pula alasan kepergiannya. Namun Bunda yakinkan bahwa ayahmu tidak berniat meninggalkan dirimu. Tidak berniat meninggalkan kita. Ia sangat menyayangi dirimu, sangat ingin melihatmu tumbuh kuat, dan sangat ingin mengajarkan berjuta hal kepada dirimu,” Bunda Mayang memandang raut wajah anaknya, lalu seketika itu menyentuh hidung Bintang.

Bintang terkejut. Walaupun berusaha tenang, ia tetap terharu mendengar kata-kata ibunya. “Suatu hari nanti, ayahmu akan kembali, atau mungkin kita yang akan mengunjunginya,” lanjut sang bunda dengan senyuman.

Bintang membalas senyuman ibunya. “Aku mengerti, Bunda.”

Meski demikian, masih ada satu pertanyaan utama yang ingin ia ajukan. Pertanyaan yang muncul dari kehadiran dua orang sakti jelang siang hari tadi.

“Bunda, aku berterima kasih karena bunda mengajarkanku banyak hal. Selama ini, bukan hanya mengemban peran seorang ibu, bunda sekaligus mengemban peran ayah dengan sangat baik bagi anakmu ini,” ungkap Bintang dengan nada serius.

“Bintang, adakah sesuatu yang ingin kau ketahui?” Bunda Mayang tahu betul pasti ada sesuatu bila anaknya ingin sampaikan atau tanyakan. Ia sadar bukan karena kata-kata yang begitu berbelit, tapi lebih karena sinar mata Bintang yang menunjukkan rasa keingintahuan yang sangat tinggi.

“Bunda, mengapa selama ini Bunda tidak pernah mengajarkanku pengetahuan tentang kesaktian? Aku bisa mengerti kalau mungkin Bunda bukanlah orang sakti, tapi bukankah pengetahuan dasar tentang kesaktian perlu aku ketahui?”

Bunda Mayang menyadari bahwa pertanyaan ini cepat atau lambat pasti ditanyakan oleh anaknya. “Kesaktian terkesan megah dan mewah. Namun, di tengah kemegahan dan kemewahan tersebut, kesaktian akan merenggut kedamaian,” ekspresi Bunda Mayang khawatir. “Tidakkah kedamaian lebih berharga dari kemegahan dan kemewahan dunia?”

Biasanya jawaban yang ‘tidak menjawab’ seperti ini menjadi kesempatan bagi Bintang untuk mengajukan pertanyaan lanjutan, atau berargumentasi dan bertukar pikiran dengan ibunya, namun kali ini ia menahan diri. Tatapan mata penuh kekhawatiran Bunda saat ini tidak disembunyikan sama sekali. Bintang pun menganggukkan kepala petanda jawaban bisa ia terima untuk sementara ini.

Bunda Mayang menarik napas dan tersenyum. Ia bangun dari duduknya. Belum setengah langkah ia berjalan menuju dapur, Bintang kembali mengajukan satu pertanyaan, “Oh ya, Bunda. Jadi, milik siapakah bilah-bilah tempuling di belakang rumah? Apakah milik kakek? Karena menurut hematku, suatu saat dulu tempuling-tempuling tersebut rutin dipergunakan.”

Masih melangkah, tanpa menoleh dan dengan suara rendah Bunda Mayang menjawab, “Seluruh tempuling tersebut milik Bunda.”


Catatan:

Sekali lagi... mohon bersabar. Keseruan bermula di episode 10 ke atas.