Episode 6 - Imbalance Duel



Matahari sudah hampir terbenam. Langit-langit memancarkan sinar senja khas sore hari dan semua pelajar di Ignis sedang sibuk dengan para anjing-anjingnya. Mereka bercucuran keringat sebasah orang tercebur dalam air.

"Terus! Terus lari! Terus! Jangan berhenti kalau tak mau digigit anjing-anjing itu! Terus! Hahaha! Ya begitu! Terus!" sahut Lasius yang seolah gembira melihat penderitaan murid-muridnya.

"Oke! Sudah selesai! Cukup sampai sini, Kita sudahi latihan hari ini," teriak Lasius. "Bagaimana perasaan kalian?"

Jawab mereka serentak keras-keras. "CAPEK !!"

"Ghaaa! Hosh... Hosh... Kalau gini gurunya gue nyesel masuk ke Ignis...", celetuk salah seorang murid.

" Hosh... Hosh... Iya bro... Instrukturnya sedeng!"

"Iya nih! Hosh... Hosh... Setuju... Hosh... Hosh," balas yang lain.

Lalu sahut yang lainnya lagi. "Sius lo??" dengan nada mengejek.

"Ehem..." Lasius datang menghampiri mereka.

"Ghaaa! Ampun!" teriak mereka bertiga dengan jantung berdebar-debar, Lasius yang kekar dan besar mendatangi mereka. "Kita gak ngomong apa-apa kok! Benaran!"

Lasius menepuk punggung mereka seperti mau memukul.

"Tolong... Maaf guru, Maaf itu cuma becanda, kok."

"Terima kasih atas kerja keras kalian." Lasius merangkul mereka bertiga.

"Ehh? Kau tak marah?"

"Untuk apa? Kalian sudah melakukan yang terbaik dan bertahan sampai akhir. Aku tak punya hak sama sekali untuk marah," balas Lasius. "Tapi... Sampai dorm nanti mandi ya. Kalian bau sekali! Betul-betul bau!"

"Haa?" Lalu mereka mengangguk-angguk saja. “Iya guru…” Ucapnya dengan nada tercengang.

"Nah semuanya! Hari pertama selesai dan kalian boleh pulang dan bersenang-senang. Tapi ingat besok hari seperti akan ada lagi. Jadi beristrihatlah yang cukup! Dan jangan lupa mandi!"

"Sniff, Sniff.” Alzen mengendus tubuhnya sendiri. "Buset! Bau banget!"

Chandra terkapar pingsan dengan mata berputar-putar. "Aduuh! Capek!"

***

Seminggu kemudian, Hari terakhir latihan stamina-pun telah berlalu dan pada saat ini latihannya sudah usai dilakukan.

"Chandra... Sial. Aku masih bertanya-tanya kejadian minggu lalu," ucap Alzen yang terlihat tak bersemangat di lapangan luar kelas.

"Yang waktu itu? Yang mana?"

"Waktu di rumah Leena... Kenapa Leena tiba-tiba mengusir kita? Setelah itu jika aku temui, ia menghindariku terus. Apa ada yang salah denganku?" Alzen mencurahkan apa yang ia pikirkan.

"Kau tahu? Kata ayahku... Hal yang paling rumit di dunia adalah Wanita..." Chandra membalasnya dengan nada motivator.

"..." Alzen duduk diam dan wajahnya menghadap tanah.

“Hee… Kalau orang ngomong dengerin dong.”

***

"Aduh badanku rasanya mau remuk kalau begini caranya," keluh para pelajar ignis.

"Lapangan lagi, Lapangan lagi, Kita baru sekali belajar dikelas."

"Tapi sejauh ini hanya Ignis yang pakai lapangan seluas ini ya? Tak pernah kelihatan anak-anak kelas lainnya."

"Ya Tuhan! Kuatkan hambamu ini dan berikanlah ketabahan dan ketahanan melalui segala cobaan ini ya Tuhan! Kalau besok hamba sudah tak bernyawa. Tolong cabut nyawa..."

"Nyawa siapa? Nyawa-ku?" Muncul sosok Lasius dalam siluet besar dan mata merah menyala.

"Aaa... Tidak-tidak. Maksudku... Ehmm... Ahh... Uhh... Nyawa... Nyawa... Nyawa? Nyawa sa..."

"Ohh...," balasnya mengejek.

Lasius berbicara kepada semua murid di lapangan. "Hari ini adalah hari terakhir latihan stamina. Khusus hari ini kalian boleh pulang lebih awal dan tak perlu sampai matahari terbenam seperti biasanya. Setelah itu beristirahatlah yang cukup! Tapi sebelum kalian pulang ke dorm... Kita tes hasil dari penderitaan kalian seminggu terakhir. Coba gunakan sihir yang paling kalian kuasai sebelumnya. Hasilnya bisa kalian bandingkan sendiri." Kata Lasius.

Ucap Lio yang sedang duduk-duduk dengan kedua tangan di belakang menumpu senderan tubuhnya yang bersandar menghadap ke tanah. "Haa? Masa sih? Efeknya sesignifikan apa?" Lio langsung naik dan bersiap melakukan ancang-ancang sihirnya. "Biar kucoba."

Lio menyelimuti kedua tangannya dengan api seperti yang biasa ia lakukan. Kemudian ia mengepalkan kedua tangannya. Lalu kepalan tangannya ia bantingkan ke permukaan tanah keras-keras secara bersamaan. Dan... Hempasan api yang sangat besar. Bergerak menyebar ke arah depan seperti membentuk busur horizontal dan nyaris mengenai pelajar Ignis yang lainnya.

"Hei! Jangan mengarah ke sini dong! Hampir saja kena!"

Tanpa mempedulikan hal itu, Ekspresi wajah Lio seketika gembira sekali melihat pertumbuhan signifikan yang ia alami. Ia menatap telapak tangannya yang berdebu dengan perasaan bangga. "Wuoahh! Aku sendiri tak menyangka! Hempasannya!? Kalian lihat? Kalian lihat barusankan? Bisa sebesar itu! Apa stamina juga punya pengaruh ke kemampuan sihir?"

“Hahaha… Rasa sakit dan berlelah-lelah yang kalian lewati seminggu terakhir. Tidak bisa dibandingkan dengan sukacita yang kalian rasakan sekarang kan?” Kata Lasius. "Perkembangan sihirnya lumayan kan?"

"Begitukah? Aku mau coba juga."

"Aku juga!"

"Aku penasaran seberapa berkembang diriku setelah melewati neraka ini!"

Lalu semua Fire Spell, dicast dari satu murid ke murid lainnya. Beragam jenis Spell yang dikeluarkan, sama seperti beragam pertumbuhan yang mereka dapat dari latihan ini. Ada yang bertumbuh pesat seperti Lio. Ada yang meningkat cukup banyak. Ada juga yang sedikit sekali pertumbuhannya dan untuk para pengeluh di latihan kemarin nyaris tak merubah kekuatan sihirnya dan mereka menyesali itu. Mereka yang mengeluh hanya bisa gigit jari dan iri dengan pertumbuhan yang lainnya.

“Hahaha…” Lasius menertawai mereka yang ogah-ogahan latihan dan mengeluh sepanjang hari. “Kalian sudah sadar kan? Jangan mengeluh, biarkan yang malas-malas ini mengeluh. Karena mereka yang mengeluh adalah yang tidak mendapat apa-apa nantinya.” 

Saat ini lapangan luar kelas jadi panas sekali. Karena sihir api dikeluarkan berkali-kali oleh banyak pelajar ignis yang mukanya berseri-seri, seperti tak yakin mereka benar-benar bertumbuh secepat dan sebanyak itu.

"Hehehe... Bagaimana perasaan kalian sekarang? Sudah jadi lebih kuat dari sebelumnya?"

“YAAAA!” jawab mereka semua dengan semangat.

Semua murid masih terlalu sibuk bermain-main dengan peningkatan sihir apinya. Tapi sebagian besar dari mereka tersenyum puas.

"Nah untuk mengetes kemampuan kalian. Ada yang berani duel denganku?"

Setelah melewati semua ini, Yang berani angkat tangan untuk menantang Lasius jadi banyak sekali. Setidaknya separuh kelas mengajukan diri untuk menantang Lasius.

"Woa... Woa... Woa! Percaya diri sekali kalian, yang angkat tangan ada sebanyak ini. Aku jadi gugup." Kata Lasius yang perlahan melangkah mundur selagi banyak student melangkah maju seolah ingin mengkeroyok dirinya. “Tapi bohong! Hahaha!”

"Coba... Alzen ,kau dulu !!"

"Aku duluan?" balas Alzen mengkonfirmasi seperti sebelumnya.

"Pak Lasius!” Lio memotong. “Masa Alzen terus. Biarkan aku kali ini yang menantang kamu!"

"Kau yakin? Kali ini aku akan lakukan pertarungan sungguhan!" Balas Lasius yang selalu berkata dalam nada tinggi. "Aku boleh menyerangmu juga. Sebelumnya kalian semua yang tak ikut bertarung. Beri kami jarak agar tak terkena serangan kami."

"Oke! Tak jadi masalah." Lio langsung memasang kuda-kuda beladiri silat.

"Hoo... Gaya bertarung Battlemage ya." Komentar Lasius menganalisa. Lalu dengan kuda-kuda dan kedua tangan dilapisi api. "Tapi jangan salah, aku juga Battlemage!"

Lio menyerang duluan. Ia melompat tinggi dan menembakan sihir Fireball dengan gerakan tinjunya selagi melayang di udara.

"Fire Wall !!" 

Lasius melapisi sisi depannya dengan dinding api. Dan menyerap semua serangan api dari Lio.

Lio memutar tubuhnya sewaktu mendarat.

 "Flame Side Kick !!" 

Lalu dari putaran kakinya Lio menyerang dengan api yang menghempas tajam membentuk bulan sabit ke depan, 180 derajat lebarnya.

Lasius melebarkan tangannya yang sekaligus melebarkan Fire Wall yang melindunginya.

"Hehe... Fire Wall ku masih mampu menahannya."

Lalu tiba-tiba Lio sudah berada di depan Lasius dan meninju wajahnya keras-keras meski harus menembus Fire Wall Lasius.

"Ouch... Aww!" Lasius mengelus-elus pipi kanan tempat ia ditinju. "Lumayan juga. Kamu melapisi dirimu dengan apimu sendiri hingga bisa menembus dinding apiku tanpa luka yang berarti. Hebat juga."

“Hehe… Terima kasih guru.” Kata Lio yang mempertahankan kembali kuda-kudanya.

“Waa… Dia hebat ya Chan…” Kata Alzen ke Chandra di sisi kirinya.

“Ya lumayan juga…”

Lasius kini membesarkan api ditangannya dan memanjangkannya lalu dibentuk seperti sebuah cambuk dari api yang besar. 

"Burning Whip !!"

Tapi Lio berhasil menangkisnya dengan Fire Wall miliknya.

"Wah...Wah...Wah... Kau menirukan caraku," kata Lasius.

"Tolong lebih serius dikit-lah guru." Lio melenyapkan dinding apinya dan mengumpulkan sejumlah gumpalan api di depannya. Kemudian ia meninju gumpalan api itu dengan cepat dan bertubi-tubi memakai kedua tangannya. 

"Fire Gatling Gun !!" 

Membuat setiap tinju yang dilontarkan Lio, menjadi sebuah proyektil peluru api. Lurus ke depan untuk menyerang Lasius.

"Wah! Yang seperti ini..." Lasius menghempas tangan kanannya ke samping. 

"Flame Cloak !!" 

Lalu pusaran api mengelilingi seluruh tubuhnya dan melindunginya dari serangan Lio. Setiap proyektil peluru api yang mendekat, langsung masuk dalam pusaran api Flame Cloak yang mengitari Lasius dengan cepat. Sambil bertahan, sambil itu pula ia berlari maju, mendekati lawannya.

"Wahh dia mendekat!" Lio panik.

Lasius menghempaskan kedua tangannya dan mengakhir sihir Flame Cloak miliknya.

"Sudah selesai! Lio!” Lasius mengintimidasi dari dekat.

“Kalau begitu…” Lio mencoba membalas. Dengan waktu berpikir yang singkat, ia secara spontan melakukan sihir berikutnya.

"Fire Burst !!" 

Lio menempelkan kedua tangannya di perut Lasius yang sudah jelas-jelas ada di depannya.

“Ahh!?” Kata Lasius. “Gawat!?”

"IMPACT!" 

DUARRR!

Lasius terpental jauh karena serangan Lio yang menggunakan ledakan api di dekatnya untuk membuat tekanan dorong yang mementalkan Lasius jauh ke belakang.

"Hosh... Hosh... Untung... kena," ucap Lio berkeringat, lelah dan tubuhnya lemas.

"Cough, Cough! Hoeekk!" Lasius batuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. "Bagus Lio... Cough,Cough! Ini yang kuharapkan dari muridku."

"Haish... Dia masih bisa bangkit? Ahh jelas saja, dia guru kami. Bodohnya aku jika merasa bisa mengimbangi orang seperti Lasius ini."

Lasius mengusap-usap darah di mulutnya. "Tapi sudah kubilang di awal kan? Anggap ini pertarungan sungguhan. Jadi aku tak berhenti sampai disini."

"Biar kuakhiri ini segera.” Lasius merentangkan kedua tangannya ke serong bawah dengan telapak tangan terbuka. “HYAAA !!”

“Fire Form !!”

Kali ini seluruh tubuh Lasius mengeluarkan api. Lebih dari itu ia lebih terlihat jadi api itu sendiri. Tapi hanya di kedua tangan dan kedua kakinya. Dengan wujud seperti itu Lasius dalam sekejap bergerak dalam bentuk api terbang berkecepatan roket dan sudah ada di belakang Lio. Kemudian...

Grrrrrrr...

"Agh!!" Lio terpelanting ke tanah karena tinju Lasius yang tak mengurangi kekuatan. Sama seperti Lasius tadi, Lio memuntahkan darah. Karena tekanan di perutnya memaksa darah mengalir ke bagian kerongkongan dan memuntahkannya.

Lalu Fire Form menghilang dan kembali ke wujudnya semula. "Petugas! Tolong bawa anak ini ke ruang perawatan dan sembuhkan dia dengan lebih dari satu Healer."

"Ba... Baik Tuan Lasius."

Lasius menepuk-nepuk tangannya dan melontarkan pernyataan. "Kita masih punya sedikit waktu lagi. Nah! Masih ada yang mau melawanku?"

Seluruh kelas Ignis sepi, tak berani menjawab semuanya diam dan menundukkan pandangan agar tak ditunjuk Lasius.

Alzen menelan ludahnya karena gugup, Tapi ia memberanikan dirinya. "Sa... Sa... Saya pak!"

"Hee!? Kau sudah gila Alzen!" Kaget Chandra dengan badan tegak lurus dan kaku. "Diem saja udah. Diem..."

“Bagus… Sini, majulah!” tantang Lasius.