Episode 5 - Some Special Training



Di panggung pertunjukkan sihir yang kini sudah kosong tanpa penonton, selain tinggal mereka bertiga. Chandra dan Alzen yang berdarah-darah dan satu orang wanita yang menyelematkan mereka.

"Kalian tak mungkin bisa mengalahkan monster seperti itu dengan kemampuan kalian saat ini. Terlebih kalian tak bisa elemen cahaya," ucap wanita cantik berambut pirang panjang itu.

"Dia kan!? Kau? ... Leena? Beneran Leena?" ucap Chandra yang masih terbaring di lantai penuh luka-luka.

Ia berbalik badan dan ucapnya lembut. "Ya... Aku Leena, Leena Leanford." 

"Kau wanita yang waktu itu ya?" Komentar Alzen yang terus memengangi pundak kirinya yang mengeluarkan banyak darah. Sambil terus mengingat-ingat, dia adalah salah satu orang yang dipanggil maju ke depan karena mendapatkan beasiswa, tidak hanya itu, dia juga yang terbaik di angkatan kali ini.

"Ya... Kau, aku dan Nicholas. Kita bertiga adalah orang-orang yang dipanggil karena mendapat beasiswa waktu itu." Jawab Leena.

"Te-terima kasih sudah menolong kami..." Alzen berusaha menahan luka di pundaknya. "Ugh!!"

"Monster tadi telak sekali menyerang kalian ya… Kalian harus segera di sembuhkan."

"Ahh iya... Iya." Balas Chandra. "Kau kan elemen cahaya. Tolong sembuhkan kami dong."

"Tidak, aku tak bisa sihir penyembuhan..."

"Kenapa? Bukannya elemen cahaya seharusnya bis-"

"Ya! Tapi aku tidak bisa!” Ucap Leena dengan nada tegas dan jengkel. 

“Hee!!? Kok malah marah?” Chandra tak habis pikir.

“Memang, umumnya pengguna elemen cahaya bisa menyembuhkan. Tapi… Tapi, tapi lain denganku.” Raut wajah Leena berubah. “Aku tak bisa sihir penyembuhan. Seperti yang kalian harapkan." 

“Sudah-sudah… Tidak apa kok.” Secara canggung Alzen mencoba mencairkan suasana.

"Ayo kerumahku, biar mama yang menyembuhkan kalian."

"Aneh sekali, Setahuku… Harus-" Chandra masih tidak bisa terima, pengguna elemen cahaya tidak bisa menyembuhkan.

Alzen membungkam mulut Chandra. "Sudah, kita turuti dia saja."

"PFFTTFF!! LEPLWASIN!!” Chandra secara memaksa menyingkirkant angan Alzen. ”Woeyyy! Alzen! Tanganmu penuh darah tahu! Pueh, pueh, pueh."

"Aaa..."

“Kalian kenapa masih berdiri disitu? Tunggu apa lagi? Luka kalian lumayan parah loh!” 

***

Di rumah Leena.

"WOAAA! Kau orang kaya? Rumahmu besar dan mewah begini." Tanya Chandra.

"Begitulah..." Leena tak terlalu mempedulikannya.

"Ohh sial, Andai saja aku bisa tinggal di tempat seperti ini."

Di dalam rumah Leena, di ruang tamunya.

"Mama! ... Mama! Ma..." Ucap Leena memanggil ibunya. "Temanku terluka. Tolong bantu sembuhkan mereka ma…!" Sahutnya ke lantai 2.

Lalu Ibu Leena yang memiliki sosok yang mirip sekali dengannya, Ya... Hanya saja lebih tua. Umurnya kira-kira 40 tahunan. Turun dari lantai dua rumahnya.

“Lukanya benar-benar sekali. Kalian berdua tolong berdiri berdampingan ya… Aku akan buat ini terfokus jadi areanya tidak akan terlalu besar.”

Alzen dan Chandra melakukan apa yang ibu Leena katakan.

Ibu Leena mengeluarkan cahaya keemasan di tangan kanannya, lalu mengarahkan tangannya ke lantai tempat Alzen dan Chandra berpijak 

"Healing Circle!"

Seketika dari lingkaran tempat mereka berpijak, terpancar cahaya emas dari bawah mereka. Luka dan pendarahan mereka berdua, menutup dan sembuh dengan sangat cepat. Seperti kertas yang robek dapat utuh kembali dalam beberapa detik saja.

"Beregenerasi secepat ini!?" Alzen terkejut.

“Waaahhh… Ini yang namanya sihir penyembuhan ya?” 

"Sudah? ... Ada lagi yang terluka?" tanya ibunya.

"Terima kasih Mama..." Leena memeluk dengan tersenyum senang.

“Hehe… Sudah ya…” Lalu ibunya kembali ke tempat ia datang.

"Tanpa basa-basi... Dipanggil turun dan langsung menyembuhkan. Lalu pergi begitu saja. Ibu si Leena kenapa sih?" kata Chandra dengan suara kecil.

"Nah sekarang, perkenal diri kalian. Kalian seangkatan denganku kan? Yang rambut biru. Aku kenal, namamu Alzen kan? Alzen apa lah gitu.”

“Aa… Alzen Franquille.”

“Franquille?” Leena mencoba mengingat-ingat. “Kalau tidak salah… Ahh sudahlah. Dan yang satu lagi ini, siapa ya?"

"Aku Chandra Wang. Aku bertekad mempelajari sihir bertarung sekaligus penyem-"

"Siapa tuh? Aku tak pernah dengar," balasnya sinis.

"Haaa? Cakep-cakep, tapi nusuk..."

"Ahh, Ngomong-ngomong. Aku ingin ngobrol-ngobrol sedikit dengan Alzen.” Kata Leena sambil menggenggam tangan Alzen dan terlihat wajah Alzen agak memerah malu. “Alzen dan siapapun itu. Ayo naik, ikuti aku."

"Siapapun itu, siapapun itu… Aku punya nama! Aku Chandra Wang, Chan..." tanya Chandra.

"Iya… Iya. Chan Chan." Ledeknya sambil berjalan naik tidak peduli.

"Chandra! Namaku Chandra!" Chandra terus menegaskan namanya.

***

Di kamar Leena di lantai 2 dari 3 lantai di rumah besarnya. Kamar wanita yang megah dan mewah.

"Ini kamarmu?" tanya Alzen.

"Bagus sekali ya... Biar kamar cewek juga gapapa deh kalau bisa tinggal disini." Komentar Chandra.

"Masuklah... Aku ingin tanya-tanya kalian sedikit saja." Kata Leena. "Apa saja elemen yang kamu bisa?" Tanyanya sambil menatap Alzen.

"Api... Air, Petir." Jawab Alzen. "Nih medalinya."

"Aku Api dan Air. Hebat kan!" Jawab Chandra. "Nih me-."


"Ohh iya harusnya tak perlu kutanya ya..." Balas Leena. "Jadi  Alzen bisa 3 Elemen? Hebat!" ucapnya tanpa memandang Chandra.

"Te-terima kasih..." Balas Alzen canggung.

“Hei! Hei lihat, dua elemen.” Chandra terus berupaya menarik perhatian.

“Coba lihat dong, sedikit saja. Tiga elemenmu itu seperti apa? Jangan besar-besar kayak yang kau lakukan semalam.”

“Bo-boleh saja,” jawab Alzen dengan canggung. Sambil mengeluarkan bola-bola elemen berukuran kelereng.

“Dih… Cakep-cakep kok nyakitin ya…” kesal Chandra dalam hati. Meski ekspresinya ditampilkan jelas namun kedua orang di depannya benar-benar tak peduli.

“Wah!” Leena melihatnya sambil tepuk tangan dengan wajah kagum. “Baru kali ini aku lihat seseorang memiliki 3 elemen. Apa kamu mahir dalam ketiga-tiganya.”

Alzen mengangguk. “Ya! Aku pelajari ketiga-tiganya secara serius.”

“Wah… Hebat-hebat!” Leena tepuk tangan lagi.

"Tunggu, tunggu, tunggu...” Potong Chandra. “Guna saya disini apa ya?”

“Ohh ada kamu ya?” balas Leena dengan entengnya.

“Nih cewek bener-bener nyakitin banget.” Kata Chandra. “Begini-begini. Aku mau tanya satu hal. Kamu kan orang berada. Kenapa dapat beasiswa?" tanya Chandra mengalihkan topik supaya diajak bicara.

"Kenapa? Ada masalah dengan itu?" tanggap Leena dengan sinis.

"Tentu saja. Keluargaku habiskan 10 juta *Rez untuk bisa sekolah disini. Itu juga tak akan cukup tanpa bantuan orang-orang di kampung. Tapi beasiswa itu malah diberikan ke orang mampu sepertimu." Balas Chandra.

(1 Rez = 100 Rupiah. Jadi 10 juta Rez tuh besarnya sama dengan 1 Milyar.)

"Hei... Dengar ya!" Bentak Leena. "Yang mendapatkan Beasiswa bukan dilihat dari mampu atau tidak... Tapi peringkat ujiannya. Aku yang tertinggi yahh aku yang mendapat. Lagian ... Si Nicholas itu juga orang kaya kok."

"Ta-Tapi kan?!” Balas Chandra dengan perasaan tertusuk. “Aduh Alzen. Apa kamu orang kaya juga? Benar-benar Beasiswa yang sia-sia.”

“Tidak kok, sebelum bersekolah disini, aku tinggal di rumah menara di atas bukit di ujung West Greenhill.”

“Berarti… Beasiswa itu hanya tepat sasaran hanya ke kamu." Chandra menyesalinya.

"Ahh... Iya… Mungkin." Alzen masih  canggung.

"Kau orang miskin Alzen?" tanya Leena.

"Hmm... Gimana ngomongnya ya, Waktu sekitar umur 4 tahunan. Aku sebenarnya orang berada. Kata orang-orang… Ayahku seorang jenius. Meski tak banyak yang bisa kuingat waktu itu, Tapi sejak banyak hal yang terjadi. Aku hidup di menara diatas bukit di ujung West Greenhill. Yah… memang aku tak memiliki banyak uang dan barang di menara itu. Tapi ratusan buku-buku, bahkan ribuan buku milik ayahku tak pernah membuatku bosan dan akhirnya, aku sangat jatuh cinta pada dunia sihir."

"Ohh tidak…” Chandra menepuk dahinya dan geleng-geleng kepala. “Cerita hidup seorang kutu buku lainnya.”

Senggol Alzen ke Chandra "Diam kamu..."

“Hehe…” Chandra tertawa kecil.

"Wahh... Menarik. Kau pasti orang yang sangat cerdas!" komentar Leena.

"Hee? Malah dipuji?" heran Chandra.

"Tidak juga sih... Aku hanya baca buku yang buat aku tertarik. Selebihnya buku-buku Alchemy yang tak kusuka masih banyak yang belum dibaca. Dan sepertinya tak akan pernah aku baca juga."

"Buku Alchemy? Terus tertarik dengan sihirnya?" aju Leena.

"Ada juga... Dan aku lebih sering baca yang tentang sihir-sihir itu."

"Jadi ayahmu seorang Alchemist?" Leena penasaran.

"Ya... Dari aku kecil ayahku sudah sibuk dengan lab-nya."

"Ayahmu? Alchemist? Jangan-jangan ayahmu?" Leena menerka-nerka. "Kildamash..."

Sambung Alzen. "...Franquille." 

"Jadi benar!? Ki...Kildamash!?" Raut muka Leena seketika berubah.

“Tunggu dulu… Kok kamu bisa tahu!?”

"Mohon maaf... Kalian harus pergi dari sini."

"Ta-Tapi?"

"PERGI !!"

***

Tiba di hari berikutnya.

"Oke!" Sahut Lasius dengan semangat. "Sebelumnya aku ingin beritahu kalian dulu... Aku sebenarnya malas sih kasih pengumuman begini. Tapi sekolah punya sistem yang harus-ku taati. Begini... Kalian belajar sihir api dan belajar bersama dengan komunitas Kelas Ignis ini dari sekarang sampai 3 bulan ke depan. Untuk yang memiliki kemampuan Multi-Elemen kalian hanya boleh bebas belajar elemen yang lain setelah 3 bulan belajar. Atau dengan kata lain, setelah acara tahunan ini selesai. Jadi bersabarlah dan setelah itu kalian boleh bebas memilih kelas. Lalu 3 bulan dari sekarang, akan diadakan Magic Tournament di Battle Arena."

"Battle Arena!?" Tanya murid-murid.

"Ya! Battle Arena,” Lasius menjelaskan. “Jadi, sampai 3 bulan ke depan. Kalian akan latihan untuk persiapan bertarung di Arena. Tugas kalian cuma satu... Menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu, Itu saja.".

"Battle Arena? ... Apa berlangsung di tempat ujian sihir waktu itu?" Alzen memikirkannya.

"Tapi untuk hari ini kalian akan berlatih untuk memperkuat Stamina kalian! Ini penting! Jadi kalian hanya akan berolahraga melatih tubuh kalian sampai kalian tak mudah lelah dalam menggunakan sihir lagi. Terutama untuk kau, Alzen!"

"I... Iya pak!" Jawab Alzen setelah dikageti.

"Kau kuat, hebat dan cukup banyak tahu soal sihir.” Kata Lasius. “Ahh... Aku jarang-jarang memuji muridku... Tapi jangan senang dulu. Staminamu rendah! Bahkan sangat rendah! Itulah kelemahanmu! Kalau kau ikut turnamen nanti. Dan kau kelelahan duluan, kau akan dalam masalah."

Satu kelas menatap Alzen sebagai anak yang paling disorot saat ini.

"Kalau gak salah dia kan, yang dapat beasiswa itu kan?"

"Dia yang waktu itu pingsan kan? Terlihat cupu sih... Tapi ganteng juga." Dan pernyataan ini diucapkan seorang pria.

"Denger-denger dia bisa 3 Elemen loh. Mungkin saat ini hanya dia yang bisa mengusai elemen sebanyak itu."

Selagi cuap-cuap komentar dilontarkan Lasius melanjutkan kata-katanya "Hei... Hei ... Jangan salah sangka. Apa kalian pikir yang memiliki Stamina rendah hanya Alzen seorang? Tentu saja tidak. Ini berlaku buat kalian semua juga. Jadi, cukup penjelasannya sampai disini. Sekarang keluar dan..."

***

Di Lapangan megah di luar kelas Ignis...

"Ahh... Pak? Pak Lasius! Anjing-anjing ini untuk apa?"

"1, 2, 3, 5, 8, 10. Ada 10 anjing spesies German Shepherd. Ini semua untuk apa dibawa kesini?"

Chandra menelan ludah dan berkeringat sekali. "Kayaknya aku paham ini anjing-anjing ini untuk apa?"

"Memangnya apa? Mereka kan cuma Anjing," tanya Alzen santai.

"Nah anak-anak!" Ucap Lasius. "Berhubung ada ratusan orang di Kelas Ignis. 10 anjing rasanya kurang. 10 anjing lagi akan dibawa kemari untuk menemani kalian latihan."

"Latihan? Dengan anjing-anjing galak ini?" Kata Chandra sambil menelan ludah.

"Kalian lihat lapangan ini sangat luas kan? Tugas kalian sederhana. Berlari sekuat-kuatnya ditemani anjing-anjing ini."

"Tuh bener kan!" Chandra terlihat pucat.

“Haah!!?” Alzen bersamaan dengan banyak anak Ignis lain terbebelak kaget.

"Kalian berlari sekuatnya untuk tidak digigit anjing-anjing ini!"

Lasius mengeluarkan para anjing-anjingnya yang galak untuk mengejar mereka. Jadi mereka hanya diminta, ya hanya... Hanya berlari sekuat tenaga dan kabur dari kejaran anjing.

Guk! Guk! Guk! Guk! Guk! Guk! 

“To… Tolong !!” Chandra lari terbirit-terbirit dengan gonggongan anjing yang saling bersahut-sahutan di belakangnya.




Ilustrasi tokoh: Kildamash