Episode 4 - Area 3


Di Dorm Alzen, Lantai 2 kamar ke 7. Di siang hari saat pelajaran kelas sudah berakhir lebih awal.

"Apa-apaan si instruktur Ignis yang edan itu,” Ucap Chandra kesal membantingkan tasnya ke kasur lalu meloncatkan dirinya dan langsung berbaring tidur di ranjangnya. “Siapa namanya tadi... Lasius? Dari namanya saja sudah aneh... Mengajar seenaknya sendiri begitu."

Alzen meneguk segelas air putih. "Puahh... Aku setuju. Tapi… Aku juga punya pendapat lain sih... Aku rasa dia guru yang unik."

"Maksudmu?" Chandra yang sedang tiduran menoleh ke Alzen. "Unik gimana?"

"Aku lihat sih, begini ya...” Alzen menjelaskan. “Dia mengajak kita untuk praktek dulu. Pelajaran dimulai setelah selesai praktek, jadi seperti mengevaluasi kesalahan kita. Supaya kita lebih tertarik dalam belajar, dan fokus pada apa yang harus dipelajari. Terutama, memperbaiki kesalahan yang jelas-jelas nyata terlihat. Begitu sih pendapatku tentang pak Lasius tadi. 

“Hoo…” Chandra mengangguk. “Begitu menurutmu?”

“Sebentar aku minum dulu..."

"Ada benarnya juga sih..." Chandra memikirkannya. "Meski dia agak sedikit nyeleneh dari guru-guru kebanyakan. Tapi lebih bagus begitu daripada Guru-guru yang mencekoki kita mentah-mentah, pengetahuan mereka."

"Ahh iya...  Pengetahuan dari buku… Ugh! Hghh!" Alzen Tersedak air.

"Habisin dulu minumnya..." Chandra menatap Alzen dengan menyipitkan mata.

"Ahh... Maaf-maaf, cough! cough!” Balas Alzen. “Guru yang seperti kau bilang tadi. persis sekali di sekolah waktu aku masih kecil dulu. Benar-benar persis sekali!” Ucapnya dengan sedikit kesal. “Waktu itu aku tak boleh tanya, tak boleh berdebat, tak boleh bilang yang diajarkannya kurang tepat, semuanya serba harus nurut apa yang tertulis di buku dan terima-terima saja apa yang ia katakan. Kita harus terima apa saja yang diajarkan dia." 

"Hoo... Kau sudah cerdas dari kecil ya?"

"Sebenarnya tak begitu. Aku ada rahasianya."

"Apa! Apa! Kasih tahu rahasianya!" 

"Woo, Woo, Woo! Langsung semangat begitu kalau dengar rahasia." Balas Alzen. "Rahasianya adalah... Baca semua bukunya."

"Haaah... Dasar nerd, tidak usah ngomong kalau begitu."

"Begini... Karena guru-gurunya terpaku ke buku. Makanya tinggal baca semuanya dan beli buku yang persis dimiliki si guru. Jadinya... Aku sudah tahu sebanyak yang guru-guru itu tahu. Dari situ aku suka debat karena yang diajarkannya sudah pernah kubaca di bukunya. Ya... Tapi, karena terlalu banyak tanya dan aku dianggap anak bodoh waktu itu."

"Hee? Kau pernah dibilang bodoh?" Chandra tak menduganya. "Guru-gurumu waktu itu pasti menyesal telah melakukan itu, karena si bodoh ini berhasil masuk Vheins dan dapat beasiswa pula."

"Aku tak terlalu pikirkan mereka lagi sih.” Kata Alzen sambil meneguk minuman di gelasnya. “Dulu ada becandaan begini...Malu bertanya sesat dijalan, kebanyakan nanya itu orang bodoh. Ya... Dari sana awalnya sih, haha... Tapi karena aku tinggal dengan ayahku. Lebih sering pertanyaan-pertanyaanku dijawab buku-buku milik ayah sih."

"Ya... Ya, Tuan Kutu Buku. Aku tinggal dengan seorang nerd." Balas Chandra sambil mengangkat bahu dan geleng-geleng kepala. "Baiklah, karena pelajaran sudah selesai lebih cepat. Aku ingin jalan-jalan ke Area 3 dulu deh, Alzen kau mau ikut?"

"Tidak sekarang, Aku ingin berbaring sebentar lagi... Lagipula..." Alzen berbaring lemas.

"Yahh dasar pemalas. Sudahlah... Ikut aku saja!" Chandra memaksa. "Aku yakin kau bakalan lebih sehat saat melihat-lihat Area 3 daripada hanya berbaring disini. Di kampungku ada bilang begini... Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Daripada cuma tidur-tiduran disini ikut aku saja. Kau juga..."

"Oke, oke..." Alzen menutup mulut Chandra. "Oke... Aku ikut, kalau kau memaksa seperti itu."

“Yee… Siapa yang maksa?”

***

Sesampainya mereka berdua di Area 3 yang adalah Area Kota. Mereka pergi ke Magic Show, Tapi Magic disini tentu bukan Sulap, Tapi Sihir Elemental. Panggung itu berada di Outdoor yang di dekor sedemikian rupa hingga jadi seperti panggung theater. Pertunjukan ini mirip seperti konser musik, drama dan kesenian lain. Tapi ini Vheins, tentu saja yang ditampilkan adalah sihir.

Para penampil menggunakan berbagai macam elemen untuk di tunjukkan secara indah dan menghibur. Dari tangan mereka keluar api dan menembakkannya ke udara. Semburan api dari mulut mudah di lakukan dengan bantuan sihir. Hingga terbang dengan bantuan sihir angin. Mengontrol air yang wujudnya menyerupai ular. Dan hal-hal semacam itu.

"Hahaha! Kau menyukainya Alzen?" tanya Chandra yang sedang menonton bersama Alzen.

"Ahh kau berkata seperti ayahku saja... Hahahaha." Alzen tertawa. "Ya !! Aku menyukainya!"

"Adegan sihir favoritmu?"

Balas Alzen dengan antusias. "Bagian favoritku saat orang berjubah hitam itu menembakan sihir petirnya keatas... Sungguh mengagumkan! Sihirnya luar biasa sekaligus berbahaya! Tapi aku dan para penonton kebanyakan terlihat sangat menyukainya..."

"Ohh Pliss, Alzen... Alzen.” Chandra geleng-geleng sambil mengangkat bahunya. “Lihatlah orang itu cuma menggunakan Magic Tool, Sihirnya memang terlihat berbahaya tapi itu aman... Sangat aman. Lagian kan ini kan cuma pertunjukan."

"Hehe? Begitukah?" Alzen tersenyum. "Tapi aku tak peduli. Aku tetap menyukainya."

Lalu seseorang ibu-ibu menepuk Alzen dan Chandra dari belakang.

"Hee... Kalian bolos ya? Kok jam segini kalian keluyuran di sini. Bukannya sekolah yang bener malah bolos. Baru juga hari pertama."

"Hee... Bolos? Kita masuk kok bu." Balas Alzen.

"Buohong!" Ucap Ibu itu dengan mulut dibuka lebar-lebar.

"Lohh ibu tahu darimana kita pelajar di University?" Tanya Chandra.

"Tuh buktinya kalian pake jubah University. Nih dengerin ya... Orangtua kalian tuh sudah bayar kalian sekolah di University mahal... Cari duit susah nak, terus malah kalian bolos dan malah nonton acara begini."

"Ohh iyaa... Ya ibu." Alzen cari aman dengan menggangguk-angguk saja.

Lalu bisik Alzen ke Chandra. "Chandra! Kenapa tadi gak lepas dulu jubahnya..."

"Ahh gini bu..." Chandra berusaha meyakinkan. "Kita tuh hari ini..."

"Selanjutnya !!” Suara pembawa acara menyambut mereka yang menonton. “Pangeran tampan ini akan mengalahkan roh-roh jahat untuk menyelamatkan tuan putri yang tersegel dari belenggu kegelapan."

Di panggung itu terdapat pangeran dan tuan putri di belakang box yang berisi makluk seperti gas hitam di dalam peti kaca transparan seperti aquarium ikan yang terkunci kuat dengan rantai yang besar-besar.

Pangeran berambut panjang pirang itu dengan paras wajah seorang mas-mas itu berkata. "Wahai roh-roh jahat, akan kukalahkan kalian dengan pedang suciku."

"Hari ini...” Chandra mencari-cari alasan untuk menjawab. “Kita..."

"Takkan kubiarkan.” Kata roh-roh jahat itu yang di dubbing oleh seseorang dibelakang panggung. ”Kau takkan bisa mengalahkan kami. Sebaliknya, aku yang akan membunuhmu." 

Lalu pangeran menghancurkan kunci segel peti itu dan roh-roh jahat berbentuk gas hitam itu keluar menyerang Pangeran.

Kata Pangeran sambil menebas roh jahat itu dengan pedang sucinya. "Pergilah kau makluk-makluk jahat !!"

"Kita hari ini pulang cepat bu...” Kata Chandra dengan canggung. “Jadi... Jadi..."

Sementara di panggung, penonton heran karena setelah ditebas makluk itu tak juga hilang.

"Apa yang terjadi!?” Sang pangeran terheran-heran dan ia mulai keringat dingin, merasakan sesuatu yang tidak beres. “Kenapa musuhnya tidak menghilang?" 

"Yang benar saja !!” Teriak salah seorang penonton. “Mereka menggunakan makluk sungguhan."

"HYAAA !! Lari !!”

“Monsternya lepas !! Monsternya LEPAS !!"

Penonton panik dan berlarian keluar...

"Jadi… Lari...” Kata Chandra. “Hee? Lari?"

"Chandra? Ini bagian dari pertunjukannya juga?" Tanya Alzen tenang seolah tak terjadi apa-apa.

"Apa, kenapa, ada apa?" Chandra berbalik dan melihat sebuah sosok monster seperti gas hitam memiliki sepasang mata merah dan mulut dengan gigi lancip yang terlihat sangat berbahaya keluar dari segel peti di atas panggung. 

"O...Ooo...www... Bu?" Chandra berbalik. "Hee dia kemana?" Chandra celingak-celinguk mencari ibu tadi yang tiba-tiba menghilang.

"Huaaa... Monster!" Ibu itu lari kencang sekali.

"Hee? Sudah kabur duluan!"  

"Chan... Chandra monsternya mendekati kita!" Ucap Alzen memperingatkan.

Chandra membalikkan badan kembali. "Gawat! Monsternya gede banget. Lawan atau kabur nih? Alzen?"

Sementara itu pemain Pangeran tampan itu. Setelah monster itu menjauh darinya, sudah dari tadi kabur ke belakang panggung. . Dibelakang panggung pangeran itu diomeli habis-habisan oleh atasannya.

"Apa-apaan ini! Kenapa kamu tak bisa mengalahkannya !!" Marah atasannya. Yang adalah pengelola pertunjukan ini, ia memakai pakaian jas dan topi pesulap.

"Ini diluar skenario bos!" Balas Pangeran itu dengan gemetar. "Kenapa pakai monster sungguhan sih... Sedangkan pedang ini, cuma pedang-pedangan mainan yang bisa bercahaya.” Pangeran itu menunjukkan sebuah pedang dari plastik yang kelap-kelip mengeluarkan cahaya. “Yang benar saja bos!"

“Monster sungguhan?” Atasannya mengintip dari balik tirai dan mendapati di luar, penonton terus berlarian panik hingga tak ada lagi yang duduk menonton.

"Chan... Tapi kalau kita kabur, Monsternya akan menyerang yang lainnya juga."

"Agh... Sial! Apa boleh buat, Kalau begitu..." Chandra menyerang dengan sihir. Ia meninju kencang ke arah dan…

"FIREBALL !!"

Disambung serangan Alzen. Yang mengarahkan telapak tangannya ke depan dan…

"FIREBALL !!"

Bush! Bush!

“GRUUUWAAAA !!” Monster itu menggeliat marah Setelah diserang mereka berdua. Meski tubuhnya dari gas, serangan api itu berpengaruh padanya dan membakar tubuh gas monster itu.

"Nah… Bagian terburuknya. Sekarang, ia fokus pada kita." ucap Chandra yang terlihat gemetar ketakutan.

"Jangan takut! Terus saja menyerang !!" Pinta Alzen. 

"FIREBALL !!"

"Baiklah..." Chandra memasang kuda-kuda seperti dan meninju sekali lagi. Lalu… 

"FIREBALL !!"

Secara bergantian, di sambung Alzen lagi… sambil terus-menerus menyerang.

"FIREBALL !!”

Kata Alzen sembari menyerang. " Chandra, kalau yang lain sudah kabur semua, Kita baru ikut kabur."

***

Semenetara itu penonton di belakang mereka.

"Lari! Lari!" Teriak para penonton berlarian panik.

"Monster! Ada Monster!"

"Guard, Dimana Guard? Panggil Guard! Ada Monster!"

"GROARROORARR !!" Monster gas itu mengaum seperti binatang buas dan melancarkan serangan ke mereka berdua.

"Chandra! Awas!"

"Haah!?” Chandra terpelanting jatuh dan memuntahkan darah dari mulutnya. “UAGGHHHH !!?”

"Bagaimana ini! Sudah diserang berkali-kali tapi masih bertahan juga." Alzen kini memfokuskan api di kedua tangannya, menunggu sampai apinya lebih padat dan lebih kuat untuk serangan berikutnya.

"FIRE PIERCE !!" 

Alzen menembakan api dengan meninju lurus ke depan, Sampai-sampai serangannya menembus tubuh monster itu, seolah di tikam dengan tombak api yang besar.

“GRROOOOORRR !!” Aum monster gas itu.

"Hosh… Hosh… Berhasil!" Ucap Alzen gembira. "Seranganku menembus tub-"

DESSSTTT !!

Dalam sekejap Monster gas itu memadatkan dirinya dan membalas serangan Alzen barusan dengan hantaman seperti cambuk.

“UGGHH !!?” Alzen yang tak siap terpental jauh hingga ke ujung kanan ruangan. “Celaka!!?”

Selagi Alzen terpental, ia menembakkan api besar ke depan untuk menahan daya tekannya agar tidak sampai menabrak tembok.

"Dasar bodoh... Kau malah membuat dia semakin marah!" Kata Chandra yang terbaring kesakitan.

Monster itu mengecil, tapi dengan tubuh yang makin kecil karena telah berkali-kali diserang, namun, kini ia jadi bisa bergerak cepat. Kemudian ia mengejar Alzen yang belum sepenuhnya pulih dan menggigit pundak kiri Alzen sampai berdarah.

"UAGHHHH!!" Teriak Alzen kesakitan karena tegigit. "Gas!? Tapi dia punya gigi setajam ini... AGHH !!"

"Haduuh Bagaimana ini..." Chandra panik. "Aku harap ada yang bisa Elemen Cahaya... Tapi siapa? Aku… Aku tidak bisa!"

"UAGHHHHHH!!" Alzen makin menggeram kesakitan.

Lalu sepintas tebasan cahaya kuning melintas memotong tubuh monster itu. Bertubi-tubi dan bolak-balik dengan lintasan lurus dan tak beraturan arahnya ke kiri lalu kanan dan ke kiri lagi begitu seterusnya. 

Classtt! Classtt! Classtt! Classtt! Classtt! 

Monster itu ditebas berkali-kali dengan kecepatan tinggi. Seperti garis kilatan cahaya yang bergerak tegak lurus menebas dari berbagai arah. Lalu di tebasan ke 19, tebasan lurus dari atas ke bawah. Monster gas itu enyah terbelah dua dan lenyap seperti gas hitam yang hilang di terpa angin kencang.

"Hebat..." Alzen terpukau menyaksikan banyak garis-garis lurus yang mencincang monster gas ini.

Setelah monster itu dikalahkan. Terlihat seorang punggung wanita berambut pirang panjang yang tubuhnya bersinar sesaat sebelum berhenti menyerang , berbaju putih dan dipinggang kirinya, ia mensarungkan pedangnya.

Lalu terlihat sesosok wanita datang menghampiri mereka. Sambil berdiri di hadapan Chandra ia berkata. "Harapanmu terkabul."

"Hee…!? Kau kan!?"