Episode 51 - Penantian



Erina masuk ke dalam ruang pasien favoritnya. Membuka tirai jendela, dan sinar terik matahari pagi menerangi ruangan. Membawa sepucuk bunga mawar untuk mengganti yang ada di dalam vas yang ada di atas lemari kecil. Warna mawar yang sama seperti seseorang yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.

Sudah seminggu berlalu, dan tak ada tanda-tanda Bagas akan terbangun dari tidurnya.

Melihat ke arah wajah yang tak berdaya itu, Erina merasa bahagia sekaligus sakit di saat yang bersamaan. Itu karena dia bisa setiap hari melihat wajah mempesona itu. Itu karena setiap hari dia hanya bisa melihat wajah mempesona itu.

Di malam saat pemeriksaan Bagas mencapai hasilnya. Erina tak diberikan izin untuk ikut mendengarkan, jadi dia hanya berdiam diri di dalam ruangan. 

Namun, karena satu hal dia pergi keluar. Dan dia mendapatkan satu hal yang mengejutkan dari para suster yang sedang berbincang-bincang saat bekerja.

“Aku kasihan dengan pasien nomor 235 itu.”

“Pasien yang tampan itu, kenapa?”

“Ya, itu karena dia masih muda, dan dia juga punya seorang gadis cantik yang ada di sampingnya. Tapi, dia malah terserang koma.”

“Eeh, apa itu keputusan dokter setelah memeriksanya?!”

“Begitulah, karena benturan yang diterima di belakang kepalanya cukup membahayakan. Tubuhnya juga terlihat lebih lemah dari kelihatannya. Dan lagi, cowok tampan berambut merah itu memiliki anemia dan beberapa penyakit lainnya.”

“Wah, kasihan banget. Padahal dia masih muda.”

“Tapi dari yang kudengar, catatan kesehatannya juga semakin memburuk dari tahun ke tahun. Dulu dia juga pernah mengalami luka yang cukup berat di kepalanya. Sehingga kepala bagian kanannya tak dapat bekerja dengan optimal.”

“Hiks!”

Tiba-tiba saja, suara nafas berat seseorang menghentikan obrolan kedua suster tersebut. Mereka berdua pun mendatangi asal sumber suara itu, dan menemukan Erina yang telah terduduk di lantai.

Dua suster itu menyadari siapa Erina, karena tak ada seorang pun di dalam rumah sakit yang penampilannya semencolok Erina dan Bagas.

“N-nona!”

Salah satu suster memanggil Erina dan mencoba membantunya.

Menutup mulutnya dengan kedua tangan, menundukkan kepala dan membuat wajahnya tak kelihatan dengan rambutnya. Pekikan tangis Erina yang kuat cukup membuat kedua suster merasa khawatir.

“N-nona, nona tidak perlu khawatir. Pasti pasie—pasangan anda akan segera sembuh!”

Salah satu suster yang sejak tadi membeberkan pengecekan kondisi Bagas yang merasa sangat khawatir. Karena bagaimana tidak, mengetahui kalau pasangannya memiliki keadaan yang begitu buruk, pasti tidak akan tidak membuat seseorang yang mencintainya menangis.

Namun, Erina tak bisa terus menerus menangis di tempat itu. 

“Maaf, tapi, aku baik-baik saja.”

Dia menghentikan pekikan dan pergi berjalan. Meskipun mengatakan begitu, tetapi keadaannya sekarang benar-benar tak bisa terbilang baik-baik saja. Karena dapat berdiri dan berjalan saja, sudah merupakan keajaiban.

Tak menghiraukan rasa kekhawatiran dua suster sebelumnya, Erina terus berjalan dengan tatapan yang kosong. Dia berjalan sedikit terhuyung, dua suster yang sebelumnya ingin membantu, mengurungkan niat mereka dan membiarkan Erina sendiri.

Dia terus berjalan menuju ruangan di mana Bagas berada. Beberapa kali dia juga berjalan dengan berpegangan pada dinding. Tetapi, sebelum dia sampai ke ruangan, tubuhnya roboh untuk yang kedua kalinya.

Salah satu tangannya berpegangan pada dinding, satunya lagi menahan suara yang akan keluar dari mulutnya. Karena pada saat itu, dia benar-benar tak bisa mengendalikan emosi, dan bisa saja seketika meneriakkan perasaan sakitnya.


Satu bulan berlalu. 

Keadaan masih sama seperti biasanya. 

Erina membawa sepucuk bunga mawar yang memang harus diganti selama tiga atau empat hari sekali. 

Mengecek keadaan ruangan, yang mana masih terlihat sama. Dia duduk di sebelah ranjang. Menghadapkan tubuhnya ke arah luar jendela agar penerangan yang dia dapat saat membaca buku tak kurang.

Tubuh yang di atas ranjang, keadaannya masih sama. Tertidur dengan pulasnya, tanpa ingin mengetahui masalah yang terjadi di dunia nyata.

Erina terpikirkan sesuatu ke wajah mempesona itu. Apa yang dia mimpikan di alam sana? Sehingga membuatnya betah dan tak ingin kembali ke dunia nyata. Apakah kenyataan di alam sana lebih baik daripada kenyataan di alam sini?

Membiarkan buku bacaannya terbuka dan dia melihat ke arah wajah yang membuatnya rindu akan kasih sayang. Dia mendekat, buku yang ada di pangkuannya dibiarkan terjatuh. Karena pada saat itu, dia tak ingin melakukan pelarian lewat sebuah cerita. 

Dia ingin menghadapi kenyataan, kenyataan bahwa orang terkasih sedang tertidur diam tak berdaya. 

Dia mendekatkan wajahnya, sehingga hanya tinggal beberapa cm wajah mereka dapat bertabrakan. Namun, dia tak bisa melakukannya—melakukan hal seperti itu di saat seseorang yang dicintainya tak sadarkan diri.

Dia mengganti sasarannya, naik sedikit ke atas, menyibakkan rambut yang menghalangi kening, dan mencium kening itu dengan kasih sayang yang sebesar-besarnya.


3 bulan telah berlalu, dan tak ada yang berubah. Hari-hari yang mereka lewati selalu sama selama 3 bulan ke belakang. Di saat seseorang yang berada di atas ranjang tak kunjung membuka matanya, Erina selalu membaca buku apapun yang bisa membuatnya menghabiskan waktu.

Tak jarang juga Ani datang menjenguk, begitu pula Elang. Namun, kedatangan mereka yang sebenarnya bukanlah mengkhawatirkan keadaan Bagas, tetapi keadaan Erina yang semakin hari semakin memburuk.

Terkadang dia melupakan makan dan minum selama berada di ruangan. Tubuhnya yang dahulu bahkan bisa dikatakan lebih gemuk dari Ani, saat itu tak lebih dari seorang gadis yang sedang menjalani diet berat.

Hal itu pula yang membuat mereka yang berada di dekatnya bingung bagaimana harus menghadapinya. Sering pula diketahui kalau dia menangisi seseorang yang sedang tertidur di atas ranjang.

Tak menerima kenyataan bahwa rasa sakit yang diterima oleh yang terkasih begitu berat untuk ditahan. 

Mata yang dahulu semenawan langit yang cerah, saat itu seperti ada mendung yang menutupi langit cerah sebelumnya. Pandangan yang dulu juga memandang jauh ke depan, saat itu hanya selalu memandang ke 1 meter di depannya.

Kosong. Begitulah kalau ingin mengibaratkan keadaan Erina yang sekarang. Satu-satunya harapan dia ingin melanjutkan hidup—bukan mati—telah tak berada lagi di sisinya. Memang, tubuhnya selalu berada di dekatnya selama 3 bulan, namun, apa yang ada di dalamnya, tak lagi bisa bersamanya.

Tak hanya menemani, tetapi membuatnya memiliki tujuan untuk terus hidup—bukan mati.


Pagi hari di kesekian harinya dia tertidur di samping yang terkasih. Tanpa disadari, kebangkitan dari seseorang yang selalu dia tunggu akhirnya tiba.

Ruh yang sebelumnya meninggalkan tubuh selama beberapa jam, akhirnya kembali dan membuatnya terbangun.

“Aakh!”

Dia mendengar suara dari arah depan. Suara yang selalu mengingatkannya akan kebahagiaan masih berpihak kepadanya.

Dengan sangat perlahan, dia mengangkat tubuh. Karena dia tak ingin kalau apa yang terjadi saat itu hanyalah mimpi. Dan pada saat kepalanya telah berada di titik paling tertinggi, matanya mendapati kalau apa yang sedang terjadi bukanlah sekedar mimpi.

“Apa yang... akh, kepalaku.”

Sosok itu terus mengeluhkan kondisinya yang buruk. 

Di ruangan yang cukup gelap, Erina sama sekali tak salah melihat, kalau seseorang yang di hadapannya telah bangun dari tidur panjang. Dengan seketika air mata kebahagiaan mengalir dari pipi menuju dagu, menetes ke bawah akibat fenomena dari gaya gravitasi.

Mengetahui kalau ada seseorang yang berada di sampingnya, yang terkasih menatapnya dengan wajah bingung yang bercampur dengan merasa sakit.

Erina sangat terkejut saat mata itu memandang ke arahnya—pandangan mereka bertemu.

“K-kau... aduh.”

Sosok itu hendak memanggilnya, tetapi, sebelum kata-katanya selanjutnya keluar, dia lagi-lagi merasakan sakit di kepala. 

Erina mengeluarkan ekspresi khas saat seseorang menahan tangis. Tetapi, dia tak benar-benar bisa menahannya. Karena rasa kebahagiaan yang sangat telah membuatnya tak bisa terus menerus menahan kerinduan.

Sampai pada akhirnya—saat Bagas melihat ke arah Erina—dia melompat ke arah yang terkasih.

Sambil mengeluarkan kerinduan yang sangat mendalam, dia menekan sangat kuat. Bermaksud untuk takkan membiarkannya pergi lagi.

Erina menangis tersedu-sedu saat berada dalam dada yang sangat kurus itu.

“H-hei, apa kau tidak apa-apa?”

Bagas terlihat sangat mengkhawatirkan perilaku Erina yang sangat tiba-tiba. Erina memang tak bermaksud ingin meledakkan perasaannya langsung saat Bagas membuka mata, tetapi saat itu dia telah benar-benar tak dapat menahan.

Sehingga membuat ledakan di dalam dirinya tak dapat tertahan lagi.

“Syukurlah, syukurlah.”

Memeluk erat tubuh kurus itu, Erina mengucapkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya. 

Namun, dia tak ingin terus-terusan berada dalam posisi seperti itu. Jadi dia menarik kembali tubuhnya. Duduk dan mencoba menenangkan diri.

“Hei.”

Bagas memanggilnya, wajah mereka berada dalam jarak aman. Meskipun begitu, ruangan masih cukup gelap untuk melihat secara jelas ke sekeliling. Namun, Erina dapat melihat sangat jelas ke arah sosok yang ada di depannya.

“Kau, siapa? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”

***

“Kau, siapa? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”

Seketika jantung Erina berdetak sangat keras dalam sekali degupan. 

Bagas masih menunggu jawaban darinya, darinya yang tak tahu harus mengatakan apa. Sampai dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi, dia tak ingin menerima lagi—menerima rasa sakit yang sangat.

Sampai akhirnya dia berlari dan keluar dari ruangan. Meninggalkan Bagas yang di dalam pikirannya masih penuh akan pertanyaan.

Di luar, dua orang yang hendak berkunjung melihat Erina yang sedang berlari.

“Kak Eruin!”

Elang memanggil Erina yang akan melewati mereka, tetapi dia sama sekali tak berhenti berlari. Malahan dia semakin menambah kecepatannya.

“Sayang!”

“Aku tahu.”

Ani dan Elang menjadi panik akibat perilaku Erina barusan. Namun, mereka tak membuat pikiran mereka kacau. Meminta Ani untuk segera mengejar Erina, Elang menuju ke dalam ruangan.

Masuk melalui pintu yang masih terbuka, dia mendapati ruangan yang masih dalam keadaan cukup gelap. Meskipun begitu, dia dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang duduk di pinggiran ranjang.

Setelah melepaskan infus yang ada di tangannya, sosok itu berjalan ke depan jendela, membuka horden dan membiarkan sinar mentari pagi menerangi ruangan.

“Yo!”

Elang memanggil sosok bermahkota merah darah itu dengan nada yang sedikit mengancam.

“Sepertinya kau sudah bangun.”

Sosok itu berbalik dan menghadap kepadanya.

“Elang.”


Catatan penulis :

Halo pembaca setia HC(singkatan, jangan tanya apa), tak terasa tahun sudah mau berganti. Dan tak terasa juga sudah enam bulan sejak HC menjejakkan kakinya dan melangkah di dalam web ini. Jadi, setelah sekian lama menikmati cerita ini, apa kesan dan hal-hal apa saja yang kalian dapatkan terhadap cerita, karakter, dan mungkin saja author :3 ini ?

LEAVE A COMMENT OR JUST GET THE HE*L OUT OF HERE!

Okay-okay, yang itu cuma bercanda. Tapi serius, siapa pun kau di sana, yang tua maupun muda, golongan putih atau hitam, melotot atau sipit, kurus atau gemuk, kalau kau menikmati cerita ini, berilah author ini sedikit asupan semangat untuk memulai hidup baru T_T. Ei bukan ding :v, maksudnya asupan semangat untuk melanjutkan perjalanan cerita ini yang hanya tinggal setengahnya saja untuk author tulis dan kalian asupin :’)