Episode 50 - Memberikan Kebahagiaan



“Dia pasti akan segera membuka matanya, kok.”

Kata-kata itu dikatakan bukan dari Elang maupun Ani. Melainkan dari seseorang yang masuk tanpa pemberitahuan ke dalam ruangan. 

Memakai pakaian batik serba hitam, dan mereka semua—tak terkecuali Erina yang mengangkat kepalanya—tahu siapa yang datang itu.

***

Risak masuk ke dalam ruangan di mana Bagas di tempatkan.

“Emm, bukan itu. Hanya saja, tak peduli seberapa lama, yang kuinginkan hanya dia membuka matanya. Itu saja.”

Dan pada saat dia hendak membuka pintu, suara itu terdengar masuk ke dalam telinganya. 

 “Dia pasti akan segera membuka matanya, kok.”

Dengan halusnya dia masuk ke dalam ruangan, mengatakan itu saat dia telah masuk, dan membuat tiga orang di dalam sedikit terkejut dibuatnya.

Dia berjalan mendekat ke sisi ranjang pasien. Melihat ke arah anak laki-laki yang berbaring dengan lemahnya. Wajahnya seketika menunjukkan ke arah anak laki-laki itu, kasih sayang, cinta, dan rasa sakit. Secara tidak langsung memberitahu kepada tiga orang yang melihatnya, bahwa perasaan itu ditujukan kepada anak yang sangat dia cintai.

***

Erina sangat terkejut, saat Risak secara tidak langsung memberitahu kepadanya, tentang silsilah yang sebenarnya dalam keluarga Bagas. Meskipun begitu, dia belum sempat tersadar akan keterkejutannya saat Risak hendak pergi dari ruangan.

“Dia, bukanlah seseorang yang akan menyerah pada dirinya sendiri. Jadi, dia pasti, akan segera bangun.”

Setelah mengelus dengan sangat perhatian kepada anaknya, Risak berbalik dengan berbicara tanpa berhadapan pada Elang.

“Nak Elang, bisa jelaskan pada kami, keadaan yang sebenarnya.”

“...Baik.”

Risak berjalan menuju pintu keluar, Elang yang mengerti maksud dari perkataan yang ditujukan kepadanya mulai mengikuti Risak dari belakang. Tetapi, sebelum mereka berdua benar-benar keluar dari ruangan, Erina menghentikan langkah kaki mereka.

“Bu Risak!”

Dengan nada yang cukup keras, Erina bangkit dan menghadap ke arah Risak.

“Tolong—tolonglah...!”

“Neng Erina.”

Erina hendak meminta sesuatu pada Risak, tetapi Risak menghentikannya. Digantikan dengan perkataan yang membuat Erina terbuai dengan perasaan sedih.

“Sejak kecil, ibu selalu memberikan Mas Bagas pilihan. Dan pilihan apapun yang dipilihnya, akan selalu ibu dukung. Lalu, dua hari yang lalu ibu memberikan sebuah pilihan kepada Mas Bagas, yang hasilnya kamu pasti sudah tahu bukan.”

Setelah mengatakan hal itu, Risak kembali berjalan keluar. Elang berhenti sejenak karena terkagum dengan sosok yang ada di depannya. Dan setelah beberapa saat, dia kembali mengikuti Risak dari belakang.

Di dalam, dua orang yang tersisa memiliki perasaan tersendiri dalam menanggapi perkataan Risak. Ani benar-benar tak bisa berkata apa-apa tentang cara Risak menangani masalah, sedangkan untuk Erina, dia tahu betul apa yang dimaksudkan.

Menekankan wajahnya lagi ke dada sang ksatria, Erina berdoa dalam hatinya untuk kesembuhan sang ksatria. Berharap dengan sangat tulus, agar sang ksatria tak terlalu lama memejamkan mata.

***

Menuju ke sebuah tempat, Elang terus mengikuti ke mana Risak membawanya. Sampai mereka berhenti di satu pintu yang pastinya Elang tahu itu ruangan apa.

Membuka pintu dan masuk ke dalam, di dalam sudah menunggu orang tua yang telah membesarkannya.

“Ayah.”

Elang menggumamkan hal itu sebelum masuk.

Risak yang telah mengetahui maksud dari pertemuan ini duduk tanpa sungkan di salah satu dari empat kursi tamu. Berdampingan dengan ayah Elang.

“Kau bisa duduk, Anakku.”

Setelah diberikan izin, akhirnya Elang duduk seperti yang dikatakan. Menghadap ke arah dua orang tua yang sedang meminta sebuah kejelasan padanya.

“Kamu pasti sudah tahu maksud dari pertemuan ini bukan, Nak Elang.”

Risak yang berekspresi sama seperti ayahnya, meminta kepastian pada Elang, bahwa dia pasti sudah tahu apa yang harus dijelaskan.

“Ya, bahkan sebelum ibu memanggilku, aku sudah tahu waktu ini akan datang. Waktu di mana aku bisa menjelaskan semuanya pada kalian. Tentang apa yang sebenarnya terjadi? Tentang kenapa semuanya jadi begini? Tapi kupikir, ibu pasti sudah tahu semua itu bukan?”

“Aku bukanlah peramal ataupun seseorang yang bisa melihat ke masa depan tanpa memprediksi, Nak Elang. Tapi kalau kamu tanya aku sudah tahu atau belum, sebenarnya aku sudah mengetahuinya. Sejak kedatangan Nak Erina pertama kali.”

Pertemuan pertama, di mana Risak melihat ke arah Erina yang hampir putus asa dengan keputusannya. Berpikir apa yang menyebabkan dia sampai murung, dan saat dia melihat ekpsresi Erina sewaktu pertama kali dia melihat anaknya bertemu dengan Erina, meyakinkan Risak kalau ada sesuatu yang mengikat mereka berdua.

“Yah, meskipun begitu, aku tak bisa melakukan apapun selain menyerahkan hal itu pada Mas Bagas sendiri.”

“Tapi ibu memberikan beberapa dukungan untuknya bukan?”

“Hanya satu, dan apa yang kulakukan di masa lalu tak ada hubungannya dengan itu. Lagipula, seorang anak akan tumbuh seiring berjalannya waktu, yang seharusnya dilakukan orang tua adalah memberikan dukungan pada apa yang menjadi pilihannya.”

Jasa ibu yang telah diperbuat, Elang sama sekali tak meremehkan hal itu. Karena itulah, dia sangat menghormati dua orang yang ada di hadapannya.

“Sepertinya hanya ayah di sini yang belum mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi.”

“Ayah tak perlu terburu-buru seperti itu. Lagipula, kalau aku memberikan beberapa poin saja untuk ayah dengar, pasti ayah akan dengan cepat mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.”

“Kalau begitu katakanlah, Anakku.”

Elang menarik nafas panjang. Sebelum menjelaskan apa yang membuat kejadian kali itu terjadi di hari di mana acara yang sangat penting berlangsung.

“Yah, singkatnya, mereka sedang jatuh cinta.”

“Apa yang sebenarnya membuat perasaan itu tumbuh di hati mereka berdua?”

Sang ayah meminta kejelasan lebih lanjut. Meskipun Elang juga tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi antara hati mereka berdua, hanya saja firasatnya mengatakan kalau cinta di antara mereka benar-benar nyata.

“Kupikir, hal itu tumbuh sewaktu pertama kali kak Eruin bertemu dengan Bagas, saat aku melihatnya pulang dengan wajah yang penuh (terbebaskan) dengan (dari) senyuman (penderitaan), aku (hatiku) menyadarinya (bahagia). Dan (tapi) ketika aku menyadari kalau itu berawal dari saat pertemuan pertama mereka, siapa saja pasti dapat menyadarinya bukan.”

Di sela-sela perkataanya, terdapat beberapa kata yang lain yang dia ucapkan. Ekspresinya juga berubah seiring kalimatnya keluar.

Dengan penjelasan sesingkat itu, ayah dan ibu kedua belah pihak telah mengetahui akar kejadiannya. Namun, mereka masih belum puas dengan hanya penjelasan itu.

“Tapi, bagaimana Bagas bisa mengetahui tempat ini? dan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan para penjaga.”

“Kalau soal itu, aku yang meminta bantuan dari Nak Elang untuk membantu Mas Bagas. Tapi, iya juga sih, kenapa Mas Bagas harus bertengkar dengan para penjaga kalau dia sudah memiliki izin untuk memasuki acara.”

Seketika bulu kuduk Elang berdiri. Punggungnya terasa mulai basah. Keringat dingin agaknya mulai menyerang tubuhnya. Karena apa yang terjadi dengan Bagas saat itu, sebagian adalah ulahnya.

“Y-ya-ya, kalau itu, maafkan aku.”

Elang yang tak tahan dengan dirinya sendiri, menundukkan kepala kepada kedua orang tua yang ada di hadapannya.

“Bagas menjadi seperti itu, mungkin saja karena ulahku. Memang dari awal aku mengundangnya secara resmi ke dalam acara, tapi aku ingin melihat kesungguhannya dalam merebut Kak Eruin. Karena itulah, aku meminta kepada para penjaga untuk sedikit mempersulit dia untuk masuk.”

Sesaat dia menghentikan penjelasannya, sedikit mengangkat kepala dan membuat nada sedikit melucu.

“Tapi, entah bagaimana caranya, sepertinya kedua belah pihak tersulut emosi dari ulah entah siapa. Membuat mereka bertarung dan menyebabkan korban luka.”

“Angkatlah kepalamu, Nak Elang.”

Elang menuruti perkataan Risak, hanya saja, dia masih sangat takut untuk melihat wajah dari respon kedua orang tua di hadapannya. Takut mereka kecewa karena dia bukannya membantu, malah mempersulit proses penyatuan Bagas dan Erina.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku juga takkan menyalahkanmu atas apa yang terjadi dengan Mas Bagas.”

Setelah mendengarkan perkataan tulus—yang juga termasuk dalam perkataan pemberi maaf—Elang sedikit demi sedikit mengangkat kepalanya.

Dan dia menemukan dua wajah yang masing-masing memberikan ekspresi berbeda. Untuk ayahnya, menengok ke arah dinding kaca tembus pandang dengan ekspresi yang sulit ditebak. Namun sepertinya, wajah itu tak kecewa sedikitpun dengan tindakan Elang.

Di sisi lain, Risak memberikan senyuman dengan kepala yang sedikit menunduk. Menutup matanya, dan terlihat sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.

Elang tak tahu respon seperti apa yang harus dia tunjukkan untuk reaksi kedua orang tua di hadapannya.

“Jadi intinya, semua ini terjadi bahkan sudah hampir 10 tahun yang lalu. Tapi kenapa Erina harus menunggu di saat seperti ini? seharusnya dia kan bisa melakukannya sebelum acara perjodohan di rencanakan.”

“Kupikir, aku tahu penyebabnya.”

Risak menyela apa yang seharusnya dipertanyakan ayah Elang kepada anaknya.

“Batasan umur. Aku pikir itulah yang diincar oleh Nak Erina. Dan lagi, hati yang rapuh tak bisa begitu saja berbuat sesuatu tanpa dorongan yang kuat.”

“Itu berarti, perjodohan ini juga merupakan faktor kenapa Erina meminta liburan. Kupikir dia hanya mau meminta lebih banyak waktu untuk menikmati masa mudanya.”

“Itu memang bisa saja menjadi salah satu faktor tindakan Nak Erina. Apa boleh aku bertanya sesuatu tentang Nak Erina, Pak Huntara?”

“Ya, tentu saja.”

“Dari yang kudengar, dia akan—dia telah dijodohkan dengan seorang rekan kerja dari negara sekutu perdagangan, dan Nak Erina juga merupakan seorang bangsawan yang seharusnya dia tak berada di sini...”

Risak tak melanjutkan perkataannya, karena dia tahu, pasti ayah Erina tahu betul dia harus menjawab apa untuk pertanyaan itu.

“Ya, setelah mereka resmi menikah, Erina akan dibawa pergi dari sini. Tentu saja untuk bertujuan melestarikan silsilah kekeluargaannya. .”

“Sudah kuduga. Kalau memang begitu, tentu saja Nak Erina akan menolak perjodohan ini.”

Perkiraan Risak, yang bahkan tak diketahui oleh kedua keluarganya membuat terkejut. 

“Apa yang anda maksud, ibu perwakilan keluarga Jawara?”

“Jangan panggil aku dengan sebutan berlebihan begitu, Pak Huntara. Lagipula sebentar lagi kita akan besanan.”

Sebutan berlebihan yang diucapkan ayah Erina memang sedikit tak diperlukan. Karena dengan bangunnya Bagas, tentu saja hal itu akan menyatukan kedua keluarga.

“Kalau bapak bertanya seperti itu, tentu saja kalian takkan bisa menemukan jawabannya sendiri. Karena hal ini hanya bisa dimengerti oleh para kaum wanita. Neng Ani contohnya.”

“Ani?”

“Ya, sebenarnya dia mengetahui kalau Neng Erina akan menolak pernikahan, karena itulah dia bersikap tenang.”

“Tapi, kenapa dia tak mengatakannya padaku?”

“Tentu saja, intuisi wanita terkadang mengatakan kalau mereka harus menyimpan rahasianya sendiri. Tanpa harus memberitahu orang terkasih. Yah, meskipun hal itu juga termasuk hal yang tak boleh dilakukan, karena dapat menyebabkan perselingkuhan.”

Seketika wajah Elang menegang. Menatap ke arah Risak dengan wajah penuh pertanyaan. Tetapi Risak menanggapi reaksi berlebihan Elang dengan respon santai yang menenangkan.

“Tenang saja, Neng Ani takkan berbuat hal seperti itu. Dalam masalah ini, hal itu lebih mengarah ke kepercayaan para wanita. Neng Ani yang percaya kalau Nak Erina akan menolak pernikahan. Lalu Nak Erina yang percaya kalau Neng Ani akan membantunya dari belakang. Mm, seperti itulah.”

Hampir saja membuat janjung copot. Benar-benar sesosok wanita yang sangat mengejutkan. Begitulah pikir Elang.

“Dan, untuk menyelesaikan masalah ini, tentu saja kita harus menunggu Bagas bangun, benarkan?”

“Ya, tentu saja. Setelah itu baru kita bisa menentukan jalan keluarnya. Apakah mereka berdua akan melanjutkan hubungan mereka, atau mereka harus menunggu sampai kelulusan?”

Kedua orang tua di hadapannya berbicara mengenai persoalan anak yang begitu rumit dengan mudahnya. Seperti Bagas dan Erina hanya akan menjawab ya atau tidak terhadap setiap pertanyaan. 

“Kalau begitu, pertemuan kali ini berjalan dengan lancar bukan.”

“Ya, begitulah. Kamu boleh pergi nak Elang, kami berdua masih ada hal yang harus dibicarakan.”

“Membicarakan soal apa lagi?”

Tak menjawab pertanyaan Elang, kedua orang tua di hadapannya menutup mata mereka. Membiarkan seseorang yang lebih tepat menjawab pertanyaannya.

“Anakku, apa kau tahu berapa umur ayah sekarang?”

“56.”

“Sudah tua bukan.”

“Y-ya, begitulah seharusnya.”

“Dan ayah juga belum kunjung memiliki cucu.”

Seperti ada beban yang sangat berat yang membebani di bagian kanan, Elang hampir terjatuh karenanya. 

“Y-ya-ya, tak usah terlalu terburu-buru seperti itu. Lagipula hidup kita masih panjang bukan.”

“Dasar bodoh!”

“-!”

“Apa kau pikir kesabaran bisa begitu saja tertahan hanya karena hidupmu panjang.”

Elang tak bisa berkata apa-apa saat Sang Ayah membentaknya. Terkejut karena ayah yang biasanya tak dapat memberikan ekspresi kepadanya, saat itu marah karena dia menganggap enteng persoalan yang sangat penting.

“Ha! Apa kau pikir ayah bisa menunggu lebih lama lagi untuk bisa menggendong seorang cucu?!”

“Y-ya, itu bisa diatur, jadi ayah tak usah terlalu khawatir seperti itu.”

Elang yang saat itu baru saja menerima sebuah emosi dari ayahnya, sedikit merasa tertekan. Meskipun begitu, dia tahu kalau emosi itu tak semata-mata untuk memarahinya. Melainkan, saat itu juga sang ayah memberikan harapan yang sangat besar kepadanya.

“Hm! Dasar tak bisa diharapkan. Kalau kau tak sebegitunya sanggup untuk mengemban tugas menjadi seorang ayah, ayah pikir ayah akan memberikan harapan besar ayah terhadapmu kepada Bagas.”

“Eh!”

Elang yang saat itu kembali duduk, terdiam, terpaku, mematung karena perkataan ayahnya yang sangat mengejutkan. 

“Umm, itu sepertinya ide yang cukup bagus. Lagipula Mas Bagas sekarang sudah berada dalam umur yang bisa mengemban tanggung jawab seperti itu.”

“Kalau begitu, setelah kesembuhannya, kita langsungkan saja acara pernikahan mereka berdua.”

“Wahaha, sepertinya itu ide yang cukup bagus.”

“Hmm, tapi, pesta pernikahan seperti apa yang harus diadakan.”

“Bagaimana kalau menggunakan adat jawa?”

“Hm-hm, sepertinya itu bukan ide yang buruk.”

Kedua orang tua di hadapannya dengan asik membicarakan tentang rencana yang mungkin saja tak disetujui oleh pihak yang dimaksudkan. Tetapi, dua orang itu dengan santai dan cerianya terus meneruskan pembicaraan mengenai pernikahan.

Elang yang seharusnya juga berkontribusi mengenai perencanaan tersebut memberikan protes sebagai pihak yang tak setuju.

“Tu-tunggu dulu!”

Memberikan tanda berhenti, kedua orang tua tersebut menghentikan pembicaraan mereka. Lalu memfokuskan pandangan kepada Elang yang menghentikan obrolan asik yang saat itu telah mencapai titik di mana ‘bagaimana adat jawa bekerja’?

“Ada apa, Nak Elang? Apa kamu juga mempunyai usul mengenai pesta pernikahan yang akan diadakan.”

Kedua orang tua di depannya menatapnya penasaran. Elang lalu memundurkan sedikit tubuhnya yang sebelumnya maju ke depan. 

“Yah. Itu, tapi kan Bagas masih sekolah.”

Itu adalah sanggahan yang sedikit lucu. Begitulah pikir dua orang tua di hadapannya. Salah satunya tertawa dengan manisnya, seperti seorang yang bukan berada pada umur 40. Sedangkan, ayahnya hanya tersenyum geli melihat perilaku Elang.

Elang hanya bisa memberikan wajah bingung terhadap perilaku mereka yang mengejutkan.

“Tak kusangka, kamu seseorang yang mengkhawatirkan sesuatu seperti itu juga ya, Nak Elang.”

Tentu saja, karena bagi seorang guru yang pada saat itu sedang mendengarkan rencana pernikahan anak muridnya, takkan tinggal diam dan hanya melihat seluruh perencanaan dilakukan.

“Apa kau berpikir kami akan menikahkan mereka secepat itu, anakku?”

“Eh?!”

“Tentu saja kami takkan menikahkan mereka secepat itu, tapi yah, itu tergantung kepada Mas Bagas juga sih.”

“Maksudnya?”

“Kamu seharusnya sudah tahu bukan, mereka yang berada di kursi tertinggi bisa saja meninggalkan sekolah karena mereka telah memiliki bukti kalau mereka tak perlu lagi bersekolah.”

“Ooh, aku ingat. Para pangeran dan putri telah mendapatkan izin untuk lulus dari sekolah. Dan Bagas telah mendapatkan izin itu, setahun setelah dia bersekolah.”

“Lalu ini adalah tahun ketiga, dan dia masih mau bersekolah. Apa kamu tahu artinya itu?”

“Ah, hahaha. Sepertinya aku cuma terlalu khawatir.”

“Karena itulah anakku, kau bisa keluar sekarang. Pikirkan saja apa yang harus kau lakukan sendiri. Jangan terlalu mengkhawatirkan mereka berdua lagi.”

“Itu benar. Mulai dari sekarang, kamilah yang akan melakukan sesuatunya kepada mereka.”

Dengan pembicaraan itu, Elang mendapatkan cukup rasa tenang. Karena orang tua dari kedua belah pihak yang akan langsung menangani anak mereka.

“Baiklah. Aku dan Ani akan kembali ke kampung, kalau Bagas telah bangun, tolong segera diberitahu.”