Episode 49 - Kembalilah



Hari kedua setelah kedatangannya ke desa. Setelah berziarah ke makam istri tercinta, dia berjalan menuju bagian-bagian desa. Ada banyak orang-orang ramah yang menyapanya.

“Siang Pak Huntara.”

Atau

“Pak Huntara, mari bermain kartu bersama.”

Mereka memberikan respon berdasarkan situasi mereka. 

Meskipun begitu, dia tak bisa begitu saja datang dan berbaur dengan penduduk. Karena dia memiliki hal terpenting yang harus dilakukan lebih dahulu.


“Di mana kakakmu, Elang?”

“Eh, kupikir dia sedang bersama Bagas.”

“Bagas?”

Bertanya kepada anaknya yang memiliki ciri-ciri rambut putih keabu-abuan. Dan juga warna merah untuk kedua matanya. Namun, dia tak mendapatkan jawaban yang diinginkan.

“Ya, dia adalah anak dari pemilik tanah di bagian selatan.”

Seorang anak perempuan cantik yang bersama anak laki-lakinya menjawab.

“Aku akan cari mereka.”

“Tak perlu.”

“Eh, kenapa?”

“Katakan saja di mana mereka sekarang.”

Saat anak laki-lakinya hendak mencari sang kakak, dia menahan dan secara tak langsung mengatakan agar dia yang pergi sendiri untuk mencari sang kakak.


Berjalan menuju ke ladang padi, beberapa ratus meter setelah pintu masuk desa, dia menemukan gubuk yang berada di tengah sawah. Meskipun begitu, masih terlihat jelas, siapa-siapa saja yang berada di gubuk itu.

Mengenakan gaun, serta memakai payung berukuran kecil. Bersama seorang anak yang kira-kira lima tahun lebih muda darinya. Mereka berdua kelihatan bersenang-senang.

Sang bocah melakukan lakon seperti sebuah wayang. Anak perempuannya melihat lakon yang ditunjukkan. Wajah cantiknya dihiasi dengan senyuman. Senyuman yang sangat manis, yang bahkan dia saja hampir tak melihatnya selama 3 tahun belakangan.

Sang bocah terus saja melakukan tingkah lucu, yang membuat anak perempuannya sampai tertawa.

Dan sekarang, kehadiran sang bocah membuat anak perempuannya menangis tersedu-sedu.

Anak laki-lakinya bahkan terlihat begitu memerdulikan sang bocah yang jatuh pingsan.

“Berikan dia sedikit ruang, kak Eruin.”

Anak laki-lakinya mencoba memeriksa keadaan si bocah.

“Dia masih baik-baik saja. Sebas!”

“Hendrik Tuan Muda, baik akan saya laksanakan.”

Anak laki-lakinya meminta sesuatu kepada kepala pelayan. Kepala pelayan mengiyakan perkataan anak laki-lakinya yang mana bahkan dia tak mengatakan apa permintaannya.

“What is that, Mr. Huntara?”

Kepala keluarga dari pihak keluarga pria mempertanyakan keadaan yang terjadi setelah kedatangan si bocah.

“Kelihatannya, anakku telah memiliki seseorang yang dia cintai.”

“So, how about this marriage?”

“Kupikir tak ada jalan lain selain membatalkannya.”

“That’s cannot be!”

Saat kedua kepala keluarga sedang berbicara tentang kelanjutan acara. Sang pengantin pria menyanggah keputusan yang belum bulat tersebut.

“That’s, cannot be true!”

“Calm down, My Son.”

“This marriage, can’t be cancelled.”

Sang pengantin pria begitu keras kepala, agar pernikahan tersebut tak boleh dibatalkan. Meskipun begitu, bahkan untuk kedua kepala keluarga yang menyayangkan perjodohan tersebut tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong sang pengantin pria.

“The thruth is, this marriage cannot be can’t cancelled, My Son.”

“But...!”

“Look at there, you will see the thruth of love.”

Sang kepala keluarga penganting pria meminta agar anaknya melihat ke arah dua orang yang sedang dalam keadaan kasih-mengasihi.

Pengantin wanitanya benar-benar menangisi seorang asing yang seenaknya saja datang ke acara. Dan dilihat dari keadaan seorang asing itu, dia terlihat telah mengalami luka yang cukup fatal agar bisa masuk ke dalam acara.

Sang pengantin pria benar-benar tak bisa mengerti, kenapa keadaannya bisa menjadi seperti itu.

“Aaaahhh!”

Karena dia tak bisa memikirkan jawabannya, sang pengantin pria berjalan pergi setelah berteriak.

“I hope, this incident can’t make our relationship loose.”

“Tidak akan.”

Setelah balas membalas perkataan dengan kebijaksanaan, pihak keluarga pria membubarkan diri.

Di saat para tamu undangan tak tahu apa yang harus dilakukan, dia hanya memfokuskan pikirannya kepada bocah yang datang ke acara tersebut.

***

Elang yang telah memperkirakan kedatangan Bagas, dan batalnya acara perjodohan atas kehadirannya, dikejutkan oleh keadaan Bagas yang lumayan parah. Denyut nadinya sangat lemah. Kepalanya seperti habis terbentur oleh sesuatu yang keras.

Memang sebelumnya, dia mengatakan kepada penjaga agar mempersulit proses masuknya Bagas ke dalam acara. Tetapi, dia tak dapat memperkirakan akan seperti itu jadinya. Terlihat dari keadaan penjaga yang memukul Bagas barusan, penjaga tersebut benar-benar telah tersulut oleh emosi.

Dia bahkan tak menyadari, apa yang baru saja dia lakukan sebelumnya.

Di saat Bagas sedang dalam keadaan yang cukup mengkhawatirkan, kakak yang seharusnya dia tolong, malah dia beri penderitaan yang lain. 

Dengan melihat keadaan sang pujaan hati yang cukup parah.

“Elang, segera bawa Bagas masuk ke dalam.”

Ani yang datang dari belakang, meminta agar Elang memindahkan Bagas dari tempatnya.

“Kak Eruin, biar aku yang mengurusnya.”

Erina tak mendengarkan perkataannya. Karena pada saat itu, Erina benar-benar menempelkan tubuhnya ke tubuh sang pujaan hati. 

“Tenang saja, dia akan baik-baik saja kalau kita segera merawatnya. Karena itu, biar aku yang mengurusnya.”

“Erina.”

Untuk yang kedua kalinya, Elang membujuk Erina untuk segera melepaskan pelukannya. Bahkan Ani juga ikut membantu untuk membujuk Erina.

Setelah beberapa saat menunggu keputusan, akhirnya Erina melepaskan sosok Bagas yang lemah dengan perlahan. Air matanya benar-benar telah membanjiri wajah sang pujaan hati.

Elang dengan perlahan menerima tubuh yang lemah itu ke dalam dekapannya. Melingkari salah satu tangannya dan tangan Bagas ke bahu, lalu mengangkatnya menuju ke dalam apartemen. Seorang pelayan juga ikut membantu.

“Tenang saja. Dia adalah lelaki yang kuat, dan kamu tahu itu. Jadi, berhentilah menangis.”

Erina yang benar-benar dalam keadaan kacau, tak bisa menghentikan kesedihannya seorang diri. Karena itu, Ani memberikan sebuah sandaran padanya untuk menenangkan pikiran dan perasaannya.


Meletakkan tubuh lemah Bagas di salah satu kamar terdekat untuk sementara. 

Setelah itu, seorang dokter yang dipesan akhirnya datang. Membawa seluruh peralatan yang dibutuhkan di dalam tas besar. 

Dua orang pelayan membantu jalannya perawatan. 

Elang memisahkan diri dari mereka karena dia hanya akan menjadi pengganggu bagi jalannya perawatan.

“Ya ampun, kali ini kau benar-benar tak bisa menahan diri ya.”

Dia menggumamkan hal itu selagi melihat tubuh anak muridnya tengah terkapar dan sedang dirawat.

“Aku memang memintamu untuk melakukan pembuktian. Tapi hal ini, benar-benar telah di luar perkiraanku.”

“Kalau begitu kamu belum benar-benar mengenalnya.”

Dan pada saat dia terus menggumamkan tentang tindakan yang diambil oleh anak muridnya, seorang wanita cantik jelita masuk ke dalam area penglihatannya. Meskipun begitu, dia benar-benar dikejutkan oleh kedatangan wanita itu.

Tetapi, dia tak melompat atau melakukan sesuatu hal yang berlebihan. Dia hanya merasa terkejut di dalam, setelah mengetahui siapa sebenarnya wanita itu.

Memakai pakaian batik serba hitam, warna mata yang hampir sama seperti anak muridnya. Elang benar-benar telah dikejutkan oleh kedatangan wanita itu.

“Terima kasih karena telah membantu pendekarku, Nak Elang.”

Setelah mengatakan hal itu, wanita tersebut memasuki ruangan di mana Bagas dirawat. Wanita itu lalu memberikan penjelasan tentang bagaimana cara merawat Bagas dengan benar.

Sang dokter yang sedang diajak bicara juga terlihat mengerti dan memahami arti dari perkataan wanita itu.

Kemudian, sang dokter benar-benar menjadi mengerti, apa yang harus dia lakukan dengan keadaan Bagas.

Selang beberapa lama, wanita tersebut keluar ruangan. Karena dia telah melakukan apa yang ingin dia lakukan—memberikan penjelasan kepada dokter tentang bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi keadaan Bagas.

“Kalau begitu, aku akan menunggu penjelasanmu.”

Wanita tersebut memberikan senyum simpul pada Elang sambil mengatakan hal itu. 

Elang benar-benar dibuat tak bisa berkata apa-apa dengan kehadiran wanita itu.

Kekaguman? Mungkin satu kata itulah yang membuat Elang sampai tak bisa berkata apa-apa.

***

Keluar dari ruangan, Erina sesegera mungkin berlari menuju ke ruangan di mana Bagas dirawat. Namun, langkah kakinya dicegat oleh kepala pelayan.

“Tunggu dulu, Tuan Putri.”

“Maaf, Hendrik, tapi aku terburu-buru.”

“Tapi, apa Tuan Putri tahu di mana ruangan Tuan Ksatria dirawat.”

Erina saat itu berhenti untuk terburu-buru.


Setelah mendengarkan penjelasan kepala pelayan, Erina datang ke ruangan yang digunakan untuk merawat Bagas. Namun, itu bukanlah ruangan sementara yang digunakan sebelumnya.

Ruangan yang dikhususkan untuk meletakkan orang-orang sakit dalam apartemen. Di salah satu ruangan itulah, Bagas dirawat.

Di luar ruangan, terdapat Elang dan Ani yang sedang membicarakan sesuatu. Dia memperlambat lari karena tempat tujuannya telah dekat. Di depan ruangan, terdapat dua orang yang menjadi sahabat karib selama hidupnya.

Mereka berdua melihat kepadanya, dengan wajah yang mengatakan kalau dia harus kuat untuk menghadapi kenyataan yang akan dia ketahui.

Erina mendekat kepada mereka, dan secara tidak langsung meminta kejelasan tentang keadaan Bagas.

“Hei, tenanglah, oke. Ambulan akan segera datang dan membawanya, jadi, kita masih belum tahu bagaimana keadaannya.”

Seketika rasa sakit menyerang dadanya, dia mengarahkan kedua telapak tangan ke depan mulutnya. Menahan kesedihan yang sekali lagi akan menyerang.

***

Malam hari.

Rumah sakit yang terkenal di dalam kota. Di situlah Bagas akan diperiksa dan dirawat sampai dia sembuh. Tetapi, saat mendengarkan penjelasan dari dokter tentang keadaannya sekarang, Elang dan Ani merasa sangat terkejut.

Mereka terpikirkan, mungkin saja keputusan benar tuk tak membawa Erina untuk mendengarkan penjelasan dokter tentang keadaan Bagas.

Mereka berdua berjalan dengan perasaan yang berat, menuju ke ruangan di mana Bagas di tempatkan. Di dalam, ada seorang wanita yang selalu setia menunggu sang ksatria untuk membuka mata.

Mereka yang melihat keadaan itu merasa bahwa mereka tak harus memberitahu yang sebenarnya. Karena jika mereka mengatakannya, maka ada cukup kemungkinan Erina akan menangis untuk yang ke sekian kalinya.

“Bagaimana keadaannya?”

Sebelum menjawab, Ani dan Elang masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan. Mendekat dan mencoba yang terbaik untuk tak membuat Erina menangis.

“Tentang itu, dia takkan bangun untuk beberapa hari. Karena tubuhnya cukup menerima banyak luka, dan faktor kesembuhan yang memang belum sempurna untuk sakitnya yang sebelumnya. Jadi, kita hanya bisa berharap kalau dia akan cepat bangun.”

“Begitu, ya.”

Elang mencoba yang terbaik untuk tak membuat kakaknya terbawa akan suasana keperihan, tetapi, ada satu faktor yang dia lupakan saat mengatakan kebohongan manis tersebut. Kalau apa yang terjadi pada Bagas sekarang, adalah akibat dari menolongnya.

Erina secara perlahan mendekatkan tubuhnya ke atas dada Bagas. 

Memakai pakaian pasien, dengan kepala yang dibalut oleh perban, tangannya juga diinfus. Wajahnya hampir terlihat seperti seorang yang nyawa di dalam tubuh tak berada di tempatnya. Secara tidak langsung hal itu mengatakan pada mereka yang melihat bahwa, Bagas akan berada cukup lama di rumah sakit.

Saat Erina melakukan hal itu, Elang benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan. Di sisi lain, Ani mendekat ke sisi Erina, memegang bahunya dan mencoba untuk memberikan bantuan berupa kata-kata penyemangat untuknya.

“Ini bukanlah salahmu, Erina. Sejak dulu, Bagas memang selalu melakukan apa yang mau dia lakukan. Bahkan kamu ingat bukan, kalau dia sering sekali tak bersekolah, dan tak ada yang melarangnya untuk melakukan itu. Tapi di sisi lain, dia tak semata-mata bolos, karena dia memiliki alasan yang tepat untuk tak melakukannya. Kamu pasti tahu hal itu bukan, setiap yang dia lakukan itu, pasti memiliki alasan yang tepat untuk dia lakukan.”

Dan alasan itu adalah Erina. Ani ingin sekali melanjutkan perkataanya dengan mengatakan hal itu. Tetapi, sebelum dia hendak melanjutkan, Erina menggelengkan kepala saat menenggelamkan kepalanya di atas dada Bagas.

“Emm, bukan itu. Hanya saja, tak peduli seberapa lama, yang kuinginkan hanya dia membuka matanya. Itu saja.”

“Dia pasti akan segera membuka matanya, kok.”