Episode 48 - Reached



Setelah mengunci seluruh pintu rumah, dia pergi dengan mengenakan pakaian sekolah.

Berjalan menuju entah kemana, yang terpenting dia menjauh dari rumah. Seluruh alat yang ada di tasnya dipersiapkan untuk menyelesaikan masalah yang dia buat beberapa hari yang lalu. Tetapi rasa gundah di hatinya tak kunjung hilang semenjak kedatangan Elang kemarin.

Membawa beberapa kalimat yang membuatnya emosi, lalu pergi dengan meninggalkan sebuah undangan. Undangan yang saat itu telah setengah bagiannya rusak karena tersiram air. Dikantongi di saku baju.

Dia masih terus berjalan, entah ke mana dia tak tahu. Dan pada saat kakinya berhenti berjalan, dia telah berada di depan terminal bus yang menuju ke luar desa.

Dia lalu duduk di kursi tunggu, menunggu datangnya bis yang biasanya akan datang sekitar jam 8 pagi. Beberapa orang juga tengah menunggu, namun, mereka tak melakukan kontak dengannya. Hanya ada beberapa saja yang peduli dengan keberadannya, sebagiannya lagi disibukkan dengan gawai, koran, dan pikiran mereka.

Setelah menunggu beberapa saat, bis datang. Semua penumpang naik, dia mengambil kursi paling belakang dan bersampingan dengan jendela. Posisi di mana dia bisa menenangkan pikirannya, karena semua orang naik di kursi bagian tengah.

Bis melaju dengan kecepatan normal. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke kota sekitar dua jam. Waktu yang ditetapkan di undangan pukul 10 pagi. 

Saat itu, dia tak merasakan apapun selain membuat pikirannya tenang. Setenang sewaktu di mana dia melakukan segala pekerjaannya.


Dua jam kurang lebih telah terlewati, dia sekarang sampai di kota. Lokasi yang ditetapkan dalam undangan sekitar 1 atau 2 kilometer dari terminal dia turun. 

Dia tak perlu terburu-buru, karena setelah melihat peta kota yang ada di terminal, terdapat beberapa jalan potongan yang bisa dijadikan alternatif untuk segera cepat sampai ke lokasi.


Dia sampai di depan apartement pencakar langit. Melewati gerbang yang dikhusukan untuk pejalan kaki, dia mendapati pemandangan yang tak biasa. Yang mana lapangan seluas lapangan bola kaki dijadikan taman sekaligus tempat parkir.

Lokasi tepatnya yang dikatakan di dalam undangan berada di taman yang lain, yang tersembunyi di balik apartemen. Dia berjalan menuju jalan yang ditunjukkan di dalam undangan. 

Namun, di jalan tersebut dia melihat ada beberapa pria berpakaian jas hitam. Kelihatannya mereka adalah penjaga yang ditugaskan untuk menjaga ketentraman acara. Meskipun begitu, dia tak merasa harus mundur atau khawatir dengan mereka.

Karena dia memiliki undangan yang dijadikan syarat untuk datang ke acara.

“Stop there, can you show me the requirement?”

Di saat dia hendak melewati mereka, salah satu penjaga menghalangi jalannya. Meminta undangan yang dijadikan syarat untuk lewat.

Dia mengambil syarat yang diminta di dalam saku. Dia tak memberikan undangan itu, dan hanya menunjukkan dengan mengapit di kedua jarinya.

Walaupun, ada beberapa penjaga yang menghiraukan keberadaannya. Mereka seperti telah mengerti apa yang harus dilakukan kalau ada seorang anak sekolahan yang datang.

“Sorry kid, you can’t go any further.”

Seketika, firasatnya mengatakan kalau perilaku mereka telah direncanakan. Karena itu, dia tak perlu untuk menahan emosinya lagi.

“Menyingkir.”

Dia mendadak menengadahkan wajahnya kepada si penjaga, yang mana sebelumnya dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan jati dirinya.

Heterochromia yang sangat mencekam. Tekanan yang diberikan membuat si penjaga mundur satu langkah.

“Don’t force me.”

Si penjaga yang merasa tertekan hendak memberikan tindakan pencegahan. Dia mencoba meraih kerah Bagas, namun tangan kanan yang hendak meraih kerah itu telah berada di atas—meraih udara.


Sebelum tangan itu meraih kerahnya, Bagas lebih dulu meraih tangan itu. Dia lalu menarik tangan si penjaga ke atas, tak berhenti di situ, tangan kanannya meraih leher penjaga.

Si penjaga yang tak dapat menahan rasa terkejut, hanya bisa meraih tangan kanan Bagas. Dia tak mengerahkan kekuatan untuk melakukannya, dan dia hanya memberikan tekanan agar si penjaga mengetahui posisinya.

Setelah itu, dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh si penjaga menyamping. Kaki kanannya di taruh di belakang kedua kaki si penjaga. Kemudian, dia mendorong tubuh penjaga ke bawah, dan akibat dari halangan kakinya, si penjaga jatuh ke bawah dengan tekanan yang menyakitkan.

Si penjaga yang baru saja dihajar pingsan karena kepala bagian belakangnya terbentur cukup kuat. Tetapi Bagas meminimalisir luka yang diterima. Dia tak bermaksud untuk menyakiti mereka, yang dia inginkan hanya mereka memberikan jalan untuknya.

Para penjaga yang lainnya mulai bersikap serius. Karena seseorang yang mereka hadapi saat itu bukanlah anak SMA biasa.

Bagas mulai melanjutkan langkahnya, namun, seorang penjaga mendatanginya. Tak hanya satu, tetapi dua, dan tiga.

Mereka mulai menyerang Bagas dengan serentak. Bagas menghindari serangan mereka dengan gerakan yang efektif. Lalu, pada saat memiliki kesempatan, dia menjatuhkan salah satu dari mereka.

Begitulah seterusnya, tetapi, semakin lama dia melakukan hal itu, para penjaga telah mengetahui pola serangannya. Dan mereka mulai melakukan gerakan inisiatif untuk menghindari serangan balik Bagas yang cukup membuat repot.

Jika mereka melakukan pertarungan satu lawan satu dengannya, kemungkinan besar mereka akan dikalahkan. Mereka juga tak bisa begitu saja menyerang bersamaan. Karena Bagas selalu melakukan serangan balik yang efektif. Mereka seperti sedang berhadapan dengan juara bela diri.

Meskipun begitu, mereka belum melihatnya menyerang dengan fatal.

Setelah melakukan perencanaan tanpa berkata-kata, mereka maju satu persatu. Penyerang terdepan hendak melakukan serangan, tetapi dia tak mengarahkan tangannya ke depan. Melainkan menaruhnya di saku jas, Bagas mengetahui hal itu merupakan salah satu aksi menipu.

Saat jarak mereka sudah dekat, penyerang depan yang telah mengambil tongkat besi di tangannya memberikan serangan dengan ayunan vertical. Bagas telah membaca gerakan penyerang depan dan menangkis dengan maju selangkah ke depan, sehingga dalam sesaat jarak mereka sangat berdekatan.

Tangan kirinya menangkis di bagian sisi dalam dada tangan, tangan kanannya melakukan ayunan seperti pedang yang diarahkan ke leher. Si penjaga yang terkena serangan terkulai serentak dengan Bagas yang melakukan gerakan keluar dari serangannya.

Mendorong penjaga yang baru saja dikalahkan, dia menendang ke belakang, yang mana telah maju seorang penjaga lagi. Bagas mengenai bagian fatal dari sisi dalam dada penjaga tersebut, membuatnya mundur beberapa langkah.

Beberapa saat setelahnya, seorang penjaga mengarahkan tongkat besi ke Bagas, tetapi dapat tertangkis. Bagas mengarahkan pukulan tangan kanan ke atas dada yang berdekatan dengan otot bahu.

Penjaga tersebut dibuat mundur dengan rasa sakit. Namun, sesaat setelahnya, Bagas tak terlalu bisa melihat serangan yang berasal dari sisi kanan. Sisi yang lumayan berbahaya baginya.

Penjaga yang datang tanpa diketahui tersebut menyerang Bagas dengan kekuatan penuh. Bagas tak bisa menghindari atau melakukan gerakan pencegahan dengan itu, namun dia tak kehabisan akal untuk mengalahkan mereka.

Bagas menerima serangan yang memang hanya tinggal beberapa cm saja dari kepalanya. Meskipun begitu, dia sedikit mencondongkan kepala ke depan sehingga bagian samping kepalanya tak terkena serangan.

Serangan tersebut mengenai dahinya, lalu sesaat setelahnya, penjaga tersebut telah terlihat jatuh lunglai. Penjaga lain yang masih dapat berdiri dan melanjutkan pertarungan terkejut, karena pada saat serangan teman mereka mengenai Bagas, di saat itu juga Bagas memukul sisi bagian dalam badan si penjaga.

Membuat serangan tersebut mengenai bagian yang tak terlalu terlindungi oleh otot.

Berbalik melihat mereka yang masih tersisa, mengalir darah dari bagian dalam yang tak terlihat. Turun membasahi mata yang haus akan pertarungan. 

“Stop right there!”

Para penjaga menjadi lebih berhati-hati, terutama saat serigala yang telah mereka bangunkan datang menerkam. 

Salah satu penjaga terdekat yang akan menjadi korban pertama dari bangunnya serigala lapar merasakan tekanan yang kuat, tetapi dia tak bisa lari. Karena itu, dia hendak melakukan serangan. Meskipun, serangan tersebut tak kena dan dia malah menjadi samsak hidup bagi sang serigala.

Serangan yang diarahkan ke depan, dihindari dan lalu serangan balasan dilakukan dengan memukul perut sebanyak tiga kali dengan kekuatan penuh. Membuat lawannya jatuh dengan perut yang sangat kesakitan.

Masih ada beberapa penjaga tersisa, dan merekalah yang akan menjadi saksi selanjutnya, dari amukan sang serigala yang telah mereka bangunkan.

Para penjaga bersiap-siap dengan serangan yang akan datang, meskipun mereka juga tak bisa melakukan apa-apa selain menerima serangan.

Namun, terdapat seseorang yang menjadi saksi bisu dari kalahnya penjaga profesional yang bahkan telah dipesan dari luar negeri tersebut. Seseorang yang dijatuhkan pertama kali, telah dapat membuka matanya, dan melihat kejadian yang sangat mengejutkan.

Yang mana seorang anak usia 18 tahun, telah mengalahkan seluruh rekannya. 

Terlihat dari pandangannya kepada mereka yang telah dikalahkan, wajah yang masih belum puas. Lalu, apa yang sebenarnya membuat dirinya puas dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya?

Penjaga tersebut tetap berpura-pura pingsan sampai saatnya dia harus bangun dan menyerang balik.


Setelah mengalahkan penjaga yang berjumlah 8 orang. Dia berjalan dengan sedikit terlunglai karena kehabisan tenaga. Dan juga, luka yang dia dapatkan membuat pandangan di sisi kanannya menjadi buram.

Kepalanya berdenyut kencang, tubuhnya juga hampir tak dapat berdiri. Karena itulah, dia tak berhenti, karena jika saja dia berhenti, maka dia takkan bisa meneruskan langkahnya.

Sampai saatnya dia menemukan apa yang membuatnya begitu keras kepala untuk datang ke tempat itu.

Dan tak beberapa lama, dia menemukan alasannya. Berdiri di tengah-tengah taman yang indah. Memakai gaun putih yang menambah kecantikannya. Itu adalah alasannya, alasan mengapa dia sampai tak bisa memikirkan apapun selain dirinya.

Dia berdiri tegak dengan menatap ‘alasannya’, dan nampaknya ‘alasannya’ juga sedang menatapnya balik. Dengan wajah penuh rasa terkejut, ‘alasannya’ seperti bertanya-tanya, mengapa dia bisa sampai ke tempat itu.

Namun, tak seberapa lama, sesuatu membuatnya jatuh tak sadarkan diri. Dia tak tahu apa itu, yang terpenting adalah, dia telah menemukan alasan mengapa?

***

Ksatria baru saja sampai di taman, tiba-tiba saja seorang penjaga memukulnya di bagian belakang kepala. Membuatnya tak sadarkan diri dan jatuh ke permukaan tanah.

“Bagas!”

Melihat hal itu, membuat Erina tak bisa berdiam diri. Dia berlari dan berteriak histeris, memanggil nama pujaan hatinya.

Saat itu juga, dia tak memerdulikan apapun selain sosok Ksatria yang jatuh pingsan. Dia tak peduli dengan gaun yang terkotori oleh permukaan saat dia berlari. Yang dia tahu hanyalah, dia harus segera mungkin berada di sisi ksatrianya.

Dan pada saat dia sampai, dia sesegera mungkin membalikkan tubuh sang ksatria dan memangkunya.

“Bagas! Bagas! oh ya Tuhan. Bagas!”

Wajah sang ksatria penuh dengan rasa sakit. Darah yang mengalir membekas di satu sisi wajahnya. Perasaan Erina sangat tersakiti saat melihat keadaan ksatria itu.

Tanpa berpikir panjang, bahkan dia meneteskan banyak air mata ke wajah sang ksatria. Ringisan yang datang dari suaranya bahkan terdengar cukup kuat.

Membuat orang lain mengetahui, keadaan yang sebenarnya dari situasi itu.