Episode 150 - Hadiah dari Sesepuh Ketujuh



“Bocah lancang!” 

Mahesa Jayanagara, seorang Maha Guru di Persaudaraan Batara Wijaya, sempat tak percaya pada kedua biji matanya sendiri. Penghinaan demi penghinaan mendera Persaudaraan Batara Wijaya. Setelah gerbang perguruan dirusak oleh murid-murid Kasta Perunggu dari Perguruan Maha Patih, kini seorang remaja yang berada pada Kasta Perak menginjak Prasasti Darah! 

Tak dapat dimaafkan!  

Darah naik ke ubun-ubun dan muka memerah padam, Mahesa Jayanagara yang tadinya hanya melayang turun saat mendapati keributan di antara calon murid baru, kini melesat cepat. Penghinaan kali ini sudah benar-benar keterlaluan. Tak peduli apakah pelakunya hanya ahli Kasta Perak, ia akan mencabut nyawa bocah itu! 

Melati Dara dan Dahlia Tembang sama terkejutnya dengan seluruh ahli yang terperangah memandangi Kum Kecho berdiri di atas Prasasti Darah. Serangkaian tanda tanya mencuat di dalam benak kedua gadis itu. Sungguh Tuan Guru tak bisa ditebak. Atas alasan apa pula ia berdiri tegak di atas prasasti itu...? Bukankah tindakan tersebut terlalu berlebihan...?

Meski demikian, keduanya segera bersiaga. Bilamana terpaksa berhadapan dengan seorang ahli Kasta Emas, Melati Dara dan Dahlia Tembang tiada gentar. Bersama Tuan Guru, kedua gadis yakin memiliki kemampuan yang memadai untuk bertarung berhadapan dengan ahli Kasta Emas. Mereka telah menjalani latihan berat di dalam ruang dimensi berlatih. Mereka sepenuhnya saling percaya! 

Mahesa Jayanagara datang dengan kecepatan deras ahli Kasta Emas!

Bahaya mengancam jiwa, namun raut wajah Kum Kecho masih biasa-biasa saja. Ia mengangkat tangan, lalu menggigit ujung jari telunjuk. Sebulir darah menetes pelan dan jatuh di permukaan Prasasti Darah. 

Tabung takaran di sisi belakang Prasasti Darah tetiba bergejolak. Jarum takaran mulai bergerak naik, dan langsung merangsek ke angka 5%... kemudian 10%! 

Akan tetapi, kejadian ini tak menghentikan kecepatan Mahesa Jayanagara yang melesat semakin dekat!

Di saat yang sama, takaran kembali menunjukkan peningkatan.... 15%... 20%! 

Maha Guru Mahesa Jayanagara yang masih terpaut jarak sekira sepuluh meter, berhenti mendadak di udara. 20% adalah taraf yang sangat-sangat langka! Hanya ada beberapa ahli yang melewati angka 20%, dimana kesemuanya merupakan ahli-ahli digdaya di dalam Persaudaraan Batara Wijaya! 

Meski amarah memuncak, Maha Guru Mahesa Jayanagara belum kehilangan akal sehat. Seorang Murid Utama telah datang mengemuka. Wajahnya kemudian terlihat berubah seketika, bahkan terpana, di kala menyaksikan bahwa takaran darah masih terus bergerak naik!

“Tak mungkin!” gumam Maha Guru Mahesa Jayanagara.

25%! 

“Swush!”

Tetiba, Segel Pertahanan perguruan mengaktifkan diri. Bentuknya yang menyerupai kubah raksasa serta-merta melingkupi seluruh wilayah Persaudaraan Batara Wijaya. Kejadian ini sangatlah mirip dengan saat menjelang akhir penyerangan murid-murid dari Perguruan Maha Patih. Akan tetapi, Segel Pertahanan yang berwarna biru lembayung ini sangat berbeda... gerakan segala sesuatu di dalam wilayah formasi segel seperti melambat... 

“Segel Waktu...?” remaja tanggung itu mulai memperoleh sedikit petunjuk. 

Kum Kecho meninjau sekeliling. Ia mendapati semua ahli di dalam kubah segel terdiam kaku. Wajah Melati Dara terlihat tegang, dan gadis itu sudah mengembangkan jalinan rambut. Pakaian ketat mengkilap pun membalut sekujur tubuhnya. Dahlia Tembang tak lagi mengenakan tudung kepala, sehingga menampilkan raut wajah nan jelita. Di dalam genggaman kedua tangan, ia terlihat mulai memetik alat musik sampe, yang mirip sebentuk gitar. 

Kum Kecho tak dapat menahan senyum. Serius sekali kelihatannya kedua budak itu. 

Ia lalu menengadah, Maha Guru Mahesa Jayanagara yang masih berada di udara, terlihat kaku mengambang. Ahli Kasta Emas Tingkat 1... Kum Kecho memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi untuk dapat menahan ahli tersebut. Mengalahkan memang tak kuasa, tapi sekedar menahan untuk bertahan hidup masih sangat bisa. 

Selain Kum Kecho, waktu benar-benar berhenti! 

30%... 40%! Rupanya, takaran pada Prasasti Darah juga tak terpengaruh oleh Segel Waktu. Takaran masih menunjukkan peningkatan. Kum Kecho diam mengamati. 

50%!

“Hm...” Kum Kecho, alias Elang Wuruk, sejak awal menyadari bahwa darah yang ia teteskan, tentu akan menunjukkan taraf 50% hubungan darah dengan Sang Maha Patih. Pasti. Karena dirinya memanglah putra kandung dari Gadjah Mada. Kenyataan ini, meski demikian, tak membuat diri Kum Kecho senang, apalagi bangga. 

Waktu di sekeliling masih terhenti. Tak satu pun benda hidup dan benda mati yang bergerak. Demikian, Kum Kecho menanti. 

60%!

Takaran hubungan darah masih terus bertambah. Kum Kecho kini dibuat penasaran. Ia mulai menyadari bahwa prasasti di bawah kakinya, bukanlah alat untuk mengukur hubungan darah dengan Sang Maha Patih! 

70%... 80%... 90%.... 

Kum Kecho berpikir keras. Kesimpulan yang ia capai sebelum ini berakhir mentah. Apakah yang hendak ditunjukkan oleh Prasasti Darah ini...? Sementara, seluruh wilayah Persaudaraan Batara Wijaya, yang dilingkupi kubah segel berwarna biru lembayung, masih terhenti oleh pengaruh Segel Waktu! 

99%! 

Sesuatu di atas Prasasti Darah lalu berpendar perlahan. Kum Kecho melompat turun dari atas batu. Ia kemudian menyaksikan kehadiran sebuah gerbang dimensi! 

Kemanakah gerangan gerbang dimensi ini terhubung? Kum Kecho bersiap melompat masuk ke dalam! 


===


Bintang Tenggara sedang berleha-leha di dalam Graha Utama miliknya. Sebagai seorang Murid Utama, yang berstatus Putra Perguruan, kehidupan di dalam Perguruan Gunung Agung tak terlalu buruk. Masa depan sebagai seorang Maha Guru tentunya menyenangkan. Bintang Tenggara tak memiliki cita-cita setinggi langit. Tak perlu. Hidup damai dan santai lebih menarik hati. 

Bintang Tenggara menimbang-nimbang apakah setelah dewasa nanti sebaiknya menjadi peternak atau seorang Maha Guru...?

Dua hari berlalu sejak kepulangannya ke Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa. Setelah mengabari ketibaan kepada Maha Guru Keempat di Kota Tugu, Bintang Tenggara selalu berhasil menghindar dari Panglima Segantang, Aji Pamungkas, Kuau Kakimerah, dan yang paling penting... Canting Emas! 

Canting Emas berbohong. Di dalam pesan yang gadis itu kirimkan, dikatakan bahwa tahun ajaran di perguruan akan berakhir dalam waktu satu purnama. Sekembalinya di Perguruan Gunung Agung, Bintang Tenggara mendapati bahwa masih dua purnama lagi sebelum tahun ajaran berakhir. 

Apakah tujuan Canting Emas berbohong...? Tentunya agar aku cepat kembali, pikir Bintang Tenggara. Lalu, ada apa bila aku cepat kembali...? Sungguh mencurigakan. Bintang Tenggara tak tertarik untuk mencari tahu jawaban pertanyaan tersebut. Oleh karena alasan ini pulalah, ia selalu menghindar dari teman-temannya itu...

Dari dalam ruang dimensi penyimpanan mustika retak Super Guru Komodo Nagaradja, Bintang Tenggara mengeluarkan gulungan naskah berwarna hitam. Formasi segel yang menyelimuti permukaan gulungan naskah tersebut tidaklah terlalu rumit. Akan tetapi, diperkirakan akan membutuhkan waktu seharian baginya mengutak-atik lalu membuka formasi segel. 

Bintang Tenggara mengeluarkan gulungan naskah hitam karena menurut Lintang Tenggara, di dalamnya memuat semacam ramalan kuno. Pu’un Dangka pun sempat menyinggung tentang ramalan kuno. Ramalan apakah gerangan itu? Mungkinkah salah satu jebakan Lintang Tenggara...? 

Walhasil, Bintang Tenggara menenteng gulungan naskah berwarna hitam. Gulungan naskah ini sebenarnya dititipkan oleh seorang lelaki dewasa muda, anggota Pasukan Telik Sandi yang merangkap sebagai saudagar sebatang kara, bernama Panggalih Rantau. Akan tetapi, setelah itu tak seorang pun anggota Pasukan Telik Sandi lain yang Bintang Tenggara temui bersedia menerima gulungan naskah tersebut. Tidak Lombok Cakranegara, tidak pula Sangara Santang. Dasar pasukan aneh!

Sambil menghitung setiap satu langkah, anak remaja itu menelusuri Kota Sanggar. Pada langkah ke 1.148, ia tiba di pintu masuk menuju Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel. 

Sudah lama Bintang Tenggara hendak berkunjung ke tempat ini. Merasa memiliki bakat keterampilan khusus sebagai perapal segel, maka seharusnya sudah sejak lama ia datang bertandang. Teknik membangun gerbang dimensi, menyusun segel pertahanan, membuka segel... semua terkait segel dapat dipelajari di tempat ini. Masa depan sebagai perapal segel pun terbentang luas. 

Bintang Tenggara melangkah masuk. Di dalam halaman nan luas, ia mendapati beberapa buah pendopo. Di dalam salah satu pendopo, sekelompok murid-murid sedang mendengarkan kuliah dari seorang Maha Guru. Bintang Tenggara tak hendak mengganggu. Ia melangkah lurus ke arah sebuah pura di wilayah dalam. 

“Garis keturunan Balaputera tersohor akan kemampuan mereka menciptakan pelbagai jenis segel...,” sayup-sayup terdengar suara dari Maha Guru yang sedang memberi kuliah di dalam pendopo. 

“Eh...?” Bintang Tenggara mengerutkan dahi... Apakah tadi...? Bila tak salah dengar... 

“Apakah ada yang bisa dibantu...?” 

Tetiba terdengar suara menyapa. Bintang Tenggara memutar tubuh. Seorang lelaki dewasa muda terlihat menghampiri dirinya. 

“Dirimu pastilah Murid Utama Bintang Tenggara... Apakah gerangan niat dikau berkunjung di Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel?”

Bintang Tenggara celingak-celinguk, seperti seseorang yang salah arah. Ia hendak mendengar lanjutan perkuliahan dari dalam pendopo itu, akan tetapi seseorang datang menegur dirinya… 

“Namaku Khandra, salah satu Guru Muda di sini.”

“Oh…?” Bintang Tenggara mau tak mau menanggapi ahli di hadapannya. Tentu seorang murid tak diperkenankan berlaku kurang sopan terhadap seorang Guru Muda. 

“Murid… Namaku… Bintang Tenggara….”

“Iya. Aku mengenal dirimu. Salah satu pahlawan Perguruan Gunung Agung di Kejuaraan Antar Perguruan… Apakah ada yang bisa dibantu…?”

Pikiran Bintang Tenggara masih terpecah, antara penyebutan nama Balaputera di dalam Pendopo dan Guru Muda di hadapan… Anak remaja itu tak sengaja mengangkat gulungan naskah berwarna hitam. 

“Hm… naskah yang tersegel?” Guru Muda Khandra meraih gulungan naskah berwarna hitam dari tangan Bintang Tenggara. 

“Diriku hendak membuka gulungan naskah tersebut,” ujar Bintang Tenggara, yang sudah terlepas dari keadaan bingung.

“Oh…? Ini adalah formasi segel yang sederhana. Meski, terdapat perangkap yang menyertainya.” 

Bintang Tenggara melongok. Ia memang memiliki kemampuan melihat formasi segel dengan menebar mata hati. Rangkaian simbol beraturan dan tak beraturan menyelimuti gulungan naskah dimaksud. 

“Pertama, engkau perlu membuka bagian ini… lalu beralih ke sini. Setelah itu, simbol kecil yang ini jangan diutak-atik. Bergeraklah langsung ke bagian ini… lalu putar searah jarum jam.” 

Bintang Tenggara mengamati dengan seksama. Lincah dan cekatan gerakan jemari Guru Muda Khandra dalam mengurai formasi segel. Bintang Tenggara yang tak pernah secara khusus mempelajari tentang formasi segel, jadi terkesima dibuatnya. 

Tumbuh keinginan dalam hati anak remaja itu untuk segera belajar tentang keterampilan khusus sebagai perapal segel. Kehidupan menjalani persilatan dan kesaktian dipenuhi dengan berbagai jenis ancaman terhadap keselamatan jiwa. Belum lagi lika-liku segala tipu-daya semerata ahli, yang menghantui setiap gerak-gerik. Jauh sekali dari nuansa damai.

“Plop!”

“Nah… terbuka sudah,” ujar Guru Muda Khandra santai. Ia lalu menyerahkan gulungan naskah yang sudah tak lagi dilindungi formasi segel.

Bintang Tenggara menerima gulungan naskah tersebut. Baru saja ia hendak membuka…

“Hei, kau!” tetiba terdengar sergahan memanggil. 

Bintang Tenggara melirik, sambil menghela napas panjang. Berakhir sudah kehidupan tenang menjalani hari. Hanya dua hari ia memperoleh kesempatan menjalani ketenangan dan kedamaian suasana perguruan…

Di gerbang Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel sudah berdiri sambil melotot… Canting Emas! 


Canting Emas, Panglima Segantang, Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah menelusuri jalan setapak. Di belakang mereka, Bintang Tenggara melangkah gontai, ibarat kehilangan semangat hidup. 

“Hei! Percepat langkah kakimu!” hardik Canting Emas. 

“Sahabat Bintang… Apakah engkau tak enak badan?”

“Apakah kau mengetahui bahwa aku telah menjalani hubungan khusus dengan Putri Mahkota Citra Pitaloka…? Saat meninggalkan Sanggar Sarana Sakti, ia menghadiahi aku banyak makanan ringan… Huehuehue…” 

“Bintang di langit tenggara…” 


“Selamat datang…,” ujar Sesepuh Ketujuh. 

Bintang Tenggara baru menyadari bahwa mereka telah berada di dalam sebuah bangunan pura dan megah. Ada apakah gerangan tujuan berkunjung di kediaman perempuan setengah baya itu…?

“Diriku belum sempat memberikan hadiah kepada kalian… atas prestasi di dalam Kejuaraan Antar Perguruan yang mengharumkan nama Perguruan Gunung Agung.”

Bintang Tenggara mengingat peran Sesepuh Ketujuh sebagai pendamping dalam Kejuaraan Antar Perguruan. Walau terkesan pendiam, namun bila sudah geram, Maha Guru Segoro Bayu bahkan dibuat tak berkutik oleh perempuan tua itu. 

Terkait hadiah, Bintang Tenggara mengingat bahwa hadiah dari Perguruan Maha Patih mencakup keping-keping emas dan perak. Selain itu, mereka berlima mendapat kehormatan memasuki Lantai Perak, sebuah brankas Perguruan Gunung Agung. Saat itu, Panglima Segantang mengambil sepasang sepatu yang memiliki kesaktian unsur angin, Canting Emas seutas kalung Untaian Jiwa Suci, Aji Pamungkas sepasang kacamata yang berwarna gelap, dan Kuau Kakimerah membawa gulungan naskah yang memuat tata cara meramu suatu ramuan khusus. 

Dari brankas Lantai Perak, kala itu Bintang Tenggara menenteng sebuah kitab tebal yang pada halaman mukanya tertulis judul ‘Bunga Rampai Racun dan Penawarnya’. Sungguh tiada banyak bermanfaat, belakangan diketahui bahwa Super Guru Komodo Nagaradja didera racun dari jurus kesaktian. 

“Oleh karena itu, aku akan membawa kalian mengunjungi perguruan sahabat. Di sana, kalian memiliki kesempatan mengasah keahlian.” 

“Hm… berlatih…” Bintang Tenggara tak terlihat bersemangat. ‘Latihan’ yang biasa dirinya jalani seringkali melibatkan risiko kesusahan tiada tara atau peluang kehilangan nyawa. 

“Ke manakah gerangan tujuan kami, Yang Terhormat Sesepuh Ketujuh?” Kali ini semangat Canting Emas bergelora mengalahkan Panglima Segantang. Sebentar lagi, mungkin ia akan melompat-lompat kegirangan. 

“Aku telah mengatur agar kalian memperoleh kehormatan untuk berlatih di salah satu perguruan ternama di Pulau Jumawa Selatan. Tepatnya di Kota Baya-Sura... yaitu ke Perguruan Anantawikramottunggadewa!” 

“Perguruan Anan… tak… wih… tunggu… wa…?” Bintang Tenggara terbata-bata. 

“Perguruan Anantawikramottunggadewa!” seru Canting Emas. 

“Perguruan Anantawikramottunggadewa…?” Kuau Kakimerah penasaran. 

“Perguruan Anantawikramottunggadewa!” Aji Pamungkas mengacungkan jempol. 

“Perguruan Anantawikramottunggadewa!” Bahkan Panglima Segantang dapat mengulang dengan lancar nama perguruan itu!

“Kalian akan berangkat sepekan dari sekarang. Aku berharap kalian dapat kembali sebelum tahun ajaran usai,” tutup Sesepuh Ketujuh. 


Sepanjang perjalanan kembali, semangat Canting Emas semakin menggebu. Ia menjabarkan panjang dan lebar tentang perguruan yang bahkan namanya belum dapat Bintang Tenggara lafalkan.  

“Perguruan di Kota Baya-Sura itu memendam sejumlah misteri,” buka Canting Emas. “Misalnya saja, mengapa mereka menutup diri…? Lalu, mengapa keahlian murid-muridnya diketahui demikian digdaya? Apa yang diajarkan di dalam perguruan tersebut? Metodenya? Jurus-jurusnya?” 

Canting Emas lanjut menjelaskan tentang latar belakang perguruan yang akan dikunjungi. Pendirinya adalah seorang raja besar di masa lampau, dimana kekuasannya sampai menjangkau ke Pulau Dewa. Bahkan, memanglah terdapat hubungan kekerabatan dengan Perguruan Gunung Agung. 

Akan tetapi, perguruan yang juga disegani di seluruh Pulau Jumawa Selatan ini sangatlah tertutup. Bahkan, para petingginya tak pernah menggubris undangan untuk mengikuti Kejuaraan Antar Perguruan. Tak ada yang mengetahui apa alasan di balik sikap yang sedemikian. Jika perguruan ini turut serta dalam Kejuaraan Antar Perguruan, maka dipastikan bahwa mereka berada di tataran yang sejajar dengan perguruan-perguruan digdaya yang ada. 

Bintang Tenggara mulai mendapat gambaran kasar. Perguruan Ananta-ehem-ehem-dewa, sepenuhnya mencurahkan seluruh jiwa dan raga di jalan persilatan dan kesaktian. Dengan demikian, murid-murid perguruan itu jarang terlihat beredar di Negeri Dua Samudera. Sungguh tempat yang cocok untuk mengasah pertumbuhan keahlian. 



Cuap-cuap:

Kesulitan mencari arti gelar Airlangga yang dikenal sebagai ‘Anantawikramottunggadewa’. Akhirnya memenggal istilah tersebut menjadi:

Ananta: Tidak terbatas

Wikrama: Keteguhan hati

Tungga: Tinggi, mulia, utama

Dewa: Dewa

Jadi, ‘Anantawikramottunggadewa’ kemungkinan besar berarti ‘keteguhan hati yang tak terbatas layaknya setinggi dewa’. Mungkin. Mohon koreksi bilamana ada yang tahu arti persisnya. 

Dan…