Episode 13 - Peringatan


Noxa menarik Navi dengan paksa. Walaupun keduanya sesama perempuan, perbedaan tenaga yang cukup besar terlihat jelas ketika Navi gagal memberontak.

Mereka berdua melewati pintu otomatis, kemudian berada di depan gedung utama.

“L-le… lepaskan! N-Noxa!” Navi menggeram, tak menyerah untuk melepaskan diri. “Kau ini kenapa sih?!” Ia mulai merasa jengkel.

Setelah beberapa meter dari jarak pintu depan, Noxa melepas rangkulan tangannya dari tangan Navi. Lalu ia berputar dan mengambil jarak sedikit dari Navi yang sedang meregangkan lengannya. 

“Ugh, tiba-tiba menarikku… kau ini kenapa sih?” Navi memicingkan kedua mata pada Noxa.

Noxa mendekap, kemudian menghadap Navi. Kedua mata nampak tak bercanda. Gadis yang lebih pendek, tapi juga jauh lebih kuat itu membuat Navi terdiam.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu!” 

Noxa berbicara dengann suara dalam dan tegas. Cukup jelas sampai-sampai Navi bisa merasakan karisma yang tidak biasa datang dari gadis bertubuh kecil itu. Sebagai pemimpin tim dengan rank dua, hal itu terlihat sangat menakjubkan. 

Bahkan ketika Neil serius pun, dengan suara tegas dan memerintah, kedua sifat mereka berbeda. Navi beberapa kali merasa takut melihat Neil ketika ia tidak menahan diri. Jika dibandingkan dengan Noxa, sifat bijaksana atau cerdas jauh lebih cocok. 

Noxa kembali membuka mulut.

“Dua hari yang lalu, Neil melakukan misi pengawasan dengan salah satu tim yang baru saja terbentuk. Apa kau tahu?” 

Navi sedikit berkeringat. Matahari pagi seharusnya tidak terlalu panas. Semenjak delapan tahun lalu, kondisi cuaca di Jakarta jadi sedikit lebih tak menentu. Bahkan, mentari pagi pun bisa membuat orang-orang pergi keluar.

Akan tetapi, bukan karena hal itu keringat bisa muncul di keningnya. Setelah delapan tahun, tentu saja jika hanya panas matahari, manusia bisa beradaptasi. 

Navi bisa menebak, ke mana tujuan pembicaraan mereka saat ini. Ia mengangguk, kemudian memalingkan pandangan.

“Ya. Aku sudah diberitahu.”

Kenyataannya, kemarin Navi pergi ke rumah Neil untuk mengecek keadaan sahabatnya itu. Saat itu, ponselnya yang tidak bisa dihubungi ataupun pintunya yang tidak dibuka meninggalkan rasa khawatir.

“Apa menurutmu dia baik-baik saja?”

Noxa tidak tahu seperti apa kejadiannya dengan jelas. Namun, dianyatakan kedua orang dalam tim 23 mati, satu orang menghilang, dan yang terakhir pemimpinnya mengundurkan diri dan mengalami mental breakdown. Itu semua dikarenakan tindakan Neil yang sembrono. Situasi yang sangat sulit.

Noxa tidak percaya semua yang dikatakan oleh pengawasnya. Namun, ada beberapa hal yang tidak bisa dibantah meski tanpa melihat kejadiannya.

“Maaf, tapi aku tidak bisa mengatakannya.”

Navi yang sadar betul akan keadaan Neil, hanya bisa memberi suara rendah. 

“Hmm… Begitu, ya.”

Dilihat dari wajahnya, Noxa seperti sudah tahu sejak awal akan jawaban Navi. Dari hal itu, pikirannya tidak bisa tenang. 

Ketika seseorang mengalami sebuah tragedi, mental seseorang akan turun ke titik tertentu. Kejadian itu akan bertahan beberapa hari, tanpa ada jaminan bahwa mental orang tersebut akan membaik. Inilah hal yang membuat Noxa sangat terganggu.

Keadaan mental Neil setelah mengalami kegagalan misi pertamanya dengan kematian dua orang.

“Navi…” Suaranya berat. Navi menoleh. “Kau melihat wajah Neil barusan, ‘kan? Seperti apa wajahnya?”

“Huh…?”

Sambil mengepalkan kedua tangan di samping pinggang, Noxa berusaha untuk menjaga ketenangan. 

Dirinya harus mengakui. Tidak jarang ia memasang wajah palsu untuk membuat anggota kelompoknya berhenti merasakan khawatir. Namun, tidak ada yang salah dengan hal itu. Memasang wajah palsu bukan berarti manusia mampu memalsukan isi hati mereka.

Akan tetapi, Neil berbicara dengan normal, memasang ekspresi datar seperti biasa, dan juga bertingkah layaknya tidak terjadi apa-apa. Tidak ada seorang pun manusia yang bisa melakukan hal itu hanya dengan istirahat seharian.

Neil baik-baik saja. Sangat baik-baik saja. Setelah bertemu dan berbicara langsung dengannya, Noxa bisa memastikan hal itu dengan sangat pasti.

Ia khawatir bukan karena mental Neil yang menurun, tapi keadaan sebaliknya. Karena Neil tidak terkena dampak sedikit pun, pikirannya jadi amat sangat terganggu. Tidak mungkin.

Seandainya saja mereka tidak sedang berada di dalam gedung utama. Jika saja Noxa dan Neil bertemu secara tidak sengaja di tengah jalan—

“Aku ingin sekali menghajarnya!”

Kepalan tangan Noxa semakin menguat. Karisma layaknya pemimpin sedikit berkurang, digantikan dengan rasa amarah.

“Ah… hahaha,” Navi tertawa kaku. “N-Noxa, tenanglah sedikit. B-bukan berarti Neil tidak peduli. Dari dulu, dia memang tidak bisa memasang ekspresi dengan jelas.”

Noxa melemaskan kedua tangan. Auranya yang kuat kembali seperti semula dengan ekspresi wajahnya yang serius.

“Mengawasi sepuluh orang lebih di saat yang sama itu sangatlah merepotkan bagiku. Jadi, aku ingin kau mengawasi Neil untuk misi kali ini.” Kedua mata Noxa membesar dengan kedua alis yang menajam. “Jangan sampai Neil bergerak sendirian!”

“Uuh, aku tidak terlalu mengerti, tapi… siap boss!” Navi menegakkan tubuh sambil hormat. “Intinya, aku harus melindungi Neil saja, ‘kan?”

Melihat tingkahnya yang terlalu santai hanya bisa membuat beban Noxa. Untuk sesaat, ia juga ingin menghajar wajah gadis bodoh yang ada di depannya saat ini.

Noxa kembali mendekap. “Dengarkan aku kalau aku sedang bicara! Neil bisa melindungi dirinya sendiri. Yang kuinginkan adalah kau mengawasinya dan menghentikkannya seandainya dia bertindak sendirian. Apa kau bisa?”

Navi diam, memasang wajah tak yakin. 

Neil suka bertindak sendirian. Setelah saling kenal cukup lama, tentu saja Navi tahu hal itu. Jika dipikir, tidak berbeda jauh dengan dirinya. Hanya saja, alasan yang digunakan saat Neil melakukan itu setidaknya jauh lebih baik daripada Navi.

“Entahlah, aku tidak yakin,” jawab Navi rendah. 

Walaupun tidak terkejut mendengarnya, Noxa merasa itu bukanlah jawaban yang cukup bagus.

Noxa berjalan melewati Navi yang ekspresinya masih bingung. “Aku akan memaksa Neil untuk tidak ikut dalam misi ini.”

“Huh…!!” Navi dengan reflek cepat, meraih pundak Noxa. “T-tunggu sebentar! B-bukankah itu sedikit berlebihan?”

Langkah Noxa berhenti, bukan karena dihentikkan. Dengan perbedaan kekuatan, gadis pendek yang nampak sangat dewasa itu bisa dengan mudah melepaskan diri dari jangakauan Navi. Namun, ia tidak melakukannya.

“Seandainya…” Rasanya Noxa sangat sekali ingin mengeluh. Tanpa menghadap Navi, ia melanjutkan. “Seandainya saja salah satu dari enam belas orang mati saat menjalankan tugas, menurutmu bagaimana?”

Navi melepas tangan dari pundak Noxa. Yang baru saja didengarkan Navi terasa seperti orang yang tidak bertanggung jawab. Yang dimaksud adalah Noxa sendiri.

“Kita bahkan belum tahu apa yang terjadi nanti, tapi kau mau menyalahkan Neil begitu saja?” Tidak masuk akal, jika ia harus mengungkapkan maksud dari perkataan Noxa.

“Navi,” Noxa membalikkan tubuh, menghadap Navi sambil mendongak untuk melihat wajahnya yang dibedakan dengan tinggi. “Sepertinya kau salah paham.”

“Huh…?” Navi berpikir keras.

“Aku selalu melihat suatu hal dari kondisi terburuk. Selain itu, aku tidak bermaksud menunjuk Neil sebagai orang yang akan membuat kesalahan nanti. Namun, apa kau pernah berpikir bagaimana jika Neil mati nanti, saat ia melakukan tindakan soknya itu?!”

Lalu, siapa yang akan bertanggungjawab sampai hal itu terjadi? Noxa ingin melanjutkannya, tapi berhenti.

Saat Neil bertindak sendirian melawan Black Horn. Itu bukan pertama kalinya Navi melihat pemimpin sekaligus sahabat dekatnya itu bertindak sendirian. Saat itu terjadi, ia tidak pernah mencoba menghentikkan Neil sekali pun.

Bertindak sendirian akan mengakibatkan kematian pada dirinya sendiri. Meski tidak sekarang, hal itu akan terjadi di masa depan nanti.

“Apa jawabanmu?”

Noxa tidak memberi kesempatan Navi untuk berbicara. 

“Kau bisa mengawasinya atau tidak? Jika tidak, aku akan memaksa Neil untuk mundur dari misi ini.” Noxa melipat kedua tangan di dada sambil mengharapkan jawaban pasti dari gadis bodoh yang ada di hadapannya.

Navi mengangguk. “Aku akan melakukannya.” 

Terlihat jelas dari kedua matanya yang sudah membulatkan tekad. Navi sudah memutuskan pilihan.

Tanpa memberikan balasan, Noxa meninggalkan Navi sendirian. Tiba-tiba aneh rasanya ia harus berbicara sangat banyak pada gadis yang dianggapnya bodoh seperti itu. 

Navi adalah pilihan terakhir Noxa untuk mengawasi Neil. Namun, seandainya Nadia ikut dalam misi ini, ia pasti tidak akan banyak berbicara seperti tadi. Memberi perintah pada Agen Pelatihan tidaklah sesulit dengan memberi perintah pada Agen Khusus yang memiliki peringkat tinggi. 

Ini semua karena ucapan pria itu. 

Hanya karena bisa melakukannya, bukan berarti harus dilakukan.

Dua hari yang lalu, saat Neil sedang menjalani misi untuk mengawasi agen yang baru diresmikan. Noxa bertemu dengan Rico di gedung utama. Bagi tim dengan peringkat tinggi, sangat kebetulan mereka berdua bisa bertemu.

Noxa baru saja mengambil laporan khusus untuk misi Rank S yang akan dijalaninya. Empat kelompok mungkin terlihat berlebihan, tapi ia tidak bisa membantah hal itu. Selain itu, Sky Chaser adalah salah satu Outsider dengan Rank A yang pernah ia hadapi sebelumnya. 

“Rank S, ya?” Rico mendatangi Noxa yang sedang termenung di meja utama khusus staf sambil melihat laporan. “Dengan jumlah sebanyak itu, seharusnya kau bisa menanganinya dengan mudah, ‘kan?” ucapnya dengan nada sepele.

Noxa berdesah pendek. “Aku tidak ingin mendengarnya dari orang yang berhenti melakukan misi Rank A.” Noxa memperhatikan Neil yang merupakan tim empat berada dalam misi yang sama. “Yah, tapi kurasa benar.”

Rasa percaya dirinya didapat karena ia sudah pernah melawan Sky Chaser dengan timnya. Meski harus diakui, makhluk itu cukup merepotkan untuk ditangani.

“Noxa, apa kau sudah dengar tentang Black Horn yang dilawan oleh Neil?”

“Ya, aku tahu,” jawab Noxa tanpa menghadap Rico dan fokus pada laporannya. “Rico, kau sedikit mengganggu. Pergilah!”

Rico memberi senyum kecil yang dengan sengaja diabaikan oleh Noxa. 

“Makhluk itu menembakkan sesuatu dari mulutnya. Jika aku mendengarnya langsung dari Neil, kekuatannya sama seperti Railgun. Bukankah itu menakjubkan?”

Noxa terdiam mendengar kalimat Rico. Ini pertama kalinya ia mendengar hal itu. 

“Ukuran dan kecepatannya juga berbeda dengan Black Horn biasa. Apa menurutmu yang mereka lawan itu bisa disebut dengan Rank S?” tanya Rico layaknya orang polos.

Noxa yang bersikeras mengabaikan Rico menguatkan nada suaranya. “Rico, kau benar-benar mengganggu! Pergilah!” Noxa menghela. “Sekalinya itu benar, tidak ada yang salah bukan?”

 Rico menunjuk pipi Noxa yang daritadi mengabaikannya. Wajah gadis yang jauh lebih pendek darinya itu membuat ekspresi kesal.

“Aku hanya ingin kalian semua berhati-hati saat di sana. Mencoba memimpin empat tim sekaligus bukanlah hal yang mudah. Bahkan bagiku.”

Perhatian Rico bukanlah sebuah kebohongan. Namun, daripada mengkhawatirkan Noxa, pria yang daritadi banyak bicara itu seperti ingin mengatakan sesuatu yang membuat Noxa kesal dengan sengaja.

Bersama dengan tim delapan dan sembilan. Sama seperti yang Rico katakana. Noxa tidak bisa menangani semua orang di saat yang bersamaan. Satu-satunya yang bisa ia harapkan hanyalah Neil yang juga merupakan seorang ketua tim.

“Masih ada Neil—“

Sebelum Noxa menyelesaikan kalimat, Rico memotong dengan cepat. Suaranya sedikit berbeda. “Seandainya aku bilang, Neil bisa menangani Rank S sendirian tanpa bantuan sedikit pun, apa kau akan percaya?” 

Noxa tidak yakin harus menjawab apa, tapi jika ia berkata jujur maka—

“Jika itu Neil… mungkin dia bisa melakukannya.” 

Seandainya itu benar, kenapa mereka harus mengirim empat kelompok dengan jumlah enam belas anggota untuk misi ini. 

Yang paling buruk adalah, mereka semua dikirim ke luar Indonesia.

“Noxa, selama ini timmu mendapatkan peringkat yang hebat saat menyelesaikan misi dari Rank C sampai Rank A.” Ini adalah peringatan dari ketua tim dengan peringkat satu. “Jangan sampai kaget jika ada satu atau dua orang yang mati saat melakukan tugas yang satu ini.”