Episode 4 - Ini Kencan?


Ini bukan kencan, 'kan?

Tentu saja, bagaimana ini bisa dibilang kencan? Dia itu Alice si dewi sekolah, mana mungkin kencan dengan aku. Aku hanyalah orang biasa seperti yang tadi Rito katakan, jadi tidak mungkin orang biasa seperti aku bisa kencan dengan Alice.

Benar, ini hanya menemani untuk membeli hadiah ulang tahun untuk ayahhnya, kebetulan saja aku sedikit tahu tentang militer dan kebetulan juga ayah Alice juga menyukai tentang militer, jadi dia tidak punya pilihan lain dan akhirnya mengajak aku untuk menemani dia mencari hadiah.

Dia pasti sangat tertekan saat mengajak aku.

Seperti yang Rito katakan tadi, aku tidak boleh mengacaukannya, karena Alice sudah sangat berusaha untuk mengajak orang seperti aku pergi dengannya mencari hadiah. Dia pasti sangat sayang pada ayahnya ya.

Aku kembali ke kamar dan mencari sebuah buku di rak bukuku.

Diantara banyak buku akhirnya aku memilih sebuah buku majalah. Di dalam buku ini terdapat banyak jenis senjata dan kendaraan perang, aku membeli buku ini saat aku pergi dengan Rito.

Ini tidak berguna, bagaimana mungkin senjata api atau kendaraan perang bisa dijadikan sebagai hadiah ulang tahun.

Itu terlalu mahal.

Aku menutup majalah itu dan keluar kamar, menuju ruang keluarga di mana ibuku sedang menonton televisi.

“Buk, majalah itu ada dimana?” tanyaku pada ibuku yang sedang duduk sembari makan makanan ringan dan menyaksikan sinetron.

“Majalah yang mana?” 

Jawab ibuku tapi tetap tidak berpaling dari layar televisi, sepertinya dia sangat menikmatinya. Jujur saja, aku benar-benar tidak tertarikdengan sinetron di televisi, aku lebih tertarik dengan film dokumentasi tentang perang. Yah, ini semua salah Rito yang membuat aku jadi begini.

“Majalah yang itu, yang biasa ibu baca.”

“Oh yang itu ada di kamar, ambil saja.”

“Oke.”

Aku melangkah menuju kamar ibuku, selang beberapa langkah.

“Kau mau membeli hadiah?”

Aku berbalik dan melihat ibu yang sedang menatapku.

“Tidak, temanku mengajak aku untuk mencari hadiah untuk ayahnya,” jawabku jujur, tentu saja aku tidak akan berbohong pada ibuku.

“Temanmu itu pasti cewek, kan?”Ucap ibuku dengan sedikit senyum menghiasi wajah putihnya, wajahnya sangat putih seperti salju dan dengan rambut hitam sebahu dia terlihat sangat cantik. Kulitnya juga sangat lembut seperti kulit bayi. Aku mendapat kulit putih ini pasti dari ibu. Sedangkan ayahku, dia biasa saja, dan ini pasti penyebab aku mendapat aura orang biasa saja ini.

“Bagaimana ibu bisa tahu?”

“Insting wanita.”

Apa-apaan itu insting wanita? Apakah insting wanita dapat menjawab sebuah pertanyaan dengan tepat? Kalau memang begitu, mungkin inilah sebabnya kebanyakan yang masuk peringkat sepuluh besar di kelasku adalah wanita.

Jadi begitu, wanita mengandalkan insting kewanitaannya. Ini benar-benar tidak adil, sementara pria belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapat nilai tinggi, wanita hanya perlu mengandalkan instingnya untuk mendapatkan nilai tinggi.

“Iya, dia teman sekelasku, Alice.”

“Bagaimana orangnya? Cantik gak? Pintar gak? Atau dia juga maniak militer sepertimu?”

Ibu terlalu banyak bertanya. Ah, ini juga kenapa aku banyak bertanya, ini semua diturunkan dari ibu.

“Dia cantik dan pintar tapi dia bukan maniak militer, kalau tidak salah katanya dia ingin menjadi dokter.”

Jawabku secara berurutan atas pertanyan ibu.

“Baguslah kalau begitu , aku pikir kamu sudah tidak tertarik dengan wanita.”

“Hah? Tentu saja aku masih tertarik dengan wanita, aku ini masih normal.”

“Habis, ibu perhatikan kamu mainnya sama Risky terus, kamu juga tidak pernah membawa pacar ke rumah.”

“Itu...”

“Kalau ada waktu ajak dia kemari dan kenalkan pada ibu.”

“Kita hanya teman.”

Tentu saja, bagaimana aku bisa mengajak teman cewek ke rumah tanpa alasan, dia bukan siapa-siapa aku, dia hanya teman. Kecuali kalau dia itu pacarku, tapi itu mustahil, dia itu dewi sekolah bagaimana mungkin bisa pacaran dengan cowok biasa seperti aku. Apalagi aku seorang maniak militer.

Aku membuka pintu kamar ibuku dan melihat kesekeliing. Dimana ibu meletakan majalah itu?

Aku berjalan menuju kasur dan melihat sebuah majalah tergeletak di atasnya. Ketemu, ibu lagi-lagi meletakan barang sembarangan.

Aku mengambil majalah itu dan kembali ke kamarku. Duduk di meja belajar sambil membuka majalah itu. Di dalamnya terdapat banyak katalog pakaian sampai aksesoris. Pertama aku melihat katalog kemeja, banyak kemeja trendy yang aku lihat yang sangat cocok untuk anak muda, tapi ini sepertinya kurang cocok untuk bapak-bapak.

Aku kembali membuka majalah itu melihat katalog jeans, topi, pakaian dalam, dan berhenti di jam tangan.

Sepertinya ini akan cocok.

Aku melihat banyak jenis jam tangan seperti jam tangan merek Casio, fitur utama pada brand ini adalah dapat menampilkan tanggal secara otomatis dan memperbarui sendiri setiap bulan dan tahunnya. Ini merupakan perusahaan pertama yang mengenalkan mengenai kombinasi antara analog dan digital yang menjadikannya sebagai salah satu jam tangan berkualitas high.

Atau jam tangan dengan merek Rolex, Rolex adalah salah satu dari merek jam tangan terkenal di kelas dunia yang terlahir pada tahun 1919 di Inggris. 

Setelah itu aku melihat katalog jam tangan dan menghafalkan beberapa merek yang layak untuk aku sarankan besok pada Alice.

Maniak militer juga boleh suka jam tangan, kan?

Setelah membaca beberapa merek jam tangan, tidak terasa sudah masuk jam sembilan malam, aku menutup majalah itu, berjalan menuju kasur, menarik selimut dan menutup kelopak mataku.

Esok harinya saat di sekolah, pada jam istirahat aku memperlihatkan beberapa merek jam tangan pada Alice, dan sepertinya reaksi Alice tidak terlalu buruk, dan kami memutuskan untuk membeli jam tangan sebagai hadiah ulang tahun ayahnya.

Sepulang sekolah aku segera pulang ke rumah, soalnya kita baru akan pergi mencari jam tangan pada jam tiga sore, masih ada cukup waktu.

Aku berbaring di kasur sambil mengistirahatkan tubuhku, pagi ini pelajaran olahraga, jadi aku sedikit lelah.

“Baju apa yang akan kau gunakan buat kencan nanti?”

Suara Dan terdengar di pikiranku. Lagi-lagi dia menyebutnya kencan, ini hanya menemani mencari hadiah bukan berkencan.

“Kaos biasa.”

“Tidak, tidak, kau tidak boleh memakai kaos saat berkencan, biarkan aku mengambil alih sebentar dan mencari pakaian yang cocok.”

Akhirnya Dan mengambil alih tubuhku dan mengobrak-abrik lemari bajuku dan hasilnya saat ini aku memakai sebuah kemeja ketat dan rapi berwarna putih dengan jeans berwarna biru.

Ya, setidaknya saat aku berkaca di cermin aku tidak terlalu buruk, lumayan tampan.

Tidak terasa jam tiga sore sudah tiba, aku pergi ke tempat pertemuan yang sudah aku dan Alice putuskan sebelumnya.

Aku tiba duluan, dan Alice masih belum tiba.

Tentu saja, aku selalu mengikuti prosedur untuk selalu tepat waktu, dalam dunia militer keterlambatan tidak dapat dimaafkan.

Tidak lama kemudian Alice datang sambil berlari menuju arahku.

Menggunakan sebuah blouse berwarna merah muda dengan pita berwarna putih pada bagian lehernya, juga memakai rok A-line skirt berwarna putih sepanjang lutut. Rok itu terlihat sangat cocok dengan tubuh Alice yang curvy.

Alice benar-benar terlihat sangat imut.

“Maaf, aku telat.”

“Tidak apa-apa, aku juga baru sampai.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Alice berdiri sembari meluruskan tubuhnya dan seperti menunggu sesuatu.

“Ayo kita langsung cari hadiah untuk ayahmu.”

“Ya,” balas Alice suram.

Kami berdua pun masuk ke dalam salah satu tempat perbelanjaan di kota ini, berjalan berdampingan sambil mengobrol dan mencari stand yang menjual jam tangan. Kalau dilihat mungkin kami terlihat seperti orang yang sedang berkencan, tapi ini bukan kencan, aku hanya menemani dia mencari hadiah untuk ayahnya.

Kami berhenti di sebuah stand yang menjual jam tangan. Banyak jam tangan yang aku lihat dalam katalog semalam di pajang di sana. Alice juga terlihat sedikit bingung untuk memilih jam yang mana. Setelah beberapa lama memilih akhirnya Alice memutuskan membeli sebuah jam tangan merek Rolex berwarna hitam. Dia meminta untuk membungkusnya untuk kado ulang tahun dan kemudian membayarnya.

“Masih awal, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar,” ucap Alice setelah menerima jam tangan itu.

Benar juga, ini baru setengah jam dan masih banyak waktu.

“Hmm ... oke.”

Setelah itu kami berjalan-jalan ke tempat-tempat lainnya, mengobrol tentang buku kesukaan di tempat buku dan bermain banyak permainan di tempat permainan. Ini cukup menyenangkan, aku jarang sekali bisa melakukan sesuatu seperti ini karena biasanya aku selalu bermain dengan Rito.

“Danny, aku mau membeli sesuatu dulu, kamu tunggu sebentar ya.”

“Tidak masalah.”

Kemudian Alice berjalan pergi entah kemana. Aku mengamati sekitar, banyak sekali pasangan yang sedang berjalan berduaan sambil berpegangan tangan.

Ini membuat aku sedikit iri.

Aku melihat sebuah stand yang menjual aksesoris wanita dan berfikir untuk membelikan sesuatu untuk kenang-kenangan, karena mungkin setelah ini kita akan sangat sulit untuk seperti ini lagi.

Tidak lama kemudian Alice berjalan sambil membawa kantung belanjaan di tangannya. 

Wanita memang suka belanja ya.

“Maaf, aku lama ya.”

“Tidak kok.”

“Bagaimana kalau kita cari makan, aku belum makan apapun siang ini.”

“Haha, aku juga.”

Duduk di sebuah meja, kita berdua saling berhadapan. Di hadapanku ada satu porsi makanan penuh protein dan karbohidrat sedangkan di hadapan Alice ada seporsi makanan untuk diet.

Jadi wanita cantik itu tidak mudah ya.

Selesai makan, kami mengobrol sejenak.

“Kamu selalu makan segitu banyaknya?” tanya alice padaku.

“Tentu saja, itu penting untuk membentuk tubuh yang ideal. Kalau kau, apa kenyang makan sedikit kayak tadi?”

“Aku harus diet, berat badanku ini gampang naik.”

“Susah ya jadi cewek cantik.”

Wajah Alice langsung memerah. Apa yang terjadi? Apa dia punya penyakit demam mendadak?

“Y-Ya ... begitulah.”

Ucap Alice sambil menunduk.

“Oh, iya. Tadi aku membeli ini karena aku pikir ini akan cocok buatmu.” Ucapku sambil mengeluarkan sebuah topi dengan jenis bucket hat berwarna hitam, ini adalah topi yang lembut dengan crown berbentuk semacam tabung yang bagian atasnya rata, dengan brim melingkar dan terarah menurun. Topi ini kerap di jadikan satu dari topi tentara dan identik juga sebagai topi lapangan dari anggota tentara atau marinir.

“Oh, kebetulan juga,” ucap Alice sambil buru-buru mengeluarkan topi dengan jenis bucket hat berwana loreng antara hitam dan hijau dari dalam tas belanjaannya.

“Ini benar-benar kebetulan yang keren.”

“Iya.”

“Silahkan ambil.”

“Kamu juga.”

Kami saling memberikan topi masing-masing kemudian memakainya bersamaan.

“Itu sangat cocok.”

“Kamu juga. Kamu sudah terlihat kayak tentara.”

“Hahaha....”

Kami tertawa bersama. Momen ini, momen saat bersama ini, benar-benar menyenangkan.

“Kamu mau gak ikut ke acara ulang tahun ayahku?”