Episode 3 - Claudya

Badut baru beberapa jam berpisah dengan Kirana. Di rumah kontrakannya yang mungil dan berantakan, dia kembali dirundung murung. Dia selalu saja tak sanggup mengelak dari serangan kenangan. Seperti saat ini, sebuah cermin memantulkan lagi bayangan Claudya tengah tersenyum dan menghangatkan kembali dadanya.

Bayangan itu terasa nyata. Badut bisa merasakan pinggang Claudya yang ramping berada dalam lingkar lengannya. Hidungnya menghirup aroma sampo mantan kekasihnya yang sering bercampur tengik matahari Jakarta. Dia suka segala yang ada pada diri Claudya; rambutnya yang bak ombak santun, matanya yang menusuk, rahangnya yang tegas, terlebih kakinya yang jenjang. Namun, sekarang, kaki itulah yang membawa pemiliknya pergi ke sebuah tempat di mana lelaki bernama Badut hanya sebatas masa lalu semata.

Badut tertunduk. Kenangan membuat kesedihan di matanya hampir meleleh. Dia tak bisa membayangkan cara menikmati hidup tanpa Claudya. Sebab, sebelum bertemu perempuan itu, hidup, baginya, hanyalah rangkaian kesialan.

Badut hampir tak pernah merasa beruntung. Sejak kecil, kedua orangtuanya bercerai sehingga dia dititipkan di rumah neneknya. Tak ada kehangatan orangtua yang tertinggal pada dirinya. Satu-satunya yang bisa diingat Badut soal orangtuanya hanyalah nama konyol yang mereka berikan.

Menurut cerita mendiang neneknya, nama Badut merupakan penggabungan dari Bonita—ibunya—dan Duta—ayahnya. Jadi, pada dasarnya, nama Badut bukanlah obsesi sepasang suami-istri untuk melahirkan seorang anak yang bakal berprofesi sebagai badut. Kata nenek Badut, Bonita, anak perempuannya, justru bermimpi anaknya jadi dokter.

Tetapi, Tuhan jelas tak pernah keliru mengabulkan doa—yang dipercaya terkandung dalam nama. Maka, jika pun Badut justru tumbuh sebagai badut dan jelas tidak jadi dokter, yang patut disalahkan jelas orangtuanya. Lalu, dari ketidakpekaan sepasang manusia dalam memberi nama, deret penghinaan orang-orang atas fisiknya yang mirip badut, serta neneknya yang meninggal sebelum  sempat dia bahagiakan, Badut percaya bahwa hidupnya hanyalah rangkaian kesialan. Sampai suatu hari, keyakinan itu berakhir kala dia menemukan Claudya.

Waktu itu, di Kafe Komedi, di wilayah Jakarta Selatan, Badut berdiri gugup di hadapan sejumlah orang. Berbekal nyali dan selera humor seadanya, Badut mengikuti acara komedi tunggal terbuka. Dia melempar jokes pertamanya, namun tak seorang pun menyadari bahwa dia tengah melucu. Lalu, pada percobaan kedua, satu tawa pecah di sudut kafe, dan pemilik tawa itu adalah Claudya.

Usai acara, mereka pun berkenalan. Claudya mengatakan, “Kamu orang terlucu yang pernah aku temui.”

Badut menjawab, “Kamu perempuan dengan selera humor terburuk yang pernah aku temui.” Singkat cerita, dari perkenalan itu mereka dekat dan memutuskan berpacaran.

Selama berpacaran dengan Claudya, hidup Badut berubah. Dia mulai menemukan kepercayaan dirinya sebagai komedian lantaran Claudya selalu tertawa tiap kali badut menguji materi komedinya. Memang pada dasarnya, yang diperlukan seorang komedian, selain tentunya materi komedi yang mumpuni, adalah keyakinan bahwa materinya memang lucu. Berkat Claudya, Badut mendapatkan keyakinan itu, sehingga namanya di dunia komedi tunggal cukup melesat.

Bertahun-tahun lewat, dan mereka baik-baik saja. Hingga suatu hari, Claudya berkata, “Aku pikir kita harus menimbang ulang soal hubungan kita.”

“Maksudnya?” Badut heran, sebab ucapan itu terlontar datar saja dari mulut Claudya.

“Maksudku, aku harus berpikir matang tentang seperti apa lelaki yang aku butuhkan ke jenjang yang lebih serius.” Claudya mencoba menegaskan maksudnya.

“Bukannya sudah jelas, kamu pernah bilang kalau yang paling kamu butuhkan dalam hidup adalah seseorang yang bisa membuatmu tertawa, dan orang itu jelas aku.”

“Dut,” Claudya menajamkan tatapan ke arah Badut, “sekarang aku sudah bosan dengan tawa.”

Wajah Claudya tampak serius

“Mari kita sederhanakan persoalannya, Clau. Kalau kamu  bosan tertawa, kamu hanya harus memperbaiki selera humormu, dan kamu akan berhenti tertawa jika berada di dekatku.”

Claudya menggeleng jengkel. “Sepertinya aku lebih butuh memperbaiki seleraku terhadap lelaki dibandingkan selera humorku.”

Kemudian, Claudya membanting pintu dan pergi entah ke mana.

Badut bangkit dari kenangan. Dia berbaring di sofa butut coklatnya. Sial baginya, sofa itu selalu bisa menghadirkan kenangan percintaan pertama antara dia dan mantan kekasihnya. Itu malam terindah dalam hidup Badut, terjadi beberapa bulan sebelum Claudya berpikir untuk menimbang hubungan mereka.  

Ketika itu, mereka pulang ke rumah Badut setelah menembus hujan bulan Juni. Di sofa itu, Claudya yang mengenakan kemeja longgar milik Badut duduk seraya memeluk dirinya sendiri untuk mengusir dingin yang tertinggal di tubuhnya. Badut duduk di sebelahnya, dan tiba-tiba Claudya memeluknya erat. Kemudian, mereka melanjutkannya dengan ciuman panjang, sebelum akhirnya Claudya mengizinkan Badut memasuki tubuhnya.

Usai bercinta, Badut membisikkan kalimat puitis di telinga Claudya berkali-kali. Lalu, di atas dada Badut yang terbuka Claudya mengatakan, “Tahu apa yang membuatku suka bercinta denganmu, Dut?”

“Karena aku berkali-kali membisikkan kalimat romantis sehingga kamu merasa seolah tengah bercinta dengan Shakespeare?”

“Astaga, Tolol! Aku suka bercinta denganmu karena berapa kali pun kita melakukannya, aku akan tetap jadi perawan.”

Badut tersenyum. Entah mengapa, baginya, Claudya selalu mampu membuatnya memaafkan segala kekurangannya. Claudya adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya berdamai dengan dunia.

**

Badut bangun terlalu pagi, padahal baru tidur dini hari. Sejak kepergian Claudya beberapa bulan lalu, dia tak pernah bisa tidur nyenyak. Alarm di tubuhnya kacau, dan itu membuat wajahnya selalu kusut. Keadaan itu diperparah sejak dia mengetahui bahwa mantan kekasihnya akan menikah. Dan, informasi yang didapatkan dari Gigi, Sahabat Claudya, itulah yang melumpuhkan sisa-sisa ketabahan Badut. Hingga akhirnya, dia memutuskan bunuh diri kemarin siang.

Badut bangkit dari kasur kapuknya yang berbau apak. Dia masuk kamar mandi, dan membasuh wajahnya di wastafel. Di hadapan cermin di atas wastafel, dia menatap sosok yang semrawut dan menyedihkan. Dia mengusap lagi wajahnya dengan air, berharap air dapat menghapus sehampar murung pada wajah bulatnya,

Badut beranjak ke dapur, menyeduh kopi, kemudian membawa cangkirnya ke meja ruang tengah. Dia berbaring di sofa, sembari membuat lubang dengan lingkar tangannya. Dia membayangkan tubuh Claudya pas terkurung di dalamnya. Dia tersenyum getir menyadari betapa keras pun usahanya menipu kenyataan, faktanya Claudya telah pergi dan akan menikah dengan lelaki lain.

Daniel, lelaki itu, sebenarnya bukan orang baru dalam hubungan Badut dan Claudya. Lelaki yang berprofesi sebagai pebisnis itu pernah beberapa kali jadi alasan pertengkaran keduanya. Cerita tentang Daniel, mulanya diungkapkan Claudya saat dia didesak Badut untuk menceritakan masa lalunya. Seperti lelaki pada umumnya, Badut gemar mengorek masa lalu pasangannya, hanya untuk berakhir cemburu yang tidak perlu. Dan, itulah yang terjadi padanya.

Cerita soal Daniel mudah saja menyengat telinga Badut. Sebab, menurut cerita Claudya, dia menjuluki mantan kekasihnya itu dengan julukan Daniel ‘Piton’ Alexander. Hal tersebut terkait dengan ukuran kejantanan milik Daniel yang diterangkan secara gamblang oleh Claudya sebesar ular piton. Maka, sejak saat itu, Badut mulai tidak menyukai ular piton, atau sejenis ular besar lainnya.

Pernah, suatu kali, saat Badut dan Claudya kencan di kebun binatang, mereka terlibat pertengkaran hebat. Di hadapan akuarium kaca yang dijadikan kandang ular besar, Claudya meminta Badut memotret dirinya. Badut menolak dengan mengatakan, “Aku nggak rela membiarkan orang yang aku cintai foto bersama masa lalunya.” Badut menatap dingin Claudya.

“Maksudnya?” tanya Claudya, heran.

“Lihat kamu mau foto dengan apa?”

“Ular.”

“Iya, ular! Dan, aku yakin betul hewan sialan itu mengingatkanmu pada si Daniel ‘Piton’ Alexander.”

Paham akan maksud Badut, emosi segera menumpas kesabaran Claudya. “Astaga, Dut! Aku nggak sangka kamu bisa berpikir sepicik itu!” Mata Claudya membesar, rahangnya mengeras. “Dut, cepat foto aku sekarang atau aku marah!”

“Aku yang harusnya marah, Clau! Kamu nggak pernah memikirkan perasaanku!”

“Foto sekarang atau aku marah!” Claudya berteriak sehingga sekumpulan bocah di dekatnya ternganga.

“Aku nggak rela kamu foto dengan Daniel ‘Piton’ Alexander sialanmu itu!”

Claudya membuang wajah, dan rupanya dia baru sadar bahwa ular besar di kandang adalah jenis sanca. “Kamu bisa baca, kan, Cowok Sialan?! Nih, baca!” Claudya menunjuk plat nama di bawah kadang ular. “Ini bukan piton. Ini sanca. Es, A, En, C, A. SANCA!” Namun, belum sempat Badut merespon, Claudya sudah lari meninggalkannya.

Setelah Claudya lenyap dari batas pandangnya, Badut baru menyadari sikapnya sungguh kekanakan. Dia mencoba menghubungi Claudya, namun tak ada jawaban. Lalu, Badut pun menyisi seluruh penjuru kebun binatang. Dia memasuki pelbagai pertunjukan hewan pintar, namun yang ditemuinya hanyalah sepasang singa laut bernama Syahrul Gunawan dan Agnes Monica. Dua hewan itu tampak mesra dan bahagia. Meskipun Badut tak tahu, bahwa hal paling menyakitkan dari menjadi mahluk hidup, adalah saat mereka tercuri kebebasannya.