Episode 3 - Kau Goh


“Dan, ini hanya menurutku, aku pikir kau ini mungkin adalah hasil dari murka tuhan.”

“Hmm... apa maksudmu?”

“Ini hanya hipotesisku.”

“Oh~coba ceritakan, biar aku dengarkan bagaimana hipotesismu itu.”

Benar, ini hanya hipotesis, tapi ini adalah hasil dari hipotesisku selama enam tahun ini selalu bersama dia, jadi aku cukup yakin dengan hipotesisku ini.

“Apa kau memperhatikan keadaan masyarakat akhir-akhir ini?”

Aku mengawali hipotesisku dengan sebuah pertanyaan.

“Aku tidak peduli tentang hal itu.”

Dia ini benar-benar egois, jika tidak berhubungan dengan pan-tidak, fetish anehnya dia tidak akan peduli sama sekali.

“Benar juga ya.”

“Memangnya ada apa dengan keadaan masyarakat akhir-akhir ini?”

Oh, sepertinya dia tertarik dengan hipotesisku.

“Masyarakat sudah membusuk.”

“Maksudmu?”

“Akhir-akhir ini aku sering memperhatikan masyarakat sekitar dan itulah yang membuat aku yakin, aku melihat mereka sudah tidak memperdulikan agama lagi, bersenang-senang tanpa memperhatikan garis yang tidak boleh dilewati yang telah agama berikan bahkan aku juga sering melihat orang yang mengaku beragama tapi tidak pernah menyembah tuhannya, aku menyebutnya semi-atheis.”

“Apa-apaan itu semi-atheis?”

“Ya, seperti namanya, mereka adalah orang-orang yang mengaku beragama tapi tidak menyembah tuhannya, mereka adalah orang-orang munafik.”

“Lalu apa maksudmu kalau aku ini adalah murka dari tuhan?”

Dia langsung bertanya intinya, santai sedikit Dan.

“Untuk membersihkan para manusia yang sudah membusuk tadi, tuhan membiarkan goh untuk mengambil alih tubuh, itulah yang aku maksud dengan murka tuhan, dengan kata lain kalian para goh adalah karma bagi manusia dari tuhan.”

“Haha ... dalam hipotesismu itu, berarti kau mengaku sebagai masyarakat yang busuk, kan?”

“Lebih tepatnya aku ini korban dari kebusukan masyarakat.”

“Kok bisa?”

“Bukankah dulu pas pertama kita berbicara dan aku bertanya “Kenapa aku?” kau menjawab kalau kau hanya secara acak memilih.”

Ucapku sambil mengingat kembali pertemuan pertama kami di dunia putih enam tahun yang lalu, mengingatnya kembali membuat aku sedikit merinding, jika tiga hari sebelum dia bisa mengontrol penuh dia sudah berhasil mengambil alih tubuhku aku pasti sudah tidak ada lagi saat ini.

“Benar juga.”

“Jadi, bagaimana menurutmu hipotesisku?”

Ucapku dengan sedikit bangga.

“Entahlah, untuk saat ini anggap saja begitu.”

“Untuk saat ini, ya.”

“Oh iya, apa maksudmu aku ini goh? Apa itu goh?”

“Hmm ... itu hanya aku plesetkan dari kata roh, jangan terlalu dipikirkan.”

“Oh, begitu, kau ini terlalu simpel ya.”

Benar, aku hanya memplesetkan goh dari kata roh, aku tidak mau terlalu ambil pusing akan hal ini jadi, ya begitulah.

Nikmati saja hidup ini, jangan terlalu diambil pusing, jalani dengan penuh rasa senang dan jangan bawa beban berat di atas pundakmu.

Sampai saat ini aku masih belum bertemu dengan orang lain yang menghadapi situasi yang sama denganku, tapi saat aku bertanya apakah tidak hanya aku, Dan menjawab dengan tegas kalau memang bukan hanya aku, sebenarnya Dan juga pernah merasakan kehadiran goh yang lain tapi roh lamanya sudah terhapus jadi mustahil untuk diselamatkan lagi.

Batas waktunya adalah tiga hari dan setelah itu goh akan memiliki kontrol diri.

Dalam kasusku Dan tidak berniat mengambil alih tubuhku jadi aku bisa disebut beruntung atau juga tidak beruntung.

Beruntung karena Dan tidak mengambil alih tubuhku, karena goh setelah melewati waktu tiga hari itu akan memiliki kontrol atas dirinya sendiri dan kekuatannya akan meningkat pesat. Tidak beruntung karena akulah orang yang terpilih secara acak oleh Dan.

Jika ini di dunia nyata maka percakapanku dengan Dan akan terlihat seperti aku berbicara sendiri, maka dari sanalah banyak yang menganggap aku aneh.

Saat ini aku ingin berlatih menggunakan penembak runduk.

Penembak runduk adalah istilah yang berasal dari tahun 1770-an, saat itu dikalangan prajurit kolonial Inggris di india. Barang siapa mahir memburu burung Snipe yang konon sulit untuk ditembak, maka ia berhak mendapatkan julukan ‘Sniper’.

Seiring berlalunya waktu, sniper mengalami pergantian arti. Yaitu, prajurit infantri yang secara khusus terlatihh untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh menggunakan senapan.

Saat ini aku sedang berbaring di tanah dan membidik sasaran yang telah Dan buat sebelumnya menggunakan SPR 2.

SPR 2 ini bukan sembarangan senjata.

Pelurunya bisa menembus tank baja. Bahkan, ada peledak di balik amunisi tersebut yang bisa menghancurkan kendaraan tempur dalam sekejap. Lebih hebatnya lagi, SPR 2 juga memiliki jangkauan tembak hingga 2 km. Saat kemunculannya senjata ini menggemparkan dunia.

Secara rinci, SPR 2 ini berkaliber 12,7 mm x 99 mm, panjang senapannya 1.755 mm, berat keseluruhan 19.5 kg, panjang barel 1.055 mm, kapasitas peluru antara 5-10 butir. Rifling atau alur spiral berulir pada bagian dalam laras senjata api ini yakni 8 grooves, RH 381 MM (15”) twist. Kecepatan rata-rata lesatan peluru 900 meter per detik dan jangkauan seperti yang aku bilang tadi, 2 km.

Keistimewaan SPR 2 ini dibanding senapan lain terletak pada jangkauan, ketepatan , dan Silencer atau peredam suara hentakan dari tembakan.

Silencer yang dipasang bisa menurunkan hentakan suara tembakan sekita 20-30 desibel. Senjata ini juga dilengkapi perangkat night vision dan teleskop dengan pembesaran ukuran 5-25 kali.

SPR 2 ini juga memiliki tiga jenis peluru yang bisa digunakan, yakni MU3 M yang dipakai untuk latihan menembak, MU 3 SAM yang bisa menembus kendaraan, dan MU 3 BLAM yang tidak hanya menembus kendaraan tapi juga bisa meledakan target sasaran.

Ini untungnya berada di dunia mimpi, jika ini di dunia nyata maka aku harus mengeluarkan Rp 200 juta untuk per pucuknya.

Aku memperhatikan dengan seksama target, mengatur nafas dan kemudian menekan trigger-nya, dan dengan “Bang” peluru melesat menuju target.

Aku memperhatikan target melalui teleskop untuk melihat apakah peluru yang aku tembakan berhasil mengenai target.

Gagal.

Jika ini adalah medan perang yang sesungguhnya maka aku pasti akan mati.

Karena bagi sniper tidak ada yang namanya tembakan kedua untuk target yang sama, atau biasanya disebut one shoot one kill, jika sniper menembak kedua kalinya untuk satu terget, itu sama saja bunuh diri karena dengan begitu posisi sniper akan diketahui oleh musuh.

Ah, aku gagal.

Tapi untungnya ini bukanlah medan perang, ini hanya latihan.

Aku berdiri sambil membawa SPR 2 menuju salah satu menara pengawas yang diciptakan Dan, dari sini target terlihat lebih jelas.

Menaiki tangga demi tangga menuju titik tertiggi menara.

Berbaring sambil memegang erat SPR 2, dan memperhatikan baik-baik target tadi.

Mengatur nafas agar aku tenang dan kemudian menekan trigger, peluru melesat menuju target, aku memperhatikan terget yang berbentuk seperti manusia itu melalui teleskop dan di perutnya terdapat sebuah lubang.

Berhasil.

Tembakan keduaku mengenai target itu.

Aku mengulangi lagi dan lagi latihan ini, karena hanya dengan begitu aku dapat mengusainya.

Benar, selalu ada buah yang manis dari pohon yang terawat baik.

Setelah berlatih beberapa kali tembakan, aku mengakhiri latihan hari ini karena ada hal yang harus aku lakukan. Ya, ini tentang pergi menemani Alice mencari hadiah untuk ulang tahun ayahnya itu, aku harus memberitahu Rito, kalu besok aku tidak bisa mengikuti latihan rutin kami.

Aku membuka kelopak mata.

Keluar dari dunia mimpi.

Aku duduk dipinggir kasur sembari meregangkan tubuhku kemudian bangkit dan mulai berjalan keluar kamar. Untungnya rumah Rito tepat di sebelah rumahku, jadi ini tidak akan lama.

*Tok tok tok*

Aku mengetuk pintu rumah Rito. Sesaat kemudian suara langkah dari dalam terdengar, kemudian pintu perlahan terbuka. Dari dalam terlihat sosok berrkulit coklat yang disebabkan sering berjemur di bawah matahari, Rito.

“Oh kau rupanya Dan, ada apa? latihannya itu besok bukan hari ini.”

“Aku kesini untuk membicarakan tentang latihan besok.”

“Ada apa memangnya?”

“Besok aku tidak bisa ikut.”

“Oh, tidak biasanya. Ada apa memangnya?”

Ini memang jarang terjadi, aku sangat jarang melewatkan latihan rutin kami, walaupun tidak ada kewajiban untuk mengikutinya sih.

“Besok aku akan menemani temanku untuk mencari hadiah ulang tahun.”

“Cewek?”

“Alice.”

Rahang Rito terjatuh dan dia terdiam sejenak kemudian mulai sadar kembali. Kenapa reaksinya seperti itu?

“A-alice si dewi sekolah dari kelasmu itu?”

“Iya, memangnya ada Alice yang lain selain dia.”

“Sejak kapan kau pacaran dengan Alice?”

Memangnya hanya dengan menemani membeli hadiah resmi pacaran?

“Tidak, tidak, kan sudah aku bilang, aku hanya menemani membeli hadiah.”

“Bukannya itu sama saja dengan kencan.”

Benarkah? Apa menemani membeli hadiah ulang tahun itu termasuk kencan?

“Tidak, aku hanya menemani dia.”

“Terserahlah, yang lebih penting lagi , sejak kapan kau mulai akrab dengan dia?”

“Aku lupa, memangnya kau tidak akrab dengan dia?”

“Apa maksudmu? Dia itu si dewi sekolah.”

“Lalu?”

“Itu tidak mungkin orang biasa seperti aku bisa akrab dengan dia, aku memang pernah berbicara dengannya tapi itu hanya obrolan biasa.”

“...”

“Lupakan saja, yang lebih penting besok kau tidak boleh mengacaukannya.”

“Tentu saja.”

Aku kembali menuju rumah dan segera mandi, makan malam dan kemudian kembali ke kamar lagi, mengambil sebuah barbel seberat 3 kg dan berlatih.

*Ring ring*

Terdengar suara dari ponsel yang aku letakan di atas kasur, aku menghampiri kasur sambil membawa barbel dan melihat ponselku. Ada sebuah pesan, ini dari Alice.

[Malam Danny, ini Alice, ini pesan pertamaku ke kamu, aku lagi bosan jadi aku iseng untuk membuat pesan ini, semoga kau tidak terganggu, aku juga punya sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu.]

Sambil mengangkat barbel disalah satu tangan dan memegang ponsel di tangan satunya lagi aku mengetikkan pesan balasan ke Alice.

[Tentu saja tidak mengganggu, aku kebetulan sedang bersantai di kamar, jadi ada apa Alice?]

Kirim.

Tidak lama setelah itu balasan dari Alice datang.

[Syukurlah kalau begitu (^_^) , aku ingin menanyakan tentang besok]

Wah, bahkan emoticon yang dia gunakan sangat imut, Alice memang imut.

[Ada apa memangnya?]

[Besok kita ketemuannya dimana?]

[Besok saja kita bicarakan di kelas, bagaimana?]

[Baiklah kalau begitu, selamat malam Danny]

[Malam juga]

Aku kembali teringat kata-kata dari Rito tadi.

Ini bukan kencan, kan?