Episode 2 - Dia Alice


“Aku Danny.”

Jawabku pada suara itu.

“Oh, berarti namaku Danny ya, tidak buruk.”

Suara itu terdengar lagi tapi tetap saja aku tidak menemukan siapapun. Aku terus mencari di sekitar, tapi tidak menemukan siapapun. Sebenarnya siapa itu?

“Apa yang kau lakukan, aku ada di dalam tubuhmu jadi tentu saja kau tidak bisa menemukan siapa pun.”

“Di dalam tubuhku?”

“Pejamkan matamu.”

Aku mengikuti arahan suara itu dan menutup mata, sebuah dunia putih tadi kembali muncul, di dunia ini ada aku dengan sebagian tubuh kanan masih normal dan sebagian lagi berbentuk bayangan hitam dan di depanku ada sosok dengan sebagian tubuh kiriku dan sebagian lagi adalah bayangan hitam.

Aku menatapnya takut, apa mungkin dia akan menyerang aku lagi?

“Si-siapa kau?”

Agak gugup, suaraku terpatah-patah saat aku memaksakan diri untuk bertanya padanya.

“Tentu saja, aku adalah Danny.”

“...”

“Kau juga adalah Danny,” dia terdiam sejenak dan tersenyum “kita berdua adalah Danny.”

“Kau bayangan hitam yang menyerang aku tadi, kan?”

“Oh itu, saat itu di tiga hari awal, aku tidak memiliki kontrol diri jadi aku menyerangmu atas dasar insting, setelah tiga hari aku baru mendapatkan kontrol diri.”

“Lalu, kau akan menyerang aku lagi?”

“Hmm ... tidak, aku pikir akan lebih menyenangkan jika kita berbagi tubuh ini.”

“Berbagi tubuh?”

“Ya, sebenarnya jika aku mau aku bisa menyerangmu dan menghapus jiwamu, tapi itu akan membosankan, seperti ini saja lebih baik.”

“Kenapa aku?”

“Hmm ... aku acak memilih.”

“Apakah ada yang lain yang seperti aku?”

“Aku rasa iya.”

“Bagaimana nasib mereka?”

“Tentu saja jiwanya terhapus.”

Sedikit shock saat aku mendengar jawaban darinya, jiwanya terhapus? Jadi dia bukan dia yang dulu lagi begitu? Lalu bagaimana keseharian orang itu? Apakah bayangan hitam ini baik? Atau jahat?

Banyak pertanyaan yang terlintas dipikiranku tapi saat aku membuka mulut untuk meludahkan pertanyaan-pertanyaan itu, dia berkata.

“Berhenti, terkadang semakin banyak kau tau semakin banyak masalahmu.”

Aku menelan kembali pertanyaan-pertanyaan yang hampir terludah keluar dari mulutku.

Merenung sejenak, akhirnya aku memecahkan kesunyian ini.

“Jadi aku harus memanggilmu siapa?”

“Danny.”

“Itu akan merepotkan jika kita memanggil dengan nama yang sama, bagaiman jika aku memanggilmu Dan?”

“Hmm ... terserah saja, aku tidak terlalu peduli tentang itu.”

Aku melangkah ke depan menuju Dan kemudian berhenti di depannya.

Tersenyum dan berkata, “Terima kasih.”

Tentu saja aku harus berkata terima kasih, walaupun dia menyerang tubuhku tapi itu bukan dari kehendaknya. Mungkin dia mendapatkan perintah untuk mengambil alih tubuhku dari kekuatan yang sangat mutlak.

Tuhan.

Dan jika dia ingin dia bisa menghapus jiwaku tapi dia tetap membiarkan aku.

Jadi intinya, aku pikir dia itu baik.

Setelah memikirkan ini, satu pertanyaan lagi terlintas, kenapa tuhan memerintahkan dia mengambil alih tubuh?

“Jangan salah sangka, aku tidak melakukan ini untukmu, aku melalukan ini karena aku pikir akan menyenangkan jika kita berbagi tubuh yang sama, Cuma itu.”

“Haha ... iya.”

Dia tsundere.

“Haha, kau percaya omong kosong yang aku katakan tadi?” ucap Dan tiba-tiba.

“Eh? Maksudmu?” jawabku bingung.

“Itu semua omong kosong, aku bahkan tidak ingat apa-apa.”

“...”

“Haha, hampir semua yang aku katakan tadi omong kosong kecuali tentang aku masuk ke tubuhmu secara acak, itu murni kebetulan.”

Tiba-tiba aku memiliki dorongan untuk mencekiknya. Tapi tentu saja, aku tidak berani.


HARI INI

Aku duduk di tempat dudukku, melihat serius majalah di depanku.

Tentu saja ini bukan majalah perabotan rumah tangga, ataupun majalah model panas, ini lebih menakjubkan lagi, ini adalah majalah yang memuat tentang senjata.

Banyak senjata yang ada di dalam majalah ini, seperti pistol Pindad P2, senapan serbu Belgia FN FNC, dan senapan SS1 dengan semua variannya.

SS1 V1, ini adalah varian dasar dari SS1. Laras standar dengan popor lipat.

SS1 V2, varian pendek darI SS1. Juga ada SS1 V3, SS1 V4, sampai Sabhara V1-V2.

Tapi yang paling menakjubkan adalah sebuah gatling gun M134D.

“Hei, kau sedang membaca apa?”

Suara merdu terdengar dari sampingku, aku menoleh dan melihat sumber suara itu, dia adalah Alice.

Dewi sekolah.

Sosoknya yang ramping dan tinggi, dengan rambut hitam panjang juga kulitnya yang seputih salju membuat dia tampak seperti sebuah boneka.

Walaupun dia seperti berasal dari dunia lain tapi dia tetap mau berbicara dengan orang biasa seperti aku, seperti yang diharapkan dari dewi sekolah, dia sangat baik.

“Majalah tentang senjata.”

“Kenapa?”

“Aku ingin menjadi tentara,” jawabku.

“Hmm ... kau ingin menjadi tentara?”

“Iya.”

Jawabku tegas dan cepat dari pertanyaan itu, ini sudah terdoktrin lama oleh Rito, jadi aku menjawabnya tanpa sedikitpun keraguan.

“Kau akan menjadi tentara dan aku menjadi dokter, kurasa ini sangat serasi.”

Ucap Alice pelan.

“Hmm ... apanya yang serasi?”

“Saat kau terluka saat bertugas aku yang akan menyembuhkanmu-ah tidak, lupakan yang barusan aku katakan.”

Kenapa dia terlihat sangat gugup dan wajahnya juga menjadi merah, apakah dia demam?

“Jadi kau sedang melihat senjata apa?”

“Oh ini, ini adalah gatling gun M134D minigun dari Dillon Aero. Kau tahu? Dillon Aero M134D ini punya enam pucuk laras dan rata-rata dapat 3.000 hingga 4.000 tembakan per menit,” ucapku dengan semangat, Alice pun terlihat sangat menikmati penjelasanku, “senapan mesin multilaras otomatis ini memakai peluru 7.62 mm NATO dengan kapasitas magasen antara lain 1.500, 3.000 sampai 4.400 round. M134D ini gak bisa dianggap remeh. Pada varian standar, dia mampu melontarkan peluru sebanyak 3.000 tembakan per menit. Itu setara dengan 50 tembakan per detik dan tidak ada senjata di kelas 7.62 mm yang setara dengan kemampuan tembaknya.”

Setelah menyelesaikan penjelasan panjang ini aku tersadar, aku terlalu berlebihan.

“Um ... maaf, aku terbawa suasana.”

“Ah tidak apa-apa, tadi itu sangat menakjubkan, pengetahuanmu tentang senjata sangat hebat ya.”

“Tidak, ini bukan apa-apa.”

Tentu saja, dibandingkan dengan Rito, aku masih belum ada apa-apanya. Rito tidak hanya tahu tentang banyak senjata, tetapi banyak hal lainnya seperti taktik perang, sejarah tentang peperangan, bahkan dia hafal semua jenis kendaraan untuk bertempur. Lihat, hebat, kan?

“Lain kali bisa kau jelaskan senjata lain padaku?”

Setelah menyelesaikan ucapannya, Alice menjadi semakin merah, apa yang terjadi? Demamnya terlihat makin parah.

“Tentu saja.”

Tidak ada ruginya bagi aku dan sangat menyenangkan saat menceritakan sesuatu yang kau sukai kepada orang lain, apalagi orangnya itu adalah Alice, si dewi sekolah.

“Benarkah?”

“Ya.”

“Syukurlah.”

Itu hanya penjelasan singkat, kenapa dia begitu senang?

Tunggu, apakah dia menjadi menyukai senjata juga? Apakah kekuatan mendoktrin orang lain milik Rito menular padaku? 

Apa mungkin memang begitu?

Seingatku tadi dia bilang ingin menjadi seorang dokter, tapi apa mungkin cita-citanya berubah dan akhirmya ingin menjadi tentara? Apa itu mungkin?

“Alice.”

“Ya?”

“Kau masih ingin menjadi dokter, kan?”

“Ya, tentu saja.”

Aku menghembuskan nafas, lega. Ternyata itu hanya imajinasiku saja, apa jadinya jika aku menyebabkan dewi ini menjadi seorang tentara, dia lebih baik menjadi seorang dokter.

“Kenapa kau ingin menjadi dokter?”

Kebiasanku untuk mencari tahu segala sesuatu aktif.

“Aku ingin....”

Dia berhenti sejenak, sepertinya dia ragu-ragu untuk melajutkan kalimat selanjutnya.

“....”

*Bel berbunyi*

Alice melanjutkan kalimat yang sempat dia hentikan bersamaan dengan bunyi bel tanda pelajaran selanjutnya akan dimulai, jadi aku tidak terlalu jelas mendengar apa yang dia katakan.

“Apa? Aku tidak mendengarnya.”

“Tidak, lupakan saja.”

Alice berjalan menuju tempat duduknya.

Wajahnya menjadi lebih merah, seharusnya dia ke UKS saja.

Pelajaran dimulai, sesuai jadwal ini adalah pelajaran matematika tapi aku benar-benar tidak fokus karena Dan terus berbicara tentang pantat Buk Mellinda, guru matematika.

Jika ini terus berlanjut mungkin aku akan tertular fetish anehnya ini.

pelajaran selesai bersamaan dengan waktunya pulang. Aku memasukan semua peralatan belajar ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Di saat aku hendak berdiri dan pulang, sosok dewi sekolah-Alice berjalan menghampiri aku.

“Kenapa Alice?”

“Um ... itu ... jika kau ada waktu ... bisa kau temani aku membeli hadiah ulang tahun?”

Membeli hadiah? Kenapa harus aku? Aku tidak terlalu tahu tentang apa yang harus diberikan kepada orang lain sebagai hadiah ulang tahun.

“Itu, ayahku juga suka tentang militer, jadi aku kira kau bisa membantu aku memilihkan sesuatu yang dia sukai,” lanjut Alice yang sepertinya tahu apa yang aku pikirkan “Itu jika kau tidak keberatan?”

Jadi begitu, ayahnya juga maniak militer seperti Rito juga rupanya, aku juga sih.

“Tentu saja, kapan kita mencarinya?”

“Besok gimana, kau bisa?”

Sebenarnya besok adalah jadwal latihan fisikku bersama Rito, tentu saja walaupun itu hanya latihan fisik biasa, tapi mungkin bisa aku sebut semi-militer, mungkin.

 “Baiklah.”

Aku memutuskan untuk membantu Alice mencari hadiah ulang tahun.

Senyum mengembang lebar di wajah Alice, dia sangat imut.

“Kalau begitu bisa aku tahu nomormu, biar gampang aku hubungi.”

“Ah ... tidak masalah.”

Aku memberikan nomorku pada Alice, dan sebaliknya aku juga mencatat nomor Alice.

“Kalau begitu sampai jumpa besok lagi.”

“Ya, sampai jumpa.”

Alice berlari riang keluar kelas sementara aku berdiri dan mulai berjalan untuk pulang ke rumah juga.

Ah, aku harus memberitahu Rito kalau besok aku tidak bisa mengikuti latihan.

Sesampainya dirumah, aku melepas sepatu dan seragam sekolah kemudian menuju dapur untuk makan siang penuh gizi dari ibuku.

Kebiasaan itu masih terbawa sampai sekarang juga dan ibuku juga senang dengan kebiasaan ini, sebagai hasilnya tubuhku sekarang bisa dibilang ideal dan juga agak berotot karena latihan bersama Rito tapi entah kenapa kulitku masih tampak seputih bayi.

Ini, gen, kan?

Sedangkan Rito sudah tampak seperti tentara banget, tubuhnya sangat berotot dan kulitnya benar-benar terpanggang matahari.

Selesai menyantap makan siang, aku berjalan menuju kamar, menghempaskan tubuh ke kasur dan memejamkan mata.

Sebuah dunia putih yang dulu tidak ada lagi, berganti dengan sebuah tempat latihan untuk tentara yang biasa aku lihat di internet.

Ternyata dunia ini sangat fleksibel.

Tapi tentu saja ini bukan karena aku, ini semua diciptakan oleh aku yang lain, Dan.

Dengan kekuatanku sendiri aku hanya bisa membuat senjata-senjata sedangkan Dan mampu untuk benar-benar membuat dunia putih itu menjadi seperti sekarang.

Ini juga sangat menakjubkan, di sini aku bisa berlatih menggunakan senjata apapun yang aku mau dan kapanpun aku mau.

Walaupun saat pertama kali Dan berkata dia ingin berbagi tubuh, tapi faktanya sebagian besar waktu aku yang mengendalikan tubuh ini sedangkan Dan terus mengoceh tentang fetish anehnya di dalam pikiranku.

“Dan, ini hanya menurutku, aku pikir kau ini mungkin adalah hasil dari murka tuhan,” ucapku.