Episode 149 - Prasasti Darah


Satu hari dan dua malam berlalu. Di pagi hari nan sedikit mendung berawan, tiga ahli berpenampilan serba hitam berdiri di hadapan sebuah gerbang besar yang puing-puingnya berserakan. Siapa pun yang menyaksikan pemandangan ini, pastilah akan mempertanyakan atas alasan apakah salah satu perguruan ternama di Pulau Jumawa Selatan tampil demikian menyedihkan...?

“Katakan, apakah benar ini Persaudaraan Batara Wijaya?” aju Kum Kecho. 

“Benar. Apakah gerangan tujuan kalian datang bertandang...?” Seorang remaja, yang juga berada pada Kasta Perak, menjawab sekaligus membalas dengan pertanyaan. Wajahnya terlihat garang. 

“Calon murid yang hendak ikut serta dalam ujian masuk Persaudaraan Batara Wijaya, dipersilakan memasuki halaman dalam!” 

Sayup-sayup terdengar suara dari balik tembok perguruan. Seorang panitia penerimaan murid baru terdengar menyampaikan pengumumkan terkait ujian masuk. Meski tak banyak yang hadir, harga diri Persaudaraan Batara Wijaya menegaskan bahwa mereka tetap harus membuka penerimaan murid baru. Penghinaan yang diterima dari Perguruan Maha Patih, seolah hanya membekas dalam bentuk reruntuhan gerbang depan.  

“Saat ini adalah waktunya bagi Persaudaraan Batara Wijaya menerima murid baru. Akan tetapi, karena tindakan laknat dari Perguruan Maha Patih, tahun ini tak banyak yang datang mendaftar!” sergah si penjaga gerbang ketika mendapati remaja berjubah serba hitam di hadapannya menampilkan raut penasaran.

“Maha Guru! Izinkan murid menerobos ke Kasta Perak!” 

Tetiba terdengar suara teriakan di sudut lain. Bahkan murid Kasta Perak yang bertugas menjaga gerbang, menoleh karena sama penasaran dengan calon murid-murid yang sedang memasuki gerbang. Suara tersebut datang dari seorang murid Kasta Perunggu Tingkat 9. Dagunya panjang menatap ke depan!

Remaja berdagu panjang terlihat ngotot. Ia yang mati kutu saat penyerangan oleh Perguruan Maha Patih karena kalah jumlah, ingin secepatnya meningkatkan kemampuan tempur. Di hadapannya, seorang Maha Guru menatap ringan. 

“Rangga Lawe... apakah balas dendam yang engkau inginkan...?”

“Benar!” Si Dagu Panjang, yang kini diketahui bernama Rangga Lawe, mengangguk tegas. Tak terbersit keraguan dalam tindak-tanduknya. 

“Maka persiapkanlah dirimu!” 


“Jadi, apakah tujuan kalian datang bertandang...?” 

Remaja penjaga gerbang terlihat cukup penasaran. Diketahui bahwa ketiga ahli berjubah hitam di hadapannya jelas-jelas berada pada Kasta Perak. Pastilah mereka berasal dari suatu perguruan. Atau mungkinkah kedatangan mereka karena hendak menonton musibah yang mendera Persaudaraan Batara Wijaya!? 

“Kami hendak menjadi murid di perguruan ini...,” ungkap Kum Kecho.

“Hah!?” Penjaga gerbang tersontak. “Apa yang kalian ketahui tentang Persaudaraan Batara Wijaya?” 

Setelah berpapasan dengan Mayang Tenggara, Kum Kecho menyadari bahwa dirinya jauh tertinggal dalam hal keahlian. Ia tak dapat mencerna aura peringkat keahlian Mayang Tenggara karena keberadaan Untaian Tenaga Suci yang dikenakan. Akan tetapi, ia yakin dan percaya, bahwa Mayang Tenggara setidaknya sudah berada pada Kasta Bumi. 

Di dalam ruang dimensi berlatih, Kum Kecho sepenuhnya menyadari bahwa bukan tak mungkin baginya merintis keahlian mencapai Kasta Bumi. Akan tetapi, pastinya akan memakan waktu yang panjang, teramat sangat panjang. Tujuan dirinya untuk membalaskan dendam ibunda pastilah tertunda pula. Ia pun tak hendak meminta bantuan Mayang Tenggara. Apa artinya menuntut balas dendam bila mengandalkan ahli lain?

Oleh karena itu, selama berlatih di dalam ruang dimensi khusus, Kum Kecho berpikir keras. Ia mengingat bahwa Hang Jebat si Raja Angkara Durhaka turun peringkat dan hanya berada pada Kasta Perak. Entah apa penyebabnya. Demikian, Kum Kecho hendak memastikan apakah ada kemungkinan sasaran balas dendamnya juga turun peringkat keahlian. Ia pun menelusuri Kota Ahli dalam upaya mencari ‘dukungan’ dari Hang Jebat. 

Dalam penelusuran di Kota Ahli, Kum Kecho mendengar gunjingan banyak ahli tentang peristiwa penyerangan murid-murid Kasta Perunggu dari Perguruan Maha Patih terhadap... Persaudaraan Batara Wijaya! Batara Wijaya adalah nama lain dari kakek buyutnya, pendiri Negeri Dua Samudera! Siapa gerangan yang mendirikan perguruan dengan nama tersebut!? 

Rasa penasaran tentang Batara Wijaya inilah yang pada akhirnya menyebabkan Kum Kecho mengabaikan Bintang Tenggara. Ia melepas peluang untuk membangun kesepakatan dengan Dewi Anjani, dan berkesempatan memperoleh senjata digdaya. Setidaknya, untuk sementara waktu ia harus menetapkan skala prioritas dan berharap menemukan suatu petunjuk di Persaudaraan Batara Wijaya.

“Apa yang kalian ketahui tentang Persaudaraan Batara Wijaya!?” ulang penjaga gerbang. 

Kum Kecho alias Elang Wuruk hanya diam. Memang tak ia ketahui banyak tentang perguruan ini, selain kenyataan penggunaan nama kakek buyutnya.

“Persaudaraan Batara Wijaya merupakan sebuah perguruan tersohor,” jawab Dahlia Tembang. 

Walau dirinya sama terkejut dengan penjaga gerbang ketika Tuan Guru Kum Kecho mengatakan hendak bergabung, namun ia berupaya tetap tenang. Apalagi, secara status, ia masihlah murid Perguruan Maha Patih, rekan dari mereka yang melakukan penyerangan. 

Untuk memupus kecurigaan, Dahlia Tembang melanjutkan menyampaikan pengetahuan yang ia miliki seputar Persaudaraan Batara Wijaya. Bahwa perguruan tersebut terletak tak jauh dari dengan ibukota lama Negeri Dua Samudera, Sastra Wulan. Perguruan ini menyanjung diri sebagai ahli-ahli yang berhubungan darah dengan Sang Maha Patih. Bahkan, perguruan ini memiliki cara untuk memeriksa apakah di dalam nadi mereka mengalir darah keluarga Sang Maha Patih. 

Kum Kecho mendengar dengan seksama. Raut wajahnya sedikit muak ketika mendengar gelar Sang Maha Patih disebut-sebut. 

“Persaudaraan Batara Wijaya sangat ketat dalam penetapan murid. Murid Utama dan Murid Madya hanya yang diketahui berdarah ‘biru’. Bila tidak memiliki darah Sang Maha Patih, maka sehebat apa pun keahlian, seorang murid hanya akan digolongkan sebagai Murid Purwa,” tutup Dahlia Tembang. 

“Bila telah mengetahui hal ini, dan menyaksikan keadaan perguruan yang porak-poranda, apakah kalian masih tertarik bergabung? Apa alasan sesungguhnya dari kalian yang sudah berada pada Kasta Perak...?” Penjaga gerbang kembali mengajukan pertanyaan. 

“Karena perguruan ini adalah milikku!” Tetiba Kum Kecho bersuara. 

“Heh!? Terserahlah apa katamu!” Penjaga gerbang kaget, tapi tak hendak menanggapi serius. “Kuyakin bahwa kalian adalah buronan dan hendak bersembunyi di sini. Di sisi lain, perguruan saat ini memang memerlukan tambahan dukungan ahli. Jadi, silakan saja bila kalian hendak mengikuti ujian masuk.”

Kesimpulan yang disampaikan oleh penjaga gerbang itu sangatlah beralasan. Siapa yang tak akan mencurigai tiga ahli Kasta Perak yang hendak bergabung ke dalam sebuah perguruan? Lalu, ketiganya mengenakan jubah dan tudung serba hitam pula... Siapa pun akan sampai pada kesimpulan yang senada, bahwa mereka adalah pelarian dari suatu tempat karena suatu alasan. 

Kum Kecho, Melati Dara dan Dahlia Tembang memasuki pintu gerbang yang tak beraturan lagi bentukannya. Ketiga remaja lalu diarahkan menuju sebuah halaman dalam nan luas. Sepintas, Kum Kecho mendapati bahwa tata letak di dalam perguruan ini bahkan dibuat semirip mungkin dengan istana lama di ibukota Sastra Wulan. 

Kum Kecho menoleh ringan. Ia mendapati beberapa puluh anak remaja sedang berbaris dalam antrian. Di hadapan mereka, terdapat sebuah prasasti yang berukuran tebal dan lebar, namun tingginya hanyalah sepinggang tubuh orang dewasa. 

“Prasasti itu dikenal sebagai Prasasti Darah,” penjaga gerbang menunjuk dengan ibu jarinya, sembari menjelaskan. “Ujian masuk sangatlah sederhana. Teteskan darah kalian di atasnya. Prasasti Darah akan mengetahui umur dan peringkat keahlian.... serta, yang paling penting, Prasasti Darah akan mengungkapkan apakah kalian memiliki hubungan darah dengan Sang Maha Patih atau tidak. Tergantung pada kadar hubungan darah tersebut, kalian akan digolongkan sebagai sebagai Murid Purwa, Murid Madya atau Murid Utama.” 

Melati Dara tak terlalu peduli. Dahlia Tembang akhirnya memahami tata cara Persaudaraan Batara Wijaya menggolongkan murid-murid sesuai hubungan darah. Kum Kecho bertanya-tanya, siapakah yang membuat Prasasti Darah ini...? 

“Semoga berhasil!” Si penjaga gerbang lalu meninggalkan mereka untuk mengantri bersama calon murid-murid baru.

“Heh... minggir kalian!” tetiba terdengar suara menyergah. 

Melati Dara menoleh dan mendapati seorang remaja lelaki yang mungkin berusia 16 atau 17 tahun dan hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5. Di belakangnya, berjajar empat orang remaja lain yang berperawakan garang, yang kesemuanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 6. Kemungkinan besar mereka tak menyadari bahwa ketiga ahli berpakaian serba hitam adalah berada pada Kasta Perak Tingkat 1. 

“Tuan Muda... sebaiknya janganlah berlaku tak sopan pada ahli lain....”

Berujar seorang lelaki setengah baya yang turut menyertai remaja itu. Sebagai ahli yang berada pada Kasta Perak Tingkat 5, kelihatannya ia adalah seorang pengawal. Ia tentunya menyadari perbedaan peringkat kasta keahlian di antara remaja-remaja tersebut. 

“Kehadiranku di Persaudaraan Batara Wijaya akan memperbaiki nama besar perguruan yang sudah tercoreng. Siapa yang berani berdiri di hadapanku!?” remaja itu berujar lantang. 

Sejumlah calon murid melangkah mundur. Mereka terlihat berbisik-bisik. 

“Bukankah itu Tuan Muda dari keluarga bangsawan Jayanagara...?” 

“Anggota keluarga bangsawan Jayanagara biasanya memiliki kadar hubungan darah yang tinggi dengan Sang Maha Patih...”

“Banyak ahli perkasa di dalam Persaudaraan Batara Wijaya yang berasal dari keluarga bangsawan Jayanagara!” 

Kum Kecho, yang tadinya tak acuh, melirik. Ia mengingat nama Jayanagara. Ingatannya lalu menemukan seorang lelaki tua yang senantiasa tersenyum ramah. Bilamana ada kesempatan, maka kakek tua itu akan mendatangi dan menggendong dirinya. Kakek tua itu bernama Jayanagara, mantan penguasa kedua Negeri Dua Samudera, sebelum era Sang Maha Patih... Atau, dengan kata lain, merupakan kakek kandung Elang Wuruk! 

“Kau cantik sekali...” tetiba Tuan Muda Jayanagara menegur Melati Dara. 

“Tuan Muda... Janganlah bermain-main. Tujuan kita hari ini adalah mengikuti ujian masuk.” Lelaki tua mengingatkan. 

“Sudikah dikau menghabiskan malam bersama daku, Karunasankara Jayanagara, wahai gadis yang beruntung...?” ujar Tuan Muda Jayanganara. Ia memperkenalkan diri dan mengabaikan nasehat dari pengawal tua itu. 

“Cuih!” Melati Dara tetiba meludah keras. Air liur nan kental mendarat di antara kedua mata Karunasankara Jayanagara! 

“Lancang!” 

Kepala pengawal demikian berang. Tiada ia mengira bahwa seorang gadis entah siapa berani meludahi wajah junjungannya, di saat dirinya bertugas pula. Memalukan sekali. Ia melompat maju! 

“Tunggu!” 

“Tapi... Tuan Muda...”

“Tenanglah... Gadis cantik ibarat bunga di taman, apakah dikau tahu arti nama diriku ini...?” Ia mengelap air liur di antara kedua mata.  

Melati Dara mengumpulkan air liur di dalam mulutnya. 

“Nama yang diberikan kepada daku adalah Karunasankara, yang berarti ‘bersifat pemaaf’. Demikian, aku akan memaafkanmu bilamana malam ini kita dapat menghabiskan waktu berduaan saja…” 

“Cuih!” Melati Dara meludah lagi! Air liur tak terlalu kental melekat tepat di jidat Karunasankara Jayanagara, lalu meleleh pelan ke arah alis... 

“Perempuan bangsat!” Kepala pengawal tak lagi dapat menahan diri. Ia merangsek maju sambil mengepalkan tinju. Empat orang remaja lain memasang kuda-kuda. 

Melati Dara siaga. Dahlia Tembang melayang ringan. Kum Kecho masih diam mengamati. 

“Tahan!” Tetiba terdengar suara membahana. “Jangan membuat keributan di dalam wilayah Persaudaraan Batara Wijaya!” 

Semua yang berada di wilayah halaman dalam merasakan tekanan yang sangat berat. Tak diragukan lagi, telah hadir seorang ahli Kasta Emas! 

“Aku adalah Maha Guru Ke-12 dari Persaudaraan Batara Wijaya, Mahesa Jayanagara. Aku mengemban tugas sebagai ketua panitia penerimaan murid baru. Barang siapa yang berlaku sesuka hati di saat aku sedang bertugas, maka akan menerima imbalan yang setimpal!” 

“Paman Mahesa…,” remaja dengan ludah yang masih melengket di kening menegur lelaki dewasa ketua panitia itu. 

“Oh...? Karunasankara... Akhirnya kau memutuskan untuk berhenti bermain-main dan ikut serta dalam ujian masuk perguruan...”

“Tuan Mahesa Jayanagara... maafkan kelancangan hamba...” pengawal tua menundukkan kepala. “Akan tetapi, gadis itu terlalu lancang. Ia Meludahi wajah Tuan Muda Karunasankara.” 

Mahesa Jayanagara melirik ke arah Melati Dara. Kedua matanya menyipit. Kum Kecho merasa ada yang janggal dari pandangan mata lelaki itu... 

“Berbarislah kalian para calon murid baru!” Lelaki dewasa itu memberi perintah dan mengabaikan kata-kata si kepala pengawal. Kemudian, ia melesat tinggi ke udara. 

Karunasankara Jayanagara memotong antrian dan berdiri tepat membelakangi Kum Kecho. Empat Remaja dalam gerombolannya mengikuti. Pengawal tua, meski masih tak puas, melangkah pergi dan bersiaga di salah satu sudut lapangan. 

“Kau pastilah kekasih dari gadis cantik...,” tegur Karunasankara Jayanagara. “Sebaiknya engkau merelakan kekasihmu itu. Masih banyak gadis lain untukmu. Jadi, terimalah penawaranku untuk bertukar dengan gundikku.” 

Kum Kecho bahkan tak menoleh. 

“Kasta Perunggu Tingkat 5! Murid Purwa!” 

“Kasta Perunggu Tingkat 4! Murid Madya!” 

“Kasta Perunggu Tingkat 4! Murid Purwa!” 

Satu persatu calon murid baru meneteskan darah ke atas prasasti batu itu. Rupanya, di sisi lain batu, terdapat semacam tabung penakar. Ukuran yang digunakan adalah persen. Bila kandungan darah ‘biru’ seorang murid berada di bawah batas 10%, maka ia akan dikelompokkan sebagai Murid Purwa. Batas 11%-20% berarti Murid Madya, sedangkan 20%-25% berarti murid Utama. 

“Selama ini, kadar paling tinggi yang pernah dicapai adalah 23%... dan hanya beberapa ahli yang pernah mencapai hubungan darah setinggi itu. Salah satunya yang pernah mencapai taraf 23% adalah Pimpinan Persaudaraan Batara Wijaya saat ini,” ujar Mahesa Jayanagara tinggi di udara. Ia masih memantau ujian masuk murid-murid baru. Sesekali, ia melirik ke arah Melati Dara.  

“Bagaimana dengan penawaranku...? Kau pun kuperkenankan memilih lebih dari satu di antara gundik-gundikku. Di dalam perguruan nanti, kau pun berkesempatan menjadi pengikut bangsawan muda nan tampan ini.” Karunasankara Jayanagara masih berupaya melakukan tawar-menawar. 

Kum Kecho tetap tak menanggapi. Ia malah melirik ke arah Prasasti Darah. Sebentar lagi, tiba giliran dirinya. Sungguh ia penasaran. 

“Hei!” Karunasankara Jayanagara memutar tubuh. “Cukup besar nyalimu! Aku sudah bersedia melakukan pertukaran. Aku pun bersedia mengangkatmu sebagai pengikut!” Ia menggeretakkan gigi. 

Kum Kecho menghela napas panjang. Karunasankara Jayanagara berdiri tepat di hadapannya dengan lagak menantang. Berbeda tempat dan berbeda waktu, namun selalu saja ada gerombolan bangsawan muda nan pongah. Ia mengingat pada suatu waktu di masa lalu... adalah Cecep, siluman sempurna kodok muda, yang selalu menderita perisakan demi perisakan. Bersama Mayang Tenggara, dirinya lalu membantai setengah mati sejumlah bangsawan muda. Puas rasanya walau harus menerima hukuman berat. Kejadian itu masih segar dalam ingatan, seperti baru saja berlangsung...  

“Sepertinya kau tak memberikan banyak pilihan bagiku. Baiklah... lebih mudah bagiku merampas gadis itu daripada menukar gundik dan menerima pengikut tak becus. Dasar bocah tak tahu diuntung!” 

“Plak!” 

Karunasankara Jayanagara jatuh tersungkur! Darah tak henti-henti bercucuran dari mulutnya. Seluruh calon murid dan panitia penerimaan murid baru tercengang. Empat begundal pengikut remaja itu hanya bisa membatu saking terkejut, sehingga tak bisa berbuat apa-apa. Kum Kecho dengan mudahnya menampar wajah seorang bangsawan muda! 

“Kurang ajar! Sudah kuingatkan agar tak berlaku sesuka hati!” hardik Mahesa Jayanagara di udara. Tekanan teramat besar dirasakan oleh seluruh ahli di halaman dalam. 

Pengawal tua di kejauhan hendak bertindak, namun mengurungkan niat. Ia tak berani melangkahi wewenang Maha Guru Mahesa Jayanagara, yang terlihat sedang turun dari ketinggian....

Kum Kecho melangkah maju, mengabaikan tekanan tenaga dalam ahli Kasta Emas. Ia lalu melompat dan berdiri... di atas Prasasti Darah! 

Prasasti yang selama ini menjadi petanda kebesaran dan kebanggaan Persaudaraan Batara Wijaya, serta merupakan sarana pembuktian hubungan darah dengan Sang Maha Patih... kini berada di bawah telapak kaki seorang remaja!

“Bocah lancang!” seru Maha Guru Mahesa Jayanagara. Ia melesat turun. 



Cuap-cuap:

Beberapa ahli baca budiman ada yang sempat tersalah arah. Alamat yang benar adalah yang diawali dengan 'http', bukan 'https'. Sebenarnya sama saja, namun komentar para ahli baca paling banyak ada di 'http'.