Episode 3 - Basic Fundamental of Magic


Alzen, dan seluruh pelajar-pelajar baru berkumpul di Lapangan Kelas untuk memutuskan kelas tempat mereka menjadi satu kelompok. Setelah kemarin malam sebagian pelajar merundingkan dan mempertimbangkan habis-habisan soal ini. Sampai-sampai, mereka tak bisa tidur sama sekali. Namun akhirnya... Alzen, Chandra dan seluruh pelajar baru Vheins dengan bakat lebih dari satu elemen. Harus mengambil keputusan, hari ini juga.

***

Hari kedua dimulai. Jam sudah menunjukan angka 9 Pagi...  

Sahut salah seorang Instruktur wanita yang kemarin membuat sambutan kembang api itu. "Kemarin malam kalian sudah diberi tahu sedikit tentang pemilihan kelas ini kan? Ya! Tentunya kalian sudah mengerti betul apa yang harus kalian tentukan hari ini. Namun, sebelum kalian memutuskannya secara mutlak, biar kuberi sedikit penjelasan lagi, tentang kelas yang akan kalian pilih ini..."

"Wahh, pidato lagi." Komentar Chandra.

"Biar bagaimanapun, keputusannya tak akan berubah, kecuali...," balas Alzen.

"Di Vheins, kita memiliki 6 kelas untuk komunitas kalian nanti. 5 kelas untuk Elemen Mainstream. Ya... Sebagian besar dari kalian pasti sudah tahu. Kelima elemen yang dimaksud adalah Api, Angin, Air, Tanah, Petir dan 1 kelas lagi disediakan untuk diluar kelima Elemen tersebut." Kata Instruktur tersebut dalam pidatonya. "Asal kalian tahu! Di Vheins, setiap kelas memiliki nama uniknya masing-masing..."

"Kelas Api bernama IGNIS. Disimbolkan berwarna Merah."

"Kelas Air bernama LIQUIDUM. Disimbolkan berwarna Biru tua."

"Kelas Angin bernama VENTUS. Disimbolkan berwarna Hijau."

"Kelas Tanah bernama TERRA. Disimbolkan berwarna Coklat."

"Kelas Petir bernama FRAGOR. Disimbolkan berwarna Ungu." 

"Dan jika kalian punya elemen diluar itu kalian masuk ke Kelas STELLAR."

"Wooo... Nama-namanya menarik," reaksi Alzen.

"Ahh... Cuma hiasan...," komentar Chandra.

Sementara di kelompok Sinus, Velizar dan Nicholas.

"Ohh ada namanya?" ucap Velizar datar.

"Kita Darkness, Kita masuk Stellar dong?" Sambung Sinus. "Stellar artinya apa sih?"

"Bintang...," Jawab Nicholas. "Simbolisasi dari keberagaman Elemen yang berbeda-beda di kelas kita."

"Untuk kelas Stellar. Kelasnya agak unik, karena pelajarnya memiliki elemen yang berbeda-beda dengan medal yang berbeda-beda juga. Misalnya Dark Element disimbolkan berwarna hitam. Light Element berwarna putih. Ice Element berwarna biru muda dan kalau kusebutkan semuanya akan makan banyak waktu. Jadi intinya meski kelas Stellar memiliki banyak murid dengan elemen yang berbeda-beda, tapi setiap elemen punya instrukturnya masing-masing. Jadi jangan heran apabila kelas Stellar memiliki ruangan yang lebih besar dari kelima kelas lainnya."

"Alzen, pilihanmu tak berubahkan?" tanya Chandra sambil berlari ke kelas yang ia pilih.

Lalu instruktur itu menyemburkan api biru di kedua tangannya. Tangannya serong 45 derajat meninju ke bawah, dengan mulutnya yang mengeluarkan api biru ke arah langit seperti semburan naga. 

"SEKARANG !!"

Jawab Alzen. "Tentu saja! Kita menuju arah yang sama!"

"KELAS IGNIS !!"

***

Tiba di sana... Terpapar kelas yang megah dan seorang guru sudah berdiri disana.

"Haa? Luas sih kelasnya... Tapi kenapa kosong begini?" ucap Chandra.

"Baru mau aku tanya... Kupikir kau tahu semua tentang Vheins... dan tempat ini juga," balas Alzen.

"Tidak, soal ini juga aku juga baru tahu."

Tanpa panjang lebar, Guru kelas Ignis memberikan sambutan dengan menggebrak meja keras-keras sampai-sampai mengagetkan banyak pelajar baru. 

"Selamat datang di kelas Ignis! Aku Lasius Filberth yang akan jadi instruktur kalian dalam belajar sihir api disini! Hahaha!” Ucapnya dengan semangat. “Tapi jangan panggil aku instruktur, pelafalannya kepanjangan! Kalian panggil aku dengan sebutan guru saja!”

“Baik Guru!”

“Dan untuk hari pertama… Buang semua buku kalian dan serang aku dengan sihir api yang kalian bisa, disini! Sekarang juga!"

"Buang semua buku?"

"Heee!? Kenapa harus buang buku."

"Waduh gurunya kekar gitu. Takut saya. Hiiy!!"

"Udah... Nurut ajalah, nurut."

Lalu salah seorang murid langsung antusias menyerang sang guru dengan sihir api.

"Siapa yang melakukan ini? Belum-belum sudah menyerang saja!"

"Tadi katanya suruh serang?" kata salah seorang murid.

"Ohh kamu ya... Aku kenal kamu nak. Namamu... Lio kan?" tanya Lasius.

"Iya, Aku Lio. Bapak mengenalku?" Lalu ia seperti bersiap untuk menyerang Lasius kembali.

"Tentu saja nak! Yang tadi aku hanya bergurau saja. Meski ruangan ini dipasangi Magic Immunity. Supaya tidak dirusak penyihir-penyihir seperit kalian. Tapi tetap saja nantinya bakal berantakan, jika dilakukan di kelas. Jadi! Kita lakukan diluar!"

***

Setibanya diluar, Di sebuah lapangan luas di luar kelas.

"Oke! Biar kujelaskan sedikit. Satu persatu dari kalian maju dan serang aku dengan sihir api kalian, Lakukan serangan sekuat mungkin ya! Ingat! Sekuat mungkin! Tapi hanya sihir api yang diperbolehkan, Oke?!"

"Oke!!"

Lalu para murid-murid Kelas Ignis menyerangnya dengan berbagai macam sihir api seperti Fireball, Fireblast, Flamethrower dan berbagai sihir api yang para pelajar kuasai.

***

"Hah... Tak menyenangkan." Komentar Lasius sambil mengangkat bahunya. "Coba lebih serius sedikit. Kenapa yang dikeluarkan sihir lemah-lemah begini. Cuma itu yang kalian bisa?" 

"Apa-apaan orang ini!?" Lio terkejut dan wajahnya terlihat lelah sekali. "Padahal aku sudah sekuat tenaga tapi dia tak terluka sedikitpun. Dan malah meremehkan kita semua. Instruktur! Aku yakin Kau yang tadi bahkan tak serius sedikitpun kan?"

Lalu Lasius tersenyum menantang, setelahnya ia tak membalas Lio dan langsung mengatakan buat semuanya. "Nah... Semuanya !! Aturannya berubah, karena kalian masih lemah-lemah kuizinkan bagi yang bisa menggunakan lebih dari satu elemen menggunakannya secara bebas. Hmm... Biar kulihat dulu. Rata-rata cukup banyak yang memiliki 2 elemen ya. Nah... Kamu! Coba kamu yang punya 3 elemen... Maju sini!"

"A... Aku?" Alzen mengkonfirmasi dan jujur saja ia deg-degan sekali karena ditunjuk Lasius.

"Iya... Kamu! Majulah, Aku lihat kau satu-satunya yang punya 3 Medal...," balas Lasius.

"Apa yang harus kulakukan?" Alzen tak percaya diri.

"Cukup serang aku sekuat tenaga," balasnya.

"Sekuat tenaga? Kau yakin instruktur?" Alzen ragu.

"Iya... Serang aku sekuat tenaga !! Jangan ditahan-tahan." balasnya Lasius dengan wajah senyum menantang sambil memasang kuda-kuda untuk menerima serangan Alzen.

"Baiklah... Karena instruktur yang minta." Alzen berancang-ancang mengangkat tangannya ke atas dan mengumpulkan api besar di atas kepalanya. "Kau Siap Guru?"

"Heh... Boleh juga. Aku selalu siap!" Ucap Lasius dengan kuda-kuda untuk menerima serangan. "Serang aku !!"

"Dengan sihir ini, Aku pernah membakar habis puluhan binatang buas di hutan sekaligus. Sampai-sampai, mereka menjadi abu, Kau yakin guru?" Alzen memperingatkan sambil terus memperbesar api di atas kepala dan kedua tangannya.

"Kalau ini pertarungan sungguhan, kau sudah kutendang daritadi! *Casting Time-mu terlalu lama nak!" Bentak Lasius gurunya.

(Cast atau Casting atau Casting Time adalah waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan sihir, semakin hebat sihirnya semakin lama Casting Time yang diperlukan. Tapi seiring peningkatan kemampuan si penggunanya. Durasi Casting Time bisa diperpendek dari latihan terus menerus.)

"Oke... Kurasa sudah cukup segini, Tolong jangan mati ya guru..." Alzen tersenyum seperti mau tertawa. Baru setelahnya ia melemparkan bola api besar yang berukuran hampir dua kali lipat dari tubuhnya sendiri dan menjatuhkannya ke depan, ke tempat Lasius berada.

"Bagus !! Kamu tak main-main seperti yang lainnya." Lasius menyelimuti dirinya dengan api dan bersiap menahan Bola api yang besar itu dengan kedua tangannya.

"Hei! Alzen! ... Kau bakal membakar seorang guru hidup-hidup kalau dilanjutkan!" Teriak Chandra dengan panik.

"Kalau ini membunuhnya... Aku akan kesulitan nantinya," balas Alzen yang terlihat pucat dan berkeringat.

Alzen melontarkan bola api berdiameter 2 meter itu pada Lasius.

"WAAAAAAAA !!" Lasius teriak kesakitan, Terbakar di dalam bola api itu.

"Waduh !! ... BAGAIMANA INI !! Alzen! Kau benar-benar membunuhnya! Di dalam api sebesar dan sepanas itu! Kau benar-benar membunuhnya!" Chandra tambah panik melihat siluet Lasius hangus di dalam api tersebut. "Bagaimana ini... Bagaimana ini! Ohh iya... Air, Air, Aku harus menggunakan sihir air..."

"Hosh... Hosh..." Alzen setelah melancarkan sihirnya. Tiba-tiba jadi terlihat pucat, berkeringat dan tubuhnya terlihat tak sehat. Keseimbangannya goyah dan ia hampir tersungkur jatuh di tanah jika kedua tangannya tak menahan tubuhnya. Ia merasa jadi mau muntah di atas tempatnya berpijak. Lalu katanya "Inilah efek samping dari penggunaan sihir sebesar ini. Selain panasnya meradiasi sekitarku, tubuhku jadi selemas ini."

"WAAAAAA !!" Lasius masih berteriak dari dalam api.

Murid-murid lain yang menyaksikannya juga ikut panik.

“Haduh bagaimana nih!”

“Hei rambut biru! Kau terlalu berlebihan!”

"Air, Air, Dimana Air? Ahh itu dia..." Chandra mengumpulkan air di sekitarnya dengan sihir. Ia menggunakan air selokan sebagai satu-satunya sumber air yang bisa ia gunakan. "Alzen!? Kau baik-baik saja!? Sial... Aku tak boleh membiarkan temanku membunuh seorang guru bodoh ini di hari pertama sekolahku."

"Siapa yang kau bilang bodoh !!" Lasius membelah dua api besar tersebut satu ke kiri dan satu lagi ke kanan seperti sebuah hembusan api yang besar. 

“HYAAAA !!”

Untungnya tak mengenai murid secara fatal. Hanya nyaris terkena.

"Bagus nak!" Lasius mengacungkan jempol dengan tubuh hitam gosong terbakar.

"Haaa!? ... Kau selamat!?" ucap Chandra yang baru mau melontarkan semburan airnya. "Tapi kau gosong begitu, kau baik-baik saja?"

"Tentu saja Hahahaha!!" Lasius tertawa saat dirinya hitam gosong begitu. "Kau hebat nak... tapi tak cukup untuk membunuhku."

"ASEM!!"

"Augh, Aww! Hei! Kenapa menyemburkan air padaku? Hei, sudah... Sudah! Hentikan! Bau apa ini! Air selokan! Yang benar saja!" 

"Agh... Kalau begini jadinya lebih baik kau mati saja di dalam api itu!" Balas Chandra dengan ekspresinya yang amat kesal.

"Syukur... la...hh" Pandangan Alzen memudar, memastikan kesadarannya tetap ada untuk tahu bahwa ia tidak membunuh gurunya. Setelah merasa lega, Alzen tersungkur, jatuh pingsan dan tak sadarkan diri .

"Alzen? Kenapa kamu? Alzen!" Chandra mengkhawatirkannya.

"Tenang nak... Bukan masalah. Dia cuma kelelahan," ujar Lasius. "Dia punya pengetahuan sihir yang baik... Punya jumlah Aura yang besar juga. Tapi tubuhnya tidak cukup kuat menahan beban sihirnya."

"Alzen terus menahan kesadarannya sambil memastikan ia tak membunuhmu...," jawab Chandra dengan kesal. “Namun dia…”

"Sudahlah... Tak usah banyak-banyak drama." Lasius menepuk-nepuk tubuhnya yang gosong dan bau got. "Duh baunya gak tahan. Tapi yasudahlah, tidak begitu masalah! Hahaha! Nah... Apa pelajaran yang kalian dapat hari ini?"

Ditanya seperti itu tak seorangpun tahu harus jawab apa. Melihat gurunya masih hitam gosong dan dibasahi air selokan.

"Ada yang bisa jawab?" tanya Lasius.

Salah seorang murid menjawab, "Menembakan Api?"

"Bukan..."

"Memperkuat sihir api?" sahut yang lain.

"Bukan Juga..."

"Melakukan sihir sekuat-kuatnya?" jawab Lio.

"Hampir benar..."

Dan setelah banyak murid menebak-nebak namun tak satupun jawaban yang memuaskan Lasius.

"Oke biar kuberitahu... Simple saja, Kalian tak sungguh-sungguh mengeluarkan sihir api." Bentaknya sambil membakar dirinya dan menlenyapkan air selokan pada dirinya..

"Sementara anak berambut biru ini malah terlalu sungguh-sungguh sampai pingsan begitu. Mulai 7 hari kedepan kita tak belajar sihir melainkan melatih tubuh kalian... Percuma kalian punya sihir yang kuat seperti anak ini, tapi langsung kelelahan setelah menggunakannya dan pingsan di depan musuh, Kalau begini terjadi di pertarungan sungguhan, kalian masuk Tipe penyihir yang cepat mati..."

"Tipe yang cepat mati!?" Lio terkejut.

"Ingat baik-baik nak. Kalau ini pertarungan sungguhan. Alzen, temanmu ini akan mati konyol setelah pingsan. Musuhnya bisa melakukan apa saja padanya saat ia tak sadarkan diri." balas Lasius.

"Oke !! ... Semuanya kembali ke dalam kelas, pelajaran akan dimulai disana! Tapi, biar aku bersihkan diri dulu, baunya masih ada."

Salah seorang bertanya. "Tapi guru... Aku belum dapat giliran menunjukan sihir apiku?"

"Soal itu, Sekarang tidak penting lagi... Cepat kalian pergi ke kelas!"

Karena Alzen tak sadarkan diri, Chandra menggendong Alzen ke kelas Ignis,

***

Sesampainya dikelas, Lasius menembak sihir api ke suatu benda bulat di dinding. Kemudian meja dan kursi muncul perlahan-lahan di ruangan kelas yang tadinya kosong. Dan setelah meja, kursi ada di ruangan ini, Kelasnya jadi terasa mirip sekali dengan kelas di bangku kuliah. Dan di belakang meja guru terdapat white board besar.

"Woah!! ... Bagaimana caranya? Hanya dengan menembakan api ke benda itu?"

"Ini salah satu kemampuan sihir Elemen Time (Waktu), Elemen langka yang hanya dimiliki oleh segelintir penyihir. Di Vheins, salah satu kemampuannya digunakan untuk ini." Lasius menjelaskan. "Jujur saja aku juga mengaguminya, Haha..."

"Oke anak-anak! Teorinya mulai dari sini." Lasius menggebrak papan tulis dibelakangnya. "Aku juga sama seperti kebanyakan dari kalian... Aku tak terlalu suka teori, Tapi setidaknya setiap penyihir harus mengerti hal yang akan kujelaskan kali ini. Jadi tolong jangan tidur saat aku menjelaskan ya."

Setelah kaget mendengar gebrakan dari Lasius, Alzen siuman dan bisa mendengar pelajaran hari ini. Meski tubuhnya lemas sekali rasanya.

"Alzen kau sudah sadar?" tanya Chandra yang duduk disampingnya.

"Iya... Lumayan, meski tubuhku agak lemas rasanya." Alzen tidur letih di mejanya. "Apapun yang terjadi, aku harus dengar pelajaran hari ini."

"Oke kalian semua! Dengarkan aku dan lihat ini..." Lasius menjelaskan.

Tok! Tok!

Lasius mengketuk-ketuk papan tulisnya.

"Sihir berasal dari apa yang kita sebut, Aura... Sebuah kekuatan dalam diri manusia yang bisa di bangkitkan dengan hal-hal tak tentu dalam hidup si manusia itu sendiri. Seperti misalnya... Hampir mati, Kemarahan yang tak terbendung, Kesedihan yang dalam, Ketekunan belajar, Kegigihan dalam mencobanya dan juga terkadang dari hal-hal yang menyenangkan seperti jatuh cinta atau berhasil meraih sesuatu yang berharga. Namun sebagian orang bisa dengan sendirinya membangkitkan kemampuan Auranya tanpa ada sebab yang jelas. Tapi kadang dalam kondisi yang samapun, seseorang berhasil membangkitkan aura, namun seorang yang lain dalam kondisi yang samapun tetap tak berhasil membangkitkannya. Jadi cara membangkitkannya secara pasti? Masih misterius dan sangat acak sebabnya. Kalau kalian bisa meng-cast sihir... Tentunya kalian pasti bisa menggunakan Aura juga. Jadi ingat! Sihir kalian ditenagai oleh energi Aura di dalam diri kalian."

Lalu sahut-sahut pelajar Ignis memberikan komentar.

"Aura? Aku bisa sihir tapi baru tahu soal Aura ini."

"Huh? Sudah tahu."

"Catet... Catet..."

"Jenis Aura dipecah lagi dan memiliki dua tipe Aura yang tergantung kepribadian manusia yang memilikinya, White Aura karena kebanyakan orang memiliki Aura ini, jadi kita sebut sebagai Aura saja. Sedangkan yang satu lagi disebut Black Aura... Mudahnya seperti Positif dan Negatif. Hitam dan Putih. Baik dan Jahat. Terang dan Gelap."

"Pak Aku mau tanya? Apakah Black Aura selalu ada di orang jahat? Soalnya seringkali orang-orang jahat memiliki aura jenis ini," tanya salah seorang murid.

"Pertanyaan bagus, Kebanyakan memang seperti itu. Para Penjahat kebanyakan memiliki Black Aura. Tapi tidak semua pemilik Black Aura jahat. Kalau seperti itu mudah sekali menghakimi orang berdasarkan Aura yang dimilikinya. Jadi tak bisa jadi penilaian mutlak, Seseorang jahat atau tidak. Lagipula tak sedikit pula orang-orang dengan White Aura berakhir sebagai kriminal. Penyebab Black Aura selain memang karena niat jahat... Masa lalu yang kelam. Kehidupan yang sulit. Atau dengan sengaja membuat dirinya menjadi pemilik Black Aura."

"Tapi Kenapa? ... Seseorang menginginkan Black Aura dengan sengaja? Itu kan negative?"

"Kekuatan... Mereka mengingini kekuatan... Karena Black Aura pada dasarnya memang lebih kuat dari Aura biasanya. Ya... Sebabnya karena efek destruktif Black Aura ke pengguna elemen yang lainnya punya efektifitas 2 kali lipat. Dan kasus lainnya ialah untuk mengejar salah satu kemampuan khusus yang hanya pemilik Black Aura saja yang bisa memilikinya ... Aura Tipe Eater. Kalian tahu jenis kemampuan ini?"

"Ya!! ... kemampuan mencuri sebagian Aura musuh menjadi kekuatan mereka."

"Tepat sekali, Rata-rata sudah mengerti teori dasar-dasarnya ya. Ingat! Kalau kalian menghadapi pengguna Tipe Eater. Kalian harus mengalahkannya secepat mungkin atau jangan bergantung pada sihir atau kemampuan Aura kalian. Karena Tipe Eater ini adalah salah satu peng-Counter (Lawan balik) orang yang terlalu bergantung pada kekuatan Aura mereka. Jadi berhati-hatilah."

"Tunggu pak. Soal Black Aura tadi, masih ada yang mengganjal buatku. Kalau Black Aura punya efektifitas 2 kali lipat. Lalu dengan apa ia dikalahkan?" Tanya murid yang pertama tadi.

"Dengan Elemen Cahaya... Meski pengguna Black Aura atau lebih tepatnya disebut pengguna Element Kegelapan punya keunggulan seperti itu. Tapi jika berhadapan dengan Elemen Cahaya. Kegelapan menciut dan tak berdaya. Efektifitas Elemen Cahaya melawan Elemen Kegelapan adalah 3 kali sampai 5 kali lebih ampuh. Jadi kalau si pengguna Elemen Kegelapan ini tidak 3 kali lebih kuat dari lawannya yang pengguna Elemen Cahaya. Maka tak berkutiklah ia."

"Tapi kenapa begitu? Kenapa seampuh itu?" Belum puas ia bertanya.

"Biar kucontohkan pada kalian. Ruangan ini biar kubuat gelap dulu." Lalu Lasius menutup seluruh ruangan sampai minim sumber cahaya. "Kalian bisa lihat sebuah lilin kecil ditanganku ini. Ya aku tahu ini hanya api, tapi bayangkan sebagai cahaya lilin. Di tengah Kegelapan pekat dan 1 lilin kecil sebagai sumber cahaya. Tak peduli sekecil apapun cahayanya, Ia akan tetap bersinar dan terlihat jelas diantara kegelapan. Bahkan... Cahaya lilin ini malah makin terlihat terang di tengah-tengah kegelapan pekat di ruangan ini. Tapi jika kegelapannya terlalu besar. Barulah bisa mengalahkan sebuah lilin kecil ini. Nah seperti itulah prinsip dasar. Elemen Cahaya dan Kegelapan ketika bersinggungan."

Lalu semua pelajar Ignis menganguk setuju.

"Kamu sudah paham sekarang?"

"Ahh... Lumayan. Aku akan lebih paham lagi jika berkesampatan melihatnya langsung di lain waktu."

"Bagus... Siapa lagi yang mau bertanya?"

"Apa ada Tipe-Tipe Aura yang lainnya?" Kali ini Chandra yang bertanya.

"Tentu saja ada... Dan ini yang akan kujelaskan sekarang. Dari Aura turun ke dua tipe Aura, White Aura dan Black Aura yang tadi kita bahas. Lalu turun lagi ke Tipe spesialisasinya. Sejauh ini yang paling umum ditemukan adalah Kelima Tipe ini..."

"Tipe Magic adalah seperti kita para penyihir Vheins, pastinya bisa menggunakan Aura Tipe Magic. Meski ini yang paling mudah, Tapi sekaligus yang paling kompleks juga."

"Selanjutnya Tipe Enhance, Salah satu Tipe Aura yang bisa didistribusikan ke objek lain. Rata-rata digunakan untuk memperkuat senjata kalian. Atau anggota tubuh kalian sendiri. Seperti tangan dan kaki."

"Ada lagi Tipe Weapon, Aura mereka digunakan untuk membentuk sebuah senjata. Senjata yang hanya penggunanya yang bisa gunakan, Senjata yang eksklusif buat penggunanya dan tak terbatas selama Aura mereka mencukupi."

"Ada juga Tipe Summon, Aura mereka bisa membentuk sebuah wujud binatang, tumbuhan, manusia ataupun monster. Kalau dalam ilmu sihir, Mereka yang memiliki kemampuan tipe ini dan berelemen Darkness. Disebut Necromancer. Membangkitkan orang yang sudah mati dan mengendalikannya. Ini menyeramkan sih."

"Dan yang tadi kita bahas... Tipe Eater. Kemampuan Aura eksklusif untuk Pengguna Elemen Darkness. Mencuri sebagian Aura lawan dan menjadikannya miliknya. Jadi misalnya kalian yang berelemen api melawan Pengguna Tipe Eater yang tak bisa menggunakan elemen api. Tapi setelah mencuri sebagian kemampuannya dari kalian. Mereka bisa menggunakan sihir elemen api yang sama persis seperti yang kalian bisa lakukan. Jadi kalau kalian terlalu sombong dan bergantung dengan kemampuan Aura kalian. Ketika berhadapan dengan Tipe Eater, kalian dalam masalah."

"Untuk hari pertama, Aku rasa cukup sampai sini dulu," ucap Lasius, Mengakhiri pelajaran.

Alzen mengangkat tangan dan bertanya, "Apa yang akan kita pelajari besok?"

"Untuk besok dan seminggu ke depan kita akan berlatih fisik dan stamina. Jadi kalian boleh pulang ke dorm kalian sekarang dan bersiap untuk hari esok."

"Haa? Stamina, Kenapa? Memangnya kita mau jadi atlit?" tanya para murid protes.

"Iya, Stamina. Penyihir selain perlu Aura. Juga perlu stamina untuk menahan beban dari menggunakan sihir. Dan karena Stamina kalian lemah-lemah dan mudah sekali lelah. Maka dari itu kalian besok, Aku akan melatih stamina kalian." jawab Lasius santai.

"TIDAK!!!"



Ilustrasi tokoh: 

Lasius