Episode 11 - Bagian Kedua (2)

Ganesha sampai di rumah dengan wajah kusut. Rozak tengah duduk di teras sambil mengisap rokok. Di meja dekat tempatnya duduk, ada plastik putih yang membuat Ganesha penasaran. Belum sempat Rozak menyembuyikannya, Ganesha sudah merebutnya. Ternyata, isinya obat pelangsing. Muka Rozak merah, telinganya siap mendengar cemooh sahabatnya.

“Bung,” Ganesha memulai, “aku curiga kamu punya enam belas kali masa puber dalam hidupmu.”

Rozak hanya diam. Ia sendiri tak mengerti mengapa tubuhnya tergerak membeli obat itu. Beberapa hari ini, ia seolah tak mengenal dirinya sendiri. Karena yang ia tahu, selama lebih tiga puluh tahun hidup, penampilan tak pernah masuk daftar prioritasnya.

“Entahlah, Nesh, aku juga sebenarnya nggak paham kenapa aku melakukannya. Kali ini, ejeklah aku sesuka bacotmu,” ucap Rozak, pasrah.

Tetapi yang terjadi justru Ganesha teringat kembali soal naskah novelnya, sehingga gagasan mencemooh Rozak lindap dalam pikirannya. Wajahnya berubah mendung.

“Kenapa, Bung?” Rozak balik bertanya.

Ganesha menceritakan kejadian di warnet Sukamiskin. Mendengar itu, Rozak runsing dan hendak membuat perhitungan dengan Cuplis Monyong. Namun, Ganesha mengingatkan bahwa kawan-kawan Cuplis Monyong pernah membuat beberapa kali keributan di Jalan Haji Rohmat. Bagaimana pun, lelaki yang sebenarnya pendiam dan pemalu itu punya pengaruh di kalangan remaja. Seingat Ganesha, kawan-kawan Cuplis Monyong pernah terlibat tawuran warga hingga mendatangkan sejumlah polisi. Secara fisik, Cuplis Monyong memang tampak tak berbahaya, tetapi kawan-kawannya lain soal.

**

Malam berikutnya, Ganesha berjalan kaki sejauh empat kilometer ke warnet XGAMESX. Tubuhnya yang telanjur lelah setelah seharian dijemur di bawah matahari Jakarta tampak layu. Susah payah Ganesha menyeret langkah dan rasa malasnya menyusuri gang demi gang. Saat perjalanan baru ditempuh separuh, hujan memaksa Ganesha menepi di warung kopi buat berteduh.

Dua cangkir kopi hitam tandas, tetapi langit belum menuntaskan kemurungannya. Setiap hujan, Ganesha tahu belaka, yang lebih deras, mengepung, dan mengurung adalah kenangan. Seperti pada umumnya penulis puisi, Ganesha juga menyukai hujan. Ia pernah beberapa kali sehujan bersama Raslene, dan merasa hujan yang menimpa kali ini datang dari masa silamnya.

Hujan bersalin jadi gerimis. Ganesha melangkahkan lagi tungkainya. Angin yang menyelinap ke celah jaket jinsnya mendemamkan perasaannya. Ia merogoh saku celana, mengambil sebatang rokok dan membakarnya. Sepanjang langkah, Ganesha seolah melihat segala yang dilewatinya tampak sedih. Barangkali, ini yang dinamakan sihir hujan. Orang-orang tampak sedih, pohon-pohon tampak sedih, jalanan tampak sedih, gelas es teh yang berembun tampak seperti mata yang sembab, dan beberapa kucing yang tengah kawin di dekat got pun tampak tidak bahagia.

Sampai di depan Warnet XGAMESX, Ganesha terpukul. Warnet itu gelap dan pintunya terkunci. Tutup. Tak peduli seorang lelaki patah hati telah menempuh empat kilometer jalan yang penuh kucing kawin. Alhasil, Ganesha memutuskan pergi ke pasar malam.

**

Dalam pandangan puitis Ganesha, pasar malam adalah perpaduan antara dua hal yang berlawanan. Antara orang dewasa yang tampak kekanakan dan remaja yang ingin terlihat matang. Antara suara bising dan leking sunyi. Antara yang gembira dan yang gagal mengalihkan kesedihan. Antara yang sederhana dan yang terkurung kemeriahan. Semua berbaur dalam kesatuan yang tidak permanen, sebelum seluruhnya terpisah dan mengarungi nasib yang berlainan. Dan, bagi Ganseha, pasar malam selalu punya warna serupa cinta; biru sendu atau sepi sepia.

Perlahan, pasar malam mengelupas kulit dewasa Ganesha yang tipis. Bocah yang terselubung di dalamnya menghirup udara segar. Ia hendak bermain di semua wahana yang ada di tempat ini. Mengayun di wahana ombak, takjub di dalam tong setan, gembira di komidi putar, dan menelusuri gelap rumah hantu. Perihal yang terakhir, Ganesha punya kenangan manis bersama Raslene. Ia berniat menerangkan kembali ingatannya dengan melakukan pengamatan di rumah hantu sehingga bisa ditulis sebagai bagian novelnya.

Di kejauhan hampir 100 meter, di belakang panggung, Ratu Badak tampak murung. Keberhasilan orkes yang dirintisnya dengan darah, air mata, dan beberapa kali tindakan tidak terpuji sudah tak lagi berhasil membuatnya bahagia. Di usia empat puluh tahun, di tengah hidupnya yang mapan dan dikelilingi berondong ganteng meskipun mata duitan, lelaki bertubuh sebesar ‘badak’ itu merasa kesepian. Ia merindukan masa mudanya yang penuh gairah. Sewaktu orang masih mengenalnya dengan nama Mahmudi Ismanto, seorang montir yang goyang pinggulnya menggegerkan Mojokerto, sekaligus membuatnya diusir dari kampung halaman. Ia membutuhkan pemantik yang bisa menyalakan lagi bara jiwanya. Semacam petualangan atau entah apa, ia belum memahaminya.

Berjarak seratus muda-mudi yang asyik bermesraan dari kemurungan Ratu Badak, Ganesha berdiri. Rasa takjubnya terhadap kemampuan joki Tong Setan Arek Suroboyo mengendarai motor belum luntur. Di samping itu, ia juga masih terkagum-kagum mengingat lompatan dan tenaga nahkoda wahana ombak yang tak kenal kendur. Begitulah, pikirnya, di sisi lain yang jauh dari angkuh gedung perkantoran yang penuh orang-orang berdasi, uang diraih dengan peluh, tenaga, dan bahaya. Bukan dengan otak, kepintaran, atau mulut penuh tipu daya.

Ganesha masuk ke dalam rumah hantu. Ia berjalan perlahan di belakang rombongan, mengamati setiap detail yang disembunyikan gelap. Di antara riuh jeritan muda-mudi, ia seolah menangkap suara Raslene. Ganesha bukan hanya berjalan pelan, ia berulang kali memutar arah dan mengamati hantu demi hantu bagaikan berada dalam pameran lukisan. Geraman kuntilanak dibalasnya dengan senyum, auman genderuwo dibalasnya dengan sapaan hangat. Tepukan tangan pocong, membuatnya bertanya dalam hati mengapa pocong di rumah hantu ini kurang riset dan mendalami perannya. Sebab dalam sejarah perhantuan, jelas pocong tak bisa menggunakan tangannya.

Akhirnya, setelah para hantu dan tim kreatif rumah hantu mengadakan rapat mendadak, menimbang kerugian ekonomi dan kesehatan mental para hantu akibat gagal menakut-nakuti, mereka secara halus mengusir Ganesha. Ganesha sedikit menjelaskan bahwa ia tengah melakukan pengamatan untuk menyegarkan kembali ingatannya sebagai bahan penulisan novel. Tetapi, bisnis adalah bisnis, Ganesha mesti membayar lagi.

Ganesha sudah selesai melakukan pengamatan, ketika Ratu Badak naik panggung. Ia belum pernah sepintas pun melihat langsung lelaki yang gemar berdandan seperti perempuan tersebut. Ia hanya mendengar cerita selintas dari beberapa tetangganya. Tebakan Ganesha, nama Ratu Badak dipilih atas alasan letak markas Orkes Madu Asmara di wilayah kelurahan Rawa Badak, Koja, Jakarta Utara. Tetapi, mungkin tebakannya salah. Paling tidak, melihat sosok Ratu Badak yang besar tubuhnya bisa menyembunyikan satu anak badak.

Ratu Badak tengah berpidato di panggung. Tak jelas apa yang dibicarakannya. Suaranya terisak. Maskaranya yang luntur membuat Ganesha paham bahwa kemungkinan pidato sedih. Tetapi, dugaan itu terasa prematur karena sebagian orang di depan panggung malah tertawa-tawa. Penasaran, Ganesha menajamkan pendengarannya.

Sedikit banyak, ia tahu pidato Ratu Badak berisi kisah perjalanan kariernya. Kemudian, di akhir pidato, Ratu Badak menggemakan yel-yel yang disambut seluruh penonton. “Siapa ... paling cantik?” tanya Ratu. “Ratu Badak!” teriak penonton. “Siapa ... paling langsing?” tanya Ratu. “Ratu Badak!” jawab penonton. “Siapa yang mirip badak?” tanya Ratu. “Bukan Ratu, dooooooong!” teriak penonton, panjang. Sepertinya, penonton sudah hapal isi yel itu. Lalu, asisten Ratu Badak melemparkan sejumlah hadiah ke arah penonton, sementara Ganesha meninggalkan panggung konyol itu sambil mencibir.

**

Seminggu lewat. Selama kurun waktu itu, Ganesha menulis novelnya di warnet XGAMESX. Berbeda dari sebelumnya, tujuh hari ini Rozak selalu menemaninya. Rozak merasa sahabat sehidup semati, serokok se-tidak-punya rokok, senasi bungkus dan selaparnya itu, mesti didukung penuh. Toh, pikirnya, daripada ia berdiam sendiri di rumah dan memikirkan Miranti, ia bisa melakukan sesuatu yang lebih berguna; menyemangati sahabatnya. Saat bosan, Rozak bermain game Counter Strike. Celakanya, ia selalu mengetik user name tokohnya dengan nama Miranti, kemudian berulang kali melakukan bom bunuh diri. Tindakan itu merugikan rekan satu timnya dalam game. Alhasil, Rozak masuk catatan hitam gamers warnet XGAMESX dan diblokir.

“Sudah nambah berapa paragraf, Bung?” tanya Rozak.

Selama kehadiran Rozak, Ganesha kesulitan berkonsentrasi menulis. Lebih dari seluruh jari yang dimiliki manusia, Rozak selalu bertanya hal yang sama: sudah berapa paragraf, Bung? Dan, lima belas kali Rozak melontarkan pertanyaan yang sama, hanya saja panggilan ‘Bung’ diganti ‘Nesh’.

“Bung, kamu ini macam mandor saja,” keluh Ganesha, “kalau kamu terus bertanya, yang ada konsentrasiku hilang!”

Rozak meminta maaf, kemudian keluar membakar rokok. Entah mengapa, soal novel Ganesha membuatnya berdebar-debar. Ia seolah bisa merasakan keletak-keletik bunyi papan huruf dalam dadanya. Baginya, sebuah kebanggaan tak terkira apabila namanya, Rozak Triyansah, berada dalam daftar “Ucapan Terima Kasih” di novel sahabatnya. Dan, kebahagiaan tak tertanggung apabila ia melihat karya Ganesha terpampang di rak toko buku. Sebenarnya, Rozak sendiri punya keinginan menulis, tetapi masih percik api kecil yang belum berkobar seperti keinginannya untuk lebih kurus.

Rozak membuang puntung rokoknya. Tanpa sadar, ia kembali menghampiri Ganesha. Curiga pada kedatangan Rozak, Ganesha bertanya, “Mau tanya berapa paragraf lagi, hah?!”

Gelagat Rozak yang telanjur tertebak, membuatnya membelokkan niat awalnya. “Nggak, Bung, aku mau izin cabut duluan. Mau olahraga.”

“Sudah nambah berapa miligram lemak yang kamu bakar?”

“Tai!”

**

Senja yang terkelupas menampakkan tubuh malam. Ganesha menyetop tagihan warnet. Hari ini, perkembangan novelnya cukup menggembirakan. Ia berhasil menulis sepuluh halaman, dan jumlah itu termasuk yang tertinggi selama kariernya sebagai penulis novel dadakan. Ia membayar tagihan. Sang kasir tampak cemberut melihat wajah pelanggan yang seminggu ini memaksanya pulang telat. Seperti juga Cuplis Monyong, tak ada perjanjian uang lembur antara penjaga warnet itu dengan bosnya. Namun, Ganesha yang kurang peka tak memberi penjaga warnet itu uang tambahan.

Dua puluh menit kemudian, berjarak sekitar empat puluh rumah kumuh, empat warung kopi, dua kelompok penjudi, dan tiga kelompok pemabuk, kejadian istimewa dialami Cuplis Monyong. Usai menelepon penjaga warnet XGAMESX dan hendak menutup warnet, Cuplis Monyong dibuat ternganga oleh kehadiran seorang perempuan. Tanpa pikir panjang, Cuplis Monyong menjawab ‘belum’, ketika perempuan itu bertanya ‘apakah warnet sudah tutup?’.

Di meja kerjanya, lelaki bertubuh kurus itu berulang kali mengucek matanya, memastikan bahwa perempuan cantik itu nyata, bukan hantu yang iseng sebentar lalu menghilang. Setelah mengucek matanya sampai merah, perempuan itu masih ada. Nyata. Cuplis Monyong mengucap syukur dan mesem-mesem kasmaran.

Berdasarkan pantauannya selama ini, ia tak pernah menemukan satu pun perempuan Jalan Haji Rohmat macam yang ia lihat malam ini. Mirna, Wanda, Rahma, Lusi, Iis, Juwita, Olla, dan Mu’mainah yang pernah menghancurkan hatinya terasa seujung jari dibandingkan perempuan yang dilihatnya sekarang. Mungkin, benar yang dikatakan Mamat, teman mabuk Inti Sarinya, “Tuhan lebih dulu mendatangkan orang yang salah, sebelum orang yang tepat.”

Tak buang waktu, Cuplis Monyong segera melihat user name perempuan itu. Nama yang indah, pikir Cuplis Monyong, melihat nama ‘Juminten’ di layar komputer. Meskipun nama itu kurang komersial di era sekarang, namun nama tersebut dirasa Cuplis Monyong sudah jarang. Dan jarang berarti antik. Antik berarti klasik. Klasik berarti istimewa. Istimewa berarti klasik. Klasik berarti antik. Antik ditambah huruf ‘C’ dibaca cantik. Cantik identik dengan keindahan. Begitu kira-kira cara berpikir orang jatuh cinta.

Pandangan Cuplis Monyong menyapu seluruh ruangan warnet. Di sini, cuma ada dirinya dan Juminten. Barangkali, pikirnya, mereka memang ditakdirkan berkenalan malam ini. Cuplis Monyong sedikit gugup, namun akhirnya memutuskan untuk sedikit mendekat ke arah Juminten.

Tak tahu bagaimana cara yang tepat memulai perkenalan, Cuplis Monyong melakukan hal-hal yang tidak perlu. Mulanya, ia menyapu lantai warnet—hal pertama yang dibencinya—kemudian membersihkan layar komputer—hal kedua yang dibencinya—memeriksa kondisi seluruh headset, kemudian menghapus seluruh jejak situs porno di setiap komputer. Tetapi, nyalinya berkenalan masih saja melempem bagai kerupuk nasi uduk.

Cuplis Monyong kembali ke meja kerjanya. Ia mengetik kalimat ‘Cara berkenalan untuk cowok jelek’ di kolom pencari Google, tetapi menghapusnya karena ia merasa tak jelek. Kemudian, ia menggantinya dengan ‘Cara berkenalan yang tepat bagi cowok monyong’. Namun, di halaman pertama google malah terlihat artikel ‘Cara Berkenalan dengan Cewek untuk Cowok Pemalu’. Ia jengkel dan menutup halaman Googlenya. Sebab, pikirnya, ‘pemalu’ jelas berbeda dengan ‘monyong’, seperti halnya perbedaan antara ‘jelek’ dan ‘monyong’.

Cuplis Monyong kembali bertingkah aneh. Ia sekarang membersihkan sekat warnetnya. Begitu berada di sekat dekat komputer Juminten, ia sedikit mengintai sambil bersiul untuk mengalihkan ketegangan. Namun, siulan Cuplis Monyong justru membuat Juminten terganggu, sehingga berbuah teguran. Cuplis Monyong meminta maaf. Ia mengucapkannya lebih sepuluh kali sambil mengambil kesempatan menatap lekat-lekat pujaan hatinya.

Tak semua cinta buta, pikir Cuplis Monyong. Buktinya, malam ini ia jatuh cinta kepada bidadari. Semua yang dibingkai wajah perempuan itu terlihat sempurna. Alisnya tebal, hidungnya lancip, bibirnya terlihat padat dan empuk, matanya bulat, dan rambutnya lurus beraroma semangka. Mungkin, tiga kata yang bisa mewakili perasaan Cuplis Monyong adalah ‘Tuhan memang seniman’.

Setelah satu jam, Juminten menyetop tagihan warnetnya. Waktu Juminten hendak membayar, Cuplis Monyong menolaknya dengan alasan ada program promo gratis di atas jam 10 malam. Juminten sumringah, Cuplis Monyong merasa tak rugi berkorban uang lima ribu rupiah.

Usai Juminten lepas dari jarak pandangnya, Cuplis Monyong segera duduk di komputer bekas pujaan hatinya. Ia membuka jejak pencarian situs di komputer itu, dan melihat hampir semua yang dicari Juminten berkaitan dengan puisi.

Pertama, artikel Cara Menulis Puisi; kedua, artikel tentang Chairil Anwar; ketiga, puisi-puisi WS Rendra; keempat, puisi-puisi Aan Mansyur; kelima, artikel Tempat Nongkrong Favorit penyair; keenam, artikel Cara Menjauhkan Lelaki Jelek yang Caper. Cuplis Monyong tertunduk. Namun, sekali lagi, pikirnya, jelek berbeda dengan monyong. Ia melanjutkan membaca yang ketujuh, dan terlihat artikel ‘Cara Mengusir Cowok Jelek dan Monyong.

Dadanya sakit.

**

Rozak mengembuskan secara geram napas yang ditahannya hampir tiga puluh detik di depan cermin. Ia membuka jasnya, melemparkannya ke atas kasur. Masih belum berhasil dikancing. Jelas, olahraga yang seumur jagung belum menampakkan hasil signifikan. Tetapi, tak juga jelas baginya kenapa keinginan memakai jas dan lebih kurus sekonyong-konyong terbit di pikirannya. Padahal, seandainya hal itu tercapai, ia tak tahu untuk apa. Jika untuk memanjakan mata orang-orang, ia bahkan membenci hampir semua orang. Ia juga yakin semua orang yang mengenalnya juga membencinya. Sebab, ia pun bahkan membenci dirinya sendiri. Jadi, alasan untuk tampil bugar, menarik, percaya diri, dan panjang umur sudah mesti digugurkan. Rozak tak henti-hentinya bertanya kepada bayangannya di cermin, dan ia benci bayangan itu.

Di kejauhan, di sebuah kamar berwarna merah jambu yang penuh boneka, Ratu Badak tak juga berhasil terhibur dengan warna kuku barunya. Di warnet, Cuplis Monyong masih merasakan sakit di dadanya. Ganesha mengingat Raslene. Psikologis hantu-hantu pasar malam masih terganggu akibat kehadiran Ganesha. Warung Mak Jamilah sepi. Para penjudi sedang tak tertarik dengan uang. Seorang pemabuk teringat dosa-dosanya. Pohon ketapang menggugurkan daunnya. Kucing-kucing yang selesai kawin merenung dan menyesali perbuatannya. Di sebuah rumah, ikan mas koki melompat dari akuarium ke dalam mulut kucing, tetapi kucing itu malah memuntahkannya. Malam ini, Jakarta Utara dipenuhi mahluk yang bersedih, bingung, dan putus asa.

**

Tangan pagi yang lembut selalu sanggup menaburkan harapan. Rozak tengah lari pagi, Ratu Badak selesai berdandan, warung Mak Jamilah ramai, Ganesha mencoret-coret kertas, penjudi kembali bersemangat melakukan dosa, dan Cuplis Monyong berniat belajar menulis puisi. Satu-satunya yang mati setelah malam menyedihkan beberapa jam lalu hanyalah ikan mas koki.

Hal menyenangkan dari pekerjaan Ganesha dan Rozak adalah mereka bebas memilih hari libur. Maka, dengan sisa uang yang masih bisa digunakan menyambung napas, mereka memutuskan cuti membaca puisi. Alhasil, setelah puas mencatat gagasan di kertas, Ganesha memutuskan ke warnet.

Entah mengapa, ia punya pikiran mencoba lebih dulu pergi ke warnet Sukamiskin. Langkah Ganesha yang bergelora membuatnya cepat sampai di warnet Sukamiskin. Di depan pintu masuk, ia terperangah melihat karton biru yang membuatnya geram telah berubah. Kali ini, tertempel karton merah muda bertuliskan ‘JIKA CINTA ADALAH KERJA, MARI KITA LEMBUR BERSAMA’.

Begitu masuk, Ganesha tambah terkejut melihat muka operator warnet tampak ramah. “Pagi, Bang,” sapa Cuplis Monyong “udah lama nih nggak ke sini. Ke mana aja?”

“Ke warnet XGAMESX!” bentak Ganesha.

“Lho, lho, kenapa, Bang? Di sana kan internetnya lemot, ac-nya nggak dingin, dan operatornya jutek.”

Tai, maki Ganesha, dalam hati.

Ganesha membuang mukanya. Ia menuju komputer di pojok ruangan. Pengin rasanya ia meremas-remas bibir Cuplis Monyong, tetapi ia masih sayang kepada tangannya. Baru menarik napas untuk mulai menulis, ia mendapati chatt dari operator di sudut layar komputernya.

Bang Ganesha sampe malam?

Ganesha membaca pesan itu, namun memilih mengabaikannya.

Bang ...

Ganesha abai.

Bang?

Tetap menulis.

Bang ... !!!!?

Mulai jengkel.

Baaaaaaang !!!!!? ?

Apa sih, Plis?! Jangan ganggu gua!

Ajarin gua puisi kek, Bang.

Gua sibuk!

Yaah ...

Lanjut menulis.

Gua kasih diskon deh ....!!!!?

Gratis baru gua mau ...

Gratis nenek lu ...!!!!!!

Ganesha bukan seorang materialistis dan suka memanfaatkan keadaan. Tetapi, dendamnya kepada Cuplis Monyong belum kering, sehingga tak ada salahnya sedikit kejam mumpung di atas angin. Dari karton di pintu masuk dan pesan di layar komputer, ia paham Cuplis Monyong tengah jatuh cinta.

Bang ....!!! Tega banget lu ama gua ... ?

Ganesha tak peduli

Bang ajarin gua dong ...!!!

Belajar sana sama Nenek lu!

Nenek gua gak bisa baca tulis Baaaang ....!!!!