Episode 11 - Percakapan-percakapan Malam (2)

Kujemput Laksmi di tendanya. Tak butuh waktu lama untuk menunggunya. Hanya sekitar lima menit, ia keluar dari tenda dengan penampilan sedikit berbeda. Jika biasanya wajahnya sedikit kusam karena peluh, kali ini wajahnya cerah seolah seluruh cahaya malam tumpah di sana. Yang juga membuatnya tampak lain, adalah roknya yang jatuh di bawah lutut berwarna cokelat muda, dan sweater rajut warna senada.

Ketika aku terlihat mengamati penampilannya, seketika ia menjadi gugup dan mengatakan alasan yang tidak perlu: jeans-ku dicuci dan belum kering. Dalam hati, aku tertawa.

Kami berjalan beriringan, menyusuri angin malam dan ayat-ayat suci yang berkumandang di musala. Di tengah jalan, kami bertemu Banu yang mengenakan koko ketat dan sarung cingkrang, menyapa kami girang. Juga Zulaeka, perempuan berwajah teduh yang tengah hamil.

Kami hanya berjalan bersama, tanpa bertukar kata-kata, sampai terlihat Bung Atma tengah duduk di atas tikar yang membariskan termos dan cangkir-cangkir.

Laksmi terlihat mengaggumi tempat ini. Di bawah mata langit dengan kelap-kelip cahaya dan gemerisik daun dari pohon yang entah, wajahnya terlihat sumringah. Lalu, kami duduk bersila di atas tikar yang menggelar rencana percakapan.

“Mi, sudah ada ide soal nama kelompok kegiatan kita, belum?” tanya Bung Atma pada Laksmi yang sibuk menyeduh kopi.

“Ummm,” Laksmi menghentikan adukan kopinya, “aku kepikiran Prajurit Kecil, sih ... gimana?”

“Aku nggak setuju, Mi,” timpalku.

“Ya, aku sih setuju, Mi. Tapi, kalau Agam pasti nggak akan setuju, karena kata ‘prajurit’ pasti mengingatkannya pada tentara,” sindir Bung Atma, “betul, kan, GAM?” Bung Atma memberi penekanan pada kata ‘GAM’ dalam namaku.

“Eh, iya. Agam kan nama Aceh,” jawab Laksmi yang menyadari maksud perkataan Bung Atma, “Gam, aku juga pernah tinggal di Aceh, lho.”

“Bukan gitu, Bung. Kalau pun aku nggak setuju, lebih karena kata ‘prajurit’ itu kesannya mengandung perintah. Betul nggak, Mi?” tanyaku, mencoba mencari dukungan.

“Iya juga, sih, Bung,” kata Laksmi yang gagasannya mudah goyah. Sedikit melegakanku.

“Gimana kalau namanya Cahaya Kecil, Lelaki-Banyak-Alasan!?” usul Bung Atma, setengah jengkel.

“Nah, kalau itu aku setuju!” jawabku antusias. “Eh, Mi, kamu pernah tinggal di Aceh juga?” tanyaku, yang baru menyadari perkataan Laksmi belum kutanggapi.

“Iya, Gam. Sepeninggal Ibu, aku dan bapakku pindah ke Aceh, kampung halaman ibuku. Tapi, mulai masuk kuliah aku pindah ke Jogja, sementara Bapak tinggal di Aceh dan ...,” wajah Laksmi berubah raut, “ummm ... Bapak salah satu korban hilang akibat tsunami, Gam.”

“Eh, Mi. Duh, maaf, maaf ... Aku nggak ada maksud buat bikin kamu sedih, lho.”

Ternyata, Laksmi juga punya kenangan buruk tentang tsunami Aceh. Tapi, malam ini, aku tak ingin membagikan kesedihanku soal Keumala. Toh, kesedihan tak akan pernah habis meski dibagi.

“Ndak apa-apa, Gam,” jawab Laksmi dengan suara sedikit parau.

“Eh, gimana soal kegiatan kita, nih? Kayaknya harus dibuat kegiatan lain selain dongeng, deh. Ada usul nggak, Mi?” tanya Bung Atma.

“Gimana kalau menggambar dan mewarnai? Katanya, kegiatan itu bagus supaya anak-anak dapat menuangkan bayangan-bayangan mereka tentang gempa, Bung.”

“Wah, setuju aku, Mi. Tapi, mungkin besok masih kegiatan dongeng dulu kali, ya. Oh, ya, Sembelekete, sekalian kamu sampaikan ke Sukri soal rencana kita, ya. Nanti biar ACT menyiapkan segala keperluan kegiatan kita. Juga sekalian minta Sukri carikan gitar buat aku.”

“Oke! Besok aku sampaikan ke Mas Sukri. Eh, besok aku nggak usah jadi pemeran dalam dongeng, ya, Bung?”

“Hmmm ... kalau kamu main harmonika mau?”

“Kan sudah kubilang, aku nggak bisa main harmonika.”

“Takut kamu, Gam?”

Aku kehilangan jawaban.

“Coba, mana harmonikamu?”

Kukeluarkan harmonika dari saku, kemudian kuserahkan kepada Bung Atma. Ia membuka dua kancing kemejanya. Tanpa bicara, dengan santainya ia menggosokkan harmonikaku—seolah sabun mandi—pada dadanya, lalu berlanjut pada ketiaknya. Kemudian, lidahnya menjulur dan menjilati seluruh bagian tubuh harmonikaku. Laksmi yang merasa jijik, sontak berteriak. Namun, saat aku hendak merebut kembali harmonikaku, ia telah menyelesaikan pertunjukan menjengkelkannya.

Ditaruhnya harmonikaku di tikar. Terlihat basah dan lengket. Aku hanya bisa menatap jijik pada harmonikaku. Kehilangan kata-kata.

“Tuh, Gam. Sekarang aku sudah kasih alasan untuk kamu merasa takut bermain harmonika,” kata Bung Atma, sambil mengancingkan kemejanya. Wajahnya terlihat ringan dan puas.

“Gam, ketakutan itu mesti beralasan. Buat apa harmonika ini kalau nggak kamu mainkan?”

“Bung, aku bukan takut. Tapi memang aku nggak bisa main harmonika. Ngerti!?” kataku. Rasanya aku jengkel sekali disudutkan seperti ini.

“Gam, susahnya apa? Harmonika tinggal hisap-tiup. Harmonikanya ada, napasmu masih ada. Cuma keberanian saja yang nggak ada. Intinya keberanian, Gam!” Bung Atma terus menyudutkanku dengan sindirannya.

“Bung nggak ngerti masalahnya!”

Laksmi yang tidak mengetahui cerita di balik harmonikaku hanya berusaha menyimak dengan wajah bingung.

“Aku ngerti, Gam. Makanya aku bilang intinya keberanian. Kalau kamu mau menghilangkan ketakutanmu, ya hadapi. Nggak ada manusia yang hidupnya tanpa ketakutan. Cara manusia terbebas dari ketakutan adalah dengan membiasakan diri dengan ketakutan-ketakutannya.”

Aku diam saja, tak peduli pada segala ocehannya yang menggurui.

Tingkah Bung Atma mengubah suasana. Hanya ada sunyi, suara jangkrik, dan sesekali suara sesapan kopi yang menemani kami. Lalu, tak sampai satu jam setelahnya, mereka kembali ke tenda. Sementara aku memilih bertahan di tempat ini.

Ketika suara langkah mereka utuh ditelan jarak, aku membaringkan tubuhku. Cahaya bulan menimpa wajahku, membuat arus kecil yang berhulu dari mataku berkilauan.

Aku meniup harmonikaku, dan tak juga bisa menghasilkan suara merdu; hanya nada-nada payah tak beraturan. Betapa aku tak pernah berhasil menunaikan janjiku memainkan harmonika untuk Keumala, sementara ia pernah dengan jelas mengatakannya padaku, bahwa ia akan selalu mendengarnya. Aku memejamkan mata, mencoba memejamkan seluruh masa lalu yang tiba-tiba benderang.

**

Aku menoleh ke kiri, namun Keumala tidak ada. Rupanya, pagi yang menembus pucuk-pucuk pohon menelan mimpiku. Aku terduduk dengan tubuh letih, mengusapkan telapak tangan pada wajahku, kemudian menyalakan sebatang rokok.

Mimpi semalam masih hangat di ingatanku, dan nada-nada harmonika Keumala masih mengalun lembut di telingaku. Kusentuh rumput di sebelahku, dan kurasakan hangat tubuhnya tertinggal.

Semalam, ia berbaring di sebelahku, menunjuk satu bintang dan mengatakan padaku bahwa bahwa bintang itu adalah dirinya. Lalu, ia mengambil harmonika dan memainkan lagu yang entah apa judulnya. Namun, nada-nadanya terdengar penuh kekhawatiran.

Ia menyerahkan harmonika padaku. Tatapannya seolah memintaku untuk memainkannya. Tiba-tiba, kesedihan seolah memberat di dadaku, membuat tak sehela napas pun dapat keluar.

Keringat mengucur di wajahku. Aku menoleh ke arah Keumala, namun raut wajahnya seolah mengatakan bahwa aku pasti bisa. Namun, berat yang menimpa dadaku terasa semakin-makin, sehingga harmonika pun terlepas dari genggaman.

Seketika, berat yang menimpa dadaku pun sirna. Aku bernapas penuh nafsu, seolah ingin menghabiskan seluruh oksigen yang ada di tempat ini. Dan, saat paru-paruku telah normal bekerja, aku menoleh ke arah Keumala, namun ia tak ada.

Aku menangis keras, berteriak memanggil-manggil Keumala, namun keduanya bahkan tak mampu mengusir kesunyian hutan.

Aku duduk, mengambil harmonika yang tergeletak, dan dengan kemarahan yang seolah tak habis-habis-habis, kumainkan ia.

Tiba-tiba, terdengar suara tawa dari balik tubuh pohon-pohon di sekelilingku. Anehnya, tawa itu tak membuatku takut, tapi sebaliknya, mereka seperti menawarkan kedamaian dalam hatiku. Mereka seperti menyembuhkanku dari kemarahan dan kekecewaan.

Aku berhenti memainkan harmonika agar suara tawa itu lebih sempurna tertangkap pendengaranku. Namun, mereka tak lagi terdengar. Aku memanggili tawa itu, memohon agar mereka tidak meninggalkanku. Tapi, tak juga permohonanku terkabulkan.

Kubenamkan wajah pada lekuk kedua telapak tanganku. Aku terisak-siak bagai anak-anak. Lama. Sebelum sentuhan terasa menghangatkan punggungku.

“Gam, mainkan harmonika itu untukku.”

Rupanya, suara itu milik Keumala.

Ia duduk di sebelahku, dan aku tak mampu menjawab keinginannya. Hanya bisa kusandarkan kepala dan kesedihan yang aneh ini pada bahunya.

Ia memainkan harmonika. Merdu sekali. Nada-nadanya terang dan penuh kegembiraan. Kemudian, suara tawa itu kembali terdengar, lebih keras dan jelas.

“Gam,” Keumala menghentikan permainannya, “mainkan harmonika ini. Kamu pasti bisa.”

Dengan sedikit ragu, aku meraih harmonika dari tangannya. Namun, nada-nada masih terdengar tak beraturan. Anehnya, suara tawa yang mendamaikanku terdengar semakin mendekati kami. Semakin keras harmonika kumainkan, semakin riuhlah mereka.

Mainkan saja harmonika itu sesusai kemampuanmu, Gam, sebab cinta tak harus selalu terdengar merdu, kata Keumala, sebelum aku bangkit dari mimpi.