Episode 148 - Tujuan Akhir



Tabir malam tiba. Bintang Tenggara memasuki Kota Ahli. Segera ia membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin untuk menyerap tenaga alam dan mengisi mustika tenaga dalam. Mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 8 hampir terkuras habis setelah menyabet menggunakan golok Mustika Pencuri Gesit. 

Entah mengapa golok tersebut dinamakan Mustika Pencuri Gesit. Saat dikerahkan, tiada kecepatan tubuh bertambah gesit. Yang ada, justru mustika tenaga dalam terkuras habis seolah dicuri dengan gesit oleh si golok. Kendatipun demikian, keampuhan golok Mustika Pencuri Gesit dengan bilah anginnya tak usah diragukan lagi. 

“Anak yang mengenakan Jubah Hitam Kelam tadi menyadari keberadaanku....” 

Dewi Anjani masih melayang di belakang dan mengikuti Bintang Tenggara. Di kala malam nan gelap seperti ini, maka seandainya ada ahli lain yang dapat melihat, pastilah mereka akan bergidik. Seorang anak remaja melangkah lelah dan seolah dihantui oleh perempuan gentayangan berambut panjang... yang kemungkinan mati penasaran karena tikaman berbagai jenis senjata tajam! 

“Aku selalu merasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan dari anak itu...” sahut Komodo Nagaradja, turut membicarakan Kum Kecho.

Kali ini, bila ada yang dapat melihat, pastilah akan lari tunggang-langgang. Bayangan tubuh besar berwarna merah ibarat genderuwo yang siap melahap siapa saja. Dukun-dukun pengusir hantu pun akan berpikir dua-tiga kali bila diminta mengusir hantu merah yang selalu mengikuti anak remaja tersebut. 

Bintang Tenggara hanya mendengarkan. Setidaknya, Dewi Anjani dan Komodo Nagaradja tidak hanyut dalam buaian asmara. Karena kalau mereka berkasih-kasih, maka tak terbayangkan seperti apa masa depan anak remaja yang terpapar pada adegan tak senonoh. Menghabiskan waktu sebentar bersama Sangara Santang dan Lintang Tenggara saja sudah merusak moralnya sedikit. 

“Dewi Anjani, terima kasih atas bantuan yang diberikan,” ucap Bintang Tenggara seraya melangkah. 

“Adalah kewajiban daku sesuai kesepakatan kita... Bila hanya itu, maka izinkan daku dan kekasih hati memadu kasih di pojok nan gelap itu...” Dewi Anjani menunjuk sambil tersipu malu. 

“Enyah engkau sekarang juga!” 


Suasana Kota Ahli demikian sepi. Biasanya ada banyak murid dari berbagai perguruan di kota ini yang masih bersliweran sampai larut malam. Terlewat sepi. Mungkin karena esok akan ada ujian atau semacamnya, pikir Bintang Tenggara. 

Gerbang dimensi menuju Pulau Dewa pastinya sudah tak melayani permintaan perjalanan. Oleh karena itu, Bintang Tenggara menghitung langkah menuju Perguruan Maha Patih dengan tujuan menumpang bermalam. Kesunyian sepanjang perjalanan membuat dirinya tak nyaman. Ia pun memacu langkah. 

“Perguruan Maha Patih sedang menutup diri! Kembalilah di lain waktu!” 

“Hm...?” Bahkan setelah memperkenalkan diri dan menunjukkan Lencana Murid Utama Perguruan Gunung Agung, anak remaja tersebut masih saja ditolak. Bintang Tenggara sedikit resah. Sejak pagi-pagi ia berjalan, bertarung, berjalan, bertarung, lalu melarikan diri. Sungguh ia lelah. 

Kebingungan dan tak hendak berdebat, Bintang Tenggara meninggalkan gerbang utama Perguruan Maha Patih. Di saat memutar tubuh, kedua matanya menangkap bayangan sosok yang sedang mengendap-endap. Sinar temaram obor sepintas menerangi rambut bagian depan sosok tersebut... Ia memiliki gaya rambut yang sangat kekinian.   

“Kakak Poniman...?” gumam Bintang Tenggara. 

Tak memiliki arah tujuan, Bintang Tenggara menyusul Poniman yang berambut poni. Ia berniat bertegur sapa, bahkan mungkin mencari tahu alasan mengapa Perguruan Maha Patih menutup diri dan Kota Ahli menjadi kota mati. Maka, dibuntutinyalah Poniman.

Poniman terlihat tergesa-gesa. Beberapa kali remaja itu menoleh ke belakang, lalu ke kiri dan kanan. Ia berupaya memastikan bahwa tak ada yang membuntuti. Padahal, mudah sekali bagi Bintang Tenggara bermain-main dalam kegelapan malam. 

Sebuah penginapan tua berdiam di batas luar Kota Ahli. Setelah berkali-kali memastikan bahwa tak ada yang mengikuti, Poniman melangkah masuk ke dalam. Mencurigakan sekali gelagatnya. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut! 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar! 

Bintang Tenggara menyelinap menggunakan teleportasi jarak dekat, lalu bersembunyi di dalam ruang dimensi kecil yang tercipta. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang janggal sehingga hendak mencari tahu. Naluri sebagai anggota tak langsung dari Pasukan Telik Sandi, berperan dengan sendirinya. 

Di dalam salah satu kamar penginapan, sebuah meja bundar dikelilingi oleh beberapa ahli. Bintang Tenggara mengamati dari balik bayangan. Ia menyaksikan dua perempuan, satu setengah baya dan satunya lagi lebih muda, serta dua lagi ahli lelaki setengah baya. Lalu, yang terakhir, adalah seorang ahli dewasa yang sangat ia kenal... Maha Guru Ke-10 dari Perguruan Maha Patih, Segoro Bayu!

Ada apakah gerangan? Batin Bintang Tenggara dari balik bayangan. 

“Hei! Keluarlah...” tetiba terdengar suara berat menyergah. Seseorang mendarat dan melangkah ke arah Bintang Tenggara yang menyembunyikan diri. Suara ini sangat tak asing!

“Paman Adipati Jurus Pamungkas... Salam hormat!” Bintang Tenggara yang tertangkap basah keluar dari balik bayangan. 

“Mudah sekali kau dibuntuti!” Perempuan dewasa memarahi Poniman.

“Adik Bintang Tenggara!” Poniman terkejut sekali. 

Bintang Tenggara menjawab dengan senyuman kecut. Keringat mengalir pelan di pelipis. 

“Di lain kesempatan, bilamana kau menyelinap, jangan hanya memantau dengan pandangan mata! Bukankah kau seorang ahli? Gunakanlah mata hati!” hardik seorang lelaki setengah baya. 

Poniman tertunduk lesu. 

“Dan kau... mengapa kau membuntuti Poniman?” Adipati Jurus Pamungkas berujar. 

Bintang Tenggara tak dapat menjawab, karena memang ia tak memiliki alasan khusus saat memutuskan membuntuti Poniman. Yang lebih penting baginya saat ini, adalah bagaimana keluar dari penginapan tua ini dan mencari penginapan yang lebih layak di Kota Ahli. 

Sang Adipati menyilangkan lengan di depan dada. Rupanya sedari awal ia terbang mengawasi Poniman dari ketinggian, demi memastikan bahwa remaja itu tak dibuntuti. Ketika mengetahui ada yang membuntuti, ia hampir saja bertindak. Namun, menyadari bahwa pembuntut itu adalah Bintang Tenggara, Adipati Jurus Pamungkas kemudian membiarkan saja. 

“Maafkan diriku. Tadinya diriku hanya hendak bertegur sapa.” Bintang Tenggara bersuara. “Sepertinya Tuan dan Puan Ahli sekalian hendak melangsungkan pertemuan. Bila demikian adanya, diriku memohon undur diri.” Bintang Tenggara mundur selangkah dan hendak memutar tubuh. 

“Tinggallah sejenak...” Maha Guru Segoro Bayu melambaikan tangan. Tubuh Bintang Tenggara serta merta diarahkan untuk duduk di salah satu bangku kosong. 

“Ini adalah para Tetua dari Perguruan Maha Patih. Kami berkumpul hendak berdiskusi. Kami pun mengundang Adipati Jurus Pamungkas. Walau hanya sebuah kebetulan, kau pun diperkenankan ikut mendengar. Siapa tahu ada informasi yang dapat kau sampaikan....” 

Dua ahli perempuan dan dua ahli lelaki menganggukkan kepala. Tentu mereka mengenali Bintang Tenggara. Prestasi anak remaja itu saat Kejuaran Antar Perguruan tahun ini tak dapat dipandang sebelah mata. Diketahui pula Bintang Tenggara pernah bertarung dengan sosok yang merampas Pedang Patah. 

Dengan kehadiran para Tetua ini, sepertinya Maha Guru Segoro Bayu mulai menghimpun kekuatan di dalam Perguruan Maha Patih.

“Baiklah... sudah cukup dengan berbasa-basi.” Kumis tebal dan panjang milik Adipati Jurus Pamungkas melengkung tinggi. “Mari kita masuk ke duduk permasalahan.” 

“Murid Madya Poniman...,” ujar Maha Guru Segoro Bayu. “Engkau bertugas dalam menjaga gerbang perguruan di hari penyerangan, bukankah demikian?” 

Penyerangan... penyerangan apa...? Mungkinkah ada yang menyerang Perguruan Maha Patih...? Bintang Tenggara tiada mengerti. Namun, daripada menebak-nebak, dan karena sudah terlanjur basah, ia memutuskan untuk mendengarkan saja. Lagipula, tak mungkin ia memaksa pergi, apalagi menyelinap. 

“Benar, Maha Guru Segoro Bayu.” 

“Mengapa kau tak melaporkan ketika hampir seribu murid Kasta Perunggu meninggalkan perguruan tanpa izin.” 

“Yang Terhormat Tetua, hanya kurang dari dua ratus murid Kasta Perunggu yang keluar dari gerbang perguruan pada subuh dan pagi hari itu. Masing-masing dari mereka membawa surat pengantar dari Balai Bakti untuk menjalankan misi. Mungkin jumlah mereka sedikit lebih banyak dari hari-hari biasa, namun bukanlah sesuatu yang tak lazim.” Wajah Poniman berubah serius di kala menjawab. 

“Hm..? Lalu... bagaimana murid sebanyak itu meninggalkan perguruan?”  

“Kemungkinan dari tembok sisi barat perguruan,” sahut Poniman cepat. 

Bintang Tenggara mengingat tembok tinggi di sisi barat Perguruan Maha Patih. Wilayah sekitar tembok tersebut memang sangat sepi. Gundha pernah diculik di sisi luarnya, Wirabraja teman Poniman meregang nyawa, dan Hang Jebat pun diketahui pertama kali muncul di sana! 

“Tembok barat... bukankah itu...?” Maha Guru Segoro Bayu melirik ke arah Bintang Tenggara. 

“Wilayah kemunculan Hang Jebat!” sahut Bintang Tenggara, kini terlibat dalam diskusi entah tentang penyerangan apa...  

Seluruh Tetua di dalam ruangan itu bertukar pandang. Adipati Jurus Pamungkas menganggukkan kepala. 

“Terkait penyerangan...” perempuan tua angkat bicara. “Karena kau juga berada pada Kasta Perunggu, apakah tak ada yang mengajakmu...?”

“Tetua Yang Terhormat, murid yang hina ini bertugas menjaga gerbang Perguruan Maha Patih. Sebuah tugas mulia yang dipercayakan kepada murid. Memanglah ada yang mengajak murid untuk ikut serta menuju Persaudaraan Batara Wijaya. Namun demikian, murid tak hendak lalai menjalankan tugas dari perguruan.” 

“Terkait pengabdian dan keteguhan hatimu, kami tiada meragukan,” tanggap perempuan setengah baya. “Setelah ini semua selesai, kami akan mengangkatmu sebagai Murid Utama.” 

Poniman tersedu. 

“Murid-murid lain mengungkapkan tentang seorang murid kurus kerempeng yang mengumpulkan massa serta membagi-bagikan senjata dan perisai,” sela Tetua lain. “Apakah kau mengetahui tentang hal ini...?” 

“Tetua Yang Terhormat, sudah beberapa tahun murid bertugas menjaga gerbang perguruan. Murid mengenal hampir seluruh murid-murid di Perguruan Maha Patih. Murid bahkan mengingat mereka-mereka yang menyepelekan diri ini... merendahkan... menghina...” 

“Hei... sekarang bukan waktu bagimu berkeluh-kesah!” sergah kumis Adipati Jurus Pamungkas. 

“Ehem..” Poniman melegakan tenggorokan. “Murid mengenal hampir seluruh murid-murid dengan perawakan kurus kerempeng, baik lelaki maupun perempuan. Bahkan, seorang murid perempuan langsing berwajah ayu selalu melempar senyum bilamana melewati gerbang...” 

“Tiada yang tertarik dengan urusan asmaramu!” potong Adipati Jurus Pamungkas, kumisnya semakin melengkung, petanda tak sabar. 

“Ehem...” Poniman terlihat salah tingkah. “Yang Terhormat Adipati, tak satu pun dari murid berperawakan kurus yang diketahui memiliki kemampuan atau alasan untuk menyebarkan desas-desus.” 

“Aneh... siapakah gerangan murid kurus kerempeng yang menyimpan demikian banyak misteri?”

“Kurus kerempeng... di belakang kereta kuda...,” gumam Poniman pelan. 

“Hm...? Apa katamu...?” Maha Guru Segoro Bayu penasaran. 

“Oh... murid hanya teringat akan seorang pemuda yang kebetulan bertubuh kurus kerempeng. Ia tiba menumpang kereta kuda beberapa hari sebelum kejadian....” Poniman berujar tak acuh. “Namun, ia bukanlah seorang murid perguruan. Kemungkinan hanyalah seorang kusir cadangan...” 

“Hah! Apa katamu!?” 

“Uraikan segera!” 

“Jangan sampai satu fakta pun terlewatkan!”  

Suasana ruangan tetiba terdengar gaduh! Poniman lalu menguraikan perihal kedatangan saudagar Malin Kumbang. Bersama istrinya, sahabat Sesepuh Kertawarma itu menaiki kereta kuda nan mewah. Di bagian belakang, terlihat seorang gadis pelayan dan remaja kurus kerempeng!

Pertemuan tokoh-tokoh di dalam Perguruan Maha Patih, ditambah Adipati Jurus Pamungkas dan Bintang Tenggara, berlangsung sampai larut malam. Tak banyak informasi yang terkuak, namun setidaknya mereka satu suara terkait Sesepuh Kertawarma. 

“Kuyakin kau hendak kembali ke Pulau Dewa...,” tegur Adipati Jurus Pamungkas. 

Malam telah larut. Tanya-jawab dengan Poniman usai sudah. Bintang Tenggara mengantuk, dan memahami kejadian yang berlangsung beberapa waktu lalu. Bukan main, tak kurang dari seribu murid Kasta Perunggu dari Perguruan Maha Patih menyerang Persaudaraan Batara Wijaya!

Penyerangan tersebut dilandaskan sebuah desas-desus yang tiada berdasar. Desas-desus tersebut menyiratkan bahwa Persaudaraan Batara Wijaya diam-diam mencelakai, bahkan membunuh murid-murid dari Perguruan Maha Patih. Jiwa muda dan rasa kesetiakawanan tinggi, gampang sekali disulut oleh warta dusta. 

Kemudian, segala petunjuk yang mejadi pembahasan mengarah kepada Sesepuh Ke-15 Kertawarma sebagai dalang di balik rangkaian kejadian ini! Mulai dari menutupi fakta tentang kemunculan Hang Jebat, sampai mengadu-domba dua perguruan tersohor. Apakah gerangan ‘tujuan akhir’ dari Sesepuh Kertawarma? Jawaban dari teka-teki ini belum juga dapat dirangkai.

Bintang Tenggara sudah sedari lama mencurigai Sesepuh yang satu itu. Meski, harus diakui, bahwa dirinya sempat salah duga dan menuduh Maha Guru Segoro Bayu yang membangkitkan Raja Angkara Durhaka, alias Hang Jebat. 

“Menginaplah di sini. Esok pagi-pagi, kau harus segera menggunakan gerbang dimensi meninggalkan Kota Ahli. Akibat kejadian penyerangan itu, keadaan di kota ini sedang tak menentu.”

Perbincangan dua ahli dari luar perguruan, masih berlanjut hingga malam semakin larut. 


===


Elang Wuruk, alias Kum Kecho, terdiam membatu. Sepertinya ia sedang melamun, menelusuri kepingan-kepingan ingatan masa lalu. Di saat yang sama, ia juga sedang menimbang-nimbang, apakah menyusul Bintang Tenggara ke Kota Ahli atau meneruskan perjalanan ke arah timur. 

Dalam benaknya, Kum Kecho berpikir bahwa bila Bintang Tenggara berhasil mencabut Mustika Pencuri Gesit, maka senjata yang ia inginkan seharusnya masih tertancap di tubuh Dewi Anjani. Sang Dewi pun pastinya tak keberatan bilamana ada ahli lain yang hendak membuat kesepakatan. Toh, semakin banyak gagang senjata yang dapat dicabut, maka semakin cepat kesempatan bagi Dewi Anjani terlepas dari kutukan Cembul Manik Astagina. 

Terlintas pula di benak Kum Kecho, keberuntungan seperti apa yang dimiliki oleh anak lelaki Mayang Tenggara itu...? Menguasai Tinju Super Sakti dan memiliki tempuling tulang ekor komodo saja sudah sulit dicerna. Kini, diketahui bahwa ia memiliki Cembul Manik Astagina!

Terlepas dari itu, Kum Kecho juga bertanya-tanya... Kemana perginya Jenderal Ketiga Komodo Nagaradja...? Dimanakah keberadaan Pimpinan Pasukan Lamafa Langit Gemintang Tenggara...? Sungguh sebuah teka-teki. 

Ingatan Kum Kecho kemudian berpindah pada pertarungan digdaya seorang ahli perkasa. Ahli tersebut memanggil Cembul Manik Astagina. Bersama Dewi Anjani yang menemani, ia merangsek sambil bergonta-ganti senjata yang melesat ke dalam genggaman hanya dengan menyebutkan nama. Sang Maha Patih seolah menguasai delapan unsur kesaktian: tujuh berkat Cembul Manik Astagina dan satu unsur kesaktian hitam yang sangat terbatas penggunaannya. 

Raut wajah Kum Kecho terlihat muak. 

“Tuan Guru...,” Melati Dara merayap mendekat, menetaskan lamunan di tengah gelap malam.

Kum Kecho hanya melirik. 

“Kami... hamba dan adik Dahlia... telah memutuskan... untuk bersama-sama menyerahkan...” 

“Tidurlah kalian!” bentak Kum Kecho. “Besok kita akan akan kembali melanjutkan perjalanan.”

Walhasil, Kum Kecho memutuskan untuk tetap berpegang pada rencana awal. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju wilayah timur Pulau Jumawa Selatan. Di sana, dirinya handak memastikan sesuatu. 

Perihal Bintang Tenggara dan Cembul Manik Astagina, Kum Kecho pun memutuskan untuk mengabaikan saja sementara ini. Meski, masih ada satu hal yang menghantui pikirannya... Apakah gerangan tujuan anak remaja bernama Bintang Tenggara itu...? Memupuk keahlian tentu saja, tetapi dilandasi oleh ‘tujuan akhir’ yang seperti apa? 

Sungguh, demikian banyak pertanyaan yang tak terjawabkan. 



Cuap-cuap: 

Belakangan ini penulis agak bosan... Eh... pas lagi ngopi-ngopi bersama seorang teman, tetiba dia menawarkan diri untuk menjadi sponsor hadiah kuis. Karena kebetulan ia memiliki usaha percetakan, maka hadiah kuisnya adalah, tiga lembar kaos eksklusif Legenda Lamafa! 


Caranya gampang, kembangkan kreatifitas dengan menjawab pertanyaan berikut:

“Apakah unsur kesaktian yang cocok bagi Lamalera?” 

Contoh format jawaban: 

Nama unsur kesaktian: [Tanah]

Jurus unsur kesaktian: [Tanah Dipijak Langit Dijunjung: melontarkan siapa pun yang berdiri di tanah tinggi ke langit. Lemah terhadap unsur angin.]

Jawaban paling kreatif silakan diisi pada kolom komentar di bawah. 

Jawaban ditunggu sampai sebelum Episode 151 terbit, dan pemenang akan diumumkan dalam Episode 152.