Episode 47 - Takkan Menyesali



“Kak Eruin.”

(Tanpa kusadari, aku berada di ladang padi. Tepatnya, aku sedang ada di depan gubuk yang dulu pernah kudatangi.)

“Kak!”

(Suara itu terus memanggilku. Aku berbalik dan mendapati seorang anak kecil, yang umurnya 5 tahun lebih muda dariku berdiri dengan cerianya.)

“Ayo pergi!”

“Tunggu!”

(Anak itu mulai berlari tanpa menungguku. Aku yang sedang berada di tubuh remajaku berlari dengan susah payah. Gaun hitam yang dulu sering kupakai, menghambat langkah demi langkah. Sampai aku menubruk sebuah dinding yang begitu keras.)

(Aku dihentikan oleh dinding itu, dinding keras yang beberapa waktu yang lalu sangat ingin kutembus, tetapi tak bisa karena kekerasannya sangat kuat.)

(Sampai pada akhirnya, aku menyerah dan mencoba untuk menyentuh dinding itu. Namun, yang kupegang bukanlah sebuah punggung, melainkan ruang kosong.)

Mimpi indah atau mimpi buruk, yang mana yang baru saja terjadi padanya. Menjatuhkan tangan yang sebelumnya menyentuh ruang kosong, air mata yang terjatuh dari mata indahnya menetes.

Dia terbangun. Bangkit dan mengusap air matanya.


“Tuan putri sangat cantik!”

“Terima kasih.”

Di dalam kamar, dia telah didandani dengan begitu cantiknya. Tiga orang pelayan yang bersamanya tak henti-hentinya menyanjung kecantikan yang ada pada dirinya.

“Apa tuan putri sudah siap?”

Kepala pelayan yang membuka pintu langsung bertanya pada para kaki tangan.

“Tuan putri sudah siap. Mohon kepala pelayan menunggu sebentar untuk persiapan terakhir.”

Seorang pelayan memberitahu keadaannya pada pimpinnya, lalu kepala pelayan kembali ke luar untuk menunggu sedikit lebih lama lagi.

Namun, tak beberapa kemudian, masuk seorang wanita yang menjadi adik ipar sekaligus teman masa kecilnya.

“Apa kamu sudah siap, Erina?”

Ani masuk dan menyapa Erina yang duduk di depan meja dandan.

Melihat ke arah kaca yang pandangannya mencakup seisi ruangan, terlihat wajah cantik jelita yang terbungkus di dalam gaun pernikahan. Wajahnya yang awalnya sudah terlihat cantik, kali itu dibuat semaksimal mungkin.

“Ani.”

“Hai, kamu terlihat sangat cantik dengan gaun itu.”

Ani mendekat ke sisi belakang, menyentuh bahu Erina dan memuji kecantikannya memakai gaun pernikahan.

“Terima kasih.”

Erina mengucapkan terima kasih, tetapi nada bicaranya seolah dia tak senang dengan pujian itu. Ani dan ketiga pelayan entah bagaimana merasa bersalah karena telah memuji penampilan Erina.

“Oh iya, di mana Elang?”

“Aku tak tahu di mana dia. Padahal ini adalah acara yang penting, tapi sejak pagi tadi dia menghilang begitu saja tanpa memberi tahu maksud dan tujuan kenapa dia pergi.”

“Begitu ya.”

Nada bicara Erina benar-benar bisa membuat orang yang mendengarnya patah hati. Bahkan tak terkecuali Ani yang akan selalu mendukung setiap keputusan Erina.

“Jadi, apa kamu sudah siap?”

“Umm, ayo.”


Di depan pintu keluar, yang mana di depannya terdapat taman yang indah. Berdiri beberapa orang wanita yang memakai gaun pesta dan pria memakai jas khusus, salah satunya adalah ayah dari Erina, Huntara Lesmana. Seorang CEO sekaligus founder dari perusahaan Lesmana Group.

Penampilannya terlihat sangat berwibawa. Menunggu kedatangan sang putri tercinta untuk memerlihatkan kecantikannya, dan penantiannya berakhir saat suara derap langkah dari dalam apartement terdengar.

Salah satu yang paling khas adalah, suara langkah kaki yang berada di barisan paling depan. Mengenakan gaun putih yang begitu anggun. Wajahnya telah didandani dan memancarkan kejelitaan.

Membuat siapapun yang memandangnya merasa iri pada seseorang yang akan menjadi pasangan hidupnya.

Di sekitar taman, mereka yang diundang untuk mengikuti acara perjodohan terbengong dengan kecantikan Erina. Menuruni tangga, di bawah telah menunggu seorang pria yang telah membesarkannya – atau begitulah seharusnya.

Satu tangannya terulur untuk memberikan bantuan kepada sang putri. Sang putri menerima uluran tangan sang raja, dan mereka menuruni tangga bersamaan.

Tangan mereka berpengangan, salah satunya berjalan dengan penuh keanggunan, sedangkan salah satunya lagi berjalan dengan penuh kebanggaan. 

Mereka maju sampai ke tengah taman, yang mana telah menunggu seorang pria yang hari itu akan melamarnya. 

“Nice to meet you again, Mr. Huntara.”

“Senang juga bertemu denganmu lagi, Nak Henry.”

Rambutnya coklat kekuningan, matanya disanding dengan hijau kebiruan, penampilannya benar-benar memerlihatkan kalau dia telah sangat siap dengan hari itu.

Awalnya dia menyapa ayah Erina dengan sangat sopan. Maju dan sedikit membungkukkan punggungnya. Ayah Erina menjawab lalu menyerahkan Erina padanya.

“Baiklah. Kuharap kalian melakukan yang terbaik dalam acara ini.”

“We will not let you down, Sir.”

Huntara pergi meninggalkan Erina padanya. Pandangan pelamar yang memiliki nama Henry tertuju pada kecantikan Erina, tetapi Erina tak membalas pandangannya dan malah melihat ke sekitar taman.

“Senang dapat bertemu denganmu lagi, Eruin.”

Di saat Erina masih memfokuskan diri pada alam sekitar, Henry menyapa dengan sapaan yang membuat Erina sedikit terkejut.

“Hei, apa sekarang kamu sudah bisa berbicara bahasa?”

“Yeah, hanya sedikit. The more important is, bagaimana kabarmu selama ini?”

Mereka hanya berdua, meskipun begitu mata dari seluruh pengunjung tertuju pada mereka. Berat bagi Erina untuk tak membuat dirinya nyaman dengan suasana itu. Meskipun dia tak ingin, tetapi pandangan dari ayahnya membuatnya tak memiliki pilihan lain.

“Aku baik-baik saja.”

“Baguslah. And also, how about Elang? Bagaimana keadaannya? Aku tak melihatnya datang ke acara ini.”

“Entahlah. Aku, juga tidak tahu.”


***


Beberapa saat setelah acara dimulai, Elang berlari dari pinggir apartement. Mengenakan kemeja batik tangan panjang seragam yang sama dengan Ani.

“Maaf terlambat.”

Mengatakan itu saat nafasnya masih belum teratur, dia berdiri di samping Ani.

“Kamu ke mana aja sih?! Bukannya datang untuk menyemangati kakakmu, tapi kamu malah pergi entah ke mana!”

“Maaf-maaf, aku perlu sedikit membuat persiapan kejutan untuk hadiah perjodohan ini.”

“Hadiah? Apa hal itu perlu dalam acara perjodohan?”

“Sudahlah, tenang saja. Tapi aku juga tak yakin, apa kejutan itu akan datang atau tidak.”

Mereka berdua berbicara dengan memelankan volume sehingga tak ada orang lain yang mendengar selain mereka sendiri. Tetapi, seseorang yang memiliki hak atas hidup Elang sedikit mendengarkan dan memanggilnya.

“Elang, kemarilah.”

Yang dimaksud oleh ayahnya adalah, agar mereka berdiri berdekatan. Elang mendekat dan diikuti dengan Ani yang berada di sebelahnya.

“Dari mana saja kau?”

“Maaf, aku mengurusi sebuah paket tadi.”

“Ya sudah, terserahlah. Yang terpenting, lihat dan perhatikan jalannya acara ini.”

“Baik.”

Dari nada bicara mereka berdua, Ani tahu kalau hubungan yang dulunya sempat renggang masih belum terselesaikan. Dia sedikit mengkhawatirkan apa maksud dari tindakan yang diambil Elang, mungkin saja hal itu akan membuat hubungan mereka berdua semakin buruk.

Tetapi, dia tak memiliki cara atau bahkan dia tak mengetahui, apa isi dari pikiran suaminya yang akan berbuat sesuatu pada acara perjodohan.

Di sisi lain, Elang tertarik pada satu baris kelompok yang merupakan pihak dari keluarga pria.

“Apa mereka adalah...?”

“Rekan kerja dari negeri tetangga.”

“Apa mereka semua lengkap?”

“Tidak. Sang ibu tak datang karena dia tak setuju dengan pernikahan ini.”

“Alasannya?”

“Kau pasti tahu, karena kau juga menolak perjodohan ini.”

Percakapan mereka terhenti, karena Elang telah mengerti maksud dari perkataan ayahnya. Fokusnya berganti kepada Eruin yang sedang berada di tengah-tengah taman. Berdiri berdua di gajebo serba putih dan di dekorasi oleh bunga-bunga yang menjalar.


***


Tak ingin menanggapi acara itu dengan serius, dan tak terlalu ingin membawa-bawa hati serta perasaannya dengan seseorang yang berada di dekatnya.

“Apa kehidupanmu di sini menyenangkan?”

“Ya, lebih menyenangkan dari pada di sana.”

“Is that true?! Oh, I think I can take you away from this place easily.”

Pria yang hendak melamarnya, dan juga yang akan membawanya pergi jauh dari tempat lahirnya, berkata seperti itu dengan mudahnya. Seolah-olah apa yang dia katakan benar-benar akan terjadi.

“Ya, kebiasaan membuatku menikmati apa yang ada di sekitarku.”

“Kalau begitu, pergilah bersamaku. Kita tinggalkan tempat yang menjauhkanmu dari jati dirimu yang sebenarnya. To the place where you should be.”

Lelaki itu—Henry meregangkan kedua tangannya. Bermaksud untuk memberikan tempat kepada Erina di sisinya. Setelah itu, dia mengulurkan tangan kanannya kepada Erina.

Erina tahu maksud dari Henry, itu adalah tangan yang bermaksud untuk membawanya pergi.

Erina tak menatap Henry, dia hanya memandangi tangan yang diulurkan kepadanya. Setelah itu dia melirik sejenak ke arah ayah, dan adik tirinya. Wajah mereka masing-masing memberikan jawaban tersendiri.

Misalnya saja sang ayah, dari ekspresinya terlihat bahwa dia memberikan tanggung jawab untuk jawaban yang akan diberikan kepada Erina. Sedangkan untuk Elang, adiknya itu memberikan ekspresi bahwa dia harus menolak perjodohan itu.

Di sisi lain, Erina juga melirik ke arah Ani yang merupakan sahabat sekaligus seseorang yang mengenalkan kebahagiaan lain untuknya. Di wajahnya terlihat bahwa dia juga sama seperti sang ayah, dia menaruh harapan kepada Erina bahwa Erina lah yang harus memilih kebahagiaannya sendiri.

Setelah itu, dia sekali lagi melihat ke arah uluran tangan yang diarahkan kepadanya.

“Ayolah, kau pasti tahu mana yang terbaik untuk kita semua.”

Henry berbicara seolah uluran tangannya itu adalah pilihan terbaik bagi Erina.

Erina sejenak menahan nafas, lalu membuangnya dari mulut dengan halus. Merilekskan pikiran dan menenangkan perasaannya, dia hendak memberikan jawaban dengan isyarat tangan.

“Stop right there!”

“Tunggu!”

Namun, sesaat sebelum tangannya menyentuh tangan Henry, beberapa suara yang datang dari sisi di mana Elang tiba sebelumnya terdengar keras. Semua orang, terkecuali Henry yang masih fokus dengan Erina melihat ke arah sumber suara.

“You don’t need to be disturbed, there are many men who will protect this place.”

Erina menjadi bingung, apakah dia harus memfokuskan pandangannya kepada suara yang mengganggu acara. Atau Henry yang menginginkan jawaban darinya.

Di sisi lain, para hadirin yang datang ke acara tetap berada di tempatnya. Karena mereka tahu, taman saat itu sedang di pinjam untuk sesaat. Dan tak ada yang boleh masuk kecuali mereka yang diundang.

Bahkan dari pihak kedua keluarga, tak ada satupun dari mereka yang terganggu dengan keributan barusan. Kecuali Ani, yang merasa khawatir dengan keributan itu, karena mungkin saja hal itu berkaitan dengan keterlambatan Elang sebelumnya.

“Kau datang tepat waktu, Pelindung.”

 Elang membisikkan hal itu, yang hanya didengar oleh istri yang berada dekat dengannya. 

Kembali ke sosok Erina yang bingung harus memfokuskan pandangannya entah ke mana, dia melirik ke arah keluarganya. Mereka terlihat masih fokus dengan acara, bahkan seseorang yang berada di depannya masih memberikan tekanan yang mengharuskannya untuk segera memberikan jawaban.

“Stop!”

Tetapi sekali lagi, suara seorang pria penjaga datang dari arah keributan sebelumnya. Dia melirik ke arah tempat itu, dan dia sangat dikejutkan dengan kedatangan seorang ksatria bermahkota merah darah.

Dia berdiri dengan tegapnya, pandangan seluruh hadirin terfokus pada ksatria bermahkota ruby kehitaman. Mereka juga bertanya-tanya siapa ksatria yang datang entah dari mana.

Erina tak tahu harus mengarahkan perasaannya, apakah kebahagiaan, atau rasa sakit? Karena dia tahu, kedatangan kesatria itu pasti untuk menjemputnya.