Episode 46 - Berartinya Dirimu


“Marah bukanlah solusi, dari semua perasaan negatif kau tahu.”

Di hadapan pintu belakang, sesosok jelmaan vampir berdiri dan berbicara dengan nada yang berwibawa.

“Dan yang akan kau dapatkan setelah meluapkan amarah itu adalah, penyesalan. Kau pasti tahu betul hukum sebab dan akibat itu bukan.”

Tanpa permisi, Elang masuk ke dalam rumah. Meskipun Bagas tak menyukainya, dia tetap membiarkan Elang masuk. Duduk di kursi yang berbeda posisi, sehingga mereka bisa betatap muka.

“Bagaimana keadaanmu? Ini sudah menunjukkan pukul 10, dan kelihatannya kau baru saja terbangun.”

Elang mengamati raut wajah Bagas yang berbeda, meskipun sama lewat sudut pandang dia menatap Elang. Sebuah perasaan tidak suka yang berasal dari masa lalu.

“Hei-hei, jangan menatapku terlalu tajam seperti itu, lagipula tak semua hal yang kita permasalahkan itu akan memberikan kerugian untukmu.”

Elang mencoba untuk menenangkan, tetapi hanya sedikit respon yang diberikan Bagas untuk mengerti perkataannya.

“Kak Erina sudah pergi sebelum kau bangun, dan kau pasti tahu itu bukan. Jadi, untuk apa kau mencari-cari sosok yang telah jauh dari sini itu?”

Meskipun beberapa saat yang lalu suasananya cukup tenang, tiba-tiba Elang ingin menyulut api di anara mereka. 

Bagas yang bermula membuat dirinya setenang mungkin, sekali lagi dibuat sedikit emosi oleh Elang.

“Apa yang kau mau?”

Dengan nada yang berat, Bagas bertanya apa maksud dari kedatangan Elang. Menghadapi diskriminasi tak langsung itu, Elang masih bersikap santai dengan sebuah niat yang sangat jelas.

“Kau... mulai mencintai kak Eruin bukan.”

“Omong kosong apa yang coba kau bongkar.”

“Enggak-enggak, sekarang aku tak mencoba untuk membongkar apapun. Aku hanya ingin membuatmu mengakui, apa yang sekarang sedang kau rasakan.”

“Tak ada perasaan seperti itu dalam kepalaku.”

“Hahaha, dasar bodoh.”

“Coba katakan sekali lagi.”

“Cinta bukan berasal dari kepala. Tapi datang dari dalam sini(hati), kenapa kau memelesetkan hal yang tak lucu seperti itu. Itulah yang membuatku tertawa.”

 “Omong kosong.”

“Akui sajalah. Meskipun kau bersikeras untuk menghilangkan perasaan itu dalam pikiranmu. Hatimu pasti akan terus memberontak untuk mengeluarkannya. Kau tahu kenapa, karena kau masihlah manusia.”

Bagas tak menjawab, walaupun beberapa saat yang lalu dia masih terus bisa membalas setiap perkataan Elang yang ditujukan kepadanya. Tetapi untuk yang satu itu, dia hanya terdiam dan menajamkan matanya.

“Ya, aku akan menarik kata-kataku barusan kalau kau seorang psikopat atau sesuatu yang lain, yang membuatmu tak bisa merasakan perasaan positif sih. Tapi, di sini, di dalam ruangan ini, ada dua orang manusia. Dengan dua ruh yang masih sehat.”

“Lalu apa hubungannya dengan hal yang kau bicarakan tadi.”

“Tentu saja ada. Bahkan sangat berkaitan erat. Hanya saja, itu tergantung dirimu bagaimana menanggapinya. Dan pasti aku yakin, kau telah memahami semua itu, tapi kau terus saja ingin menolak dan menghindar. Sama seperti yang terus kau lakukan selama 10 tahun ini.”

Suara gebrakan keras terdengar. Kursi yang di duduki Bagas telah terbalik, dan emosi kuat yang terlihat di wajahnya dapat menandakan, kalau dia sedang dalam amarah penuh.

“Maaf, karena telah mengkait-kaitkan hal yang kita bicarakan sekarang dengan masalah itu. Tapi, tidakkah kau merasa itu sudah cukup. Rasa bersalah tentu saja akan terus menghantui manusia, di dalam setiap dosa yang dia lakukan. Meskipun begitu, tidakkah kau ingin memperbaikinya.”

Elang mengatakan hal itu sambil merogoh saku jas. Mengambil secarik amplop yang tak tahu isinya apa.

“Di dalam ini ada alamat, dan juga kartu undangan.”

Dia melayangkan amplop itu ke depan Bagas. 

Berdiri karena urusan yang dia lakukan telah selesai, namun, dia masih memiliki beberapa kalimat untuk disampaikan.

“Untuk sekarang, mungkin saja dia masih hidup. Tapi kita tak tahu apa yang akan terjadi besok, kalau jalan yang dia lewati berbeda dengan apa yang dia inginkan. Dan kau pasti tahu, apa yang harus kau lakukan dengan itu bukan.”

Elang berjalan menuju pintu keluar, sebelum itu, masih ada satu pesan yang ingin dia katakan.

“Jangan kecewakan aku... dan kau pasti tahu kenapa.”

Elang akhirnya pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Bagas dengan seluruh amarah yang masih tersisa. 

Dia tak sanggup menahan amarah yang telah terpendam, dan satu hal yang bisa dia lakukan untuk menenangkan diri adalah, mengeluarkan semuanya.

Dia mengamuk. Membalikkan meja yang di atasnya masih ada beberapa barang yang dapat pecah. Dan juga menendang segala sesuatu yang ada di dekatnya.


***


Di depan sebuah apartemen pencakar langit, berhenti mobil sedan hitam yang mengantarkan seorang putri bangsawan. Meskipun begitu, penampilan dari putri bangsawan itu tak memancarkan aura yang sepantasnya.

Masuk ke dalam apartemen dengan segala dekorasi yang melambangkan kemewahan, dia telah disambut oleh beberapa orang pelayan wanita, dan seorang kepala pelayan pria.

“Selamat datang, Tuan Putri Eruin.”

Mereka semua menyambut kedatangan Erina dengan kehormatan.

“Apa ayah...”

“Beliau sedang menunggu anda sekarang, Putri.”

Erina hendak menanyakan keberadaan ayahnya, tetapi kebimbangannya dijawab oleh kepala pelayan.

“Kalau begitu, mari, kita persiapkan anda untuk bertemu dengan beliau.”

Kepala pelayan meminta Erina untuk bersiap-siap sebelum bertemu dengan ayahnya. Karena dari keadaannya sekarang, bertemu dengan ayah yang sangat jarang sekali bertemu dengannya adalah hal yang tidak pantas bagi seorang bangsawan.

Di dalam sebuah kamar, kepala pelayan menunggu di luar, sedangkan para pelayan wanita memersiapkan Erina dengan segala persiapan. Dan tak beberapa lama kemudian, seorang wanita cantik nan anggun berpenampilan selayaknya bangsawan keluar dari kamar.

“Mari.”

Dengan memimpin barisan, kepala pelayan maju menuntun Erina menuju ke lokasi tempat ayahnya menunggu.


Di sebuah ruang pertemuan, di isi oleh kursi-kursi santai, duduk seorang pria yang sedang menunggu kehadiran putri tercinta.

Para pelayan berdiri di tempat, posisi mereka memersilahkan Erina untuk maju menemui ayahnya.

Erina maju beberapa langkah, dan saat posisinya telah lumayan jauh dengan para pelayan, seorang pelayan wanita hendak mengatakan sesuatu kepada kepala.

“Kepala pelayan.”

“Ada apa?”

“Saya ingin memberitahu sesuatu tentang keadaan Putri Eruin sekarang, bolehkah?”

“Silahkan.”

“Sewaktu kami memersiapkan putri tadi, terdapat beberapa jejak aneh di sebagian tubuhnya. Itu seperti bekas kecupan dan-“

“Cukup. Urusan seperti itu tak pantas kita permasalahkan.”

“Baik. Maafkan saya.”

Di sisi lain, Erina perlahan-lahan tapi pasti berjalan menuju ke sisi belakang ayahnya. Dan saat dia telah berada tepat di sisi belakang ayahnya, suara besar dan kasar yang melambangkan kebanggaan berbicara padanya.

“Selamat datang, Putriku.”

“Aku... Adinda pulang, Ayahanda.”

Mereka saling memberikan ucapan salam yang memberikan tekanan kepada salah satunya. 

“Bagaimana keadaanmu, apa kau baik-baik saja tinggal di desa?”

Sang ayah berdiri sambil menanyakan hal itu, Erina hampir dibuat bergerak mundur dengan tekanan yang secara tak langsung diberikan padanya.

“Adinda baik-baik saja di sana. Terima kasih karena Ayahanda telah merisaukan keadaan Adinda.”

“Tentu saja, karena kamu adalah aset berharga bagi Perusahaan Lesmana.”

Jantung Erina terasa hampir meledak, mendengarkan perkataan ayahnya yang hanya menganggapnya sebagai sebuah aset, yang berarti dirinya hanyalah sebuah benda yang harus dimanfaatkan seefektif mungkin.

Hampir 5 tahun semenjak terakhir kali mereka bertemu, dan kata-kata seperti itu yang diucapkan kepada putri tercintanya. Erina merasa kalau ada yang berubah dari ayahnya, meskipun dia tak tahu itu, tetapi dia tak ingin langsung menanggapi bahwa ayahnya hanya memikirkan soal pekerjaan.

Saat dia berpikir seperti itu, ayahnya telah berbalik dan menatap padanya. Pandangan mereka berdua bertemu, di dalam masing-masing mata terdapat sesosok yang paling dirindukan.

Memakai gaun indah yang menampakkan kecantikannya dua kali lipat. Rambutnya diikat sedemikian rupa untuk memerlihatkan keanggunan, meskipun ekspresi yang ditunjukkan bukan seperti yang dibayangkan, tetapi bagi Huntara itu adalah wajah yang sangat dia rindu.

Memakai jas dan sebuah tongkat – sepanjang pinggangnya – di tangan kanan, rambutnya yang sebagian telah berubah putih secara tak langsung memerlihatkan seberapa tua dirinya. Wajahnya keriputan, tetapi kebanggaan di dalam dirinya tak berkurang sama sekali sejak 5 tahun sebelumnya.

Ayahnya mendekat kepada dirinya, dengan aura yang penuh dengan kenyamanan. Tekanan yang dirasakan Erina sebelumnya telah hilang entah ke mana, dan yang ada sekarang hanyalah aura penuh kerinduan.

Dia dipeluk dengan penuh kasih sayang, perasaan yang hampir dia lupakan karena tak pernah merasakannya lagi selama hampir sebagian dari hidupnya.

“Aku sangat merindukanmu, Anakku.”

Suara besar dan kasar itu berubah menjadi lembut, dan Erina tahu kalau itu bukanlah kebohongan. Sesosok pria yang sedang memeluknya sekarang benar-benar merasakan siksaan karena tak pernah lagi bertemu dengannya.

“Aku juga merindukanmu, Ayah.”

Dan Erina juga memberikan pelukan balasan, untuk menghilangkan rasa rindu ayahnya.

“Ini hanya 5 tahun, tapi kamu berubah menjadi sangat cantik dari sebelumnya.”

“Dan ayah, tak berubah selain lewat uban-uban dan keriput.”

“Ayolah, jangan katakan hal itu kepada pria yang telah berumur lebih dari 50 ini.”

Melepaskan pelukan, mereka memberikan reaksi yang sama, meluapkan rasa kerinduan. Sang ayah memberikan pujian kepada putri tersayangnya, tetapi anaknya malah memberikan sebuah pujian yang sama sekali tak terdengar seperti sebuah pujian.

“Ini memang sudah terlambat, tapi apa kamu sudah sarapan.”

“Ah, itu, belum. Tapi aku sempat memakan roti di saat perjalanan tadi.”

“Ya ampun, apa sih yang dipikirkan oleh orang-orang yang merawatmu sampai membuatmu hanya memakan makanan penjanggal. Sebas!”

“Hendrik Tuanku. Baik, akan saya persiapkan.”

Sang ayah memanggil kepala pelayan dengan sebutan nama, tetapi si kepala pelayan membenahi nama sebenarnya dari dirinya dan pergi untuk memersiapkan apa yang secara tak langsung diminta oleh tuannya.

“Sambil menunggu sarapan, bagaimana kalau kita ngobrol soal apa-apa saja yang kau alami di desa.”

“Itu tak adil, bagaimana kalau ayah juga memberitahu soal perkembangan saham yang sempat diperbincangkan waktu itu.”

“Hahaha, topik itu hanya boleh diperbincangkan oleh sesama petinggi. Dan kamu masih belum berada di posisi itu.”

“Eeh~, kalau begitu bicarakan saja soal perkembangan perusahaan tentang memerluas jalur.”

“Yang itu juga tak boleh. Tapi kenapa kau begitu tertarik dengan hal itu sih, padahal anak-anak perempuan seusiamu lebih suka dengan mempercantik diri dan pergi berbelanja.”

“Apa ayah pikir aku seperti anak perempuan seusiaku.”

“Ya, iya juga sih. Hah, sudah cukup dengan itu, ayo bercerita saja tentang bagaimana kesan yang kau dapat dari tinggal seminggu di sana.”

“Baik-baik, kalau ayah memaksa.”

Suasana yang awalnya tegang, menjadi sangat santai karena mereka berdua telah terbiasa setelah beberapa saat berjumpa kembali.

Seperti yang diminta, Erina menceritakan semua kesan yang dia rasakan sewaktu dia tinggal di desa. Dan saat makanan yang dipesan telah selesai, mereka sejenak berhenti dan Erina memakan sarapan terlambat terlebih dahulu.

“Pukul 10.”

Ayah yang memakai jam tengah melihat waktu. Duduk di depan anaknya yang sedang menikmati sarapan, atau kelihatannya tidak seperti itu. Ekspresi Erina lebih seperti tak menyangka. Tentu saja hal itu mengundang perhatian ayahnya.

“Ada apa, Eruin? Apa makanannya tak enak?”

“Eh, tidak kok. Hanya saja, seminggu di desa dan aku tak pernah lagi memakan makanan mewah seperti ini, aku merasa apa ini tak terlalu berlebihan hanya untuk sarapan, begitu.”

Erina menghentikan sarapannya sejenak, menjawab pertanyaan ayahnya dengan wajah yang menunjukkan kalau tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi, lewat naluri seorang ayah, Huntara tahu kalau ada yang kurang dari perkataan Erina barusan.

Tetapi dia tak ingin memermasalahkan hal itu, karena jika masalah seperti itu di sangkutkan sekarang, maka akan ada konflik yang secara tak langsung terjadi di antara mereka.

Erina lalu dibiarkan sarapan dengan tenang, setelah menyelesaikan sarapannya, firasatnya mengatakan kalau ayahnya memiliki sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan, yaitu tentang mengenai alasan kenapa mereka berdua baru saja bertemu setelah sekian lama. Padahal ada lebih banyak waktu lain yang bisa mereka dapatkan.

Duduk dengan suasana yang mulai menegang, secara otomatis membuat siapapun selain mereka berdua yang ada di ruangan menyingkir, untuk memberikan ruang lebih luas untuk berbicara.

“Apa kamu sudah siap?”

“Ayah, mengenai itu...”

“Ada apa, apa kamu ingin mengatakan sesuatu tentang perjodohan yang akan diadakan besok.”

“Y-ya, apa, persiapannya sudah selesai?”

“Segala persiapan telah ayah selesaikan bahkan sebelum kedatanganmu.”

“B-begitu, ya.”

“Maafkan ayah karena berbuat ini tanpa persetujuanmu, Eruin. Tapi hal ini juga demi kebaikan keluarga kita, terutama untukmu.”

Erina menjadi sangat gelisah, karena sebelumnya dia telah memutuskan untuk membatalkan perjodohan tersebut. Tetapi sikap ayahnya yang penuh dengan rasa kasih sayang kepada anaknya, tak memberikan Erina kesempatan untuk mengatakannya.

“Ibumu kehilangan gelar bangsawannya karena menyeberangi samudra hanya untuk menjadi syarat perdamaian. Karena itu, ayah ingin sekali mengembalikanmu, ke tempat di mana kamu seharusnya berasal.”

Mendengar perkataan itu, membuat Erina sama sekali tak berdaya. Niatnya untuk menolak perjodohan hampir sirna karena bujukan oleh ayahnya.

“Dan lagipula, dia yang akan menjadi calon suamimu adalah teman masa kecil yang selalu berkunjung ke sini hanya untuk bertemu denganmu. Tidak apa dengan itu bukan?”

“Umm, tentu saja.”

Senyuman tulus yang terpaksa dia berikan. meskipun sang ayah mengetahui alasan kenapa Erina berperilaku seperti itu, tetapi dia tak ingin mememasalahkannya dan membiarkan semua terjadi seperti yang telah direncanakan.

“Kalau begitu sebaiknya kamu beristirahat saja untuk hari ini, dan mempersiapkan diri untuk besok.”

“Baik.”


Dengan berakhirnya perbincangan antara ayah dan anak perempuan mengenai topik perjodohan, Erina masuk kembali ke dalam kamar miliknya.

Di dalam kamar, dia mengunci pintu dan membiarkan dirinya sendirian. Meskipun kepala pelayan meminta Erina membawa satu atau dua orang pelayan untuk membantunya, tetapi Erina menolak.

Karena ada sesuatu yang terjadi padanya yang tak boleh dilihat siapapun.

Bersandar di belakang pintu, perlahan dia memerosotkan tubuhnya ke lantai. Menutupi wajahnya dengan kedua tangan, suara isak tangis yang tertekan dapat terdengar dari balik wajah yang tertutup.

Hatinya terasa terkoyak-koyak, membayangkan kehidupan impiannya akan berakhir besok, dan digantikan dengan kehidupan yang diinginkan oleh ayahnya. Dia tak dapat menerima, tetapi dia harus kuat untuk menghadapi jalan itu.

Walaupun, saat itu dia tak bisa menahan dan harus mengeluarkan segala kesedihannya. Karena mulai besok, dia tak dapat lagi memerlihatkan hal seperti itu bahkan kepada dirinya sendiri.

Dia mengisak cukup keras, dan jika isak tangisnya terus bertambah kuat, ada kemungkinan akan terdengar oleh seseorang di luar kamar. Namun, dia benar-benar tak dapat menahan kesedihannya, dan membuatnya mengeluarkan kesedihan itu semalaman.


***


Sudah semenjak siang, perasaannya terasa terkoyak-koyak. Dan malam itu, pikirannya dipenuhi oleh air mata seseorang. 

Bayangan yang terjadi malam sebelumnya membuatnya mengingat kembali, seseorang yang telah membuatnya seperti itu.

Di dalam kamar yang sudah seminggu dipakainya, dia menatapi sebuah amplop yang sudah setengahnya basah. Lewat ekspresi tajamnya telah terlihat, bahwa dia benar-benar memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

Dari setiap jawaban, pastinya hanya akan ada dua yang harus dipilih, ya atau tidak.