Episode 45 - Kepergian dan Kesepian



Pagi hari menjelang.

Erina terduduk di pinggiran kasur. Dirinya telah bersiap untuk keluar ruangan, tetapi perasaan yang berat meninggalkan cinta pertamanya menghalangi.

Di belakangnya, tertidur ksatria dengan bertelanjang dada. Ekspresinya sangat tenang, sampai membuat Erina ingin sekali lagi bercumbu dengannya. Tetapi hal itu tak lagi bisa dilakukan, karena mulai besok, Erina akan dipertemukan dengan sosok yang akan mendampingi hidupnya sampai akhir hayat.

Setelah beberapa saat menatapi cinta pertamanya, akhirnya dia memiliki kekuatan untuk meninggalkan ruangan. Langkahnya benar-benar terasa berat, seperti ada rantai besi yang mengaitkan kakinya dengan kamar tidur. Lebih tepatnya, rantai itu tersambung kepada sosok yang sedang tertidur lelap.

Sampai pada akhirnya, dia telah berada di hadapan pintu depan. Dan di situ, dia tak bisa lagi mengubah jalan dari masa depan yang akan dia temui. 

Kunci dari pintu depan terbuka, dia lalu membuka pintu yang akan membawanya kepada hari esok tanpa cinta pertamanya.

Dia berada di luar, dan dia merasakan keberadaan yang ada di sampingnya. Memakai baju kebaya khas yang melambangkan kematian seseorang, duduk dengan santainya, tetapi aura yang keluar dari dirinya menandakan kalau dia telah tahu semua yang terjadi.

“K-kak Risak.”

“Selamat pagi, neng Erina. Apa kamu sudah bersiap untuk pergi?”

***

“Bunda-bunda!”

Bagas berlari ke dalam rumah, menuju seorang ibu yang sedang memersiapkan makan malam untuk keluarga mereka.

“Hei-hei, kenapa kamu bersemangat sekali seperti itu?”

Bocah yang tingginya sedada ibunya itu menatap wajah sang ibu dengan antusias yang tinggi. Dan ketika wajah mereka berdekatan, ciri khas dari warna mata yang berbeda dari yang lain—heterochromia, secara tidak langsung memberitahukan kalau gen sang ibu menurun kepada anaknya.

“Aku tadi ketemu sama bangsawan inggris!”

“Eh, masak. Di desa kecil seperti ini, mana ada yang seperti itu.”

“Beneran loh. Terus namanya Eru... Erina Lesmana bun! Dia bangsawan asli, sungguh!”

“Hahaha, kalau benar bunda sangat ingin bertemu dengannya.”

“Ya, katanya tahun depan dia mau datang ke desa lagi.”

“Benarkah? Kalau begitu nanti coba undang dia ke rumah ya.”

“Umm!”

***

“S-sudah siap? O-oh, iya, aku sudah siap.”

Di hadapan Risak, Erina mencoba untuk mengerti keadaannya. Kalau sepertinya Risak telah mengetahui semua kejadian yang telah dilewati dalam keluarga itu.

“Baguslah. Kalau begitu ayo kuantarkan sampai ke terminal depan.”

“Eh, tapi apa kakak tak ingin memberitahu Bagas kalau kakak pulang.”

“Ya, aku bisa mengatakannya nanti. Tapi tidak dengan keadaanmu sekarang, bukannya kamu harus buru-buru untuk pulang bukan. Lagipula, bahkan kamu secara tidak langsung mencuri waktu yang telah diberikan untukmu.”

Di hadapan Risak, Erina benar-benar tak bisa berbuat apapun, karena seperti yang telah diduga, Risak telah mengetahui segala hal yang terjadi di keluarga itu.

Hal terakhir yang bisa dia perbuat adalah mematuhi kata-kata Risak.

“Aku, sudah siap.”

“Bagus. Ayo.”

Setelah memberitahukan kemantapan palsu dari matanya, akhirnya mereka berangkat menuju ke terminal. Menunggu jemputan yang akan membawa Erina ke kota tempat dia tinggal.

Mereka berdua berjalan, jarak tinggi tubuh antara dirinya dan Risak berada di telinga Erina. Saat itu dia menyadari, kalau tubuh Risak benar-benar mungil. Bahkan hampir bisa disamakan dengan tinggi Rini. Meskipun begitu, sesuatu yang datang dari dalam diri Risak membuat tingginya terasa setara dengan orang lain.

Erina sempat terkagum dengan hal itu, sampai dia yang sedang melihat sosok Risak, sedang dilihat balik olehnya.

***

“Tunggu sebentar.”

Setelah mengamati hanya dalam beberapa saat, Risak melihat ada sesuatu yang aneh dari Erina. Meskipun dia telah memikirkan tentang kemungkinan hal itu terjadi, sebelum itu Risak harus benar-benar mengecek keadaan Erina.

Wajahnya terlihat lebih lesu, seperti dia tak tidur semalaman. Cara berjalannya juga berbeda seperti saat mereka bertemu, seperti ada suatu hal yang membuat pinggangnya terasa berat. Dan hanya dalam melihatnya saja, Risak telah mengetahui kalau ada suatu hal yang terjadi di luar perkiraannya.

“Apa kamu benar baik-baik saja?”

Mengelus wajah yang lumayan pucat itu, Risak mendapati sedang diamati dengan dalam oleh Erina. Namun, dia tak merasa terganggu, malahan dia merasa senang dengan tatapan itu.

***

Erina merasakan sentuhan yang sama lewat tangan Risak. Sentuhan yang beberapa saat sebelumnya telah menyembuhkan hatinya. Sangat hangat, dan perasaan kasih sayang yang sama dapat dia rasakan pula saat Risak mengelus pipinya.

“Sepertinya kamu baik-baik saja, kalau begitu, bisa kita lanjutkan?”

“E-eh, u-um, baik.”

Beberapa saat mereka berhenti untuk mengamati satu sama lain. 

Erina mendapat rasa penasaran yang sama, saat Risak dan Bagas menyentuh kulitnya. Dan pertanyaan besar yang sebelumnya belum sempat terjawab membuatnya ingin bertanya sekali lagi.

“Anu, kak.”

“Umm, ada apa?”

Sambil berjalan, Erina menyempatkan untuk bertanya satu hal terpenting yang sangat ingin dia tanyakan mengenai hubungan Risak dengan Bagas.

“Hubungan kakak dengan Bagas itu sebenarnya, apa?”

Dan pada saat Erina bertanya seperti itu, Risak berhenti. Sontak hal itu juga membuatnya berhenti secara otomatis. Risak tak menatapnya, dia malah melihat ke arah timur, di mana sebuah mobil sedan hitam datang.

“Untuk sekarang, hal yang perlu kamu ketahui adalah, fakta kalau besok kamu akan dijodohkan. Dan kamu harus bersiap-siap untuk itu.”

Meskipun telah bertanya pada orangnya langsung, Erina masih belum mendapatkan jawaban pasti, hubungan yang sebenarnya dari kedua orang itu.

“Meskipun begitu, aku juga tak bisa menjamin, apakah kamu akan tertolong nantinya? Tapi yang pasti, aku ingin kamu bersiap-siap untuk segala kemungkinan yang ada.”

Risak mengatakan hal itu, seolah-olah segala hal yang terjadi nantinya telah direncakan. Namun, Risak tak dapat memastikan apakah rencana itu dapat berjalan baik atau tidak.

Hal itu pula membuat Erina semakin penasaran, sebenarnya siapa sosok yang ada di hadapannya itu

Tetapi, mobil sedan hitam yang telah menjemputnya sudah memberikan isyarat padanya, agar dia masuk ke dalam. Sehingga dirinya bisa kembali ke kota tempat tinggalnya. Yang mana akan diadakan acara perjodohan, antara dirinya dengan seseorang yang telah dipilih oleh orang tuanya.

“Ayo, sebaiknya kamu pergi secepatnya. Satu lagi, tenang saja dan fokus dengan apa yang ada di hadapanmu.”

Erina telah masuk ke dalam mobil, tetapi sebelum dia benar-benar pergi, Risak mengatakan sebuah kalimat yang bisa menenangkan hatinya. Erina tak tahu kenapa, namun, ketika hal itu dikatakan oleh seseorang yang mirip seperti saudara tirinya, di mana dia merasa tenang kalau mereka yang mencoba memecahkan masalah.


Erina telah pergi, dan Risak masih memiliki satu hal yang harus dia lakukan.

Dia berjalan menuju ke desa, entah bagaimana caranya, dia bertemu dengan salah satu orang yang dapat dia andalkan untuk mengatasi masalah yang sedang terjadi.

“Selamat pagi, Nak Elang. Bisa bicara sebentar?”

***

Terbangun dari tidurnya, dia mendapati kepalanya merasa pusing yang sangat. Tubuhnya setengah telanjang dengan bagian bawah tertutupi oleh selimut. 

Di dalam ruangan tak ada siapapun selain dirinya. Hanya seorang diri, tanpa seseorang yang berada di sampingnya tadi malam. Sinar mentari pagi yang terik secara tak langsung menunjukkan kalau waktu sudah lumayan siang.


Setelah berpakaian, dia turun ke bawah. Benar-benar tak ada siapapun selain dirinya di dalam rumah. Dia menuju ke kamar mandi, membersihkan wajah yang terlihat cukup lesu.

Selesai dengan membersihkan muka, dia memasak air dan mempersiapkan sarapan berupa roti panggang. Air yang selesai dimasak digunakan untuk membuat teh.

Sarapan telah siap untuk dimakan. Dan pagi itu, dia sarapan seorang diri. Tak seperti hari-hari sebelumnya, dia selalu sarapan dengan dua orang. Bahkan sebelum bertemu dengan seorang pengganggu yang berkunjung ke hatinya beberapa saat yang lalu, dia memiliki seorang adik yang tinggal berdua bersamanya.

Namun, di hari itu, dia sarapan hanya seorang diri. Meskipun secara tak langsung, dia merasakan kalau ada sesuatu yang kurang. Dia menghentikan sarapan yang hanya baru selesai setengah, berjalan menuju ke dalam kamar mandi dan berharap ada seseorang di dalamnya.

Tidak ada.

Dia melanjutkan pencarian tentang entah apa yang dia cari ke halaman belakang rumah.

Tidak ada siapapun.

Ke ruang tengah dan memeriksa setiap kamar. Begitu pula sekilas dia melihat ke ruang tamu.

Tidak ada siapapun.

Berlanjut ke lantai dua, tepatnya di kamar yang sudah seminggu tak dia pakai.

Tak ada siapapun.

Namun, maksud dari kedatangannya ke kamar bukanlah untuk mencari seseorang, melainkan mencari pelarian untuk mengosongkan pikirannya, yaitu dengan buku.

Mengambil satu buku secara acak, dia mencari tempat yang enak untuk membaca. Salah satunya di atas tempat tidur dan di belakang jendela. Dia tak merasa nyaman dan mencari tempat lain.

Menuju ke ruangan sebelah, duduk menyandar di balkon. Terus mengganti posisi yang pas untuk membaca, tetapi tak ada satupun posisi yang bisa membuatnya tenang.

Berganti tempat menuju ke ruang tamu, ruang tengah, dan terakhir di dapur. Tak ada satupun tempat yang bisa membuatnya tenang dalam membaca.

Perasaan apa yang sebenarnya menyerang dirinya?

Sehingga membuat pikirannya begitu kacau dan sama sekali tak bisa fokus. Dia membenci hal seperti itu, sesuatu yang dapat mengacaukan pikirannya. Dalam beberapa kasus, hanya ada satu dari seluruh riwayat hidupnya yang bisa membuat pikirannya kacau.

Dan hal itu bahkan belum terselesaikan sampai sekarang. Tetapi, kali itu ada satu hal lagi yang dapat membuat pikirannya kacau, dia tak tahu apa itu, tetapi dia membencinya.

Membenci sedalam-dalamnya, sampai dia muak dengan perasaan itu.

Pelarian yang dia lakukan untuk menghilangkan perasaan itu adalah, amarah. Dia melemparkan buku yang ada di tangan ke dinding. Sangat kuat, sampai hampir membuat buku yang dia lempar menjadi terbelah dan berhamburan beberapa dari lembaran kertas.

Meskipun begitu, perasaan yang membuatnya tak nyaman semakin berulah. Kepalanya sangat pusing, duduk di meja makan, dia memegangi kepalanya yang berat tak tertahankan.

Beberapa saat setelahnya, dia merasakan ada seseorang yang berdiri di depan pintu dapur.

“Marah bukanlah solusi dari semua perasaan negatif kau tahu.”