Episode 9 - Tenaga di dalam Tubuh



Kinasih mengerenyitkan keningnya, dia hanya diam memperhatikanku selama beberapa saat. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, mungkinkah dia kecewa karena setelah susah payah diselamatkan, aku hanya bisa mengerang saja. Namun aku tidak perlu menduga-duga terlalu lama, karena setelah itu dia bergumam pelan.

“Sepertinya kau terluka dalam, beberapa organ dalam tubuhmu terluka dan sedikit bergeser, tapi tidak sampai mengancam nyawamu”. 

Oh? Apakah barusan dia memeriksa kondisi tubuhku hanya dengan melihat saja? Apa matanya bisa menembus hingga bagian dalam tubuhku? Atau yang dia katakan hanya perkiraan saja?

Saat pertanyaan-pertanyaan itu masih menggelayut dalam pikiranku, tiba-tiba saja dia bergerak mendekatiku, kemudian tanpa di duga-duga, jemari lentiknya menyusuri sekujur punggungku! Ya Tuhan, pria mana yang tidak terbuai merasakan punggungnya dibelai sedemikian mesra oleh seorang gadis? Meski masih dipisahkan oleh kain pakaian, tapi tetap saja sensasinya membuat jantungku berdegup jauh lebih cepat dan otakku mulai dicemari pikiran-pikiran seronok.

Tiba-tiba jemari gemulai itu berhenti di satu titik, di tempat dimana kekuatan besar seperti truk menghajarku dari belakang. Tapi mungkin yang menghajarku dari belakang tadi adalah pukulan atau tendangan Sarwo, aku baru menyadarinya setelah melihat pria paruh baya kerempeng itu bertarung dahsyat dengan Kinasih barusan. Kurasa kekuatan yang dihasilkan dari pukulan dan tendangan mereka sebesar godam penghancur batu pualam. 

Lalu tanpa peringatan sama sekali, Kinasih menekan jemari tangannya dengan kuat. Sekujur tubuhku terutama dibagian punggung terasa seperti di sengat listrik ribuan volt. Bersamaan dengan itu, aku merasakan dorongan yang kuat dari dalam tubuh menuju ke mulut yang menyebabkan rasa mual tak tertahankan. Aku memuntahkan darah pekat kehitaman. Setelah itu, entah kenapa tubuhku terasa lebih lega, bahkan aku mulai bisa menggerakkan tangan dan kakiku. 

Luar biasa! Hanya dengan sentuhan jemari tangan saja, tubuhku yang sudah tak berdaya sama sekali tiba-tiba saja menjadi jauh lebih baik. Kurasa ahli pengobatan alternatif yang tersohor sekalipun tidak akan mampu melakukan keajaiban semacam ini. 

Segera setelah jemari lembutnya itu memberikan kejutan listrik padaku, Kinasih segera berdiri dan mundur dua langkah dariku. Lalu dia kembali diam memperhatikan diriku, sepertinya dia juga tahu kalau kondisi tubuhku sudah membaik. Tatapan matanya seakan menyuruhku segera bangkit.

Aku segera mengikuti kemauannya, dengan tertatih-tatih aku mencoba bangkit. Tangan kananku memegangi pinggang belakang dan mukaku meringis-ringis, persis seperti kakek renta yang bangun dari kursi malas.  

Begitu berhasil berdiri, aku segera mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Baru kusadari seluruh jalan menuju rumahku diliputi oleh es, bahkan dinding dan atap rumah-rumah di pinggir jalan juga diliputi oleh es yang masih mengeluarkan asap tipis berwarna putih, kecuali disekeliling tempatku barusan tertelungkup, tidak ada es disana. Aku juga melihat jasad Sarwo yang tertusuk tombak es dan pria gempal bernama Udin yang meringkuk terbungkus es.

Anehnya, aku tidak melihat seorangpun selain mereka dan Kinasih di tempat ini. Seakan-akan dunia ini hanya berisi aku, Kinasih, dan dua mayat Sarwo dan Udin saja. Bahkan penghuni rumah yang rumahnya diselimuti es sama sekali tidak keluar. 

“Terima kasih.” Meskipun diriku masih diliputi keheranan, tapi aku tidak lupa mengucapkan terima kasih pada gadis pucat yang telah menolongku ini. Jika dugaanku tidak salah, berarti ini kedua kalinya dia menolongku, yang pertama adalah ketika dia mengeluarkanku dari labirin bawah tanah waktu itu.

Dia mengalihkan pandangannya dariku, itulah reaksinya terhadap ucapan terima kasihku yang tulus. Dan jelas sekali dia mengalihkan pandangannya bukan karena malu, karena yang kulihat dari wajahnya adalah kaku dan dingin. Ingatanku langsung melayang ke kejadian di labirin bawah tanah seperti ketika pertama kali kami bertemu. Persis seperti inilah ekspresinya pada waktu itu, dingin! Seumur-umur, baru pertama kali kutemui gadis sedingin ini. Atau lebih tepatnya, baru pertama kali aku berinteraksi dengan gadis sedingin ini. 

Saat kukira gadis bernama Kinasih ini tidak akan menanggapi ucapan terima kasihku, tiba-tiba saja dia mulai bicara. Bicaranya masih lembut, nyaris seperti gumaman.

“Tak perlu berterima kasih padaku, aku hanya kebetulan saja sedang mengikuti mereka.”

“Mengikuti mereka?”

“Kukira mereka akan menuntunku pada anggota Sekte Pulau Arwah yang lainnya, tapi ternyata mereka malah melacak dirimu.”

Sekte Pulau Arwah! Sebenarnya organisasi semacam apa Sekte Pulau Arwah ini, kenapa aku yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Sekte Pulau Arwah jadi ikut terlibat bahkan hingga nyawaku di incar oleh orang-orang yang tak kukenal?  

“Tapi, kenapa mereka melacakku? Bahkan hingga mengincar nyawaku?”

Kulihat Kinasih mengerenyitkan keningnya, tampaknya dia sedikit bingung dengan pertanyaanku.

“Kau anggota Sekte Pulau Arwah, tentu saja mereka mengincar dirimu.”

“Apa? Anggota Sekte Pulau Arwah? Aku bukan anggota Sekte Pulau Arwah. Aku bahkan tidak tahu apa itu Sekte Pulau Arwah. Dan bukankah sudah kubilang waktu di labirin bawah tanah, aku bukan anggota Sekte Pulau Arwah.”

Kinasih memperhatikanku tajam-tajam, aku langsung tahu dari ekspresi mukanya yang sedikit berubah, dia tak percaya padaku! Dan benar saja, sesaat kemudian dia kembali berkata padaku.

“Sebaiknya kau segera pergi dari sini, penyamaranmu sebagai anak sekolah di dunia awam sudah tercium oleh mereka. Apalagi orang-orang Lembah Racun Akhirat memiliki kemampuan khusus mendeteksi karakteristik tenaga dalam. Meskipun Sarwo dan anak buahnya sudah mati, tapi masih ada tim pencari yang lain, mereka akan menemukanmu dalam waktu singkat.”

Setelah mengatakan itu, Kinasih segera membalikkan badannya hendak pergi meninggalkanku.

“Tunggu! Tunggu sebentar! Jangan pergi dulu.” Aku segera menggenggam lengannya, mencegah gadis berkulit pucat ini pergi.

“Aku sungguh-sungguh, aku bukan anggota Sekte Pulau Arwah… Bisakah kau jelaskan padaku, apa yang kau maksud dengan Sekte Pulau Arwah, Lembah Racun Akhirat, dan aku juga tadi mendengar kau disebut Putri Teratai Salju. Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kau bisa mengeluarkan Es dan lelaki tua bernama Sarwo tadi bisa mengeluarkan api dan cahaya hijau dari tangannya?”

Kinasih kembali mengerenyitkan keningnya demi mendengar pertanyaanku, dia segera menghentikan gerakannya yang hendak meninggalkanku.

“Kau… benar-benar bukan anggota Sekte Pulau Arwah?”

“Sudah kukatakan berkali-kali, aku bukan anggota Sekte Pulau Arwah. Aku bahkan tidak tahu sama sekali apa itu Sekte Pulau Arwah.”

“Lalu kenapa orang-orang Lembah Racun Akhirat memburumu?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Apa kau berasal dari sekte lain?”

“Sekte? Aku bukan anggota sekte manapun.”

“Apakah kau murid pendekar pengelana?”

“Hah?”

Jujur saja, arah pembicaraan gadis bernama Kinasih ini semakin tidak bisa kucerna. Apa maksudnya aku murid pendekar pengelana? Aku murid SMU Mitra Harapan. Dan seingatku, semua guru pengajar di sekolahku tidak ada yang menjadi pengelana. Tapi, mungkin Pak Abduh guru matematika yang rambutnya keriting dan berewokan itu boleh jadi seorang pengelana. 

“Aku… sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kita bicarakan. Bisakah kau menjelaskan semuanya padaku?” 

“Kau… serius? Kau bukan orang dunia persilatan?”

“Orang dunia persilatan? Aku hanya anak sekolah biasa.”

Dunia persilatan? Entah kenapa aku merasa bingung sekaligus geli mendengar omongan Kinasih yang terakhir. Dunia persilatan seperti di novel-novel? Aku sempat mengira gadis ini terlalu banyak berkhayal, tapi mengingat es di sekeliling kami yang belum juga mencair, serta berbagai keanehan lain yang kualami sejak diculik oleh Sadewo, aku bersedia percaya apapun yang akan dikatakan oleh Kinasih. 

Kinasih memiringkan kepalanya, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu. 

“Kalau kau orang awam? Kenapa aku merasakan fluktuasi tenaga dalam dari tubuhmu? Dan kenapa orang-orang Lembah Racun Akhirat mengincarmu?” Kinasih kembali bertanya padaku.

Orang awam? Apa maksudnya aku orang awam? Awam dari apa? Tapi aku tidak menanyakan itu, aku hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu. Tiba-tiba Kinasih mengulurkan kedua tangannya dan menengadahkannya di depanku. 

“Kemarikan kedua tanganmu,” ujarnya pelan.

Agak ragu-ragu, kuletakkan kedua telapak tanganku diatas kedua telapak tangannya. Keduanya mendarat dengan mulus di permukaan yang juga mulus. Sepertinya aku harus mengingat tanggal hari ini, karena hari ini adalah untuk pertama kalinya aku saling bergenggam tangan dengan seorang perempuan. Pada saat yang sama, diam-diam aku mencuri pandang ke wajah Kinasih, namun sepertinya dia sepeduli diriku dalam soal genggam menggenggam tangan ini. Dia sedikit menunduk dan terlihat sangat serius dengan kedua mata terpejam.   

Tak lama kemudian aku merasakan sesuatu mengalir masuk melalui telapak tanganku, lalu menyebar ke seluruh bagian tubuhku. Tentu saja aku merasa terkejut, secara refleks aku segera berusaha menarik kedua tanganku. Namun Kinasih justru menggenggam tanganku lebih kuat.

“Tenang, rileks saja,” ujarnya.

Kata-kata itu ternyata sanggup membuatku menjadi lebih tenang. Aku mengatur nafas dan membiarkan seluruh tubuhku lebih rileks. Entah kenapa, setelah hal asing itu masuk kedalam tubuhku, tiba-tiba saja aku merasakan kehangatan menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhku. 

Bersamaan dengan itu, Kinasih membuka kedua matanya, lalu secepat kilat dia menarik kedua tangannya, ekspresi wajahnya tampak sangat terkejut, bahkan dia sempat mundur satu langkah dariku. Saat kuperhatikan, kedua telapak tangannya sudah kemerah-merahan. 

“Ada apa?” Aku segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

Namun Kinasih tidak segera menjawabku, dia seperti sedang berpikir keras. Lalu kulihat dia menggeleng-gelengkan kepalanya. 

“Aku percaya kata-katamu, sepertinya kau memang bukan berasal dari dunia persilatan, tubuhmu tidak terlatih sama sekali. Tapi aku juga merasakan tenaga dalam yang sangat kuat dari dalam tubuhmu. Dan karakteristiknya memang mirip dengan tenaga dalam Sekte Pulau Arwah, meskipun aku juga merasakan perbedaan yang agak aneh.”

Tapi aku tidak pernah berlatih tenaga dalam sama sekali, kenapa Kinasih bilang didalam tubuhku bersemayam tenaga dalam yang kuat? Saat aku tengah dilanda kebingungan, kata-kata Kinasih berikutnya langsung membuatku pucat pasi.

“Dengan tenaga dalam sekuat itu di dalam tubuhmu, hidupmu tidak akan lagi…”