Episode 8 - Pertarungan Hidup dan Mati


Kinasih tampak terkejut, sepertinya dia juga tak menyangka serangan Sarwo akan diarahkan padaku. Dia segera melompat secepat kilat ke arahku dan menangkis serangan Pedang Ular Api milik Sarwo ketika jarak jilatan api itu tinggal sejengkal lagi dari mukaku. Dengan tangan kosong, Kinasih menangkap jilatan lidah api tersebut. Suara desisan keras seperti api yang disiram air es terdengar bersamaan dengan bertemunya jilatan api dan tangan Kinasih. 

Bersamaan dengan itu, Sarwo memukulkan tangan kirinya ke arah Kinasih. Selarik cahaya kehijauan meluncur deras menuju kepala Kinasih. Tampaknya Sarwo sengaja menyerangku untuk mengalihkan perhatian Kinasih. Saat Kinasih fokus menyelamatkanku, Sarwo mengambil kesempatan dengan menyerang Kinasih di bagian mematikan. 

Namun reaksi Kinasih tak kalah cepat dan ganas, dia tak peduli dengan serangan yang mengincar kepalanya, tangannya membetot jilatan api dari pukulan ‘Pedang Ular Api’ dengan kuat. Betotan itu menyebabkan Sarwo ikut tertarik dan larikan sinar hijau melenceng dari sasarannya. Setelah itu, keduanya segera terlibat dalam pertarungan jarak dekat yang melibatkan kecepatan tinggi.

“Udin, Galan, jangan diam saja! Bunuh anak itu sekarang!” 

Disela-sela pertarungan sengit dengan Kinasih, Sarwo masih sempat memberi perintah pada dua anak buahnya yang tersisa. Detik berikutnya, Udin dan Galan, si pria gempal dan satu orang anak buah yang tersisa segera menyerang ke arahku. Tentu saja aku tak tinggal diam, aku berusaha kembali melarikan diri meskipun sebenarnya masih kesulitan berdiri. 

Hanya saja usahaku sia-sia, karena dengan mudah mereka berdua menghadang laju lariku. Tanpa buang waktu, mereka langsung menyabetkan golok masing-masing. Beruntung disaat genting itu Kinasih tiba-tiba muncul menyapukan tendangannya pada mereka berdua sekaligus. Serangan Kinasih yang tiba-tiba menyebabkan keduanya tak sempat menghindar. 

Bukk! Bukk!

Kedua tendangan tersebut mendarat telak di dada mereka berdua. Namun Kinasih harus membayar mahal tindakannya, Sarwo menggunakan kesempatan itu untuk membokong Kinasih. Tapaknya berhasil mendarat dengan mulus di punggung Kinasih. Serangan tapak tersebut menyebabkan suara menggelegar dahsyat dan menyebabkan Kinasih terdorong ke depan sejauh beberapa langkah.

Namun serangan tersebut ternyata tidak menyebabkan cidera yang terlalu parah pada tubuh Kinasih, selain lelehan darah tipis di sudut bibirnya, wajahnya masih terlihat segar dan nafasnya tetap teratur. 

“Ilusi Tirai Es… Benar-benar pantas disebut jenius!” gumam Sarwo begitu menyadari serangannya gagal memberikan hasil yang diharapkan.

Sepertinya Kinasih telah memperkirakan dirinya akan menjadi sasaran empuk bagi Sarwo saat memutuskan menyerang Udin dan Galan. Karena itu dia memfokuskan sebagian besar tenaga dalamnya untuk menciptakan tabir pelindung yang membuat seluruh tubuhnya berpendar keputih-putihan. Menyebabkan serangan tapak Sarwo yang dahsyat itu menjadi sia-sia belaka. 

Ilusi Tirai Es sebenarnya adalah jurus pertahanan tenaga dalam tingkat tinggi yang membentuk perisai seperti tirai putih, seandainya Kinasih menggunakannya dengan benar, niscaya serangan Sarwo tidak akan menimbulkan luka sama sekali. Namun karena Kinasih tidak bisa memastikan bagian mana dari tubuhnya yang akan menjadi mangsa serangan Sarwo, dia memutuskan menggunakan jurus Ilusi Tirai Es untuk menyelubungi seluruh tubuhnya. Meskipun menyebabkan efek pertahanannya jauh berkurang, namun cukup untuk menghindari luka fatal akibat serangan Sarwo.

Mau tidak mau Sarwo harus mengakui Kinasih memang seorang jenius, tidak hanya kesaktiannya yang begitu tinggi hingga sejajar dengan dirinya di usia yang masih begitu muda. Namun kemampuannya menganalisa dan pengambilan keputusan ditengah pertempuran juga tidak bisa dipandang sebelah mata. 

Sayangnya, dimata Sarwo, hari ini gadis jenius dari Istana Teratai Salju itu harus mati! Sarwo kembali melancarkan serangan. Serangannya tidak hanya difokuskan pada Kinasih, namun juga mengincar diriku. Ditambah lagi dengan bantuan dari Udin dan Galan, Kinasih mesti mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya hanya untuk memastikan serangan demi serangan mereka gagal bersarang ditubuhku. 

Memang, dalam sebuah pertarungan, akan jauh lebih sulit jika kita diposisikan harus melindungi orang lain. Mengingat perhatian kita tidak hanya dicurahkan untuk melindungi diri sendiri dari serangan-serangan lawan, namun kita juga harus memastikan agar orang yang kita lindungi juga selamat dari serangan lawan. Tentu tingkat kesulitan dalam pertarungan semacam itu menjadi bertambah hingga berkali-kali lipat. Apalagi saat ini Kinasih harus bertarung satu lawan tiga.

Namun sejauh ini, Kinasih masih bisa mengendalikan tempo pertarungan. Meskipun Sarwo memiliki kesaktian yang setingkat dengan dirinya, setidaknya Udin dan Galan memiliki kesaktian yang jauh berada dibawahnya. Dalam situasi normal, Kinasih hanya butuh satu gerakan untuk menghabisi mereka berdua sekaligus. Namun jika pertarungan itu tak buru-buru diakhiri, aku punya firasat cepat atau lambat nyawaku akan melayang. 

Dan aku yakin Kinasih juga sadar situasi ini, karena itu dia lebih fokus bertahan dari Sarwo namun fokus mengeluarkan serangan-serangan mematikan pada Udin dan Galan. Dalam satu kesempatan, Kinasih kembali mengeluarkan Tapak Awan Es dan menyarangkannya tepat di iga kanan Galan. Dalam sekejap, tubuhnya terurai dalam kabut putih sama seperti pria sebelumnya. 

Melihat hal itu, wajah Sarwo semakin terlihat gelisah. Bagaimana tidak, seharusnya Kinasih berada dalam posisi yang sangat tidak diuntungkan. Untuk memastikan diriku tidak termakan serangan trio Sarwo, Udin, dan Galan saja, harusnya konsentrasi Kinasih sudah terkuras. Namun kenyataannya dia masih bisa mencuri kesempatan dan menghabisi Galan dalam satu serangan. 

Dengan kematian Galan, berarti keunggulan pihak Sarwo semakin berkurang. Dugaanku, rencana awal Sarwo adalah menggunakan tangan Galan dan Udin untuk membunuhku sementara dia sendiri menyibukkan Kinasih dengan serangan-serangan mautnya. 

“Bangsat!”

Tiba-tiba Sarwo melompat mundur hingga empat atau lima meter, kedua tangannya dikembangkan seperti seekor elang dan jari-jarinya membentuk cakar. Dari sela-sela jarinya keluar asap hijau yang begitu pekat, sampai-sampai hampir berubah kehitam-hitaman. 

“Kutukan Racun Akhirat! Bagaimana mungkin orang tua ini sudah menguasai jurus pamungkas dari Lembah Racun Akhirat?” Kinasih berdesis begitu mengetahui pukulan yang akan dikeluarkan Sarwo. 

“Mati kau Putri Teratai Salju!”

Sarwo menjerit keras sambil menghantamkan kedua tangannya. Bersamaan dengan itu, dua ekor ular berwarna hijau pekat yang seperti terbuat dari cairan kental menyeruak dari kedua tangannya, menyambar deras menuju Kinasih dengan mulut terbuka lebar. Badan masing-masing ular itu setebal batang pohon kelapa!

Muka Kinasih berubah kelam, wajahnya terlihat semakin serius. Tapi dia sama sekali tidak menghindar. Mungkinkah dia sudah bertekad melindungiku dengan menerima serangan Sarwo? Karena jelas sekali jika Kinasih menghindari serangan itu, maka aku yang akan jadi korban. Meskipun posisiku berada cukup jauh disisi kanan belakang Kinasih setelah selama pertempuran tadi Kinasih mengarahkan Sarwo dan Udin menjauhiku, namun efek serangan Kutukan Racun Akhirat milik Sarwo sudah pasti akan mengenaiku. 

Saat itu, kurasakan suhu yang sudah terasa dingin menjadi semakin dingin hanya dalam sekejap. Sudut mataku menangkap cahaya yang teramat putih dari arah Kinasih berdiri. Kemudian aku terpental tak tentu arah seperti tengah di aduk-aduk, pandanganku menjadi gelap dan tak fokus. Namun telingaku sayup-sayup masih dapat mendengar lengkingan suara Kinasih meneriakkan dua kata… “Neraka Es!”

Tubuhku sama sekali tak bisa bergerak, lemas sekali. Beruntung kedua mataku masih terbuka dan posisi kepalaku mengarah pada lokasi pertarungan antara Kinasih dan Sarwo. Meskipun awalnya buram, namun lama-kelamaan pandanganku semakin jelas. 

Kabut, hanya kabut putih yang dapat kulihat pertama kali. Lalu kusadari tanah tempatku terbaring mengeluarkan asap putih, begitu juga tanganku. Meskipun aku tidak dapat melihat bagian tubuhku yang lain, tapi aku yakin seluruh tubuhku juga mengeluarkan asap putih. Selain tanah di tempatku terbaring, aku sama sekali tidak melihat tanah lain yang masih berwarna coklat, semua berwarna putih seperti biang es yang terus mengeluarkan asap dengan pilar-pilar es berujung tajam menyemburat disana-sini. 

Kemudian kulihat Kinasih berdiri sempoyongan, mungkin jika saat itu aku bisa berdiri dan menepuk pundaknya, dia akan langsung terjatuh. Aku sama sekali tak melihat Udin, aku ingat saat Sarwo dan Kinasih mengeluarkan Kutukan Racun Akhirat dan Neraka Es, posisi Udin berada di antara mereka berdua. Mungkin saat ini dia sedang mengantri di gerbang akhirat.

Sedangkan jauh di depan Kinasih, Sarwo tampak berlutut dengan kepala tertunduk. Sebagian tubuhnya berwarna putih dan mengeluarkan asap tebal. Namun dari dadanya yang bergerak naik turun, tampaknya dia masih belum mati. 

Kinasih segera berjalan mendekati Sarwo meskipun agak terseret-seret. Lalu tangannya bergerak mencabut pilar es setinggi kurang lebih satu meter, dia menyeret tiang itu terus menuju Sarwo. Lalu tanpa keraguan sedikitpun, menusukkan sisi tajam pilar es itu ke dada Sarwo tepat di bagian jantung hingga menembus ke punggungnya. Aku sama sekali tidak melihat darah keluar dari luka tusukan itu, tapi Sarwo menggereng pelan dan akhirnya terjatuh ke tanah dengan posisi menyamping. Setelah itu, Kinasih kembali berjalan sempoyongan menuju ke arahku. 

Dia melihat diriku yang terbaring tak berdaya selama beberapa saat, kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dia mengambil tanganku dan mencoba menyeret tubuhku. Tapi mungkin karena kondisi tubuhnya yang sudah begitu payah, Kinasih malah jatuh terduduk. Ekspresi wajahnya yang mengerenyit lucu dan menggemaskan saat dia jatuh terduduk membuatku ingin menggodanya. 

Tapi tentu saja keinginan itu hanya refleks yang langsung hilang seketika. Mengingat aku masih belum tahu apa yang sebenarnya diinginkan Kinasih dan alasannya kenapa dia meyelamatkanku.

Kinasih tidak segera bangkit dari duduknya, dia hanya mengambil nafas panjang sambil memejamkan matanya. Mungkin dia sedang berusaha memulihkan kembali kondisi tubuhnya. Aku baru menyadari kulit Kinasih tidak lagi sepucat biasanya, terdapat urat-urat tipis kehijauan dibalik kulit pucatnya. Apakah dia terkena racun?

“Kenapa kau menyamar menjadi anak sekolah? Kau harusnya sudah tahu orang-orang Lembah Racun Akhirat akan dengan mudah melacakmu.”

Segera setelah Kinasih membuka kembali matanya, dia bertanya padaku yang saat itu masih tertelungkup. Melihat sikapnya, aku menjadi yakin Kinasih tidak memiliki niat jahat padaku. Namun aku juga tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

“Erghh… heh….”

Aku ingin menjawab pertanyaannya dan juga ingin balik bertanya padanya. Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah suara erangan lemah.