Episode 8 - Hantu Juga Bisa Kesal dengan Manusia



 Sang pocong kini berdiri di hadapan mereka berdua dengan tatapan seramnya, sementara Coklat dan Ival hanya cengo melihat sang pocong terus melihat mereka. Akhirnya mereka bertiga saling tatap-menatap, dan mereka pun jatuh cinta hidup bahagia selamanya. Ya enggak lah.

 “Kok kamu berdua enggak takut apa sama aku? Kan aku pocong lho.” 

 “Oh, jadi kita harus takut sama kamu gitu ceritanya?” tanya Coklat.

 “Iya.” 

 “Ya sudah, kita takut nih. Aaaa … atuuut … atuuuut … celeeem … celeeem.”

 Mereka berdua memasang wajah takut di hadapan sang pocong sambil menggetarkan tangannya. Sementara si pocong malah melongo melihat ekspresi mereka yang aneh.

 “Udah, kita takut tadi. Terus gimana lagi sekarang?” tanya Coklat.

 “Kalian berdua kabur, lari kebirit-birit pas aku kejar.”

 “Ah enggak mau, capek aku kalau lari-larian segala, ya enggak, Val?”

 “Iya benar banget, please deh.”

 “Aku mau kalian takut loh lihat aku.”

 “Tadikan udah, gimana sih kamu?” ujar Coklat.

 Si pocong mulai merasa kesal dengan tingkah laku orang aneh ini. 

 Ting … ting … ting

 Si pocong akhirnya punya ide untuk membuat mereka takut. Dia membuat wajahnya seram di hadapan mereka berdua. Pocong itu membalikkan badannya, dan kemudian mengejutkan mereka berdua.

 “Waaa!” teriak pocong. 

 “Bahahahahahahaha wkwkwkwkwk hohohohoho!” 

 Coklat dan Ival malah ketawa ngakak di hadapan sang pocong. Mereka berdua memegangi perutnya masing-masing yang terkocok saking tak bisa menahan wajah seram sang pocong.

 “Kocak nih, Val, wkwkwkw. Perut gue sampai mulas-mulas.”

 Si pocong kini malah merasa usahanya itu sia-sia, dia memanyunkan wajahnya. Sementara dikarenakan mereka mulas menahan tawa, akhirnya keluarlah bau kentut yang tak diduga.

 “Hmmm bau apa nih?” tanya si pocong.

 “Sorry-sorry, kita berdua barusan kentut habis enggak tahan lihat muka kamu, hahaha,” kata Coklat.

 “Anjiiir, baunya itu lebih bau daripada telur busuk.”

 Mencium bau kentut yang begitu hebatt baunya, si pocong pun muntah.

 “Owwweee!”

 “Wah kamu masuk angin ya? Makanya jangan suka begadang tiap malam, itu enggak baik loh buat kesehatan. Ingat kan kata Bang Haji,” kata Coklat.

 “Haduh, gue enggak masuk angin, gue cuma enggak tahan aja nyium kentut lo itu.”

 “Sabar ya,” ujar Ival mengelus-ngelus pundak si pocong.

 Si pocong itu lalu duduk di atas kasur dengan wajah tertunduk lesu. Si pocong pun semakin stress dengan keadaan seperti ini. Dia memanyunkan wajahnya hingga terlihat tampak sedih. 

 “Sabar ya, masih banyak kok yang lebih baik daripada dia,” ucap Coklat yang duduk di sampingnya.

 “….” Si pocong hanya diam dengan wajah sedihnya.

 “Betewe kamu kok bisa jadi pocong, gimana ceritanya? Terus kamu matinya gimana?”

 “Aku mati tuh karena aku tertabrak di daerah sini.”

 “Sakit enggak pas tertabrak?”

 “Ya sakitlah!”

 “Ceritain dong kamu matinya gimana?”

 “Ah malas aku.”

 “Yah, kamu mah tega. Kita kan berdua penasaran.”

 “Iya deh.”

 Dengan terpaksa si pocong menceritakan kronologi kematiannya. Tatapan dan wajah Coklat dan Ival terlihat tegang bersiap-siap mendengar sebuah dongeng dari sang pocong. Si pocong dengan kata-katanya mulai bercerita.

 “Ya sudah aku ceritain nih. Aku itu namanya Dika, Aku itu cowo terpopuler di sekolah dan digemari banyak cewek-cewek, aku itu kurus kayak kalian tapi gantengan aku lah, baik hati dan juga humoris. Pas aku pulang sekolah, aku ditabrak mobil sampai kepala dan kaki aku misah.”

 “Oh berarti pas kamu masih hidup kepala sama kaki kamu itu nyambung ya?” tanya Coklat.

 “Gimana tuh kok kepala sama kaki kamu bisa nyambung pas masih hidup?” tanya Ival.

  “Huft, aku salah ucap lagi. Ya udah pertanyaan kalian itu enggak penting, aku lanjutin lagi ceritanya ya. Nah lewat lagu kenangan yang judulnya semua tentang kita. Lagu itu dinyanyikan salah satu cewek cantik yang juga mahir main gitar sekaligus penggemar berat aku. Dia itu nyanyiin lagu itu sambil lihat video dan poto-poto kita semasa aku masih hidup, tuh sedihkan.”

 “Uh ... uh … uh .…”

 Coklat dan Ival pun mewek mengeluarkan air matanya.

 “Kamu sedih kan?”

 “Bukan, kita berdua enggak ngerti ceritanya,” tandas Coklat. 

 Kasihan si pocong, udah capek-capek cerita sampai mulutnya berbusa. Si pocong cemberut aja, wajahnya terpaku melihat lantai berselimutkan rasa sedih. Baru kali ini si pocong penghuni rumah frustasi sama manusia, biasanya dia berhasil kalau urusan takut-menakuti.


 ***


 Ketika mereka berdua sedang asyik-asyiknya mengobrol dengan si pocong tiba-tiba lampu kamar ini mengedip-ngedip sendiri. Suasana seram kembali muncul, dari samping lemari yang tak jauh dari tempat mereka duduk terlihat sebuah asap mengepul. Terlihat dari arah itu, seorang wanita memakai baju putih-putih selayaknya seorang suster jalan mengesoti sebuah lantai kamar ini. Dengan tatapan seramnya, dia menatap Ival dan Coklat.

 “Eh, Val, tolongin tuh dia enggak bisa jalan,” ujar Coklat sambil menunjuk suster ngesot tersebut.

 “Eh iya tuh, yuk kita tolongin.”

 Mereka berdua bergegas dari kasur dan berjalan menuju suster ngesot tersebut. Sampainya di samping suster ngesot itu, mereka lalu membangunkannya. Kedua tangan mereka saling memegangi pundak suster ngesot itu dan membawa berjalan ke kasur.

 “Aduh … aduh … makanya kamu kalau enggak bisa jalan ngomong minta tolong sama kita, pasti kita tolongin kok,” ujar Coklat sambil geleng-geleng kepala.

 Pletak! 

 Dengan entengnya Ival menjitak suster ngesot itu, nih bocah main jitak-jitak aja. Suster ngesot itu hanya diam habis dijitak sama Ival. Mukanya terlihat mewek sehabis dijitak barusan. Suster ngesot enggak berani buat balas perbuatan Ival barusan, karena balas dendam itu enggak baik. Mereka pun telah sampai di depan ranjang dan meletakkan suster ngesot itu duduk di atas kasur.

 “Udah, kamu udah sampai kok. Eh eh eh, kamu lupa ya? Kalau habis ditolong sama orang lain itu harus ngucapin apa? Hayo ngucapin apa?” kata Coklat.

 “Terima kasih,” jawab si suster ngesot itu.

 “Pintaaar.”

 “Eh, kamu juga lupa ya kalau ucapin terima kasih itu harus senyum. Senyum dong, senyumnya yang manis yaaa,” ucap Ival menambahkan.

 Suster ngesot pun tersenyum.

 “Naaah, kan kalau begitu kelihatan cantiknya.”

 Weleh-weleh, baru kali ini ada orang yang ikhlas banget tolongin setan, ampun dah. Si suster ngesot itu lalu menoleh ke si pocong dan si pocong hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

 Merasa aneh dengan keadaan seperti ini, si pocong dan si suster ngesot saling tatap-menatap. Mereka berdua saling curhat tentang siapa kedua orang aneh yang ada di rumah ini.

 “Kamu tahu siapa mereka?” tanya suster ngesot.

 “Aku enggak tahu, yang jelas sih mereka penghuni baru rumah ini.”

 “Penghuni baru aja udah bikin kesal, apa lagi kalau mereka lama-lama di sini.”

 “Lama-lama di rumah ini? Enggak deh, aku lebih baik kabur dari rumah ini.”

 “Eh kalian berdua cocok deh kalau pacaran,” kata Coklat yang tiba-tiba ada di belakang mereka.

 “Hah?” ucap si pocong dengan tampang melongo.

 “Kalian itu serasi, lihat pakaian kalian berdua sama-sama kotor dan bau, terus muka kalian berdua juga enggak cakep-cakep amat.”

 Coklat-Coklat, orang mah kalau mau muji itu jangan menjatuhkan, eh ini mah malah menjatuhkan, kan kasihan mereka.

 “Iya, betul kata Coklat, daripada kalian jadi jomblo yang enggak laku-laku mending kalian jadian aja deh,” tandas Ival.

 “Iuuh sama dia, enggak banget deh,” kata si suster ngesot.

 “Ih lagian siapa juga yang mau sama kamu.”

 “Tuhkan romantis banget deh kalian berdua,” kata Coklat.

 Ini orang lagi ribut disangka romantis, aneh orang ini.

 ***

 Disaat mereka berempat masih mengobrol yang enggak jelas, tiba-tiba lampu dalam kamar ini berkedap-kedip kembali, suasana mencekam kembali terasa. Bulu-bulu kuduk mereka berdua berdiri, kali ini ah tapi buat mereka mau bulu kuduknya berdiri atau enggak itu sama aja, enggak bakal ngaruh.

 “Tuh, Val, lampunya udah rusak dari tadi ngedip-ngedip mulu.”

 “Iya, mungkin lampunya udah rusak dan mau diganti.”

 “Hihihihihi.”

 Terdengar suara perempuan tertawa seperti suara kuntilanak. 

 “Itu suara apa, Coklat?” tanya Ival.

 “Itu pasti suara orang gila, udahlah biarin aja nanti juga kalau dia bosen dia bakal diam sendiri ini.”

 Merasa dicuekin, kuntilanak itu memanggil mereka berdua. Suaranya terdengar dari belakang mereka.

 “Heeey anak manusia.”

 “Hey jugaaaa,” kompak Coklat dan Ival.

 Saat mereka menoleh ke belakang, mereka seketika terdiam, terkejut melihat ada sosok perempuan berbaju putih dan berambut panjang acak-acakan.

 “Hihihihihi.”

 “Tuhkan, Val, gue bilang apa. Dia itu orang gila yang ketawa-ketawa sendiri, lihat aja tuh dandannya acak-acakan.”

 “Iya, kasihan ya dia cakep-cakep kok agak miring gitu.”

 “Hah?” kuntilanak melongo.

 Disaat si kunti masih melongo, Coklat dan Ival bergegas jalan mendekati si kunti. Tepat di hadapannya, mereka berdua berdiri sambil garuk-garukin kepalanya.

 “Kasihan ya,” ucap Coklat sambil geleng-geleng kepala.

 “Iya, Coklat, lihat aja tuh baju yang dia pakai, udah enggak layak.”

 “Hey kalian seharusnya takut, hihihi.”

 “Tuh, Val, obatnya dia habis, buktinya enggak ada yang ngelawak dia ketawa sendiri.”

 “Iya, Coklat, kasihan dia.”

 “Hoh?” si kunti melongo.

 Akhirnya Coklat dan Ival mengajak kuntilanak itu duduk bareng bersama pocong dan suster ngesot. Mereka bertiga hanya tertunduk saat diceramahi oleh Coklat dan Ival. Wajah mereka seakan bersalah dengan apa yang terjadi kali ini.

 “Kalian ini mau jadi apa sih? Lihat tampilan kalian, semuanya pada enggak rapih, enggak meching sama gaya anak muda sekarang, tolonglah rapihkan dikit penampian kalian,” ujar Coklat sok bijak.

 “Iyaaa,” jawab serentak ketiga hantu tersebut.

 “Ivaaal! Tolong ambilkan gunting rambut di lemari sama bedaknya juga ya.”

 “Ok!”


 ***


 Gunting rambut kini sudah ada di tangan Coklat dan sebuah bedak bungkus sudah ada di tangan Ival. Kira-kira mereka mau apa ya bawa gunting sama bedak segala? Melihat kedua orang aneh itu membawa gunting dan bedak membuat para ketiga hantu itu deg-degan, jantung mereka berdetak sekencang-kencang.

 “Kalian semua sudah siapkan?” tanya Coklat.

 “Memang kita-kita mau diapain?” tanya si pocong.

 “Kita mau buat kalian-kalian semua menjadi kece … kecebong.”


 ***


 Ketika Coklat dan Ival ingin mempermak penampilan para hantu itu, tiba-tiba terdengar suara gresek-gresek dari arah lemari kamar ini. Mendengar suara tersebut, Coklat dan Ival lalu menoleh ke arah lemari di belakangnya. Terlihat makhluk berubuh kecil dan imut, berkepala botak dan tidak ditumbuhi rambut, makhluk itu juga tidak memakai baju dan hanya memakai celana saja, makhluk itu adalah two you el. Tuyul itu sedang mencuri uang dari lemari itu. Coklat dan Ival lalu bergegas mendekati tuyul itu, tanpa ampun mereka berdua langsung saja menjewet telinganya.

 “Adaw! Adaw! Ampuuun!”

 “Nakal kamu ya, kecil-kecil udah jadi pencuri, mau jadi apa kamu besar nanti? Kan kasihan orang tua kamu,” ujar Coklat.

 “Gimana kalau kita bawa ke kantor polisi aja, Coklat?”

 “Eh jangan, aku enggak mau kalau tinggal dipenjara lagian juga kan aku nyurinya dikit kok, enggak bermiliar-miliaran.”

 “Tetap aja kamu itu pencuri,” ujar Coklat.

 “Iya deh, aku tobat enggak mencuri lagi.”

 “Tuhkan, kamu ini masih kecil kok malam-malam enggak pakai baju, memang enggak dingin apa?” tanya Coklat.

 “Udah biasa, Om.”

 “Om am om am, memang saya om kamu. Ya udah ikut saya, ya.”

 Akhirnya si tuyul itu pun duduk bersama hantu-hantu yang sudah terjaring razia malam ini. Mereka berempat terlihat manyun dengan keadaan aneh yang seperti ini.

 Kembali, mereka bersiap kembali melakukan niat mereka untuk mempermak para hantu ini agar menjadi lebih modis. Dimulai dari si pocong. Kini si pocong duduk di sebuah kursi yang menghadap ke cermin.

 “Kamu udah siap, Cong?” tanya Coklat.

 “Iya siap,” kata pocong pasrah.

 Sreeeet sreeeet

 Dengan tangan mereka yang sudah ahli dalam bidang salon-menyalon, mereka mengubah gaya tampilan si pocong lebih modis. Si pocong kini sudah memakai baju batik dan wajahnya terlihat tampan seperti Bred Pit.

 “Nah gimana?” tanya Ival.

 “Keren … thanks ya,” ucap si pocong sambil bercermin.

 “Oke, sama-sama. Selanjutnya kamu,” ujar Coklat sambil menunjuk suster ngesot.

 Sreeeet sreeet

 Tangan mereka kini lebih cepat dari yang tadi. Ketika usai mempermak si suster, si suster tampil lebih ceria dan lebih imut dari yang tadi. Wajahnya mirip April Lepin.

 “Wah, its ok. Aku cantik deh malam ini.” 

 “Sama-sama. Selanjutnya, Kunti.”

 Sreeet sreeet

 Kali ini si kunti yang tampil cantik seusai dipermak oleh mereka. Wajahnya terlihat seperti Taylor Swip.

 “Aku cantik ya mirip penyanyi.” Senyum si kunti.

 “Sama-sama. Selanjutnya, Yul.”

 Nah sekarang giliran si tuyul. Coklat yang memegangi gunting rambut hanya diam sambil melihat kepalanya si tuyul, dia menggaruk-garukkan kepalanya.

 “Kamu mau digunting gaya apa?”

 “Emo, Bang, bisakan?”

 “Kan situ botak?”

 “Oh iya, saya lupa, Bang.”

 “Kepala kamu, aku amplas aja ya biar makin kinclong.”

 “Eh busyet! Ya udah enggak apa-apa.”

 Haduh, itu orang main amplas aja, memang dia kira apaan? Ya sudah deh enggak apa-apa terserah mereka aja. Dan enggak butuh waktu lama, akhirnya si tuyul sudah dipermak, lihat saja kepalanya masih tetap botak. Sesudah dipermak, para setan itu pun mengucapkan terma kasih banyak kepada Coklat dan Ival karena telah berjasa dalam kehidupan mereka.

 “Lain kali mampir lagi ya ke sini,” ucap Coklat.

 “Ah enggak ah, kalau masih ada kalian berdua,” jawab si pocong.

 Mereka pun meninggalkan rumah ini, ya mereka tidak lagi mengganggu-ganggu si penghuni rumah malahan mereka lebih suka mejeng di taman atau di mall sambil cari gebetan baru. Setelah itu Coklat dan Ival kembali tidur dengan tenang dan nyenyak. 


 ***


 Sementara empat hantu itu kini duduk-duduk di taman sambil merenungi apa yang sudah terjadi malam itu. Dan ternyata hantu itu adalah orang-orang suruhan dari orang yang mengaku sebagai cowoknya Bu Riny.

 “Haduh, kapok gue dah,” ucap orang yang berperan sebagai pocong.

 “Iya tuh orang rese banget, pantas aja si bos enggak mau ngelakuin ini,” ucap orang yang berperan sebagai kuntilanak.

 “Gue kalau disuruh kayak semalam enggak bakal mau …,” kata orang yang jadi suster ngesot.

 “Hah! Kalian hantu boongan?” tanya si tuyul.

 “Iyalah!” serentak mereka bertiga.

 “Hah oraaaaaaang!” Si tuyul pun kabur. 


 ***


 Lalu bagaimana mereka berempat bisa sampai di rumah Okta? Beginilah ceritanya. Ketika mereka mendengar kabar bahwa Coklat dan Ival ketinggalan rombongan di kampus itu, seorang yang mengaku cowoknya Bu Riny diam-diam mendekati Okta di kantin kampus.

 “Hy, cewek, apa kabar?”

 “Mau apa lo? Gombalin gue, ya?”

 “Bukan, di sini gue pengin ngajak kerja sama sama lo, dan tentunya lo bakal dapat duit.”

 “Hah duit! Mana mana mana?”

 Aduh matanya langsung hijau kalau dengar duit. Si cowok yang mengaku cowoknya Bu Rini lalu menceritakan tentang sebuah perangkap yang sudah dia rencanakan. Yang intinya itu menakut-nakuti Coklat dan Ival.

 “Nah jadi teman gue tuh bertiga nyamar jadi setan buat takut-takutin si Coklat sama si Ival, tenang aja gue bayar kok, yang penting lo mau ngajak mereka nginap di rumah lo, gimana?”

 “Tapi lo enggak bakal ngapa-ngapain gue kan?”

 “Ya enggaklah, mana mungkin gue tertarik sama lo.”

 “Baguslah, gue juga enggak tertarik sama lo. Oh iya, mana duitnya?”

 “Tapi lo setuju kan?”

 “Setuju banget.”

 Dan cowok yang mengaku sebagai pacarnya Bu Riny itu pun langsung mengeluarkan sebuah amplop yang berisi uang seratus juta dollar.

 “Terus kalau mereka berdua kenapa-kenapa gimana?” tanya Okta yang rupanya juga khawatir.

 “Tenang kalau itu gue yang tanggung.”

 Oh ternyata begitu rupanya, pantas saja Kak Okta setuju kalau mereka berdua menginap di rumahnya. Jahat!