Episode 147 - Bilah Angin



“Apakah gerangan yang terjadi…?” hardik kesadaran Cikeusik dari dalam tubuh Harimau Jumawa. Ia melangkah ringan menghampiri Cikartawana. 

Matahari semakin condong di ufuk barat. 

Bintang Tenggara terdiam membatu. Ia gagal mengalahkan Cikartawana dan Bacuga. Ia gagal memperhitungkan bahwa unsur kesaktian Bacuga bukanlah air, melainkan tanah! Karena kesamaan kekuatan antara Badak Bercula Tiga dan Trenggiling Pusaran Kilat, unsur kesaktian petir yang ia kerahkan tak dapat berbuat banyak. 

Andai saja Bintang Tenggara menyadari rangkaian fakta tersebut terlebih dahulu, maka ia dapat saja menyusun strategi lain. Apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur. Bintang Tenggara kini bahkan tak yakin dengan Silek Linsang Halimun sekalipun ia dapat melepaskan diri dari ketangkasan Cikeusik. Tiada guna melompat ke dalam gerbang dimensi di atas batu sebagai upaya melarikan diri. 

Trenggiling Pusaran Kilat, meski telah terputus hubungan menggunakan Ajimat Pumpun, tetap mendatangi Bintang Tenggara. Ia lalu memeluk paha anak remaja itu. Menggigil, dan terlihat pilu sekali. 

“Paman Cikeusik... kami sekedar berlatih.” Cikartawana menjawab ringan. “Jejaka ini ingin sekali menjajal kemampuanku.” Ia melirik Bintang Tenggara, nada bicaranya sedikit sebal. 

Bintang Tenggara mundur selangkah, menyeret Trengginas bersama langkah kakinya. Ia keheranan. Bahkan setelah bertarung menghadapi ahli yang jelas-jelas berupaya mencuri binatang siluman Alas Roban, Cikartawana masih bersedia memberikan pembelaan. Walau, ia menangkap kesan mengejek dari nada bicara gadis tersebut. 

Harimau Jumawa menoleh, lalu mendengus. “Kekuatan adalah utama. Kesabaran adalah kekuatan,” ujar Cikeusik sebelum memutar tubuh dan melangkah pergi.

Bintang Tenggara terpana. Apakah itu salah satu pikukuh Urang Rawayan...? Menurut Raja Bangkong IV, bukankah kata-kata itu datang dari sosok bernama Gemintang Tenggara, yang kemungkinan besar adalah merupakan kakek kandungnya...? 

Cikeusik menghentikan langkah. Sepertinya ia sedang berpikir. Tanpa menoleh, ia lalu berujar, “Daya tarik hitam....” 

Bintang Tenggara mendengar, tapi tak menangkap maksud kata-kata Cikeusik. Tiada sempat terlintas dalam benaknya tentang unsur kesaktian... lubang hitam. Padahal, bisa jadi ini adalah kesempatan untuk bertanya tentang unsur kesaktian tersebut. 

“Pergilah...” usir Cikartawana.

Bintang Tenggara tak tahu harus berkata apa. Ia sedikit menyesali perbuatan egois yang hendak membawa pergi Trengginas. Mungkin memang lebih baik binatang siluman menetap dan hidup dalam habitat alami mereka. Menjamin keberlangsungan makhluk hidup memanglah tugas turun-temurun Urang Rawayan. Siapa dirinya yang hampir berbuat sesuka hati?

“Aku akan menjaga Trengginas,” sambung Cikartawana. Ia menggapai dan menarik perlahan tubuh binatang siluman yang masih terlihat menggigil itu. 

“Suatu hari, bila keahlianku sudah tumbuh di atas kemampuan segel alami Alas Roban, maka aku akan kembali untuk menjengukmu…” 

Bintang Tenggara berujar penuh percaya diri. Kata-katanya tak hanya ditujukan kepada Trengginas, tetapi juga Cikartawana. Andai saja mereka tahu, bahwa di masa depan, mungkin saja takdir akan berkehendak lain. 

Bintang Tenggara segera melompat ke atas batu. 

“Cikartawana… terima kasih.” Bintang Tenggara pun menghilang dari Alas Roban. 


“Tengik! Bodoh! Bebal!” 

Bintang Tenggara seratus persen yakin... yakin seyakin-yakinnya yakin, bahwa ia telah berada di luar hutan angker Alas Roban. 

“Apa isi kepalamu itu!? Kabut!? Asap!? Sampah!?” 

Komodo Nagaradja berangnya bukan kepalang. Akibat sang murid tersayang satu-satunya itu melompat ke dalam wilayah Alas Roban, kesadaran Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara tersegel di dalam mustika retak. Selama hampir tiga pekan, ia terkurung sesak tiada berdaya. 

Bintang Tenggara mencermati keadaan sekitar. Ia merasa pernah mengenal wilayah ini, bahkan mungkin sempat melewati. 

“Hei! Tuli sudah mata hatimu!? Hah!” 

Bayangan tubuh bernuansa merah Komodo Nagaradja kini keluar mengemuka. Bayangkan betapa geramnya ia, sampai-sampai menampilkan sosok yang menyeramkan. 

“Super Guru...? Kemana saja Super Guru selama ini...? Murid demikian khawatir...” Bintang Tenggara sedikit menunjukkan gelagat mirip Sangara Santang, atau mungkin Lintang Tenggara. 

“Aaarrgghh....” Komodo Nagaradja mengerang bak singa lapar. “Tidak tahukah kau bahwa salah satu Raja Angkara mendiami hutan Alas Roban!? Beruntung kau dapat keluar hidup-hidup!”

“Hm...?” Wajah Bintang Tenggara berubah serius. “Sejak Perang Jagat berakhir, Alas Roban didiami oleh Urang Rawayan,” ujarnya pelan. 

“Hah!? Ada manusia yang menetap di dalam sana!? Suku Badui...?” Komodo Nagaradja terlihat penasaran. “Pantas saja aku merasakan aura binatang siluman yang kental dari tubuhmu. Kau memanfaatkan Pumpun Mustika!? 

“Benar.”

“Dan kau hendak merampas binatang siluman yang berada dalam pengawasan suku Badui...?”

“Eh...?” Bintang Tenggara kebingungan. Darimana Super Guru mengetahui hal semacam ini? pikirnya dalam hati. Mungkin Super Guru mengenal dirinya lebih dari dirinya sendiri...

“Hm...? Aneh....” Bayangan tubuh Komodo Nagaradja tetiba menghilang. Ia kembali ke dalam mustika retak. 

“Mungkin Raja Angkara yang Super Guru maksud telah berpindah tempat... namun yang jelas Urang Rawayan bermukim dan menjaga binatang siluman di dalam Alas Roban,” ujar Bintang Tenggara berupaya berkelit. 

“Bukan. Bukan itu maksudku,” bisik Komodo Nagaradja. “Yang aneh adalah mereka...” 

Bintang Tenggara sontak menoleh. Jauh di atas sebuah bukit, tiga sosok serba hitam mengawasi dari kejauhan. Ia lambat menyadari karena ketiga sosok tersebut berada di luar jangkauan mata hati. Sebaliknya, lawan sepertinya telah menyadari keberadaan anak remaja tersebut. 

“Ck!” Melati Dara mendecakkan lidah. “Itu adalah si bangsat yang membongkar upayaku seusai membalaskan dendam keluarga...” 

“Raja Angkara Durhaka sangat menginginkan tubuhnya...,” sambung Dahlia Tembang. 

Kum Kecho hanya diam mengamati. Tak terlalu rumit baginya menyusun sebuah teka-teki sederhana. Lintang Tenggara bukanlah anak dari Gemintang Tenggara. Belakangan, ia mengetahui bahwa teman masa kecilnya, Mayang Tenggara, masih hidup adanya. Sebagai kesimpulan, kemungkinan besar, Mayang Tenggara memiliki anak-anak bernama Lintang Tenggara dan Bintang Tenggara.

Akan tetapi, mengapa memakai nama Tenggara? Siapakah ayah mereka...? pikir Kum Kecho dalam diam. Andai saja ia tahu, bahwa dirinya pernah diselematkan serta menghabiskan waktu bersama Balaputera. 

Terlepas dari itu, Kum Kecho juga mengetahui bahwa Bintang Tenggara, yang sedang berdiri di kejauhan, memiliki keterampilan khusus segel. Anak remaja tersebut secara tak sengaja membuka Segel Sutra Lestari yang membelenggu dirinya selama ratusan tahun. Bukan sembarang segel, tetapi segel tingkat tinggi yang dirapal oleh siluman sempurna. Kemampuan yang sedemikian pada usia muda, akan sangat membahayakan!

Sebagai seorang Putra Mahkota, Kum Kecho juga mengenal setiap satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara serta Pimpinan Pasukan Lamafa Langit. Dengan kata lain, ia menyaksikan langsung persaingan tiada akhir antara Gemintang Tenggara dengan Komodo Nagaradja dalam memperebutkan gelar sebagai ahli terkuat di wilayah tenggara. Dengan demikian, bagaimana mungkin seorang keturunan Tenggara menguasai Tinju Super Sakti dan memiliki tempuling yang kemungkinan besar terbuat dari tulang ekor komodo!? 

Apakah dunia telah terjungkir balik selama dirinya tersegel!? batin Kum Kecho

“Super Guru, apa yang aneh dari mereka...?” 

Cukup tenang karena terpaut jarak, Bintang Tenggara hendak memastikan. Ia mengetahui betul siapa-siapa saja sosok ketiga ahli berpakaian serba gelap di hadapan. Gadis pembunuh di atas perahu, gadis kaki tangan Hang Jebat, dan... Kum Kecho! 

“Ketiganya berada pada Kasta Perak Tingkat 1!” sahut Komodo Nagaradja. "Aneh bukan...?"

“Zap!” 

Meski boros tenaga dalam, Bintang Tenggara segera mengerahkan teleportasi jarak dekat dari Silek Linsang Halimun. Setelah itu, ia memanfaatkan unsur kesaktian petir untuk melesat melarikan diri. Jarak mereka awalnya terpisah hampir seratus meter, tapi kini semakin terpaut jauh. Bagi Bintang Tenggara, ancaman nyata ada di depan mata!

“Menyebar dan tangkap dia!” perintah Kum Kecho. Entah rencana apa yang berkutat di dalam benaknya. 

Jubah rambut Melati Dara terkembang. Dahlia Tembang ringan mengambang. Kum Kecho melompat ke atas Capung Terbang Layang. 

Dalam pelarian, Bintang Tenggara mengutuk. Segel alami seperti apa yang menentukan sendiri tujuan ahli yang melangkah ke dalamnya!? Mungkinkah segel alami Alas Roban sengaja mengantarkan dirinya ke pangkuan musuh!? Segel alami itu pastilah sebal karena aku hendak membawa pergi Trengginas, keluh Bintang Tenggara dalam hati. 

Di saat yang sama, Bintang Tenggara mengingat keadaan di sekeliling. Ia pernah tiba di wilayah ini saat menggunakan gerbang dimensi dari Pulau Dua Pongah. Benar, dirinya saat ini berada di dekat Kota Ahli! 

Bintang Tenggara bergerak memutar. Berbekal kecepatan, ia berharap dapat mengecoh ketiga pengejar, sekaligus berupaya berlari menuju ke Kota Ahli. Bila dapat memasuki kota, maka ia percaya akan terlepas dari ancaman bahaya. Akan tetapi, ia juga menyadari bahwa Kota Ahli masih cukup jauh. 

Kecepatan pengejaran Melati Dara demikian tangkas. Ia melontar jalinan rambut sejauh mungkin ke pepohanan, lalu menarik diri. Dahlia Tembang terbang melayang tak begitu cepat, tapi juga tak lambat. Kum Kecho menumpang di atas binatang siluman yang melesat sangat cepat. 

Tak perlu waktu lama bagi mereka menyusul Bintang Tenggara!

“Cetas!” Bintang Tenggara baru saja menghindar dari lecutan jalinan rambut!

“Bum!” Seekor kutu terjun bebas dari udara, dan berupaya meledakkan diri sedekat mungkin dengan sasaran di bawah. 

Menggeretakkan gigi, Bintang Tenggara merogoh ke dalam mustika retak. Ia mengeluarkan sesuatu yang mirip dengan sebentuk cangkir bertutup...

“Bagaimana matinya binatang-binatang besar. Dirumuskan oleh gambar kecil di gua-gua terpencil. Orang menatap antariksa, atap terang cakrawala. Menyaksikan konstelasi api dan sabuk kosmis tergantung.” *

Bintang Tenggara terlihat berkonsentrasi sambil berkomat-kamit. Konsentrasi dibutuhkan untuk terus berupaya menghindar dari jalinan rambut, ledakan kutu, serta mengingat-ingat. Suaranya pelan, seperti sedang membisikkan sesuatu yang teramat rahasia adanya.

Kum Kecho mendarat jauh di hadapan, seolah menanti buruan yang akan datang dengan sendirinya. Tak susah baginya membaca dengan akurat rencana sederhana Bintang Tenggara untuk melarikan diri ke Kota Ahli.

“Sengat ini, sengat juru tenung kesepian. Sekian tahun terkurung asmara seekor duyung. Di teluk jauh yang tak henti dipeluk angin puyuh. Para pengayuh pernah menyangka sepasang matanya. Adalah cermin kembar, di mana yang bersih… Dan tak-bersih tersapih.” **

Bintang Tenggara berupaya sekuat tenaga mengingat-ingat. Di saat yang sama, ia mendapati kehadiran Kum Kecho di hadapan. Segera ia memutuskan untuk mengubah arah melarikan diri. 

“Brak!” 

Dahlia Tembang mulai beraksi. Bintang Tenggara menabrak sesuatu yang tak kasat mata di saat berbelok. Adalah gelombang getaran bunyi yang berfungsi sebagai dinding, menghalangi rencana perubahan arah lari. Bintang Tenggara berupaya berbelok ke arah lain, namun masih membentur tembok yang sama. Dirinya bak binatang ternak yang sedang digiring masuk kandang. 

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk memacu langkah lebih cepat dan lurus ke depan. Dengan kata lain, Bintang Tenggara menjauh dari Melati Dara dan mendekat ke arah Kum Kecho. 

“Batu sulung batu berkantung. Di punggung gunung orang berkabung. Ada yang hilang dan terhalang. Dari rencana berburu dan bencana limbubu.” ***

Bintang Tenggara terkepung. Di depan menanti Kum Kecho, seribu nyamuk berdenging dan tiga kutu melompat-lompat riang. Di belakang, Melati Dara siap menyabet dan melilit dengan jalinan rambut bilamana terbuka kesempatan. Dari arah samping, Dahlia Tembang memastikan bahwa Bintang Tenggara tak bisa kemana-mana. 

“Cembul Manik Astagina!” teriak Bintang Tenggara usai berkomat-kamit panjang. 

Setelah mengucapkan aji-ajian yang demikian panjang, dan ditutup oleh sebuah teriakan, sebuah gerbang dimensi berpendar. Asal gerbang dimensi tersebut tak lain dari sebuah cembul yang berada dalam genggaman tangan Bintang Tenggara. 

Aji-ajian tersebut merupakan salah satu alasan mengapa tak mudah memanggil perempuan itu. Berpuluh-puluh kali sudah Bintang Tenggara mempertanyakan, mengapakah harus membaca puisi panjang dan meneriakkan kata-kata ‘Cembul Manik Astagina’ sekencang mungkin!?

Dari balik gerbang dimensi, seorang perempuan dewasa merayap pelan. Wajahnya menampilkan kecantikan dengan gaya tempo dulu. Enam gagang senjata tajam berbagai bentuk dan ukuran menancap di sekujur tubuhnya. Sedangkan, dua senjata lagi, yaitu sebilah parang besar dan sebentuk gagang saja, terlihat melayang mengitari sosok tubuh yang mengerikan itu. 

Hanya Bintang Tenggara dan Komodo Nagaradja yang dapat melihat sang dewi dan senjata-senjatanya. Andai saja lawan tak mengancam jiwa, maka Bintang Tenggara pastinya tak akan memanggil Dewi Anjani!

Kum Kecho tercekat. Ia sempat mendengar teriakan Bintang Tenggara akan Cembul Manik Astagina. Jika benar adanya, maka akan mengemuka senjata-senjata yang dulunya pernah dikerahkan oleh seorang ahli yang sangat ia benci...

“Hoaahhmm….” Dewi Anjani menguap lebar! “Apakah dikau merindu kekasih hatimu, wahai kekasihku Komodo Nagaradja…?”

“Mimpi di petang hari!” tanggap Komodo Nagaradja. 

Jarak Bintang Tenggara dari kepungan Kum Kecho, Melati Dara dan Dahlia Tembang masing-masing terpaut sekira tiga puluh meter. 

“Mustika Pencuri Gesit!” panggil Bintang Tenggara. Seketika itu juga, gagang tanpa bilah yang melayang mengelilingi tubuh Dewi Anjani melesat ke dalam genggaman tangan!

Putra Mahkota Negeri Dua Samudera, menyadari akan sebuah kenyataan pahit! Tak diragukan lagi, ia kini dapat melihat sebentuk gagang di tangan kanan Bintang Tenggara. Ia sangat mengenal gagang golok itu!

“Golok Mustika Pencuri Gesit, salah satu dari Cembul Manik Astagina...,” gumam Kum Kecho waspada. 

“Swush!” 

Bintang Tenggara mengalirkan tenaga dalam, lalu memutar tubuh sambil mengayunkan gagang Mustika Pencuri Gesit. Seketika itu juga, kristal di ujung gagang berpendar. Akibatnya, angin membeku dan mengeras, menjadi sebuah bilah nan pendek dan transparan. Akan tetapi, kesan yang ditampilkan dari bilah golok angin tersebut seolah tanpa batas! 

“Bertahan!” pekik Kum Kecho sambil mengeluarkan Kepik Cegah Tahan!

“Zrash!” 

Kum Kucho dan Kepik Cegah Tahan, terdorong keras hampir duapuluh meter. Setengah jalinan rambut Melati Dara yang menjadi bagian dari pertahanan terpotong, dan gadis belia itu terpelanting. Dahlia Tembang terjungkal karena unsur kesaktian bunyi sekalipun tiada kuasa menahan bilah dari golok angin!

Di kejauhan, Tiga Ahli Kasta Perak Tingkat 1, dalam satu kedipan mata terpental di hadapan seorang Ahli Kasta Perunggu Tingkat 8! 

Tidak hanya ketiga ahli itu, wilayah dalam radius tiga puluh meter dari Bintang Tenggara seolah baru saja ditebas oleh golok milik raksasa yang tajamnya bukan kepalang! Pepohonan, bebatuan, beberapa binatang malang, apa saja dalam radius tersebut... dipangkas rata!

Kum Kecho menyingkirkan kubah Kepik Cegah Tahan. Raut wajahnya terlihat campur aduk, antara senang dan pilu. Apa pun itu, segera ia bangkit berdiri dan merangsek maju! 

“Dewi Anjani!” teriak Kum Kecho di kejauhan... “Izinkan diriku untuk turut mengikat sebuah kesepakatan!”

Walaupun tak bisa melihat dan merasakan kehadiran sang dewi, Kum Kecho menyadari bahwa sosok tersebut pastilah berada di dekat Bintang Tenggara. Manfaat utama dari Cembul Manik Astagina, adalah memanggil Dewi Anjani yang akan menemani dalam pertempuran, serta meminjamkan berbagai jenis senjata. Demikian kodratnya. 

Terlambat... Bintang Tenggara telah menghilang di balik pepohonan yang tumbang dan dedaunan yang berguguran.  



Catatan:

limbubu/lim·bu·bun angin puting beliung; angin puyuh

*) Kutipan dari puisi berjudul ‘Teropong Orang Gunung’ karya Kiki Sulistyo. 

**) Kutipan dari puisi berjudul ‘Skorpio’ karya Kiki Sulistyo.

***) Kutipan dari puisi berjudul ‘Batu Sulung, Batu Berkantung’ karya Kiki Sulistyo.

Kiki Sulistyo adalah sastrawan dari Nusa Tenggara Barat. Lahir di kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku puisinya adalah Hikayat Lintah (Akarhujan, 2014), Rencana Berciuman (Halindo, 2015), dan Penangkar Bekisar (Nuansa Cendekia, 2015). Ia juga menulis dan menyiarkan cerita pendek serta rajin mengisi kolom di surat kabar lokal. Bersama sejumlah kawan mendirikan dan mengelola Komunitas Akarpohon. Suatu komunitas non sanggar yang mengupayakan penerbitan buku, kelas menulis, dan proyek-proyek seni lainnya.