Episode 12 - Aster Glass



Sudah beberapa hari berlalu semenjak Neil menyelesaikan misi Rank A. Selama itu juga, penyesalannya bertambah hari demi hari. Akhirnya, hari ini rasa takutnya mencapai puncak.

Neil mengambil laporan khusus yang memiliki logo S besar pada sudut kertas. Huruf itu membuat beban pikirannya meningkat sampai sepuluh kali lipat. Sekarang, ia mengerti kenapa anggota yang dikirim lebih dari satu tim. Faktanya, ada empat tim yang dikirim dalam misi khusus ini.

Neil tidak tahu bagaimana dengan situasi di luar negeri, tapi ini pertama kalinya OFD menyatakan outsiders sebagai Rank S. 

Neil yang duduk sendirian di tempat tunggu saat ini hanya bisa menghela. Ia sudah mengenakan seragam yang berupa jaket hitam dengan lili merah sebagai logo utama. Seperti biasanya juga, syal merah yang panjang ia balut hingga menutup sebagian mulut.

Waktu satu hari yang ia miliki kemarin, digunakannya untuk istirahat selama seharian. Mengenai kondisi fisik, dirinya tidak pernah mempunyai masalah. Namun, setelah misi terakhir yang ia jalani, kondisi mentalnya menurun. 

Jika Neil berkata bahwa dirinya tidak terganggu akan hal itu, tentu saja adalah kebohongan besar. Meski Neil bisa menghadapinya seperti biasa, perasaan hatinya semakin memburuk ketika tidak ada seorang pun yang menyalahkan atas kegagalannya saat itu.

Neil berhasil menyelematkan satu orang, sebagai gantinya dua orang harus mati dan Bell menghilang entah ke mana. Walaupun seperti itu, Arbi tidak mengambil tindakan khusus, termasuk atasan yang lainnya.

“Sky Chaser…”

Rank A, itulah rank aslinya. Namun, Rank Outsider ditentukan bukan dari jenis, tapi dari kemampuan dan ukuran tubuh. Karena itu, meski ini pertama kalinya ia mengambil misi Rank S, nama Sky Chaser sendiri sudah pernah ia dengar sebelumnya walaupun belum pernah berhadapan secara langsung. 

Mungkin kejadian yang sama seperti Black Horn dan Venus Trap sebelumnya. Evolusi dalam waktu singkat. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi.

“Huh… misinya di,” 

Tidak masuk akal, hanya itu yang bisa Neil pikirkan ketika ia melihat lokasi kejadiannya.

New York City, berarti di luar Indonesia. Lebih tepatnya berada di Jembatan Brooklyn. 

OFD bukanlah Divisi yang hanya diciptakan di Indonesia saja. Hampir setiap negera, setidaknya membangun bangunan seperti ini. Sekali lagi, Neil hanya bisa merasa aneh. Kenapa harus Indonesia yang letaknya sangat jauh dari lokasi target?

Bahkan menggunakan pesawat sekali pun butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke New York.

Neil melihat ponselnya yang baru dibeli kemarin. ponsel lamanya rusak karena ia harus masuk ke dalam air saat di misi sebelumnya.

Jam tujuh lewat. Mereka seharusnya berangkat sekitar jam delapan kurang. 

Melihat suasana Lobby yang rasanya tidak terlalu ramai, dirinya hanya bisa bersandar pada sofa yang lumayan empuk. Meski masih sepagi ini, tidak seharusnya bangunan dengan tingkat tinggi ini sepi. Selain itu, entah di mana anggota tim dan ketiga tim yang lainnya.

“Neil…” 

Suara seorang gadis yang sangat familiar menarik perhatiannya. Navi perlahan mendekati Neil dengan wajah yang jarang ia tunjukkan—bingung. Di sampingnya, ada juga anggota tim Flame Liliy yang lain—Reina. Meski jenis seragam atau jaketnya berbeda, logo Flame Lily dan angka 04 yang menyatakan tim mereka pada armband-nya sama.

“Navi, Reina, dari mana saja kalian?” Neil berdiri dari sofa.

“Neil, jangan bilang kau mengganti nomormu?” Navi dengan ekspresi kerepotan, mendekap.

Ucapan Navi yang tidak sepenuhnya salah, membuat Neil berpikir sejenak.

“Aku tidak bisa menghubungi dari kemarin.” Navi menunjukkan reaksi kecewa. “Seharusnya kau mengatakannya padaku.”

“Ponselku rusak saat misi kemarin. Jadi aku membeli yang baru. Ada apa?”

“Arbi menghubungiku kemarin. Keberangkatan misinya ditunda sampai jam sepuluh nanti. Lagipula, kemarin aku mengunjungimu, kenapa kau tidak membukakan pintu?” Navi mengeluh sambil berdeham.

Satu-satunya alasan kenapa Neil tidak membukakan pintu kepada Navi hanya satu saja. Kemungkinan besar karena ia sedang tidur. Ia memutuskan untuk diam saja. “…”

“Jangan diam saja! Padahal aku datang ke sini pagi-pagi karena khawatir padamu.” Navi menutup mulutnya yang sedang membuka lebar, tak bisa menahan rasa kantuk. “Aku juga tidak sempat sarapan. Ugh…”

“Navi, sejak awal tidak ada yang memaksamu untuk datang pagi-pagi.” Reina memotong. “Seandainya kau tidak datang pun, aku bisa menemani Neil,” ucap Reina merasa tak keberatan.

Navi menatap sinis Reina. “Hah! Tidak mungkin, ‘kan aku membiarkan kalian berduaan begitu saja.”

“Apa ada masalah jika aku berduaan dengan Neil?” tanya Reina.

Neil yang daritadi hanya mendengarkan, mulai tak mengerti apa yang mereka bicarakan.

“Ngomong-ngomong, di mana Nadia? Dia tidak bersama kalian?” Tanya Neil, mencoba mengganti topik dan menenangkan keadaan.

Navi dan reina saling bertatapan tidak lama. Melihat mereka yang memerhatikan satu sama lain, membuat Neil sedikit khawatir.

“Apa sesuatu terjadi pada Nadia?”

“Aah, yah, sesuatu memang terjadi, tapi bisa dibilang secara tidak langsung.” Navi yang menjelaskan, memalingkan pandangan sambil merasa canggung.

Neil yang tidak paham maksud Navi, mengalihkan mata ke arah Reina. “Reina?”

“Akan lebih baik, jika kau berbicara langsung dengannya.” Reina menyarankan.

Navi yang setuju, memberikan ponsel miliknya pada Neil. Dengan kondisi ponsel Neil yang masih baru, rasanya tidak mungkin ia punya nomor milik Nadia.

Neil mengambilnya tanpa ragu, lalu dengan segera ia menghubungkan sambungan ke ponsel Nadia.

Seseorang mengangkat telepon.

“Navii?”

Suara seorang gadis muda yang lemah bisa didengar keluar melalui speaker ponsel. Karena menggunakan ponsel milik Navi, gadis yang bersuara itu salah mengira.

“Nadia, ini aku.” Neil menggunakan suara tenang dan tegasnya seperti biasa.

“Eeh, N-Neil? K-Kenapa menghubungiku pagi-pagi s-seperti ini?”

Karena suatu alasan yang tak jelas, Nadia tiba-tiba tergugup. Seandainya saja Nadia berada di hadapannya saat ini, entah ekspresinya akan seperti apa. Rasanya, Neil ingin melihat hal itu.

“Navi dan Reina juga bilang kalau terjadi sesuatu padamu. Jadi, aku sedikit khawatir. Kau baik-baik saja, ‘kan?”

Neil memandang Navi dan Reina yang sedang dalam kondisi tenang bergantian. Lalu, fokusnya kembali pada ponsel yang sedang ia gunakan untuk berbicara.

“Aah, aku tidak apa-apa. Hanya saja Nenekku saat ini sedang sakit, jadi untuk beberapa hari ini sepertinya aku tidak bisa meninggalkan rumah. Aku mengambil cuti sampai keadaannya membaik.”

Neil merasa sedikit lega.

“Aku mengerti. Satu lagi, aku baru mengganti ponselku. Seandainya kau ingin memerlukan sesuatu, hubungi Navi saja!”

“Eh, bukankah akan lebih mudah jika kau memberitahukanku saat ini juga?” 

Neil bisa membayangkan, betapa bingungnya Nadia saat ini. 

“Aku akan memberitahumu jika kita berdua sudah bertemu secara langsung.”

Neil menatap Navi dan Reina kembali sambil memberikan kode untuk mematuhi perintahnya. Di sisi lain, Navi dan Reina yang tidak berani menentang hanya mengangguk sambil merasakan paksaan yang berat.

Wajah Neil seolah berkata, seandainya salah satu dari mereka memberitahu Nadia nomor ponsel miliknya, maka sesuatu hal buruk akan terjadi pada mereka.

“Uugh….” Terdengar jelas Nadia mengerutkan bibir.

Bagi anggota kelompok, bisa berhubungan dengan pemimpinnya sangatlah penting. 

“Yasudah, aku tutup. Kudoakan Nenekmu agar lekas sembuh.” 

“Ah, Neil… tunggu sebentar.” Suara Nadia tergesa-gesa. “Aku benar-benar minta maaf tidak bisa ikut misi kali ini. Aku dengar dari atasan, kalau kita mendapat tugas untuk memburu Rank S. Maaf, tidak bisa membantu saat kalian sedang kerepotan seperti ini.”

Nadia mengucapkan maaf beberapa kali, membuat Neil sedikit terganggu. Tidak ada yang bisa disalahkan jika hal seperti ini terjadi. 

Lagipula, seandainya Nadia ikut, Neil harus mengatakan bahwa gadis itu akan menjadi beban saja. Karena itu, mengetahui bahwa Nadia yang masih merupakan Agen pelatihan itu tidak ikut dalam misi berat seperti ini membuat Neil sedikit lega.

“Nadia, berhentilah mengucapkan maaf lebih dari satu kali. Fokus saja merawat Nenekmu yang sedang sakit saat ini.”

“Aah, m-maaf, Neil.” Mendengar itu, hanya bisa membuat Neil menghela. “Terima kasih sudah menghubungiku.”

Tanpa membalasnya lebih lanjut, Neil menutup sambungan. Kemudian memberikan ponselnya kepada si pemilik.

“Neil, bukankah yang barusan itu sedikit berlebihan?” Navi membuat wajah tidak nyaman. “Lagipula, kenapa aku yang harus Nadia hubungi? Terdengar merepotkan!” Ia mengeluh.

Dalam kondisi normal, Neil biasanya memiliki waktu luang yang cukup banyak. Beberapa hari ini adalah sebuah pengecualian, sehingga ia mengambil tiga misi dalam waktu kurang dari tujuh hari.

Kondisi yang sama berlaku dengan Navi. Jika dibandingkan Reina yang masih mengambil pendidikan meski melalui jalur khusus, Navi seharusnya tidak sesibuk itu. 

“Navi, kau bilang tadi kau belum makan. Mau ke kantin?” Neil mencoba mengganti topik.

“Tolong, jangan mengganti topik pembicaraan tiba-tiba.” Navi tiba-tiba mengatakannya secara formal, sambil memawang wajah kecewa. Namun, Neil memang benar. Perutnya saat ini benar-benar kosong.

Neil yang memimpin, berniat pergi ke kantin sebelum langkahnya kembali berhenti ketika melihat seseorang yang tidak asing menghampiri mereka bertiga.

“Hmm, untuk Navi bisa bangun sepagi ini, rasanya seperti sebuah keajaiban.” Gadis itu memberi kritik sebagai sebuah sapaan. 

“Jangan meremehkanku. Selama aku bersemangat, aku bisa bangun pagi!” Tanpa pikir panjang, Navi membalas dengan senyum lebar. “Kemarin saat mengambil misi Rank A pun aku bangun sepagi ini!”

Tingginya hanya sampai dada Neil. Bagi seseorang yang berumur delapan belas tahun, gadis itu nampak pendek. Rambut hitamnya yang bergelombang dipotong pondok. Mengenakan seragam agen khusus berwarna hitam sepenuhnya. Di bagian jaketnya, ada sebuah logo silhoutte bunga aster berwarna biru air yang tidak terlalu besar.

“Yah, jika itu Navi aku tidak kaget. Neil dan Reina, ya? Rasanya sudah lama tidak bertemu.”

Tidak jarang Neil melihat gadis pendek itu bolak-balik di gedung utama. Namun, mereka berdua yang tidak punya urusan sangat jarang menyapa satu sama lain. 

“Aku yakin, beberapa hari yang lalu melihatmu di lobby utama.” Neil menyindir dengan menyanggah. “Noxa, apa yang kau lakukan sepagi ini di lobby?” tanya Neil.

Alasan kenapa gadis pendek bernamakan Noxa itu menyapa tim Flame Lily adalah karena mereka akan bekerja sama dalam penanganan misi Rank S kali ini. 

“Aku bisa menanyakan hal yang sama pada kalian bertiga.” Noxa tersenyum lebar. Ia merendahkan kedua alis, memasang ekspresi serius dan santai di saat yang bersamaan. “Tapi, karena kau yang bertanya duluan, kurasa tidak punya lain selain menjawabnya terlebih dahulu. Aku punya urusan dengan seseorang, jadi aku datang lebih cepat.”

Dibandingkan dengan Neil, tidak mungkin Noxa melakukan kesalahan seperti datang pagi-pagi karena salah jadwal. 

“Kami—“

Di saat Neil ingin menjelaskan, Noxa memotong. “Tidak perlu menjawabnya. Sebagai gantinya, aku ingin menanyakan hal yang lain.”

Seperti biasa, Neil selalu tidak nyaman dengan tindakan Noxa. Bukan berarti gadis pendek itu orang jahat atau semacamnya.

“Di mana agen pelatihan yang ada di timmu?” Noxa memutar-mutar kepala, mencari Nadia.

Nada bicara Noxa menjelaskan, bahwa dia bertanya bukan hanya karena penasaran. 

“Ada alasan yang membuatnya tidak bisa ikut misi kali ini.”

“Hmm, bahkan saat aku mendapatkan kesempatan, gadis itu menghindariku. Merepotkan sekali.” Kali ini, Noxa memberikan tatapan dengan maksud tertentu pada Navi. Namun, tidak lama. “Rank A, ya?” Tiba-tiba Noxa bergumam seperti teringat sesuatu. “Aku sebagai perwakilan dari Aster Glass, mengucapkan selamat kepada kalian karena berhasil menyelesaikan misi Rank A. Akhirnya kau mau maju, Neil!”

Noxa mengangkat tangan, berharap Neil balik membalasnya.

Akan tetapi, Neil yang tidak mengerti hanya diam saja. Kata-kata formal dan tindakan sok dekat yang Noxa lakukan hanya membuat dirinya bingung.

“Ugh, Neil kau harusnya menepuk tanganku.” Noxa menurunkan tangan sambil merasa kecewa.

“Maaf,” jawab Neil singkat. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Noxa melakukan itu.

“Aku sering melihatmu dan Rico melakukannya. Jadi, aku ingin mencobanya juga. Tapi, kau malah diam saja dan memasang muka bingung.” Noxa menghela napas.

“Daripada itu, aku sedikit penasaran.” Neil membuka mulut dengan suara serius. “Apa kau punya urusan dengan Nadia? Apa kalian saling kenal satu sama lain?”

Mendengar perkataan Noxa beberapa saat yang lalu, sedikit menganggu pikiran Neil. Dari yang ia tahu, mereka berdua tidak pernah berhubungan sama sekali, bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.

“Aku memang punya urusan dengannya, tapi kami berdua memang belum pernah berbicara sekali pun.” Noxa mengganti nada bicaranya, yang awalnya santai jadi lebih serius. “Karena itu…”

Neil sedikit terkejut dengan apa yang Noxa lakukan. Seperti seorang gadis yang tidak punya malu. Dengan senyum lebarnya yang terlihat seperti anak-anak, dia mendekati Navi dan merangkul tangannya begitu dekat.

“Eeh… Noxa?” 

Kulit mereka saling bersentuhan. Sambil terkejut, wajah Navi memerah padam.

Satu-satunya orang yang cukup dekat dengan Noxa hanyalah Navi. Neil harus berkata bahwa mereka memang cocok, tapi ia tidak menyangka mereka sampai sedekat ini. Bukan berarti Neil tidak suka, tapi melihat Noxa mendekati Navi dengan cara seperti itu hanya memberikan kesan aneh pada setiap orang yang melihatnya.

“Karena itu, aku akan meminjam gadis bodoh ini sebentar!”

Memperkuat rangkulannya, Noxa menarik Navi dengan paksa. 

Navi yang terjebak, mencoba kabur. Namun usahanya gagal. Sejak kapan Gadis pendek itu bisa mengalahkan Navi dalam adu kekuatan? Namun, rasanya tidak terlalu aneh jika hal itu terjadi.

Navi adalah seorang gadis bodoh, itulah yang dikatakan Noxa. 

Fakta kalau Navi melupakan bahwa pengalaman Noxa jauh lebih banyak daripada dirinya, membuat ia tidak bisa bergerak. Mau bagiamana lagi, dia sedang berhadapan dengan salah satu dari sepuluh peringkat teratas saat ini.

Aster Glass, yang merupakan tim peringkat dua, di bawah Sleeping Lion.