Episode 44 - Bisakah kau menolongku?



“K-kamu baik-baEpisode 44

Bisakah kau menolongku?

“K-kamu baik-baik saja?!”

Keadaan Bagas yang tiba-tiba menjadi buruk – lagi – membuat perasaan Erina menjadi gundah. Ani dan Elang mengatakan kalau kemungkinan mereka takkan datang. Meskipun dia bisa saja memanggil mereka, tetapi dia takkan melakukan itu kecuali keadaan menjadi semakin parah dan dia tak dapat menanganinya.

“A-aku ambilkan air dulu. Eh!”

Erina hendak meninggalkan Bagas untuk pergi mengambil air minum, tetapi tangannya tertarik oleh seseorang yang sedang lemah keadaannya.

“Bawa aku bersamamu.”

Dengan memegang tangan Erina, Bagas bermaksud meminta untuk membawanya ke bawah. Meskipun sesaat dia bingung sekaligus gundah di saat yang bersamaan, akhirnya dia mengerti maksud Bagas setelah melihat ekspresi yang tak memiliki tenaga untuk bergerak sendiri.

“U-um.”

Erina lalu bergegas menuju sisi Bagas. Mengangkat tangan Bagas ke atas bahunya, lalu setelah dia merasa Bagas siap bergerak, Erina mulai ikut berdiri.

Tanpa disangka, tubuh yang ukurannya lebih besar dari dirinya itu, terasa lebih ringan dari kelihatannya. Tak seperti hari pertama di mana Bagas mulai jatuh sakit, kali itu berat tubuhnya benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Momen awal Erina membantu Bagas berdiri, dia benar-benar terkejut karena dia seperti sedang mengangkat bantalan yang dapat bergerak sendiri. Benar-benar ringan.

Membantunya sampai ke ruang tamu, tanpa berbicara Bagas mengisyaratkan Erina untuk mendudukkannya ke sofa satu orang.

Erina berusaha sebisa mungkin untuk tak melepas genggamannya secara tiba-tiba. Karena pada keadaannya yang saat itu, bisa saja dia membuat keadaan Bagas menjadi lebih parah.

“Aku akan ambilkan minum.”

Setelah mendudukkan Bagas, Erina bergegas menuju dapur untuk mengambilkan air minum.

Segelas air mineral dibawa – dia juga membantu seseorang yang lemah keadaannya – bahkan untuk memegang gelas berisi air minum saja tak bisa. Air minum dihabiskan dalam sekali teguk.

Gelas diambil, lalu dia tak tahu apa yang harus dilakukan setelah itu. Erina sempat bingung, apa yang harus dia lakukan selanjutnya, sampai Bagas menyadarkannya dari kebingungan.

“Ada seseorang di depan, bukakan pintunya.”

Bagas mengatakan itu saat ada seseorang yang mengetuk pintu depan. Erina yang telah tersadar langsung bergegas pergi membukakan pintu. Pintu dibuka, dan dia menemukan sosok dari adik iparnya.

“Ani!”

“Hai, maaf aku tak memberi kepastian. Tapi pada akhirnya, aku datang karena khawatir kamu gak tahu mau ngapain kalau Bagas sudah siuman nanti.”

“Kalau soal itu sih...”

Erina mengatakan hal itu dengan tak secara langsung mengisyaratkan kalau seseorang yang mereka maksud sekarang sedang berada di ruang keluarga. Ani bereaksi dengan hal itu dan langsung masuk ke dalam rumah.

Tepat seperti yang diberitahukan, Bagas yang telah siuman sekarang sedang berada di ruang keluarga dan duduk di kursi satu orang. Ani mendatangi Bagas dan langsung mengecek keadaannya.

“Apa keadaanmu sudah baik?”

Dia mengatakan hal itu dengan menaruh tangan di kening Bagas, mengamati wajahnya dan memastikan kalau keadaannya tak seburuk sebelumnya.

“Ya.”

Bagas menjawab di saat Ani sedang mengecek keadannya.

“Baguslah. Kalau gitu aku akan menyiapkan makan malam.”

“A-aku ikut.”

“Apa yang bisa kamu bantu nanti?”

“Ya, apa saja yang bisa kulakukan.”

“Kalau gitu dimulai dari yang kecil-kecil dulu ya.”

Setelah memastikan kalau keadaannya sudah jauh membaik, Ani menarik tubuhnya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Erina juga meminta Ani agar dia bisa membantunya.

Bagas ditinggalkan sendirian di ruang keluarga, namun tak beberapa lama, Erina datang dengan membawakan sebuah gelas berisi minuman hangat dan juga sebuah piring.

“I-ini kubawakan teh hangat, dan roti untuk mengganjal laparmu.”

Erina menaruh gelas berisi teh hangat dan lembaran roti yang ada di piring.

Setelah menaruh di atas meja, dia menunggu Bagas bereaksi. Bagas awalnya tak memerhatikan gerak-gerik Erina, tetapi setelah melihat wajah menunggu Erina, akhrinya dia berbicara.

“Kembalilah.”

Dengan itu Erina mendapatkan apa yang dia inginkan. Berbalik dan melangkah ke dapur, namun ada satu hal yang kurang saat dia menunggu reaksi Bagas, yaitu rasa terima kasih. Selama dia berada di sisi Bagas, membantunya dengan apapun yang dia bisa. Dia sama sekali belum mendapatkan rasa terima kasih darinya.

Meskipun begitu dia tak ingin menyerah di situ, jika dia terus berusaha keras saat dia memiliki waktu di sisinya, pasti suatu saat nanti Bagas akan mengucapkan rasa terima kasih padanya.


***


Pikiran Bagas penuh dengan hal yang tak dapat dia pikirkan sebelumya. Tentang pekerjaan yang dia tinggalkan sewaktu dirinya sakit, dan satu hal yang paling penting selain itu adalah, penyelesaian konflik yang terjadi antara Rasha dengan tim bola basket inti.

Sudah tiga hari sejak kejadian itu berlangsung dan dia bahkan belum mendapatkan kabar dari siapapun tentang kejadian itu. 

Dia bangkit dengan sedikit terhuyung, melangkah ke depan lemari kecil ruang keluarga, dia mengambil ponsel genggam untuk menghubungi seseorang. 

Dia berjalan menuju ruang tamu untuk menelepon, dia melakukannya agar Ani atau Erina tak mendengarkan apa yang sedang dia bicarakan dengan orang yang dia telepon. 


***


Beberapa saat setelah makanan telah siap untuk disajikan, Ani meminta Erina untuk memanggil Bagas. Dia berjalan menuju ruang keluarga, tetapi dia tak menemukan Bagas di situ. 

Saat mengira-ngira Bagas ada di mana, dia menemukan suara yang berasal dari ruang tamu. Suara itu dia tandai sebagai suara Bagas yang sedang berbicara dengan seseorang. 

Dia mendekat menuju ruang tamu, dan berhenti sebelum sampai saat dia mendengarkan pembicaraan Bagas yang dirasa sepertinya penting. Dia tak ingin merusak suasana saat Bagas berbicara dengan seseorang. 

Tetapi dengan siapa dia berbicara?

“Tenang saja adikku. Kau tak perlu mengkhawatirkan masalah kecil seperti itu. Yang lebih penting adalah, bagaimana kau mengatur kesehatanmu agar kau bisa menyelesaikan masalah ini tanpa ada halangan.”

“Kau tak perlu menasehatiku tentang bagaimana cara mengatur kesehatan.”

“Hahaha, begitulah dirimu. Padahal aku hanya ingin memberikan rasa perhatian pada seorang sepupu. Tapi ya sudahlah, kutunggu kehadiranmu besok. Dan kalau saja kau mendapatkan halangan untuk hadir, beritahukan dulu kepadaku, karena aku tak ingin menunggu tanpa kepastian.”

“Akan kupastikan aku akan datang.”

“Mm, baguslah. Aku suka bagian itu dari dirimu. Kalau begitu, kau bisa menutup teleponnya sekarang.”

Seseorang yang berbicara di dalam telepon mengisyaratkan Bagas untuk menutup teleponnya, dan dia menutup telepon tanpa membalas.

“Apa kau mendengarkan?!”

Bagas berbicara seperti itu, dengan maksud untuk mengisyaratkan Erina agar dia memerlihatkan sosoknya. Di sisi lain, Erina sangat terkejut kalau dia yang sedang bersembunyi di balik tembok dapat diketahui keberadannya.

Dengan sangat perlahan, dia menunjukkan diri. Perasaannya sangat takut, pikirannya kacau, dan firasatnya mengatakan kalau dia pasti akan dimarahi karena sudah menguping.

“...U-um.”

Tangannya bergetaran, dan dia menggigit bibirnya berharap rasa khawatir berlebihannya menghilang.

“Kau sudah tahu kalau aku akan mulai sekolah besok. Jadi kalau ada yang ingin kau katakan nanti, katakan saja atau kau takkan bisa mengatakannya besok.”

Namun, apa yang datang dari perkataan Bagas bukanlah amarah maupun rasa tidak suka. Melainkan dia menyuruh Erina agar dia mengatakan apa yang dia ingin beritahukan kepada Bagas.

Sesaat Erna tak tahu kenapa Bagas bereaksi seperti itu, tetapi setelah menelaah lebih lanjut, akhirnya dia mengerti.


Setelah makan malam selesai, sebelum matahari benar-benar tenggelam Ani bergegas pulang ke rumah. Namun sebelum dia benar-benar pergi, Elang menitipkan sesuatu padanya agar diberikan kepada Erina.

“Oh iya, Elang menitipkan sesuatu padaku.”

Dia mengambil apa yang dititipkan Elang padanya dari dalam saku celana. Itu adalah secarik kertas, yang pasti di dalamnya terdapat sebuah tulisan.

“Baiklah, besok kami akan pergi naik angkutan umum. Tapi kemungkinan aku akan kembali untuk memersiapkanmu terlebih dahulu.”

“Eh?!”

Erina sempat merasa bingung saat Ani mengatakan hal itu. Seperti akan terjadi suatu hal penting besok yang dia tak boleh ketinggalan.

“Kamu tidak lupa bukan, lusa adalah hari di mana pertunangan diadakan.”

Mendengar perkataan itu, Erina merasa syok karena dia melupakan hari itu, hari di mana dia akan ditunangkan oleh seseorang dari negeri asal ibunya.

“O-oh, iya, hari itu... lusa depan.”

Mengingat kembali acara yang sempat dia lupakan, membuatnya gundah bulana. Karena beberapa hari sebelumnya dia terus memberikan perhatiannya pada Bagas yang sedang sakit, membuatnya lupa akan hari sepenting itu akan terjadi besok.

Di depan mata Ani, kakak iparnya sedang sangat terlihat tak berdaya. Dan bisa juga dikatakan kalau Erina sedang tak tahu apa yang harus dia perbuat. Tetapi sesuatu sepertinya telah menyadarkannya, membawa ruh kembali ke tubuh.

Melihat hal itu, Ani merasa cukup lega karena ada sebuah harapan yang bisa menolong Erina untuk keluar dari konflik yang terjadi di dalam dirinya.

“Baiklah, sekitar jam 8 mungkin aku sudah sampai ke sini. Aku ingin kamu untuk langsung bersiap-siap untuk pergi setelah aku sampai.”

Erina tak menjawab, tetapi dia mengerti apa yang harus dia lakukan. 

“Kalau gitu aku pulang.”

“Umm, terima kasih, Ani.”

Ani pamit untuk pulang, Erina mengucapkan rasa terima kasihnya setelah semua pertolongan yang diberikan. Membuatnya merasa memiliki alasan untuk terus berjuang sampai akhir waktu yang dia miliki.

Setelah kepulangan Ani, Erina menutup pintu depan, dia juga mengunci pintu karena takkan ada yang datang dan juga mereka berdua—Ani dan Bagas tak ada yang bermaksud pergi keluar.

Dia lalu menuju ke belakang, karena sebelumnya Bagas pergi untuk menyegarkan diri—mandi. Di dapur, dia melihat sosok yang telah segar sedang menenangkan diri dengan segelas teh hangat.

Tubuhnya telah dibasuh dan tak ada bau tak sedap yang dapat tercium darinya. 

Saat itu Bagas duduk di posisi yang membelakangi ruang keluarga, dan Erina berdiri di belakangnya. Merasakan hatinya berdegup kencang karena dia memiliki permintaan yang harus dia katakan.

“Katakan saja.”

Namun, sebelum dia dapat memanggil Bagas dan mengucapkan permintaannya, Bagas telah lebih dahulu menyuruhnya untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.

“A-aku-aku... itu, mm, bisakah kamu... mendengarkan permintaanku, nanti malam?”

Erina mengatakannya, tetapi reaksi yang dia tunjukkan sangat kikuk, terkesan gugup. Hal itu juga membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Pikirannya hampir menjadi kacau di tengah jalan, namun dia berhasil mengatakannya.

“Akan kutunggu di balkon.”


Malam hari.

Erina berada di dapur, membuat dirinya agar siap untuk berbicara serius dengan Bagas. 

Dan setelah dirinya benar-benar siap, dia berjalan menuju lantai dua. Ruangan di mana Bagas menunggu. Hatinya telah mantap, pikirannya sejernih air yang mengalir. Mentalnya juga benar-benar telah dipersiapkan untuk menerima jawaban apapun yang akan diberikan padanya.

Setelah dia sampai di ruangan yang dijanjikan, dia melihat ke arah barat, posisi di mana ksatrianya sedang menunggu kehadirannya. 

Posisi tubuhnya tegap lurus, wajahnya menghadap ke langit. Seolah-olah dia sedang menunggu anugerah yang datang padanya. Angin semilir yang menyapu wajahnya seakan dapat membuat para wanita terpesona dengan kebanggaannya.

Erina maju beberapa langkah ke depan, sehingga hanya ada beberapa jarak di antara mereka.

Bagas berbalik seakan dia telah sangat siap untuk mendengarkan, dan memberikan jawaban atas apa yang akan dikatakan Erina nantinya.

Beberapa saat yang lalu, Erina telah memersiapkan seluruhnya. Namun, saat itu juga, persiapan panjang yang telah dia lakukan seolah-olah telah hancur oleh tatapan tajam oleh sang ksatria.

Jantungnya berdegup kencang, pikirannya hampir berantakan, tangan dan kakinya lumayan bergetaran, wajahnya juga mulai memanas.

Mencoba menenangkan diri, dia menaruh satu tangan ke depan dada. Namun, setiap kali dia ingin mengucapkan kata-kata, sebuah tembok tak terlihat pasti menghalanginya. Membuatnya terus mengulangi hal yang sama berulang kali.

Merasa tak bisa bersabar lebih lama lagi, sang ksatria datang mendekat. Erina mencoba untuk bereaksi dengan melangkah mundur, tetapi tubuhnya yang bergetaran tak mampu melakukan hal itu.

“Mau... a-aku...”

Hal yang bisa Erina lakukan adalah berjuang sangat keras untuk mengeluarkan kata-katanya. Sampai sang ksatria telah benar-benar ada di hadapannya. Erina benar-benar gugup bahkan sampai dia tak bisa menolong dirinya sendiri.

“Tenanglah.”

Namun, sebuah hal yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata sangat mengejutkannya. Tangan kirinya yang bergantung dan bergetaran hebat tersentuh oleh sentuhan hangat yang menenangkan.

Meskipun begitu, Erina masih belum bisa mengangkat kepalanya yang tertunduk. Sampai dia benar-benar bisa mengucapkan kata-kata yang ingin dia keluarkan. 

Dia menarik nafas, lalu membuangnya. Membuat pikiran dan perasaannya setenang mungkin. Lalu beberapa saat kemudian, akhirnya dia memiliki kesempatan untuk bisa mengatakannya.

“Aku... ”

Meskipun begitu dia masih belum sanggup untuk mengatakan semuanya.

“Semua orang memiliki perasaan gugup. Tetapi kalau kau tak menghadapinya, selamanya perasaan gugup itu akan terus menghantuimu.”

Dan untuk yang kedua kalinya, Erina mendapatkan alasan yang sangat kuat untuknya mengatakan apa yang sangat ingin dia katakan.

“Aku... bisakah kamu... menolongku?”

Akhirnya satu kalimat bisa dia ucapkan. Tetapi bukanlah hal itu yang dia maksud untuk dikatakan. 

Rasa penyesalan yang amat dalam melukai hatinya. Pikirannya benar-benar kacau beberapa saat yang lalu, sampai dia bisa bersungguh-sungguh untuk mengatakan alasan, kenapa dia terus ingin berada di sisi sang ksatria.

Air matanya mulai bergelinang, hatinya seperti tertusuk duri yang menyakitkan. Tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering, dan suara khas dari rasa pedih ketika menangis tak dapat dia sembunyikan – sesenggukan.

Namun, sesuatu menenangkan dirinya. Sebuah tangan yang mengusap wajah penuh kepedihan, mengangkatnya dan membuatnya menghadap ke atas. Di balik mata yang penuh dengan air mata, Erina masih dapat melihat siapa pelaku di balik kepedihannya itu.

Tetapi satu hal yang tak dapat dia mengerti, kenapa wajahnya sangat dekat. Bahkan lebih dekat lagi setelah beberapa saat. Sampai wajah mereka berdua hanya memiliki beberapa cm sampai bertabrakan, dan tak hanya itu saja, bibirnya terasa bersentuhan dengan sesuatu yang lembut.

Terkejut, Erina mencoba mendorong sang pelaku. Tetapi kekuatannya yang habis terkuras karena kejadian barusan, membuatnya tak bisa apa-apa. Melainkan hanya bisa menerima perlakuan yang dilakukan oleh sang ksatria.

Dia mencoba menjauh dengan menarik tubuhnya ke belakang, meskipun begitu, sang ksatria menggunakan tangan besarnya untuk mendorong tubuh Erina semakin mendekat.

Dia benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi, namun satu hal yang dapat dia mengerti. Hatinya sedang disembuhkan, rasa perih mulai menghilang. Perasaan yang telah ia pendam selama hampir 10 tahun sedang dikeluarkan.

(Malam terakhir, sekaligus yang terindah pun mereka alami...)


ik saja?!”

Keadaan Bagas yang tiba-tiba menjadi buruk – lagi – membuat perasaan Erina menjadi gundah. Ani dan Elang mengatakan kalau kemungkinan mereka takkan datang. Meskipun dia bisa saja memanggil mereka, tetapi dia takkan melakukan itu kecuali keadaan menjadi semakin parah dan dia tak dapat menanganinya.

“A-aku ambilkan air dulu. Eh!”

Erina hendak meninggalkan Bagas untuk pergi mengambil air minum, tetapi tangannya tertarik oleh seseorang yang sedang lemah keadaannya.

“Bawa aku bersamamu.”

Dengan memegang tangan Erina, Bagas bermaksud meminta untuk membawanya ke bawah. Meskipun sesaat dia bingung sekaligus gundah di saat yang bersamaan, akhirnya dia mengerti maksud Bagas setelah melihat ekspresi yang tak memiliki tenaga untuk bergerak sendiri.

“U-um.”

Erina lalu bergegas menuju sisi Bagas. Mengangkat tangan Bagas ke atas bahunya, lalu setelah dia merasa Bagas siap bergerak, Erina mulai ikut berdiri.

Tanpa disangka, tubuh yang ukurannya lebih besar dari dirinya itu, terasa lebih ringan dari kelihatannya. Tak seperti hari pertama di mana Bagas mulai jatuh sakit, kali itu berat tubuhnya benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Momen awal Erina membantu Bagas berdiri, dia benar-benar terkejut karena dia seperti sedang mengangkat bantalan yang dapat bergerak sendiri. Benar-benar ringan.

Membantunya sampai ke ruang tamu, tanpa berbicara Bagas mengisyaratkan Erina untuk mendudukkannya ke sofa satu orang.

Erina berusaha sebisa mungkin untuk tak melepas genggamannya secara tiba-tiba. Karena pada keadaannya yang saat itu, bisa saja dia membuat keadaan Bagas menjadi lebih parah.

“Aku akan ambilkan minum.”

Setelah mendudukkan Bagas, Erina bergegas menuju dapur untuk mengambilkan air minum.

Segelas air mineral dibawa – dia juga membantu seseorang yang lemah keadaannya – bahkan untuk memegang gelas berisi air minum saja tak bisa. Air minum dihabiskan dalam sekali teguk.

Gelas diambil, lalu dia tak tahu apa yang harus dilakukan setelah itu. Erina sempat bingung, apa yang harus dia lakukan selanjutnya, sampai Bagas menyadarkannya dari kebingungan.

“Ada seseorang di depan, bukakan pintunya.”

Bagas mengatakan itu saat ada seseorang yang mengetuk pintu depan. Erina yang telah tersadar langsung bergegas pergi membukakan pintu. Pintu dibuka, dan dia menemukan sosok dari adik iparnya.

“Ani!”

“Hai, maaf aku tak memberi kepastian. Tapi pada akhirnya, aku datang karena khawatir kamu gak tahu mau ngapain kalau Bagas sudah siuman nanti.”

“Kalau soal itu sih...”

Erina mengatakan hal itu dengan tak secara langsung mengisyaratkan kalau seseorang yang mereka maksud sekarang sedang berada di ruang keluarga. Ani bereaksi dengan hal itu dan langsung masuk ke dalam rumah.

Tepat seperti yang diberitahukan, Bagas yang telah siuman sekarang sedang berada di ruang keluarga dan duduk di kursi satu orang. Ani mendatangi Bagas dan langsung mengecek keadaannya.

“Apa keadaanmu sudah baik?”

Dia mengatakan hal itu dengan menaruh tangan di kening Bagas, mengamati wajahnya dan memastikan kalau keadaannya tak seburuk sebelumnya.

“Ya.”

Bagas menjawab di saat Ani sedang mengecek keadannya.

“Baguslah. Kalau gitu aku akan menyiapkan makan malam.”

“A-aku ikut.”

“Apa yang bisa kamu bantu nanti?”

“Ya, apa saja yang bisa kulakukan.”

“Kalau gitu dimulai dari yang kecil-kecil dulu ya.”

Setelah memastikan kalau keadaannya sudah jauh membaik, Ani menarik tubuhnya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Erina juga meminta Ani agar dia bisa membantunya.

Bagas ditinggalkan sendirian di ruang keluarga, namun tak beberapa lama, Erina datang dengan membawakan sebuah gelas berisi minuman hangat dan juga sebuah piring.

“I-ini kubawakan teh hangat, dan roti untuk mengganjal laparmu.”

Erina menaruh gelas berisi teh hangat dan lembaran roti yang ada di piring.

Setelah menaruh di atas meja, dia menunggu Bagas bereaksi. Bagas awalnya tak memerhatikan gerak-gerik Erina, tetapi setelah melihat wajah menunggu Erina, akhrinya dia berbicara.

“Kembalilah.”

Dengan itu Erina mendapatkan apa yang dia inginkan. Berbalik dan melangkah ke dapur, namun ada satu hal yang kurang saat dia menunggu reaksi Bagas, yaitu rasa terima kasih. Selama dia berada di sisi Bagas, membantunya dengan apapun yang dia bisa. Dia sama sekali belum mendapatkan rasa terima kasih darinya.

Meskipun begitu dia tak ingin menyerah di situ, jika dia terus berusaha keras saat dia memiliki waktu di sisinya, pasti suatu saat nanti Bagas akan mengucapkan rasa terima kasih padanya.


***


Pikiran Bagas penuh dengan hal yang tak dapat dia pikirkan sebelumya. Tentang pekerjaan yang dia tinggalkan sewaktu dirinya sakit, dan satu hal yang paling penting selain itu adalah, penyelesaian konflik yang terjadi antara Rasha dengan tim bola basket inti.

Sudah tiga hari sejak kejadian itu berlangsung dan dia bahkan belum mendapatkan kabar dari siapapun tentang kejadian itu. 

Dia bangkit dengan sedikit terhuyung, melangkah ke depan lemari kecil ruang keluarga, dia mengambil ponsel genggam untuk menghubungi seseorang. 

Dia berjalan menuju ruang tamu untuk menelepon, dia melakukannya agar Ani atau Erina tak mendengarkan apa yang sedang dia bicarakan dengan orang yang dia telepon. 


***


Beberapa saat setelah makanan telah siap untuk disajikan, Ani meminta Erina untuk memanggil Bagas. Dia berjalan menuju ruang keluarga, tetapi dia tak menemukan Bagas di situ. 

Saat mengira-ngira Bagas ada di mana, dia menemukan suara yang berasal dari ruang tamu. Suara itu dia tandai sebagai suara Bagas yang sedang berbicara dengan seseorang. 

Dia mendekat menuju ruang tamu, dan berhenti sebelum sampai saat dia mendengarkan pembicaraan Bagas yang dirasa sepertinya penting. Dia tak ingin merusak suasana saat Bagas berbicara dengan seseorang. 

Tetapi dengan siapa dia berbicara?

“Tenang saja adikku. Kau tak perlu mengkhawatirkan masalah kecil seperti itu. Yang lebih penting adalah, bagaimana kau mengatur kesehatanmu agar kau bisa menyelesaikan masalah ini tanpa ada halangan.”

“Kau tak perlu menasehatiku tentang bagaimana cara mengatur kesehatan.”

“Hahaha, begitulah dirimu. Padahal aku hanya ingin memberikan rasa perhatian pada seorang sepupu. Tapi ya sudahlah, kutunggu kehadiranmu besok. Dan kalau saja kau mendapatkan halangan untuk hadir, beritahukan dulu kepadaku, karena aku tak ingin menunggu tanpa kepastian.”

“Akan kupastikan aku akan datang.”

“Mm, baguslah. Aku suka bagian itu dari dirimu. Kalau begitu, kau bisa menutup teleponnya sekarang.”

Seseorang yang berbicara di dalam telepon mengisyaratkan Bagas untuk menutup teleponnya, dan dia menutup telepon tanpa membalas.

“Apa kau mendengarkan?!”

Bagas berbicara seperti itu, dengan maksud untuk mengisyaratkan Erina agar dia memerlihatkan sosoknya. Di sisi lain, Erina sangat terkejut kalau dia yang sedang bersembunyi di balik tembok dapat diketahui keberadannya.

Dengan sangat perlahan, dia menunjukkan diri. Perasaannya sangat takut, pikirannya kacau, dan firasatnya mengatakan kalau dia pasti akan dimarahi karena sudah menguping.

“...U-um.”

Tangannya bergetaran, dan dia menggigit bibirnya berharap rasa khawatir berlebihannya menghilang.

“Kau sudah tahu kalau aku akan mulai sekolah besok. Jadi kalau ada yang ingin kau katakan nanti, katakan saja atau kau takkan bisa mengatakannya besok.”

Namun, apa yang datang dari perkataan Bagas bukanlah amarah maupun rasa tidak suka. Melainkan dia menyuruh Erina agar dia mengatakan apa yang dia ingin beritahukan kepada Bagas.

Sesaat Erna tak tahu kenapa Bagas bereaksi seperti itu, tetapi setelah menelaah lebih lanjut, akhirnya dia mengerti.


Setelah makan malam selesai, sebelum matahari benar-benar tenggelam Ani bergegas pulang ke rumah. Namun sebelum dia benar-benar pergi, Elang menitipkan sesuatu padanya agar diberikan kepada Erina.

“Oh iya, Elang menitipkan sesuatu padaku.”

Dia mengambil apa yang dititipkan Elang padanya dari dalam saku celana. Itu adalah secarik kertas, yang pasti di dalamnya terdapat sebuah tulisan.

“Baiklah, besok kami akan pergi naik angkutan umum. Tapi kemungkinan aku akan kembali untuk memersiapkanmu terlebih dahulu.”

“Eh?!”

Erina sempat merasa bingung saat Ani mengatakan hal itu. Seperti akan terjadi suatu hal penting besok yang dia tak boleh ketinggalan.

“Kamu tidak lupa bukan, lusa adalah hari di mana pertunangan diadakan.”

Mendengar perkataan itu, Erina merasa syok karena dia melupakan hari itu, hari di mana dia akan ditunangkan oleh seseorang dari negeri asal ibunya.

“O-oh, iya, hari itu... lusa depan.”

Mengingat kembali acara yang sempat dia lupakan, membuatnya gundah bulana. Karena beberapa hari sebelumnya dia terus memberikan perhatiannya pada Bagas yang sedang sakit, membuatnya lupa akan hari sepenting itu akan terjadi besok.

Di depan mata Ani, kakak iparnya sedang sangat terlihat tak berdaya. Dan bisa juga dikatakan kalau Erina sedang tak tahu apa yang harus dia perbuat. Tetapi sesuatu sepertinya telah menyadarkannya, membawa ruh kembali ke tubuh.

Melihat hal itu, Ani merasa cukup lega karena ada sebuah harapan yang bisa menolong Erina untuk keluar dari konflik yang terjadi di dalam dirinya.

“Baiklah, sekitar jam 8 mungkin aku sudah sampai ke sini. Aku ingin kamu untuk langsung bersiap-siap untuk pergi setelah aku sampai.”

Erina tak menjawab, tetapi dia mengerti apa yang harus dia lakukan. 

“Kalau gitu aku pulang.”

“Umm, terima kasih, Ani.”

Ani pamit untuk pulang, Erina mengucapkan rasa terima kasihnya setelah semua pertolongan yang diberikan. Membuatnya merasa memiliki alasan untuk terus berjuang sampai akhir waktu yang dia miliki.

Setelah kepulangan Ani, Erina menutup pintu depan, dia juga mengunci pintu karena takkan ada yang datang dan juga mereka berdua—Ani dan Bagas tak ada yang bermaksud pergi keluar.

Dia lalu menuju ke belakang, karena sebelumnya Bagas pergi untuk menyegarkan diri—mandi. Di dapur, dia melihat sosok yang telah segar sedang menenangkan diri dengan segelas teh hangat.

Tubuhnya telah dibasuh dan tak ada bau tak sedap yang dapat tercium darinya. 

Saat itu Bagas duduk di posisi yang membelakangi ruang keluarga, dan Erina berdiri di belakangnya. Merasakan hatinya berdegup kencang karena dia memiliki permintaan yang harus dia katakan.

“Katakan saja.”

Namun, sebelum dia dapat memanggil Bagas dan mengucapkan permintaannya, Bagas telah lebih dahulu menyuruhnya untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.

“A-aku-aku... itu, mm, bisakah kamu... mendengarkan permintaanku, nanti malam?”

Erina mengatakannya, tetapi reaksi yang dia tunjukkan sangat kikuk, terkesan gugup. Hal itu juga membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Pikirannya hampir menjadi kacau di tengah jalan, namun dia berhasil mengatakannya.

“Akan kutunggu di balkon.”


Malam hari.

Erina berada di dapur, membuat dirinya agar siap untuk berbicara serius dengan Bagas. 

Dan setelah dirinya benar-benar siap, dia berjalan menuju lantai dua. Ruangan di mana Bagas menunggu. Hatinya telah mantap, pikirannya sejernih air yang mengalir. Mentalnya juga benar-benar telah dipersiapkan untuk menerima jawaban apapun yang akan diberikan padanya.

Setelah dia sampai di ruangan yang dijanjikan, dia melihat ke arah barat, posisi di mana ksatrianya sedang menunggu kehadirannya. 

Posisi tubuhnya tegap lurus, wajahnya menghadap ke langit. Seolah-olah dia sedang menunggu anugerah yang datang padanya. Angin semilir yang menyapu wajahnya seakan dapat membuat para wanita terpesona dengan kebanggaannya.

Erina maju beberapa langkah ke depan, sehingga hanya ada beberapa jarak di antara mereka.

Bagas berbalik seakan dia telah sangat siap untuk mendengarkan, dan memberikan jawaban atas apa yang akan dikatakan Erina nantinya.

Beberapa saat yang lalu, Erina telah memersiapkan seluruhnya. Namun, saat itu juga, persiapan panjang yang telah dia lakukan seolah-olah telah hancur oleh tatapan tajam oleh sang ksatria.

Jantungnya berdegup kencang, pikirannya hampir berantakan, tangan dan kakinya lumayan bergetaran, wajahnya juga mulai memanas.

Mencoba menenangkan diri, dia menaruh satu tangan ke depan dada. Namun, setiap kali dia ingin mengucapkan kata-kata, sebuah tembok tak terlihat pasti menghalanginya. Membuatnya terus mengulangi hal yang sama berulang kali.

Merasa tak bisa bersabar lebih lama lagi, sang ksatria datang mendekat. Erina mencoba untuk bereaksi dengan melangkah mundur, tetapi tubuhnya yang bergetaran tak mampu melakukan hal itu.

“Mau... a-aku...”

Hal yang bisa Erina lakukan adalah berjuang sangat keras untuk mengeluarkan kata-katanya. Sampai sang ksatria telah benar-benar ada di hadapannya. Erina benar-benar gugup bahkan sampai dia tak bisa menolong dirinya sendiri.

“Tenanglah.”

Namun, sebuah hal yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata sangat mengejutkannya. Tangan kirinya yang bergantung dan bergetaran hebat tersentuh oleh sentuhan hangat yang menenangkan.

Meskipun begitu, Erina masih belum bisa mengangkat kepalanya yang tertunduk. Sampai dia benar-benar bisa mengucapkan kata-kata yang ingin dia keluarkan. 

Dia menarik nafas, lalu membuangnya. Membuat pikiran dan perasaannya setenang mungkin. Lalu beberapa saat kemudian, akhirnya dia memiliki kesempatan untuk bisa mengatakannya.

“Aku... ”

Meskipun begitu dia masih belum sanggup untuk mengatakan semuanya.

“Semua orang memiliki perasaan gugup. Tetapi kalau kau tak menghadapinya, selamanya perasaan gugup itu akan terus menghantuimu.”

Dan untuk yang kedua kalinya, Erina mendapatkan alasan yang sangat kuat untuknya mengatakan apa yang sangat ingin dia katakan.

“Aku... bisakah kamu... menolongku?”

Akhirnya satu kalimat bisa dia ucapkan. Tetapi bukanlah hal itu yang dia maksud untuk dikatakan. 

Rasa penyesalan yang amat dalam melukai hatinya. Pikirannya benar-benar kacau beberapa saat yang lalu, sampai dia bisa bersungguh-sungguh untuk mengatakan alasan, kenapa dia terus ingin berada di sisi sang ksatria.

Air matanya mulai bergelinang, hatinya seperti tertusuk duri yang menyakitkan. Tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering, dan suara khas dari rasa pedih ketika menangis tak dapat dia sembunyikan – sesenggukan.

Namun, sesuatu menenangkan dirinya. Sebuah tangan yang mengusap wajah penuh kepedihan, mengangkatnya dan membuatnya menghadap ke atas. Di balik mata yang penuh dengan air mata, Erina masih dapat melihat siapa pelaku di balik kepedihannya itu.

Tetapi satu hal yang tak dapat dia mengerti, kenapa wajahnya sangat dekat. Bahkan lebih dekat lagi setelah beberapa saat. Sampai wajah mereka berdua hanya memiliki beberapa cm sampai bertabrakan, dan tak hanya itu saja, bibirnya terasa bersentuhan dengan sesuatu yang lembut.

Terkejut, Erina mencoba mendorong sang pelaku. Tetapi kekuatannya yang habis terkuras karena kejadian barusan, membuatnya tak bisa apa-apa. Melainkan hanya bisa menerima perlakuan yang dilakukan oleh sang ksatria.

Dia mencoba menjauh dengan menarik tubuhnya ke belakang, meskipun begitu, sang ksatria menggunakan tangan besarnya untuk mendorong tubuh Erina semakin mendekat.

Dia benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi, namun satu hal yang dapat dia mengerti. Hatinya sedang disembuhkan, rasa perih mulai menghilang. Perasaan yang telah ia pendam selama hampir 10 tahun sedang dikeluarkan.

(Malam terakhir, sekaligus yang terindah pun mereka alami...)