Episode 146 - Membalikkan Keadaan



“DUM!”

Suara bergegar terdengar membahan ke seantero puncak gunung. Getaran yang ditimbulkan menyebabkan gempa, yang seolah-olah dapat menjungkirbalikkan gunung itu sendiri. Seluruh ahli terjaga dan bersiaga!

“DUM!” 

Suara kedua terdengar mirip letusan gunung berapi! Kepanikan mulai menjalar dan suara-suara terancam terdengar riuh rendah. Segenap pasukan berkumpul lalu bergerak. Siluman-siluman muda, para cebong, siap diungsikan ke tempat teraman. 

“Yang Mulia Raja Bangkong IV, Kerajaan Siluman Gunung Perahu diserang!” 

Suara panik Asep hanya menyapa singasana kosong yang berlatar belakang semak belukar. Raja Bangkong IV telah sedari tadi melesat terbang meninggalkan kediamannya di Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu. 

“DUM!” 

Letusan ketiga! Siapa pun dapat mengetahui bahwa suara dan getaran dahsyat ini bukanlah disebabkan oleh peristiwa alam. Kerumunan bangsawan dan punggawa kerajaan terlihat tinggi mengudara. Serempak mereka bergerak menuju satu titik di tebing kawah yang mengelilingi seluruh wilayah kerajaan. 

Siapa gerangan yang lancang menyerang kerajaan yang terletak di atas puncak gunung berbentuk seperti perahu!?

Kakek Duta Utama, perwakilan dari Kemaharajaan Pasundan tergopoh-gopoh keluar dari Istana Kedua. Sebuah lencana dipegang erat dalam genggaman. Bila benar ada pihak-pihak yang menyerang Kerajaan Siluman Gunung Perahu, maka ia akan segera menyampaikan kabar berita. Tak akan butuh waktu lama bagi pasukan Kemaharajaan Pasundan untuk mengirimkan bala bantuan! 

Tinggi di udara, Raja Bangkong IV melirik ringan. “Tahan dan tunggu!” sergahnya tanpa memberikan penjelasan sama sekali. 

Wajah sejumlah ahli perkasa, para siluman sempurna yang menjabat sebagai bangsawan dan punggawa kerajaan, terlihat bingung dan ragu. Banyak di antara mereka yang segera berhenti terbang. Ada beberapa yang berupaya menyusul Raja Bangkong IV, namun mengurungkan niat. Perintah sang raja sudah jelas adanya. 

Walhasil, kerumunan tersebut hanya melayang tinggi di udara. Bersiaga, mereka turut memastikan bahwa persiapan sudah memadai bilamana sebuah perang berkecamuk. 

Raja Bangkong IV melesat turun sesaat tiba di sisi luar tebing batu nan tinggi yang mengelilingi wilayah kekuasaannya. Demikian, ia mendarat tepat di depan pintu gerbang batu nan besar. Aura Segel Pertahanan yang telah diaktifkan menyibak kental. Pintu gerbang batu inilah yang tiga kali berdentum demikian keras. 

Seorang perempuan dewasa duduk santai di atas sebentuk prasasti batu. Prasasti ini belum lama rampung dibangun, yang berfungsi sebagai penghubung Kerajaan Siluman Gunung Perahu dengan Kemaharajaan Pasundan. Telapak tangan perempuan itu menopang dagu, seolah sudah menanti sangatlah lama. Wajahnya menyibak kecantikan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Hiasan berbentuk tanduk di atas kepalanya, yang sepintas mirip bulan sabit, sangat menarik perhatian. 

“Cebong Cebol, lama sekali...” Perempuan itu bangkit berdiri. “Diriku terpaksa mengetuk gerbang... sampai tiga kali pula.” 

“Mayang Teng-gila!” 

Raja Bangkong IV menggeretakkan gigi. Kedua matanya menyipit. ‘Mengetuk’ pintu gerbang seperti apakah yang sampai membuat seantero kerajaan seolah dilanda letusan gunung berapi!? Wajah tampan sang raja berubah cemberut. 

“Hanya itu...?” Mayang Tenggara mengerutkan dahi. “Hanya itu sambutanmu kepada seorang sahabat lama yang telah menempuh perjalanan berat mendaki gunung...?” 

Sang Raja segera mengingat bahwa ia sempat mendapat firasat buruk ketika bertemu dengan Bintang Tenggara. Benar saja, firasat tersebut kini terbukti benar. Perempuan berkelakukan buruk datang bertandang. 

“Aku adalah Raja Bangkong IV!” Seperti biasa, Sang Raja berbicara sesuai kehendak hatinya. 

“Cebong Cebol...” 

“Mayang Teng-gila! Kehadiranmu tiada dinanti. Enyahlah!” 

“Ceceb...”

“Nama kecilku Cecep! Bukan Ceceb! Bukan pula Cebong Cebol! Saat ini, aku adalah Raja Bangkong IV!” 

Mayang Tenggara melangkah maju. Ia merentangkan kedua tangan lebar-lebar. Gerakannya gemulai, namun bukan berarti serangan mendadak tak dapat dilancarkan dalam satu kedipan mata. Raja Bangkong IV hanya diam membatu, ketika Mayang Tenggara... memeluk tubuhnya. 

“Aku bukan anak kecil lagi...,” gerutu Raja Bangkong IV. Wajahnya memerah, entah karena malu atau amarah, atau malah keduanya. Meski demikian, ia tak melepaskan diri dari pelukan persahabatan perempuan itu. 

...


“Siapakah gerangan perempuan itu...?” 

“Apakah ia yang menyebabkan gempa...?”

“Aku tak bisa merasakan aura kasta keahliannya!” 

Sejumlah siluman sempurna, yang merupakan punggawa dan bangsawan, bertanya-tanya ketika Raja Bangkong IV dan seorang perempuan terbang membelah kerumunan. Meski demikian, mereka dapat memahami bahwa tidak ada ancaman yang datang dari perempuan itu, dan mendera kerajaan mereka. 

“Tenggara....” Hanya beberapa punggawa dan bangsawan tua, yang tak turut mengudara dan mengamati jauh dari kediaman mereka, yang mengenal sosok perempuan itu. Wajah mereka kemudian berubah sangat serius. Keriput terlihat semakin berkerut. 

“Kau merapal salah satu jurus khas bangsamu untuk menyembunyikan Kasta Bumi...,” bisik Mayang Tenggara. 

Terdapat lima jurus khas siluman kodok gunung perahu. Dengkang Dirgantara mendatangkan hujan lebat, sehingga menciptakan situasi bertarung yang menguntungkan bagi siluman-siluman kodok. Raga Danawa mengubah bentuk tubuh siluman kodok menjadi gembul dan gempal, sehingga tubuh mereka menjadi kebal dari serangan-serangan jurus lawan. Kinja Sirna menghasilkan tiga teleportasi jarak dekat secara beruntun, agar serangan menjadi sangat cepat. 

“Segel Pirau…,” gumam Mayang Tenggara. *

Raja Bangkong IV hanya mendengus. 

“Jurus segel yang mirip dengan Segel Samar milik suamiku…,” lanjut Mayang Tenggara. 

Raja Bangkong IV hanya melirik sepintas. Namun, ia segera dapat menangkap seberkas kecemasan dari sorot mata Mayang Tenggara. Sungguh beban berat yang diemban oleh Balaputera. 

“Aing masih memegang teguh kewajiban kita. Kau tak perlu mengingatkan, apalagi datang bertandang,” ujar Raja Bangkong IV ketika mereka tiba di Istana Utama. 

“Aku akan menetap untuk beberapa waktu guna melakukan persiapan….” 

“Apakah tak ada tempat lain yang dapat kau kunjungi…?” Raja Bangkong IV hendak mengusir secara halus. 

“Aku merasa senang berada di dekat seorang sahabat…” 

“Pergilah ke Perguruan Anantawikramottunggadewa di Kota Baya-Sura. Resi Gentayu akan sangat senang menampungmu.” Raja Bangkong IV masih berupaya mengusir. 

“Aku telah mengunjungi si bodoh itu beberapa waktu lalu. Lagipula, diriku lelah setelah mendaki….”

“Kau sebaiknya segera angkat kaki dari wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu!” Raja Bangkong IV sudah sangat jelas mengusir. Tambahan, mana mungkin seorang ahli Kasta Bumi lelah karena mendaki! 

“Siapkan sebuah kamar untukku… Atau aku akan menginap di kamarmu.” 

 

===


Sebuah ruangan besar dan bundar dengan langit-langit membumbung tinggi. Tersusun puluhan kursi, sebagian besar terisi, sebagian kecil lagi terbiar sepi. Penerangan di dalam ruagan terlihat cerah. Akan tetapi, suasana di dalamnya saat ini sangat suram. 

“Sidang Dewan Perguruan segera dimulai!” Terdengar suara membahana yang semakin membuat suasana semakin mencekam. 

Perguruan Maha Patih merupakan perguruan yang teramat besar. Ia memiliki 32 Sesepuh dan 20 Maha Guru. Sebagaimana Perguruan Gunung Agung, Sesepuh adalah jabatan struktural dan Maha Guru adalah jabatan fungsional. Dengan kata lain, sebagian Sesepuh mengepalai Kejuruan, sebagian lagi sibuk mengembangkan keahlian, dan sebagian kecil sudah menarik diri dari dunia keahlian. Bagi yang mengucilkan diri, mereka terjun dalam tapa berkepanjangan dalam upaya membangun pemahaman, merumuskan penafsiran, lalu meraih pencerahan. 

Di sisi lain, Maha Guru bertanggung jawab atas pengajaran bidang-bidang keahlian. Mereka terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan terkait perguruan dan pendidikan murid-murid. 

Secara bersama-sama Sesepuh dan Maha Guru dikenal sebagai Tetua Perguruan. Hampir tiga perempat Tetua Perguruan hadir di dalam Sidang Dewan Perguruan kali ini. 

“Sesepuh Ke-15, Kertawarma, dipersilakan menempati bangku terdepan.”

Sesepuh Kertawarma melangkah tenang. Tak sedikit pun tersurat kekhawatiran dari raut wajahnya. Ia segera menempati sebuah bangku yang berada paling depan, dan menghadap seluruh ahli yang hadir dalam kesempatan kali ini. 

“Sesepuh Kertawarma, mohon jabarkan tentang kejadian beberapa pekan yang lalu, ketika sebagian besar murid-murid Kasta Perunggu dari Perguruan Maha Patih menyerang Persaudaraan Batara Wijaya.” 

Sesepuh Kertawarma mengangguk. Ia lalu menjawab, “Saat itu, diriku sedang menerima kunjungan dari seorang sahabat. Aku pun mengajak sahabat tersebut untuk menikmati udara segar menaiki kereta kuda. Tanpa dinyana, diriku menemukan demikian banyak murid-murid yang menyerang gerbang Persaudaraan Batara Wijaya.” 

“Lalu…?”

“Segera kusadari bahwa murid-murid Kasta Perunggu tersebut berasal dari perguruan kita, Perguruan Maha Patih! Tanpa pikir panjang, diriku segera memberi perintah menggunakan lencana perguruan, agar mereka segera menarik diri.” Nada suara lelaki setengah baya itu terdengar meninggi. Wajahnya seolah prihatin. 

Sampai titik ini, semua yang Sesepuh Kertawarma sampaikan… adalah kebohongan belaka!

“Sungguh sebuah kebetulan…,” sela suara lain dari kerumunan Tetua Perguruan. Suara tersebut terdengar meragukan penjelasan Sesepuh Kertawarma. 

“Sungguh sebuah kebetulan…,” ulang Sesepuh Kertawarma. “Bayangkan bilamana aku tak kebetulan berada di wilayah itu… mungkin saja terjadi sesuatu yang lebih fatal.” Kini ia berusaha mengais tanda jasa. 

“Katamu kau menemani seorang sahabat…?” suara seorang perempuan tua menimpali.

“Benar.” 

“Apakah sahabatmu itu kebetulan merupakan saudagar senjata dari Pulau Barisan Barat? Yang bernama Malin Kumbang…?”

“Benar.”

Suara bisik-bisik mulai terdengar. Entah apa yang diperbincangkan di antara banyak ahli tingkat tinggi. Di salah satu sudut ruang sidang, duduk seorang ahli yang menatap curiga ke arah Sesepuh Kertawarma. Meski tak memiliki bukti apa pun, Maha Guru Ke-10 Segoro Bayu, yakin betul bahwa kejadian penyerangan murid-murid Kasta Perunggu didalangi oleh Sesepuh Kertawarma. 

“Kami mendapat laporan bahwa murid-murid Kasta Perunggu menggunakan senjata dan perisai yang tak dikenal.” 

“Benar! Aku juga telah menanyakan langsung perihal senjata dan perisai dimaksud kepada sahabatku Malin Kumbang. Tentu ia lebih berpengalaman dalam hal ini. Menurutnya, senjata dan perisai tersebut belum pernah ia lihat sebelumnya.”

“Kau yakin bukan dirinya yang memproduksi senjata dan perisai tersebut…?” sanggah ahli lain lagi. 

“Ada banyak pabrik senjata dan perisai. Sahabatku Malin Kumbang berjanji akan berupaya membantu menelusuri asal muasal senjata dan perisai tersebut.” 

“Jadi ia mengambil dan membawa senjata dan perisai tersebut…?”

“Aku memberikan beberapa pasang kepadanya sebagai bahan acuan.”

“Saat ini, di manakah gerangan sahabatmu itu…?” 

“Ia telah kembali ke kampung halamannya. Namun, aku pastikan bahwa ia akan menepati janji untuk turut membantu menelusuri senjata dan perisai yang tak dikenal itu.” 

Bisik-bisik kembali terdengar di beberapa bagian ruangan. Tak hanya Maha Guru Segoro Bayu yang sesungguhnya menaruh kecurigaan terhadap Sesepuh Kertawarma. Meskipun demikian, sebagaimana halnya dengan Maha Guru Segoro Bayu, tak satu pun dari mereka yang curiga memiliki bukti dalam bentuk apa pun. 

“Apakah murid-murid ada yang mengungkapkan dari mana mereka memperoleh senjata dan perisai tersebut…?” tetiba Sesepuh Kertawarma balik bertanya. Ia terlihat penasaran sekali. 

Seorang Sesepuh lain mengangkat tangan. Ia lalu menjabarkan kepada semua hadirin. “Setiap murid yang memegang senjata dan perisai tak dikenal, mengatakan bahwa ada seorang murid yang membagi-bagikan. Setelah ditelusuri lebih lanjut, tak seorang pun mengenal murid tersebut. Hanya perawakannya yang kurus kerempeng, yang menjadi petunjuk sementara ini.” 

“Teruskan penelusuran,” tanggap seorang Sesepuh yang awalnya membuka sidang. “Kami pun telah mengusut seluruh murid. Sebagian besar mengatakan bahwa alasan mereka menyerang disebabkan menghilangnya beberapa murid dari perguruan.” 

“Benar. Di hari kejadian penyerangan, aku pun sempat mengajukan pertanyaan yang sama,” tanggap sesepuh Kertawarma. 

“Anehnya… nama-nama murid yang menghilang, kesemuanya adalah anak didikmu, wahai saudaraku Sesepuh Ke-15 Kertawarma.” Suara ini jelas hendak menyudutkan Sesepuh Kertawarma. 

“Tak dapat dipungkiri. Aku pun menyayangkan hal yang sama. Alasan penyerangan tak masuk di akal!” 

“Benarkah…? Sebagian dari mereka mengatakan bahwa seorang Sesepuh yang menyatakan langsung bahwa hilangnya sejumlah murid disebabkan oleh Persaudaraan Batara Wijaya?”  

“Apakah murid-murid menyebutkan nama ‘Sesepuh’ tersebut?” Sesepuh Kertawarma bertanya balik. 

Bisik-bisik mulai terdengar gusar. Sejumlah Sesepuh terlihat saling pandang. Saling curiga, karena mereka tak memiliki jawaban. Murid murid-hanya mendengar desas-desus yang beredar tanpa melakukan klarifikasi kepada para sesepuh perguruan. 

“Aku sangat menyayangkan bahwa murid-murid Kasta Perunggu termakan desas-desus yang datang dari sumber tak jelas!” Wajah Sesepuh Kertawarma setenang permukaan air telaga di tengah hutan belantara. Tak setetes pun keraguan terpancar dari raut wajahnya. 

“Tunggu dulu…,” terdengar suara menyela. “Perihal hilangnya sejumlah anak didik Sesepuh Kertawarma perlu ditelusuri lebih lanjut!” 

“Tidak dalam sidang ini!” suara lain lagi menyela. “Menghilangnya sejumlah murid telah ditangani oleh Regu Pencari Fakta. Hari ini, mari kita pusatkan perhatian pada kejadian penyerangan terhadap Persaudaraan Batara Wijaya.” 

Di kalangan Tetua Perguruan, tentulah ada sejumlah ahli yang berdiri di pihak Sesepuh Kertawarma. Kini, adalah waktunya mereka angkat suara. 

“Kita berkumpul di dalam sidang hari ini… seolah-olah hendak menyudutkan Sesepuh Kertawarma. Lupakah kita bahwa beliaulah yang menghentikan penyerangan murid-murid Kasta Perunggu terhadap Persaudaraan Batara Wijaya!?” 

“Bukankah seharusnya kita berterima kasih kepada Sesepuh Kertawarma!?”

“Di manakah kita, para Tetua Perguruan, di saat seribuan murid-murid keluar berbondong-bondong dari perguruan!? Bukan jumlah yang sedikit untuk lepas dari pantauan mata hati!” 

Pembelaan tetiba datang bertubi-tubi. Ibarat sebuah serangan cepat, mereka membungkam lawan yang tak mampu menyarangkan serangan balik. Tak berkutik! 

“Sesepuh Kertawarma, aku Maha Guru Ke-18…,” seorang lelaki dewasa bangkit berdiri. “Mengucapkan terima kasih atas upayamu menghentikan murid-murid muda yang melakukan kesalahan!” 

Sejumlah Tetua Perguruan lain ikut berdiri. Mereka menghaturkan terima kasih. Beberapa bahkan sambil membungkukkan tubuh memberi hormat. 

“Sudahlah… Sudahlah…,” Sesepuh Kertawarma bangkit berdiri. “Yang paling penting saat ini adalah memutuskan sanksi seperti apa yang patut diberikan kepada murid-murid. Serta, yang paling utama, adalah bagaimana Perguruan Maha Patih menyikapi dan menebus kesalahan terhadap Persaudaraan Batara Wijaya.” 

“Terkait hal itu…,” seorang Maha Guru yang sedari tadi hanya mengamati, bangkit berdiri. “Izinkan aku, Maha Guru Ke-10, ikut mewakili perguruan menuju Persaudaraan Batara Wijaya. 

Sesepuh Kertawarma memicingkan mata. Pun raut wajahnya sejenak berubah. Kali ini adalah satu-satunya kesempatan sepanjang sidang, dimana ia merasa tak nyaman, bahkan terancam. Ia menyadari bahwa belakangan ini, Maha Guru Segoro Bayu sangat getol menelusuri apa pun kegiatan yang ia lakukan di dalam dan di luar perguruan. Tak diragukan lagi, Maha Guru Segoro Bayu mengendus sesuatu dan ingin menyelidiki secara langsung ke Persaudaraan Batara Wijaya. 

“Maha Guru Segoro Bayu, bukankah dikau masih memiliki tugas menelusuri hilangnya Pedang Patah…?”

“Bukankah hal tersebut masih merupakan bagian dari tanggung jawabmu sebagai Ketua Panitia Kejuaraan tahun ini…?” 

“Apakah apa pun itu upayamu sudah membuahkan hasil…?”

Bertubi-tubi pertanyaan datang ke arah Maha Guru Segoro Bayu. Ia terdiam seribu bahasa, bahkan terdesak. Seberapa pun keras upaya yang dikerahkan, penyelidikan masih belum membuahkan hasil. Pedang Patah bak hilang ditelan bumi!

Meski sedikit kaku, Maha Guru Segoro Bayu adalah seorang pengajar yang lurus. Ia memusatkan diri pada perkembangan persilatan dan kesaktian. Politik di dalam perguruan, bukanlah sesuatu yang ia pahami. Petang ini, Maha Guru Segoro Bayu mengerti bahwa ia tak akan dapat membuka Kedok Sesepuh Kertawarma seorang diri. Ia perlu menggalang dukungan. 

“Apakah masih ada pertanyaan lanjutan…?” sela Sesepuh Kertawarma. 

Sungguh sebuah kepiawaian dalam mengelak dari gempuran-gempuran pertanyaan dengan tenang, bahkan menggunakan mulut ahli-ahli lain untuk berkelit. Dengan mudahnya ia memenangkan sidang, bahkan tanpa banyak bicara.  


Catatan:

pirau/pi·rau1 v berwarna abu-abu; 2 a kabur (tentang penglihatan)