Episode 4 - Tikaman Lamafa


Benak Bintang Tenggara tidak tenang. Ia dipenuhi banyak pertanyaan. Jawaban yang diperoleh dari Kepala Dusun, berbuah menjadi banyak pertanyaan lanjutan. Sebagian pertanyaan ia reka-reka sendiri jawabannya, namun tetap tidak puas karena ia sadari jawaban tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.

Usai menemani Kepala Dusun, Bintang pulang ke gubuknya. Ibu telah menyiapkan makan siang, tapi tidak berada di rumah. Biasanya ibu mengunjungi tetangga yang sedang sakit untuk memberikan pengobatan ringan, atau sekedar mendengar keluhan ibu-ibu, lalu ke kebun. Tidak jarang juga ibu ke arah perbukitan untuk mencari tumbuhan obat. Bintang menikmati makan siang sendiri. 

Tidak ada yang unik dari keseharian Bintang. Setiap pagi ia bangun awal. Mengambil air bersih dari sumur di bukit untuk keperluan hari itu. Kemudian membantu menyiapkan jaring ikan lalu memperbaiki atau membersihkan peledang, atau perahu, bersama anak-anak lain sesuai arahan orang-orang dewasa di dusun. Karena memang pekerjaan utama di dusun adalah ala tiua, mengolah laut, maka menjaga keadaan jaring dan peledang sangatlah penting. Dari membantu menyiapkan jaring dan membersihkan peledang, setidaknya ia akan mendapatkan upah seekor atau dua ekor ikan berukuran sedang. Cukup untuk menjadi santapan sehari bersama ibunya. 

Peledang adalah perahu kecil yang digunakan untuk mencari ikan, juga berperan sebagai alat transportasi dari dan ke dusun-dusun atau pulau-pulau tetangga. Panjang peledang biasanya 9-10 m, dengan dinding perahu setinggi 1-1,5 m. Namun, Fungsi utama peledang adalah untuk berburu paus. Dulu, peledang dari Dusun Peledang Paus dikenal paling cepat di antara pulau-pulau dan dusun-dusun sekitar. 

Seusai makan siang, Bintang biasanya bermain bersama Lamalera, anak gadis yang pintar dan pemberani, dan anak-anak dusun lain. Kegiatan yang biasa dilakukan adalah bermain lamafa. Semua anak di Dusun Peledang Paus bercita-cita besar menjadi seorang lamafa, untuk menyejahterakan dan mengharumkan nama keluarga masing-masing serta dusun mereka. Sungguh impian mulia. 

“Ayo semua berkumpul,” teriak Lamalera setengah memerintah dari atas batu karang. “Sekarang kita akan menentukan peran masing-masing. Siapa-siapa saja yang akan menjadi lamuri, matros dan lamafa.”

Ada tiga peran utama dalam memburu paus, yaitu: lamuri, matros dan lamafa. Lamuri adalah juru kemudi. Posisinya di buritan, berugas memberi aba-aba dan menyetir arah peledang atau perahu. Sedangkan matros, adalah sebutan untuk anak buah perahu. Merekalah yang bertugas mengayuh perahu secepat mungkin, atau mengubah arah perahu seketika sesuai arahan lamuri. Dan yang terakhir, tentu lamafa, sang juru tikam yang akan berdiri di haluan perahu dan bertugas menikam paus. 

“Ah tidak adil!” ungkap salah seorang anak. “Setiap hari hanya Lamalera yang menjadi lamafa dan Bintang sebagai lamuri. Kami terus-menerus menjadi matros.” 

“Tidak adil, nenekmu!” teriak Lamalera berang. “Aku yang paling kuat di sini, tikamanku paling tepat sasaran. Sedangkan Bintang yang paling pintar. Ia bisa mengambil keputusan yang tepat saat mengemudi. Kalian turuti saja. Nanti juga hasil tangkapan akan dibagi rata.”

“Tidak adil!” aku juga mau jadi lamafa, anak lain bersuara sambil menyeka hidungnya yang dipenuhi lendir, membentuk semacam kumis tipis. 

“Benar, tidak adil!” bagaimana kalau hari ini aku yang jadi lamafa, ungkap anak lain. 

“Beraninya kalian! Kalian ingin memberontak?! Kalian pemberontak!” teriak Lamalera sambil mengepalkan tangan dan melangkah ke arah para pemberontak. 

“Tenang, tenang,” ungkap Bintang bergerak menahan Lamalera. “Bagaimana kalau hari ini kita semua yang jadi lamafa?” 

“Tidak bisa! Mana mungkin satu perahu isinya lamafa semua? Siapa yang akan mengemudi? Siapa yang akan mengayuh?” Lamalera menolak mentah-mentah. Sementara anak-anak lain berkeringat membayangkan kepalan tinju Lamalera diayunkan ke atas dan ke bawah.  

“Bukan begitu. Maksudku, hari ini kita semua berlatih menjadi lamafa.”

“Tidak ada gunanya, mana bisa mereka menjadi lamafa.”

“Lera,” tegur Bintang dengan lembut. “Dengarkan dulu saranku.” 

Lamalera melotot, lalu menarik napas panjang dan memilih diam saja. Petanda bahwa ia mau mendengar, tapi bila tidak sesuai dengan kehendaknya, maka ia akan memaksa anak-anak dusun untuk menjadi matros. 

Dalam permainan yang biasa dilakukan, anak-anak ini tidak menaiki peledang apalagi turun ke laut. Mereka hanya bermain di pesisir pantai saja, menaiki karang kecil, meneriakkan aba-aba, berpura-pura mendayung, lalu menikam karang besar seolah-olah menikam paus. 

“Kita bergantian menaiki haluan perahu,” Bintang menunjuk sebuah karang setinggi lebih kurang 50 cm, “lalu menikam paus di depannya,” sambil mengarahkan jari telunjunya ke karang yang lebih besar berjarak sekitar 3 m di sebelah karang yang lebih kecil. 

“Siapa yang berhasil menikam dengan tepat dan paling keras, akan mendapat kelapa muda,” tutup Bintang. 

“Hm, menarik. Siap-siap kalian memanjat pohon kelapa,” ungkap Lamalera menunjukkan kalau ia setuju dan tidak mau mendengar komentar ketidakadilan lebih lanjut. “Aku akan mulai terlebih dahulu. Sekalian memberi contoh.” 

Tanpa ragu, Lamalera mengambil galah bambu yang hampir dua kali lebih tinggi dari dirinya dan menaiki batu karang kecil. Ia menekuk lutut, mengencangkan perut, menarik napas, mengangkat galah dan wuss... Lamalera melayang ke arah batu yang lebih besar sambil menghujamkan, bukan melempar, tempulingnya. 

“Krak!” Meski tempuling mainan hanya sebilah bambu tanpa mata tombak besi diujugnya, batu karang menerima hantaman dan meninggalkan bekas kecil. “Demikian cara yang benar,” ungkapnya bangga. 

Anak lelaki di sebelahnya kemudian maju hendak meraih tempuling dari genggamannya. “Eh, apa maumu? Cari tempulingmu sendiri!” 

Semua anak terkejut dan memandang Lamalera. Sudah beruntung Lamalera setuju mengubah aturan permainan kali ini, tapi berharap ia meminjamkan tombaknya... jangan berharap terlalu banyak. 

Segera anak-anak menyebar mencari tombak mereka, termasuk Bintang. “Bintang, kau boleh menggunakan tempulingku bila mau,” ungkapnya pelan. 

Bintang menggelengkan kepala. “Tidak perlu, aku punya tempuling sendiri,” jawabnya tanpa ragu. Ia ingat ayahnya memiliki beberapa bilah tempuling di rumah, dan ada satu yang belum memiliki mata tombak. Meski ia tidak pernah melihat langsung ayahnya memegang tempuling, ia yakin bahwa tempuling-tempuling tersebut milik ayahnya. 

Pengalaman beberapa jam sebelumnya membakar semangat Bintang untuk menjadi seorang lamafa. Selain dapat menghidupi ibu dan dusunnya, ia juga berkesempatan belajar tentang kesaktian. 

Tidak lama, semua anak sudah berkumpul kembali. Ada yang membawa tempuling pendek, ada pula yang kepanjangan. Ada yang dari bambu, ada pula yang lebih mirip bagian dari gubuk yang dibongkar paksa. Tapi setidakya, semua memegang tempuling. 

Seorang anak melangkah mundur beberapa meter dari batu karang yang berfungsi sebagai haluan perahu. Sambil berteriak ia berlari dengan niat menjadikan batu karang sebagai pijakan melompat sebelum menikam ‘paus’. 

“Hei! Berhenti, berhenti!” Teriak Lamalera sambil menghadang dengan tempulingnya. “Apa yang kau lakukan? Kau kira ini lompat galah? Di laut nanti kau mau berlari dari mana? Dari atas air?! Sudah, giliran lamafa berikutnya.” 

Anak ini adalah anak yang pertama mengajukan keberatan. Kini suara tertahan di tenggorokannya. Menyadari kesalahannya dan tak berani menyangkal, ia pun berjalan menuju barisan belakang. 

Anak kedua naik ke atas karang kecil sambil menarik dalam-dalam lendir di hidungnya. Ia pun melompat berteriak “Ciaat...” lalu melontarkan tempuling dari tangannya. Sisi samping tempuling mengenai ‘paus’ dan terpantul ke arah Lamalera. Dengan sigap Lamalera menangkis dengan tempulingnya.

“Hoi! Kau kira ini lempar lembing!? Kalau kau mau melempar lembing, pergi sana ke perbukitan dan berburu kelinci!” Lamalera berteriak sampil memukul bokong anak itu dengan tempulingnya. “Berikutnya!”

“Lututmu kurang ditekuk!”

“Tempulingmu terlalu pendek!”

“Mengapa kau melompat ke belakang? Hah!”

“Apa ini!? Tiang penyangga gubukmu, ya?”

Ada saja kesalahan dan kekurangan anak-anak lain. 

Kini tiba giliran Bintang. Ia naik ke atas karang kecil. Tangan kanan yang memegang hulu tempuling diletakkan di belakang kepala, sedangkan tangan kiri yang menggenggam batang tempuling setara dada.  

Sama seperti Lamalera, ia lalu menekuk lutut, mengencangkan perut, menarik napas, dan menarik tempuling ke belakang dan wuss... melompat tinggi ke depan. Tubuhnya melenting di udara. Namun, di saat seharusnya ia mengujamkan tempuling, Bintang masih melayang penuh konsentrasi. Begitu sampai pada titik tertinggi, dan saat tubuhnya meluncur ke bawah, barulah ia menikamkan tempulingnya.

“Krak!” Tempuling menikam tepat di pusat batu, persis di tengah. Batu karang yang tadinya sedikit tergores, kini meninggalkan goresan yang lebih dalam lagi, bahkan ada sedikit pecahan karang yang terkelupas. 

“Hebat!” ungkap Lamalera. “Bintang melayang tinggi untuk mengunci titik tikaman, lalu memanfaatkan momentum tubuhnya agar tikaman menjadi semakin bertenaga. Persis seperti yang kucontohkan tadi.”

Anak-anak lain yang tanpa sadar menahan napas ketika menyaksikan Bintang melayang, masih terkesima. 

“Dan karena menyasar tepat di posisi tengah yang menurutku paling rapuh, maka tentu saja batu karang bisa pecah sedikit...”