Episode 43 - Semakin Jauh Jarak



“Kalau kau hanya memiliki keinginan yang kuat saja untuk menaklukkan seseorang seperti Bagas, itu takkan berhasil, Beni.”

Dari arah belakang, suara seorang dewasa terdengar mendekat. 

“Pak Elang!”

Itu adalah wali kelas dari XII TKJ.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Ya, begitulah, ngomong-ngomong, sedang apa bapak kemari?”

“Untuk menjengukmu tentu saja.”

“Hmm, tindakan bapak terlihat mencurigakan.”

Elang datang dengan maksud untuk menjenguk anak muridnya, tetapi perilaku baik yang dia lakukan saat itu tak benar-benar membuat anak muridnya percaya kalau dia benar-benar melakukannya.

“Apa bapak, kabur dari pekerjaan lagi?”

Beni merasakan firasat kalau Elang menggunakan alasan menjenguknya untuk kabur dari pekerjaannya. Dan dari kelihatannya, hal itu sungguh menjadi alasan Elang untuk kabur dari semua pekerjaannya.

“Sudah-sudah, yang lebih penting lagi, sebelumnya kita sedang membicarakan Bagas bukan?”

Meskipun begitu, Elang tak ingin mengakui kesalahannya dan berusaha untuk mengubah topik pembicaraan.

“Jangan coba-coba un-“

“-Kalau membicarakan soal Bagas sih!”

Pada saat Beni berusaha untuk mengubah topik yang mengarah ke arah Elang yang kabur dari pekerjaan, Elang benar-benar gigih dalam membelokkan pokok pembahasan.

Beni terkejut saat Elang memaksanya berhenti berbicara, dan dia tak memiliki kesempatan lagi untuk membuat Elang melakukan tugasnya.

“Kau perlu lebih dari 99 kemungkinan dan 50 alasan kalau ingin memenangkan sebuah debat dengannya.”

“Maksudnya apa, Pak?”

Rini yang kelihatannya tertarik dengan perkataan Elang bertanya. Elang telah mendapatkan poin untuk meneruskan arah pembicaraan, dan Beni benar-benar tak bisa membuat Elang pergi melakukan pekerjaannya kali itu.

“Uhm, maksudnya adalah, misalnya saja dua buah pedang dilaga, tetapi dua buah pedang itu memiliki ukuran dan sifat yang berbeda. Pedang yang pertama adalah pedang penyerang yang memiliki ukuran yang kecil. Sedangkan pedang kedua adalah pedang yang lebih besar, bahkan bisa saja pedang kedua ini diibaratkan sebagai tameng raksasa.”

Saat mengatakan semua hal itu, Elang mencoba menggambarkan apa yang ada dia katakan dengan menggunakan kedua tangannya.

“Dan selanjutnya, pasti bisa kau bayangkan apa yang terjadi pada kedua pedang itu bukan?”

Elang telah selesai menjelaskan apa yang dia maksudkan sebelumnya dengan penjelasan yang bisa membuat kedua murid di depannya mengerti. 

Rini akhirnya menyadari maksud Elang sebelumnya, sedangkan untuk Beni, dia masih tak bisa memercayai kalau apa yang dikatakan Elang adalah kebenarannya.

“Meskipun begitu, apa dia gak punya hati sih!?”

Hal itu pula membuatnya merasa sedikit emosi dan mengeluarkan kekesalanya dengan kata-kata.

“Sudah tenanglah. Dia pasti punya alasan yang kuat untuk melakukannya bukan? Walaupun apa yang kamu katakan itu benar, sepertinya dia lebih memilih membuat keputusan secara logika daripada menggunakan perasaan.”

“Bayangkan saja, dari angka 1 sampai 10, hanya satu keputusan saja di mana dia akan menggunakan perasaannya.”

Rini mencoba menenangkan Beni, sedangkan untuk Elang, dia mengatatakan hampir semua kebenaran dari sifat yang dimiliki Bagas.

“Tapi, tak perlu sekhawatir itu. Untuk ukuran seorang yang masih ingin memiliki kedekatan dengan orang lain, Bagas takkan terus membuat kalian kecewa dengan segala keputusan yang dia ambil. Lagipula, kami para orang dewasa juga takkan membiarkan dia terus menyakiti dirinya sendiri seperti itu.”

Di akhir kalimat, Elang mengatakan sesuatu yang dapat membuat Rini dan Beni secara otomatis bertanya padanya. Apa maksud dari kalimat terakhir yang dia ucapkan. 

“Apa maksud bapak dengan ‘para orang dewasa’ itu?”

“Emm, yah, kau juga sebenarnya tak perlu memikirkan hal itu sih, soalnya, tanpa kau sadari beberapa saat lagi pasti Bagas akan mencoba menjadi lebih dekat lagi dengan kalian.”

Meskipun sudah dikatakan seperti itu, Beni tetap tak bisa mengerti dan memastikan sendiri maksud dari perkataan Elang.

“Yang lebih penting lagi, sepertinya aku melupakan semua pekerjaanku. Untuk itu, sebaiknya aku pergi sekarang.”

Salam perpisahan yang lumayan tak pantas bagi seseorang guru. Begitulah pikir Beni selaku anak murid dari wali kelasnya.

“Tapi-“

“Waduh, sudah selama ini, pasti sebentar lagi bakal ada yang-“

Sebelum Beni mulai mengatakan sesuatu, Elang menyela, dan sebelum Elang menyelesaikan perkataannya, suara dobrakan dari pintu ruang UKS terdengar sangat keras. Membuat Rini dan Beni menjadi terkejut karenanya.

Saat itu, pintu masuk ruang UKS tak dapat terlihat karena tertutupi oleh horden. Karena itu sosok dari seseorang yang masuk tak dapat terlihat. Namun, suara berat dari langkah kakinya menandakan kalau orang itu sedang dalam keadaan marah.

“Kalau gitu, bapak kabur dulu.”

“-Uwih!”

Dan saat sebelum sosok itu mencapat posisi mereka, Elang telah berada di atas jendela. Mencoba kabur dengan jalur alternatif.

“Oh iya, besok mungkin rumah Bagas akan kosong, untuk itu aku ingin kalian untuk menjaganya ya.”

“Pak, tung-!”

Elang telah melompat pergi, dan sesaat setelah kepergiaannya, sosok yang masuk ke dalam ruangan juga mulai mengejarnya. Beni tak tahu siapa dan apa yang baru saja lewat, tetapi apapun itu, sepertinya Elanglah yang sedang dikejar.

“Fiuh, hampir aja.”

Tetapi kelihatannya, Elang tak berlari keluar, melainkan melompat dan bersembunyi. Sedangkan sosok orang yang mengejarnya telah berlari keluar.

Karena keadaan telah aman, Elang masuk lagi ke dalam UKS. 

“Apa yang mau kau katakan sebelumnya?”

“Ya, itu, soal ulangan tengah semester?”

“Oh, itu, aku belum menyelesaikan soalnya. Tapi, ngomong-ngomong, kita kan baru saja masuk setelah liburan senin kemarin. Tapi kenapa kau langsung bertanya tentang ulangan yang mungkin akan diadakan tiga bulan lagi.”

“Ya, enggak, cuma pengen tanya aja.”

Mereka berdua terdiam setelah berbasa-basi mengenai sebuah kegiatan yang masih lama akan diadakan. Setelah beberapa saat terdiam sambil menunggu seseorang untuk merespon diam tersebut, akhirnya Elang bereaksi.

“Sepertinya aku harus pergi.”

“Tunggu!!”

Elang mulai berlari keluar, sesaat setelahnya suara teriakan yang dikenali oleh Beni terdengar mengarah ke posisi mereka.

“Lek!”

Dan pada saat sosok itu masuk lewat jendela, Beni memanggilnya dan membuatnya terhenti. Itu adalah sosok ketua kelas XII TKJ.

“Ceng, apa kau baru aja berbincang dengan pak Elang?”

Rian menggunakan nada menyeramkan dalam ucapannya, membuat Beni takut karena mungkin saja dia akan dimarahi karena telah membiatkan Elang—wali kelas mereka kabur dari pekerjaannya.

“Y-ya-ya, cuma sedikit.”

Hal terakhir yang bisa dia lakukan adalah memberikan alasan kecil, meskipun Rian tahu hal itu tanpa dia memberitahukannya.

“Huft, dia itu, selalu saja kabur di saat pekerjaannya mulai menumpuk.”

“I-itu pasti karena dia juga pusing memikirkan semua pekerjaannya. Apalagi hampir separuh sistem persekolahan dipegang olehnya.”

“Itu karena dia bodoh, mengatakan bisa mengatasi segalanya. Padahal dia juga bisa dibuat babak belur oleh semua pekerjaan itu.”

Rian tak habis pikir dengan cara bekerja gurunya, sedangkan untuk Beni, dia hanya bisa pura-pura mengerti atas masalah yang sedang dipikirkan.

“Ya, sudahlah. Lagipula aku takkan bisa lagi mengejarnya. Ngomong-ngomong, apa aja yang kalian bicarakan tadi?”

“Kami, sedang membicarakan sosok seorang-.”

“-Cukup.”

Beni hendak memberitahu topik yang sebelumnya dia bicarakan dengan Elang, tetapi Rian mengisyaratkan untuk menghentikan perkataannya. Itu seperti dia telah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Beni.

“Yah, tadi aku juga baru saja membicarakan hal itu dengan Euis. Dan, tetap saja hal itu juga membuatku kesal.”

“-Kesal?!”

“Tapi walaupun gitu, aku juga gak bisa nge lakuin apapun selain membantunya semampuku.”

Di awal perkataannya, ekspresinya menjadi jengkel, tetapi pada akhirnya, Rian tak begitu saja kesal dengan sosok seseorang yang sedang mereka bicarakan.

“Kau juga...”

Perkataannya kali itu di arahkan ke Beni yang sebelumnya sedang menunduk. Mendengar dirinya yang dimaksud, dia kembali mengangkat kepalanya.

“Jangan mau tertinggal oleh kami. Rini telah berhasil membuat dirinya berguna untuk orang lain. Aku dan Euis juga sudah berusaha semampu kami untuk mengabdikan diri dengan membuat dunia menjadi lebih baik. Lalu, bagaimana denganmu?”

Mendengar hal yang dimaksud oleh Rian, Beni teringat sesuatu tentang janji yang mereka berlima ucapkan sewaktu mereka masih kecil.


***


“Aku mau jadi perawat.”

“Ooh, sangar begitu Rini juga mau merawat orang lain ya.”

“Memangnya gak boleh!?”

“Hehehe, bukannya gak boleh kok. Justru bakal bagus, kalau kamu bisa merawat seseorang yang habis kamu hajar.”

“Iihh, apaan sih?!”

“Maaf-maaf, kalau aku, pastinya bakal melanjutkan bisnis keluargaku.”

“Pastinya, karena kau adalah anak satu-satunya, Euis.”

“Memangnya Rian mau jadi apa kalau sudah besar nanti?”

“ Kalau aku sih, sederhanaya ingin pekerjaan yang bisa menolong orang banyak.”

“Hahaha, jadi perawat kaya Rini aja Ian”

“Diamlah kurap.”

“Kurap?! Kalau aku maunya jadi presiden! Maunya sih, kalau kau Ceng?”

“Ya, aku mau pekerjaan yang bisa membuat orang lain senang, itu aja.”

“Jadi seniman?”

“Kenapa seniman?”

“Hahaha, kau gak tahu sih arti sebenarnya dari seniman itu, Ian.”

“Memangnya apa, Bagas?”

“Dengar ini, Euis, seniman itu adalah pencipta. Pencipta adalah pemberi kebahagaiaan. Itu berarti seniman adalah pekerjaan yang bisa membuat orang lain senang.”

“Apa itu, kau cuma bolak-balik mengatakan hal yang gak jelas.”

“Tapi aku juga setuju sama Bagas sih, kalau Beni jadi seniman.”

“Memangnya kenapa, Rini?”

“Soalnya gambar yang dia buat bagus sih.”

“Iya juga tuh. Halaman buku gambarnya aja habis dibuat untuk gambar.”

“Hehehe.”

“Itu berarti pekerjaan yang kau inginkan adalah menjadi pelukis, ya Beni?”

“Pelukis juga seniman loh, Ian.”

“Diamlah, kutil.”


***


Duduk dengan menopang tubuh menggunakan tangan di atas paha, dia mencoba untuk menenangkan kepalanya yang sudah beberapa hari itu terasa berat. Tubuhnya yang masih terasa lemah masih belum bisa berbuat banyak hal.

Tangan yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya, menandakan kalau keadaannya cukup buruk. Rasa pusing di kepalanya juga masih bisa dirasakan walaupun sedikit-sedikit.

“Bagas, kamu sudah bangun?”

Dari arah kanan, suara itu mendatanginya dengan sedikit perasaan terkejut.

“Bagaimana keadaanmu, apa masih ada yang terasa sakit?”

Wajah cantik yang mengkhawatirkannya itu, membuat sakit kepalanya hilang sesaat. Namun, mengingat kalau waktu itu hanya ada dia dan dirinya di rumah, membuat kepalanya menjadi pusing kembali.

“K-kamu baik-baik saja?!”