Episode 145 - Pencuri!



Regu Terpaksa, bersama Cikartawana, membuntuti seekor Harimau Jumawa yang diketahui memuat kesadaran Cikeusik. Tekanan berat terasa mendera di sepanjang perjalanan saat menelusuri wilayah Lingkar Tangtu untuk mencapai pusat Alas Roban. Puluhan ahli mengamati mereka dari balik pepohonan. Walau, tak satu pun dari mereka bertindak, karena keberadaan Cikeusik yang berperan sebagai penuntun jalan. 

Hari jelang petang, perjalanan berlanjut dengan menuruni lembah nan terjal. Tekanan berat tiada terasa lagi. Sepertinya mereka telah tiba di wilayah pusat, dimana sebuah gerbang dimensi alami untuk keluar dari Alas Roban menanti.

Di kejauhan, terlihat sebuah batu kali berwarna abu-abu tua nan besar. Besarnya tak tanggung-tanggung, mungkin sekitar dua sampai tiga kali ukuran tubuh gajah biasa. Permukaannya teramat mulus. Di sisi atas batu tersebut, sesuatu seolah berpijar, mirip pembiasan yang terjadi terhadap udara panas. Diperlukan jalinan mata hati untuk mendapati sebuah lubang yang tak kasatmata. Ukuran gerbang dimensi alami tersebut hampir setara dengan batu kali raksasa di sisi bawahnya. 

“Gerbang dimensi alami di atas batu itu yang akan mengantarkan kalian menuju wilayah luar Alas Roban. Kita tak dapat menentukan arah tujuan gerbang dimensi. Ia yang akan menentukan sendiri tempat yang sepantasnya kalian tuju,” papar Cikartawana.

“Hm...?” 

Kedua mata Lintang Tenggara tetiba menatap membesar ke arah lain. Tak jauh dari batu kali itu, ia menangkap bongkahan-bongkahan kristal nan bening dan berkilau berserakan. Ukuran setiap satunya hampir sebesar buah melon yang sudah matang. Bagi Urang Rawayan, bebatuan langka tersebut seolah tiada berarti. 

Yang Terhormat Cikeusik, dan Adik Cika,” sapa Lintang Tenggara dari arah belakang. “Bolehkah diriku membawa buah tangan? Sebagai cendera mata pernah datang berkunjung ke Alas Roban?” 

Cikartawana menoleh acuh tak acuh. Mungkin dalam pikirannya jengah melihat Lintang Tenggara yang seolah sedang berwisata ke Alas Roban. Mungkinkah mereka lupa bahwa Cikartawana mengorbankan satu-satunya permintaan yang dapat ia ajukan kepada Pu’un Tangtu sepanjang hidupnya? 

“Beberapa bongkah Intan Abadi, mungkin...?” Dua bola mata Lintang Tenggara tak lepas dari bebatuan langka itu. 

Harimau Jumawa, yang dirasuk oleh kesadaran Cikeusik, melangkah pergi. Ia tak mengiyakan maupun melarang permintaan Lintang Tenggara. Dengan kata lain, terserah saja. Tugasnya mengantarkan rampung sudah. Jadi, tak perlu berlama-lama menemani ahli-ahli dari dunia luar tersebut. 

“Masing-masing dari kalian hanya diperkenankan membawa sebongkah Intan Abadi.” Akhirnya Cikartawana menanggapi.

Lintang Tenggara tersenyum lebar. “Diriku memerlukan setidaknya empat bongkah,” ujarnya pelan sambil meraih sebongkah besar yang tergeletak. Segera ia masukkan sebongkah Intan Abadi ke dalam sebuah cincin Batu Biduri Dimensi. 

Sangara Santang ikut mengambil sebongkah. “Kakak Lintang, dikau berutang padaku.” Ia tersenyum ramah dan melemparkan sebongkah Intan Abadi ke arah Lintang Tenggara. 

“Tentu saja!” sambut Lintang Tenggara. “Kau tahu dimana aku berada jika menginginkan sesuatu.”

“Kakak Lintang, sudikah mengantarkan diriku pulang ke Pulau Dua Pongah...?” aju Lampir Marapi. Angin membelai ringan rambut hitam yang tergerai panjang. 

“Sungguh berat pemintaanmu, wahai Perawan Putih. Dengan jabatanku, maka tindakan tersebut dapat membahayakan hubungan antara Pulau Lima Dendam dan Pulau Satu Garang...”

Lampir Marapi meraih sebongkah Intan Abadi.

“Akan tetapi... bukan tak mungkin diriku secara diam-diam mengantarkanmu. Juga akan menjadi kesempatan baik untuk meluruskan kesalahpahaman dengan Gubernur Pulau Dua Pongah....” Cepat sekali Lintang Tenggara berubah pikiran. 

Lampir Marapi tersenyum riang. Ia pun segera mengantarkan sebongkah Intan Abadi ke tangan Lintang Tenggara. 

“Adik Lampir Marapi...” Raut wajah Sangara Santang gelisah.

“Kakak Sangara janganlah khawatir...,” potong Lampir Marapi. “Kakak Lintang akan melindungiku. Bilamana sudah dapat memastikan keselamatan ayahanda dan bunda, diriku akan segera kembali ke Sanggar Sarana Sakti.” 

Mendapat senyumannya yang demikian anggun, Sangara Santang luluh. Ia hanya dapat mengangguk. Terlihat pula bahwa dirinya cukup mempercayai Lintang Tenggara dalam hal ini. 

“Hm... aku masih membutuhkan sebongkah lagi...” Suara Lintang Tenggara sengaja dibuat agak kencang. 

Bintang Tenggara tak acuh. Ia masih berdiri mengamati batu kali nan mulus dan besar, serta gerbang dimensi unik di atasnya. Ia sedang terhanyut dalam sebuah lamunan. Bagaimana mungkin gerbang dimensi ini menentukan sendiri tempat yang menjadi arah tujuan ahli yang masuk ke dalamnya? pikir Bintang Tenggara. 

“Hoi... aku membutuhkan sebongkah lagi Intan Abadi!” 

Bintang Tenggara seolah tak peduli. Ia hanya melangkah santai, dan mengambil sebongkah Intan Abadi, lalu... menghenyakkan batu langka tersebut ke dalam tas punggung! 

Lintang Tenggara baru hendak angkat suara ketika ia mendengar...

“Ajari aku cara menyembuhkan mustika retak... barulah batu ini kuberikan padamu,” ujar Bintang Tenggara sambil menatap serius. 

Sebuah kesempatan langka tak hendak disia-siakan oleh murid Komodo Nagaradja! Tugasnya saat ini adalah mencari Maha Maha Tabib Surgawi guna menyembuhkan tubuh. Bilamana nanti tubuh Komodo Nagaradja terlepas dari pengaruh racun, dan pulih seperti sedia kala, maka masih ada satu lagi persoalan penting. Sebagai murid, Bintang Tenggara juga merasa berkewajiban menyembuhkan mustika retak sang Super Guru! 

Bintang Tenggara sangat memahami bahwa teknik yang Lintang Tenggara gunakan tergolong tabu dalam dunia persilatan dan kesaktian. Maha Guru Keempat di Perguruan Gunung Agung sempat mewanti-wanti akan hal ini, karena pemperbaiki mustika retak memerlukan tumbal nyawa sejumlah ahli lain. Meskipun demikian, ia berharap dapat mengembangkan teknik dari Lintang Tenggara sehingga tak memerlukan tumbal. Apa pun itu, dirinya harus memiliki pengetahuan dasarnya terlebih dahulu. 

Lintang Tenggara membalas dengan tatapan tajam. Terlihat sekali bahwa dirinya dibuat sangat sebal. Jarang dalam hidupnya ia sesebal ini terhadap ahli lain. Kini, malah adik kandungnya sendiri yang demikian sungguh sangat menyebalkan!

“Apakah kalian masih hendak kembali ke dunia luar?” Cikartawana ikut sebal. 

“Adik Cika, diriku berutang budi padamu. Sampaikanlah keinginanmu. Kemaharajaan Pasundan dan Sanggar Sarana Sakti akan berupaya segenap tenaga untuk mengabulkan.” 

Cikartawana hanya diam. 

“Sahabat-sahabatku, masih ada urusan lain yang wajib kuselesaikan. Bila ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Bila ada umur yang panjang, maka kita ‘kan bersua lagi.” 

Aku tak hendak pergi mandi bersamamu, gerutu Bintang Tenggara dalam hati. Entah apa yang akan kau lakukan nanti. 

“Tunggu!” sergah Cikartawana. 

Sangara Santang berhenti, menoleh, lalu melempar senyum. 

“Kembalikan terlebih dahulu Ajimat Pumpun!” 

Sangara Santang kini terlihat salah tingkah. Ia lalu melepaskan kalung dengan liontin kain hitam yang masih menggantung di leher. Tanpa rasa malu, ia menyerahkan kembali Ajimat Pumpun kepada Cikartawana. Dengan demikian, lelaki dewasa muda yang sekujur tubuhnya berbalut perban melompat terlebih dahulu, dan menghilang ke dalam gerbang dimensi.

“Adik Cika, diriku pun berutang padamu. Suatu hari pasti akan kubalas, apakah engkau bersedia atau tidak menerima balasan itu.” Aura terpelajar dan berwibawa menyibak dari Lintang Tenggara. Dengan berat hati ia mengembalikan Ajimat Pumpun. 

Lampir Marapi meraih kedua tangan Cikartawana di saat mengembalikan Ajimat Pumpun. Kedua gadis berpegangan tangan, walau Cikartawana terlihat canggung. 

“Kakak Cika... diriku adalah anak tunggal. Tak pernah terbayang memiliki saudara kandung. Namun, bilamana diperkenankan memiliki kakak perempuan, maka Kakak Citra adalah kakak pertama, dan Kakak Cika adalah kakak kedua,” ujar Lampir Marapi demikian riang. 

Cikartawana membalas dengan senyuman. Satu-satunya simpul senyum manis yang pernah ia sibak selama petualangan berlangsung di dalam Alas Roban. 

“Kakak Gemintang, kita pasti akan bersua lagi. Sampaikan salam rinduku kepada Kakak Embun.” Lampir Marapi terkekeh. 

“Hei! Binturong!” seru Lintang Tenggara. “Kutunggu kedatanganmu mengantarkan Intan Abadi itu. Jikalau di saat itu hatiku berkenan, mungkin saja akan kuajarkan cara menyembuhkan mustika retak.”

Bintang Tenggara hanya diam. Mungkinkah dalam situasi perpisahan ini akan terjadi perbincangan penuh makna, untuk pertama kalinya, antara kakak dan adik...?

“Nilaiku 9!” jawab Bintang Tenggara. 

“Cih!” Lintang Tenggara kembali dibuat sebal, walau menyadari bahwa ia berada dalam posisi yang lemah. 

Membelakangi Bintang Tenggara, lalu ia berujar, “Jikalau kau penasaran tentang ramalan kuno yang sempat disampaikan Pu’un Dangka, maka bukalah gulungan naskah hitam yang Panggalih Rantau curi dari anggota Partai Iblis. Kuyakin... adalah engkau yang menyimpan gulungan naskah itu.” 

Demikian, Lintang Tenggara dan Lampir Marapi bersama-sama melompat ke dalam gerbang dimensi di atas batu kali. 

“Cikartawana...,” Bintang Tenggara menggenggam Ajimat Pumpun. Namun, kedua matanya tak menatap gadis manis di hadapan. 

Bintang Tenggara sedang memandang jauh ke belakang Cikartawana. Dia antara pepohonan rindang-rindang, seekor trenggiling bersandar memeluk pohon. Menggigil tubuhnya, demikian sendu raut wajahnya. Ia membalas haru tatapan mata Bintang Tenggara. 

“Trengginas...,” gumam Bintang Tenggara. Secara naluriah ia menarik tangan yang tadinya hendak mengembalikan Ajimat Pumpun. 

“Jangan berpikir yang bukan-bukan...,” gumam Cikartawana. 

Gadis tersebut sepenuhnya menyadari bahwa telah terbangun hubungan yang sangat baik antara Bintang Tenggara dengan Trengginas. Ia menyadari pula bahwa selama tiga hari mencari binatang siluman, terjadi sesuatu yang membekas dalam di antara manusia dan binatang siluman itu.

Sempat terlintas dalam benak Bintang Tenggara untuk tak melepas Ajimat Pumpun dan membawa bersamanya Trengginas kembali ke dunia luar. Bukanlah sesuatu yang tak mungkin dilakukan. Bersama-sama, mereka memiliki kecepatan untuk menghindar dari Cikartawana dan Bacuga, lalu melompat ke dalam gerbang dimensi.  

“Urungkan niatmu itu...,” Cikartawana seolah dapat membaca jalan pikiran Bintang Tenggara. Bacuga bersiaga. 

“Swush!” 

Secepat kilat Bintang Tenggara melompat ke samping. Segera pula ia mengenakan kembali Ajimat Pumpun! 

Di kejauhan, Trengginas yang masih terlihat khawatir spontan melompat cepat dan berguling ke arah Bintang Tenggara. Kilatan-kilatan listrik terlihat membungkus tubuh binatang siluman itu! 

Trengginas telah tiba di sisi sahabatnya. Akan tetapi, Bintang Tenggara segera menyadari bahwa seorang gadis berwajah demikian marah dan seekor badak bertampang garang, berdiri di antara dirinya dan batu kali besar. Cikartawana dan Bacuga menjadi tembok pemisah yang membentengi gerbang dimensi!  

Ulah maling papanjingan! Jangan mencuri walaupun kekurangan!”* 

Cikartawana terlihat berang. Di hadapannya seorang anak remaja melanggar Pikukuh. Gadis itu kemudian melompat meninggalkan Bacuga yang berjaga di depan gerbang dimensi. 

Bintang Tenggara turut melompat jauh ke belakang. Ia memantapkan hati. Entah mengapa, ia selalu memiliki kesan sentimentil dengan binatang siluman. Setelah kehilangan Ajerah si Ayam Jengger Merah di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani, ia tak hendak kehilangan Trengginas. 

Bintang Tenggara lebih senang dengan julukan peternak, namun kali ini ia rela disebut sebagai pencuri! 

“Atas kesepakatan bersama, aku memberi nama kepada Badak Bercula Tiga... Pumpun Mustika, Jurus Pertama: Bacuga!” 

“Atas kesepakatan bersama, aku memberi nama kepada Trenggiling Pusaran Kilat... Pumpun Mustika, Jurus Pertama: Trengginas!” 

Dua binatang siluman berhadapan! Kesadaran Cikartawana dan Bintang Tenggara telah meninggalkan tubuh mereka di kejauhan. Kesadaran keduanya merasuk ke dalam binatang siluman masing-masing. 

“Sekali lagi kuperingatkan! Jangan gegabah!” seru Cikartawana. 

Sesungguhnya Cikartawana tak hendak bertarung. Namun, di saat yang sama, ia tak mungkin membiarkan Bintang Tenggara pergi dengan membawa Trenggiling Pusaran Kilat itu. Oleh karena itu pula, berkali-kali sudah ia mengingatkan. 

“Cikartawana, maafkan aku..,” bisik Bintang Tenggara pelan. 

“Ziiiinnnngggg....” 

Suara berdesing yang berdengung panjang seolah mampu menyirep lawan. Tubuh Trengginas yang bersisik kebiruan telah berbalut kilatan petir. Seketika itu juga, mencuat gerigi mirip bilah pedang yang melengkung dari jurus kesaktian unsur petir Asana Vajra. Ia berguling cepat setelah mengambil wujud cakram besar yang berwarna biru! 

Rencana sederhana Bintang Tenggara adalah merasuk Trengginas dan segera melompat ke gerbang dimensi. Pada detik-detik akhir, ia kemudian akan kembali ke tubuh asli dan memanfaatkan teleportasi jarak dekat Silek Linsang Halimun untuk menyusul Trengginas ke dalam gerbang dimensi. Sederhana saja. 

Oleh karena itu, ia hanya seolah-olah menyerang lurus ke arah Bacuga. Padahal, beberapa Segel Penempatan telah tersedia sebagai papan loncatan untuk tinggal landas menuju gerbang dimensi di atas batu.... 

“Srash!” 

Tetiba puluhan bulir-bulir air mengudara dan menjadi tirai pertahanan tambahan di atas tubuh Bacuga. Jalur melesat Trengginas terhalang. Bintang Tenggara segera melempar satu Segel Penempatan di udara untuk membelokkan lintasan Trengginas! 

Rupanya, tak semudah itu melewati Bacuga yang berbekal kesaktian unsur air! Trengginas terlihat mendarat di kejauhan. Bintang Tenggara merasa ada yang aneh dari bulir-bulir air itu, karena bahkan Cikeusik dalam tubuh Harimau Jumawa berupaya menghindari. Bintang Tenggara tak hendak terjebak. 

Bacuga terlihat sigap dan mundur selangkah. Sesungguhnya, di saat melempar Segel Penempatan, Bintang Tenggara juga melempar Segel Petir. Sayangnya, Cikartawanan dengan mudah mendeteksi keberadaan segel yang bermanfaat untuk menghentikan gerakan sementara itu. 

Menggeretakkan gigi, Bintang Tenggara kembali merangsek maju. Ia tak memiliki waktu panjang dalam mengerahkan Ajimat Pumpun. Sedangkan Cikartawana mengetahui betul akan kelemahan ini, dan sepertinya hanya bertahan karena tak hendak kecolongan atas lawan yang mengandalkan kecepatan. 

Bintang Tenggara harus mengambil inisiatif! 

“Ziiiinnnngggg....” 

Trengginas terlihat berguling cepat mengelilingi batu kali nan besar. Upaya ini berkali-kali dilakukan seolah-olah untuk mencari celah. Malangnya, Bacuga turut bergerak sambil mengamati... sehingga tak membuka celah sama sekali. Salah langkah, maka Trengginas bisa menjadi korban serudukan tiga cula milik Bacuga. 

Bintang Tenggara terpaksa menarik diri. 

Guratan tanah membekas dalam sehingga membentuk semacam parit dangkal, akibat Trengginas yang berkali-kali mengelilingi batu kali nan besar. Karena lintasannya tak berubah, maka kilatan-kilatan listrik tertinggal membekas di dalam tanah. Akan tetapi, anehnya, kilatan petir di dalam parit yang mengelilingi Bacuga dan gerbang dimensi tidak mereda sama sekali... malah seolah bertumbuh! 

Asana Vajra, Bentuk Ketiga: Vriksasana! 

Biasanya, Bintang Tenggara memerlukan waktu untuk menumbuhkan pohon petir. Akan tetapi, dengan tubuh Trenggiling Pusaran Kilat, waktu yang diperlukan adalah untuk membangun lingkaran petir. Inilah alasan utama mengapa ia mengelilingi batu besar dan Bacuga secara berulang-ulang. 

“Beledar!” 

Gemuruh halilintar saling bersahutan ketika jurus dilepaskan. Lingkaran badai petir segera melingkupi wilayah kekuasaannya. Ratusan kilatan petir menyambar di dalam lingkaran secara tak terkendali. Tanah terlontar dan tak sempat mendarat karena petir menyambar beruntun dan sambung-menyambung. 

Bintang Tenggara menyaksikan dengan takjub. Selama ini, ketika melepas Bentuk Ketiga dari Asana Vajra, ia selalu berada di pusat badai petir sehingga tak menyaksikan dari sisi luar. Sungguh mengerikan badai petir tersebut. 

Selain itu, Bintang Tenggara juga tak terbebani akibat merapal jurus ini. Sebagaimana diketahui, Trengginas berada pada Kasta Perak. Dengan demikian, mustika binatang siluman tersebut masih memiliki cukup banyak cadangan tenaga dalam. 

Badai petir mereda. Keadaan di dalam lingkaran petir porak-poranda. Di hadapan Bintang Tenggara... Bacuga berdiri tenang! Apakah gerangan!? 

“Kau salah perhitungan…,” ujar Cikartawana. 

Bintang Tenggara segera tersadar. Kini ia mengetahui bahwa unsur kesaktian air adalah unsur kesaktian milik Cikartawana. Sedangkan unsur kesaktian Bacuga, adalah… tanah! Unsur kesaktian tanah menetralisir unsur kesaktian petir. Hanya bila petir lebih digdaya saja, barulah dapat ia mengungguli tanah. Bacuga dan Trengginas sama-sama berada pada Kasta Perak Tingkat 1! 

“Cetas!” 

Jalinan Pumpun Mustika antara Bintang Tenggara dengan Trengginas tetiba terputus. Di saat badai petir merajalela, kesadaran Cikartawana telah meninggalkan Bacuga dan kembali ke tubuhnya sendiri. Ia kemudian mendatangi tubuh Bintang Tenggara di kejauhan, dan kini merampas Ajimat Pumpun dari leher anak remaja itu. 

Bintang Tenggara tersadar di tubuhnya sendiri. Ia pun segera melompat mundur. Tanpa Ajimat Pumpun, maka ia tak akan memiliki kesempatan dalam menghadapi Cikartawana dan Bacuga… 

“Apakah gerangan yang terjadi…?” 

Cikeusik merasakan ada kejanggalan sesaat setelah meninggalkan Cikartawana dan keempat ahli dari dunia luar. Oleh karena itu, ia kembali, lalu mendapati Bintang Tenggara dan Cikartawana yang memang sedang bertarung. Walau, sedari tadi ia hanya mengamati saja dari kejauhan. 


Catatan:

*) Salah satu Pikukuh Baduy