Episode 7 - Kau Tak Perlu Takut Dengan Hantu



 Mentari sore mulai menguningkan langit-langit di bawah kampus ini. Suasana mulai sudah sepi, Ival dan Coklat berdiri di depan ruangan BEM. Mereka berdua hanya diam tanpa melakukan sesuatu menunggu Okta keluar dari ruangan. Tiga puluh menit berlalu, ya selama tiga puluh menit itu mereka sudah melewati waktu setengah jam. Setelah lama menunggu, akhirnya Okta beserta para pengurus BEM pun keluar dari ruangan. Kak Okta terkejut melihat mereka berdua masih ada di kampus.

 “Kalian? Kok, enggak kembali ke sekolah?”

 “Kita ditinggalin, Kak,” jawab Ival

 “Oh, kasihan. Ya terus?”

 “Kami boleh nginap kan di rumah kakak? Tenang kok, Kak, gratis juga enggak apa-apa.” 

 “What, no! Enak aja gratis, bayar!” teriak Okta.

 “Udahlah, Tek, kasihan mereka. Pasti orang tua mereka lagi nangis-nangis cariin mereka karena anaknya enggak pulang,” kata Erik lagi ngupil.

 Erik-Erik, orang yang satu ini kok hobi banget mengupil. Itu kering kali ya digaliin mulu setiap hari, ya sudahlah jangan dipikirkan. Itu kata Erik kalau orang tua mereka sedang menangis karena belum pulang dari sekolah. Mari kita lihat keadaan orang tua Coklat di rumahnya.

***


 Malam ini di kediaman Coklat, mereka diberi kabar kalau Coklat tertinggal di kampus oleh pihak sekolah. Di ruang tamu yang dihiasi bangku berwarna merah jambu dan sorotan lampu bohlam berwarna putih menjadi penerang dalam ruangan kecil ini. Di ruang ini pria paruh baya, berbadan tegap dan mempunyai kumis tipis di atas mulutnya, ya iyalah kumis mah memang di atas mulut bukan di atas mata, kalau di atas mata itu namanya alis. Dia adalah bapaknya Coklat yang sedang menerima kedatangan Bu Riny. Bu Riny duduk di hadapan si bapak, sementara ada seorang ibu yang sedang berdiri di samping si bapak, ibu itu adalah ibunya Coklat. Wajahnya seram, tapi cantik lho. Dia itu kayak model, kayak Angelina Jolie.

 “Malam, Pak.” Senyum Bu Riny.

 “Malam juga, ada apa, Bu Riny? Kangen ya sama saya?” tanya Bapaknya Coklat sambil senyum-senyum.

 Mendengar ucapan suaminya itu, si ibu lalu mengeluarkan aura berwarna merah di sekitar tubuhnya. Perlahan-lahan si ibu berubah menjadi sosok siluman rubah ekor sembilan atau kyuubi. Melihat keadaan itu, si bapak langsung mengingatkan si ibu akan akibatnya kalau berubah sembarangan.

 “Bu, sudahlah jangan jadi kyuubi lagi. Bapak capek tahu enggak kalau Ibu berubah terus merusakin rumah lagi. Berapa biaya yang sudah kita keluarkan buat membangun rumah ini? Enggak sedikit, Bu. Cukup.”

 “Iya, Ibu enggak jadi berubah kok tapi tadi kamu bilang apa ke Bu Riny, Pak?!” tanya Ibunya Coklat yang sudah kembali jadi manusia lagi.

 “Enggak kok, Mah. Just kidding,” ucap takut Bapaknya Coklat.

 “Sini! Kita selesaikan di dalam!”

 “I … iya, Mah.”

 Mereka berdua menyelesaikan masalah itu di dalam. 

 Brang … brught … plaaak … byuur … taaang … kedebuuug … teeeeng … door! 

 Dari ruangan dalam terdengar suara-suara aneh yang membisingkan telinga Bu Riny. Kalau seperti itu pasti ada barang-barang rumah tangga yang melayang, contohnya piring melayang, gelas melayang, panci melayang, kenceng melayang dan tivi, oh tivi tidak melayang karena mahal harganya. Sayangkan kalau sampai melemparkan sebuah televisi.

 “Haduh, pantas aja anaknya kayak gitu, mereka berdua juga aneh,” ucap Bu Riny.

 ***

 Setelah memakan waktu lima menit menyelesaikan masalah tersebut, akhirnya bapaknya Coklat kembali ke ruang tamu menemui Bu Riny. Dia tersenyum walau seluruh wajahnya biru-biru dan benjol-benjol akibat terkena barang-barang yang melayang. Dia tetap tersenyum, karena baginya tersenyumlah disaat keadaan apapun juga, meski keadaannya itu tak menyenangkan.

 “Maaf, tadi ada masalah sedikit. Ibu ada perlu apa ya?”

 “Gini, saya mewakili pihak sekolah meminta maaf atas .…”

 “Hiks, Coklat-Coklat, umurmu ternyata pendek ya.” Bapaknya Coklat langsung mewek.

 “Hah, apa? Coklat mati!” ujar terkejut Ibunya Coklat.

 “Sudahlah, kita ikhlaskan saja dia.”

 “Ayah, Ibu sebenarnya masih sayang sama dia, hiks.”

 Bu Riny lalu hening sejenak, sebelum melanjutkan pembicaraannya.

 “Haduh bukan, dia enggak mati kok. Dia cuma ketinggalan di kampus.”

 “Oh ketinggalan di kampus, ya udah biarin aja, tuh bocah kalau lapar pasti pulang kok ke rumah. Lagian juga kan kalau enggak ada dia, kita bisa hemat makanan, Mah”

 “Iya, betul banget kayaknya merdeka kita kalau dia enggak ada di rumah.”

 “Ya ampun, memang dikira ayam kalau lapar langsung pulang? Lagian tadi memble sekarang anaknya enggak pulang biasa senang banget kayaknya,” ucap Bu Riny, “tapi kami akan berusaha mencari dia hingga ketemu,” ucap Bu Riny.

 “Oh jangan, udah biarin aja. Dia udah gede kok, tahu jalan pulang sendiri.”

 “Tapi kan dia itu anak, Bapak?”

 “Oh bukan, Bu Riny, dia itu bukan anak saya.”

 “Loh?”

 “Iya, Bu Riny, saya mana bisa sih beranak. Yang tepat itu dia anak dari istri saya soalnya dia yang melahirkan si Coklat.”

 “Iya deh, terserah kata Bapak aja. Ya sudah terima kasih, kalau begitu saya permisi.”

 Bu Riny pun berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan menuju pintu keluar. Bu Riny yang barusan saja berdiri dan hendak keluar dari pintu ini tiba-tiba berhenti ketika Bapaknya Coklat memanggil dia. 

 “Bu Riny.”

 Bu Riny pun menoleh ke arah Bapaknya Coklat, Bu Riny pun lalu tersenyum.

 “Minta nomor handphone-nya dong, biar kalau saya kangen tinggal nelpon aja gitu.”

 Mendengar ucapan dari sang suami, lalu tiba-tiba Ibu Coklat menarik tangannya. Suasana kembali seperti tadi, barang-barang rumah tangga pun kembali melayang. 

 Plentaaang … kedebuk … taaang … tuuing … bught … baght… 

 Semua barang rumah tangga kembali terbang, kecuali barang-barang yang mahal.

 “Ampuuuun, Maaaaah!” teriak Bapaknya Coklat.

 Ternyata Erik salah, mereka biasa-biasa aja walaupun Coklat enggak pulang, makanya jangan sok tahu, Rik.

***


 Dengan terpaksa dan tampang kusutnya, Okta mengajak dua anak itu ke rumahnnya. Malam pun tiba, mereka sudah sampai di depan pintu kediaman Okta. Di rumah yang sangat mewah alias tidak mepet sawah, kenapa tidak mepet sawah? Karena sawahnya sudah habis digusur dan dijadikan rumah mewah. Di sekeliling rumah Okta suasana terasa sepi dan menyeramkan, banyak sekali pohon-pohon besar di samping kiri dan kanannya. Rumah Okta yang dihuni oleh ayah dan ibunya ini bisa dibilang angker. Setiap malam minggu tiba pasti ada saja sepasang kekasih yang menampakkan diri pacaran di pelataran rumahnya, dan itu membuat bulu kuduk Okta merinding.

 “Kalian harus waspada di rumahku ini, soalnya setiap malam minggu suka ada penampakan tapi kalian sih yang mau menginap di rumahku, jadi jangan salahkan Kakak ya.”

 “Penampakan apa, Kak?” tanya Coklat.

 “Penampakan orang pacaran.”

 “Cie yang jomblo, lihat orang pacaran aja nyesek,” kata Coklat.

 “Au akh gelap.”

 Wajah Coklat dan Ival langsung datar, mereka takut dengan keadaan yang Okta ceritakan barusan. Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah yang teramat besar bagi mereka. Bahkan dari kamar Okta menuju kamar mandinya itu ditempuh dengan menggunakan mobil, jauh banget kan. Saat mereka berjalan di dalam rumah terlihat Ayah Okta sedang duduk-duduk membaca buku. Ayah Okta yang gemuk, berkumis dan berjenggot. 

 “Okta, mereka siapa?”

 “Oh itu jadi penampakannya! Sereeeem!” teriak Coklat sambil nunjuk ke arah Ayah Okta.

 “Bukan, dia itu ayah aku.”

 “Oh, selamat deh,” kata Coklat sambil mengusap keningnya.

 “Ini, Yah, anak SMA yang ke kampus aku tadi, terus mereka ketinggalan di kampus.”

 “Oh, kenapa bisa ketinggalan?”

 “Katanya sih mereka habis dari toilet, Yah.”

 “Oh, kenapa dari toilet?’

 “Mungkin habis buang air, Yah.”

 “Oh, kenapa buang air?”

 “Kebelet kali mereka,” 

 “Oh, kenapa kebelet?”

 Lama-kelamaan ditanya kenapa, muka Okta udah manyun aja di hadapan ayahnya. Hatinya kembali gedek sama orang-orang yang dia kenal.

 “Au akh.”

 Setelah masuk ke rumahnya, Okta mengajak mereka berdua ke dalam satu kamar. Ya kamar ini sudah lama tak dihuni oleh penghuni rumah. Kamarnya masih terlihat rapih dan bersih namun suasana mencekam begitu terasa di dalamnya.

 “Ini kamar buat kalian berdua.”

 “Jadi boleh dibawa pulang ya, Kak?” tanya Ival.

 “Ini kamar, bukan barang yang bisa dibawa-bawa.”

 “Pelit amat.”

 “Bawa pulang kalau kamu bisa mah!”

 “Kakak marah nih.”

 “Ya udah, Kakak mau tidur dulu, jangan ganggu.”

 “Kak, aku cuma mau ngingatin doang.”

 “Apa?”

 “Kalau tidur jangan lupa merem.”

 “Iyaaa!”

 Seusai Kak Okta meninggalkan mereka. Mereka berdua berlari dan melompat ke atas kasur yang sudah tersedia. Lagi-lagi mereka kayak anak kecil yang baru pertama kali melihat kasur, haduh. Mereka berdua duduk di atas kasur, wajah mereka sumringah dengan keadaan seperti ini. Lampu kamar ini mereka menyalakan terlebih dahulu dan ajaibnya ketika lampu kamar itu menyala suasana pun terlihat terang.

 “Horeee teraaang,” serentak mereka berdua.

 Setelah lampu itu menyala kemudian mereka mematikan lampu itu kembali. Hawa kantuk mulai terasa menghinggapi mereka berdua.

 “Hoooam, ngantuk ya,” ucap Coklat.

 “Hoooam, iya nih. Tidur yuk,” sahut Ival.

 “Yuk.”

 Dan mereka pun memejamkan mata, menikmati waktu istirahat malam ini. Tiba-tiba saja di pertengahan malam, Coklat terbangun. Sejenak dia terdiam melihat sosok putih di hadapannya. Sosok di hadapan Coklat itu adalah pocong.

 “Aaa .…”

 Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulut Coklat, pasti dia takut dengan apa yang dia lihat.

 “Aaa … aaanu … gue lupa lagi nama setan yang ada di hadapan gue ini,” ucap Coklat sendirian.

 Hadeh, sama jenis setan kayak gini aja dia lupa. Mendengar hal itu si pocong juga diam melongo.

 “Sebentar ya tunggu, gue bangunin teman gue dulu buat cari tahu jenis setan apa yang ada di hadapan gue. Kalau soal teriak ketakutan di-pending aja dulu ya.” 

 Entahlah, karena merasa dicuekin dan merasa tak takut dengan kehadirannya, si pocong pasang muka sedih di hadapan Coklat, tapi dicuekin gitu aja. Akhirnya si pocong rela menunggu Coklat membangunkan temannya itu.

 “Val … bangun, Val .…”

 Ival tetap tertidur pulas dan tak bangun.

 “Val, wooy bangun kenapa!” teriak Coklat.

 Berkali-kali Coklat mencoba membangunkan Ival dan berkali-kali juga usahanya gagal.

 “Teman gue enggak bangun, hmmm bagaimana kalau kamu yang bangunin dia. Nanti kan dia kaget tuh, teriak ketakutan, ya ya?” Coklat menaikkan alis matanya.

 Akhirnya si pocong menganggukkan kepalanya dan dia bersedia membangunkan Ival.

 Pocong itu pun menuruti apa kata Coklat. Dengan tampangnya yang seram, dia menghadapkan wajahnya tepat di depan wajah Ival. Sang pocong itu pun lalu meniup-niupkan bau mulutnya ke hidung Ival. Merasa ada bau yang aneh, Ival pun terbangun. Dia perlahan-lahan membuka matanya, dan sekejap saja Ival terdiam tanpa kata melihat sosok pocong di hadapannya.

 “Hehehe.” Senyum sang pocong.

 Plak! 

 Dengan sengaja, Ival menampar wajah si pocong dengan tangannya.

 “Aduw!”

 “Ngapain lo ngagetin gue?! Untung gue punya jantung jadi enggak jantungan! Coba kalau jantungan, lo mau tanggung jawaaab” teriak Ival.

 Sang pocong pun hanya bisa memanyunkan wajahnya, menahan sakitnya tamparan yang diberikan Ival.