Episode 144 - Cakram



“Atas kesepakatan bersama, aku memberi nama kepada Angsa Puti Suci... Pumpun Mustika, Jurus Pertama: Anggun!” seru Lampir Marapi. 

Di udara, terlihat seekor angsa terbang melayang dengan gemulai. Ia menari-nari bermain dengan alunan angin. Ia berputar, merangsek tinggi, bersalto, menukit tajam, melayang-layang....

Menanti di bawah, seekor binatang Siluman Ular Sanca Terbang. Ukuran tubuhnya sebesar pohon kelapa, panjangnya tak diketahui pasti karena ia sedang dalam posisi melingkar. Kepalanya mendongak, raut wajahnya seperti sedang khusyuk mengamati Lampir Marapi.

Lima menit berlalu, Anggun si Angsa Puti Suci, yang dikendalikan oleh kesadaran Lampir Marapi, masih menari-nari tinggi di udara. 

Sepuluh menit berlalu, tak ada tanda-tanda Lampir Marapi akan turun ke bawah dan bertarung. 

“Hei! Lawanmu sudah menanti!” hardik Cikartawana yang menjadi tak sabar dan tak hendak menyinggung seorang ahli dari Lingkar Tangtu. 

Lampir Marapi yang keasyikan masih terbuai dalam tarian. Ia menoleh pelan ke bawah. Sepertinya baru tersadar ia bahwa seharusnya bertarung, bukan menari seorang diri. 

Sangara Santang dan Lintang Tenggara khawatir. Keduanya merasa bahwa Lampir Marapi akan menjalani pertarungan berat. Lawannya adalah seekor binatang siluman ular. Bilamana angsa memiliki cakar-cakar kuat seperti elang atau bahkan ayam, maka menghadapi ular adalah perkara mudah. Bilamana paruh angsa setajam unggas pemangsa, maka ia dapat mencabik ular. Akan tetapi, angsa tak memiliki cakar yang kuat, kuku kakinya berselaput dengan fungsi ibarat dayung saat berenang di air atau membantu berjalan dengan mudah di atas lumpur. Paruhnya berbentuk sudu, yang berfungsi mencari makan di air. 

Bintang Tenggara pun memperkirakan bahwa pertarungan antara angsa melawan ular akan berlangsung berat sebelah. Bagaimana caranya Lampir Marapi menyiasati kekurangan angsa? Bila saja mereka sejak awal mengetahui bahwa lawan adalah seekor ular, maka persiapan khusus bisa dilakukan. Akan tetapi, saat ini sudah agak terlambat….

“Sungguh tarian Angsa Puti Suci dari Telaga Suci nan mempesona. Baru kali ini diriku menyaksikan keindahan tiada tara,” ujar Ular Sanca Terbang. Pupil matanya membesar. 

Lampir Marapi menebar sayap lebar dan besar di saat ia mendarat. Ibarat dalam sebuah gerakan lambat, keanggunannya menyilaukan mata!” 

“Kuberikan nilai 8,5 atas tarian yang demikian anggun!” 

“Gubrak!” Sangara Santang dan Lintang Tenggara hampir jatuh terjengkang! Pertarungan antar binatang siluman seperti apakah ini!? Penilaian yang diberikan sangat subyektif! Apalagi, nilai yang diberikan kepada Lampir Marapi bahkan lebih tinggi dibandingkan mereka berdua! Ini bukan pertarungan namanya!

Apa pun itu, Ular Sanca Terbang merayap meninggalkan padang rumput. Mungkin ia memang penikmat seni tari, sehingga hatinya senang sekali setelah mendapat kesempatan menyaksikan tarian anggun di udara. 

“Atas kesepakatan bersama, aku memberi nama kepada Trenggiling Pusaran Kilat... Pumpun Mustika, Jurus Pertama: Trengginas!” ujar Bintang Tenggara setengah berbisik.

Trengginas si Trenggiling Pusaran Kilat melompat cepat dari semak belukar di belakang regu. Sejak awal memang ia bersembunyi karena malu. Ibarat roda pedati setinggi paha yang melingkar, Trengginas berguling membelah rerumputan, guratan yang demikian rapi tercipta pada jalur yang telah ia lintasi. Bintang Tenggara telah mengambil alih tubuh binatang siluman yang kurang percaya diri itu.

Seekor binatang siluman Kalajengking Peluruh bersiaga. Ukuran tubuhnya hampir sebesar seekor sapi muda. Layaknya kalajengking, tubuh binatang siluman tersebut terdiri dari banyak ruas-ruas yang terlindung cangkang keras. Delapan jumlah kakinya, dua kaki paling depan merupakan sepasang capit nan besar. Kemudian, ekor kalajengking itu melengkung ke atas dan menghadap ke depan, ibarat sebuah tombak yang siap menikam. Tak diragukan lagi bahwa ‘mata tombak’ di ujung ekor tersebut sangatlah berbisa!

“Hahaha… sudah cukup lama aku tak bertarung!” seru Kalajengking Peluruh. 

Anggota Lingkar Tangtu yang lain tak berkenan berbicara, apalagi bersuara, kepada orang-orang asing. Penilaian yang meraka sampaikan sesungguhnya ditujukan kepada Cikartawana seorang. Akan tetapi, yang satu ini sedikit berbeda. Sepertinya, ia sangat menantikan kesempatan bertarung!

Pertarungan pun dimulai! 

“Srash!” 

Semburan api tetiba menyeruak dari mulut Kalajengking Peluruh. Memiringkan tubuh, Trengginas terlihat menikung dengan cepat guna menghindar dari semburan api. Rerumputan hijau segera menjadi korban, api serta-merta menghanguskan wilayah cakupannya. 

“Ck!” terdengar Cikeusik berdecak. “Jangan merusak alam!” Ia mengingatkan si Kalajengking Peluruh. 

Kalajengking Peluruh tak mengejar. Sebagaimana Urang Rawayan kebanyakan, ia memahami betul karakter binatang siluman, tak terkecuali Trenggiling Pusaran Kilat. Binatang siluman tersebut terbiasa bergerak cepat demi melarikan diri. Meski demikian, bilamana dimanfaatkan oleh ahli yang menggunakan Pumpun Mustika, maka binatang siluman tersebut memiliki kecepatan yang tak dapat dipandang sebelah mata. 

Di kejauhan, Trengginas berhenti berguling. Ia pun tak meringkuk, melainkan terlihat seperti merayap di atas rerumputan. Waktu yang tersedia selama dua pekan, sesungguhnya tak memadai bagi kesadaran Bintang Tenggara untuk dapat berguling dalam waktu lama. Benaknya pening bukan kepalang sehingga memerlukan rehat sejenak. 

Kalajengking Peluruh merangsek cepat. Ia mengejar ke arah Bintang Tenggara! 

“Ck!” Bintang Tenggara mendecakkan lidah. Segera ia melompat, meringkuk, dan berguling menjauh. 

Kalajengking Peluruh tak meredakan langkah, bahkan memacu semakin cepat. Tiga pasang kakinya bergerak lincah, dan sepasang capit menantikan kesempatan untuk menjepit dan mengoyak-ngoyak tubuh lawan. 

Berhasil menjaga jarak, Bintang Tenggara kembali beristirahat. Ia sepenuhnya menyadari bahwa lawannya kali ini memiliki keunggulan jarak dekat dan menengah. Jarak tekat mengandalkan sepasang capit besar serta ekor berbisa, sedangkan jarak menengah dicapai dengan menyemburkan api. 

Jarak di antara mereka terpaut sekira sepuluh meter. Tetiba, Trengginas si Trenggiling Pusaran Kilat terlihat melompat dan berguling cepat ke arah Kalajengking Peluruh! 

Jarak yang memisahkan mereka memendek hanya dalam satu atau dua kedipan mata. Kalajengking Peluruh menyiapkan sepasang capit besar untuk menangkap lawan. 

“Swush!” 

Tetiba Trengginas lepas landas! Ia meluncur tinggi di udara. Tanpa seorang pun sadari, Bintang Tenggara sebelumnya telah melempar beberapa Segel Penempatan. Segel tersebut dipasang berjejer miring sedemikian rupa agar menjadi semacam papan loncatan. Di udara, kini Bintang Tenggara seolah melenting dan siap mendarat di tubuh sisi atas lawan. 

“Hm....” Sangara Santang terpesona. Dari sudut pandangnya, seolah sebuah roda pedati terlihat berputar deras pada lintasan mirip lengkungan kurva untuk mengincar lawan di bawah. 

“Tidak cukup cepat...,” gumam Lintang Tenggara. 

“Trak!”

Ekor Kalajengking Peluruh, walau sedikit terlambat, berhasil menepis tubuh Trenggiling Pusaran Kilat. Kalau saja bukan merupakan serangan mendadak, maka upaya Bintang Tenggara ini justru dapat berbalik bencana karena akan menjadi sasaran empuk tikaman ekor kalajengking nan berbisa!

Walhasil, Bintang Tenggara terlontar jauh. Meskipun demikian, ia tak menderita luka. Jarak kembali memisahkan mereka, dan Bintang Tenggara kembali beristirahat guna menghilangkan pening yang mendera. 

Kalajengking Peluruh berdiam diri. Meskipun dapat menangkis dengan mudah, ia tak cukup cekatan untuk menikam. Bila serangan yang sama diulang, maka ia akan memperoleh kesempatan untuk menusuk lawan dengan akurat. Oleh karena itulah, ia berdiam diri menantikan serangan. 

Lumayan, pikir Bintang Tenggara dalam hati. Kini kalajengking itu lebih waspada, sehingga tak akan merangsek sembarangan ke arah dirinya. Dengan demikian, ia dapat beristirahat lebih lama lagi. 

Waktu berselang. Kalajengking Peluruh tak cukup sabar menanti. Ia pun kembali merangsek maju!

Di saat yang sama, Bintang Tenggara pun menyerang. Ia melompat dan berguling demikian cepat. Akan tetapi, kali ini berbeda. Trengginas tak lepas landas. Sedikit lagi kedua binatang siluman akan berbenturan, Bintang Tenggara memiringkan tubuh dan menikung ke samping kiri. Ia kini terlihat menghindar dan berupaya menjauh dari sisi kanan kalajengking... 

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana! 

“Ziiinnggg….”

Bunyi berdesing terdengar ketika kesaktian unsur petir dikerahkan pada binatang siluman yang berputar deras. Sebagaimana diketahui, jurus ini biasanya dikerahkan untuk melingkupi sekujur kaki dengan unsur petir, guna mempercepat gerak langkah. Dalam kesempatan kali ini, berkat jurus unsur kesaktian ini pula, Bintang Tenggara mengubah arah putaran berguling dalam seketika. Bila tadinya Trengginas berguling ke depan, kini ia terlihat seolah berguling di tempat. 

“Zing!” 

Bintang Tenggara tetiba melecut mundur! Sesungguhnya ia bukanlah berguling di tempat, melainkan mengubah arah putaran untuk berguling ke belakang. Karena kecepatan mengubah arah berguling yang demikian tinggi, tadi ia seolah berguling di tempat, sebelum melecut mundur ke arah lawan yang lengah!

“Brak!” 

Trenggiling Pusaran Kilat dan Kalajengking Peluruh sama-sama terpental ke arah yang berlawanan! Pada detik-detik akhir, si kalajengking sempat memutar tubuh dan melindungi diri dengan memanfaatkan sepasang capit yang keras dan besar! 

Kalajengking Peluruh mendarat di kejauhan. Kedua capitnya terlihat bergetar dan menyisakan guratan-guratan halus sisik trenggiling. Ia menatap tajam ke arah lawan. Ia hendak mengucapkan sesuatu.... namun menahan diri. 

Trengginas jatuh tersungkur lebih jauh lagi. Kesadaran Bintang Tenggara pening bukan kepalang. Inilah alasan mengapa ia menahan diri dari mengerahkan kesaktian unsur petir. 

Sebagai catatan, sebenarnya anak remaja itu tak dapat memanfaatkan kesaktian unsur petir tanpa bantuan Cincin Gundala Si Putra Petir. Cincin tersebut saat ini tersemat di ibu jari tubuh aslinya, yang sedang duduk bersila di belakang sana, di dekat Regu Terpaksa. 

Dengan demikian, unsur petir yang Bintang Tenggara kerahkan adalah unsur petir yang melekat pada tubuh Trenggiling Pusaran Kilat, sebagai unsur kesaktian binatang siluman. Dari bunyi yang dikeluarkan saja terdengar perbedaan antara kedua unsur petir. Bunyi dari kesaktian unsur petir Cincin Gundala terdengar berderak. Sedangkan unsur petir dari Trenggiling Pusaran Kilat mengeluarkan bunyi yang berdesing.

Waktu kembali berlalu sebelum Kalajengking Peluruh mengambil inisiatif untuk memperpendek jarak. Untungnya, ia hanya memperpendek jarak, bukan menyerang. Bintang Tenggara kembali memperoleh kesempatan emas untuk menenangkan diri. 

“Cukup sudah...,” ujar Cikeusik melalui jalinan mata hati. 

“Belum. Aku masih hendak bertarung!” jawab kesadaran yang saat ini merasuk tubuh Kalajengking Peluruh. Ia pun serta-merta merangsek maju! 

Bintang Tenggara berharap bahwa lawan sepantasnya telah memberikan penilaian. Pertarungan-pertarungan sebelumnya berlangsung relatif singkat. Akan tetapi, mengapa lawan kali ini masih saja datang menyerang!? 

“Ck!” Bintang medecakkan lidah sejurus sebelum melompat dan berguling ke arah lawan. Ia sepenuhnya sadar tak dapat berlama-lama lagi merasuk tubuh Trenggiling Pusaran Kilat. Kemampuan yang diberikan oleh seutas kalung Ajimat Pumpun, memiliki tenggat waktu sehingga bersifat sementara belaka.

“Swush!” 

Trengginas kembali lepas landas setelah melibas papan loncatan yang terbuat dari jajaran Segel Penempatan. Kalajengking Peluruh mendadak berhenti di tempat. Dalam hati, ia puas. Dalam diam ia menantikan lawan menghujamkan diri. Sepasang capit besar siap menanti, ekor bak sebilah tombak tajam siaga menyambut. 

“Srash!” Kepulan api membara berhembus ke arah Trengginas yang masih melayang di udara!

“Ziiiiiinnngggggg....” 

Suara berdesing berdengung demikian panjang ketika jurus kesaktian unsur petir dikerahkan dan membelah kobaran api! Kali ini, trenggiling yang berputar deras tak hanya terlihat seperti roda pedati. Trengginas kini terlihat lebih mirip sekeping cakram besar yang bergerigi! 

Bintang Tenggara mengerahkan Bentuk Kedua: Virabhadrasana dari rangkaian jurus Asana Vajra. Biasanya jurus ini menghasilkan cakar-cakar bermuatan petir… Akan tetapi, ketika dikerahkan oleh tubuh binatang siluman Trenggiling Pusaran Kilat, kini petir mengambil wujud sebagai gerigi-gerigi cakram yang melengkung yang tajam! 

“Duar!” 

Bintang Tenggara melibas deras. Ia tak menghiraukan sepasang capit besar dan ekor berbisa. Tanah berhamburan dan debu membumbung. Sebuah guratan terlihat membekas dalam, ibarat tanah yang terbelah di saat sebilah pedang raksasa nan tajam menebas bumi! 

Kalajengking Peluruh terjungkal ke samping. Ia segera menyadari akan ancaman yang teramat besar ketika cakram bergerigi petir terlihat menembus kobaran api. Sekonyong-konyong ia melompat ke samping, bahkan tak menunggu detik-detik akhir!

“Cukup!” seru Cikeusik. Kini dengan nada yang lebih tegas. 

Kesadaran Bintang Tenggara dalam tubuh Trenggiling Pusaran Kilat mendarat di kejauhan. Ia jatuh terjerembab. Kaki-kakinya gemetar menahan tubuh agar tak jatuh tergeletak. Napas terengah, kepalanya pusing bukan kepalang. 

“Hmph...,” Kalajengking Peluruh seolah masih hendak bertarung. 

“Segera beri penilaian!” perintah Cikeusik lagi. 

“Dapat menggerakkan kemampuan alami dari tubuh, serta mengerahkan kesaktian... Dengan kata lain, mampu menguasai raga sekaligus unsur dari binatang siluman.”

Cikartawana, Lintang Tenggara, Sangara Santang, bahkan Lampir Marapi, mengambil selangkah maju. Mereka menantikan penilaian. 

“Nilai... 9!” Suara terdengar sengaja diutarakan tidak menggunakan jalinan mata hati. Kalajengking Peluruh memutar tubuh dan segera meninggalkan padang rumput.



Cuap-cuap:

Episode Bayangan ini sedikit lebih pendek daripada rata-rata episode normal. Tiada mengapa. Para ahli jomblo sekalian tentunya sudah terbiasa hidup dalam penantian. Apalah arti kalau hanya episode nan pendek... :p