Episode 143 - Penilaian




Seekor binatang siluman Harimau Jumawa melangkah maju. Kasta Perak. Tubuhnya hampir setinggi seekor kuda. Cakar-cakar besar terlihat mencuat panjang dan tajam dari kaki-kaki nan kekar. 

Harimau Jumawa berbeda dengan Harimau Bara. Harimau Jumawa memiliki dasar unsur angin, sehingga mengandalkan kecepatan gerak saat bertarung. Di sisi lain, Harimau Bara memiliki dasar unsur api, walau tak mengandalkan kecepatan, cakarnya dapat melibas karang dan taring dapat mencabik batang pohon. Secara umum, masing-masing memiliki keunggulan terendiri. 

Cikartawana duduk bersila. 

“Atas kesepakatan bersama, aku memberi nama kepada Badak Bercula Tiga... Pumpun Mustika, Jurus Pertama: Bacuga,” gumam gadis manis tersebut. 

Bacuga si Badak Bercula Tiga melangkah maju.

“Salam hormat, Paman Cikeusik.” 

Suara tetiba terdengar datang dari tubuh Bacuga. Benar, para ahli baca tak salah dengar. Jurus Pertama dari Pumpun Mustika adalah memindahkan kesadaran ke binatang siluman. Dengan kata lain, saat ini, adalah Cikartawana yang mengendalikan tubuh Bacuga dan berbicara menggunakan jalinan mata hati! 

Saat pertama kali mempelajari Jurus Pertama dari Pumpun Mustika, Bintang Tenggara sempat mengingat suatu hari saat mengikuti salah satu seminar dalam Muktamar Pawang. Saat itu, ia mengetahui tentang sebuah jurus keterampilan khusus pawang yang telah lama punah. Kalau tak salah, namanya adalah jurus Manusia Siluman. Akan tetapi, kedua jurus ini berbeda adanya. Jurus Pumpun Mustika bukanlah keadaan dimana raga manusia bersatu dengan raga binatang siluman, melainkan kesadaran manusia yang merasuk ke dalam tubuh binatang siluman. 

“Cikartawana, sudah sedari lama aku hendak menjajal kemampuan si gadis ajaib dari Lingkar Dangka....” Terdengar jawaban suara seorang dewasa muda dari arah Harimau Jumawa. 

“Srak!” 

Tanpa basa-basi, tubuh gempal Bacuga melesat lurus dan cepat ke depan. Tanah ikut bergegar ketika langkah-langkah kaki merangsek mengincar sasaran. Tiga tanduk perkasa menghunus tajam!

Harimau Jumawa, yang sedang dikomandoi oleh kesadaran Cikeusik, menghindar tangkas. Di saat melompat, cakar-cakar tajam kaki depannya menyabet tubuh Bacuga. Sebagai catatan, mungkin kata yang lebih tepat adalah ‘menggaruk’, bukan ‘menyabet’. Karena, tak sedikit pun kulit keras Bacuga terluka, paling banyak hanya terasa gajal saja. 

Kesadaran Cikartawana di dalam tubuh Bacuga kembali menyeruduk. Kendati demikian, gerakannya sangatlah monoton. Serudukan demi serudukan hanya lurus searah sahaja. Dengan mudahnya Cikeusik melompat lincah. 

Berkali-kali Cikeusik menyarangkan cakar-cakar ke tubuh Cikartawana, dan berulang kali pula Cikartawana berupaya menyeruduk. Kedua pihak belum mencapai hasil apa pun. Sungguh pertarungan yang tiada sepadan, dimana satunya bertubuh keras namun searah, dan satunya lagi menyerang tajam dan lincah. 

“Brak!” Tetiba tubuh Cikeusik terpelanting ke samping! 

Di saat menyeruduk lurus, tepat ketika Cikeusik melompat menghindar, Cikartawana menghentakkan kaki-kaki besar Badak Bercula Tiga untuk mengubah arah serudukan. Hasilnya, tubuh besar Bacuga menghantam tubuh Harimau Jumawa. 

Cikeusik segera melompat menjauh dan menjaga jarak. Ia tidak menderita luka karena sempat melompat mundur agar tenaga hantaman tak sepenuhnya mendera tubuh. Meskipun demikian, ia sempat terkejut pada badak yang mampu mengubah serudukan menjadi hantaman tubuh. 

“Srash!” 

Baru saja Cikeusik terdorong mundur, puluhan gelembung-gelembung air mengudara dan menghujam deras bak peluru-peluru kecil seukuran biji karet. Mungkinkah Bacuga memiliki kesaktian unsur air...? 

Cikeusik melompat-lompat dan sigap menghindar. Sekilas, terlihat angin berputar di keempat kaki Harimau Jumawa. Berkat kelincahan unsur angin dalam mendukung gerakan, tak satu pun peluru-peluru air mengenai dirinya. Meski, Cikeusik sepenuhnya menyadari bahwa dalam bertarungan serius, Badak Bercula Tiga itu akan merangsek dan menyeruduk di saat ia sedang berupaya menghindar. 

“Kemampuanmu memanglah di atas rata-rata. Kita sudahi pertarungan ini. Aku tak hendak melukai binatang siluman,” ujar Cikeusik santai. 

Cikartawana hanya diam. Ia pun sepenuhnya menyadari bahwa Cikeusik belum bertarung dengan sepenuh hati. Kemampuan Cikeusik di dalam tubuh Harimau Jumawa jauh lebih tinggi dari yang ia tunjukkan tadi. Paling-paling, ia hanya mengerahkan seperempat dari kemampuan bertarung sesungguhnya.

“Bila demikian keinginan Paman Cikeusik, maka diriku tak hendak lancang,” jawab Cikartawana. 

“Nilaimu sangat baik,” ujar sang Harimau Jumawa sambil memutar tubuh.

Bacuga melangkah kembali ke arah tubuh asli Cikartawana yang masih duduk bersila di rerumputan. Tubuh gadis tersebut lalu bangkit berdiri, petanda bahwa ia telah membatalkan Jurus Pertama dari Pumpun Mustika. 

Pertarungan pertama berakhir seri, dimana kedua pihak memutuskan untuk tak melanjutkan pertarungan.

Dua ekor binatang siluman Gajah Gading Baja saling berhadapan. Akan tetapi, ukuran tubuh keduanya berbeda. Yang satu lebih besar, sehingga kelihatan seperti batu karang nan besar. Jelas bahwa usia kedua binatang siluman tersebut terpaut jauh. 

“Atas kesepakatan bersama, aku memberi nama kepada Gajah Gading Baja... Pumpun Mustika, Jurus Pertama: Ganesh!” 

Kesadaran Lintang Tenggara telah mengambil alih tubuh Ganesh. Dari bentuk tubuh, tak sulit memastikan bahwa Ganesh lebih kecil karena ia hanyalah gajah remaja. Meski demikian, tak sedikit pun keraguan terlihat dari sorot mata gajah tersebut. 

Tak ada pertukaran kata-kata antara kedua ahli yang telah sama-sama merasuk tubuh binatang siluman Gajah Gading Baja. Gajah yang dewasa segera melangkah maju dengan perkasa. 

“Trang!” 

Suara melengking terdengar ketika dua pasang gading baja yang hitam mengkilap saling berbenturan. Kedua gajah yang tak mengandalkan kecepatan lalu terlibat dalam pertarungan saling dorong. Kekuatan tubuh adalah ciri khas dari binatang siluman ini.

Perlahan namun pasti, Ganesh yang dikendalikan oleh kesadaran Lintang Tenggara didorong mundur. Guratan besar membelah rerumputan dan menyibak tanah ketika Lintang Tenggara terdesak ke belakang. Bahkan, tubuhnya seolah tertekan!  

Daya Tarik Bumi, Bentuk Pertama: Tangan Menggenggam Tangan! 

Lintang Tenggara mengerahkan jurus kesaktiannya untuk mengunci gerakan lawan. Serta-merta lawan yang tadinya perkasa mendorong, terhenti di tempat. Ganesh lalu terlihat mundur selangkah, untuk mengambil ancang-ancang. Berbekal kombinasi antara Bentuk Pertama dari jurus kesaktian Daya Tarik Bumi dan tenaga Gajah Gading Baja, Lintang Tenggara kini berupaya menekan lawan. 

“Duar!” 

Tanpa dinyana, lawan menghentakkan tenaga dalam. Dengan demikian, ia berhasil melepaskan diri dari genggaman jurus kesaktian Daya Tarik Bumi. Lintang Tenggara terdorong mundur. Ia tak menyangka bahwa lawan dapat dengan mudahnya menemukan cara melepaskan diri dari cengkeraman jurus kesaktian. 

“Trang!” 

Dua pasang gading baja saling bertemu dan beradu. Adu otot antara dua binatang siluman Gajah Gading Baja berulang kembali. Karena perbedaan ukuran dan bobot tubuh, Lintang Tenggara terus dipaksa mundur.

Daya Tarik Bumi, Bentuk Kedua: Menggenggam Tiada Tiris! 

Lintang Tenggara, sebagaimana diketahui, dapat memindahkan pusat daya tarik bumi. Biasanya, jurus ini digunakan untuk menarik lawan ke belakang atau ke arah mana pun yang ia inginkan. Akan tetapi, Lintang Tenggara memahami bahwa lawan dapat menghentakkan tenaga dalam untuk melepaskan diri dari jurus kesaktiannya. Oleh karena itu pula, ia meletakkan titik daya tarik di belakang lawan, lalu merapal jurus kesaktian Daya Tarik Bumi terhadap… dirinya sendiri!

Berkat tarikan terhadap tubuhnya sendiri dan kekuatan dorongan otot Ganesh, maka Lintang Tenggara berhasil menutupi kekurangan pada perbedaan bobot tubuh. Dengan demikian, pertarungan saling dorong antara dua Gajah Taring Baja berlangsung seimbang.

“Brak!” 

Lawan menghentakkan kaki-kaki besar Gajah Gading Baja. Sebuah gempa bumi kecil tetiba terjadi. Unsur kesaktian tanah merupakan unsur yang dimiliki oleh gajah! Lintang Tenggara kehilangan keseimbangan, dan kedua gajah terpisah. Tak lagi saling dorong. 

“Kurang dari dua pekan, namun sudah mengerahkan unsur kesaktian sendiri di saat merasuk tubuh binatang siluman…,” gumam lawan. 

Lintang Tenggara bersiaga. 

“Nilai 8!” ungkap lawan sambil memutar tubuh. Pertarungan antara dua binatang siluman Gajah Gading Baja berakhir sudah. 

“Adik Cika, berapakah nilai yang diperlukan untuk memperoleh izin keluar dari Alas Roban…? aju Sangara Santang hendak memastikan. 

Lelaki dewasa muda, yang diperkirakan merupakan reinkarnasi dari ahli perkasa di masa lalu, mulai dapat memahami tujuan dari pertarungan memanfaatkan binatang siluman ini. Sesungguhnya, bukanlah perkara menang atau kalah, melainkan guna memperoleh penilaian yang memadai dari anggota Lingkar Tangtu. Penilaian inilah yang akan membuka kesempatan untuk menggunakan gerbang dimensi alami dan keluar dari Alas Roban. 

Terlepas dari itu, Sangara Santang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati. Entah apa itu… 

“Penilaian paling rendah untuk menggunakan gerbang dimensi adalah 7,” jawab Cikartawana cepat. 

Sebelumnya, gadis belia itu sengaja tak menjelaskan secara mendalam akan alasan terkait pertarungan antar binatang siluman ini. Adalah Pu’un Dangka yang melarang menyampaikan bahwa tujuan pertarungan merupakan pengakuan kemampuan oleh anggota Lingkar Tangtu. Hanya dengan pengakuan mereka, ahli dari luar dapat memanfaatkan gerbang dimensi di pusat Alas Roban.

“Terima kasih atas tunjuk ajar dan penilaian yang diberikan,” tanggap Lintang Tenggara sopan. Ia segera menyadari makna dari penilaian lawan. Berkat pertarungan ini, dipastikan dirinya telah memperoleh rekomendasi untuk dapat meninggalkan Alas Roban.

“Sangara Santang dan Lampir Marapi, berusahalah agar kalian memperoleh nilai yang sama baiknya denganku…,” ujar Lintang Tenggara sesampainya di tempat berkumpul Regu Terpaksa. “Siapa tahu, kalau-kalau nanti kalian terpaksa menyumbangkan nilai kepada seseorang….” Lintang Tenggara melirik sepintas ke arah Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara mengabaikan komentar dan lirikan mata Lintang Tenggara. 

“Atas kesepakatan bersama, aku memberi nama kepada Rubah Berjanggut... Pumpun Mustika, Jurus Pertama: Jenggot!” seru Sangara Santang sambil mengelus-elus dagunya sendiri, padahal ia tak berjanggut. 

Di padang rumput, hanya terlihat seekor binatang siluman Babun Rambut Hutan. Ia berdiri perkasa, sambil menyiagakan panca indera dan menebar mata hati sejauh mungkin. Sedangkan lawannya, Sangara Santang yang merasuki tubuh Rubah Berjanggut, segera memanfaatkan kemampuan kamuflase si Jenggot. Panca indera dan jalinan mata hati tak dapat menangkap dan merasakan keberadaannya. 

Rerumputan berdesir ringan. Babun Rambut Hutan memasang kedua lengan membentengi dada. Segera setelah itu, terdengar suara hantaman walau si babun tak bergeming dan diam di tempat. 

“Hm...? Bagaimana babun itu dapat memprediksi serangan Sangara Santang...?” gumam Lintang Tenggara. 

Bintang Tenggara pun mempertanyakan hal yang sama. Namun, urung ia suarakan karena nanti Lintang Tenggara hanya akan mencemooh. 

“Naluri binatang siluman,” bisik Cikartawana. “Ahli yang merasuk ke dalam tubuh Babun Rambut Hutan itu sudah dapat memanfaatkan naluri binatang siluman tersebut. Ini adalah petanda bahwa ikatan mereka sudah terbangun sejak sangat lama.” 

Babun Rambut Hutan terlihat dapat menangkis setiap serangan Sangara Santang, yang bahkan ahli tulis pun tak tahu datang dari mana. Walau, di saat yang sama, si babun tak dapat menyerang. Yang terus ia lakukan saat ini adalah mengandalkan naluuri binatang siluman untuk mendeteksi serangan dan bertahan. Ia tak dapat melancarkan serangan dengan leluasa. 

Sangara Santang memang lebih banyak mengandalkan kemampuan persilatan. Akan tetapi, meski dapat mengandalkan kamuflase, fisik Rubah Berjanggut taklah sekuat badak atau gajah, serangannya pun tak mematikan layaknya harimau. Jadi, bagi sang babun, meski kesulitan dalam menyerang, ia dapat bertahan dengan baik atas serangan lawan yang tak mampu mencederai terlalu dalam. 

“Bum!” 

Babun Rambut Hutan terlihat melompat di tempat dan menghentakkan kaki sekeras mungkin. Tanah-tanah yang tadinya menyibak karena kesaktian unsur tanah dari gajah dewasa pada pertarungan sebelumnya, terangkat dan menghasilkan kepulan debu. Tidak sampai di situ, babun tersebut kini memukul tanah dengan kedua lengannya, menyebabkan semakin banyak debu yang mengepul di udara. 

Serangan Sangara Santang yang cepat memanfaatkan tubuh dan kemampuan kamuflase Rubah Berjanggut terhenti. Dapat diperkirakan bahwa Sangara Santang mencegah debu menempel di rambut-rambut lebat Rubah Berjanggut. Karena bila hal tersebut terjadi, maka kemampuan kamuflase yang ia kerahkan akan membuka sedikit celah. 

“Swush!” 

Meski demikian, Sangara Santang tetap menyerang. Debu tersibak pelan, menunjukkan keberadaan Rubah Berjanggut. Babun Rambut Hutan segera menyarangkan serangan dengan menghunus sepasang lengan yang panjang dan besar. Ia hendak mencengkeram Rubah Berjanggut. 

“Swush!” 

Tetiba terpelanting! Tubuh Babun Rambut Hutan terpelanting. Seharusnya ia dapat melancarkan serangan, namun mengapa sebab malah ia yang terpelanting!? Di kejauhan, Babun Rambut Hutan berguling dan bangkit berdiri. Akan tetapi, belum sempat ia bergerak leluasa, lengannya seolah bergerak dengan sendirinya. Sangara Santang telah menempel ketat!

“Teknik bantingan dan kuncian Silat Cimande...,” gerutu Lintang Tenggara. “Di awal pertarungan, ia hanya melepaskan pukulan-pukulan biasa. Ketika lawan lengah, baru ia memanfaatkan Silat Cimande. Licin.”

Silat Cimande, merupakan salah satu aliran persilatan kuno yang berasal dari Tanah Pasundan. Ada banyak aliran persilatan yang merupakan turunan dari Silat Cimande, serta tersebar di pelbagai penjuru Negeri Dua Samudera. Kendatipu demikian, tak banyak yang menguasai teknik murni Silat Cimande. 

“Silat Cimande...?” gumam Cikartawana. “Bagaimana mungkin menggunakan teknik persilatan yang demikian rumit ketika merasuk tubuh binatang siluman...?”

Pertanyaan Cikartawana sangat beralasan. Manusia memiliki struktur tubuh yang berbeda dengan binatang siluman. Mungkin, bila merasuk tubuh kera atau monyet, struktur tubuhnya mirip sehingga memungkinkan gerakan manusia dapat ditiru secara sempurna. Akan tetapi, Sangara Santang merasuk seekor rubah yang struktur tubuhnya diketahui sangat berbeda dengan manusia!

“Hrarghh!” Babun Rambut Hutan memaksakan otot-otot keras untuk melepaskan diri dari jurus kuncian. 

Di hadapannya, Sangara Santang tak lagi memanfaatkan kamuflase. Seekor rubah terlihat berdiri dan memasang raut wajah demikian serius. Ia lalu membuka dan mengerahkan kuda-kuda persilatan, Silat Cimande. Postur tubuh rubah yang memasang kuda-kuda ibarat manusia terlihat aneh sekaligus lucu. Bahkan Lintang Tenggara, tak tahu harus terkagum atau tertawa. Ia hanya melongo. 

“Dapat menggerakkan tubuh binatang siluman dengan leluasa, bahkan sampai menyerupai gerakan manusia. Nilai 8,” ujar Babun Rambut Hutan. 

“Terima kasih atas pujian yang berlebihan. Sungguh diriku bukan apa-apa,” jawab Sangara Santang. 

Pertarungan ketiga berakhir cepat. Sangara Santang memperoleh izin keluar dari Alas Roban. Meski demikian, masih saja terasa ada yang mangganjal di hatinya. 

“Kakak Lintang, apakah Kakak mendapati keanehan dari rangkaian kejadian ini?” ujar Sangara Santang setelah kembali berdiri dan memutuskan hubungan kesadarannya dengan binatang siluman Rubah Berjanggut. 

“Maksudmu...?”

“Kakak Lintang....” Sangara Santang mengernyitkan dahi. Lintang Tenggara memang memiliki kecenderungan berpura-pura tak memahami. 

“Maksudmu... mengapa suku Badui mengajari kita, orang luar, tentang Pumpun Mustika? Bukankah ini hanya untuk sementara saja?” Lintang Tenggara menunjuk ke arah kalung hitam yang melingkar di leher mereka. 

Sangara Santang kembali mengernyitkan dahi. 

“Ya, pertanyaan yang tak terjawab adalah ‘atas alasan apa’. Jangan tanyakan padaku. Aku pun masih mengira-ngira...” 

Bintang Tenggara, yang mencuri dengar, ikut mengernyitkan dahi. 

“Mengapa kau turut mengernyitkan dahi!? Jangan mencuri dengar pembicaraan orang dewasa!” hardik Lintang Tenggara. 



Catatan:

Nantikan Episode Bayangan, yang tentunya ditujukan kepada para ahli dengan keterampilan khusus sebagai... jomblo! 

Sabtu malam, pukul 19.30!